This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 14 Desember 2017

Budaya Sinema Milik Siapa?

oleh Eric Sasono

14 Desember 2017
Pria berpeci itu adalah Bowo Leksono, Direktur Organisasi CLC Purbalingga. (Foto: Rekam Docs)


Ketika memberi pengantar pada buku Katalog Film Indonesia yang disusun oleh JB Kristanto pada 2007, saya menulis bahwa ada pergeseran besar budaya sinema dibandingkan dekade 1970-1980-an. Sinema di pergantian abad menjadi milik kelas menengah di kota-kota besar, terutama Jakarta. Lebih dari 80 persen bioskop berada di Jakarta dan kebanyakan berada di pusat perbelanjaan, seperti mal dan plaza. Konsumsi sinema yang tadinya merupakan kegiatan akhir pekan yang banyak dilakukan bersama keluarga, berubah menjadi kegiatan bersama kelompok terdekat (peer group) di perkotaan, dan relatif menjadi bagian budaya konsumen (consumer culture) kelas menengah. Hingga beberapa saat pernyataan itu seakan bertahan. Tapi ternyata hanya di permukaan.
Film dokumenter Balada Bala Sinema karya Yuda Kurniawan menggambarkan bantahan terhadap premis itu dengan tegas. Budaya sinema tidak cuma bagian dari budaya konsumen sebagaimana yang saya tulis—yang juga banyak diteorikan oleh banyak ahli yang menekuni kajian film. Budaya sinema juga tidak semata bagian dari budaya urban yang akrab dengan medium itu lantaran adanya kesamaan antara teknik montase dengan perjalanan di dalam kawasan perkotaan. Budaya sinema tidak hanya bagian dari budaya konsumen di pusat perbelanjaan seperti plaza dan mal, melainkan sebuah budaya pedestrian: budaya yang juga dipenuhi oleh para pelakunya yang berjalan kaki menuju ke dan pulang dari tempat pertunjukan, bukan hanya didatangi oleh mereka yang berkendaraan pribadi atau menyewa taksi. Jangan-jangan budaya sinema bisa saja tumbuh dalam konteks kondisi agraris.
Gagasan Punya Kaki
Bantahan premis di atas digambarkan Balada Bala Sinema lewat rekaman perjalanan perjalanan sebuah komunitas film bernama Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga, dan dimotori oleh Bowo Leksono serta beberapa pegiat lainnya. Bisa dikatakan gambaran Yuda ini sejalan dengan gagasan yang diajukan oleh peneliti Belanda Katinka Van Heeren (2012) dalam disertasinya untuk Universitas Leiden.
Katinka menulis bahwa salah satu penanda terpenting dari perubahan politik yang dibawa oleh reformasi di Indonesia adalah kemunculan komunitas-komunitas film dan media seperti ini. Melalui proses yang disebut Katinka sebagai praktik mediasi (mediation practices), komunitas seperti CLC ini muncul dan berkembang di pinggiran (dalam pengertian geografis, finansial, sirkulatoris, dan sebagainya) untuk menandingi budaya sinema Orde Baru yang berubah bersama runtuhnya rezim. Namun CLC penting terutama karena komunitas seperti ini memperlihatkan sebuah praktik ber-media yang tumbuh dari bawah, menjalankan strategi dan taktiknya sendiri.

Produksi film pendek oleh CLC memperlihatkan sebuah praktik ber-media yang tumbuh dari bawah. (Foto: Rekam Docs)
Balada Bala Sinema memperlihatkan, seperti penjelasan Katinka, bahwa salah satu strategi komunitas film ini adalah memanfaatkan jejaring yang terus tumbuh dan berkembang serta jauh dari statis. Dalam berjejaring tersebut, film ini memperlihatkan peran penting yang dibawa oleh komunitas film Konfiden yang didirikan oleh para pegiat seperti Alex Sihar, Agus Mediarta, almarhumah Elida Tamalagi, dan kawan-kawan dalam mempelopori sebuah kebiasaan baru dalam memperlakukan film.
Film dalam pandangan komunitas ini bukan semata milik para pemodal besar dan hanya bisa dikonsumsi di mal ber-AC yang tumbuh beriring dengan gentrifikasi bioskop akibat masuknya para pengusaha konglomerat ke industri itu yang diiringi dengan perkoncoan politik—seperti yang saya gambarkan bersama teman-teman di buku kami, Menjegal Film Indonesia (2011). Lihat bagaimana kongres komunitas film direkam di Balada Bala SinemaFilm adalah milik anggota komunitas yang saling bekerja sama, berkumpul di tenda yang tempias ketika hujan, dengan semangat mengatasi bersama kesulitan infrastruktur industri film yang mau tak mau harus disebut diskriminatif. Dalam adegan kongres komunitas film itu, tampak jejaring tersebut menjadi salah satu perwujudan ide bahwa pengetahuan adalah milik bersama alias commonBerbagai sesi di kongres itu juga memperlihatkan bahwa pengetahuan dan pengalaman dimiliki untuk dibagikan karena memang sejak semula ia milik bersama, bukan untuk dikapitalisasi untuk semata mendongkrak statistik pendapatan negara.
Sinema dalam pandangan dan perlakuan komunitas ini adalah bagian dari gerakan sosial dalam ber-media—yang artinya memanfaatkan dan mempengaruhi media dalam kaitannya dengan kehidupan sosial politik yang lebih partisipatoris. Konfiden sendiri sebagai sebuah komunitas sudah non-aktif. Namun gagasan yang dibawanya masih terus berjalan jauh, dan film dokumenter ini menggambarkan dengan sangat baik bagaimana gagasan bisa punya kaki, lantas kemudian tumbuh dan berkembang menjadi sesuatu yang tak terbayangkan akan bisa dicapai sebelumnya.
Kebiasaan baru ber-media inilah yang kemudian berkembang sebagai sebuah budaya sinema baru, dimana sinema digunakan oleh suatu komunitas tertentu untuk membantu mereka memahami dan mempengaruhi dunia sekitar mereka, sebagaimana digagas oleh akademisi Janet Harbord (2002). Harbord mengelaborasi budaya sinema ini tumbuh melalui beberapa tanda, seperti adanya film-film penting yang menandai periode, festival sebagai sebuah peristiwa sinema yang bersifat spesifik, produksi, dan sirkulasi medium serta ruang fisik tempat semua itu mengalir membentuk sebuah kebiasaan (tradisi) dan akhirnya budaya baru. Studi Harbord sendiri cenderung Eurosentris karena ia bicara peran film dalam modernisasi, festival sebagai bagian dari kanonisasi sinema, dan sebagainya. Film dokumenter Balada Bala Sinema ini seperti menyajikan tandingannya.
Peronika
Tandingan itu berawal dari Peronika (2004), sebuah film pendek berbahasa Jawa dengan logat ngapak karya Bowo Leksono yang menjadi awal dari kemunculan CLC Purbalingga ini. Alangkah menariknya bahwa film ini yang menjadi pelopor lantaran ia seperti sebuah komentar terhadap kegagapan teknologi, tetap pembuatannya dimungkinkan juga oleh perkembangan teknologi. Film ini seperti semacam penanda perubahan, ketika Indonesia, seperti bagian dunia lain, memasuki periode pasca 1990-an dalam dunia sinema, yaitu ketika ketersediaan media digital dan teknologi komunikasi telah membuat sarana produksi dan anjungan distribusi yang baruyang belum pernah ada presedennya sebelumnya, sehingga menjadi sarana untuk menyusun ulang makna kata independen (Depres and Pernin, 2015).
Ketersediaan teknologi digital ini kerap diasong sebagai sebuah bentuk demokratisasi media dimana produksi dan distribusi bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja, tanpa harus mengandalkan pada perangkat yang mahal dan dimiliki oleh segelintir pihak. Namun kita tahu bahwa itu baru separuh cerita, karena dengan teknologi digital ini pun, dominasi pihak-pihak lama tidak semata berakhir. Keadaan mungkin berubah tapi sebagian. Dalam kondisi pasca 1990, bisa dibilang tak serta merta terbentuk akses yang lebih merata dan muatan yang lebih partisipatoris. Namun dengan melihat Peronika, kita bisa melihat bagaimana Bowo menjadikan teknologi sebagai perangkat untuk menyiasati narasi yang menghadirkan gambaran ketegangan antara yang lokal dan yang universal, yang terus bermunculan di Indonesia hingga hari ini.
Sinema Pedestrian
Ketidakterhindaran teknologi itu disiasati tak terbatas pada narasi film saja. Siasat terhadap teknologi justru berkembang, melalui berbagai kegiatan, terutama rangkaian workshop dan tentu saja Festival Film Purbalingga. Festival ini bisa jadi merupakan salah satu festival film terpenting di Indonesia di luar festival resmi pemerintah (government-sanctioned), FFI. Bersama dengan Festival Film Bandung, Jiffest dan Q-Film Festival (keduanya sudah tak aktif), Festival Film Dokumenter Yogyakarta, dan tentu saja Jogja Netpac Film Festival alias JAFF, Festival Film Purbalingga menjadi festival yang dipelopori oleh komunitas dan bisa bertahan cukup lama relatif tanpa sokongan dana berarti dari pemerintah.
Namun berbeda dengan festival-festival lain, Festival Film Purbalingga ditandai oleh dua hal yang mencolok: workshop dan kemudian pertunjukan lewat layar tancap atau layar tanjleb. Rangkaian workshop ini berjalan sepanjang tahun dan diperlihatkan menjadi pendahulu bagi festival sekaligus menjadi sumber utama pencarian film mereka. Selama bertahun-tahun workshop terus diadakan dan belakangan diuji lewat pemutaran di hadapan publik, di festival mereka. Maka festival itu jadi mirip ajang pencarian bakat yang serius, tempat para pesertanya diuji di hadapan penonton secara langsung. Tak heran jika lulusan komunitas ini terus mendominasi berbagai kompetisi dan festival film di berbagai tingkatan di Indonesia. 
Layar tancap juga menjadi unsur penting perkembangan budaya sinema yang baru ini lantaran mengembalikan dan memperluas budaya sinema yang saya sebut sebagai sinema pedestrian ini. Beda dengan layar tancap dan bioskop misbar (gerimis bubar) urban yang konotasinya nostalgia, layar tanjleb di Festival Film Purbalingga sungguh-sungguh menjadi sarana distribusi yang berfungsi mempertemukan film dengan publiknya. Sinema tidak lagi didominasi oleh budaya konsumen yang selalu menganggap penonton sebagai konsumen, yang kepuasannya diukur dari proses transaksi finansial. Penonton dikembalikan kepada konsep publik yang dirayakan di dalam festival ini. Inilah sebuah sumbangan besar dari komunitas CLC yang direkam dengan penuh gairah dan ketekunan pada film dokumenter Balada Bala SinemaIni adalah salah satu upaya paling sukses untuk mengembalikan penonton sebagai publik dan film terwujud menjadi barang publik, bukan semata barang dagangan.
Ruang Publik Sementara
Dalam versi yang saya tonton, saya merasa bagian awal film dokumenter ini terlalu panjang dan ada kesan kuat Yuda Kurniawan merasa sayang memangkasnya. Tentu saja ini mengganggu karena film terasa agak bertele-tele. Padahal di sepertiga terakhir, film berubah menjadi jauh lebih menarik untuk ditonton. Adegan puncak perdebatan yang terjadi antara Bowo Leksono dengan pegiat Pemuda Pancasila sangat menjelaskan keseluruhan budaya sinema ini dalam beberapa aspek. (Catatan: bisakah anggota PP kita sebut pegiatterjemahan dari activist? Apakah mereka civic organisation mengingat mereka menggunakan dasar negara dalam nama organisasinya? Sementara di sisi lain mereka memaksa pembubaran festival dan melakukan hal-hal yang kurang beradab lain).
Pertama, terlihat Bowo ngotot agar pemutaran film Pulau Buru Tanah Air Beta karya Rahung Nasution tetap dijalankan karena bukan hanya ia mempercayai pentingnya kebebasan berekspresi, tetapi juga meyakini festival film sebagai sebuah peristiwa media yang berdaya kuat untuk membuka dialog yang konstruktif. Inilah wujud nyata festival film sebagai sebuah ruang publik sementara (ephemeral public sphere). Sebagai ruang publik sementara, festival menjadi sebuah wilayah yang punya batas-batas, dimana negara tidak mengintervensi melainkan menjadi penjamin bagi berlangsungnya dialog terkait pokok soal (subject matter) yang dibicarakan di dalam film. Tentu saja hal ini tidak bisa digeneralisir mengingat tidak seluruh festival bisa menjadi seperti ini, tetapi Balada Bala Sinema mencontohkan dengan baik bagaimana hal tersebut berpeluang untuk tercapai.
Kedua, perekaman yang dilakukan Yuda sendiri memperlihatkan determinasi yang sama degilnya dengan komunitas CLC dan segala kegiatan mereka. Dengan framing yang lumayan terjaga, sekalipun suasana sudah panas, Yuda memperlihatkan dirinya sebagai dokumentaris yang tetap berusaha bertahan untuk merekam peristiwa berdasarkan aspek sinematis dan aktualitas sekaligus. Inilah sebuah etos yang melandasi sinema dokumenter yang bersifat pedestrian yang hanya bisa dilakukan oleh para pelaku yang tidak berada di ketinggian, melainkan berdiri sejajar dengan para pelaku di posisi para pejalan kaki. Lagi-lagi, inilah film dokumenter pedestrian yang berada bersama subjek, dan tidak melihat mereka dari ketinggian kamera drone atau angka-angka.
Ketiga, sikap Bowo yang bersikeras menawar agar para pemrotes menonton film para pelajar Purbalingga menjadi gambaran bahwa sinema memang medium (perantara) yang berpeluang untuk memulai dialog tentang berbagai soal. Perkara sikap para pemrotes yang kemudian keluar di tengah pertunjukan tanpa bisa menghentikan pemutaran film pelajar Purbalinggayang temanya sejenis dengan Pulau Buru Tanah Air Betamemperlihatkan di pihak mana sesungguhnya kemenangan dalam dialog itu terjadi. Para pemrotes keberatan terhadap peristiwa publik itu, dan harus mengakui bahwa wacana yang ada di dalam peristiwa itu tak sanggup untuk mereka tonton, apalagi jika mereka ditanya soal jalan keluar. 
Bala Sinema
Untuk menyimpulkan tulisan ini, saya terdorong untuk merangkum lewat posisi cinephilia, sinefil atau bala sinema dalam kaitannya dengan budaya sinema pedestrian yang saya sebut tadi dalam beberapa poin.
Pertama, sinema adalah sebuah budaya yang berbasis komunitas, dibangun berdasarkan semangat untuk berbagi, bahkan bermain-main. Lihat saja adegan main air di parit dengan memakai layar. Kapan terakhir kali melihat bagian dari budaya sinema begitu tulus dan menyenangkan seperti ini?
Karakter utama sinema sebagai saluran bagi katarsis, sarana pendidikan, pemupuk solidaritas dan alat protes tetap dipertahankan dan diperlihatkan dengan baik oleh film dokumenter ini. Namun di balik itu, landasan bagi budaya sinema itu bukan semata bangunan komersial dengan segala perangkatnya sebagaimana yang umumnya dikenal, tetapi bisa juga kesadaran kewargaan yang bisa berjalan berdasarkan kerja sama dan (seberapa pun klisenya istilah ini digunakan) gotong royong.
Kedua, sinema bukan semata budaya urban yang lahir beriring dengan pertumbuhan kota seperti yang dipercaya oleh banyak ahli. Sejarah sinema di negara-negara Asia dan Amerika Latin memperlihatkan bahwa sinema adalah terusan dari budaya dongeng yang mampu meleburkan dikotomi urban-agraris dalam teori ilmu kebudayaan. Budaya urban, yang kerap diidentikkan dengan modernisasi, kaprah dianggap sebagai tempus kelahiran sinema, sebuah medium yang menghadirkan pesona tentang dahsyatnya dunia modern yang mampu membawa sensasi sensorial tiada tara. Namun film dokumenter Balada Bala Sinema memperlihatkan bahwa banyak masyarakat di negara-negara Asia telah memiliki tradisi dongeng dan pementasan yang panjang yang kemudian mengadopsiatau kita sebut saja mengapropriasisinema demi memuaskan tradisi mereka sendiri. Mulai dari Akira Kurosawa yang sangat terpengaruh oleh teater panggung Noh, sampai Djajakususma yang terpengaruh pertunjukan ketoprak, kita bisa melihat bahwa sinema mengalami penerjemahan lokal bukan hanya pada genre saja, melainkan justru seperti digunakan semaunya guna memenuhi hasrat bercerita dan memanggungkan narasi tertentu ke hadapan khalayak.

Layar tancap di Festival Film Purbalingga menjadi sarana distribusi untuk mempertemukan film dengan publiknya. (Foto: Rekam Docs)
Ketiga, para penonton film Indonesia bukan semata konsumen seperti yang dipercaya oleh para pelaku perfilman, baik yang komersial maupun yang bukan. Penonton film juga bisa dimaknakan sebagai publik, sebagai orang-orang yang peduli pada hiburan, cerita, muatan (content), dan pokok soal secara umum dan hal itu tidak semata dilandasi oleh pertukaran ekonomi langsung. Para pembuat film tidak semata mengharap return of investment, dan para pemutar film tidak mengandalkan tiket dan popcorn yang dibeli oleh penonton mereka. Transaksi (istilah ini mungkin kurang tepat) yang terjadi adalah transaksi non-finansial, dengan basis sesuatu yang sudah lama dilupakan dalam budaya sinema Indonesia. Maka bagi saya, Balada Bala Sinema adalah salah satu penghargaan terbesar terhadap medium sinema, dimana isi dan peristiwa sinema jadi sama pentingnya dalam konteks kemasyarakatan (bahkan politik) yang lebih luas.
Bahkan sebetulnya Balada Bala Sinema adalah sebuah penghormatan besar kepada sinefilia alias cinephile alias pecinta film. Atau saya malah mengusulkan agar cinephile diterjemahkan saja sebagai bala sinema, lantaran frasa ini seperti mampu menunjukkan keberpihakan dan kengototan di satu sisi sekaligus kebermainan di sisi yang lain. Dokumenter ini juga merekam bagaimana bala sinema mampu menjadi motor bagi perubahan sosial politik dan budaya sekaligus, bukan sekadar sebagai konsumen dari komoditisasi pengkultusan terhadap para pesohor dan fetishisasi pernak-pernik seperti yang kaprah kita kenal. Inilah sebuah argumen paling nyata bagi saya bahwa bala sinema alias sinefilia adalah sebuah kategori sosial yang mampu mewujudkan gagasan di dalam film dan tidak menjadikannya bahan baku studi diskursus saja.(*)


Balada Bala Sinema 
Produser: Yuda Kurniawan, Damar Ardi
Sutradara: Yuda Kurniawan 
Penulis Skenario: Yuda Kurniawan 
Penata Kamera: Yuda Kurniawan 
Pemeran: Bowo Leksono, Heru Catur Wibowo, Nanki Nirmanto, Asep Triyanto, Insan Indah Pribadi, Dimas Jayasrana.
Produksi: Rekam Docs, CLC Purbalingga, Super 8mm
Studio


Sumber: JurnalRuang.Com 




Minggu, 22 Oktober 2017

Geopatogen, ‘Hantu Penunggu’ si Biang Penyakit yang Dampaknya Setara dengan Radiasi Chernobyl

  • Minggu, 22 Oktober 2017 06:00 WIBA

Geopatogen | IST


Berdiam di perut bumi, "makhluk" tak kasat mata itu sering dianggap sebagai hantu penunggu.

Namun di kalangan ilmuwan, ia dikenal sebagai medan geopatogen yang bisa mengganggu kesehatan.  Biar tak mengganggu, dia perlu diberi "sesajen" garam, jeruk dan kertas koran.

Berikut ini laporan wartawan Intisari A. Hery Suyono. G. Sujayanto, I Gede Agung Yudana, dan koresponden Intisari B. Soelist., yang dirangkum oleh Al. Heru Kustara.

Diam-diam, kita punya musuh misterius yang sangat dekat dengan kita. Celakanya, lagi-lagi secara diam-diam, dia suka menyerang dan mengganggu kesehatan.

Badan rasanya tak enak padahal istirahatnya cukup, sendi-sendi tulang linu seperti menderita rematik, kejang kaki, atau susah berkonsentrasi.
Gawatnya lagi, dia pun bisa jadi biang kemandulan, menyebabkan impotensi bahkan tumor! Tidak kasat mata, biasanya dia bersembunyi di bawah tempat tidur atau di sekitar rumah.

Binatang apa pula biang penyakit itu? Ini bukan mau membawa Anda ke alam mistik-mistikan, tetapi jawabannya adalah sebuah kenyataan yang didasari ilmu pengetahuan.

Jika Anda merasakan gangguan kesehatan macam itu, jangan lalu cepat-cepat menuduh kalau ini akibat kelakuan hantu usil atau makhluk halus kurang sesajen.

Menurut dr. Jatno, kebetulan seorang kardiolog dari Surabaya, segala gangguan itu bisa disebabkan oleh pengaruh medan elektromagnetik yang telah berlangsung lama.

"Aliran air bawah tanah yang lewat persis di bawah tempat tidur kita merupakan salah satu sumber medan geopatogen yang memancarkan gelombang elektromagnetik, di samping aliran dan peralatan listrik," kata Jatno yang mendalami masalah medan geopatogen.

Kalau mau dijelaskan, geopatogen itu berasal dari kata Yunani geos (bumi) dan pathogen (penyakit).

Jadi secara sederhana bisa diartikan keadaan atau hal-hal yang berasal dari bumi, biasanya berupa radiasi gelombang elektromagnetik atau radiasi lainnya (di luar radiasi sinar-X), yang menyebabkan sakit.

Sementara H. Handoyo Lukman MSC, seorang pastor yang bertugas di Purworejo, Jawa Tengah, menuturkan, "Medan itu muncul akibat perputaran bumi pada porosnya yang membuat planet bumi menjadi zona elektrostatis. 
Belum lagi adanya tumpukan mineral tertentu di dalam bumi, menjadikan energi elektrostatis di suatu tempat semakin tinggi."

Kalau badan sudah tidak bisa menetralisasi pengaruh medan itu, orang yang selalu berada di bawah pengaruh medan ini akan mengeluh tidak enak badan, lekas lelah dsb.

Kalaupun diperiksa secara medis, tidak akan ditemukan penyebabnya. Batas kemampuan manusia menerima pengaruh medan itu tanpa merasakan gangguan kesehatan apa-apa adalah 15.000 elektrovolt.


Emas dan makhluk halus

Sebetulnya fenomena medan geopatogen bukanlah barang baru. "la sudah dikenal sejak dimulainya sejarah manusia," tutur Romo Lukman.
Bahkan nenek moyang kita pun sejak kapan-kapan sudah menangkap gejala alam yang tak kasat mata ini.

"Orang dulu itu ternyata pintar. Leluhur kita telah memperkenalkan adanya tempat-tempat  tertentu yang disebut atau dianggap wingit (angker), sangar dan entah apa lagi, namun sayangnya tanpa disertai keterangan yang jelas,” kata dr. Jatno.

Ingat musibah kebakaran Keraton Kasunanan Surakarta beberapa tahun lalu? Di reruntuhan puing sisa kebakaran ditemukan berkilo-kilo logam mulia atau emas.
Itu semua, kata dr. Jatno, dipakai untuk memantek tiang-tiang bangunan istana.

“Emas, meskipun logam, itu ‘kan berfungsi menolak (gelombang) elektromagnetik.” Makanya istana raja-raja dulu tiang-tiangnya dipanteki dengan emas.

Buat kebanyakan orang, medan geopatogen yang memancarkan gelombang elektromagnetik itu justru sering ditangkap sebagai adanya lelembut (makhluk halus) atau hantu penunggu di suatu tempat.

Sebaliknya, Romo Lukman malah menganggap hantu itu sebagai wujud simbolik dari adanya medan geopatogen.

Bukankah kenyataannya keberadaan hantu atau sebangsanya sering dikait-kaitkan dengan pohon besar? Dari sisi ini memang relevan, “Pohon besar dan berakar banyak tentu menyerap banyak air, sehingga medan geopatogen di situ tinggi,” ujar Romo Lukman.

Ketika ditemui Intisari di kediamannya, dr. Jatno memperagakan cara mendeteksi ada tidaknya medan geopatogen, seperti aliran air bawah tanah, menggunakan medium berupa antena radio dan ranting kayu berbentuk huruf Y (atau V).

Antena bekas yang dipasang pada lager (agar bebas gesekan) berputar sendiri ketika dipegang tepat di atas tanah yang di bawahnya terdapat aliran air.

“Semakin besar aliran, pusaran air atau pertemuan beberapa aliran air bawah tanah, akan semakin kencang antena itu berputar," katanya.

Berbeda dengan sistem antena, deteksi menggunakan ranting menyerupai huruf Y atau V dan juga pendulum lebih memerlukan kepekaan si pemakai.

"Namun, pendulum sebenarnya sudah tidak perlu lagi digunakan bila seseorang sudah dapat memusatkan perhatian secara penuh. Artinya, dapat menghubungkan pikiran dan sumber air secara langsung. Jadi sebenarnya pendulum itu jembatan antara pikiran dan sumber air," tutur Romo Lukman.

Di samping bakat dan minat, kata dr. Jatno menambahkan, kepekaan itu perlu latihan yang lama. Dengan memegangi kedua ujung ranting, orang berjalan mencari aliran air bawah tanah.

Ranting akan tertarik ke bawah dan pendulum akan berputar persis di suatu tempat yang mengandung aliran air bawah tanah.

"Tapi jangan melawan tarikan tersebut sebab kalau sampai ranting patah, si pemakai bisa jatuh," kata Jatno.

Selain antena, pendulum, atau ranting bercabang, masih ada beberapa medium lain untuk mendeteksi adanya aliran air bawah tanah, misalnya dengan pensil atau potongan bambu yang tumbuh di sekitar pusaran air.

"Dengan pensil justru lebih baik. Karena di dalam pensil terdapat unsur konduktor," jelas Jatno.


Kucing suka medan geopatogen

Medan geopatogen sebenarnya bisa dikenali awam cukup mudah. "Bila ada tanaman yang tumbuh condong tanpa ada alangan mengambil sinar matahari, atau tumbuh-tumbuhan yang pecah bercabang di bagian bawah tanpa direkayasa, biasanya di dekatnya ada medan geopatogen," kata dr. Jatno yang sehari-hari adalah staf laboratorium/UPF Emu Penyakit Jantung Fak. Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD dr. Soetomo Surabaya.

Selain itu ada juga tanaman yang senang hidup di sekitar medan ini, dan sebaliknya kendati sudah dirawat dengan optimal suatu tanaman terus mati.

"Sayangnya sejauh ini kami belum mendapatkan kepustakaan mengenai. masalah ini."

Dalam dunia binatang, kucing, lebah dan semut dikatakan suka pada medan elektromagnetik.

Mungkin itu sebabnya, kata dr. Jatno, kenapa anjing dan kucing tak pernah akur: kucing suka medan elektromagnetik, anjing tidak.

Kecuali aliran benda cair di dalam tanah (pada umumnya air), ada beberapa sumber medan geopatogen yang sebagian besar berupa gelombang elektromagnetik: kisi-kisi bumi, retakan geologis dan mineralogis serta timbunan mineral tertentu, kabel penyalur tegangan tinggi, radiasi layar komputer, dan Iain-lain yang bukan berupa gelombang elektromagnetik, misalnya radiasi radon (Rn).

"Yang tidak kalah penting adalah hampir semua peralatan modern menggunakan listrik, di mana listrik sendiri memancarkan gelombang elektromagnetik. Kabel penghantarnya akan membawa serta gelombang elektromagnetik yang ada di sepanjang aliran," jelas dr. Jatno.

Dan serentet sumber medan geopatogen itu, kata dr. Jatno, yang banyak mengganggu kesehatan adalah aliran air di bawah tanah dan listrik.
Manusia sebenarnya secara alamiah dapat mengenai medan geopatogen mengingat tubuhnya adalah konduktor yang baik, yang bisa meneruskan arus listrik.

Hanya tingkat kepekaan setiap orang berbeda. "Pada orang yang peka, pengaruh medan elektromagnetik ini ada yang langsung terasa, misalnya rasa dingin, kesemutan ataupun langsung timbul rasa pegal akibat spasme (kontraksi) otot. Orang yang tidak peka mungkin tidak merasakan apa-apa. 

Namun kalau proses berlangsung lama, maka akan muncul berbagai gejala seperti badan merasa tidak segar, tidur tak nikmat, kejang kaki, mudah sakit, gangguan sistem kardiovaskuler dan gangguan metabolisme, lalu gangguan pada sistem saraf pusat berupa sulit berkonsentrasi, gangguan hormonal berupa kemandulan atau impotensi, dan pada stadium akhir timbulnya tumor,” kata dr. Jatno.


Penangkalnya garam dan kertas koran

Hingga kini, kata Jatno mengakui, belum ada satu pun keterangan yang bisa menjelaskan mekanisme gejala-gejala tadi.

Akan tetapi dia lalu menghubung-hubungkan antara pengertian medan biologis dengan medan elektromagnetik.

“Adanya medan biologis, yang memang terdapat pada makhluk hidup dan pengertian tersebut sudah disepakati para biolog ini telah lama dapat ditunjukkan dengan adanya resting membrane potential pada berbagai sel. Resting membrane potential pada otot bergaris berbeda dengan otot polos, lain dengan otot jantung ataupun sel otak. Interaksi antara medan elektromagnetik dan medan biologis inilah yang mempengaruhi timbulnya keluhan pada penderita itu.

Salah satu peneliti melaporkan, medan elektromagnetik ini dapat berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh sehingga mengakibatkan orang mudah jatuh sakit.”

Selain pengaruh gelombang elektromagnetik, bisa jadi keluhan-keluhan fisik tadi disebabkan oleh energi kuantum yang mungkin terlepas.
Mengutip laporan dalam Majalah Physics Today edisi April 1989, dr. Jatno menyatakan kita tidak boleh meremehkan pengaruh interaksi antara bumi, udara, radon, dan rumah.

Keempat unsur ini merupakan sumber radiasi yang cukup besar, yang menurut pengarangnya setara dengan radiasi di Chernobyl.
Lalu bagaimana cara mengatasi musuh misterius tak kasat mata ini, jika benar ada aliran air di bawah tempat tidur atau ruang kerja?

“Salah satu caranya ya jauhi saja medan itu,” tutur Romo Lukman.

Atau, kalau tidak mungkin menjauhi atau menyingkir, bisa dinetralisasi dengan kompensator berupa kumparan tembaga yang dipasang di tempat tersebut untuk mengimbangi medan elektrostatis yang ada.

Cara yang sama juga dianjurkan oleh dr. Jatno, di samping cara lain yang sifatnya tradisional, mudah, dan murah.

“Yakni dengan menaruh garam, jeruk sitrun, kertas koran di bawah tempat tidur. Caranya, dua sendok garam ditaruh di lepek lalu jeruknya diletakkan di atasnya. Sedangkan empat lembar kertas koran digelar di bawah kasur. Setelah satu minggu, garam dan kertas korannya diganti, sedang jeruknya dapat dimakan, he…he…he…”

Pada kasus tertentu Jatno menganjurkan, di bawah tempat tidur diletakkan lempengan timbal atau timah hitam, dengan pengertian sinar-X saja tidak dapat menemus timbal, diharapkan begitu juga dengan gelombang elektromagnetik dan radiasi radon.

Soal ranjang atau tempat tidurnya sendiri memang yang terbaik dari kayu, sebab kayu tidak bersifat sebagai konduktor, tidak mengalirkan gelombang elektromagnetik.


Jika berobat, bawa denah rumah

Cara menangkal dengan garam, jeruk sitrun, dan lainnya itu mirip ubo rampe sesajen, hingga nampak berbau mistik atau klenik.

Namun menurut Jatno, cara yang dianjurkan oleh International Society of Biopathogen, dan nasihat yang katanya juga sering diberikan oleh orang-orang “pintar” di Jawa dan Bali itu rasional, meski belum jelas  benar cara kerjanya.

Jatno mencoba menjelaskan hal itu. “Garam itu misalnya, kalau terurai akan menjadi Na dan Cl. Nah, air atau H2O dan garam itu ‘kan saling meniadakan. Na dengan OH dan Cl dengan H,” jelasnya.

Sedangkan kertas koran bermanfaat untuk mengisap radiasi radon dan ion-ion lain.

Yang perlu diingat, setiap tanda kesemutan dan sebagainya itu, kata Jatno, jangan serta merta dihubungkan dengan masalah geopati.

“Kita tetap harus berpikir rasional tentan apa yang sudah dicapai ilmu kedokteran. Siapa tahu gejala kesemutan itu karena diabetes.”

Dokter ahli penyakit jantung yang kria-kira sejak tahun 1986 secara intens mendalami masalah medan geopati ini bilang, cara-cara penanggulangan tadi bukan terapi standar (standar therapy) mengingat dunia kedokteran belum menerima hal ini.

Jadi, setiap pasien yang datang ke dokter seperti dirinya, tetap harus didiagnosis dan diobati menurut standar profesi kedokteran.

“Namun bila dengan segala cara tidak berhasil, pelan-pelanlah diterangkan akan kemungkinan pengaruh medan geopatogen.”

Begitu pun Romo Lukman yang empat hari seminggu (Senin, Selasa, Jumat, dan Minggu) buka praktik penyembuhan antara lain melalui “terapi” semacam ini sejak 1974, dan terakhir sekarang berpraktik di Jl. KHA. Dahlan no. 62A, Purworejo (Jateng).

“Biasanya mereka datang ke sini, sesudah pengobatan secara medis menemui jalan buntu,” tutur Romo Lukman yang tidak mau disebut sebagai paranormal karena praktik pengobatannya itu.

Berhubungan dengan medan geopatogen ini, setiap pasien yang datang berobat ke pastor berdarah Belanda itu diminta membawa denah rumah.
Maksudnya untuk deteksi awal kalau-kalau penyakit atau keluhannya ada sangkutannya dengan medan geopatogen di sekitar rumah pasien.

Bahkan, bak seorang dokter, Romo Lukman memeriksa dengan cermat data-data laboratorium, kalau ada foto rontgen si pasien, terutama pasien baru.

Dibantu dua orang asisten dan seorang sekretaris, setiap harinya ia sangguh melayani sekitar 70 – 80 pasien, yang datang dari segenap pelosok tanah air.
Pengobatan “alternatif” seperti a.l. dilakukan dr. Jatno dan Romo Lukman memang masih belum berterima, terutama di kalangan tertentu.

Lajunya roda perkembangan dunia kedokteran diakui akhir-akhir ini  memang melesat dengan pesat.

Dunia kedokteran semata terpecah-pecah menjadi berbagai cabang ilmu pada tingkat organ, dan mungkin lama-kelamaan akan berkembang sampai ke tingkat sel, genetika, dan seterusnya.

Kendati kemajuan sudah sampai pada tingkat canggih, di mana tiap sentimeter bagian tubuh dapat diketahui bentuk anatominya, tak jarang para ahli medis dihadapkan pada kenyataan penyakit yang begitu rumit didiagnosis atau pengobatannya.

Bahkan sering di era serba komputer ini masih ditemukan kematian-kematian yang belum dapat ditentukan penyebabnya.

Siapa tahu salah satu pengobatan dengan pendekatan lain semacam ini bisa menjadi alternatif, meskipun sekarang masih serba berselimut kabut misteri.

(Seperti pernah dimuat di Majalah Intisari Februari 1992)
Sumber: Intisari.Grid 

Minggu, 08 Oktober 2017

Sastra Pembebasan : Rendra, Jose Rizal, Neruda dan Vaclav Havel

Penuli: 
Marlin Dinamikanto
8 Oktober 2017

WS. Rendra

Sebenarnya masih banyak lagi sastrawan yang berkisah tentang pembebasan manusia dari penindasan, ketidak-adilan, penghisapan dan seterusnya. Seperti misal Albert Camus, Boris Pasternak, Bertold Brech, Maxim Gorky dan masih banyak lagi.

Namun kali ini nusantara.news tampilkan dulu Rendra, penyair dan ikon teater yang melegenda di Indonesia, juga Jose Rizal, pahlawan nasional Filipina yang multi talenta, selanjutnya Pablo Neruda penyair berbahasa latin yang mahir menuliskan beragam thema kehidupan ke dalam puisi dan Vaclav Havel, penggerak Revolusi Beludru di Cekoslovakia yang membawanya menjadi Presiden.


Rendra

Potret Pembangunan dalam Puisi adalah kumpulan puisinya yang menginspirasi gerakan mahasiswa era 1970-an hingga 1990-an. “Sajak Sebatang Lisong” dan  “Sajak Orang-Orang Kepanasan” banyak dihafal dan dibacakan oleh aktivis gerakan dalam setiap demonstrasi.

Rendra yang lahir dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra di Solo, Hindia Belanda, 7 November 1935 dan wafat di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 itu menampakkan bakat kepenyairan sekaligus kepemimpinan dalam teater itu sejak SMP. Puisi-puisinya sudah dipublikasikan sejumlah media cetak seperti Siasat, Kisah, Seni, Basis dan Konfontrasi sejak 1952.

Kekayaan puisi-puisi Rendra adalah kepiawaiannya dalam meracik metafora dan kemampuannya dalam bertutur runtut sehingga enak dibawakan para pembaca sajak di atas panggung. Sejak memulai penulisan puisi dalam bentuk pamphlet, sebagaimana dikutip dari “Sejak Sebatang Lisong”, Rendra mengkritik sesama penyair yang hanya mendewakan keindahan bertutur kata

“Aku bertanya,tetapi pertanyaankumembentur jidat penyair-penyair salon,yang bersajak tentang anggur dan rembulan,sementara ketidakadilan terjadi di sampingnyadan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikantermangu-mangu di kaki dewi kesenian.”
Masih dari “Sajak Sebatang Lisong” Rendra juga mengecam dunia perguruan tinggi yang hanya menjadi kepanjangan tangan perguruan tinggi asing dan tidak pernah berdaulat atas dirinya :

“Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.Kita mesti keluar ke jalan raya,keluar ke desa-desa,mencatat sendiri semua gejala,dan menghayati persoalan yang nyata.”
Selain sajak-sajaknya, terutama dalam kumpulan puisinya yang berjudul “Potret Pembangunan dalam Puisi”, naskah-naskah teater, baik karya asli maupun karya adaptasi yang dipentaskan Bengkel Teater yang dipimpinnya senantiasa menjadi perbincangan hangat di media massa. Bahkan karena sering dianggap menelanjangi penguasa, berkali-kali pementasannya tidak berjalan mulus. 

Bahkan setelah membaca puisi pamfletnya tahun 1972, Rendra sempat merasakan dinginnya penjara.

Sejumlah pementasannya masih dikenang publik hingga sekarang ini, antara lain saat Bengkel Teater membawakan lakon “Mastodon dan Burung Kondor”“Panembahan Reso”“Kisah Perjuangan Suku Naga”“Shalawat Barzanji”, ”Sobrat”, juga naskah-naskah adaptasi dari William Shakespeare “Hamlet” dan “Macbeth”, naskah adaptasi dari Samuel Becket “Menunggu Godot”. Naskah adaptasi dari Sophokles “Oedipus Sang Raja”“Oedipus di Kolonus” dan “Antigone”.

Kendati membawakan naskah terjemahan, namun Rendra mempertemukan tradisi teater barat dengan seni pertunjukan lokal seperti memasukan unsur kethoprak dalam karyanya. Karena Rendra memang dikenal sebagai pelopor teater modern Indonesia. Karya-karyanya, baik puisi maupun teaternya banyak diulas para kritikus dunia sekaliber Profesor Harry Aveling (Australia), Profesor Rainer Carle (Jerman) dan Profesor A. Teeuw (Belanda).

Sepanjang karir kepenyairannya sudah 14 kumpulan puisi yang dilahirkannya, belum termasuk puisi-puisi baru menjelang wafatnya. Karena gaya penulisannya yang epic, bukan lyric sebagaimana umumnya cara penulisan puisi, maka oleh Prof. A. Teeuw puisi-puisi Rendra tidak digolongkan pada angkatan-angkatan baik itu 45, 50-an, Manikebu maupun Lekra. Sebab Rendra adalah penulis yang independen dan tidak terpengaruh oleh kelompok yang ada pada zamannya.

Setidaknya, Rendra pernah meraih delapan penghargaan bergengsing, masing-masing Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954), Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956), Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976), Penghargaan Adam Malik (1989), The S.E.A. Write Award (1996) dan Penghargaan Achmad Bakri (2006).


Oposan Abadi

Rendra memang dikenal kritis terhadap siapapun penguasa di negeri ini. Seperti halnya Sastrawan Mochtar Lubis, Rendra juga dikenal sebagai Oposan Abadi. Era Orde Lama Rendra tidak sejalan dengan Soekarno. Tapi saat konflik kepemimpinan Orde Lama meruncing, Rendra mengambil tawaran beasiswa dari “American Academy of Dramatical Art” yang dijalaninya antara 1964 hingga 1967. Era Soeharto dia sempat dilarang tampil di muka public dan berkali-kali dicekal, bahkan bukunya “Seni Drama untuk Remaja” meskipun ditulis dengan nama Wahyu Sulaiman tetap saja dilarang terbit.

Paska kejatuhan Soeharto pun Rendra juga belum bisa berdamai dengan penguasa. Saat Aktivis Malari Hariman Siregar mendirikan Indonesia Democracy Monitor (Indemo), Rendra termasuk tokoh yang ikut bergabung. Tokoh lainnya tercatat Profesor Sarbini Somawinata, Ali Sadikin, Muslim Abdurahman, Mulyana W Kusumah, dan Amir Husin Daulay yang kesemuanya sudah almarhum. Tokoh yang ikut membidani Indemo yang hingga kini masih hidup adalah Jusman Syafii Djamal dan Prof. Dr. Malik Fajar yang keduanya bahkan sempat menjadi menteri.

Bersama Indemo Rendra juga melibatkan diri dalam Aksi Cabut Mandat Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla pada 15 Januari 2006. Maka, begitu Rendra menghembuskan napasnya yang terakhir di Padepokan Bengkel Teater Rendra, di kawasan Citayam, Depok, pada 6 Agustus 2009 bukan saja dunia Sastra dan Teater yang kehilangan, melainkan juga berbagai kalangan termasuk aktivis gerakan.
Sebelum pada episode 2 membahas Jose Rizal, berikut ini sebait sajak Rendra yang ditulisnya pada 22 April 1984 dan masih banyak dihafal oleh berbagai kalangan hingga sekarang :

“Kesadaran adalah Matahari, Kesabaran adalah Bumi, Keberanian menjadi Cakrawala Dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”


Jose Rizal, seorang dokter yang juga Sejarahwan, Filsuf dan Sastrawan yang karyanya terkenal di Indonesia

Sebenarnya masih banyak lagi sastrawan yang berkisah tentang pembebasan manusia dari penindasan, ketidak-adilan, penghisapan dan seterusnya. Seperti misal Albert Camus, Boris Pasternak, Bertold Brech, Maxim Gorky dan masih banyak lagi.

Setelah mengulas Rendra, penyair Indonesia yang menginspirasi gerakan mahasiswa era 1970-an hingga 1990-an, kali ini mengulas Pahlawan Nasional Filipina Jose Rizal yang puisinya berjudul “Mi Ultimo Adios” menjadi sumber insprasi, bukan saja para pejuang kemerdekaan Filipina, bahkan Bung Karno sendiri pernah menyelipkan nukilan “Mi Altimo Adios” dalam pidatonya.

Jose Rizal adalah pahlawan Filipina yang dihukum mati pada 30 Desember 1896. Intelektual Filipina yang memiliki bermacam gelar akademis itu lahir di Calamba, Provinsi Laguna, Filipina, pada 19 Juni 1861. Selain berprofesi dokter, dia juga dikenal sebagai seniman, pendidik, ekonom, ahli pertanian, sejarahwan, jurnalis, pemusik, sosiolog, penyair, penulis drama dan novelis.

Jose Rizal juga menguasai 22 bahasa lokal maupun internasional,seperti Tagalog, Cebuano, Melayu, Tionghoa, Arab, Ibrani, Inggris, Jepang, Catalan, Italia, Portugis, Latin, Perancis, Jerman, Yunani, Rusia dan Sansekerta. Sebagai seorang pahlawan hari kematiannya pada 30 Desember diperingati sebagai hari libur nasional yang disebut “Rizal Day”.


Mi Ultimo Adios

“Mi Ultimo Adios” adalah karya terakhir Jose Rizal sebelum dieksekusi oleh pemerintahan Kolonial Spanyol pada 30 Desember 1896. Puisi itu berhasil diselundupkan keluar penjara dan diterjemahkan 38 bahasa, selain terjemahan ke dalam 46 bahasa daerah Filipina sendiri. Puisi itu lengkapnya terdiri dari 14 bait yang masing-masing bait terdiri dari 5 baris. Tulisan tangan Jose Rizal tentang puisi itu dapat dilihat di Project Gutenberg, Jerman.

Sebenarnya puisi itu tidak diberi judul oleh penulisnya. “Mi Ultimo Adios” yang selanjutnya dijadikan judul dikutip dari bait pertama puisinya. Kemashuran “Mi Ultimo Adios” dan José Rizal ini juga dibenarkan sastrawan Taufiq Ismail. Bahkan saat berkunjung ke Rizal Park yang tempat Rizal dieksekusi hukuman mati di Filipina pada 1996, Taufiq Ismail sempat menulis puisi tentang penyair besar itu.

Seperti halnya para perintis kemerdekaan Indonesia, Jose Rizal adalah intelektual didikan pemerintahan kolonial yang sadar atas ketertindasan bangsanya. Dia pun aktif melibatkan diri di sejumlah organisasi, terutama saat kuliah di Spanyol, Perancis dan Jerman. Kala itu lahir novel pertamanya berjudul “Noli Me Tangere” atau dalam bahasa Indonesianya “Jangan Sentuh 
Aku” yang sangat terkenal di dunia.

Novel itu dikerjakan selama 4 tahun selama dia kuliah di Madrid, Paris dan Berlin ketika usianya 26 tahun, atau 2 tahun setelah dia meraih gelar doktor Filsafat dan Sastra.  Novel keduanya, El Filibusterismo (Merajalelanya Keserakahan) merupakan kelanjutan dari novel sebelumnya.

Memang, hampir semua karya Rizal ditulis dalam bahasa Spanyol, bahasa penjajah bagi bangsa Filipina. Kedua novel Rizal ini telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia (melalui edisi bahasa Inggris) oleh Tjetje Jusuf dan diterbitkan oleh Pustaka Jaya, masing-masing pada 1975 dan 1994.

Berkebalikan dengan kalkulasi pemerintah jajahan Spanyol, eksekusi mati terhadap Rizal justru semakin meneguhkan kesyahidan (martyrdom) Rizal dan membuat novel-novel dan puisi José Rizal itu bergema lebih keras. Kematiannya justru semakin mengobarkan Revolusi Filipina untuk mencapai pemerintahan sendiri (merdeka). Apalagi di masa penindasan kolonial yang serba-sensor, puisi juga jauh lebih mudah tersebar dan dihapal serta menginspirasi setiap orang yang bergerak.

Meskipun puisi asli “Mi Ultimo Adios” terdiri dari 14 bait namun bait yang terkenal adalah satu bait pertama dan tiga bait terakhir. Terjemahan dalam bahasa Inggris saja terdiri dari 35 versi, namun terjemahan oleh Trinidad T Subido dianggap paling banyak diterjemahkan kembali ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Di Indonesia sendiri puisi itu sudah diterjemahan oleh Rosihan Anwar pada 1945.

“Mi Ultimo Adios” hasil terjemahan Rosihan Anwar ke bahasa Indonesia dianggap sangat berhasil. Atas karyanya itu, Rosihan Anwar pernah diundang untuk menerima penghargaan dari pemerintah Filipina. Berikut terjemahan “Mi Ultimo Adios” dalam bahasa Indonesia yang disebut oleh penterjemahnya sebagai karya adaptasi.

Selamat tinggal, Tanah tercinta, kesayangan mentari,Mutiara lautan Timur, Kahyangan yang hilang!Demi kau jiwa-raga kupasrahkan, dengan rela hati;Andai ‘ku lebih indah, lebih segar, lebih utuh dari ini,‘Kan kuserahkan jua, padamu ‘tuk kebahagiaanmu …Bila kau lupakan aku, apalah artinya jika‘Ku bisa susuri tiap jengkal tercinta relungmu?Jadilah seutas nada, berdenyut dan murni; sesudahnyaJadilah aroma, cahya, senandung; lagi jadilah tembang atau tandaDan melalui semua, lagukan kembali keyakinanku.Tanah pujaan, dengarkan selamat tinggalku!Filipina Cintaku, dukamu sangat laraku jua,Kutinggalkan kalian semua, yang sangat kucintai;‘Ku pergi ke sana, di mana tiada hamba tiada tiran berada,Di mana Keyakinan tiada merenggut nyawa,dan Tuhan mahakuasa beradu.Selamat tinggal segala yang dimengerti jiwakuYa sanak-saudara tanah airku yang dirampasi;Syukurilah berakhir hari-hari tertindasku;Selamat tinggal, engkau yang asing nan manis, sukacita dan sahabatku;Selamat tinggal, orang-orang yang kucintai. Mati hanyalah tetirah ini.[]

Sumber: NusantaraNews