This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 16 Oktober 2018

Sebanyak 57 Persen Guru Punya Opini Intoleran

Reporter: Fikri Arigi | Editor: Juli Hantoro
Selasa, 16 Oktober 2018 18:43 WIB

Intoleransi di Sekolah

TEMPO.CO, Jakarta - Hasil penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah, menunjukan  data sebanyak 57% guru memiliki opini intoleran terhadap pemeluk agama lain. Sedangkan 37,77% keinginan untuk melakukan perbuatan intoleran atau intensi-aksi.
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat pandangan serta sikap keberagamaan guru sekolah dan madrasah di Indonesia. Guru punya posisi strategis dan punya peran penting dalam pembentukan nilai-nilai, pandangan, serta pemikiran siswa," kata Direktur Eksekutif PPIM Saiful Uman saat memaparkan hasil penelitiannya, di Hotel Le Meridien, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa 16 Oktober 2018.
Saiful Uman menuturkan penelitian ini menggunakan dua alat ukur. Pertama dengan kuisioner, alat kedua menggunakan Implicit Asosiation Test (IAT). Adapun enam pernyataan disiapkan untuk digunakan sebagai komponen pengukuran opini intoleran.

Menurut Saiful ada dua contoh pernyataan yang memiliki muatan faktor tinggi dalam mengukur opini intoleransi pada pemeluk agama lain.
"Pertama, Non-Muslim boleh mendirikan tempat ibadah di lingkungan ibu/bapak tinggal. Kedua, Tetangga berbeda agama boleh mengadakan acara keagamaan," kata Saiful.
Dari dua pernyataan itu, hasilnya sebanyak 56% tidak setuju non-muslim mendirikan tempat ibadah di sekitar tempat tinggal, dan 21% tidak setuju tetangga berbeda agama boleh mengadakan acara keagamaan.

Sedangkan pada intensi-aksi intoleran pada pemeluk agama lain diukur dengan lima pernyataan. Kedua pernyataan itu adalah 'menandatangani petisi menolak kepala dinas pendidikan yang berbeda agama', dan 'menandatangani petisi menolak pendirian sekolah berbasis agama non-Islam di sekitar tempat tingalnya'.

Hasilnya sebanyak 29% guru menyatakan kesediaannya bila ada kesempatan, untuk menandatangi petisi menolak kepala dinas pendidikan yang berbeda agama. Kemudian 34% guru menyatakan bersedia menandatangani petisi menolak pendirian sekolah berbasis agama non-Islam di sekitar tempatnya tinggal.

Penelitian ini menggunakan 2.237 guru sebagai sampel. Dengan proporsi 1.172 guru sekolah negeri dan 1065 guru sekolah swasta (dalam penelitian ini madrasah). Dilaksanakan selama satu bulan, 6 Agustus sampai 6 September 2018, penelitian ini mengambil sampel dari 34 Provinsi di Indonesia, yang dipilih secara acak menggunakan teknik probability proporsional to size (PPS).

Sumber: Tempo.Co 

Senin, 15 Oktober 2018

Budayawan Sebut Sedekah Laut Wujud ‘Hablun Minal Alam’


Senin, 15 Oktober 2018 19:45

Ilustrasi sedekah laut (via plukme)

Jakarta - Budayawan Yogyakarta M. Jadul Maula mengatakan bahwa tradisi sedekah laut yang dipraktikkan di Jawa telah berlangsung lama dan turun-temurun. Sedekah laut disebutnya sebagai praktik kosmologi, yakni hubungan antara manusia dan alam (hablun minal alam). 
“Itu terkait dengan filosofi kosmologi Mataram Islam kalau di Yogyakarta. Mungkin di Jawa dan Nusantara kan umum satu pemahaman kosmologi hubungan manusia dengan alam. Jadi upacara sedekah laut, sedekah bumi, itu bagian dari ajaran tentang hablun minal alam, bagaimana manusia menjalin hubungan secara harmonis dengan alam,” kata kata Jadul kepada NU Online, melalui sambungan telepon, Senin (15/10).
Oleh karena itu, ia mengaku heran jika ada sekelompok orang yang menyalahkan, bahkan menganggap upacara sedekah laut sebagai perbuatan syirik. Sebab, upacara tersebut berisi ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil yang diperolehnya dari laut.
“Namanya saja sedekah. Sedekah itu kan konsep Islam, itu bagian dari ungkapan syukur, di dalamnya terkandung doa keselamatan dan tolak bala. Jadi para nelayan, para pelaut mereka tiap hari memperoleh rezeki dari laut, karena itu mereka mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan itu melalui sedekah laut,” terang Jadul.
Pria yang juga Pengurus Lesbumi PBNU itu pun sempat menjelaskan makna sedekah laut. Menurutnya, sedekah laut merupakan pemberian sedekah kepada penghuni laut, seperti ikan dan plankton.
“Itu syukur kepada Tuhan, caranya adalah dengan memberi sedekah kepada makhluk hidup,” ucapnya.
Praktik upacara sedekah laut pun, kata Jadul, dapat dilihat secara empirik dan rasional. Ia menjelaskan keberadaan kepala kerbau yang menjadi salah satu suguhan dalam prosesi sedekah laut. Menurutnya, kepala kerbau itu memberi makan kepada plangton-plangton. Plangton-plangton dimakan ikan sehingga ikan di laut berkembang.
“Jadi mengungkapkan syukur dengan bahasa yang kongkrit, mengapresiasi yang tampak kepada makhluk. Melalui upacara itu terjalin hubungan harmonis antara manusia dan alam. Jadi itu sebenarnya budaya yang tinggi yang adi luhung,” ucapnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Sumber: NU.Or.Id 

Sedekah Laut dalam Pandangan Budaya dan Agama


Penulis: Aguk Irawan MN Senin, 15 Oktober 2018


Kenapa orang selalu takjub pada laut, sungai, tebing juga gunung? Antropolog Peter Berger menjawab dalam sebuah karyanya yang masyhur, The Social Reality of Religion (1969). Apa kata Berger dalam buku itu?

Menurutnya, manusia tiap zaman selalu terdorong untuk meciptakan makna dari simbol-simbol yang suci (the sacred canopy). Berger sebagai Feuerbachian menegaskan, bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk religius, maka tak aneh jika laut atau sungai dimaknai sebagai pertautan antara alam yang suci dengan kehidupan yang tak selalu suci dan bersambung seperti gelombang air.

Kesan itu pula yang didapat oleh seorang pengelana Yunani zaman purba, Herodotus (484-425 SM) ketika pertama kali mengunjungi Mesir, Babilonia, Palestina dan Syiria. Ia menceritakan pengalamannya betapa orang Mesir amat mecintai sungai Nil dan orang Babilonia selalu terkagum dengan ombak laut Macedonia.

Mereka berkumpul dan pawai untuk melarungkan sesajen ke sungai dan laut disertai dengan panjat doa dengan khusu’ untuk Litany (para Dewa). Pengalaman yang sama didapat oleh Megasathtnes (302-288 SM) saat mengunjungi jazirah Arab dan Antropolog Tacitus (55-117 SM) saat mengungjungi Asia Tengah.

Maka tak aneh, jika kajian etnografi selalu saja menarik, kerena menurut Berger, manusia tak bisa menghindar dari alam dan kekuatan adikodrati yang tak terbatas, dan dari sanalah terciptalah dunia simbol. Terlebih tentang Nusantara, dimana pulau-pulaunya berjejer dan terhubung oleh laut. Itulah kenapa Artefak yang ditinggalkan di candi-candi, terutama Borobudur, berupa relief-relief perahu cadik dan gambar garis gelombang laut.

Sebuah catatan dari Cina abad ke-15 juga menggambarkan Majapahit, yang dicatatnya adalah istana yang megah: bersih dan terawat, ornamen temboknya bergambar gelombang laut. Pasang dan surut. Atap bangunan terbuat dari sirap yang dibentuk seperti perahu cadik. Kitab Negarakartagama yang ditulis di masa itu juga menyebut ”kuwu”: unit permukiman yang dikelilingi sungai, juga terbentang sepanjang pantai.

Sebagaimana diketahui, orang Nusantara, pada zaman pra-sejarah yang beragama Kapitayan, setiap kali terjadi perubahan siklus kehidupan, mereka gemar mengadakan ritual Selametan atau Wilujengan dengan menggunakan –salah-satunya laut sebagai simbol, juga memakai aneka benda dan makanan sebagai simbol penghayatan, rasa syukur dan pengharapannya kepada Tuhan.

Ini semua adalah bahan sejarah dan pra-sejarah kita sebagai manusia Nusantara, dan setiap zaman punya cara untuk mempertahankan dan mengarifi kebudayaannya. Meskipun Nabi-nabi telah datang, petuah dan perintah pendeta juga dimaklumatkan, kemudian dicoba revolusi dan diperkenalkan penemuan teknologi —tapi tak pernah ada aksi brutal yang menantang prosesi adat, sampailah mencuatnya aksi segerombolan orang yang sengaja merusak piranti tradisi Sedekah Laut di Pantai Baru, Bantul atas dalih anti kemusyrikan (12/10/18).

Pertanyaan besar sejarah —yang sebenarnya tiap agama pernah datang silih berganti —adalah, bagaimana bisa peristiwa kebudayaan seperti itu dianggap anomali, sesuatu yang tak pantas bagi yang beragama? Dengan kata lain, bagaimana bisa pemahaman agama yang sepotong dan sepihak digunakan merusak tatanan sosial yang mengakar dengan riwayat manusia Nusantara yang telah demikian panjang? Tentu saja ada paradoks, jika kita memaknai agama, dalam teori antropologi (Eliade, 1966; Douglas 1966, Geertz 1966; dan V. Turner, 1969) sebagai sebuah pencarian makna yang terselubung dalam simbol.

Pengamatan saya dari dekat saat menyaksikan prosesi Sedekah Laut di dusun Ngentak, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Bantul, tak ada yang perlu dikhawatirkan terkait akidah atau keimanan.

Berdasarkan pengalaman tahun lalu, biasanya acara Sedekah Laut dimulai dengan pembakaran kemenyan dan doa-doa, baik berbahasa Jawa maupun arab, sesekali diselingi dengan shalawat Nabi. Doa itu dipimpin oleh Mbah Cokro sebagai Juru Kunci petilasan HB VII. Sebelum membakar kemenyan terlebih dahulu Mbah Cokro duduk bersila menghadap ke laut lalu merunduk dan pasembah.

Makna Simbolik

Tentu selain ada bahasa verbal, yaitu kalimat puja dan doa yang terkandung dalam prosesi Sedekah Laut, yang itu langsung bisa dimengerti, juga ada bahasa simbolik di dalamnya, seperti prosesi pembakaran kemenyan, ia juga berupa doa, tetapi dalam bahasa lain. Orang Islam Pesisir biasanya menyebutnya sebagai talining iman, urubing cahya kumara kukuse ngambah swarga, ingkang nambi dzat ingkang Maha Kuwaos. (Sebagai tali pengikat keimanan. Nyalanya diharapkan sebagai cahaya petunjuk, asapnya diharapkan sebagai harum bau surga, mudah-mudahan dapat diterima oleh Dzat yang Maha Kuasa).

Perahu tempel, yang nantinya dipakai untuk membawa sesaji yang akan dilabuh ke tengah laut, sebagai lambang kehidupan ini yang sementara, karena tiap yang berlabuh ada saatnya berhenti. Tampah/tambir, bentuknya bulat dari anyaman bambu untuk tempat sesaji sebagai simbol, bahwa kehidupan ini berputar, kadang di bawah, kadang di atas. Begitu juga yang terdapat dalam ubarampe, semuanya adalah bahasa simbolik.

Seperti telur sebagai simbol atau lambang dari “wiji dadi” (benih) terjadinya makhluk hidup. Bumbu Megana sebagai simbol dari embrio dan ruh-manusia. Cabe Merah sebagai lambang kebulatan tekad dan keberanian menegakkan kalimat Tauhid. Ingkung sebagai lambang manunggal, dengan njungkung, yakni bersujud dan manekung, yakni bermuhasabah dan khalwat. Kacang Panjang sebagai simbol harusnya manusia sebelum bersikap, harus berpikir panjang, sehingga bijaksana. Tomat sebagai simbol kesadaran mad-sinamadan, yaitu saing mengingatkan. Kangkung simbol dari sifat linakung, sifat pemurah atau dermawan, dan lain sebagainya.

Jika mengetahaui bahasa agama yang tersimpan dalam simbol prosesi Sedekah Laut yang begitu mulia seperti ini, masihkah ada yang menghakimi prosesi macam itu adalah anomali bagi sikap keberislaman kita? Padahal bukankah Islam, tidak melulu tentang yang halal dan haram, mubah dan bid’ah, murtad dan musyrik? Akan tetapi, juga tentang pentingnya membangun tatanan sosial, kebudayaan dan peradaban?

Disisi lain, dalam wajah Islam juga berlimpah bahasa simbolik, serta kearifan lokal, seperti adanya anjuran walimah (upacara tradisi) yang tertuang dalam pilihan hadis shahih Imam Bukhari, dalam al-Bayan nomer hadis 825, dan al-nikah nomer hadis 4756 dan lain sebagainya. Wallahu’lam bishawab.

Kasongan-Bantul, 14 Oktober 2018

Sumber: Alif.Id 

Kebebalan FPI Banyuwangi

Wahyu Eka Setiawan 
15 Oktober 2018

suarapena.com

Penolakan FPI Banyuwangi terkait sedekah laut dan acara seni Gandrung Sewu benar-benar di luar nalar. Pernyataan mereka membuat saya pribadi cukup terpelatuk untuk berkomentar: apa relasinya bencana dengan sedekah bumi serta acara seni. Ini sungguh relevan, bahkan terlalu mengada-ada.

Entah cari sensasi atau ingin eksis dengan memanfaatkan momentum terkait maraknya bencana alam, khususnya yang sedang menimpa Indonesia di periode akhir tahun ini.

Pernyataan mereka hanya berdasarkan common sense, tidak berlandaskan argumentasi faktual atau realitas yang terjadi. Ketakutan mereka terkait dengan sedekah laut dan acara seni tari Gandrung Sewu, yang dinilai akan menyebabkan bencana, merupakan argumentasi yang dhaif (lemah) karena tidak pernah dibuktikan secar empirik.

Logical fallacy semacam ini jamak kita jumpai, mengaitkan bencana dengan warisan budaya lokal yang dianggap musyrik, syirik, dan maksiat atas syariah agama. Sehingga Allah mengirimkan azab pada mereka yang dituduh melenceng. Padahal ungkapan tersebut sangat tidak signifikan, terlalu menyudutkan suatu entitas tanpa melihat realitas yang ada.

Kebebalan ini berlanjut, terus direproduksi dengan kepentingan tertentu. Seperti mengenai eksistensi kelompok, atau mencoba memanfaatkan momen untuk kepentingan politisnya. 

Penolakan FPI Banyuwangi terhadap sedekah bumi dan kesenian tari gandrung, lalu dikaitkan dengan ketakutan bencana alam, merupakan sebuah ungkapan yang menunjukan mereka tidak mafhum, terutama ihwal bencana itu sendiri. 
Mereka menggeneralisasi dengan cocokologi tanpa melihat realitas yang nyata dari ncaman seperti apa yang sebenarnya menyasar di Banyuwangi dalam konteks bencana.

Memahami dan Mengerti Perihal Bencana

Bencana ada dua bentuk, pertama bencana alam dan yang kedua merupakan bencana ekologis. Perlu kita ketahui bahwa bencana alam ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Jikalau menyasar pada gempa bumi, maka ada siklus gerak lempengan bumi yang membuat tanah bergerak dan bergeser. Seperti juga erupsi gunung berapi, dipengaruhi oleh siklus magmatik perut bumi.

Sementara untuk bencana ekologis, menurut Jared Diamonds (2005), adalah malapetaka yang bertalian dengan aktivitas manusia. Artinya, ada pengaruh aktivitas manusia yang turut menyebabkan bencana. Misal, deforestisasi dan ekspansi industri.

Pada dasarnya bencana alam sangat berbeda dengan bencana ekologis. Beda dari kedua bencana ialah faktor penyebabnya. Bencana ekologis juga berbeda dengan tragedi kehancuran suatu wilayah, seperti Hiroshima dan Nagasaki yang hancur karena bom nuklir.

Pada konteks bencana ekologis, merupakan dampak perubahan ekosistem oleh manusia, yang telah menyebabkan konsekuensi luas dan bertahan lama. Hal ini bisa termasuk kematian hewan hingga manusia dan tumbuhan, atau gangguan berat pada kehidupan manusia yang mungkin membutuhkan migrasi.

Bencana alam pun tidak tiba-tiba datang layaknya cerita kolosal, atau azab di sinetron yang umum dilihat masyarakat. Bencana alam memiliki fase dan siklus, yang mana pada titik tertentu akan terjadi. Sebenarnya sudah bisa diprediksi, walaupun tidak akurat.

Ini perihal kepekaan serta seberapa jauh budaya mitigasi di masyarakat kita. Ketidakstabilan dalam prediksi atas bencana alam, semisal gempa atau erupsi, merupakan salah satu keterbatasan manusia dalam mencoba mengendalikan alam. Ternyata alam memiliki daya yang melebihi manusia, sehingga tidak bisa diprediksi dengan mudah.

Berbeda dengan bencana ekologis yang erat kaitannya dengan keserakahan manusia, terutama mereka yang rakus tanpa melihat daya dukung alam. Secara besar-besaran mengeksploitasi sumber daya alam demi keuntungan mereka sendiri. Namun, dalam praktiknya benar-benar merugikan banyak masyarakat. 
Mencerabut, merampas, dan mengalienasi masyarakat dari ruang hidupnya.
Padahal dalam surat Ar-Rum ayat 41 dan 42 sudah diperingatkan mengenai suatu bencana yang akan dihadapi manusia. Baik alam maupun ekologis, ini juga merupakan peringatan untuk mereka yang zalim dan rakus terhadap alam ciptaanNya.

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang diridhoi Allah). 
Katakanlah (Wahai Nabi Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)." (Ar-Rum 41-42)

Allah dalam firmanNya telah mengingatkan manusia agar lebih mengerti dan peka terhadap alam, baik menjaga alam ataupun bersiap dalam menghadapi bencana. Namun, hal ini tak dipahami secara utuh, bahkan terkesan sepotong-sepotong. Sehingga dengan mudah dapat menganggap sesuatu hal sebagai penyebab bencana, padahal tidak ada relevansi antara sebuah kearifan lokal dengan bencana.

Banyuwangi Terancam Bencana Ekologis

Daripada mempersoalkan bencana karena sedekah dan seni tari Gandrung Sewu, FPI seharusnya juga garang dengan pertambangan yang mengancam wilayah Banyuwangi, tepatnya di wilayah selatan. Di wilayah itu, jikalau ditambang, akan membuat ekosistem terganggu, otomatis memunculkan bencana secara langsung. Di tahun 2016 saja, di salah satu area wisata yang dekat dengan wilayah pertambangan, dihajar oleh banjir bandang, sehingga merusak ekosistem laut dan perekonomian warga.

Mempersoalkan sedekah laut yang secara tidak langsung adalah bentuk kearifan lokal yang memiliki nilai historis dan filosofi yang dalam. Terkait relasi budaya dengan alam, ini sebagai wujud syukur serta doa kepada Allah melalui medium ciptaanNya. Merupakan bagian dari suatu nilai-nilai baik, dalam upaya melestarikan lingkungannya. Walaupun hanya secara simbolis, namun itu relevan dalam konteks relasi manusia dengan alam.

Selebihnya, jika FPI Banyuwangi memang peduli dengan bencana, maka sudah seharusnya mereka sadar diri, bagaimana lingkungan hidup kini mulai terancam keberadaannya. Justru, pertambangan dan deforestisasi adalah musuh yang harus benar-benar dilawan. Bukan kebudayaan yang belum ada relasi nyata dengan bencana, baik alam maupun ekologis.

Bahkan dalam surat Al-A'raf ayat 56, Allah berfirman: "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan."

Jangan berbuat kerusakan, apalagi ini kaitannya dengan kehidupan banyak manusia. Menghujat kebudayaan itu tidak kontekstual dan relevan, melihat maraknya kerusakan alam yang dilakukan oleh manusia.

NU secara organisasi pun pernah menularkan resolusi jihad lingkungan, dalam muktamar 29 di Cipasung Tasikmalaya. Meskipun hingga kini belum terimplementasikan, seharusnya FPI ini memiliki sikap serupa. Bahkan, harusnya mengingatkan NU juga agar berpedoman pada resolusi perlindungan lingkungan hidup.

Alangkah indahnya jika Islam yang rahmatan lil alamin benar-benar dilakukan secara linier. Tidak hanya syahwat politis semata, terutama demi eksistensi semu. Menolak dan memboikot kebudayaan, karena takut bencana, merupakan tindakan yang gegabah dan bias kepentingan.

Padahal di Banyuwangi sedang terancam bencana ekologis yang nyata. Seharusnya mereka benar-benar menghayati ayat suci secara kontekstual, bukan asal komentar namun penuh kesesatan (dholalah).

Referensi
Departemen Agama. (1985). Muqaddimah al-Quran dan Tafsirnya. Departemen Agama, Republik Indonesia.
Diamond, J. (2005). Collapse: How societies choose to fail or succeed. Penguin.

Sumber: Qureta.Com 

Dialog Habib Utsman dengan Masyarakat tentang Sedekah Laut


Penulis: Hamzah Sahal 
Senin, 15 Oktober 2018


Di Cirebon, ada seorang Habib yang alim dalam ilmu fikih dan ushul fikih. Ia tinggal di Pesantren Kempek, Palimanan, Cirebon. Syarif Utsman Yahya namanya. 
“Abah Ayip atau Kang Ayip,” begitu masyarakat mengenalnya. 
Ayip adalah bentuk “tahfif” dari “syarif”. Syarif itu sebutan Habib di Cirebon.

Suatu hari, Abah Ayip, wafat 2010, disowani beberapa orang dari masyarakat nelayan, sebagain masyarakat Cirebon memang kuat dengan tradisi Maritim.

Mereka mengadu kepada sesepuh dan orang yang dinilai alim dalam ilmu agama di Cirebon. Mereka datang ke Abah Ayip karena ada kalangan ustaz yang mengatakan tradisi “sedekah laut” dalam Islam tidak diajarkan, bahkan lebih dekat dengan kesyirikan, alias menyekutukan Tuhan.
“Siapa yang memimpin doa sedekah laut?” Tanya Abah Ayip.
“Mbah Kaum, Bah,” jawab salah satu dari mereka. 
Maksud Mbah Kaum di sini adalah kiai kampung, biasanya bertugas menjaga/imam masjid, pemimpin tahlil, mengurus jenazah, dan lain-lain.
“Lestarikan tradisi sedekah laut Sampean. Banyak baca bismillah, qulhu dan selawat. Hati-hati di laut, isi perahu sesuai dengan kekuatan. Cari perahu lagi jika tidak muat. Jangan dipaksakan,” Abah Ayip memberikan dukungan.
“Makanan yang dilarung bagaimana, Bah? Katanya mubazir dan Nabi tidak pernah melarung makanan ke laut,” tanya yang lain.
“Lanjutkan. Niatkan sedekah kepada makhluk Allah yang ada di laut. Jangan pelit jadi orang. Ambil ikan tiap hari, sepanjang tahun, masa ndak kasih makan ikan-ikan sekali pun? Itu, kalau kurang, ambil ayam saya di belakang, dilarung bersama kepala kerbau kalian.”
[]

Rabu, 01 Agustus 2018

Apa pun Agama Resminya, Orang Toraja Memegang Aluk Tadolo

Oleh: Petrik Matanasi - 1 Agustus 2018

Keluarga dan para tamu melakukan ritual ma'badong, tarian dengan membentuk lingkaran sambil melafalkan syair kadong berisi pesan keagungan untuk yang almarhum. tirto.id/Hafitz Maulana

Meski kerap dicap sekadar sistem kepercayaan atau animisme, Aluk Tadolo adalah agama asli orang Toraja.
Banyak yang menuding secara keliru bahwa orang Toraja tak punya agama sebelum Kristen dan Islam masuk ke Nusantara. Pada masa itu orang Toraja disebut hanya penganut animisme. Sulit bagi banyak orang menyamakan Aluk Tadolo, sistem kepercayaan atau agama masyarakat Toraja, sebagai agama.

Aluk Tadolo, seperti dicatat Theodorus Kobong dalam Injil dan Tongkonan: Inkarnasi, Kontekstualisasi, Transformasi (2008: 121) sebagai “agama para leluhur atau cara hidup atau aturan hidup para leluhur.” Kepercayaan ini, sayangnya, tak mendapat tempat sebagai agama dalam negara Republik Indonesia—yang di masa Orde Baru hanya mengakui "lima agama resmi" dan setelah reformasi bertambah satu agama resmi: Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Aluk Todolo diakui sebagai aliran Hindu-Bali atau Hindu Dharma Aluk Tadolo, yang dikenal sebagai Hindu Alukta, meski jauh kaitan dengan dewa-dewa Hindu seperti Brahma, Siwa, atau Wisnu. Namun, Menurut Zakaria J. Ngelow dalam Seberkas Cahaya di Ufuk Timur: Pemikiran Teologi dari Makassar (2000), “ajaran Aluk Todolo sama dengan ajaran Hindu.”

Aluk Tadolo percaya bahwa Puang Matua adalah pencipta langit dan bumi, dan secara otomatis, Puang Matua sebagai pemiliknya. Tapi, setelah penciptaan, Puang Matua tidak berperan. Puang Matua di Toraja tak ubahnya seperti Gusti Allah dalam masyarakat Jawa yang terpengaruh Islam.

Seperti tertuang dalam Surat Keputusan Direktorat Jenderal Bimas Hindu-Budha bernomor Dd/H/200-VII/69 tertanggal 15 November 1969, Aluk Tadolo digolongkan bagian dari Hindu. Menempel pada salah satu agama resmi tentu akan membuat penganut Aluk Tadolo tak kena cap ateis atau komunis. Tak memilih satu agama resmi memang bisa kena cap PKI di masa Orde Baru.

Setelah sebelumnya hanya diakui sebagai sistem kepercayaan animisme, para penganutnya kerap menyebut sebagai Alukta atau Aluk Kita atau "agama kita." Ajaran Aluk Tadolo memengaruhi awetnya ritual sohor orang Toraja yang dikenal sebagai rambu' solo. Kristenisasi membuat Alukta sekadar budaya. Nasib Alukta tak jauh beda dari kebanyakan agama lokal Indonesia, yang kalah dengan "agama-agama resmi negara".

Agama Kristen sudah menjadi agama paling besar di Tana Toraja. Menurut Kobong (2008), ada 75 persen Kristen, 15 persen Aluk Todolo, dan 10 persen Islam. Identitas asli Toraja, yang seharusnya berdasarkan Aluk Todolo, tidak dominan lagi. Meski begitu, Alukta tak bisa hilang begitu saja dalam kehidupan masyarakat Toraja yang semakin hari semakin modern. 

Kehadiran Alukta tak kalah pentingnya dengan adat yang berlaku di Toraja. Menurut Institut Theologia Gereja Toraja (1984), seperti dikutip Theodorus Kobong, “Aluk dan adat merupakan satu kesatuan, keduanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Harus ditekankan Aluk adalah sumber bagi adat.” Aluk dan adat begitu berpengaruh dalam hubungan antar-keluarga di tongkonon atau rumah adat Toraja.

Pimpinan adat disebut sebagai to parenge’. Dalam bahasa Toraja, to berarti orang dan renge’ berarti “mengambil suatu beban dengan tali melalui kepala." Adapun pemuka Aluk Tadolo disebut to minaa, yang dalam bahasa Toraja bisa diartikan “orang yang pandai mendoakan."
Infografik HL Indepth Tana Toraja

Pengaruh Kristen di Tana Toraja

Besarnya penganut agama Kristen itu tak lepas dari kerja keras Zending. Sejak awal, Zending membangun banyak sekolah. Masuknya agama Kristen ke Tana Toraja punya sejarah yang tidak selalu mulus. Antonie Aris van De Loosdrecht, salah satu pendeta Kristen yang awal masuk ke Tana Toraja, jadi korban di sana.

H.M. Ghozi Badrie dalam Aluk Todolo dan Tradisi Simpan Mayat di Tana Toraja (1997) menulis pendeta Antonie Aris tiba di Tana Toraja pada 1913 dan masa pengabdiannya hanya empat tahun. Pada 26 Juli 1917 atau tepat seabad silam, sang pendeta tewas ditombak oleh sekelompok orang yang tidak sepaham dengannya.

Pendidikan menjadi faktor penentu berkembangnya agama Kristen di Tana Toraja. “Permintaan masyarakat kepada zending untuk membuka sekolah sangat menggembirakan Ketika GZB (Gereformeerde Zendingsbond) memperingati 25 tahun pekerjaannya di tanah Toraja. Pada 1938, terdapat 731 sekolah,” tulis YA Sarira dalam Aluk Rambu Solo dan Persepsi Orang Kristen terhadap Rambu Solo (1996). 

Sekolah menjadi jalan Kristenisasi terbaik di Tana Toraja. Masyarakat Toraja, dibanding kebanyakan masyarakat etnis lain di Sulawesi Selatan, tergolong sadar soal pentingnya pendidikan modern.

"Sampai sekarang," tulis Kobong, "bagi orang Toraja, pendidikan sekolah merupakan sarana paling tepat untuk mencapai kemajuan.” Di Tana Toraja, sekolah yang terkenal termasuk Universitas Kristen Indonesia Toraja dan Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri. 

Tak heran jika di luar daerah seperti Kalimantan Timur atau Papua, banyak orang Toraja tergolong sukses secara finansial dan terpandang. 

Sebutlah Luther Kombong yang jadi politikus di Kalimantan Timur. Pria kelahiran Rantepao pada 1950 dan meninggal pada 2017 ini adalah seorang pengusaha. Upacara kematiannya baru diadakan pada 2018. Rambu solo untuknya tidak diadakan di Tana Toraja, melainkan di Samarinda dan disebut-sebut menjadi yang terbesar di luar Tana Toraja. Meski agama resmi Luther Kombong sebagai penganut Kristen, tetapi kepercayaan asli Toraja masih dipegangnya secara teguh, sebagai tradisi.

“Buat kami orang Toraja, kalau kami meninggal, kami harus selesaikan kami punya ritual,” kata Otto Mitting, seorang pemandu wisata sekaligus budayawan Toraja. 

Apa pun "agama resmi" yang sudah dianut orang Toraja, Aluk Tadolo tak bisa lepas. Orang Toraja beragama Islam saja menjalankan standar rambu solo sendiri, dengan memotong kerbau setelah 40 hari atau 100 hari kematian. Orang Toraja yang beragama Kristen tentu saja mengikuti standar rambu solo pada umumnya di Toraja.

Agama-agama resmi negara telah meminggirkan Aluk Tadolo, agama lokal orang Toraja, sekadar budaya

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam

Sumber: Tirto.Id 

Sabtu, 21 Juli 2018

Menelisik Sejarah Masjid Saka Tunggal di Kebumen

Sabtu, 21 Juli 2018 - 05:43 WIB
Abdul Malik Mubarok

Masjid Saka Tunggal di Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. FOTO/SINDOnews/ABDUL MALIK MUBAROK

Sejarah penyebaran Islam di Nusantara tak bisa dilepaskan dari keberadaan masjid-masjid kuno di sejumlah daerah di Indonesia. Salah satunya Masjid Saka Tunggal di Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Sesuai namanya Saka Tunggal, masjid ini hanya ditopang oleh satu tiang (saka) saja. Saka tunggal sebagai penopang utama bangunan ini berbentuk segi empat dengan ukuran 30 x 30 cm. Ia menjulang ke atas sekitar 4 meter tingginya. Di ujung atas soko tersebut terdapat 4 buah kayu melintang sebagai penyangga utama bangunan masjid tersebut. Sementara di tengah-tengah soko terdapat 4 buah danyang atau skur untuk membantu menyangga kayu-kayu yang ada di atasnya.

Kayu yang digunakan sebagai saka merupakan kayu jati pilihan. Karena keunikannya tersebut, Masjid Soko Tunggal kerap menjadi bahan penelitian dan riset dari instansi dan universitas di Indonesia.
Menelisik Sejarah Masjid Saka Tunggal di Kebumen

Menurut Imam Masjid Saka Tunggal Muhammad Ja'far, makna saka tunggal sebenarnya mengandung filosofi tersendiri. Saka tunggal melambangkan ke-Esaan Allah SWT sebagai Sang Pencipta tunggal alam semesta. Makna tunggal tersebut diejawantahkan dengan memaknai Masjid Saka Tunggal sebagai tempat untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Tunggal atau Esa. Sedangkan dalam kaitannya dengan sejarah perjuangan, masjid itu juga sebagai simbol satu tekad untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia.

Banyak versi mengenai sejarah berdirinya Masjid Saka Tunggal ini. Menurut Muhammad Jafar, Masjid Soko Tunggal dibangun oleh Adipati Mangkuprojo sekitar 1719 Masehi. Dia merupakan keluarga Keraton Kartasura, Solo yang gigih melawan penjajah Belanda. Karena terdesak Adipati Mangkuprojo kemudian melarikan diri dan memilih bergerilya di daerah Pekuncen. Ia pun kemudian membuat pesanggrahan yang bersifat sementara.

Selain bergerilya, Adipati Mangkuprojo juga giat melakukan syiar agama Islam. Setelah pengikutnya banyak akhirnya Adipati Mangkuprojo mendirikan masjid Saka Tunggal ini. Awalnya atap masjid menggunakan daun bambu yang dianyam dan dindingnya menggunakan tabak bambu. Dalam perkembangannya atap daun bambu tersebut diganti dengan ijuk, tetapi dindingnya masih menggunakan tabak bambu. Kurang lebih seabad kemudian ijuk tersebut diganti dengan genteng. Tahun 1922 dinding bambu diganti dengan bangunan tembok. Dan pada Juli 2005 lalu direnovasi.

Masjid Saka Tunggal Pekuncen ini memiliki kaitan dengan keluarga Soemitro Djojohadikoesoemo, begawan ekonomi Indonesia yang juga ayah dari Prabowo Subianto. Menurut cerita, nenek moyang Soemitro adalah juru kunci (kuncen) makam Adipati Mangkuprojo yang terletak tak jauh dari Masjid Saka Tunggal. Itulah mengapa desa ini disebut Desa Pekuncen.

Karena ada ikatan tersebut, renovasi Masjid Saka Tunggal dilakukan oleh keluarga Soemitro Djojohadikoesoemo. Tidak mengherankan jika setiap bulan ruwah dalam penanggalan Islam, keluarga Sumitro Djoyohadikusumo pasti datang berziarah ke makam ini.

Sejak pertama kali didirikan, setidaknya sudah 10 kiai yang menjadi imam di masjid tersebut. Yaitu Kyai Maja, Kyai Langgeng Dipura, Kyai Madanom, Kyai Abdul Hamid, Kyai Moh Salim, Kyai Moh Ngasem, Kyai M Jafat, Kyai Moh Saeri, Kyai H Abu Jamhari dan sampai saat ini imam Masjid Saka Tunggal dipegang oleh M Jafar.(amm)


Sumber: SindoNews 

Senin, 09 Juli 2018

6 Film FFP 2018 digelar di Karangsambung

  • FFP 2018 Gandeng Pokdarwis dan Karang Taruna


Ratusan penonton memadati tanah lapang pedukuhan Pesanggrahan malam itu, Senin (9/7); tak jauh dari pusat keramaian Karangsambung Kebumen. Sejak lepas isya’ hamparan terpal yang digelar panitia Festival Film Purbalingga (FFP) dipenuhi anak-anak yang tak sabar menunggu film diputar. Model layar tanjleb mengingatkan kenangan publik jaman dulu saat menonton bioskop layar lebar “misbar” di kapangan terbuka.

Putaran kedua dari 17 lokasi yang terpilih untuk tempat pemutaraan bioskop dengan sound-system menggelegar, tak hanya dipadati anak-anak. Kalangan muda hingga para orangtua serta penjual jajanan tak ketinggalan memanfaatkan keramaian ini untuk berjualan.

Pihak panitia festival yang terdiri dari Cinema Lover’s Community (CLC) Purbalingga, Sangkanparan (Cilacap) dan Komunitas Kedung (Kebumen) menggandeng Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bukit Pentulu Indah serta Karang Taruna Desa Karangsambung dalam perhelatan malam itu.
Rupanya layar tanjleb memang jadi pilihan cara menyajikan tontotan film dalam festival tahunan yang kini telah memasuki tahun ke 12 ini.
“Mendekatkan film kepada penonton terutama penduduk di desa yang memiliki hak sama dengan warga perkotaan yang biasa dimudahkan untuk mengakses tontonan di gedung bioskop”, papar Bowo Leksono tentang media pilihan dalam penyajian karya sinema yang diputar. Ia menambahkan bahwa sajian film dalam festival tahunan ini akan dijaga konsistensinya dengan pilihan layar tanjleb sebagai model.
FILM PELAJAR: Anak-anak juga antusias menonton 3 film bikinan pelajar Kebumen di FFP 2018 [Foto: Komunitas Kedung]

Ada 6 Film 

Ada 6 film diputar di lokasi yang tak jauh dari pusat LIPI Karangsambung ini. Diantaranya ada 3 karya pelajar, masing-masing: “ Di Dasar Air” (Sutradara: Intan Karunia, SMK 1 Gombong), “Batu Badar Besi” (Sutradara: Alfa Khumairoh, SMK Karanggayam) dan “Tanah Tuan Tanah” (Sutradara: Hestika Sari, SMK Karanggayam).

Selain film karya para pelajar ini, ada juga film berjudul “Oleh-Oleh (Sutradara: M. Reza Fahriansyah), “Ji Dullah” (Sutradara: Alif Septian) dan “Sekala Niskala” (Sutradara: Kamila Andini). Film terakhir ini telah memperoleh award di berbagai festival bertaraf internasional. Dan baru saja film ini disertakan dalam Asean Film Festival 2018 yang juga menyabet penghargaan tingkat Asia. Pelibatan warga setempat dalam gelaran ini pun akan selalu diupayakan ada di setiap lokasi penyajian.
"Layar tancap ini juga menjadi peluang yang baik untuk mengingatkan kembali potensi geopark LIPI Karangsambung. Para pemuda tentu selalu terbuka terhadap berbagai acara yang ditawarkan dari pihak luar sejauh itu bertujuan positif. Apalagi bagi Karangsambung yang juga mempunyai obyek wisata PI (Pentulu Indah_Red)", ungkap Sutasor dalam sambutannya di sela pemutaran film.
Selaku Ketua Sub-Karangtaruna “Gatra Karsa” yang membawahi 6 dusun sekaligus penanggung jawab keamanan perhelatan, pihaknya sangat mengapresiasi upaya pengangkatan potensi sinema Indonesia; termasuk film karya para pelajar di daerahnya.
Salah satu pengurus pengurus pokdarwis Bukit Pentulu Indah, Supriyanto menambahkan bahwa meskipun Pentulu Indah sudah populer melalui berbagai liputan stasiun televisi, “Tetapi acara seperti ini tetap diperlukan untuk menggiatkan pemuda dan meramaikan lokasi di lingkup sekitaran area wisata yang ada di desa”.
Antusiasme penonton di dusun Pesanggrahan begitu tinggi hingga akhir pemutaran film utama, Sekala Niskala besutan sutradara Kamila Andini. Masih ada satu titik lokasi lagi yang akan disambangi Layar Tanjleb FFP 2018 yaitu Perum Jatisari kecamatan Kebumen kemudian berlanjut ke Banjarnegara. [put]

Minggu, 08 Juli 2018

Festival Film Purbalingga Merambah Kebumen



Festival Film Purbalingga (FFP) sebagai satu-satunya festival film berskala nasional di provinsi Jawa Tengah yang konsisten dengan program kompetisi untuk pelajar se-Banyumas Raya kembali menyambangi Kebumen. 

Pada tahun 2018 yang merupakan gelaran ke-12, FFP berhasil menjaring 8 film dokumenter dan 5 film fiksi karya pelajar Kebumen dari puluhan film yang masuk mendaftar. Film-film tersebut akan diputar dengan format layar tancap ke 17 titik di kabupaten Purbalingga, Kebumen, Cilacap, Banyumas, dan Banjarnegara. Kabupaten Kebumen mendapat jatah 2 titik lokasi layar tancap yaitu di dusun Pesanggrahan, Karangsambung, Senin (9/07/2018) dan di Perum Jatisari Indah, Kebumen pada Selasa (10/07/2018). 

Pemutaran film dimulai pukul 19.30 hingga 22.00 di setiap titiknya. Tidak hanya memutarkan film pendek kompetisi pelajar se-Banyumas Raya dan karya sineas dari daerah lainnya, program Layar Tanjleb FFP tahun ini juga memutarkan film panjang yang telah diapresiasi di berbagai festival baik nasional maupun internasional besutan sutradara Kamila Andini berjudul Sekala Niskala.
“Proses pendaftaran dan pemilihan lokasi sudah berjalan sebulan sebelum pelaksanaan. Dari 8 titik lokasi yang mendaftarkan, terpilih 3 lokasi yang memenuhi syarat dimana ada panitia lokal yang siap kerjasama di lapangan, biasanya dari kelompok karang taruna desa setempat. Tapi akhirnya hanya 2 lokasi yang dipastikan siap”, demikian tutur Ridho Saputro.  

Diperoleh penjelasan dari fihak koordinator pelaksana FFP 2018, Puput Juang bahwa program "layar tanjleb" FFP dari tahun ke tahun bisa menjadi ajang melatih kecakapan sineas muda dan film-maker di kabupaten Kebumen dan daerah lainnya yang terkait dalam mengelola sebuah festival film berkualitas dan terbukti konsisten bertahan selama belasan tahun dimana banyak volunteer terlibat didalamnya. 
“Dari tahun ke tahun tentu kami ingin terjadi penambahan lokasi titik pemutaran layar tanjleb, tapi tentu itu juga perlu perhitungan matang karena festival ini kan berjalan selama sebulan penuh. Tidak hanya layar tancap yang dilakukan, tapi juga ada lokakarya dan pemutaran film di ruang-ruang yang lebih kecil seperti program Nonton Bersama Tetangga dan pemutaran di komplek pendopo kabupaten Purbalingga yang disertai diskusi bersama para pembuatnya”, tambah Puput Juang, dedongkot Komunitas Kedung. 

Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga sebagai komunitas yang menggagas festival ini berkomitmen untuk terus memajukan perkembangan film lokal terutama film pelajar se-Banyumas Raya. 
“Dulu awalnya kami mulai bergerak dengan menawarkan pemutaran film dan workshop produksi bagi pelajar, setelah lebih dari 10 tahun kami kewalahan karena permintaan semakin banyak hingga datang dari daerah di luar Purbalingga.  Munculnya komunitas-komunitas baru dengan semangat berbagi yang sama menjadi angin segar bagi proses panjang yang telah dilalui selama ini. Apalagi kompetisi film pelajar jelas membutuhkan peningkatan mutu dari segi kualitas, bukan hanya kuantitas”, tegas Bowo Leksono selaku Direktur Festival Film Purbalingga. 

Dimas Jayasrana mewakili Jaringan Kerja Film Banyumas Raya (JKFB) sebagai organisasi tempat bernaung komunitas film di Purbalingga, Kebumen, Cilacap, Banyumas, dan Banjarnegara menambahkan 
“FFP tidak dikerjakan sendiri oleh CLC Purbalingga, tetapi melibatkan komunitas lain; Sangkanparan (Cilacap) serta Komunitas Kedung (Kebumen). Ini sejalan dengan semangat kolektif dan berjejaring yang menjadi kultur dan telah terbangun sejak awal”

Layar tancap sebagai medium pemutaran film dengan cakupan penonton yang luas tentu ampuh meningkatkan jumlah penonton film Indonesia dan mengedukasi dengan pilihan film berkualitas yang disajikan, serta menumbuhkan geliat ekonomi masyarakat. Apalagi di berbagai daerah yang tidak mempunyai bioskop jaringan komersil, hal ini tentu mengobati kerinduan masyarakat untuk menonton film dengan format layar lebar dan audio yang menggelegar. [rid]

Benteng Van der Wijck dan Upaya Meredam Pemberontakan Diponegoro

Minggu, 8 Juli 2018 - 05:11 WIB
Abdul Malik Mubarok

Benteng Van der Wijck peninggalan Belanda di Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. FOTO/DOK.KORAN SINDO

ZAMAN pendudukan Belanda di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah tidak bisa dipisahkan dari Kecamatan Gombong. Wilayah yang terletak sekitar 20 kilometer seberat barat dari ibu kota Kebumen tersebut diyakini pernah dijadikan pusat kegiatan tentara penjajah dari negeri kincir air itu. Terbukti, di jalan Sapta Marga Gombong terdapat sebuah benteng peninggalan kolonial Belanda yang diberi nama Van der Wijck.

Berdasarkan cerita sejarah dari berbagai sumber, Benteng Van der Wijck dibangun pada awal abad 19 atau sekitar 1818 seiring meluasnya pemberontakan Pangeran Diponegoro di beberapa daerah. Pembangunan benteng ini adalah sebagai tempat pertahanan sekaligus perencanaan penyerangan di eks-Karisidenan Kedu Selatan.

Namun dalam versi lain, Benteng Van der Wijck dibangun pada 1844. Sebelum dibangun benteng, gedung ini awalnya merupakan kantor Kongsi Dagang VOC (Vereenigde Ootindische Compagnie). Lantaran kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro yang berpusat di Bagelen Selatan (sekarang kota Kebumen) cukup besar, Belanda mendatangkan tentaranya ke Gombong. Mereka kemudian ditempatkan di kantor Kongsi Dagang VOC.

Karena dijadikan pertahanan militer dalam menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro di wilayah Bagelen Selatan, pada 1844 akhirnya Belanda mulai membangun sebuah benteng di kantor Kongsi Dagang VOC tersebut. Empat tahun kemudian benteng ini baru selesai dibangun.
  
Dibandingkan dengan peninggalan Belanda lainnya, Benteng Van der Wijck mempunyai keunikan tersendiri. Bangunannya dua lantai dan berbentuk segi delapan berwarna merah bata. Ketinggian gedung 10 meter. Tebal dindingnya mencapai 1,4 meter dan tebal lantai 1,1 meter. Total luasnya bangunannya sekitar 7.170 meter persegi.

Lantai satu Benteng Van der Wijck mempunyai 4 pintu gerbang. Di dalamnya mempunyai 16 ruangan berukuran 18 x 6,5 meter, serta 27 ruang kecil dengan 72 jendela dan 63 pintu. Sedangkan di lantai dua terdapat 70 pintu penghubung dan 84 jendela.

Ruangan di lantai satu merupakan barak-barak yang dijadikan tempat istirahat bagi para tentara Belanda. Selain itu juga digunakan untuk menyimpan bahan makanan dan amunisi persenjataan. Atap benteng juga dibuat dari bata merah, sangat kuat dan kokoh dibuat menyerupai bukit-bukit kecil digunakan sebagai tempat pertahanan sekaligus untuk mengintai lawan dari atas.

Setelah penjajah Belanda diusir dari bumi pertiwi dan Republik Indonesia mendapatkan kemerdekaannya, Benteng Van Der Wijck pernah difungsikan untuk tempat melatih tentara Indonesia bentukan Jepang yakni PETA sebagai pasukan tambahan menghadapi Sekutu. Di zaman itulah, seluruh tulisan Belanda yang ada di benteng dicat hitam. Kemudian dimanfaatkan untuk tentara Indonesia. Bahkan, semasa KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger), penguasa Orde Baru, Soeharto, menjadi salah satu penghuni benteng itu.


Sejak tahun 1950 hingga tahun 1984, benteng itu digunakan untuk barak tentara. Tahun 1984 menjadi tempat tinggal anggota TNI Angkatan Darat sampai tahun 2000. Namun sejak 5 Oktober 2000, bangunan peninggalan Belanda ini dikelola oleh pihak swasta PT Indo Power Makmur Sejahtera, untuk dijadikan objek wisata sejarah. Di dalamnya dibangun beberapa sarana permainan anak-anak. Seperti perahu angsa, kincir putar dan berbagai macam permainan anak lainnya.

Tak ketinggalan juga sebuah patung dinosaurus raksasa ikut dibangun untuk meramaikan suasana dan lebih mengakrabkan dengan dunia anak-anak. Bahkan sebuah stasiun kereta api mini dibangun di bagian atas benteng tepat di atas gerbang utama, memungkinkan pengunjung untuk mengitari sisi atas benteng dengan menggunakan kereta mini.


Sumber* Wikipedia, kebumen2013.com, dan beritakebumen.info (amm)

Sumber: SindoNews 

Minggu, 10 Juni 2018

"Sekolah Sastra" Umbu Landu Paranggi, Begini Gebrakannya yang Perlu Anda Tahu


Minggu, 10 Juni 2018 20:08
Oleh: Willem B Berybe
Mantan guru, peminat sastra


Ada dua peristiwa sastra yang terjadi pada bulan Mei 2018 dalam konteks sastra Indonesia dan sastra NTT.

Pertama, pemberian Anugerah Kebudayaan 2018 kepada Umbu Landu Paranggi oleh Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia pada tanggal 3 Mei 2018. Ia meraih kategori seniman modern (m.mediaindonesia.com).

Penghargaan ini menandakan sebuah bentuk legitimasi dunia seni budaya Indonesia dalam hal ini sastra terhadap sastrawan nasional Umbu Landu Paranggi.

Pria kelahiran Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini lebih lama menetap dan tinggal di luar NTT untuk menggeluti bidang tulis-menulis dan bersastra.

Kedua, sastrawan NTT, Vincentius Jeskiel Boekan, birokrat dan penulis novel tutup usia pada tanggal 16 Mei 2018. Begitu banyak kerabat dan masyarakat sastra NTT mengirim ungkapan turut berduka cita atas kepergian beliau melalui media.

Menurut pengamat sastra NTT dan dosen senior Universitas Flores Ende, Yohanes Sehandi, beliau telah menerbitkan tiga buah novel yaitu "Loe Betawi Aku Manggarai", "Membadai Pukuafu", dan "Cinta Terakhir" semuanya terbit tahun 2011.

Buletin Nurani yang terbit awal tahun 2000-an, setahu penulis, merupakan salah satu buah karya jurnalisme beliau dengan misi pewartaan untuk kalangan umat Katolik Kota Kupang khususnya Paroki Katedral Kristus Raja Kupang.

Teori Taine

Peristiwa pemberian anugerah budaya kepada Umbu Landu Paranggi tak lepas dari geliat pengarang-pengarang asal Nusa Tenggara Timur yang mampu berbicara dan berkontribusi untuk sastra Indonesia.

Beberapa nama seperti Gerson Poyk (Rote), Dami N Toda (Manggarai), Virga Belan (Rote), Umbu Landu Paranggi (Sumba), Julius R. Sijaranamual (Sumba), Fanny Poyk (Rote) dapat dikatakan telah menjadi referensi para pekerja seni sastra di negeri ini.

Bahkan karya-karya Gerson Poyk telah dipilih untuk kajian (studi) ilmiah sastra oleh lembaga perguruan tinggi asing seperti di Jerman dan Australia.

Ada lima aspek yang dipakai untuk menilai para kandidat penerima anugerah kebudayaan 2018 yaitu komitmen, konsistensi, produktivitas, orisinalitas, dan signifikansi.

Hasil akhir memunculkan tiga orang pemenang dengan kategori seniman tradisi atas nama Iman Rahman Anggawiria Kusumah, seniman modern untuk Umbu Landu Paranggi, dan pembina seni diberikan kepada Eddie Marzuki Nalapraya.

Kalangan pemerhati dan pengamat sastra dan masyarakat awam di NTT sepantasnya mengacungkan jempol untuk Umbu. Panca pilar sebagai elemen eksistensi tumbuhnya sebuah karya besar sastra sejatinya berorientasi pada pilar-pilar tersebut.

Pertanyaan menggelitik mengusik rasa ingin tahu. Mengapa dan bagaimana orang-orang NTT ini dan lain-lain mampu menembus ruang pergumulan dan pergaulan sastra Indonesia (nasional)?

Andai saja mereka tetap berkutat dan "meringkuk" dalam periuk bumi Nusa Tenggara Timur kecil (kosong) kemungkinan bisa mencapai titik puncak seperti sekarang.

Sebaliknya, tanpa faktor ke-nusatenggaratimur-an, mustahilkah mereka mampu menggapainya? Tesis ini setidaknya menggugat maraknya wacana dan studi sastra NTT dan beredarnya karya sastra putra-putri NTT berupa puisi, cerpen, novel, parodi, sajak.

Buku "Sastra Indonesia di NTT dalam Kritik dan Esai" (2017) oleh Yohannes Sehandi adalah cerminan yang kuat bahwa sastra ada di Nusa Tenggara Timur. Dan, sastra itulah (sastra etnik) yang menjadi bagian penting dari sastra nasional (Indonesia).

Hippolyte Taine (1828-1893), seorang pemikir, kritikus, sejarawan, penganut aliran positivisme asal Prancis mengatakan ada tiga faktor utama yang mendorong munculnya sebuah karya seni yaitu ras, milieu, dan momen (waktu).

Teori ini amat penting yang memberi efek terhadap seluk beluk kehidupan dan pertumbuhan sastra yang bersifat universal.

Ras (race), kata Taine, faktor kualitas daya pikir (nalar) dan karakter seseorang yang bersifat inherited (diturunkan sejak lahir); milieu (circumstance) adalah lingkungan yang membentuk, memodifikasi ras tadi; sedangkan momen (momentum), waktu, adalah momentum tradisi-tradisi budaya masa lampau dan sekarang `momentum of past and present cultural traditions.

The literature of a culture will show the most sensitive and unguarded displays of motive and the psychology of a people' (Encyclopaedia Britanica).

Jadi, sastra dalam bingkai budaya merupakan tampilan motivasi dan psikologi seseorang yang paling sensitif dan bebas pengekangan. Teori Taine ini, dalam pandangan penulis, mengena pada sastrawan asal NTT tersebut di atas yang, suka atau tidak suka, harus keluar dari kampung NTT. 
"Yogyakarta menempa Umbu Landu Paranggi menjadi penyair" tulis Korrie Layun Rampan, sastrawan Indonesia kelahiran Samarinda, Kalimantan, dalam Majalah sastra Horison edisi XXXXI,2006, No. T3.3.

Presiden Malioboro

Di Yogya, Umbu, biasa disapa demikian, mendirikan grup "sekolah sastra". PSK (Persada Studi Klub) namanya. Beranggotakan 1.555 orang dan ia sendiri pembinanya.

Bergabung antara lain sastrawan-sastrawan yang kemudian terkenal seperti Ragil Suwarno Pragolapati, Linus Suryadi AG, Emha Ainun Nadjib, Agus Dermawan T, Korrie Layun Rampan, Yudhistira ANM Massardi, dan lain lain. Sejak dekade 1960-an hingga 80-an, Yogya mirip sebuah kota sastra yang unik.

Titik kegiatan di Jalan Malioboro. Trotoar disulap jadi panggung terbuka untuk baca puisi. Di sana setiap anggota bebas memberi komentar. Memuji ataupun menghakimi. Jadi sebuah arena belajar untuk berkemampuan berdiskusi.

Diberi ruang dan waktu untuk menyerang tetapi juga mempertahankan ide. Tujuan akhir supaya terjadi persaingan kreativitas dan dari situlah karya-karya sastra (puisi/sajak) yang bermutu tersaring untuk ditampilkan dalam mingguan Pelopor Yogya asuhan Umbu.

Sebuah "sekolah sastra" yang praktis, efektif dan produktif. Dari aktivitas di kawasan Malioboro Yogya inilah, kelompok PSK kemudian memberi gelar kepada Umbu dengan "Presiden Malioboro" (ibid; Kakilangit, 117 .10).

Jika banyak sastrawan besar Indonesia terlahir dan berproses jadi penyair terkenal dari rahim Yogya misalnya Rendra, Umar Kayam, Sapardi Djoko Damono, Danarto, Motinggo Busye, dan lain lain yang lebih suka berhijrah ke Jakarta, tidak demikian halnya dengan Umbu yang lebih memilih Denpasar.

Sebuah keputusan dengan dasar pertimbangan milieu (lingkungan) yang sangat ideal dan tepat. Karenanya, dia bersaksi dalam puisinya yang berjudul Ni Reneng (bait kedua), "....di sini, di pusaran jantung Bali/ ibu, biar bersimpuh rohku/pada kedua tapak tanganmu/... (ibid; Kakilangit, 117 .3).

Simbolisasi diksi "ibu" untuk sebuah Denpasar (Bali) menunjukkan keseluruhan pribadi dan kehidupan Umbu yang telah membumi di ibu pertiwi, pulau dewata. Di pulau "sejuta pura" ini, tak henti-hentinya Umbu menjadi guru "sekolah sastra".

Nama-nama sastrawan seperti Raudal Tanjung Banua, Oka Rusmini, Putu Fajar Arcana, Tan Lioe Ie dan lain-lain lahir dari kerja keras seorang Umbu. Sejak tahun 2013, ia menghidupkan sebuah komunitas sastra di Denpasar, Bali dengan nama Komunitas Jatijagat Kampung Puisi.

Keteladanan di bidang seni dan budaya telah melekat pada pribadi Umbu sebagai "guru sastra". Kegigihan dalam bersaing dengan sastrawan-sastrawan besar Indonesia terbukti.

Sajak-sajaknya masuk rubrik remaja majalah Mimbar Indonesia asuhan Sudjatmoko, Rosihan Anwar, Rivai Apin, H.B. Jassin (1962). Selain itu, sajak-sajak Umbu sering muncul di sejumlah media sastra budaya dan surat kabar seperti Basis, Pusara, Kompas, Sinar Harapan, Mimbar/Tribun dan lain-lain (ibid; Kakilangit, 117 .14).

Umbu sebagai sastrawan yang berhasil justru ketika berada di luar NTT. Akankah generasi muda NTT seperti penyair Mario Lawi yang puisi-puisinya lolos dalam kategori Kompas, Tempo, Sinar Harapan menelusuri jejak Umbu dan kawan-kawan? Mengapa tidak! 

Editor: Putra