This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 08 Oktober 2017

Sastra Pembebasan : Rendra, Jose Rizal, Neruda dan Vaclav Havel

Penuli: 
Marlin Dinamikanto
8 Oktober 2017

WS. Rendra

Sebenarnya masih banyak lagi sastrawan yang berkisah tentang pembebasan manusia dari penindasan, ketidak-adilan, penghisapan dan seterusnya. Seperti misal Albert Camus, Boris Pasternak, Bertold Brech, Maxim Gorky dan masih banyak lagi.

Namun kali ini nusantara.news tampilkan dulu Rendra, penyair dan ikon teater yang melegenda di Indonesia, juga Jose Rizal, pahlawan nasional Filipina yang multi talenta, selanjutnya Pablo Neruda penyair berbahasa latin yang mahir menuliskan beragam thema kehidupan ke dalam puisi dan Vaclav Havel, penggerak Revolusi Beludru di Cekoslovakia yang membawanya menjadi Presiden.


Rendra

Potret Pembangunan dalam Puisi adalah kumpulan puisinya yang menginspirasi gerakan mahasiswa era 1970-an hingga 1990-an. “Sajak Sebatang Lisong” dan  “Sajak Orang-Orang Kepanasan” banyak dihafal dan dibacakan oleh aktivis gerakan dalam setiap demonstrasi.

Rendra yang lahir dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra di Solo, Hindia Belanda, 7 November 1935 dan wafat di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 itu menampakkan bakat kepenyairan sekaligus kepemimpinan dalam teater itu sejak SMP. Puisi-puisinya sudah dipublikasikan sejumlah media cetak seperti Siasat, Kisah, Seni, Basis dan Konfontrasi sejak 1952.

Kekayaan puisi-puisi Rendra adalah kepiawaiannya dalam meracik metafora dan kemampuannya dalam bertutur runtut sehingga enak dibawakan para pembaca sajak di atas panggung. Sejak memulai penulisan puisi dalam bentuk pamphlet, sebagaimana dikutip dari “Sejak Sebatang Lisong”, Rendra mengkritik sesama penyair yang hanya mendewakan keindahan bertutur kata

“Aku bertanya,tetapi pertanyaankumembentur jidat penyair-penyair salon,yang bersajak tentang anggur dan rembulan,sementara ketidakadilan terjadi di sampingnyadan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikantermangu-mangu di kaki dewi kesenian.”
Masih dari “Sajak Sebatang Lisong” Rendra juga mengecam dunia perguruan tinggi yang hanya menjadi kepanjangan tangan perguruan tinggi asing dan tidak pernah berdaulat atas dirinya :

“Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.Kita mesti keluar ke jalan raya,keluar ke desa-desa,mencatat sendiri semua gejala,dan menghayati persoalan yang nyata.”
Selain sajak-sajaknya, terutama dalam kumpulan puisinya yang berjudul “Potret Pembangunan dalam Puisi”, naskah-naskah teater, baik karya asli maupun karya adaptasi yang dipentaskan Bengkel Teater yang dipimpinnya senantiasa menjadi perbincangan hangat di media massa. Bahkan karena sering dianggap menelanjangi penguasa, berkali-kali pementasannya tidak berjalan mulus. 

Bahkan setelah membaca puisi pamfletnya tahun 1972, Rendra sempat merasakan dinginnya penjara.

Sejumlah pementasannya masih dikenang publik hingga sekarang ini, antara lain saat Bengkel Teater membawakan lakon “Mastodon dan Burung Kondor”“Panembahan Reso”“Kisah Perjuangan Suku Naga”“Shalawat Barzanji”, ”Sobrat”, juga naskah-naskah adaptasi dari William Shakespeare “Hamlet” dan “Macbeth”, naskah adaptasi dari Samuel Becket “Menunggu Godot”. Naskah adaptasi dari Sophokles “Oedipus Sang Raja”“Oedipus di Kolonus” dan “Antigone”.

Kendati membawakan naskah terjemahan, namun Rendra mempertemukan tradisi teater barat dengan seni pertunjukan lokal seperti memasukan unsur kethoprak dalam karyanya. Karena Rendra memang dikenal sebagai pelopor teater modern Indonesia. Karya-karyanya, baik puisi maupun teaternya banyak diulas para kritikus dunia sekaliber Profesor Harry Aveling (Australia), Profesor Rainer Carle (Jerman) dan Profesor A. Teeuw (Belanda).

Sepanjang karir kepenyairannya sudah 14 kumpulan puisi yang dilahirkannya, belum termasuk puisi-puisi baru menjelang wafatnya. Karena gaya penulisannya yang epic, bukan lyric sebagaimana umumnya cara penulisan puisi, maka oleh Prof. A. Teeuw puisi-puisi Rendra tidak digolongkan pada angkatan-angkatan baik itu 45, 50-an, Manikebu maupun Lekra. Sebab Rendra adalah penulis yang independen dan tidak terpengaruh oleh kelompok yang ada pada zamannya.

Setidaknya, Rendra pernah meraih delapan penghargaan bergengsing, masing-masing Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954), Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956), Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976), Penghargaan Adam Malik (1989), The S.E.A. Write Award (1996) dan Penghargaan Achmad Bakri (2006).


Oposan Abadi

Rendra memang dikenal kritis terhadap siapapun penguasa di negeri ini. Seperti halnya Sastrawan Mochtar Lubis, Rendra juga dikenal sebagai Oposan Abadi. Era Orde Lama Rendra tidak sejalan dengan Soekarno. Tapi saat konflik kepemimpinan Orde Lama meruncing, Rendra mengambil tawaran beasiswa dari “American Academy of Dramatical Art” yang dijalaninya antara 1964 hingga 1967. Era Soeharto dia sempat dilarang tampil di muka public dan berkali-kali dicekal, bahkan bukunya “Seni Drama untuk Remaja” meskipun ditulis dengan nama Wahyu Sulaiman tetap saja dilarang terbit.

Paska kejatuhan Soeharto pun Rendra juga belum bisa berdamai dengan penguasa. Saat Aktivis Malari Hariman Siregar mendirikan Indonesia Democracy Monitor (Indemo), Rendra termasuk tokoh yang ikut bergabung. Tokoh lainnya tercatat Profesor Sarbini Somawinata, Ali Sadikin, Muslim Abdurahman, Mulyana W Kusumah, dan Amir Husin Daulay yang kesemuanya sudah almarhum. Tokoh yang ikut membidani Indemo yang hingga kini masih hidup adalah Jusman Syafii Djamal dan Prof. Dr. Malik Fajar yang keduanya bahkan sempat menjadi menteri.

Bersama Indemo Rendra juga melibatkan diri dalam Aksi Cabut Mandat Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla pada 15 Januari 2006. Maka, begitu Rendra menghembuskan napasnya yang terakhir di Padepokan Bengkel Teater Rendra, di kawasan Citayam, Depok, pada 6 Agustus 2009 bukan saja dunia Sastra dan Teater yang kehilangan, melainkan juga berbagai kalangan termasuk aktivis gerakan.
Sebelum pada episode 2 membahas Jose Rizal, berikut ini sebait sajak Rendra yang ditulisnya pada 22 April 1984 dan masih banyak dihafal oleh berbagai kalangan hingga sekarang :

“Kesadaran adalah Matahari, Kesabaran adalah Bumi, Keberanian menjadi Cakrawala Dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”


Jose Rizal, seorang dokter yang juga Sejarahwan, Filsuf dan Sastrawan yang karyanya terkenal di Indonesia

Sebenarnya masih banyak lagi sastrawan yang berkisah tentang pembebasan manusia dari penindasan, ketidak-adilan, penghisapan dan seterusnya. Seperti misal Albert Camus, Boris Pasternak, Bertold Brech, Maxim Gorky dan masih banyak lagi.

Setelah mengulas Rendra, penyair Indonesia yang menginspirasi gerakan mahasiswa era 1970-an hingga 1990-an, kali ini mengulas Pahlawan Nasional Filipina Jose Rizal yang puisinya berjudul “Mi Ultimo Adios” menjadi sumber insprasi, bukan saja para pejuang kemerdekaan Filipina, bahkan Bung Karno sendiri pernah menyelipkan nukilan “Mi Altimo Adios” dalam pidatonya.

Jose Rizal adalah pahlawan Filipina yang dihukum mati pada 30 Desember 1896. Intelektual Filipina yang memiliki bermacam gelar akademis itu lahir di Calamba, Provinsi Laguna, Filipina, pada 19 Juni 1861. Selain berprofesi dokter, dia juga dikenal sebagai seniman, pendidik, ekonom, ahli pertanian, sejarahwan, jurnalis, pemusik, sosiolog, penyair, penulis drama dan novelis.

Jose Rizal juga menguasai 22 bahasa lokal maupun internasional,seperti Tagalog, Cebuano, Melayu, Tionghoa, Arab, Ibrani, Inggris, Jepang, Catalan, Italia, Portugis, Latin, Perancis, Jerman, Yunani, Rusia dan Sansekerta. Sebagai seorang pahlawan hari kematiannya pada 30 Desember diperingati sebagai hari libur nasional yang disebut “Rizal Day”.


Mi Ultimo Adios

“Mi Ultimo Adios” adalah karya terakhir Jose Rizal sebelum dieksekusi oleh pemerintahan Kolonial Spanyol pada 30 Desember 1896. Puisi itu berhasil diselundupkan keluar penjara dan diterjemahkan 38 bahasa, selain terjemahan ke dalam 46 bahasa daerah Filipina sendiri. Puisi itu lengkapnya terdiri dari 14 bait yang masing-masing bait terdiri dari 5 baris. Tulisan tangan Jose Rizal tentang puisi itu dapat dilihat di Project Gutenberg, Jerman.

Sebenarnya puisi itu tidak diberi judul oleh penulisnya. “Mi Ultimo Adios” yang selanjutnya dijadikan judul dikutip dari bait pertama puisinya. Kemashuran “Mi Ultimo Adios” dan José Rizal ini juga dibenarkan sastrawan Taufiq Ismail. Bahkan saat berkunjung ke Rizal Park yang tempat Rizal dieksekusi hukuman mati di Filipina pada 1996, Taufiq Ismail sempat menulis puisi tentang penyair besar itu.

Seperti halnya para perintis kemerdekaan Indonesia, Jose Rizal adalah intelektual didikan pemerintahan kolonial yang sadar atas ketertindasan bangsanya. Dia pun aktif melibatkan diri di sejumlah organisasi, terutama saat kuliah di Spanyol, Perancis dan Jerman. Kala itu lahir novel pertamanya berjudul “Noli Me Tangere” atau dalam bahasa Indonesianya “Jangan Sentuh 
Aku” yang sangat terkenal di dunia.

Novel itu dikerjakan selama 4 tahun selama dia kuliah di Madrid, Paris dan Berlin ketika usianya 26 tahun, atau 2 tahun setelah dia meraih gelar doktor Filsafat dan Sastra.  Novel keduanya, El Filibusterismo (Merajalelanya Keserakahan) merupakan kelanjutan dari novel sebelumnya.

Memang, hampir semua karya Rizal ditulis dalam bahasa Spanyol, bahasa penjajah bagi bangsa Filipina. Kedua novel Rizal ini telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia (melalui edisi bahasa Inggris) oleh Tjetje Jusuf dan diterbitkan oleh Pustaka Jaya, masing-masing pada 1975 dan 1994.

Berkebalikan dengan kalkulasi pemerintah jajahan Spanyol, eksekusi mati terhadap Rizal justru semakin meneguhkan kesyahidan (martyrdom) Rizal dan membuat novel-novel dan puisi José Rizal itu bergema lebih keras. Kematiannya justru semakin mengobarkan Revolusi Filipina untuk mencapai pemerintahan sendiri (merdeka). Apalagi di masa penindasan kolonial yang serba-sensor, puisi juga jauh lebih mudah tersebar dan dihapal serta menginspirasi setiap orang yang bergerak.

Meskipun puisi asli “Mi Ultimo Adios” terdiri dari 14 bait namun bait yang terkenal adalah satu bait pertama dan tiga bait terakhir. Terjemahan dalam bahasa Inggris saja terdiri dari 35 versi, namun terjemahan oleh Trinidad T Subido dianggap paling banyak diterjemahkan kembali ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Di Indonesia sendiri puisi itu sudah diterjemahan oleh Rosihan Anwar pada 1945.

“Mi Ultimo Adios” hasil terjemahan Rosihan Anwar ke bahasa Indonesia dianggap sangat berhasil. Atas karyanya itu, Rosihan Anwar pernah diundang untuk menerima penghargaan dari pemerintah Filipina. Berikut terjemahan “Mi Ultimo Adios” dalam bahasa Indonesia yang disebut oleh penterjemahnya sebagai karya adaptasi.

Selamat tinggal, Tanah tercinta, kesayangan mentari,Mutiara lautan Timur, Kahyangan yang hilang!Demi kau jiwa-raga kupasrahkan, dengan rela hati;Andai ‘ku lebih indah, lebih segar, lebih utuh dari ini,‘Kan kuserahkan jua, padamu ‘tuk kebahagiaanmu …Bila kau lupakan aku, apalah artinya jika‘Ku bisa susuri tiap jengkal tercinta relungmu?Jadilah seutas nada, berdenyut dan murni; sesudahnyaJadilah aroma, cahya, senandung; lagi jadilah tembang atau tandaDan melalui semua, lagukan kembali keyakinanku.Tanah pujaan, dengarkan selamat tinggalku!Filipina Cintaku, dukamu sangat laraku jua,Kutinggalkan kalian semua, yang sangat kucintai;‘Ku pergi ke sana, di mana tiada hamba tiada tiran berada,Di mana Keyakinan tiada merenggut nyawa,dan Tuhan mahakuasa beradu.Selamat tinggal segala yang dimengerti jiwakuYa sanak-saudara tanah airku yang dirampasi;Syukurilah berakhir hari-hari tertindasku;Selamat tinggal, engkau yang asing nan manis, sukacita dan sahabatku;Selamat tinggal, orang-orang yang kucintai. Mati hanyalah tetirah ini.[]

Sumber: NusantaraNews 

Sabtu, 30 September 2017

Tentang Asyura dan Kita



Hari ini adalah “Hari Asyura”. Sebuah hari peringatan setiap 10 Muharram yang merujuk pada 10 Muharram 61 Hijriah, di mana Sayyidina Husain (cucu Nabi Muhammad dari garis pernikahan Siti Fatimah dan Sayyidina Ali) bersama belasan keluarganya dan puluhan sahabatnya yang diperkirakan jumlahnya 73 orang syahid di Karbala (Irak) dalam sebuah pembantaian.
Pembantainya adalah pasukan Umar bin Sa’ad yang jumlahnya diperkirakan–dalam catatan versi paling sedikit–empat ribu di bawah perintah Yazid bin Muawiyah yang kala itu menjadi khalifah berdasarkan limpahan dari Muawiyah yang mengkhianati kesepakatan dengan Sayyidina Hasan tentang suksesi kekhalifahan yang seharusnya dibentuk semacam dewa syura.
Yazid memang dikenal sebagai penguasa yang zalim dan pribadi yang fasik, sebagaimana dicatat dalam Tarikh al-Khulafa’ karya Imam as-Suyuthi atau tarikh-nya Imam al-Thabari. Kekejamannya pada Sayyidina Husain juga bukan satu-satunya yang mengerikan di mana cucu Nabi itu dipenggal dan keluarganya diarak keliling Arab serta ditawan selama 40 hari. Sebuah peristiwa yang hingga Imam Abdullah bin Alwi Al Haddad dalam Tastbit al-Fuad menegaskan bahwa Hari Asyura adalah hari kesedihan.
Yang juga mengerikan adalah kekejaman Yazid pada sahabat Nabi dan penduduk kota Madinah yang kemudian dikenal dengan Peristiwa Harrah, juga serangan pasukannya ke kota Makkah yang hingga mengancam Ka’bah dan Masjidil Haram untuk melumpuhkan Abdullah bin Zubair. Ketika itu Abdullah dan pasukannya yang menguasai Mekkah berlindung di dua bangunan suci tersebut.
Tragedi Karbala merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Islam, konflik internal Islam paling mengerikan yang menyiratkan pesan bahwa “Islam” bisa dibajak menjadi semacam label semata untuk nafsu berkuasa. Oleh karena itu, di antara nasihat Husain pada pengikut Yazid: “Kalian adalah orang-orang yang paling besar musibahnya karena kedudukan ulama telah direbut.”
Syekh Abdul Qadir Jailani dalam Al-Ghunya memasukkan Hari Asyura sebagai salah satu “Asyirul Karomah” (Hari Keramat) bersama Nuzulul Quran, Lailatul Qadr, Maulid Nabi, Isra-Mi’raj, Hari Arafah, Idul Fitri, dan Idul Adha. Nabi pun telah jauh-jauh hari mengingatkan akan Hari Asyura tersebut kepada Ummu Salamah, misalnya dicatat dalam Fadhail ash-Shahabah karya Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal yang ditahkik oleh Washiulllah bin Muhammad Abbas, Profesor Universitas Ummul Qura, Mekkah.
Tentu, Husain tak hendak berperang. Karbala bahkan bukan tujuannya. Ia membawa anak-anak dan wanita dari keluarganya dan keluarga sahabatnya untuk berhijrah ke Kufah menemui pengikut setia ayahnya untuk merencanakan sebuah gerakan menentang kezaliman kekhalifahan Yazid.
Jumlah rombongan hijrah itu pun hanya puluhan. Ia sendiri juga menegaskan: “Aku keluar bukan untuk merusak, melainkan perbaikan bagi umat datukku. Aku ingin beramar ma’ruf dan nahi munkar.” Namun, pasukan Umar bin Sa’ad menggiringnya ke Karbala dan membantainya. Husain mencoba melawan, namun apa daya. Keadaannya dipersulit karena ia dan pasukannya diblokade dari air Sungai Eufrat.
Sebuah episode sejarah yang menampilkan romantika perjuangan, pengorbanan, kesetiaan, kesabaran, yang berhadapan dengan ketertindasan, kekejaman, kebengisan, dan seterusnya dalam sebuah upaya menegakkan nilai-nilai luhur itu kemudian. Sebagaimana memang dicita-citakan oleh Husain sendiri bahwa ia syahid untuk memenangkan sejarah tentang masa lalu: kemenangan nilai-nilai, mendobrak semua sekat yang ada: keagamaan dan kebangsaan, lalu menginspirasi semua pribadi dan komunitas antar agama dan bangsa.
Seorang pendeta dan gerejanya di Syam, ketika rombongan tawanan keluarga dan sahabat Husain melewati daerahnya, membayar pasukan Umar bin Sa’ad untuk “meminjam” dalam waktu semalam kepala Husain karena tahu akan keagungan kepalanya. Malam itu ia mencuci kepala yang dipenuhi darah itu di sebuah batu, batu itu kini terletak di Aleppo (Suriah) dan dibangunkan sebuah masjid bernama “Al-Nuqtah” untuk menghormatinya. Sejarah masjid itu dicatat oleh Sheikh Ibrahim Nasralla dalam The Traces of Ale Mohammad in Aleppo.
Hingga kini, setiap Hari Asyura, para pendeta juga ikut hadir memperingatinya di makam Husain di Irak. Antoine Bara, cendekiawan Kristen, menulis buku berjudul Imam Hussein in Christian Ideology. Dia menegaskan bahwa Husain dan tragedinya bukan hanya “milik” muslim saja, tetapi milik seluruh manusia, karena ia adalah “hati nurani agama-agama” dan “prinsip kemanusiaan”.
Mahatma Gandhi belajar dari Husain tentang bagaimana tertindas namun bangkit menjadi pemenang. Karena itu, Asyura menjadi salah satu inspirasi utama bahwa perang dalam Islam bukan soal agama (dorongan fanatisme), melainkan kemanusiaan, keadilan, dan semangat egalitarian. Termasuk jika ia ada dalam tubuh Islam itu sendiri, seperti tentang Husain dan Yazid.
Di Indonesia, “Tragedi Karbala” menjadi hikayat dan peringatan yang ada dalam berbagai tradisi lokal. Bermula dari Hikayat Soydina Usin yang ditulis sekitar abad ke-17 di Aceh, ada tradisi “Bubur Suro” di Jawa di mana dalam versi hikayat hingga diakulturasikan dengan menyamakan Yazid dan Kurawa, dalam dalam bentuk festival bernama Tabot di Bengkulu.
Adapun di tanah Sunda dan Madura, hikayat tentang Asyura digubah dengan menekankan pada kekejaman Yazid dengan versi Sunda berjudul Wawacan Yaziddan versi Madura: Caretana Yazid Calaka (Kisah Yazid Celaka).
Dalam catatan Ricklefs di A History of Modern Indonesia, abad ke-17-19 M adalah masa-masa maraknya perang anti-kolonial yang dimulai dengan Perang Ternate pada awal abad ke-17 M sampai Perang Aceh yang berlangsung begitu lama pada akhir abad ke-19 M. Dikisahkan bahwa para pemimpin peperangan itu yang sebagian besar adalah tokoh Islam, seperti Pangeran Trunojoyo pada abad ke-17 dan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa di abad ke-19, kerap menjadikan epos Islam masyhur seperti Asyura sebagai kisah yang diceritakan pada komandan perang dan pembantu dekatnya untuk membangkitkan semangat perang.
Akhirnya, di antara episode dalam Perang Karbala, salah satu komandan pasukan Yazid bernama Hur ar-Riyahi yang berkontribusi dalam menggiring Husain hingga ke Karbala, justru berbalik membela Husain di tengah perang di Karbala. Ia terdorong oleh kata-kata Husain kepadanya bahwa ia dilahirkan sebagai seorang yang merdeka, maka jangan mau diperbudak oleh siapa pun untuk sesuatu yang bertentangan dengan nuraninya. Dan Hur menjadi syahid paling beruntung, husnul khotimah.
Sebuah pelajaran sejarah agar kita tak pernah memvonis siapa pun atas keadaannya saat ini: kafir, fasik, dan lain-lain. Maupun berbangga atas apa yang menjadi keadaan kita saat ini: muslim, saleh, dan lain-lain. Karena kita tak tahu episode-episode apa yang akan terjadi dalam sejarah mereka dan kita di hari-hari esok dan bagaimana ujung dari kehidupan mereka dan kita: husnul khotimah atau su’ul khotimah.

Minggu, 02 April 2017

Resensi | Anak Semua Bangsa


Judul                        : Anak Semua Bangsa
  Penulis                   : Pramoedya Ananta Toer
  Isi                            : 536 hlm
  Penerbit                  : Lentera Dipantara
  Cetakan                   : 13 September 2011
  ISBN                        : 979-97312-4-0

Annelies sudah berlayar ke Nederland. Perpisahan ini jadi titik batas dalam hidup Minke: selesai sudah masa muda. Ya, masa muda yang indah penuh harapan dan impian dan dia takkan balik berulang.
Suasana rumah Nyai Ontosoroh masih belum menyenangkan karena ia masih kesal dengan kelakuan yang dilakukan oleh Ir. Maurits Mellema terhadap keluarganya. Tak lama kemudian Minke beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya. Ia membuka lemari Annelies dan menemukan cincin juga sebelas surat dari Robert Suurhof. Minke mulai membaca surat itu satu per satu. Semakin membaca, semakin muncul pula kekesalan Minke terhadap Robert Suurhof. Setelah membaca semua surat-surat itu, Minke bergegas pergi dari rumah mencari Robert Suurhof dan bertujuan untuk mengembalikan cincin yang diberikan kepada Annelies. Saat perjalanan bersama Marjuki, Minke bertemu dengan Victor Roomers ia adalah kawan sewaktu masih sekolah di H.B.S .
Minke menyuruh Marjuki untuk meminggirkan bendinya dan Minke memanggil Victor lalu mereka singgah di kedai sambil berbincang-bincang dan membahas Robert Suurhof,  yang ternyata sudah kabur dan tidak ada seorangpun yang tahu ke mana ia pergi.
Belakangan diketahui pula ia telah melalukan kejahatan mencuri di toko Ezekiel dan cincin yang diberikan kepada Annelies itu adalah cincin hasil curiannnya. Victor juga bercerita kepada Minke tentang keluarga Robert suurhof yang melarat dan victor tak tahu tentang masalah Robert Suurhof.
Minke bergegas meninggalkan Victor di kedai dan tak lama kemudian Minke sampai di pelataran rumah Suurhof, seketika Minke terenyuh melihat keadaan keluarga Suurhof yang begitu melarat, Minke mulai berbicang-bincang dengan keluarga Suurhof namun keluarga Suurhof belum tahu apa tujuan Minke datang kerumahnya. Minke ragu dengan tujuan awalnya ingin mengembalikan cincin kepada keluarga Suurhof. Dia tidak tega menambah beban permasalahan keluarga itu.
….
Panji Darsam  dengan umurnya yang masih muda, dua tahun lebih muda dari pada Minke. Ia telah lalukan perintah Nyai Ontosoroh untuk mengawal Annelies ke Nederland, maupun ke mana saja yang dikawalnya dibawa pergi. Beberapa hari setelah keberangkatan Annelies menyusul surat dengan cap Kantor Pos Medan: “Setelah memasuki pelabuhan Singapura, Darsam baru melihat Annelies yang bergaun serba putih dan dikawal oleh seorang jururawat wanita. Annelies terlihat sangat pucat terutama nampak pada bibirnya, dan ia tak peduli pada pandang siapapun”. Darsam memberitahukan bahwa Annelies tidak sendiri dengan suara yang keras tetapi usaha itu di ketahui oleh perawat dan ia meninggalkan tempat itu.
Tak lama berselang Darsam di panggil oleh kapten kapal untuk mengurusi Annelies, sedikit demi sedikit Panji Darsam mulai menggantikan pekerjaan perawat dan menjadi perawat sepenuhnya Annelies.
Sesampainya di Nederland, Annelies telah ditunggu seorang polisi dan seorang wanita tua berpakaian serba hitam. Bersamaan dengan itu, Darsam mengirimkan telegram “Dengan sebuah kereta kuda kami menuju ke stasiun untuk membeli karcis dan Annelies masih dalam perawatanku, kami naikkan Annelies ke keretapi. Grobag kuda meninggalkan Huzain dan pergi ke rumah seorang wanita, dan wanita itu bernama Annie Ronke, Janda”. Beberapa hari Annelies berada di rumah Annie, ia sudah tidak menyadari sesuatu, hanya Tuhan yang tahu keadaanya. Telegram terakhir Panji Darsam, mengucapkan ikut berdukacita atas meninggalnya Mevrow Annelies.
Kehidupan terus berjalan tanpa Annelies, kejadian ini meninggalkan luka pada Nyai Ontosoroh dan Minke. Seketika Hindia digemparkan dengan berita bahwa kedudukan Jepang sama dengan Eropa, perang meletus antara Yunani dan Turki dan juga perang antara Amerika Serikat-Spanyol meletus dipinggiran Hindia. Protes di mana-mana, merasa terhina bangsa Eropa disamakan dengan bangsa jepang meskipun pada saat itu jepang suadah maju dalam Ilmu dan Pengetahuan serta sudah memiliki kapal perang.
Pada suatu hari Jean Marais menyarankan kepada Minke, dikarenakan Minke selalu membuat karya tentang bangsa Eropa terutama Nederland. Jean menyarankan Minke untuk belajar bahasa Melayu karena itu bahasa yang dapat dimengerti oleh orang Hindia. Jean Marais menilai Minke sangat pandai dalam menulis Belanda tapi dia tidak pandai menulis Melayu, nampaknya perkataan Jean membuat hati Minke geram dan tak lama kemudian terjadi percekcokan antar mereka, tetapi, percekcokan tersebut hanya sebentar dan dilerai oleh anak Jean yaitu May Marais. Dan merekapun saling menerima pendapat masing-masing dengan lapang dada.
….
Minke pergi ke kantor redaksi untuk membuat interfiu terhadap orang Cina, Khow Ah Soe, seorang angkatan muda Cina, yang bermangsud untuk menjual keterangan mengenai gerakannya. Dia  diwawancarai oleh pimpinan koran tempat Minke biasa mengirimkan surat kabar ke S.N v/d D, dari wawancara tersebut terlihat bahwa Khow Ah Soe adalah seorang pemuda Cina yang sedang berjuang untuk kebangkitan bangsa Tiongkok.
Kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan di Wonokromo pun terus dialami oleh Nyai Ontosoroh dan Minke, Khow Ah Soe diburu oleh kepolisian Hindia dengan alasan penyelundupan ilegal dengan beberapa temannya. Mereka semua menggunakan nama palsu sejak meninggalkan Tiongkok, dan dialah “biang keladi” pemotongan kucir di daerah perairan pelesiran di Hongkong. Tak lama kemudian Khow Ah Soe dikabarkan telah meninggal dunia di danau jembatan merah dengan beberapa tusukan.
Beberapa hari kemudian Nyai Ontosoroh dan Minke pergi ke Tulangan ke rumah keluarga Sastro Kassier, abang Nyai Ontosoroh, Perusahaan Borderij Buitenzorg tersebut sementara diawasi oleh Darsam selama Minke dan Nyai Ontosoroh pergi. Dalam sepanjang perjalanan nampak serombongan rodi sedang memperbaiki jalan kereta api dan seorang peranakan Eropa duduk di atas kuda.
….
Dalam cacatan Minke, Dia menulis tentang pengalaman Surati tentang kekejaman administratur pabrik gula yang dilakukan oleh Frits Homerus Vlekkenbaij di Tulangan Sidoarjo. Ia seorang pemabuk dan suka mengganggu wanita, pada saat melihat anak perempuan Sastro Kassier timbulah niat jahatnya.
Plikemboh nama yang akrab di lidah pribumi karena tidak biasa menyebutkan Vlekkenbaij itu membuat jebakan untuk Sastro, suatu hari uang kas pabrik hilang sebelum masa pembayaran untuk buruh pabrik gula yang merukapan tanggungan Sastro, dan Plikemboh mau memberikan hutang dengan syarat Surati anaknya diserahkan kepada dirinya.
Pertamanya Surati dan Ibunya menolak untuk diserahkan kepada Plikemboh, tapi apa daya akhirnya Surati menyetujui itu. Surati memiliki rencana lain, pada saat malam Surati meminta ijin kepada ibunya untuk pergi ke sebuah desa. Ternyata, Surati pergi ke sebuah desa yang sedang terkena wabah cacar, ia berjalan sekitar 15 kilometer untuk sampai di desa tersebut.
Surati mampu masuk kedalam desa tersebut yang dijaga ketat oleh kompeni, ia menemukan banyak warga yang sudah mati terkena penyakit cacar. Di desa tersebut Surati tinggal selama beberapa hari dan ia juga mulai terkena penyakit cacar tersebut. Akhirnya Surati keluar dari desa dan berjalan ke rumah Plikemboh sambil membawa penyakitnya, pada akhirnya Plikemboh  dan Surati mati dengan penyakit cacar yang ditularkan Surati kepada Plikemboh.
Minke juga bertemu dengan Trunodongso, seorang petani yang sedang diteror untuk memberikan tanahnya kepada pabrik gula. Tiga bahu tanahnya, sudah disewakan kepada pabrik gula dengan paksa selama delapan belas bulan, tapi, nyatanya sampai dua tahun. kecuali dia mau dikontrak lagi untuk musim berikutnya. Minke berjanji akan menulis kasus ini menjadi berita di koran.
Turun dari stasiun Minke minta ijin untuk pergi ke kantor Nijman untuk menerbitkan tulisannya dalam koran tentang pembelaan terhadap semua mereka yang bernasib sama dengan Trunodongso. Bagaimana petani Jawa terusir dari sawahnya yang subur dan irigasi air oleh pabrik gula.Tapi, Nijman menolak. Minke terpesona oleh keterangan Kommer, ia mengungkapkan bahwa Mellema datang dengan membawa tulisannya yang menggugat sikap patih Sidoarjo, yang menghalang-halangi perluasan area tebu, ia membantah bahwa gula mengurangi kemakmuran Sidoarjo. Kemudian Patih itu dipindahkan ke Bondowoso.
Sebuah koran mengabarkan sebuah pemberontakan tani yang terjadi di daerah Sidoarjo. Veldpolitie yang kewalahan terpaksa dibantu oleh Kompeni, hanya tiga hari pemberontakan dapat dipadamkan dan Kyai Sukri yang dianggap sebagai biang keladi telah ditangkap dan digelandang ke pabrik gula Tulangan.
Selang beberapa hari Minke pegi ke Betawi  untuk meneruskan sekolahnya. Ia berangkat dari pelabuhan Tanjung Perak, di atas kapal, ia bertemu dengan Ter Haar bekas redaktur S.N v/d D. Dikapal mereka berbincang tentang macam perusahaan raksasa di Hindia. Haar juga memaparkan semua kebusukan kolonial melalui pabrik gula, perkebunan, pertanian, dan pertambangan yang mengeksploitasi bangsa dan tanah jajahan demi kepentingan golongan penjajah kepada Minke.
Sementara, hidup Nyai Ontosoroh terkalahkan oleh keputusan pengadilan kulit putih Kolonial yang menyatakan bahwa Boerderij Buitenzorg beserta semua asetnya yang sekian lama ia bangun bersama dengan Tuan Herman Mellema akan jatuh ke tangan Mauritz Mellema. Putra perkawinan sah dari ayahnya Tuan Mellema dengan seorang istrinya di  Eropa.
Sesampainya kapal di pelabuhan Semarang Minke sudah di tunggu Schout Van Duijnen,  Minke diajak untuk menginap di hotel yang ada di Semarang. Selesai beristirahat Minke naik keretapi dengan tujuan Surakarta, Minke tidak tau apa sebenarnya tujuan yang dilakukan Schout Van Duijnen, sesampai di Surakarta Minke diajak mengitari kota Surakarta. Ia berasama Schout Van Duijnen menaiki bendi selang beberapa jam. Akhirnya Minke menyadari kalau ia dibawa pulang ke Wonokromo, dan sosok Schout Van Duijnen adalah suruhan dari Nyai Ontosoroh.
Setelah kejadian waktu itu, datang sebuah surat dari Robert Mellema anak laki-laki Nyai Ontosoroh sekaligus kakak Annelies memberikan berita segala yang dialami dan dilakukan terutama tentang pembunuhan ayahnya. Dalam suratnya Robert bercerita bahwa ia telah menghamili pembantunya yaitu Sanikem sehingga lahir bayi laki laki yang bernama Rono Mellema, karena keadaan semakin buruk ditambah Robert Mellema telah tiada dengan penyakitnya, maka dari itu dengan keibaan Nyai Ontosoroh mau menampung minem dan Rono Mellema.
Pada saat datang akuntan De Visch untuk mengajak Minem bertemu dengan Ramond Debree, Minem menyetujui dan dengan ringan Minem menyerahkan Rono pada Nyai Ontosoroh untuk mengasuhnya. Nyai Ontosoroh membuat perjanjian dengan Minem bahwa Rono tidak akan diambil kembali karena dia telah memutuskan pergi untuk meninggalkan Rono.
Nyai Ontosoroh dan Minke menyambut kedatangan Maurits Mellema dengan pandangan sebagai pembunuh Annelies. Sebelumnya semua warga dan si gadis kecil May Marais yang sangat dekat dengan Annelies tidak mengetahui berita meninggalnya Annelies. Setelah mengetahui hal itu, mereka sangat histeris dan marah terhadap Maurits Mellema. Semua turut berdukacita atas meninggalnya Annelies yang telah dibunuh oleh Maurits Mellema, kakak tiri Annelies. Beberapa hinaan muncul dari Kommer, Jean Marais, Minke dan Nyai Ontosoroh dan semua warga yang berada di Wonokromo.
Maurits Mellema munuding bungkusan yang berada di samping kakinya. Ia berbalik memunggungi semua yang hadir menyambutnya. Dia melangkah berat meninggalkan ruang depan dengan tangan kiri memegangi sarong pedang. Nyai Ontosoroh memberikan Rono pada salah seorang perempuan dan membuka isi bungkusan tersebut, isinya: kopor tua dari kaleng, cekung-cekung dan berkarat ia buka kopor itu dan isinya beberapa pakaian bekas Annelies. Dan kopor itu mengenangkan Nyai Ontosoroh pada masa ia terusir dan dijual dari rumah orangtuanya untuk diambil oleh Tuan Herman Mellema.
“Ya, Ma, kita sudah melawan Ma, biarpun hanya dengan mulut.” Kata Minke memburamkan ingatannya.
Menurut saya, buku “Anak Semua Bangsa” memiliki cerita yang lebih menarik. Sebab, di buku ini Minke menjadi tokoh utama. Di mana Minke mulai melakukan perlawanan terhadap orang kulit putih yang menindas bangsa pribumi. Perlawanan dia tunjukkan mulai dari persidangan walaupun pada akhirnya dia kalah. Tetapi, sosok Minke bisa menjadi panutan untuk melawan bangsa kulit putih. Semangatnya untuk membantu bangsa pribumi yang tertindas terus dilakukannya dengan berbagai cara.
Hendi Istanto, Mahasasiswa Sastra Indonesia, Univesitasa Ahmad Dahlan

Rabu, 18 Januari 2017

Retno Listyarti: Jangan Jadi Guru Penakut, Bongkar Korupsi!

Senin, 18 Januari 2016 | 07:00 WIB
Pebriansyah Ariefana

Sekjen FSGI, Retno Listyarti. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Suara.com - Sosok Retno Listyarti kembali mencuat karena menang di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta melawan Provinsi DKI Jakarta. Dia dipecat sebagai kepala sekolah SMA Negeri 3 Jakarta, tapi pemecatan itu dianggap tidak sah oleh pengadilan.
Retno, sosok langka. Seorang guru yang statusnya pegawai negeri sipil, berani mengungkap banyak kasus korupsi dan penyelewengan di sekolah yang dia ajar. Retno tidak menyangkal mayoritas guru di Indonesia ‘penakut’.
Menurut dia, ‘segudang’ penyimpangan berpotensi terjadi sekolah. Mulai dari tindakan korupsi terstruktur antara pimpinan sekolah, dinas pendidikan daerah sampai ke Kementerian Pendidikan. Penyimpangan itu lah yang harus dibasmi.
Selama belasan tahun berkarir Retno menjadi guru, dia hafal persis modus penyimpangan di sekolah. Mulai dari penyimpangan dana Bantuan Opersional Sekolah (BOS) sampai penyimpangan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP).
Retno pernah membuktikan saat dia menjadi Kepala Sekolah SMAN 76 Jakarta. Dia menemukan penyimpangan di sana. Makanya, Retno langsung mencanangkan program transparansi pengelolaan anggaran di sekolah tahun 2014 silam. Saat itu sekolah itu menjadi yang pertama berjuluk sekolah antikorupsi karena keuangannya langsung diperiksa oleh lembaga akuntan publik. Hasilnya sekolah mengembalikan sisa dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) sebesar Rp 400 Juta pada akhir 2014.
“Kalau biasanya, uang itu dipakai buat apa saja. Banyak celah korupsi,” kata Retno.
Kiprahnya yang sekalu memprotes penyimpangan dan sistem pendidikan Indonesia, membuat dirinya banyak musuh. Dia sadar, banyak pihak yang berusaha menghentikan langkahnya dan menghambat kariernya. Bahkan keluarganya pun menjadi sasaran untuk menekan dirinya.
Namun teror sudah menjadi ‘makanan’ harian. Dia pernah diancam dipenjara sampai dibunuh. Itu karena Retno tidak takut ungkap keganjilan sekolah dan pendidikan di Indonesia.
Apa yang melatarbelakangi keberanian Retno? Dan apa saja modus korupsi dan penyimpangan di sekolah?
Simak wawancara suara.com dengan Retno pekan lalu dalam perbincangan santai di kedai kopi di kawasan Senayan:
Anda menggugat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena memecat Anda sebagai Kepala Sekolah SMA 3 Jakarta. Setelah menang, apa yang akan Anda lakukan?
Niat mereka memecat saya sebagai PNS. Itu terungkap saat di Ombudsman. Ombudsman membujuk saya saat pertemuan terpisah dengan pihak Disdik Pemprov DKI, untuk tidak persoalkan surat itu agar saya selamat dari pemecatan. Saya menangkap pesan akan dipecat ketika menggugat dan terbukti di pengadilan saya salah. Itu bukan ancaman pertama.
Memecat PNS seperti saya kan sulit sekali, apalagi karena kesalahan sepele. Dalam keputusan hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta, kesalahan yang saya perbuat adalah kesalahan ringan. Hukumannya adalah teguran. Bukan dihukum berat dengan pencopotan jabatan. Maka Kepala Dinas DKI Jakarta Arie Budiman disebut melakukan pelanggaran.
Maka itu, Kepala Dinas Pendidikan diperintahkan mencabut surat keputusan itu karena batal demi hukum. Nama baik saya diperintahkan untuk dipulihkan, dan jabatan saya sebagai kepala sekolah harus dikembalikan.
Tapi kalau saya secara pribadi menggugat itu bukan untuk mencari jabatan, bahkan menjadi kepala sekolah lagi sudah saya tolak. Saya ingin melawan kewenang-wenangan saja. Saya menggugat untuk menguji di PTUN sesuai aturan atau tidak surat itu. Begitu gugatan saya diterima, maka saya otomatis jadi kepala sekolah SMA 3 lagi. Tapi tidak harus di sana, karena hakim memutuskan diserahkan ke dinas pendidikan.
Hal sepele, tapi Disdik DKI Jakarta menanggapi serius apa yang Anda perbuat…
Laporan ini saya menilai karena dilandasi kebencian. Saya membongkar korupsi di SMA 76. Saya sadar, musuh saya banyak. Saya 12 tahun melawan korupsi pendidikan. Saya pernah diancam dibunuh, dipecat dan sebagainya. Sudah biasa.
Saya membongkar skandal sekolah yang mendapatkan kursi, meja, dan lemari tiap akhir tahun. Tanpa diminta, itu dikirim semua ke sekolah. Tapi besoknya dipindahkan lagi ke sekolah lain. Jadi beli barang sedikit, rapi seolah-olah semua sekolah dapat.
Lalu uang Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) distor sekian persen ke dinas pendidikan. Ada pengelolaan yang salah di dana itu. Lalu pembayaran kurban Rp500 ribu saat Idul Adha pakai dana BOP dari Anggaran Pendapatan dan Belanda Daerah (APBD). Distor ke suku dinas dan dinas pendidikan. Ini seluruh sekolah distor. Saat saya tanya, katanya itu dikatakan sudah biasa. Itu berapa miliar terkumpul.
Pendidikan macam apa yang dibangun di negeri ini? Ketika gurunya tidak kritis, tidak berani, tidak kreatif, dan selalu takut. Karena guru yang tidak kreatif, tidak akan membuat anak didiknya kreatif.
Anda PNS dan guru, apakah Anda tidak mempunyai ketakutan tentang karier Anda akan terhambat?
Ini semua menjadi pelajaran untuk saya , sudah 11 tahun saya menjadi klien Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Termasuk saat digugat Akbar Tanjung Rp10 miliar karena tulisan saya, melawan kebijakan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), menjadi saksi di Mahkamah Konstitusi. Akhirnya saya belajar hukum, karena saya rentan dikenai hukum. Suatu saat kalau kena kasus lagi, saya ingin menjadi lawyer untuk diri sendiri.
Apa yang mendorong Anda untuk melakukan perlawanan?
Saya berpendapat untuk menumbuhkan orang untuk kritis itu harus banyak baca dan nulis. Karena untuk menuangkan isi pikiran dalam tulisan itu kan harus sistematis agar pembaca mengerti. Saya suka nulis dari kecil, tulis puisi dan cerpen dan dimuat di Majalah Bobo.
Tapi guru tidak pernah menghargai saya menulis. Sampai SMA, selalu memandang tulisan saya jelek. Mencoret-coret EYD, tidak ke substansi tulisan. Sampai saya SMA kelas II, saya mengenal Kelompok Ilmiah Remaja Jakarta Utara (Kirju). Saya belajar meneliti dan nulis. Kami menang beberapa lomba.
Tim saya di sana semua orang miskin, orang Tanjung Priok semua. Saya juga, meski tinggal di Kelapa Gading. Saya anak tentara, yang pangkat ayah saya bukan perwira tinggi. Terakhir pangkat ayah saya kapten.
Saat itu saya mencari buku-buku yang dilarang orde baru. Kenapa Karl Marx dilarang? Saat itu banyak buku-buku kiriman dari Australia. Tapi kami kami mendapat foto copinya saja. Ternyata buku-buku kiri yang dilarang itu buku yang mengasyikkan. Keberpihakan ke yang lemah dan melawan ketidakadilan. Jadi apa yang saya baca itu mempengaruhi cara saya berpikir.
Ketika itu saya ingin jadi guru karena saya ingin mempengaruhi anak-anak muda. Ayah saya nggak perbolehkan karena uangnya nggak banyak. Dia mengancam kalau kuliah guru, nggak mau biayakan. Saat itu masuk IKIP Jakarta (sekarang UNJ) bayarnya Rp106 ribu persemester. Jadi saya berpikir kayaknya bisa. Saya bayar masuk perguruan tinggi dari honor nulis opini saya di koran. Saya dua kali menulis, Rp5 ribunya saya mengutang.
Saat kuliah tingkat satu, saya ditawari menjadi periset oleh seseorang. Saya bisa keliling Indonesia, ke mana-mana. Gaji saya Rp550 ribu, tapi bayaran IKIP Jakarta Rp106 ribu persemester.
Di lingkungan guru, saya beda. Karena memang guru-guru banyak yang penakut. Jadi guru yang seperti ini, awalnya saya dijadikan tumpuan melawan kepala sekolah yang nggak benar. Saya juga mengkoordinir anak-anak OSIS untuk melawan kebijakan yang nggak benar.
Lagi pula sebagai PNS, saya harus patuh terhadap perundang-undangan. Bukan atasan. Makanya saya merasa apa yang saya lakukan, berarti bagi diri saya.
Anda menjadi Sekjen FSGI, bagaimana awal mula organiasasi itu berdiri?
Kami nggak berpikir FSGI ini pesaing PGRI atau juga PGRI Perjuangan. Saya pernah menjadi anggota PGRI, sampai satu hari saya digugat Akbar Tanjung atas buku saya. Ini buku pertama, dan didigugat pula. Itu buku pelajaran Buku PKn kelas X – XII SMA KBK. Tahun 2005, Akbar menggugat Rp10 miliar kalau saya tidak menghapus sebuah bahan diskusi atau pengayaan. Tema diskusi itu menggunakan artikel.
Saat itu Akbar dibebaskan di kasus Bulog Gate, saya tidak tertarik mengangkat Akbar dibebaskan. Saya mengangkat pendapat hakim yang berbeda, dari 5 hakim ada satu yang berpendapat berbeda, yaitu Hakim Agung, Abdurrahman Saleh. Dia menampilkan hal berbeda, berat lah saat itu. Melawan arus juga.
Saya angkat pemikiran dia, Akbar tidak pantas dibebaskan. Di buku itu saya bertanya, “apakah kasus ini memenuhi rasa keadilan?”, Siswa diminta menganalisis. Tulisan pendapat hakim itu saya ambil dari koran dan saya tempel di situ. Anak-anak diminta analisa, apakah putusan itu hakim itu adil?
Saat itu Akbar punya anak di Sekolah Santa Ursula dan menggunakan buku saya. Saat itu ketika Akbar menggugat, saya datang ke PGRI karena saya anggotanya. Tapi PGRi tidak menolong saya. Alasanya karena saya digugat sebagai penulis, bukan guru. Aneh, karena yang saya tulis buku pelajaran. Setelah itu saya putuskan keluar dari PGRI.
Saya pun dibantu YLBHI. Akhirnya Akbar justru mundur dan mengajak damai. Setelah itu 2005 saya kuliah S2 di Universitas Indonesia dan selesai tahun 2007. Selesai kuliah, saya belum masuk organisasi guru.
Tahun 2010, ada perbedaan tunjangan guru struktural daerah dengan yang di Jakarta. Saya melawan dan tunjangan itu berhasil disamakan. Saat itu saya dan teman-teman mendirikan organisasi lokal guru Jakarta, Serikat Guru Indonesia Jakarta. Tahu-tahu ada 8 daerah mengajak berkumpul dan membuat federasi, dan lahirlah FSGI di 2011.
Saya dipilih jadi Sekjen. Saya pemimpin organisasi guru satu-satunya yang perempuan. Kami kiprahnya melawan kebijakan. Membangun kebijakan yang lebih baik.
Anda lebih suka disebut guru atau aktivis?
Saya guru, dan aktivis juga. Saya aktivis guru yang memimpin organisasi profesi. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pernah menyebut FSGI ini LSM, padahal FSGI ini organisasi profesi. Ahok pernah bilang juga, “jangan jadi kepala sekolah kalau ingin pimpin organisasi guru,” itu salah.
Dalam UU Guru Dosen, Pasal 1 Butir 13 dalam UU 14/2005 menyebutkan organisasi profesi guru yang didirikan dan diurus oleh guru. Jadi bekas guru nggak boleh, yang bukan guru nggak boleh, apalagi politisi kayak PGRI. Masa yang mimpi politisi. PGRI di Jakarta dipimpin Kepala Badan Kepegawaian Daweah, itu melanggar. Makanya Pak Jokowi menyampaikan sambutan tertulis dalam ulang tahun PGRI Deember 2015 lalu yang dibacakan Puan. Dia bicara penataan organisasi profesi guru.
Kata Pak Jokowi, guru dipolitisasi. Kalau guru diurus kayak begini, nggak akan kritis guru. Banyak kepala dinas dan kepala sekolah diturunkan setelah Pilkada gara-gara incumbent nggak terpilih lagi.
Reformasi sistem pendidikan digaungkan tiap tahun, tapi sangat luas mana yang harus diubah. Menurut Anda mana yang harus lebih dulu diubah dari sistem pendidikan ini?
Permasalahan pendidikan itu dibagi dalam dua hal, kualitas dan akses. Kalau bicara sistem, maka kebijakan bermain. Kalau bicara persoalan, kualitas pendidikan Indonesia rendah. Gurunya rendah. Misal hasil penelitian world bank tahun 2012, menyatakan dari 12 negara Asia, Indonesia di posisi 12. Kualitas yan paling rendah.
Dari sisi hasil ujian kompetensi guru, guru hanya mendapatkan 4,3 dari rata-rata nilai dari paling tinggi 7. Dari sisi murid, itu menujukan rendah. Hasil kita di nomor buncit kok. Anak Indonesia hanya membaca 27 halaman buku pertahun. Padahal nggak ada buku yang dicetak di bawah 50 lembar. Jadi artinya murid membaca nol buku pertahun. Soal kualitas, Indonesia di urutan 39 dari 40 negara di 2014. Sistem itu siapa yang ciptakan, pemerintah.
Jadi untuk membenahi itu, bukan mengganti kurikulum. Tapi membangun kapasitas guru. Kalau gurunya berkualitas, muridnya akan berkualitas. FSGI pernah mensurvei tentang pelatihan untuk guru, karena pemerintah ini sangat kurang dalam memberikan pelatihan. Hasilnya 62 persen guru SD dari 29 SD di kota/kabupaten nggak pernah ikut pelatihan, bahkan menjelang pensiun. Guru itu harus di-charger, diupdate. Itu harus dibangun lewat sistem pemerintah.
Di Finlandia, SD-SMP nggak ada ujian nasional. UN ada di SMA, untuk menjaring masuk ke perguruan tinggi. Nilai kejujuran sudah ditanamkan. Di Indonesia, UN menjadi berhala. Kami setuju UN ada, tapi bukan untuk menentukan kelulusan.
Tapi sekarang dipakai untuk pemetaan. Misal ada SMA di NTT, nilai matematikanya jelek, ternyata guru matematikanya nggak ada yang benar. Gurunya harus dilatih. Ketika hasil pemetaan terpotret, maka ada reaksi yang dilakukan pemerintah.
Standar UN bisa dilakukan jika semua sekolah atau daerah sudah terpenuhi fasilitas yang sama. Jangan sampai ada murid yang mau sekolah sampai jalan 7 jam. Beda dong sama yang naik motor atau mobil.
___
Retno Listyarti, lahir di Jakarta, 24 Mei 1970. Sebagai PNS, dia berpangkat Pembina dengan golongan Iva. Retno adalah guru PPKn. Dia lulusan S2 Ilmu Politik di Uiversitas Indonesia. Ibu 3 anak itu sudah menghasilkan 10 buku dan belasan prestasi di bidang akademik, penulisan dan penelitian.
Selain menjadi guru, dia juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru indonesia (FSGI). Tahun ini masa tugasnya selesai. Retno dikenal sebagai sosok guru yang berani mengungkap korupsi di bidang pendidikan, terutama di sekolah Jakarta.
Dia pernah mengembalikan sisa dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) sebesar Rp 400 Juta pada akhir 2014. Hal itu dilakukannya saat masih menjabat sebagai Kepala SMA 76.
http://www.suara.com/wawancara/2016/01/18/070000/retno-listyarti-jangan-jadi-guru-penakut-bongkar-korupsi