This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 23 Agustus 2016

Menteri Muhadjir Dukung Budaya Kekerasan di Sekolah, LBH Jakarta Dirikan Posko Pengaduan

Press-Release


Rilis Pers Nomor: 1631/SK-RILIS/VIII/2016

Pada tanggal 11 Agustus 2016, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy, kembali melontarkan pernyataan yang meresahkan masyarakat. Beliau secara terbuka menyampaikan kepada pers bahwa “pendidikan harus keras”[1] dan “sanksi fisik dalam batas tertentu bisa ditoleransi dalam dunia pendidikan”[2]. Menurutnya, pendidikan yang demikian diperlukan agar para peserta didik tidak tumbuh menjadi “generasi yang lembek”[3] dan membuat peserta didik menjadi “tahan banting”[4].

Kami menilai pernyataan Mendikbud RI meresahkan. Pernyataan tersebut berpotensi memicu terjadinya tindak pidana di sekolah-sekolah, ketika sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi para peserta didik,” ujar Tigor Gempita Hutapea, pengacara publik LBH Jakarta, saat ditemui di Kantor LBH Jakarta, Jl. Diponegoro No. 74, Menteng, Jakarta Pusat.

Perlu diketahui, ketentuan Pasal 76C, 76D, dan 76E Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 jo. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah secara jelas melarang segala bentuk kekerasan terhadap anak. Para pelaku dapat dijerat dengan sanksi pidana penjara.

Mendukung budaya kekerasan di sekolah juga merupakan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran HAM. Indonesia telah meratifikasi Konvensi tentang Hak-Hak Anak Internasional melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990. Berdasarkan ketentuan tersebut, negara wajib menjamin anak terbebas dari segala bentuk kekerasan,” tambah Alldo Fellix Januardy, pengacara publik LBH Jakarta.

Untuk mengantisipasi maraknya kekerasan di sekolah akibat pernyataan Mendikbud RI, LBH Jakarta berinisiatif untuk membuka posko pengaduan korban kekerasan di sekolah. Peserta didik yang mengalami kekerasan di sekolah dapat segera mengunjungi kantor kami untuk memperoleh pendampingan hukum,” tutup Tigor Gempita Hutapea.

Alamat posko pengaduan korban kekerasan di sekolah berada di kantor LBH Jakarta, Jl. Diponegoro No.74, Menteng, Jakarta Pusat. Pelapor juga dapat menghubungi nomor kontak LBH Jakarta di 021-3145518.

Keberadaan posko ini merupakan inisiatif bersama forum lintas organisasi masyarakat sipil yang dinamakan Masyarakat Peduli Pendidikan. Masyarakat Peduli Pendidikan terdiri dari LBH Jakarta, FSGI, Keluarga Besar Homeschoolers Semarang, Rimbawan Muda Indonesia, Lingkar Studi Pendidikan Progresif, KePPaK Perempuan, Student Revolt Pemuda Merdeka, Indonesia Peduli Anak Gifted, GEMMA, P3MN, Children’s Media Center, Klub Oase, Rumah Inspirasi, PAUD Melati Jakarta, Komunitas Orang Tua Murid, dan Sukarelawan Pengajar dan Aktivis Pendidikan.

Narahubung:
1. Alldo Fellix Januardy (087878499399)
2. Fidella Anandhita (085718283888)


[1] Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia, Mendikbud Sebut Pendidikan Keras Bentuk Siswa Tahan Banting, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160811172129-20-150778/mendikbud-sebut-pendidikan-keras-bentuk-siswa-tahan-banting/, 11 Agustus 2016, jam 17.22 WIB.

[2] Maria Fatima Bona, Berita Satu, Mendikbud: Sanksi Fisik Bisa Ditoleransi dalam Pendidikan, http://www.beritasatu.com/pendidikan/379264-mendikbud-sanksi-fisik-bisa-ditoleransi-dalam-pendidikan.html, 11 Agustus 2016, jam 16.47 WIB.

[3] Arief Ikhsanuddin, Detik.com, Mendikbud: Pendidikan pada Anak itu Keras, Bukan Berarti Memukuli Orang, http://news.detik.com/berita/3274048/mendikbud-pendidikan-pada-anak-itu-keras-tapi-bukan-berarti-memukuli-orang, 12 Agustus 2016, jam 13.54 WIB.

[4] Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia, Mendikbud Sebut Pendidikan Keras Bentuk Siswa Tahan Banting, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160811172129-20-150778/mendikbud-sebut-pendidikan-keras-bentuk-siswa-tahan-banting/, 11 Agustus 2016, jam 17.22 WIB.

http://www.bantuanhukum.or.id/web/menteri-muhadjir-dukung-budaya-kekerasan-di-sekolah-lbh-jakarta-dirikan-posko-pengaduan/

Selasa, 03 Mei 2016

Dilarang Berkreasi dan Berinovasi

Opini di Koran Tempo, Selasa 3 Mei 2016 Oleh: Darmaningtyas



Publik tentu masih ingat kasus pembuat mobil listrik (Dasep Ahmadi Direktur PT Sarimas Ahmadi Pratama) yang tahun 2015 divonis tujuh tahun penjara karena didakwa merugikan negara Rp.28,99 miliar untuk pembuatan mobil listrik. Hakim juga memerintahkan Dasep membayar uang pengganti sebesar Rp.17,18 miliar atau diganti hukuman penjara dua tahun.

Terlepas dari persoalan substansi yang menyebabkan Dasep Ahmadi dihukum penjara, yang pasti, kasus tersebut langsung memadamkan wacana pengembangan mobil listrik karena orang takut untuk berkreativitas dan berinovasi dalam bidang teknologi yang padat modal dan bila gagal akan terkena dampak yang sama, yaitu masuk penjara karena didakwa merugikan uang negara puluhan miliar rupiah.

Kecenderungan menempuh zona aman dan tidak mau berkreasi maupun berinovasi, demi menghindari jaretan hukum banyak terjadi di dunia pendidikan kita, dari dasar sampai perguruan tinggi. Bagi para guru SDN di daerah yang kekurangan guru memilih diam, membiarkan kondisi buruk tetap terjadi daripada berinisiatif mencari guru honorer dan dibayar dengan dana BOS tapi akhirnya mereka terjerat kasus hukum. Hal itu mengingat dana BOS yang dapat digunakan untuk honorarium hanya 15% saja. Bila dalam satu SD hanya punya 80 anak, berarti dana BOS yang diterima hanya Rp. 64 juta/tahun atau hanya Rp. 9,6 juta yang dapat dipakai untuk bayar tenaga honorer. Jika guru honornya hanya satu orang agak lumayan dapat Rp. 800.000,- perbulan. Tapi kalau lebih dari satu, tentu nilainya jauh dibawah upah minimum.

Meskipun dengan kreativitasnya Kepala SD dapat mengelola dana BOS dengan baik sehingga tidak ada yang dikorbankan, tapi kalau besaran dana BOS yang dapat dipakai untuk gaji guru honorer lebih dari 15%, mereka lebih baik cari amannya saja, membiarkan kekurangan guru itu tetap berlangsung daripada nanti terjerat kasus hukum.

Kasus SMK dan P4TK

Beberapa SMK Pertanian di Cianjur, Jawa Barat yang memiliki unit produksi dan telah menjalin kerjasama dengan perusahaan swasta untuk pemasaran produknya terpaksa terhenti lantaran, kali ini perusahaannya yang dipersalahkan oleh auditor bahwa dengan membeli produk-produk SMK itu berarti membeli produk illegal karena ditanam di tanah milik negara yang tidak dikenai pajak. Daripada maksudnya baik, membantu pengembangan SMK tapi dipersalahkan, maka lebih baik tidak perlu membantu, karena tujuannya bukan profit. Itu bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Akhirnya yang terjadi, SMK itu SMK Sastra, lantaran hanya teori saja, kurang praktek. Tempat praktek mereka adalah berproduksi di lahan pertanian, tapi karena saat giliran menjual produknya bermasalah, akhirnya mereka memilih tidak berproduksi.

Kondisi yang penuh ironi itu juga dialami oleh semua P4TK (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan) yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejumlah P4TK Kejuruan, seperti Bisnis Pariwisata, Otomotif, Listrik, Seni dan Budaya, Teknologi, serta Pertanian itu sejak didirikan awal dekade 1980-an dengan nama PPPG (Pusat Pengembangan Penataran Guru) sudah dilengkapi dengan unit produksi dan alat-alat yang modern, sehingga saat itu betul-betul menjadi rujukan bagi SMK-SMK di seluruh Indonesia.

Mereka juga sudah sempat berproduksi sesuai dengan bidang masing-masing, produksi mereka laku di pasaran, bahkan untuk P4TK Seni dan Budaya di Yogyakarta, banyak produknya yang diekspor ke luar negeri. Tapi semua itu sekarang harus dikubur dalem-dalem karena dipersalahkan oleh Irjen maupun auditor dari BPK. Irjen mempersalahkan bahwa pengembangan unit produksi bukan tugas dan fungsi (Tusi) P4TK, sedangkan auditor BPK mempersoalkan transaksi yang ada di unit produksi tersebut. Ini betul-betul konyol karena kreativitas dan inovasi itu dimatikan begitu saja oleh pertanyaan “tidak sesuai dengan tugas dan fungsi”nya sehingga harus dibubarkan!

Kekonyolan para auditor yang hanya memakai kacamata kuda itu terlihat ketika mengaudit P4TK Pertanian Cianjur yang memiliki unit produksi barang hidup dan bisa berkembang, seperti misalnya peternakan sapi, ayam, kambing, pengembangan kolam ikan, dan pengolahan hasil pertanian. Menurut kaca mata pengembang, keberhasilan unit produksi itu diukur dari berkembangnya produksi, kuantitas maupun kualitas, seperti ternak sapi, ayam, dan kambing yang bertambah jumlah maupun besarannya sehingga harganya semakin tinggi. Tapi sang auditor justru mempersoalkan penyusutan barang, jelas kontradiktif. Akhirnya daripada pusing menghadapi teguran maupun temuan dari Irjen dan auditor BPK, lebih baik semua unit produksi ditutup. Ini sayang sekali karena lembaga Diklat (pendidikan dan latihan) tidak punya laboratorium yang nyata dan dapat diperlihatkan kepada para guru SMK yang dilatih, bahwa inilah contoh pengembangan unit produksi yang baik di SMK-SMK kita.

Inpres SMK

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memisahkan urusan Pendidikan Tinggi dari Pendidikan Dasar dan Menengah dengan maksud agar hasil-hasil riset di Perguruan Tinggi (PT) dapat diimplementasikan oleh industri. Pemerintahan Jokowi juga berencana akan mengeluarkan instruksi presiden (Inpres) untuk pengembangan SMK. Keduanya itu hanya akan melahirkan kesia-siaan jika tidak diikuti dengan regulasi yang mendukung. Pertama, agar industri mau memakai hasil-hasil riset dari PT, hasil riset tersebut telah melalui proses uji coba. Proses uji coba tidak cukup sekali berhasil, butuh berulang kali. Bila uji coba pertama dan gagal lalu penelitinya dikriminalisasi dengan tuduhan menghamburkan uang negara, seperti yang terjadi pada kasus mobil listrik, tentu banyak peneliti kita memilih jalur aman, tidak mau mengadakan uji coba untuk menguji kehandalan temuannya.

Pengalaman pribadi, mengubah bentuk becak tradisional di Yogya yang berat kosong 135 kg dan diubah menjadi 85 kg tanpa mesin, dengan tempat duduk yang lebih lebar dan nyaman memerlukan waktu sepuluh tahun dan mengalami perubahan 14 kali prototype . Jika suatu inovasi sudah divonis gagal saat diwujudkan pertama kalinya, dan inovatornya dikriminalisasi, maka orang enggan untuk berinovasi.

Kedua, pada kasus SMK dan P4TK yang memiliki unit produksi perlu dilindungi dengan regulasi agar unit produksi tetap bisa berkembang tanpa menimbulkan masalah pengelolaan. Kebijakan menerapkan PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak) bukan jalan yang tepat, karena kalau PNBP semua pendapatan dari unit produksi tersebut disetor ke kas negara, tidak bisa dipakai untuk proses produksi lagi, sedangkan untuk proses produksi harus mengajukan anggaran ke negara. Cara ini selain tidak efisien, juga tidak melatih SMK dan P4TK-P4TK Kejuruan tersebut berkembang berdasarkan kreativitas dan inovasinya, mereka hanya mengandalkan anggaran negara saja.

Inpres tentang SMK yang akan dibuat oleh Pemerintahan Jokowi itu semoga sampai ke perlindungan regulasi tersebut, sebab kalau soal content pendidikan SMK sejak dulu sudah bagus, seperti yang diperlihatkan oleh STM Pembangunan empat tahun, tapi kebijakan yang tidak konsisten lah yang merusak kualitas dan perkembangan SMK kita.

https://www.facebook.com/darmaningtyas.instran/posts/1116592471715935

Senin, 02 Mei 2016

Ki Hajar dan Sekolah Liar

Kamis 02 Mei 2013 WIB

Ki Hajar Dewantara memperjuangkan pendidikan untuk semua kalangan bumiputera. Dia menentang ordonansi sekolah liar.

Taman Siswa di Bandung. Ki Hajar Dewantara (inset).
Foto

TANGGAL lahir Ki Hajar Dewantara, 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 316 tanggal 16 Desember 1959. Penetapan tersebut dilandasi oleh jasa-jasanya yang telah memberikan garis-garis tegas dalam pendidikan nasional, baik konsepsi maupun praktik.

“Pada tahun 1932 beliau telah berjuang dengan menentang ordonansi sekolah liar serta berlakunya sistem pajak rumah tangga Taman Siswa dan menentang diskriminasi tunjangan anak di sekolah pemerintahan dan sekolah swasta,” tulis AB Lapian dalam Terminologi sejarah, 1945-1950 & 1950-1959.

Ki Hajar mendirikan sekolah Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta karena gelisah akan pendidikan di Hindia Belanda yang diskriminatif. Hanya anak-anak priyayi yang boleh sekolah. Dia mencoba mempeluas akses pendidikan bagi semua kalangan. Taman Siswa, dan semua sekolah partikelir (swasta) yang tidak diakui oleh lembaga resmi pemerintah manapun, dianggap sekolah liar.

Menurut Yudi Latif dalam Inteligensia Muslim dan Kuasa, sekolah liar biasanya didirikan oleh para anggota idealis dari inteligensia yang tidak ingin bekerja untuk pemerintah kolonial, dan yang didirikan sebagai jawaban terhadap kebutuhan akan pendidikan yang bergaya Barat.

Adanya kecenderungan politik di balik aktivitas lembaga-lembaga pendidikan partikelir (swasta) disadari pemerintah. Pemerintah yang khawatir melihat perkembangan sekolah-sekolah pribumi tanpa izin, berusaha menekan laju perkembangannya dengan membuat beberapa peraturan atau ordonansi.

Pada 1923, pemerintah mengeluarkan ordonansi pengawasan sekolah partikelir. Namun, dalam praktiknya tidak memenuhi harapan pemerintah dalam menuntaskan masalah sekolah liar. Menanggapi masalah itu, JWF. van der Muelen, pejabat direktur pendidikan dan agama menganjurkan kepada pemerintah untuk meninjau kembali ordonansi pengawasan 1923 dengan kemungkinan menambah satu peraturan baru menyangkut pengawasan terhadap lembaga pendidikan partikelir.

Usulan tersebut disetujui. Pada 1932 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan baru: Wildeschoolen Ordonantie (Ordonansi Sekolah Liar). Dalam ordonansi ini, seseorang atau lembaga yang bermaksud menyelenggarakan pendidikan harus seizin pemerintah. Pemerintah dapat mencabut izin apabila terbukti melanggar ketentuan-ketentuan yang ditetapkan.

Bukan hanya bagi sekolah, ordonansi ini juga mengatur urusan guru. Para pengajar diharuskan untuk membuat laporan kepada penguasa setempat. Apabila melanggar, maka akan dikenakan hukuman penjara selama delapan hari atau denda 25 gulden. Mereka juga dapat dikenakan hukuman selama satu bulan atau denda sebesar 100 gulden apabila yang bersangkutan tetap melakukan kegiatan mengajar.

Menanggapi ordonansi tersebut, Ki Hajar mengirim telegram kepada Gubernur Jenderal De Jonge, meminta membatalkan ordonansi tersebut. Telegram ini kemudian dimuat majalah Timboel, 6 November 1932. Dengan tegas Taman Siswa mengancam akan melakukan lijdelijk verzet (pembangkangan) apabila ordonansi itu tidak dicabut.

“Excellentie! Ordonnantie jang disadjikan amat tergesa-gesa dan didjalankan dengan tjara paksaan …” tulis Ki Hajar, “Bolehlah saja memperingatkan, bahwa walaoepoen machloek jang ta’berdaja mempoenjai rasa asali berwadjib menangkis bahaja oentoek mendjaga diri dan demikianlah djoega boleh djadi kami karena terpaksa akan mengadakan perlawanan sekoeat-koeatnja dan selama-lamanja…”

Ordonansi sekolah liar tetap diberlakukan. Taman Siswa membangkang dan terus berkembang pesat ke luar Jawa Tengah. “Sepuluh tahun kemudian, meskipun sudah mengeluarkan peraturan Sekolah Liar pada September 1932, gerakan Taman Siswa sudah mendirikan 166 sekolah dengan sekira 11.000 murid Jawa,” tulis Frances Gouda dalam Dutch Cultures Overseas.

Sekolah-sekolah liar diminati oleh bumiputera karena keadaan ekonomi pasca Perang Dunia I dan depresi ekonomi pada 1930-an mengakibatkan pemotongan belanja (subsidi) pemerintah untuk pendidikan. “Hal ini membuat biaya pendidikan tinggi, memaksa orang-orang Hindia untuk bersekolah di sekolah-sekolah liar,” tulis Yudi Latif.

Laporan tahunan pemerintah tahun 1936 mengenai pendidikan mencatat sebanyak 1.663 sekolah liar yang menerima pendaftaran 114 ribu murid. Setahun kemudian, laporan tersebut mencatat jumlah keseluruhan 1.961 sekolah dengan jumlah murid 129.565, sedangkan pada 1941, jumlah murid pribumi yang menerima pendidikan dalam bahasa Belanda di sekolah liar, yang terletak di dalam dan di luar Jawa, diperkirakan mencapai jumlah 230 ribu.

Menurut Gouda, Jawa tidak sendiri dalam ekspansi sembunyi-sembunyi sekolah independen, yang secara sadar berupaya tetap di luar orbit pengawasan pemerintah. Di Minangkabau Sumatera Barat, berlangsung pula pertumbuhan lembaga pendidikan yang sama. Walaupun lembaga-lembaga tersebut secara lebih jelas kaitannya dengan ulama (guru) Islam dibanding di Jawa dan lebih banyak menghabiskan waktu dalam pengajian Alquran, sekolah-sekolah kaum muda di sana juga dengan bergairah menanamkan gagasan penalaran individu (ijtihad) dan semangat pembaruan pada murid mereka.

“Baik sekolah taman siswa maupun sekolah kaum muda merupakan lembaga yang berkembang pesat,” tulis Gouda, “kedua-duanya berhasil menanamkan rasa bangga akan budaya asli dalam diri murid-murid mereka."

http://historia.id/modern/ki-hajar-dan-sekolah-liar

Senin, 11 April 2016

Intoleransi dan Perintah Presiden

11 April 2016 | 19:01


Apakah intoleransi yang terus-menerus dipertontonkan ke publik satu paket dengan kompetisi dan deregulasi untuk masuknya modal asing?

Kita lihat beberapa ekspresi kebudayaan dan politik dilarang oleh kelompok massa tertentu tanpa ada usaha polisi untuk mencegah sesuai wewenangnya berdasarkan konstitusi. Sebaliknya,  polisi justru  setuju dan mendukung atas nama ketertiban.

Kita pun melihat Presiden Joko Widodo  betapa getol menekankan Indonesia harus terus meningkatkan daya saing dan siap berkompetisi dalam era ekonomi pasar bebas. Deregulasi dan pembangunan infrastruktur digenjot justru untuk mempercantik dan mempertampan diri demi melayani Modal Asing masuk. Deregulasi adalah praktek memudahkan modal asing terlibat dalam pembangunan di Indonesia. Melalui deregulasi itulah diharapkan Indonesia menjadi tujuan utama investor di antara negara-negara pesaing lainnya.

Praktek intoleran dan deregulasi demi dana segar pembangunan bukanlah hal baru di Indonesia. Penghancuran komunisme yang brutal di tiga bulan pertama pasca Peristiwa G 30 S dan prakteknya di kemudian hari dalam pembatasan Demokrasi selama Orde Baru berkuasa adalah bukti nyata.

WS Rendra dari jauh di Amerika Serikat yang memulai mengisi puisi-puisinya dengan isu sosial pun memberikan kesaksiannya dalam kumpulan sajak Blues untuk Bonie pada praktek Intoleransi, deregulasi dan pembanguan Infrastruktur yang dipraktekkan penguasa baru bernama Orde Baru itu:

Kesaksian Tahun 1967

Dunia yang akan kita bina adalah dunia baja Kaca dan tambang-tambang yang menderu Bumi bakal tidak lagi perawan, Tergarap dan terbuka Sebagai lonte yang merdeka Mimpi yang kita kejar, mimpi platina berkilatan Dunia yang kita injak, dunia kemelaratan Keadaan yang menyekap kita, rahang serigala yang menganga

Nasib kita melayang seperti awan Menantang dan menertawakan kita Menjadi kabut dalam tidur malam Menjadi surya dalam kerja siangnya Kita akan mati dalam teka-teki nasib ini Dengan tangan-tangan yang angkuh dan terkepal Tangan-tangan yang memberontak dan bekerja Tangan-tangan yang mengoyak sampul keramat Dan membuka lipatan surat suci Yang tulisannya ruwet tak bisa dibaca

Mengapa kita tidak bisa keluar dari pola pembangunan yang dipraktekkan Orde Baru, lalu tetap mempromosikan intoleransi sembari tetap mengandalkan modal asing dalam membangun bangsa?

Dalam Sajak Sebotol Bir, 1977, dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, Rendra mempertanyakan pola pembangunan seperti ini:

Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri,
Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing
akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam
Kota metropolitan di sini, adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika, Australia, dan negara industri lainnya.


Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ?
Yang menghubungkan desa-desa dengan desa-desa ?
Kini telah terlantarkan.
Menjadi selokan atau kubangan.


Jalan lalu lintas masa kini,
mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu,
adalah alat penyaluran barang-barang asing dari
pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan
bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan


Presiden Joko Widodo memang sudah memerintahkan agar Kepala Polri menindak kelompok yang bertindak intoleran, menghambat kebebasan berekspresi, termasuk yang menghambat kegiatan beribadah sesuai keyakinan dan kepercayaan sebagaimana diatur dalam konstitusi. Tetapi implementasi di lapangan tentu tak sesuai dengan harapan dan tak seindah kata-kata konstitusi sebab beberapa Ketetapan atas nama Rakyat dan Undang-Undang Pemerintah yang menghambat kebebasan berekspresi terutama berkaitan dengan komunisme dan keyakinan masih berlaku; sementara dalam praktik, tafsir terhadap komunisme dan ajaran keyakinan  berdasarkan kepentingan politik sesaat atau bisa ditafsirkan sesuai kepentingan penguasa.

Dihadapkan pada kebebasan untuk modal asing dan deregulasi yang melayani modal asing demi meningkatkan daya saing dalam berkompetisi memasukkan modal, kita pun bertanya mengapa justru praktik intoleran  tetap berlangsung tanpa hambatan dan seringkali didukung polisi yang merupakan alat pemerintah atau kekuasaan?

Apakah perintah presiden yang hendak menegakkan konstitusi kebebasan sebagaimana pasal 28 bisa berarti juga  pemecatan terhadap Kapolri yang membangkang atau tidak bekerja? Atau Presiden kita sedang berbasa-basi sebab yang sebenarnya terjadi adalah semata-mata melindungi kebebasan modal asing dan melupakan tujuan nasional? Karena itu, tidak boleh ada alternatif  yang mungkin bisa saja timbul dari gejolak  kebebasan berekspresi baik di lapangan kebudayaan maupun keagamaan! Kemudian menganggap bahwa modal asing bukanlah satu-satunya sandaran dan solusi bagi jalannya keadilan dan kemakmuran Rakyat sebagaimana mereka yang sempat menjadikan gerakan keagamaan seperti GAFATAR sebagai alternatif.

AJ Susmana, Wakil Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP PRD)

http://www.berdikarionline.com/intoleransi-dan-perintah-presiden/

Rabu, 06 April 2016

Anies Baswedan: Pemerintah Sediakan Dana bagi Penulis

Rabu, 06 April 2016 | 14:13 WIB 

Buku puisi Chairil Anwar "Deru Tjampur Debu" yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. TEMPO/Jacky Rachmansyah 

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serius memajukan dunia literasi atau sastra Indonesia. Salah satu kebijakan yang akan dilaksanakan adalah memberi semacam beasiswa bagi para penulis untuk menghasilkan karya. "Kami memberi fasilitas supaya mereka berkarya," kata Menteri Pendidikan Anies Baswedan dalam wawancara khusus, Selasa pekan lalu.

Selain dana untuk meningkatkan kualitas karya sastra, Anies berencana memberikan kemudahan bagi penulis untuk menerjemahkan karyanya ke bahasa asing. "Tujuannya agar sastra Indonesia lebih dikenal dunia," kata Anies merujuk sukses penyelenggaraan Frankfurt Book Fair di Jerman tahun lalu.

Berikut ini petikan wawancara Tempo dengan Anies.

Bagaimana kelanjutan rencana dana penerjemahan karya sastra seperti yang dijanjikan pemerintah di Frankfurt Book Fair (FBF)?
Untuk menerjemahkan karya sastra, kita harus aktif. Banyak buku Indonesia, dari fiksi sampai nonfiksi, yang layak dibaca dunia. Tantangannya memperbaiki sistem penilaian biaya. Ongkos terjemahan masih satuan rupiah, sementara penerjemah bermutu tidak berada di Indonesia. Dari FBF sudah terbuka soal standar biaya tiap negara. Itu jadi patokan sehingga Kementerian Keuangan punya rujukan.


Bagaimana menepis dugaan kolusi dalam menentukan siapa yang layak mendapat dana itu?
Ada tim kurasi yang akan ditunjuk. Namanya Komite Buku, yang menentukan karya siapa yang layak diterjemahkan. Karena ini uang rakyat dipakai untuk biaya promosi Indonesia di dunia internasional. Penilaiannya dari para ahli itu, yang diambil dari orang-orang independen. Kementerian Pendidikan cuma memfasilitasi.

Apa lagi yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan karya sastra nasional?
Ada program bagi penulis agar menulis penuh konsentrasi. Mereka dibiayai hidupnya di luar negeri. Sastrawan kita potensinya dahsyat. Sekarang kami bikin program pengiriman sastrawan ke tempat-tempat mereka bisa berkonsentrasi untuk berkarya. Bukan untuk mengisolasi diri, melainkan ke tempat yang bisa merangsang mereka untuk kreatif, termasuk melakukan riset. Sifatnya seperti beasiswa. Mereka melamar dan dibiayai hidupnya. Bisa 3 bulan, 6 bulan, atau 9 bulan. Sedang disusun proses dan sebagainya. Anggarannya sudah dialokasikan.

Itu untuk fiksi?
Awalnya untuk sastrawan. Mereka itu orang-orang yang berkemampuan menaklukkan diri sendiri untuk bisa menghasilkan tulisan panjang penuh imajinasi. Dana ini agar sastra Indonesia dikenal dunia. Setelah Frankfurt Book Fair, transaksi hak cipta buku Indonesia meledak. Mereka membeli hak cipta karya Indonesia untuk diterjemahkan. Dari 200 pada 2014 menjadi lebih dari 500 pada 2015.

Berapa besar anggarannya?
Sudah dialokasikan. Saya sampaikan, bergeraknya jangan berdasarkan besarnya anggaran. Presiden sudah menggarisbawahi, jangan mengejar serapan anggaran tanpa memikirkan kualitas. Akan kami buka dulu, lalu lihat animonya. Kalau dibutuhkan lebih, ya akan kami tambah. Kalau yang ada sedikit, ya yang sedikit itu saja dulu.

Apa bentuk pertanggungjawaban si penerima dana?
Mereka harus menghasilkan karya.

Berapa dana yang diterima tiap penulis?
Beda-beda. Yang penting mereka di sana bisa berkonsentrasi, tidak khawatir tentang biaya hidup. Buat apa dikirim ke sana kalau harus kerja mencuci piring, misalnya? Dicukupkan kebutuhannya karena republik ini membutuhkan karya-karya mereka. Kami memberi fasilitas supaya mereka berkarya.

TITO SIANIPAR


https://m.tempo.co/read/news/2016/04/06/173760236/anies-baswedan-pemerintah-sediakan-dana-bagi-penulis

Kamis, 24 Maret 2016

Pentas Monolog Tan Malaka Akan Tetap Digelar

Sabtu, 27 Februari 2016

Tentang Henk Ngantung

Oleh: Anton DH Nugrahanto, 2012


Tahukah anda Gubernur Jakarta termiskin ?. Kalau anda ke Patung Selamat Datang itu adalah buah karya seorang Gubernur Djakarta yang bernama Henk Ngantung, dia orang kawanua, orang Manado.

Nama lengkapnya Hendrik Hermanus Joel Ngantung. Henk Ngantung ini bisa disebut sebagai salah satu seniman Pasar Senen yang dijaman revolusi dulu menggelandang di sudut-sudut pasar Senen.

Seniman Pasar Senen di jaman Revolusi merupakan jiwa-nya Revolusi Kemerdekaan pada saat itu, merekalah yang menyebarkan propaganda lewat lukisan dan grafitti tentang sebuah bangsa baru bernama Indonesia. Sahabat dekat dan teman keluyuran Henk Ngantung adalah Chairil Anwar, bersama Chairil Anwar yang bergaya hidup bohemian itu, Henk meninju keras-nya Jakarta.

Djakarta adalah pusat dari segala hidup Henk, di tahun 1945-1949, ia merekam seluruh kejadian perang, pertempuran-pertempuran dan persengketaan bersenjata, ia menggambar pertempuran Cikini, ia melukiskan perang di Bekasi dan Henk menggambar sketsa tentang pemuda yang memanggul senjata dan bertempur di medan Revolusi 1945.

Hank juga dekat dengan Asrul Sani, Henk senang dengan gaya Asrul Sani yang kerap kali kocak menggambarkan peristiwa revolusi. Henk pernah berkata "Asrul Sani adalah seorang yang melihat seluruh dunia secara parodik" terbukti di sekitar tahun 1986, Asrul Sani membuat film Nagabonar, sebuah kisah parodik yang amat jenius tentang sifat lucu militer yang membuat orang berpikir bahwa militer sesungguhnya adalah rakyat yang bingung'.

Di tahun 1950-an ketika perang berhenti Henk, dekat dengan kelompok kiri yang beraliran seni realisme. Saat itu berkembang jargon "Seni Untuk Rakyat bukan Seni Untuk Seni".

Henk terpesona dengan RRC, Henk juga kagum dengan gerakan kiri yang membangun seni kebudayaan secara massif, Henk bergabung dengan Lekra, Lembaga Kesenian Rakyat. Disanalah kemudian karir Henk berkembang atas perantaraan Njoto, Henk bisa masuk ke dalam lingkungan Istana dan berkenalan dengan Bung Karno, Henk langsung diangkat oleh Bung Karno jadi pelukis Istana.

Salah satu lukisan yang paling disukai Bung Karno adalah lukisan wajah Setiadjid, lukisan ini amat ekspresionis. Setiadjid adalah Wakil Perdana Menteri semasa Amir Sjarifuddin menjadi Perdana Menteri di tahun 1946/1947.
Suatu malam di tahun 1964, Sukarno incognito di Jakarta tengah malam. Ia mengelilingi pasar-pasar di Jakarta.

Di Dekat Gedung Bank Indonesia, mobil VW Combi yang digunakan Bung Karno berhenti, disana Bung Karno memerintahkan ajudannya untuk memanggil tukang jagung bakar yang mangkal tak jauh dari gedung Bank Indonesia, sambil makan Jagung Bakar Bung Karno melihat-lihat sekelilingnya, tiba-tiba muncullah ide gila Sukarno "Bagaimana kalo Djakarta dipimpin seorang Seniman" aku mau Djakarta jadi kota seni budaya terbesar di dunia, kota di mana manusia-manusianya menonjolkan kemampuan budaya" kata Bung Karno kepada Sabur, ajudan kesayangannya itu. Sabur hanya mengangguk saja.

Seminggu sesudahnya Sabur disuruh menyalin surat pengangkatan Henk, saat itu Bung Karno lagi melihat Henk bekerja di salah satu ruangan sedang merapikan salah satu hasil karyanya.

"Eh, Henk kamu mau jadi Gubernur Djakarta?". "Ha?" kata Henk kaget.

"Sudahlah kamu saya angkat jadi Gubernur Djakarta" kata Bung Karno dengan mata melotot.

Henk kebingungan tapi tidak bagi Bung Karno. Henk Ngantung resmi jadi Gubernur Djakarta. Pengangkatan Henk sontak membuat gempar banyak orang. Sumarno eks Gubernur Djakarta sebelumnya protes keras, tapi dicuekin Bung Karno.

Henk langsung menyusun blue print kota Djakarta yang penuh dengan hasil karya seni di tiap sudutnya, Bung Karno dengan sigap menandatangani. "Henk kota ini harus jadi Kota Internasional, harus lebih berbudaya ketimbang New York yang kota PBB itu, Kota Djakarta akan aku jadikan kota dunia 'Negara-Negara Kekuatan Baru, New Emerging Forces".

Seminggu Henk jadi gubernur, tiba-tiba harga beras naik dan beras banyak menghilang begitu juga semen, Henk harus mengatasi persoalan itu dengan cepat. Sial bagi Henk pada tanggal 30 September 1965, Letkol Untung Bin Samsuri culik Yani Cs, Henk yang tak tau apa-apa soal gerakan langsung ditangkap tentara, Henk diberhentikan jadi Gubernur DKI. Karena dulu ia merupakan anggota Lekra, sebuah lembaga yang dianggap sayap budayanya PKI.

Henk terpaksa jual rumahnya, selepas dari penjara Orde Baru. Henk hidup amat miskin dan kekurangan, ia tinggal di gang yang sempit pinggir kali Ciliwung, ia sering merenung sendirian di pinggir kali ciliwung yang kotor itu, namanya tak pernah disebut dengan terhormat di Pemda DKI. Henk adalah orang yang terlupakan.

Di tahun 1989 ada berita kecil soal Henk yang membuat banyak orang tersentak, bahwa ada Gubernur Djakarta yang dikucilkan dan hidup sengsara, Ciputra penguasaha Real Estate yang banyak bekerjasama dengan Pemda DKI untuk proyek-proyeknya kemudian membantu Henk, ia terketuk hatinya melihat kondisi Henk.

Saat menggelar galery pameran lukisan untuk Henk, Pak Tji menangis. Henk terkena penyakit Glukoma, ia bila melukis harus melihat sangat dekat ke kanvas.

Seorang gubernur yang terlupakan, mimpi Sukarno tentang kota budaya yang juga dilupakan, Jakarta bukan lagi kota budaya, tapi sebuah kota yang berisi tembok-tembok besi kapitalis, dimana rakyat harus masuk dalam sebuah labirin bersekat-sekat tak ada lagi ruang publik milik bersama, milik rakyat.

Mimpi indah Sukarno tentang Djakarta sebagai kota pusat budaya dunia itu berakhir pada tubuh Henk yang sakit-sakitan itu.
(ditulis : Anton DH Nugrahanto, 2012)

 https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1534624373501044&id=1532581143705367&substory_index=0

Minggu, 08 Maret 2015

“KAMPUNG CETHING” produksi Film Dokumenter SMKN1 Karanggayam

Nur Kholifah, (Kameramen) sedang mengambil gambar orang menganyam (Glontor, 7 Maret 2015)
Siapa yang tidak tahu Cething? Ya peralatan dapur yang digunakan sebagai tempat nasi ini sering dijumpai di mana-mana. Termasuk di pasar tradisional di seluruh Indonesia. Namun siapa yang tau proses pembuatannya? Bagaimana dan dimanakah Cething diproduksi?

Shakir Iskandar, salah satu siswa SMKN1 Karanggayam Kebumen, mencoba mengupas aktifitas para pembuat cething di desa Glontor. Di desa ini, mayoritas penduduknya mengisi keseharian mereka dengan menganyam. Hasil anyaman mereka berwujud perkakas dapur, salah satunya yaitu Cething.
Keseharian di Desa Glontor, Kebumen ini menginspirasi Shakir untuk kemudian memfilmkan Kampung Cething dalam film Dokumenter perdananya.

Tak hanya keseharian para pembuat Cething, Shakir juga merekam aktifitas yang terjadi di desa tersebut, seperti suasana pasar tradisional yang masih asli (tidak dipengaruhi oleh pasar modern), budaya masyarakat yang berkumpul, dan segala kearifan lokal yang tercipta di desa yang masih asri ini.
Film Dokumenter ini diproduksi pada masa Prakerin. Sebelumnya di awal Januari 2015 Shakir dan teman-temannya mengisi waktu Prakerin dengan belajar di TBM Sangkanparan Cilacap. Mulai dari mencari ide, melakukan riset, membuat treatmen, membedah dan kemudian barulah Shakir dan teman-teman memproduksi film pada 7 Maret 2015.

Insan Indah Pribadi selaku Pengelola Sangkanparan merasa bangga dengan kinerja tim dari SMK N1 Karanggayam Kebumen. Pasalnya selain semangat yang dimiliki begitu tinggi, produksi ini juga di dukung oleh pihak sekolah SMKN1 Karanggayam Kebumen. “Pihak sekolah juga mendukung, tak hanya menanggung biaya konsumsi untuk anak-anak, tapi juga support peralatan produksi seperti kamera DSLR Canon 70D” ujar Insan yang saat itu mengajak serta Bang Teguh, Taufik dan Alwan sebagai pendamping produksi Dokumenter di Kebumen.

Selanjutnya, film ini akan memasuki tahap editing, dan kemudian sebagai pemutaran perdananya rencananya Shakir dan kawan-kawan akan memutar film tersebut di sekolahnya bersama film karya teman-teman yang lain

https://sangkanparan.wordpress.com/2015/04/03/kampung-cething-produksi-film-dokumenter-smkn1-karanggayam/ 
___

“Penyadap Pulut” Produksi Film Dokumenter SMKN1 Karanggayam

Para siswa SMKN1 karanggayam saat produksi film Penyadap Pulut (9/3)

Sore itu tepat di hari Minggu, 8 Maret 2015. Setelah produksi Dokumenter Kampung Cething Selesai, para pelajar SMKN1 Karanggayam, Kebumen yang dibantu oleh beberapa siswa dari SMKN1 Kawunganten dan Kampung Laut Cilacap ini, langsung bergerak ke sebuah tempat bernama desa Silampeng.
Produksi Dokumenter selanjutnya adalah kisah kehidupan seorang penyadap Pulut di desa Silampeng, Kebumen.  Kisah ini sengaja direkam oleh Sugeng dan dikemas menjadi sebuah film Dokumenter. Para narasumber dalam film ini sangat dekat dengan Sugeng, karena penyadap pulut tersebut tak lain adalah ayahnya. Sugeng memberanikan diri merekam aktifitas sang ayah dari awal pulut di sadap, hingga diolah dan kemudian berubah menjadi keping rupiah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Dalam produksi Dokumenter ini, para kru yang mayoritas adalah siswa SMKN1 Karanggayam dibantu beberapa pelajar dari Cilacap, memanfaatkan waktu yang begitu singkat. Selain medan perbukitan yang harus mereka lalui begitu terjal, mereka juga harus berkejaran dengan waktu. Meski sempat mengalami kendala karena faktor cuaca, namun syukurlah film ini dapat selesai diproduksi.

Teguh Rusmadi salah satu mentor dan pendamping dalam produksi film dokumenter pelajar SMKN1 Karanggayam memberikan kesempatan kepada para siswa yang saat itu didapuk sebagai kameramen untuk berekplorasi merekam banyak aktifitas yang mempesona. Seperti suasana desa dan pemandangan yang sangat indah, aktifitas desa, hngga pemandangan air terjun yang diambil dari atas bukit. “Mereka harus belajar langsung, bagaimana cara mengambil gambar yang baik. Saya hanya mendampingi dan sesekali mengarahkan” ujar teguh yang sampai saat ini masih menjomblo.
Produksi film ini tak hanya didukung oleh TBM Sangkanparan sebagai fasilitator, namun juga pihak sekolah SMKN1 karanggayam yang memberikan konsumsi selama produksi dan dukungan alat seperti kamera untuk produksi film para pelajar.

Selasa, 04 November 2014

Sarasehan Budaya [proseding]

“Penguatan Seni Budaya Lokal Menghadapi Tantangan Global”

Tempat: Roemah Martha Tilaar - Gombong, 4 November 2014
___

Susunan Acara:

[musik pengantar pre-acara]

1.   Pembukaan        : Pengantar + Basmallah      - Pekik
2.   Sambutan          : Sekapur sirih wakil Keluarga Marta Tilaar

[musik-puisi selingan]

3.   Acara Inti           :  a. Sarasehan, Moderator: Komper Wardopo
   b. Pemateri :   - MT Arifin
                        - Basuki Hendro Prayitno 
   c. Sessi Dialog
   d. Pembacaan Ressume

    4. Penutup             : Ketua Panitia atau Moderator


Pitra

-     Pembawa acara membacakan susunan acara
-     Mempersilahkan ketua panitia membuka acara


Pekik

-     Puji syukur, berkumpul dalam forum tentang budaya
-     Sholawat dan salam
-     Menyampaikan beberapa hal:
-      Mengangkat tema: “Penguatan Seni Budaya Lokal menghadapi tantangan global”
-      Narasumber:
-      Terimakasih kepada tamu undangan
-      Terimakasih kepada ibu Martha Tilaar atas kerjasama ini
-      Dengan tema dimaksud agar terpupuk rasa nasionalisme, menyebar ke sekitar, cinta budaya sendiri;
-      Selamat bersarasehan, berharap sumbangsaran dari semua;
-      Dibuka dengan bacaan Basmallah


Pitra

-     Terimakasih
-     Mempersilahkan wakil pengelola ibu Leli Kurnia Sari untuk sampaikan sambutan


Leli

-     Puji syukur; berkumpul di rumah Martha Tilaar
-     Dihadiri Wulan Tilaar, Ketua Yayasan Warisan Budaya beserta rombongan;
-     Terimakasih kepada Bp MT Arifin, juga Ketua DKD Bp. Ki Dalang Basuki Hendro prayitno;
-     Tema menarik sekali, saya Leli Kurnia Sari; selaku pengelola Rumah Marta Tilaar, berbangga sarasehan ini bisa terselenggara di sini;
-     Sesuai dengan tema, rumah ini adalah salah satu warisan budaya juga;
-     Mengharap ibu Wulan Tilaar, agar berkenan membuka acara ini;
-     Mohon maaf karena pada malam hari ini tidak dapat menjamu dengan baik, rumah ini masih dalam proses, mohon maaf dan doanya;


Wulan Tilaar

-     Salam
-     Pada para budayawan, media dan semua undangan; menyampaikan selamat datang di rumah Martha Tilaar;
-     Putri ke3, bertanggung jawab di Martha Tilaar n Spa; sudah berkeluarga dengan 2 putri;
-     Ingin menyampaikan kenapa ada Roemah Martha Tilaar, karena ibunda asli Gombong;
-     Pada masa ini ingin berbagi kepada masyarakat Gombong dan Kebumen umumnya,
-     Ingin mencetak MarthaTilaar2 lain, tekun dan mengglobal;
-     Familiar dengan “Sari Ayu”, brand yang mengangkat kearifan lokal,
-     Beberapa tahun yl, dirinya ikut pentas wayang orang, merasa ada dorongan kuat itu kembali ke sini dan mengenali asal-usul; proses timbul ketertarikan dan kecintaan;
-     Senang kerjasama dengan SRMB, berharap dapat memetik hasil yg positif;


Pitra

-     Demikian sambutan ibu Wulan Tilaar
-     Sambutan berikut Kepala Diparbud Kab. Kebumen


Heri

-     Meski harus maraton, dapat datang di sini;
-     Pemberitahuan, akan dilaksanakan Festival permainan Anak2, 14-15 Nove


Pitra

-     Acara inti


Komper Wardopo
[Moderator]

-     Salam;
-     Yth. Ketua Yayasan Rumah Martha Tilaar, ibu Leli KS, Ir. Budi Hianto, serta segenap undangan
-     Kita akan mendapat pencerahan dr 2 tokoh,
1.  Basuki Hendro Prayitno; pelaku budaya
2.  MT. Arifin; pengamat
-     Tema yang sangat menarik, kita hidup di tengah era global, di sisi lain kita terancam kehilangan identitas, 24 jam dicekoki tergerus, dihimpit konsumsi media;
-     Kebumen bukan daerah “main-main”, kedua pemateri akan banyak menjelaskan semuanya buat kita
-     Kelestarian seni budaya sendiri jadi kewajiban bersama;


Basuki Hendro Prayitno
[Pembicara]

-     Semoga diridlai Allah SWT;
-     Mungkin saya tertua, kelahiran 1944; hanya pelaku seni pedalangan, tak ada pengalaman pendidikan formal seni, hanya turun-temurun warisan lama;
-     Kita belajar bersama,  
-     [membacakan materi]
-     Budaya, budi n daya;
-     Hasil seni, ungkapan cipta, rasa, karsa,
-     Seni gerak à tari, dll
-     Seni Suara à mentiet, janeng, dll
-     Perbuatan2 negatif yang telah membudaya juga, korupsi, tawuran, ditayangkan media dari atas hingga daerah2, sangat memprihatinkan;
-     Seni budaya mengalami pergeseran karena terpengaruh masa dan jamannya;
-     Setelah islam masuk, memberi warna budaya bagi bangsa kita;
-     Di jaman penjajahan, kemerdekaan, pembangunan hingga reformasi; semua ikut mempengaruhi budaya lokal;
-     Di lokal, ada Banaspati Jomenggolo di Urutsewu dipimpin oleh Gomowijoyo; semua masih bersifat perjuangan lokal;
-     Sumber info sejarah ini ada di sumber Babad Kolopaking dan Ani Asmoro;  
-     Pentas wayang, drama, ketoprak, banyak berisi perjuangan;
-     Semua ini pengaruh dari atas yang memberi warna pada akar rumput;
-     Terlebih di era informasi [IT] merupakan tantangan dari para pekerja seni budaya lokal; mampukah kita mempertahankan;
-     Bisa ngeli tapi jangan keli;
-     Mungkinkan bagi kita yg bermacam2 suku, agama, dll; mempertahankan jatidiri kita ?
-     Kita jawab harusnya mampu, dg adanya Menteri [Menko] Pembanguan Manusia dan Kebudayaan;

-     Mahabarata yang tayang; Drupadi bersuaminya 5; saya banyak dapat pertanyaan;
-     Mahabarata adalah produk impor yg datang di jaman animisme; karenanya ada banyak perbedaan;
-     Budaya islam yang dibawa ke Jawa mendapat sentuhan jawa; Amir menjadi Jayengrono
-     Semua disesuaikan dengan kultur bangsa Indonesia;

-     Di pesantren juga ikut menanamkan seni budaya;
-     Para ulama juga memberi ajaran pada santrinya, itu berdiri sama tinggi duduk sama rendah;
-     Khususnya di pulau Jawa penuh dengan sopan santun, perilaku yang halus;
-     Ini ikut membentuk karakter bangsa;

-     Mengetuk mereka yang punya kelebihan kepedulian 3 hal:
1. Peduli Tenaga,
2. Peduli Pikir,
3. Peduli Dana;
-   Demi bangsa, tanpa melihat ras dan agama;
-   Contoh ibu Martha Tilaar yang mendirikan Rumah Budaya di Gombong ini;
-     Juga Pondok Tingal yang ada di Magelang, tinggalan alm Bpk. Budihardjo mantan Menteri Penerangan;
-     Tiap malam Sabtu akhir bulan digelar kegiatan, sarasehan mau pun pementasan;
-     Khusus di Kebumen, terkait budaya lokal, perlu kita duduk [jawa] dan tidak mbedah,
-     Artinya pilah-pilih, mana yang perlu kita lestarikan, dan mana yang mungkin bisa kita kembangkan;

-     Masalah ini jadi tugas siapa, tanggung jawab siapa?
-     Saya bertanya: apakah tidak semestinya instansi-instansi yang membidangi seni budaya lokal?
-     Juga pelaku-pelaku seni yang punya 3 kepedulian;
-     Peduli pikir, kritik lewat media, wawancara sesepuh, kritikus seni budaya lokal;
-     Peduli tenaga, para pelatih seni, banyak di sini, Gombong, di Wero, seperti Bp. Surawan melatih karawitan dan pedalangan yang bekerja dengan ketulusan;
-     Juga di tempat R. Suman Husodo, Jatiluhur, tempat latihan seni budaya lokal;
-     Peduli dana, seperti sekarang ini, penyelenggaraan sarasehan dengan biaya yang tak sedikit;

-     Seni modern maupun klasik di Kebumen sudah menonjol:
    teater, lukis, pahat, band, rebana, mentiet, ketoprak, angguk, gobang, jemblung, wayang golek, wayang kulit, ebleg, solawatan, dll;
-     Jika ingat seni-seni tradisi produk Indonesia yang diklaim oleh Malaysia, seperti batik, reog, kuda lumping;
-     Masyarakat Indonesia dirugikan, sebab tradisi tersebut milik bangsa Indonesia;
-     Tetapi, kembalikannya, sampai dimana kepedulian dan tanggungjawab negeri kita untuk mengayomi, melindungi, melestarikan dan mengembangkan seni budaya milik sendiri;
-     Di Malaysia dikembangkan, di sini tak ada yang mau, baik pelaku seni maupun Pemerintah, tapi di sini yang punya dalam merawat mengembangkan saya tak bisa matur sampai di mana;
-     Ini kesalahan siapa, monggo diadepi bareng-bareng karena tak baik jika saling menyalahkan satu sama lain;
-     Jika mau kedamaian, kita menyalahkan diri sendiri, jika menyalahkan orang lain itu yang timbul kebencian dan permusuhan;
-     Sekian, jika ada pertanyaan silahkan.
-     [20.19 wib]


Komper Wardopo

-     Terimakasih Ki Basuki Hendro Prayitno, panjang lebar uraiannya;
-     Kapasitas sebagai pelaku seni, berpengalaman sehingga wajar beliau gundah;
-     Saya catat beberapa hal, pertanyaan pada kita yang nanti tidak saling mencari kesalahan, tapi mencari solusi dan semua peserta disini berhak memberi solusi;
-     Tentang tugas siapa untuk mempertahankan seni budaya lokal itu?
-     Sekarang kita harus mulai peduli pikir, peduli tenaga, peduli dana;
-     Ini tugas kita semua untuk terus berupaya;
-     Hal yang saya catat bahwa di Kebumen sebenarnya seni tradisi dan modern itu bisa berkembang dengan baik, bisa beriring sejalan;
-     Selain seni tradisi, disebutkan ada yang khas lokal seperti mentiet, angguk, eblek, dsb;
-     Kesempatan ke 2 MT Arifin, silahkan...


MT. Arifin

-     Pekewuh karena harus ngomong di dekat pak Basuki, sesepuh, karena saya menonton pentas ndalangnya sejak saya masih kecil sekitar tahun 60-an;
-     Seperti tadi dikatakan, bagaimana kesenian kita diambil oleh bangsa lain,  
-     Saya jadi ingat tahun 2011, Maret 2011, diminta pemerintah RI, presiden SBY waktu itu meminta Menteri Pendidikan untuk njawil saya agar mewakili pemerintah,
-     di Jawa Tengah, soal Keris, saya harus panel dengan tim utusan dari kejaraan diraja Malaysia;
-     Dengan harapan bahwa mereka tahu bagaimana keris sebagai jatidiri dari bangsa Indonesia;
-     Saya jadi mikir dan meneliti keris generasi pertama ciptaan Mpu Ramadi yang menciptakan keris pada tahun 250 Masehi;
-     Ada 2 tokoh yang pertama-tama memprakarsai pembuatan keris yaitu pertama Empu Ramadi dari Tuban satunya Empu Lang Tam Pay dari Banyumas;
-     Keduanya satu perguruan dan merupakan murid dari Ki Selo;
-     Itu saya teliti, saya bahas dari keris-keris ciptaan beliau, karena kebetulan saya menyimpan keris dari abad ke 3 Masehi itu ada 24 keris;
-     Hingga kini saya menyimpan 500 keris sampai yg muda, keris dari jaman Mataram;
-     Mengumpulkannya butuh puluhan tahun adus getih
-     Apa yang perlu ditanamkan saat berdiskusi dengan tokoh dari Malaysia, dengan target agar keris itu tidak dibajak oleh Malaysia;
-     Saya terpaksa menjelaskan dari akar persoalan dan sumber keris sampai saya mbawa 15 keris dari Jakarta;
-     Saya jelaskan keris tertentu, siapa yang membuat, jadi dengan begitu dengan adanya data-data autentik, tak bisa diaku oleh orang lain;
-     Yang jadi soal kadang-kadang seni itu tak dibahas, karena seni itu tak diopeni, tak ada penjelasan-penjelasan bagaimana keruwetan dari sebuah seni budaya di dalam masyarakat dan itu benar-benar milik kita;
-     Kapan itu dilahirkan, kita tidak tahu, ini yang jadi masalah;
-     Pencatatan dari karya seni, ngopeni seni dan tradisi itu diuri-uri, sehingga jadi bagian dari masyarakat itu tak ada;
-     Setelah diambil orang, baru ramai-ramai, itu yang terjadi di masyarakat kita;
-     Oleh karenanya maka persoalan seni tradisi itu jadi penting karena jika tidak, saya perkiraan satu generasi lagi akan habis itu;

-     Akan saya jelaskan kapan kesenian di Kebumen itu mati?
-     Matinya kesenian tradisi di Kebumen itu terjadi pada jaman Orde Baru;  
-     Pada jaman tahun 1960-an, yang namanya wayang golek, sampai ketoprak tobong di Prembun, Sidototo dan berbagai daerah, seni musik di Kutowinangun, berbagai seni semua hidup dalam masyarakat dan laku;
-     Sampai pencak silat di tingkat desa itu ditonton oleh masyarakat;
-     Artinya bahwa pada jaman itu banyak seni tradisi yang mati, karena apa?
-     Karena booming politik pembangunan yang berorientasi ke atas dan kekuatan masyarakat itu tidak berimbang;

-     Dan sekarang, pada era globalisasi, banyak tradisi yang akan mati jika tidak diopeni;
-     Karena apa? Karena ketertinggalan teknologi;
-     Adaikata seni tradisi cepetan dibiarkan dalam pakaian yg lusuh, tanpa tematik yang jelas, dan tak ada penanggapnya, akan mati dengan sendirinya;
-     Karena tak ada tradisi yang menggunakannya !
-     Begitu juga wayang, jika kekuatan ekonomi masyarakat tidak berkembang, siapa yang akan nanggap?
-     Masyarakat tidak nanggap, pemerintah tidak nanggap, perusahaan tidak nanggap, ini yang jadi persoalan;
-     Oleh karena itu, kita perlu berfikir, melihat bagaimana persoalan seni tradisi dan saya akan lihat persoalan ini dari aspek kebudayaan; dari aspek kulturalnya;

-     Saya membahas ada tiga hal: yang pertama, latar pikir kebudayaan, yang mengapa nantinya seni tradisi itu tumbuh dari pola pikir seperti itu;
-     Karena hingga sekarang kebudayaan tradisi tak pernah dikaitkan dengan konsep kebudayaan;
-     Yang ada bahwa seni tradisi baru ada pada tingkat permainan di arena;
-     Tapi mengapa di Kebumen muncul seni tradisi cepetan, mengapa wayang kulit tumbuh di daerah pesisir selatan, mengapa slawatan tumbuh di pesisir kulon, mengapa mentiet tumbuh di daerah kulon kali dan tak ada di wetan kali, mengapa?
-     Ini adalah persoalan dan bahwa itu ada konsep kulturalnya yang jadi masalah;
-     Oleh karena itu, nantinya, mestinya pembinaan terhadap aspek dan unsur-unsur seperti ini juga merupakan kebutuhan peta yang lebih jelas;
-     Misal slawatan di daerah Bonjok, itu sekarang sudah mati, di daerah wetan kali itu sudah tak ada, yang ada di daerah kulon kali;
-     Ini persoalan, artinya karena memang slawatan itu bukan pola pikir utama wetan kali;
-     Karena apa? Karena wetan kali itu tali ikatnya adalah kraton kasunanan Surakarta;
-     Oleh karena itu, wayang, yang berkembang adalah wayang, mengapa di daerah pesisir kidul, karena memang pesisir kidul adalah daerahnya Gamawijaya;
-     Di utara tak berjalan; karena di utara adalah daerahnya kolonial;
-     Kemudian, mengapa tradisi islam ada di kulon kali Lukulo, karena daerah itu adalah basis anti-struktur yang dibina oleh kelompok-kelompok pejuang Diponegoro;
-     Sedangkan yang wetan kali juga kelompok pejuang tetapi yang relasinya adalah kraton kasunanan;
-     Ini menjadi sangat berbeda corak-corak seperti itu;
-     Kebudayaan itu adalah kebudayaan anti-struktur yang sangat membedakan daerah wetan kali dan daerah kulon kali;
-     Dan ini akan memiliki latar pikir kebudayaan;

-    Bicara kebudayaan tradisional, yang berkaitan dengan perubahan-perubahan sebagaimana tema sarasehan malam ini, yang akan menghadapi globalisasi;
-    Nah, perubahan-perubahan itu yang penting [signifikan_not] adalah apakah seni tradisi mampu menciptakan local-genius atau tidak, ini masalahnya;
-    Manakala seni tradisi mampu menciptakan local-genius maka seni tradisi itu akan berkembang;
-    Seni tradisi nDolalak lebih berkembang di daerah Purworejo ketimbang Kebumen, mengapa?
-    Kemudian seni-seni yang ada di Lima Gunung di Magelang, itu akan berkembang, karena ada kekuatan-kekuatan yang mendorongnya;
-    Mereka sadar bahwa seni-seni tradisi Lima Gunung  itu hancur pada saat Orde Baru membasmi G30S, maka harus dihidupkan kembali;
-    Nah, di Kebumen hingga sekarang belum ada kesadaran yang menyeluruh tentang persoalan ini;
-    Oleh karena itu dibutuhkan local-genius yang berkemampuan untuk mendorong perkembangan seni tradisi;

-     Bagaimana seni budaya daerah dan tantangan yang ada di daerah ini; 
-     Tadi dalam konsep dasar kebudayaan yang telah disampaikan pak Basuki, dimana seni budaya itu memiliki konsep-konsep dasar;
-     Sehingga budaya itu merupakan kompleksitas pengalaman-pengalaman dari suatu masyarakat yang akan diwarisi secara lintas generasi;
-     Fungsinya adalah membangkitkan perilaku-perilaku sosial dalam kehidupan masyarakat;
-     Hal ini terjadi karena budaya itu sesungguhnya merupakan sikap prilaku manusia yang diperoleh melalui belajar dengan cara meniru, dengan cara mempelajari, dengan cara mengembangkan kemampuan-kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan hidup masyarakatnya;
-     Oleh karena itu manakala di Kebumen muncul seni-seni yang berkaitan dengan konsep tanah, konsep agraria; itu memang karena Kebumen adalah daerah dan masyarakat agraris;
-     Maka seni-seni tradisi yang kemudian berkembang itu yang berkaitan dengan budaya-budaya agraris;
-     Di dalam kebudayaan itu yang menjadi sangat penting bagi kita adalah terkandung makna-makna pengetahuan hidup yang luas di dalam bentuk simbol-simbol dan konsep-konsep;
-     Sehingga cita dan ukuran yang dimiliki secara bersama melalui unsur-unsur itu dianggap yang paling berharga oleh masyarakat;
-     Mengapa masyarakat kita kalau menonton wayang itu yang akan dilihat adalah jejeran pertama, kemudian pada saat goro-goro;
-     Karena di dalam wayang itu terkandung unsur pendidikan, unsur demokrasi, unsur ideologi sosial, informasi, dsb;
-     Faktor-faktor ideologis itu muncul pada tingkat pertengahan, karena di situ nilai-nilai kebenaran muncul;
-     Sedangkan pada saat-saat awal adalah nilai-nilai estetika yang bisa ditangkap, juga anta-wacana yang menunjukkan ketajaman seorang dalang di dalam menafsirkan lakon-lakon, dikaitkan dengan kehidupan-kehidupan sosial yang ini juga diharapkan oleh penonton;
-     Itu menunjukkan bagaimana watak kehidupan luar yang luas, yang nanti akan tercermin dalam simbol-simbol dan konsep-konsep;
-     Sehingga cita-cita dan ukuran yang dimiliki secara bersama melalui unsur-unsur ilmiah atau berharga itu kemudian bisa dipahami oleh komunitasnya;
-     Nah, kenapa kebudayaan di masyarakat kita itu seperti itu?
-     Karena kebudayaan di dalam suatu masyarakat itu dipengaruhi oleh struktur pikir yang mendorong nilai-nilai itu terbentuk;
-     Mengapa orang Jawa percaya pada wayang? Mengapa orang Jawa itu mencintai batik?
Mengapa orang Jawa mempercayai keris?
-     Itu bukan persoalan yang ada begitu saja, tetapi 3 bentuk dari karya budaya itu [wayang, batik, keris] adalah bentuk tang termasuk di dalam konsep timputent;
-     Dinyatakan bahwa ada 10 bidang dalam kehidupan masyarakat Jawa yang sudah menonjol sejak jaman sebelum ada sejarah;
-     Termasuk diantaranya adalah wayang, olah batik, olah keris;
-     Itu adalah diantara 10 kemampuan orang Jawa tetapi 3 diantaranya berkaitan dengan kebudayaan seni, nanti di dalam wayang itu termasuk gamelan dan seterusnya;
-     Itu kemenonjolan yang dimiliki oleh orang Jawa sejak sebelum jaman sejarah diantara 10 kemenonjolan lainnya;
-     Oleh karena itu maka kemudian hal-hal seperti itu bisa bertahan karena ada nilai-nilai yang terbentuk;

-     Nilai-nilai yang membentuk kebudayaan dalam masyarakat itu nilai-nilai yang bagaimana?
-     Karena di dalam masyarakat Jawa mempunyai kepercayaan adanya pertautkan dari segala sesuatu yang ada dengan sesuatu yang ada yang lain;
-     Jadi di sana cara berpikir orang Jawa itu adalah cara berpikir yang menyekutukan antara Tuhan, benda-benda ciptaanNya, peristiwa-peristiwa sosial, itu semua saling terkait tidak terpisah antara yang satu dengan yang lain;
-     Orang memahami hal itu bukan hanya dengan agama, tetapi juga melalui kebudayaan, melalui pendengaran, melalui nilai-nilai mistis, melalui keindahan kata-kata, kemudian juga melalui nada;
-     Itu seluruhnya digunakan untuk bagaimana memahami Tuhan, bagaimana memahami kehidupan;
-     Bagaimana kita ada dan akan kemana nanti kita; sangkan paraning dumadi, itu semua adalah bagian dari cara berpikir orang Jawa yang tidak memisahkan antara Tuhan, benda-benda, peristiwa dunia dalam alam manusia;
-     Oleh karena itu, setiap peristiwa yang ada akan selalu dipersoalkan, dipertanyakan dan dicari jawabannya;  
-     Dari segala kecanggihan seperti itu manusia melihat alam sebagai syarat kehidupan yang sangat pokok;
-     Dimana alam, di satu pihak memberikan unsur-unsur kehidupan namun juga alam memiliki kekuatan yang dapat menyebabkan penderitaan dan kematian;
-     Disana, manusia, orang Jawa menemukan unsur-unsur seperti bumi, langit, air, angin, api, kekonstanan fenomena alam, pola-pola kesamaannya serta keteraturan; seluruhnya merupakan konsep-konsep yang alamiah;
-     Di dalam melihat anasir-anasir seperti itu kemudian lahir konsep kosmologi;
-     Kosmologi itu apa?
-     Kosmologi adalah gambaran dari seluruh kosmos, kosmos dimaksudkan adalah langit dan bumi;
-     Langit dan bumi dianggap mewakili dimensi vertikal dan statis sebagai alam kang gumelar yang disebut dengan jagad ageng, makrokosmos, makrokosmik;
-     Kemudian kehidupan manusia dan masyarakat yang mewakili hubungan horisontal dan dinamis sebagai kenyataan batiniah yang disebut jagad alit, mikrokosmik;
-     Kemudian hubungan antar di dalam cara berpikir yang kosmologis, hubungan antara jagad ageng dengan jagad alit itu tidak bisa dipisahkan;
-     Manusia akan bertahan hidup manakala dia mampu menyesuaikan dengan lingkungannya;
-     Jagad alit harus menyesuaikan dengan jagad ageng dan orang per orang harus menyesuaikan dengan masyarakatnya, itu konsepnya;
-     Oleh karena itu nanti tradisi-tradisi kebudayaan yang ada di masyarakat termasuk kesenian itu adalah cara dari manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan alam maupun masyarakatnya;
-     Sehingga tradisi-tradisi itu yang diselenggarakan pada hari-hari tertentu, pada kesepakatan-kesepakatan tentang

-     Hub  antara jagad ageng dan jagad alit;
-     Tradisi2 kebudayaan yang ada masyarakatnya;
-     Disusunlah pandangan dunia, orientasi budaya à oang jawa gak slalu berpikir ke depan; ini pemikirian siklis
-     Orang jawa akan melihat peristiwa dg mitologis;
-     Cara sinkretis à mempertemukan kanan-kiri, atas-bawah, hitam-putih; konsep “wulung”
-     Orang jawa menhkairkan hub2 moral, diawali dg peristiwa diahiri dg dalil;
-     Simbol2 dlm wayang diakitkan dg perwatakan orang jawa;
-     Roso, merupakan kekuatan utama, seni tradisi dikaitkan dg itu;
-     Perubahan akan terjadi saat r
-     Budaya tardisi di kbm pada dasarnya budaya yg sulit berkembang krn budaya agraris, sc geografis dibatasi smudra, sulit berhubnguan  dg luar, utara dg peg
-     Riset itu dilakukan Kuntjotoningrat, struktur kuno spt glodhong
-     Standar budaya ganda, budaya banyumasan dan bagelenan;
-     Pola kulon kali adalah pola kraton kasultanan Jokja
-     Pola kidul kali adalah pola kasunanan solo
-     Pola uRutsewu itu pola anti-struktur;
-     Liwat proses2 yang lamban, berkembang namun karena pola tumpunya bersifat administratif, maka pergulatan 2 kebudayaan sangat lamban;
-     Budaya kebumenan miliki 2 tantangan; era Orba dan Globalisasi;
-     Era orba banyak kesenian rakyat yg hancur dan tak berkembang, seluruhnya tak tumbuh;
-     Pendekar2 silat Kebumen dulu bergabung dan membuat event yg ditonton masyarakat waktu itu; sekarang tak ada lagi;
-     Itu semua sebagai sebuah peristiwa sejarah dalam masyarakat lokal;
-     Ketoprak Sidototo alami kemajuan, tapi diambil oleh kepentingan politik;
-     Negara tak hadir saat budaya lokal terancam; ini masalahnya;
-     Pada arus globalisasi, dan hilangnya nilai kearifan lokal, dimana dulu masyarakat dididik melalui banyak hal, termasuk film2 Bollywood;
-     Budaya2 yang dikembangkan kelompok tradisi tertinggal, itu oleh karena vakumnya pemanfaatan teknologi;
-     Ini yang juga jadi persoalan
-     Apa yang diperlukan, kebangkitkan untuk mampu hadapi tantangan2 itu adalah:
-      Bagaimana masyarakat harus dibangunkan agar mampu manjawab tantangan ini
-      Bagaimana teknonlogi digunakan dalam pengembangan seni
-      Bagaimana kebudayaan daerah , sangat diperlukan “lokal genius” :
1.   Bagaimana kebudayaan lokal melakukan penetrasi dalam interaksi dengan budaya luar;
2. Mengakomodir kebudayaan luar yang maju;
3. Mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam;
4. Memberikan arah –orientasi- kebudayaan masyarakat;
-     Seni tradisi ditonton bukan hanya utk hiburan tapi untuk menumbuhkan rasa kebangkitan kreatif temukan idiom2 baru:
-     Seni tradisi berkembang kala seniman dan seterusnya;