This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 11 November 2018

Sembahyang Bhuvana


Pidato Kebudayaan DKJ
TIM, 10 November 2018



Selamat malam Bapak dan Ibu yang tercinta,
Tidak ada daya muslihat pada alam. Alam adalah angan-angan terhadap yang nirmala, segala yang murni dan baik. Alam tidak saja bumi yang dipijak, tempat bernaung, tetapi juga ruang menyejarah bagi manusia.
Alam menuangkan saripatinya menyangga kehidupan, tidak terkecuali, manusia juga tergantung terhadapnya. Filsafat Timur sarat akan ajaran-ajaran yang meletakan alam sebagai sumber pengetahuan. Sumber dalam pengertian ini, tidak melingkupi sebatas dimensi empiris dari alam, melampaui itu, alam dianggap sebagai tumpuan acuan moral. Dua aliran kuno India yakni Nyaya dan Vaisesika menguraikan secara epistemologis, alam dan proses pengetahuan manusia. Dua aliran ini menurut saya, merupakan pintu masuk ke dalam sistematika klasik Filsafat India, Sad Darsana, atau enam sistem filsafat.

Para pengikut aliran pemikiran Nyaya atau yang dikenal sebagai kaum Naiyāyikamenjelaskan bahwa objek daripada pengetahuan adalah elemen-elemen alam, yakni tanah, air, cahaya, udara dan ether[1]. Alam sebagai isian dari pengetahuan manusia dapat dicapai melalui persepsi, penyimpulan, perbandingan dan kesaksian[2]. Metode-metode ini merupakan ajaran khas Nyaya, yang disebut sebagai Catur Pramana atau empat cara untuk mendapatkan pengetahuan. Adapun, teori logika dan pengetahuan aliran Nyaya tidak mereduksi secara kering pemahaman alam sebagai objek pengetahuan. Mereka menyatakan bahwa proses persepsi atau pratyaksa dapat dipecah menjadi Savikalpa dan Nirvikalpa. Savikalpaadalah pemahaman yang terukur, juga komprehensif tentang objek. Tetapi, intelektualitas maupun pencerapan indrawi acapkali gamang saat menghadapi alam.  Nirvikalpa adalah perjumpaan manusia dengan alam yang liar, yang membuatnya mustahil mengetahui secara konklusif apakah alam itu.

Sementara itu aliran Vaisesika melandaskan teori pengetahuannya pada Dharma, bahwa segala cita-cita untuk mencari pencerahan diharuskan mengarah pada Dharma. Pada pengertian ini, harapan dari pencarian pengetahuan itu perlu ditegaskan demi kepentingan yang baik dan didasari motif yang arif. Baik Nyayamaupun Vaisesika sebagai aliran pemikiran yang secara khusus membicarakan asal-usul pengetahuan, keduanya tidak pernah mengisolasi topik epistemologis dari pertanggungjawaban etis. Filsafat melalui Nyaya dan Vaisesika adalah pertautan antara epistemologi, aksiologi dan ontologi. Tertera di dalam Vaisesika Sutra dengan berpedoman pada kebaikan, perlu diketahui bahwa pengetahuan yang benar adalah pemahaman terhadap esensi. Esensi yang dimaksud oleh pengikut Vaisesika adalah alam yang dibentuk oleh atom-atom atau Paramanudalam tranformasi atau parinama yang bersifat kekal.

Filsafat bagi aliran Nyaya dan Vaisesika bukan semata-mata persoalan permenungan intelektual mengenai dunia. Seseorang yang memiliki pengetahuan terikat dengan kewajiban-kewajiban untuk bersikap adil dan menegakan Dharma[3]. Premis-premis yang disusun didalam silogisme Nyaya misalnya, bukan relevan untuk menyusun pengetahuan tentang dunia saja atau untuk memeriksa kesahihan antara yang universal dan partikular. Latihan pikiran untuk selalu konsisten dan kritis, bukan bertujuan hanya untuk menyempurnakan retorika, tetapi harus mendorong seseorang itu untuk dapat bertindak adil dan berbelas kasih. Realisme dalam pemikiran Nyaya menempatkan manusia sebagai subjek yang memiliki kebebasan untuk bertindak, dan ia selalu terikat secara etis terhadap pilihan-pilihannya.[4]

Apakah arti suatu pencarian filosofis dari perspektif Nyaya dan Vaisesika? Metode-metode filsafat ditempuh dengan seksama untuk menelusuri keheranan dan keterpukauan kepada alam. Belajar dari alam berarti melihat bahwa kehidupan terus bergulir, laju transformatif adalah keniscayaan. Itulah proses alamiah, ada kelahiran, kehidupan lalu kematian, kemudian seterusnya. Manusia tidak dapat menyangkal proses ini. Pemikir Vaisesika menyadari bahwa interaksi manusia dengan dunianya mendorongnya untuk mengkontemplasikan persoalan kebahagiaan dan kesengsaraan. Manusia ingin menjadi abadi, tetapi tubuhnya diselubungi duka, sebab segala-galanya tidak kebal dari perubahan[5].

Pengetahuan adalah harapan untuk terbebas dari kerterpasungan manusia pada duka. Tujuan utama dari pengetahuan menurut Nyaya adalah melepaskan manusia dari kesengsaraan.[6] Hidup yang sengsara adalah kehidupan yang jauh dari pengetahuan, hidup yang abai pada kehidupan yang harmonis dengan alam. Merefleksikan kedermawanan alam, kita dapat mengetahui bahwa kehidupan adalah anugerah, peristiwa istimewa yang perlu dirayakan dengan penghayatan dalam menjalani keseharian kita.

Penghancuran yang terjadi pada alam, sejatinya adalah pemusnahan pengetahuan. Dibinasakannya kebijaksanaan yang sepatutnya menjadi bagian dari jatidiri manusia, hingga yang tersisa adalah tanah-tanah yang tandus, samudera yang hening tanpa gumaman terumbu karang, serta langit yang senyap dari kicauan burung-burung. Bersamaan dengan menghilangnya hutan purba kita, lenyap pula roh harimau belang yang menjaga keselarasan. Lantas siapakah manusia ketika alamnya tergerus menuju kepunahan? Pantaskah ia dinyatakan sebagai makhluk yang berbudi, saat ia telah gagal menjaga keseimbangan yang rentan tersebut ?

Naskah Tao Te Ching yang menjadi sumber utama untuk aliran Filsafat Cina, Taoisme mengatakan bahwa langit dan bumi bertahan dan berkesinambungan dikarenakan keberadaan mereka tidak berpusat untuk dirinya sendiri. Ajaran Tao ini mengajukan suatu prinsip moral mengenai pengorbanan diri yang diserap dari permenungan terhadap alam. Sifat dari pohon adalah menjadikan tubuhnya sebagi sumber penghidupan seluruh makhluk di hutan hujan. Tubuhnya yang besar dan menjulang tinggi menjadi kanopi tempat berlindung berbagai makhluk hidup, ia menyerap air kemudian mengedarkannya. Dedaunannya menyerap cahaya matahari yang kemudian menghasilkan energi, membuat hutan hujan menyala, berdegup penuh vitalitas. Alangkah indahnya proses alamiah itu, serta betapa malangnya manusia yang gagal mempelajari gerak alam yang elegan itu.

Perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi bumi kita. Perubahan ekstrem ini diakibatkan peran manusia, meningkatnya produksi emisi yang terjadi dikarenakan tidak terkendalinya pembangunan. Dampaknya adalah pencemaran pada tanah, air dan udara dalam skala masal, hingga kepunahan spesies-spesies. Bumi tengah memanas, kutub utara kehilangan lapisan-lapisan esnya, lautnya mendidih sehingga mematikan ekosistem terumbu karang. Perubahan-perubahan ini bukanlah gerak-gerik evolutif alam yang membutuhkan rentang masa yang panjang. Ketidakseimbangan ini disebut sebagai era antroposen, suatu periode yang ditandai dengan campur tangan aktivitas manusia yang memberi dampak global terhadap ekosistem di Bumi.

Kacaubalau kondisi lingkungan hidup ini dapat dianalisis menggunakan pendekatan Nyaya dan Vaisesika. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pos-Industri sedemikian pesat, manusia membusungkan dadanya dan berbangga hati terhadap mesin, gawai dan gedung yang mereka ciptakan. Namun, kemuliaan apakah yang dapat dicapai melihat tangisan orang utan, harimau, gajah dan badak yang terbakar bersama hutannya yang dipakai manusia untuk industrinya? Inilah kekhawatiran cendikiawan Nyaya dan Vaisesika, saat keilmuan diputuskan dari konsekuensi etisnya.

Manusia terpatah dari alam, ia memisahkan dirinya dari makhluk hidup lainnya, kemudian mengukuhkan dirinya sebagai penguasa di puncak hierarki. Ia merasa dirinya superior, dan berhak mendahulukan kepentingan dirinya sendiri. Pengetahuan yang pada mulanya melingkar tertambat pada alam, perlahan-lahan sirna, tertimbun dengan angkara dan keserakahan manusia. Kerinduan terhadap pengetahuan yang sanggup menumbuhkan kembali simpul hubungan dengan alam dapat dijumpai dalam naskah Upanisad. Salah satu bagian dari teks yang bernama Chandogya Upanisad[7] bercerita tentang dialog antara dua tokoh, Uddalaka dan Svetaketu. Svetaketu putra dari Uddalaka berperilaku angkuh merasa pendidikan yang ia tempuh telah membuatnya seseorang yang paling pandai mengenai kehidupan.

Uddalaka bertanya pada putranya, “apakah yang sesungguhnya esensi dari alam semesta ini?” Svetaketu tersadar dari kesombongannya, ia tidak sanggup menjawab pertanyaan itu. Uddalaka mengajak putranya untuk melihat ke sekeliling mereka, keberadaan mereka tidak luput dari alam. Segala pepohonan, beragam makhluk hidup sesungguhnya memiliki intisari yang sama dengan manusia, yakni atman. Inti yang halus ini merupakan unsur yang memungkinkan detak kehidupan. Svetaketu kemudian mengatakan Tat Twam Asi, frasa yang menjadi fondasi etis dalam filosofi Hindu. Tat Twam Asi berarti Aku adalah Engkau, melalui ajaran Uddalaka pengertian Engkau dapat ditafsir sebagai keseimbangan relasi antara diriku dengan alam. Upanisad sungguh kaya akan argumentasi-argumentasi yang memperkuat prinsip kesatuan antara jiwa manusia dengan Hiranyagarbha atau jiwa semesta.

Menghilangnya alam liar dalam kehidupan manusia selain menimbulkan malapetaka serta kebencanaan, dari perspektif eksistensialisme, menimbulkan pula disorientasi. Di manakah dan kemanakah arah bagi manusia saat hutannya dibinasakan, gunungnya ditambang, teluknya ditimbun? Bagi masyarakat adat Bali, hidup berpusat pada Gunung Agung. Gunung Agung adalah entitas yang dijadikan titik mula segala arah. Mereka melihat kepada Gunung Agung sebagai pembimbing kehidupan, mahaguru yang melimpahi mereka dengan pengetahuan dan kesejahteraan. Arah mata angin mereka dimulai dengan Gunung Agung di utara atau kaja, lalu selatan atau kelod yang berada di bawah Gunung Agung, kemudian timur atau kangin dan barat atau kauh[8].

Hadirin yang saya hormati,
Generasi saya hidup terlilit dengan teknologi digital, kami sulit memisahkan diri dari berkembangnya industri teknologi tersebut. Keseharian masyarakat didikte dengan pengakuan yang dangkal, makna diukur dari seberapa populer gambar disukai di laman media sosial. Studi terbaru menyatakan bahwa kebahagiaan mental menurun dikarenakan citra-citra dalam sosial media yang menampilkan keindahan, kebahagiaan, dan status sosial yang tidak realistis[9].

Ini yang dikhawatirkan oleh Martin Heidegger[10] dan Jacques Ellul[11] saat mengatakan bahwa teknologi dapat terlepas dari kendali manusia, dan menjadi rantai serta borgol ketidakbebasan bagi manusia. Nampaknya paranoia mereka tidak terlalu berlebihan, teknologi robotik kini tengah mengembangkan tidak saja robot-robot dengan kecerdasan buatan, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan emotif. Tentunya, fiksi ilmiah yang menggambarkan para robot akan menduduki dunia adalah skenario yang terlampau jauh.

Persoalan yang ingin saya soroti adalah betapa motif-motif inovasi masih berkisar pada pengejaran narsistik manusia. Seperti halnya Victor Frankenstein yang tidak memahami kekuasaan yang ia miliki, dari tangannya ia tempa sains untuk memenuhi kegilaannya. Ia memompa nyawa ke dalam suatu makhluk tanpa mempertimbangkan aspek etis dari tindakannya itu. Pada akhirnya ciptaannya berbalik menjadi musibah baginya. Kita dimabukkan dengan gemilang gawai-gawai yang menjanjikan kecepatan, ketersambungan, kebahagiaan, tapi manusia modern tidak pernah merasa terpuaskan. Segala mesin-mesin ini semakin menjauhkan manusia dari rasa utuh.


Tetapi, apakah teknologi perlu begitu ditakuti? Haruskah relasi manusia dengan alat-alat buatannya begitu suram? Justru menurut saya, ketidakpahaman kita terhadap teknologi tersebut yang menyebabkan berbagai macam petaka. Dari penggunaan yang terlampau remeh, hingga penyalahgunaan yang mendorong kehancuran pada planet ini. Pengertian serta sensibilitas kita terhadap teknologi masih pada lapisan permukaan saja. Imajinasi serta hati kita belum optimal membayangkan masa depan teknologi yang dapat mendekatkan kita dengan alam.

Untuk kelas Filsafat Teknologi saya mengajak para mahasiswa mengunjungi Planetarium. Suasana di dalam Planetarium mendadak riuh tatkala menjadi gelap kemudian dipenuhi milyaran bintang-bintang. Ratusan pengunjung di dalam ruangan itu merasa sedang menjelajahi angkasa, suara tepuk tangan mengiringi saat langit-langit planetarium menunjukan berbagai macam rasi bintang; Orion, Gemini, Pisces, Hydra dsb. Saya memahami bahwa bintang-bintang di Planetarium itu bukanlah angkasa yang sejatinya. Langit-langit kubah ditembak dengan proyektor yang terletak di tengah ruangan. Simulasi itu membawa ketakjuban, untuk sejenak semua pengunjung sungguh-sungguh merasa tengah menari di alam raya.

Pada kenyataannya, malam yang cerah bertabur bintang telah berada di atas kita selama ini. Malam hari itu saya melintasi jalanan, tetapi tidak ada langit berbintang di atas saya, hanya jalan layang yang menudungi perjalanan. Hati saya teriris, polusi udara, juga polusi cahaya telah merenggut langit berbintang dari pengalaman kita. Kenangan saya melihat pagelaran besar langit berbintang semacam di Planetarium hanya terjadi setahun sekali secara nyata. Semenjak kanak-kanak, pada malam hari raya Nyepi saya akan tertidur di halaman rumah, menatap ke angkasa. Tidak ada cahaya apapun kecuali pancaran bintang-bintang yang bergumul di dalam Bima Sakti. Bali begitu senyap hingga saya merasa detak jantung ini berdegup bersama dengan gerakan Bima Sakti.

Melalui teknologi pula rahasia kemegahan alam raya ini tersibak. Menggunakan teleskop Hubble yang terletak di luar angkasa, kita dapat meneropong kehidupan bintang terjauh bernama Icarus yang berjarak miliaran tahun cahaya. Teknologi dapat mengungkapkan betap luasnya antariksa, mendekatkan kita pada ketakberhinggaan itu. Saat ini pembentukan alat-alat teknologis masih dimanfaatkan demi keuntungan cepat ekonomis. Sehingga membuat keberadaan alat-alat ini terus beradu dengan yang tersisa dari alam liar kita.

Gairah dari keberadaan teknologi masih demi kepentingan dominasi untuk menundukkan alam, juga sebagai alat subjugasi sesama manusia[12]. Tujuan yang sangat sempit nan picik, untuk melanggengkan kelas-kelas dalam masyarakat, juga memeras sumber daya yang berada pada alam. Teknologi tidak dimiliki serta dioperasikan secara demokratis, ia menjadi alat kekuasaan, berwujud sebagai bahasa, senjata juga mesin[13]. Dalam pengertian ini, teknologi berfungsi deterministik dalam sistem yang mengatur pola pikir hingga budaya manusia, ia bukan semata-mata perkakas yang bersifat netral.

Lantas, apakah yang dapat mengubah orientasi teknologi yang sekarang ada. Menimbang krisis lingkungan hidup yang mendera bumi ini, panggilan perubahan itu kini menjadi sirene yang nyaring. Perubahan menjadi suatu keharusan sebab saat ini kita tengah berpacu melawan kepunahan. Bencana iklim yang akan semakin memburuk mendorong kita untuk menggunakan sains dan teknologi secara bijaksana[14]. Unifikasi suara para ilmuwan dalam laporan IPCC (Intergovernmental Panels on Climate Change)[15] menunjukan bagaimana katastrof pemanasan yang terjadi dikarenakan karbon yang diproduki manusia. Mereka menegaskan bahwa kenaikan suhu bumi sebanyak 1.5’C akan berakibat pada kebencanaan iklim yang saat ini pun mulai kita rasakan. Jika melebihi 1.5’C kita akan kehilangan spesies-spesies seperti terumbu karang dan serangga yang krusial untuk proses penyerbukan.
Melampaui 1.5’C, 90 % dari terumbu karang akan menghilang dikarenakan pemanasan air laut yang menyebabkan asidifikasi.

Kepunahan terumbu karang akan berdampak domino terhadap kehidupan laut, sebab terumbu karang adalah penyangga ekosistem laut yakni sebagai habitat makhluk laut lainnya. Perubahan revolusioner perlu dilakukan jika kita ingin menyelamatkan bumi beserta kemanusiaan kita.
Perubahan yang radikal itu hanya dimungkingkan jika ada perombakan dalam perspektif teknologis manusia. Pola ekonomi warisan era industrialisasi harus diubah jika kita ingin menekan jejak karbon. Kegiatan ekstrasi yang menyebabkan musnahnya alam liar harus dihentikan, manusia tidak dapat lagi bersandar pada bahan bakar fosil[16]. Sistem konsumsi kita pun harus diubah, pengadaan pangan melalui pola monokultur tidak dapat lagi dipertahankan. Begitu juga keberadaan kota-kota beserta pembangunan infrastruktur, transportasi maupun manufaktur, harus mengalami pembongkaran.

Revolusi ekologis ini hanya dapat dilakukan disokong dengan teknologi yang optimal dan bertanggung jawab. Pada bidang energi misalnya, eksplorasi energi terbarukan yang memanfaatkan air, angin dan tenaga surya, tidak saja ramah terhadap lingkungan hidup, tetapi akan berdampak pula pada struktur masyarakat. Relasi ekonomi, sosial dan politik yang pada awalnya berfungsi hierarkis, sarat akan arogansi dan dominasi–manusia terhadap alam kemudian manusia terhadap manusia yang lainnya, dapat dipatahkan dengan kehadiran teknologi yang memperluas demokratisasi.

Optimisme harus mengiringi era baru sosial ekologis, harapan terhadap humanisme yang tidak terpisahkan dari alam harus dirintis sedini mungkin. Sains dan teknologi memang tidak terpisahkan dari upaya untuk membangun politik ekologi yang tidak sekadar jargon, serta impian para utopis[17]. Fakta-fakta mengenai kehancuran ekologis semestinya menempatkan energi keilmiahan menjadi sedemikian genting. Carl Sagan menyampaikan dalam karyanya Cosmos, bahwa melalui sains dan teknologi kita dapat mengungkap pengetahuan mengenai jagat raya ini, tetapi kita harus menyadari bahwa rumah dan tempat bermukim kita adalah di bumi[18]. Kita memiliki kekuasaan untuk menjaga Bumi dengan segenap kemampuan saintifik dan teknologis.

Kita harus menyongsong semangat zaman yang baru, yang meninggalkan kecenderungan manusia yang selalu destruktif terhadap alam. Jika ia mampu merobohkan, maka kita harus dapat membayangkan bahwa manusia juga sanggup merekonstruksi[19]. Mempelajari kekurangan serta keterlambatan nalarnya lalu menggunakan segenap intelektualitasnya untuk menebus kesalahan-kesalahan itu. Kecerdasan manusia selama kurang dari 200 tahun membuktikan bahwa ia berdaya menciptakan terobosan-terobosan teknologis, kini yang dibutuhkan adalah komitmen untuk mengarahkan penghayatan ilmu pengetahuan tersebut demi kepentingan yang lebih besar, yakni untuk menjaga planet kita.

Hadirin yang baik,
Perempuan sedang bergerak di seluruh penjuru bumi, mereka berada di depan, memimpin suatu revolusi ekologis. Pesan mereka adalah keadilan ekologis, dunia yang tidak lagi dikendalikan dengan sistem yang diskriminatif, yang menceraikan manusia dari alamnya. Ekofeminisme bekerja secara serempak, pada tataran pengetahuan, juga menjejakkan basisnya pada gerakan sosial. Ekofeminisme adalah kritik yang lantang terhadap bagaimana pengetahuan selama ini dibangun dengan niat untuk menjadikan alam sebagai yang inferior. Kebudayaan kita menempatkan manusia sebagai penguasa yang berjaya di atas alam. Kedudukan ini dikukuhkan oleh keunggulan akal budi manusia. Ekofeminisme hadir untuk mempersoalkan itu semua, segala asumsi-asumsi yang umat manusia terima tanpa sebersit rasa curiga maupun bersalah.
Ekofeminisme menuding bahwa kebudayaan yang berjarak dengan alam adalah bentuk pengelabuan. Mereka yang mengelabui publik memotong keindahan alam dan mengemasnya menjadi produk-produk untuk dijual. Segala darah dan daging satwa diperjualbelikan, atas nama industri, laut dihina menjadi tempat pembuangan limbah.

Ekofeminisme sebagai gerakan sosial, melihat cerdik menembus segala kiat pengelabuan itu. Para perempuan-perempuan itu pun menyimpulkan bahwa saat pengetahuan dibangun oleh para patriark, mereka mendominasi alam sebagai objek yang harus ditundukan, bersamaan dengan itu, mereka pun memasung perempuan. Solidaritas perempuan kepada bumi adalah jeritan sepenanggungan, bahwa tubuh perempuan bertubi-tubi menjadi sasaran kuasa dan hegemoni, begitu pula yang terjadi pada tubuh bumi. Kontrol terhadap tubuh bumi, demi pembangunan, demi pertumbuhan ekonomi, dan peningkatan kapital. Serupa dengan perempuan yang tubuhnya dikendalikan oleh norma kesantunan, dikriminalisasi tindak-tanduknya, dibatasi kebebasannya. Eksploitasi terhadap alam dan perempuan bersumber dari gairah untuk mendominasi.

Dalam Ekofeminisme, kebudayaan semestinya tidak antagonistik dengan alam, sebab manusia dapat berkomunikasi dengan alam dan membangun diskursus baru[20]. Segala pengetahuan seharusnya dibentuk dengan pertimbangan terhadap suara alam. Kehidupan dari perspektif para Ekofeminis, adalah penghayatan kolaboratif antara manusia dengan alam. Vandana Shiva dalam ceramahnya mengatakan bahwa;
“Threefold Happines (Tri Hita Karana) when you do good farming, with good seeds, you are of course taking care of the Universal Law….When you do good farming, you actually work with nature, built up nature. Only in farming we give back. Every other economic activities, we take from nature. Only farming we can give back to the soil.”[21]

Vandana Shiva seorang ekofeminis kelahiran India, mengkritik bagaimana kegiatan pertanian yang pada permulaannya adalah relasi keseimbangan antara, manusia, alam dan Tuhan, kemudian berubah dikarenakan pola kehidupan modern yang memperlakukan pangan terbatas sebagai komoditas. Pertanian, atau agroekologi, menggunakan perspektif ekofeminis Vandana Shiva adalah kerjasama yang organik, relasi simbiotik yang justru memperkuat alam itu sendiri. Kita dapat melihat filosofi ini bekerja dalam pertanian di Bali, melalui keberadaan Subak: sistem irigasi tradisional, juga melalui dilestarikannya benih-benih lokal.

Shiva menggugat keberadaan korporasi-korporasi yang menghancurkan tradisi pertanian yang telah berlangsung selama ribuan tahun lamanya. Kedatangan industri ini merusak tata relasi yang mengaitkan kegiatan pertanian dengan spiritualitas di India. Bagi Shiva, memperjuangkan benih lokal adalah bentuk Satyagraha, seruan politis Mahatma Gandhi untuk setia pada tanah air[22]. Ekofeminisme Shiva menempatkan air, juga benih sebagai the commons, sumber kehidupan yang dimanfaatkan secara kolektif dan bertanggung jawab. Problem utama menurut para ekofeminis adalah bagaimana alam dibajak oleh perusahaan-perusahaan yang menerapkan sistem monokultur sehingga memusnahkan kekayaan diversitas alam[23]. Selain itu, mereka merampas benih-benih dari masyarakat kemudian merekayasa secara genetik. Setelah itu benih-benih ini dipatenkan sebagai milik korporasi.

“Seeds saving is Dharma” ujar Shiva dalam balutan sari berwarna hijau. Saya memandangnya, dan merasakan bagaimana kecintaan terhadap benih sejatinya adalah kecintaan terhadap kehidupan. Benih bukanlah benda mati, asal kehidupan termuat didalamnya. Manusia menanam benih secara baik, bekerja sama dengan alam untuk merawat ekosistem sawah. Petani membisikan mantra dalam setiap benih yang ditanam, memberikan persembahan pada kuil-kuil mungil yang diperuntukan bagi Dewi Bumi.

Namun keberadaan Subak di Bali menjadi semakin rapuh, meski dengan rekognisi yang telah diberikan oleh UNESCO pada tahun 2012, bahwa Subak adalah warisan budaya dunia[24]. Subak bagi nenek moyang kita tidak saja berfungsi sebagai pengasil air dan makanan, melebihi itu, Subak adalah satuan nilai-nilai yang merekatkan tiga unsur kehidupan, Pawongan (manusia), Palemahan (alam) dan Parahyangan (Tuhan). Kini nilai-nilai itu berangsur-angsur memudar, digeser oleh industri pariwisata yang tidak berkelanjutan. Lahan sawah kian beralih fungsi, data BPS pada tahun 2010 mengatakan kurang lebih 1000 Ha setiap tahunnya sawah-sawah menghilang.[25]

Terkikisnya sawah-sawah dan pura-pura Subak berarti terpenggalnya manusia Bali dari akar spiritualitasnya. Menggunakan sudut pandang ekofeminis kita dapat menguraikan makna-makna simbolik yang begitu erat antara tanah dengan Dewi Bumi, benih dengan Dewi Sri, juga air dengan Dewi Danu. Tanah, benih dan air bukanlah objek-objek mati. Mereka adalah elemen-elemen kosmos yang menggulirkan ritme kehidupan. Subak menyimpul manusia, alam dan Hyang menjadi satu. Layaknya alur yang gerakannya saling menjaga dan menguatkan.

Saya menatap dengan hati yang lirih, pura-pura Subak yang tidak lagi memiliki ekosistem maupun pemujanya. Kematian yang sakral telah terjadi beriringan dengan menghilangnya alam. Pencemaran terhadap tanah dan air adalah bengisnya kejahatan manusia terhadap kedermawanan alam. Dalam ekofeminisme budaya, sosial dan politik harus berporos pada alam. Alam sarat dengan nilai-nilai yang penting untuk dipelajari. Air misalnya, Pura Ulun Danu yang terletak di Danau Beratan, dihormati sebagai tempat bersemayamnya Dewi Danau. Sang Hyang Danu diyakini memberikan anugerah air yang mengalir ke seluruh sawah-sawah dan pemukiman. Air itu diberikan dengan sepenuh rasa cinta dan belas kasih.

Air adalah inspirasi untuk menjadi adil. Keberadaan Subak sebagai sistem irigasi tradisional membuktikan bahwa nenek moyang kita memikirkan secara matang dan penuh kepekaan, bahwa segala pembangunan harus mempertimbangkan alam. Air bukan hanya milik manusia, air adalah pemberian alam kepada setiap makhluk hidup. Air dibagikan secara demokratis, melalui rapat-rapat subak, di mana seluruh anggota berada dalam posisi setara. Air digunakan secukupnya, dan selalu untuk kepentingan bersama. Sebelum masa penanaman bibit, hingga masa panen, tidak putus-putusnya masyarakat petani menguntai doa terima kasih kepada para dewata.

Para ekofeminis menyusun pengetahuannya berdasarkan suatu intuisi bahwa alam selalu berbicara pada kita. Menentang bagaimana selama ini bahasa patriarki meniadakan suara alam juga perempuan[26]. Menyelami alam mendorong kita untuk membentuk pengetahuan yang mengarah pada keselarasan. Kita juga dapat memahami etika secara lebih luas, tidak saja empunya manusia, tetapi juga seluruh makhluk yang berada di bumi. Etika kepedulian adalah pertimbangan etis yang muncul dari kasih sayang. Rasa kasih sayang ini menerobos tribalisme demi kelompok sendiri, tetapi kasih sayang yang transendental, terhadap seluruh isi alam.

Kepedulian dan kepercayaan menjadi pilar-pilar dalam menciptakan relasi. Alam menjanjikan perbedaan, keragaman yang saling melengkapi, hal ini sepatutnya mengilhami kita untuk membuka diri terhadap keanekaragaman perbedaan dan merayakannya sebagai suatu karunia. Segala ideologi yang mencari peperangan, konflik juga permusuhan menjadi begitu usang. Ekofeminisme mengupayakan suatu dunia yang tidak lagi sakit dengan kesenjangan, opresi dan kebencian.

Bapak dan Ibu hadirin sekalian,
Cinta sejati saya adalah Teluk Benoa. Pertemuan kami pertama kalinya terjadi pada saat saya masih kanak-kanak. Kakek dan Nenek mengajak saya melakukan Segara Kertih, persembahyangan serta napak tilas ke pura-pura yang terletak di pesisir Bali. Cinta dari perjumpaan pertama itu tidak surut oleh waktu. Meski saya berada jauh di kota untuk merampungkan studi, pikiran dan hati saya selalu bersama dia.

Ketika berita mengenai rencana pemerintah daerah bersama investor hendak membangun megaproyek pariwisata di perairan Teluk Benoa awal tahun 2013 itu, saya merasa kalut. Kekalutan itu bercampur baur dengan rasa kecewa terhadap bagaimana pemerintah semestinya dapat dipercaya oleh masyarakatnya bukan berbalik menjadi bagian dari permasalahan.
Tetapi polemik di Teluk Benoa membongkar suatu siasat buruk terkait bagaimana kekuasaan disalahgunakan. Dibalik kegundahan melihat kekuasaan berupaya merenggut Teluk Benoa, saya menyaksikan suatu titik balik pada masyarakat Bali. Fajar baru di mana masyarakat tidak lagi lumpuh oleh cengkraman kekuasaan. Kami menyadari daya yang terletak pada suara kami.

Melewati berbagai aral serta rintangan, Teluk Benoa dinyatakan oleh Pesamuhan Sabha Pandita sebagai kawasan suci[27]. Komite khusus yang beranggotakan para pendeta Hindu mengkaji, mendiskusikan serta memutuskan bahwa Teluk Benoa merupakan kawasan sakral yang harus dipertahankan. Adapun pertimbangan dari para sulinggih berpegangan pada Bhisama Kesucian Pura, yang tertera dalam Keputusan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, yang diterbitkan semenjak tahun 1994[28]. Bhisama itu mengatakan bahwa kawasan suci adalah gunung, danau, campuhan (pertemuan sungai-sungai), pantai, laut diyakini memiliki nilai-nilai kesucian[29].

Kesucian dalam konteks Teluk Benoa dapat dipahami secara kritis. Alam dipandang sebagai yang sakral, tetapi kesakralan ini datang dari suatu kesadaran bahwa alam yang seimbang dan lestari akan merawat manusia menjadi baik. Alam liar disucikan karena pada tempat-tempat itulah manusia mendapatkan pencerahannya, ia dapat menyadari peran dan tanggung jawabnya melalui pembelajaran dengan alam.

Karya Kekawin Anyang Nirartha yang digubah oleh Danghyang Nirartha memberikan ilustrasi yang indah bagaimana alam menjadi sumber pencerahan. Danghyang Nirartha[30] adalah seorang Pendeta Siwa yang melakukan perjalanan mengelilingi pulau Bali untuk menetapkan tradisi Hindu Siwa yang diwariskan hingga saat ini. Anyang Nirartha erat sekali keberadaannya dengan Teluk Benoa, sebab syair-syair yang dituliskannya merupakan keharuan serta rasa terpesona Danghyang Nirartha melihat keindahan Teluk Benoa, Nusa Dua, Pulau Pudut hingga Sakenan[31].
Syair-syairnya begitu erotis menganalogikan lekuk pantai seperti lipatan kain sang kekasih. Puisi cinta ini merupakan bentuk syair Tantra, suatu bentuk pemujaan kepada Mahadewa Siwa melalui penjelmaannya Dewa Asmara, atau Kama[32].

Saya bacakan sepenggal dari syahdunya kekawin itu;

“Dengan cepat ia bergegas pulang pada sore hari manakala air laut menyurut, berjalan menyusur pantai yang indah itu dan ia pun terpesona melihat keindahan yang terbentang…”

“Liuk garis pasir pantai yang memukau tampak bergelung-gelung seperti lipatan-lipatan kainmu”

“Ada belanak terlihat berkilat cahayanya terus berkelebat mengarah ke air laut yang dalam, tapi si burung bangau bergerak cepat, datang berdiri menundukan paruh pada riak itu dan berhasil mematuknya”

“Ada perahu kecil terlihat samar-samar di tengah laut serta layarnya terlihat seperti bunga melati yang semerbak pada sanggul-terurai, sambaran burung camar yang seakan mencium buih seperti lengkung alis.”[33]

Saya menjelajahi Teluk Benoa dengan hati yang riang bersama dengan para sahabat saya yang berasal dari desa Tanjung Benoa. Kami bermain di Teluk Benoa di kala ia surut, menatap bangau-bangau yang berkumpul mencari ikan-ikan kecil. Kami terduduk di sisi pantai menunggu matahari terbenam, kala itu terlintas di benak saya kata-kata Aldo Leopold, seorang pakar lingkungan hidup, mengenai apakah yang dianggap benar itu? Sesuatu adalah benar bila hal tersebut menjaga integritas, stabilitas dan keindahan dari keseluruhan komunitas biotik[34].

Kata-kata itu terwujud dalam Teluk Benoa, ia adalah kebenaran itu. Ia merupakan manifestasi kecerdasan alam dalam menyangga seluruh makhluk yang bergantung kepadanya. Karakter Teluk Benoa sebagai wilayah pasang surut (intertidal) vital untuk dikonservasikan, karena ia merupakan pusat dari keanekaragaman hayati di wilayah pesisir Selatan Bali[35]. Berbagai spesies flora dan fauna hidup di dalam Teluk Benoa, seperti; mangrove, terumbu karang, padang lamun, burung, ikan, penyu, dsb. Teluk Benoa merupakan habitat kritis, khususnya bagi hutan mangrove yang sebarannya terluas di Bali. Salah satu fungsi penting dari hutan mangrove di Teluk Benoa adalah wilayah asuh dan tempat berlindungnya spesies-spesies seperti; ikan, kerang dan udang yang teramat penting bagi sehatnya rantai makanan di lautan.[36] Segala pembangunan yang kini terjadi di sepanjang jalan tol atas laut, pelebaran bandara dan pelabuhan tentunya menimbulkan beban pada ekosistem hutan mangrove yang semakin terancam.

Mata saya memicing ke atas, melihat kepakan Elang Tiram yang memutari Teluk Benoa melayang dengan sentosa. Saya menyantap aneka rumput laut, Bulung Boni dan Bulung Sangu yang dicampur dengan parutan kelapa, mereka tumbuh di Teluk Benoa. Sebagian besar masyarakat yang hidup disekeliling Teluk Benoa bekerja sebagai penggiat wisata laut, selain itu mereka bekerja sebagai nelayan tradisional dan petani rumput laut yang menggantungkan kehidupan ekonominya pada Teluk Benoa. Alangkah tidak adilnya rencana megaproyek reklamasi Teluk Benoa. Proyek yang akan menimbun 700Ha wilayah perairan tersebut akan melenyapkan kesepadanan yang ada.

Kampanye menolak reklamasi Teluk Benoa di Bali adalah kerja gotong royong antara berbagai lapisan masyarakat.[37] Gerakan masyarakat sipil yang besar ini telah menjangkau publik global. Dengan pamflet ikonik karya Alit Ambara, simbol penolakan reklamasi bergema-gema menjadi genta harapan. Kampanye Bali Tolak Reklamasi adalah bukti kekuatan seni menjangkau raga dan jiwa manusia. Seni yang bergerak menggugah publik untuk lantang bersuara. Ini tercermin dari lagu mars Bali Tolak Reklamasi bergaung-gaung dalam derap pawai mereka,
“Bangun Bali, subsidi petani, kita semua makan nasi, bukannya butuh reklamasi.”


Apa yang sesungguhnya terjadi di Teluk Benoa adalah pertarungan untuk ruang demokrasi bagi masyarakat[38]. Sudah sewajibnya Teluk Benoa sebagai ekosistem dijaga bersama demi keberlangsungan. Dalam pengertian ini Teluk Benoa bukanlah properti, atau sebidang ruang yang diperjualbelikan. Keadilan ekologis menekankan pada perluasan makna hak yang tidak saja dimiliki manusia, tetapi lebih radikal lagi, dimiliki oleh lingkungan hidup. Teluk Benoa adalah subjek yang memiliki hak biotik. Salah satu rencana daripada pihak pengembang untuk pulau rekayasa hasil reklamasi adalah mengubah fungsi hidrologi Teluk Benoa. Mereka hendak menghilangkan pasang surut di Teluk Benoa demi kepentingan komersil semata. Tidakkah Teluk Benoa memiliki hak untuk mempertahankan sifat-sifatnya? Tidakkah kita memiliki kewajiban untuk selalu menjaga stabilitas dan keindahannya?

Kita harus mengartikulasikan lebih tajam kosa-kata politik dan demokrasi dengan cara melibatkan kepentingan untuk melestarikan komunitas biotik. Politik yang memiliki orientasi terhadap lingkungan hidup akan membela kebutuhan teluk untuk pasang surut, sebab pasang surut adalah daya teluk untuk memperkaya air laut segar yang memproduksi fitoplankton[39] dasar makanan pada ekosistem laut sehingga biodiversitas tetap terjaga. Pasang surut adalah cara Teluk bernafas, nafas itu semakin tersenggal-senggal dihimpit dengan pembangunan. Publik harus menggunakan kehendak politiknya, mengawasi dan mendorong pemerintah untuk menciptakan kebijakan-kebijakan yang bermotif ekologis agar nafas teluk senantiasa lestari.

Hadirin yang terkasih,
Dari pesisir Bali Selatan, saya ingin mengajak anda semua ke wilayah Timur yakni menuju Gunung Agung[40]. Tersembunyi di dalam lebatnya ayunan bambu, Dusun Geriana Kauh terletak di kaki Gunung Agung, tepatnya 8 km dari kawah gunung. Desa itu dikelilingi sawah-sawah, juga nyiur yang melambai berwarna hijau keemasan. Banjar Geriana Kauh di Kabupaten Karangasem terdiri atas 177 kepala keluarga, yang hampir keseluruhannya bekerja sebagai petani. Pada bulan oktober ini mereka menjalankan serangkaian ritual terkait dengan pemujaan pada Dewi Bumi.

Persembahan yang dipersiapkan oleh warga diletakkan di dalam pura Pusah. Persembahan yang disebut sebagai salaran, terdiri atas Panca Pala. Panca Palaatau lima jenis hasil bumi terdiri dari Pala Mula tumbuhan seperti tebu dan bambu, Pala Gantung hasil bumi yang dipetik seperti durian dan nangka, Pala Bungkah atau umbi-umbian, Palawija seperti jagung dan padi lalu yang terakhir Pala Medonberbagai dedaunan seperti sirih. Pemberian alam ini ditata sedemikian rupa, digantung ke dalam pikulan yang terbuat dari bambu. Ikatan-ikatan padi menjuntai , begitu pula wangi buah nangka dan durian yang diyakini membuat Dewa Brahmadan Wisnu tersenyum.

Tempat ini bagi saya adalah relung suaka, dari keputusasaan betapa banalnya manusia melakukan perusakan terhadap lingkungan. Krama (masyarakat adat) Geriana Kauh mengajarkan saya bahwa kita harus memiliki Sraddha (kepercayaan) bahwa perubahan dimulai dari ketulusan hati serta tekad. Masyarakat Geriana Kauh pernah mengalami masa-masa terberat kegagalan panen. Lahan menjadi begitu tandus dikarenakan peralihan sistem pertanian pada masa Revolusi Hijau. Dusun mereka terpuruk, tanah telah menjadi sakit. Tanah dipaksakan untuk terus memproduksi menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Makhluk-makhluk sawah menghilang, tidak ada lagi belut dan biawak.

Warga desa menyelenggarakan rembug untuk memecahkan persoalan perihal sekaratnya dusun mereka. Mereka memutuskan untuk membangkitkan kembali tarian Sang Hyang Dedari[41] yang berpuluh-puluh tahun telah dilupakan. Tari Sang Hyang Dedari adalah tari Pra-Hindu yang diyakini sebagai tarian sakral yang dapat mengusir musibah.
Tari ini melibatkan anak-anak yang diagungkan oleh warga sebagai penjelmaan para bidadari. Seiringan dengan dibangkitkan tari Sang Hyang Dedari, masyarakat dusun Geriana Kauh memulihkan kembali tradisi pertanian yang berkelanjutan. Dibutuhkan 10 tahun untuk dapat mencapai titik ekuilibrium. Menyembuhkan tanah supaya menjadi kembali gembur, juga melestarikan benih padi warisan nenek moyang mereka, yakni Padi Masa.



Memang terdengar seperti dongeng, tetapi inilah kenyataan. Cerita-cerita dari pedesaan yang berjaya melawan kerusakan lingkungan hidup.
Harapan masih ada, jika kita dapat belajar dari jerih payah mereka. Saya selalu terpukau saat mendengarkan penuturan masyarakat dusun Geriana Kauh, bagaimana mereka menghidupkan kembali yang Sakral juga merestorasi keseimbangan lingkungan hidupnya. Pada malam penyelenggaraan ritual Sang Hyang Dedari yang dilaksanakan sekali dalam setahun dan terjadi sekitar akhir Maret hingga awal April. Tubuh saya merasakan kegentaran itu, bersimpuh dibelakang para bidadari yang matanya khusyuk tertutup. Pura Dalem gelap gulita kecuali asap pedupaan yang mengisi kegelapan itu. Ibu-ibu juru gending mulai bernyanyi,

“Asep menyan cenana pingundang Dewa, Dewa tuun, tuun menyawat, penyawate sereg sorogan…”
“Asap kemenyan digunakan untuk mengundang Dewa, Dewa turunlah, turunlah menjelma, segeralah merasuk ke dalam tubuh.”

Ketika para bidadari turun ke bumi, mereka menari dengan sukacita. Mereka bermain-main, membagikan bunga-bunga bagi para pemujanya. Pada akhir ritual mereka memercikan air suci memberkati pikiran, perbuatan dan perkataan agar kembali dimurnikan.

Kata-kata saya terlampau kecil juga insignifikan untuk dapat menguraikan pengalaman itu. Namun, melekat di benak saya apa yang disampaikan oleh Maurice Merleau-Ponty, mengenai tubuhku dan tubuh alam[42]. Peristiwa ritual Sang Hyang Dedari melalui penghayatan fenomenologis adalah suatu upaya manusia untuk terhubung kembali dengan alam.

“Alam adalah yang primordial, ia adalah yang tidak dikonstruksikan, tidak disituasikan; maka karena itulah terdapat gagasan kekekalan alam, keutuhan alam. Alam adalah objek enigmatis, objek yang sesungguhnya bukan objek sama sekali; ia tidak terungkap gamblang begitu saja. Ia adalah tanah itu, bukan hanya yang berada di depan kita, atau di hadapan kita, tetapi ia yang meliputi kita.”[43]

Merleau-Ponty menjelaskan bahwa alam memiliki dua sisi, sisi yang nampak (visible) dan sisi yang tak nampak (invisible)[44]. Teori filsafat ini mengingatkan saya tentang ajaran Sekala dan Niskala di Bali, Sekala sebagai realitas yang muncul sebagai pengalaman empiris kita, sementara itu Niskala adalah dimensi yang misterius, tersembunyi, yang tidak mudah dimasuki oleh persepsi kita. Bagi Merleau-Ponty titik persinggungan antara yang tampak dan tak nampak dimungkinkan melalui tubuh, ia menyebutnya sebagai Chiasm[45].

Saya membayangkan bahwa tarian Sang Hyang Dedari adalah upaya tubuh manusia untuk merasakan kekuatan sihir alam yang sublim itu. Kerinduan manusia untuk menyatukan tubuhhnya bersama gelora simfoni alam. Seperti yang tertulis dalam Taittirya Upanisad, “—Aham visvam bhuvanam abhyabhavam. Suvarna jyotih.”[46] Aku adalah keseluruhan buana, bersinar terang. Saya menafsirkannya sebagai keinginan sang diri untuk melebur bersama buana.
——————————————————————————————————–
Tibalah kita di akhir permenungan ini. Apakah kesimpulan dari persembahyangan buana itu? Brhadaranyaka Upanisad[47] mengatakan bahwa pada permulaannya adalah air sebelum terbentuk suatu keteraturan. Saya terkenang masa mengarungi Laut Maluku[48]. Hari itu laut bergejolak dengan dentuman tarian gelombang yang terus membentur kapal. Saya melihat ke cakrawala dengan tubuh yang terombang-ambing, dan menyadari betapa mungilnya tubuh ini di tengah megahnya samudera.

Saya dibesarkan dalam keluarga yang taat menjalankan ibadah keagamaan. Tetapi keluarga saya kerap kewalahan menanggapi celoteh dan pertanyaan skeptis saya. Hanya ada satu tempat dimana saya selalu disergap khidmat, yakni saat saya berada di pantai Sanur dan menyelami lautannya. Saat saya masih kanak-kanak, Nenek saya selalu khawatir melihat saya berenang begitu cepat ke tengah lautan. Dengan cemas Nenek akan terus meneriakan nama saya dari sisi pantai. Tetapi Kakek saya, tanpa terlintas rasa takut akan mengatakan,
“Biarkanlah, itu persembahyangannya…”

Izinkan saya menutup pertemuan malam ini dengan sepenggal puisi saya didalam buku Kekasih Teluk, yang berjudul, Agamaku;
“Agamaku tidak diciptakan tuhan
Atau para dewata
Ia dinyanyikan oleh lumba-lumba
Yang senyumnya mengajarkanku,
Kebebasan.

Agamaku tidak disiarkan para malaikat
Tapi disampaikan melalui pancaran mata anjing-anjing
Mereka menyampaikan,
Alangkah mulia kesetiaan itu,
Meski kau dilukai, dipukuli oleh tangan yang kau cintai.
Keyakinanku tidak bertempat,
Di rumah ibadah buatan manusia
Laut adalah persemayaman yang luhur
Pegunungan adalah kesaktian semesta
Padang lamun adalah ruang suciku.

Agamaku tidak dituliskan
Dalam aksara-aksara pewahyuan
Agamaku tertera didalam guratan batang-batang pepohonan raksasa.
Ayat-ayat kehidupan terpatri
Didalam kulit mereka.
Agamaku tidak mencari sorga
Sebab, bisikan angin senja adalah firdaus
Gemersik sungai adalah keindahan tertinggi
Aku telah menghidupi sorgaku.”

————————————–Terima kasih dan selamat malam———————

[1] The Sacred Books of The Hindus, Vol. VIII, The Nyaya Sutras of Gotama, (India: Sudhindrana Vasu, 1913), hlm. 5
[2] Ibid, hlm. 2
[3] Servapalli Radhakrishnan, Indian Philosophy, Vol. II, (New Delhi: Oxford University Press, 1996), hlm. 222.
[4] Ibid. hlm. 164.
[5] The Vaisheshika Darshana, VI. 1
[6] Lihat The Sacred Book of the Hindus, The Nyaya Sutras of Gotama, I. 22, Hlm. 7
[7] Servapalli Radhakrishnan, Upanisad-Upanisad Utama, (Denpasar: Penerbit Paramita, 2008), hlm. 343-354.
[8] Fred B. Eisman, Bali Sekala & Niskala, (Hongkong: Jr, Tuttle Publishing, 1990), hlm. 3
[9] Saya sangat terbantu dalam menulis mengenai Filsafat Teknologi melalui diskusi-diskusi dengan Bapak Tommy F. Awuy, yang juga mengampu bersama saya kelas Filsafat Teknologi di Filsafat UI. Pembahasan mengenai tantangan ilmu pengetahuan pada masa kontemporer tertulis apik dalam buku Tommy F. Awuy yang berjudul Problem Filsafat Modern dan Dekonstruksi, (Depok: Lembaga Studi Filsafat, 1993), Hlm. 63
[10] Martin Heidegger, The Question Concerning Technology, dalam buku Basic Writings, (London: Routledge, 2011)
[11] Jacques Ellul, The Technological Society, (New York: Vintage Books, 1964)
[12] Theodor W. Adorno & Max Horkheimer, Dialectic of Enlightenment, (California: Stanford University Press, 2002), Hlm. 2 & 29
[13] Ibid.
[14] Andrew Feenberg, Questioning Technology, (New York: Routledge, 2001), Hlm. 48
[16] Fred Magdoff dan John Bellamy Foster, Lingkungan Hidup dan Kapitalisme, (Tangerang: Marjin Kiri, 2018), Hlm. 144-153
[17] Bruno Latour, Politics of Nature, (Massachusetts: Harvard University Press, 2004).
[18] Carl Sagan, Cosmos, (New York: Ballantine, 2013), Hlm. 106-107
[19] Murray Bookchin op.cit Hlm. 19
[20] (Ed) Dewi Candraningrum, Ekofeminisme II Narasi Iman, Mitos, Air & Tanah, (Yogyakarta: Jalasutra, 2014), Hlm. 7
[21] Ceramah Vandana Shiva di Museum Neka Art, dalam Seminar “Our Seeds Our Future” Bali, 22 Agustus 2014.
[22] Ibid.
[23] Vandana Shiva, Biopiracy, The Plunder of Nature and Knowledge, (California: North Atlantic Books, 2016)
[24] Wayan Windia, Penguatan Budaya Subak Melalui Pemberdayaan Petani. Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), [S.l.], v. 3, n. 2, oct. 2013. ISSN 2580-0698. Available at: <https://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/view/15678&gt;. Date accessed: 01 nov. 2018.
[25] Ibid. Hlm. 152
[26] (ed) Dewi Candraningrum, Body Memories, Goddesses of Nusantara, Rings of Fire and Narratives of Myth,( Jakarta: PPSG UKSW & YJP, 2014), Hlm. 63
[27] Keputusan bersama mengenai Teluk Benoa sebagai kawasan suci terjadi pada tanggal 9 April 2016. Laporan itu dapat diakses di laman ini; http://phdi.or.id/uploads/Keputusan_SABHA_PANDITA_tentang_.pdf
[28] Peneliti independen dan pakar lontar, Sugi Lanus menguraikan hal ini di dalam makalahnya yang telah diseminarkan pada tanggal 6 November 2015 di Penggak Men Mersi, Denpasar. Paper tersebut merupakan hasil riset lapangan beranggotakan juga tim mahasiswa relawan ForBALI. Turut menjadi narasumber adalah Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat, Putu Wirata Dwikora. Mereka memaparkan ditemukannya 70 titik suci di kawasan Teluk Benoa.
[29] Keputusan PHDI Pusat, Nomor: 11/Kep/I/phdip/1994 Tentang Bhisama Kesucian Pura, Ketentuan Umum nomor 1.
[30] Danghyang Nirartha (1450-1536 Masehi) merupakan penasehat Raja Dalem Waturenggong yang menjadi tokoh penting dalam sejarah Hindu di Bali.
[31] Sugi Lanus menyebutkan situs perjalanan suci Danghyang Nirartha meliputi kawasan Sakenan, Teluk Benoa kemudian berakhir di Pura Uluwatu.
[32] I Made Supartha, Tesis: Teks Bhasa Kakawin Anyang Nirartha, Suntingan Teks Dan Terjemahan Disertai Kajian Unsur-Unsur Puitik, (Depok: Universitas Indonesia, 2004), hlm. 291
[33] ibid. Hlm. 170
[34] Aldo Leopold, The Sand County Almanac, (New York Oxford: University Press, 1987), Hlm. 224-225.
[35] (Tim) Penulis: Ketut Sudiarta, I Gede Hendrawan, Ketut Sarjana Putra, I Made Iwan Dewantama, Laporan Kajian Modeling Dampak Perubahan Fungsi Teluk Benoa Untuk Sistem Pendukung Keputusan Dalam Jejaring KKP Bali, oleh Conservation International Indonesia.
[36] Ibid. Hlm. 17
[37] Perjuangan mempertahankan Teluk Benoa merupakan kerjasama berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi). Berdampingan dengan ForBALI adalah Pasubayan Desa Adat, yang terdiri dari 39 Desa Adat di seluruh Bali yang telah mendeklarasikan penolakan terhadap reklamasi. Lihat https://www.forbali.org/en/
[38] M. Hardt & Antonio Negri, Assembly, (USA: Oxford University Press, 2017), Hlm. 97
[39] Lihat Laporan Akhir Penyusunan Peta Kepekaan Lingkungan Pesisir dan Laut Teluk Benoa, Bali, oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, 2015, 5-27
[40] Nyegara Gunung, napak tilas dari Segara (laut) menuju Gunung (hutan dan gunung).
[41] Tulisan saya mengenai Sang Hyang Dedari yang bertajuk “Menjemput Sang Bidadari” telah dimuat di National Geographic Indonesia edisi Juli 2017.
[42] Saras Dewi, Ekofenomenologi, Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam, (Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2018), Hlm. 89.
[43] Maurice Merleau-Ponty, Nature, Course Notes From the College de France, (Illinois: Northwestern University Press, 1961), Hlm. 4
[44] Maurice Merleau-Ponty, The Visible and The Invisible, (USA: Northwestern University Press, 1968).
[45] Ibid. Hlm. 130-155
[46] Servapalli Radhakrishnan, The Principle Upanisads, (India: Indus, 1953), Hlm. 561
[47] Ibid. Hlm. 151
[48] Saya berkesempatan menjelajahi Maluku Utara dalam riset bersama Profesor Susanto Zuhdi, dan Dr. Tommy Christomy. Buku penting yang menginspirasikan saya untuk terus mempelajari samudera adalah buku “Nasionalisme, Laut dan Sejarah”, (Depok: Komunitas Bambu, 2014) karya Profesor Susanto Zuhdi.


Sumber: SarasDewi 

Jumat, 19 Oktober 2018

Ancaman Guru Intoleran di Indonesia

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 19 Oktober 2018

Sejumlah pelajar lintas agama berkunjung ke Klenteng Kong Ling Bio saat mengikuti program Peace Trip di Temanggung, Jateng, Sabtu (7/4). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/pd/18.

Sebuah survei teranyar menegaskan, guru-guru di Indonesia punya andil dalam maraknya pertumbuhan intoleransi di Indonesia.
“Bunuh, bunuh, bunuh si Ahok, bunuh si Ahok sekarang juga!”
Lagu kanak-kanak berjudul "Menanam Jagung di Kebun Kita" itu dipelesetkan oleh puluhan anak anak berbaju putih yang membawa obor. Kendati pesannya keras, mereka berteriak dengan enteng layaknya mereka sedang berlomba menyuarakan yel-yel dalam sebuah kompetisi.

Arak-arakan itu terekam dalam sebuah video yang beredar pada Mei 2017 lalu, ketika kasus Ahok tengah menjadi buah bibir. Mantan Gubernur Jakarta yang kebetulan beragama Kristen itu dipidanakan karena dianggap melecehkan ayat Al-Quran surat Al Maidah 51. 

Beberapa bulan silam, warganet dihebohkan oleh ‘pemaksaan’ pengenaan jilbab di sekolah negeri di Indonesia. Pihak sekolah berdalih mereka hanya 'menganjurkan' pemakaian jilbab. Di sisi lain, para siswi yang tak mengenakkan jilbab kerap disindir sebuah bentuk sanksi sosial sehingga mereka tertekan.

Semua peristiwa itu memiliki satu kesamaan: melibatkan anak-anak.

Survei nasional yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui proyek Convey Indonesia pada 2017 lalu mengungkap, sebanyak 58,5 persen responden memiliki pandangan keagamaan yang radikal. Sementara sebanyak 34,3 persen responden cenderung memelihara pandangan intoleran terhadap kelompok agama non-Islam. 

Dalam survei tersebut sedikit disinggung bahwa guru-guru di Indonesia terindikasi berperan dalam tren intoleransi yang saat ini makin lekat dengan generasi muda Indonesia.

Pada Selasa (16/10) lalu, PPIM UIN melalui proyek Convey Indonesia mengumumkan survei teranyarnya mengenai guru. Berjudul “Pelita yang Meredup: Potret Keberagaman Guru di Indonesia”, survei tersebut menegaskan bahwa sebagian besar guru di Indonesia memang memiliki kecenderungan intoleran dan radikal sehingga dapat memengaruhi tren intoleransi pada generasi muda.

Secara umum, menurut survei ini, jumlah guru di Indonesia yang memiliki opini intoleransi dan opini radikal cukup tinggi dengan persentase masing-masing sebesar 50,87 persen dan 40,14 persen dari total responden.

Sebanyak 56 persen guru tidak setuju bahwa non-Muslim boleh mendirikan sekolah berbasis agama di sekitar mereka. Lebih jauh, 21 persen guru menyatakan tidak setuju jika ada tetangga yang berbeda keyakinan mengadakan acara keagamaan di kediaman mereka. Inilah contoh-contoh opini intoleran yang ditunjukkan oleh survei tersebut.

Sebanyak 33 persen guru setuju untuk menganjurkan orang lain agar ikut berperang demi mewujudkan negara Islam. Sebanyak 29 persen guru juga menyatakan setuju untuk ikut berjihad di Filipina Selatan, Suriah, atau Irak demi mendirikan negara Islam. Dalam survei yang sama, pandangan seperti ini disebut opini radikal. 

Yang menarik, 82,77 persen responden menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan masyarakat; 40,36 persen setuju bahwa seluruh ilmu pengetahuan sudah ada di dalam Al-Qur'an sehingga Muslim tidak perlu mempelajari ilmu pengetahuan yang bersumber dari Barat.

Perlu dicatat, secara demografis, guru mata pelajaran bahasa (Arab, Indonesia, Inggris, dan Daerah), olahraga, kesenian dan ketrampilan, dan guru kelas memiliki "intoleransi eksternal", opini, dan intensi-aksi radikal” yang lebih tinggi dibandingkan guru lainnya.

Potret Sehari-hari

Bagi Treviliana Eka Putri (26 tahun), hasil survei itu tidaklah terlalu mengejutkan. Wanita yang bekerja di salah satu pusat studi di Universitas Gadjah Mada itu pernah merasakan secara langsung bagaimana guru mengajarkan intoleransi di Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah tempatnya ia menimba ilmu dulu.
“[Ajaran untuk bersikap] intoleran itu disampaikan dalam hal yang bernada canda tapi sebenarnya mendiskreditkan orang dengan kepercayaan yang berbeda,” ingat perempuan yang akrab dipanggil Trevi ini. 
Kepada Tirto ia mengatakan, candaan itu dapat berupa hal-hal yang remeh temeh. Guru Trevi, misalnya, pernah bergurau bahwa orang Kristen memiliki bau badan yang tidak sedap karena mengonsumsi babi, hewan yang diharamkan oleh Islam dan dianggap kotor.

Dalam kesempatan lain, lanjut Trevi, pernah pula gurunya mengatakan hal-hal seperti “patung enggak bisa ngasih apa-apa kok disembah, 'kan bodoh”. Ucapan itu mengacu pada praktik doa oleh kaum Nasrani di hadapan patung Yesus atau Maria, yang sebetulnya dilakukan agar menambah kekhusyukan.

Kala itu, ia hanya ikut tertawa bersama murid-murid lainnya, menelan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh sang guru. Baginya, sekolah-sekolah khusus agama lain terlihat eksklusif. Ia merasa bahwa mereka yang belajar di sekolah-sekolah tersebut juga tak menyukai Muslim. 

Trevi menceritakan, perspektifnya mulai berubah sejak duduk di bangku SMA. Di sana, ia mulai banyak berinteraksi dengan berbagai macam murid lain yang berbeda latar belakang.

Namun, yang paling membekas dalam kenangan Trevi adalah perjumpaannya dengan seorang teman bernama Julian di bangku kuliah. Menurut Trevi, Julian, korban konflik Ambon yang kabur ke Pulau Jawa, tidak pernah menyimpan dendam pada Islam. Terhadap dirinya yang seorang Muslim, Julian bahkan berlaku sangat ramah.
“Padahal, sampai sekarang dia dengan azan saja masih suka deg-degan ingat kekerasan di Ambon,” kenangnya.
IM (26 tahun) punya pengalaman yang berbeda dengan Trevi. Guru sekolah negeri di Sidoarjo, Jawa Timur ini mengatakan bahwa seorang rekannya, seorang guru agama mengajar di sekolahnya memiliki pemikiran cukup ekstrem dalam hal agama. Menurut IM, rekannya bahkan sangat menentang kepala sekolah perempuan. “Pemimpin itu laki-laki,” kata IM kepada Tirto, menirukan pernyataan rekannya. 

Pernah pula sang guru agama secara tidak langsung ‘mendesak’ seorang siswi beragama Kristen untuk menjadi model busana baju Muslim. Bujuk rayu yang ia gunakan sudah biasa kita dengar sehari-hari: “kamu cantik lho kalau pakai hijab.”
Problemnya, IM mengklaim bahwa siswa-siswi yang tidak beragama Islam di sekolah tempat ia mengajar ‘terpaksa’ mengikuti pelajaran agama Islam di bawah bimbingan sang guru agama. “Padahal [mendapatkan pelajaran agama sesuai keyakinan] 'kan hak mereka,” kata IM.

infografik guru intoleran

Guru yang Lebih Baik?


Survei “Pelita yang Meredup” menyebutkan, salah satu faktor yang berkorelasi erat dengan kecenderungan intoleransi dan radikalisme para guru adalah faktor penghasilan. Riset ini menemukan bahwa semakin rendah penghasilan yang dimiliki oleh guru maka semakin tinggi opini dan intensi-aksi radikal mereka.

Oleh karenanya, survei ini merekomendasikan untuk dibuatnya standar pembayaran minimal guru yang lebih baik tanpa membedakan status sekolahnya, entah negeri maupun swasta.

Selain itu, perlu pula perhatian lebih diberikan kepada guru perempuan. Survei yang sama menemukan bahwa guru perempuan lebih intoleran dibandingkan dengan guru laki-laki.

Lebih lanjut, guru madrasah ternyata juga memiliki opini yang cenderung lebih intoleran pada pemeluk agama lain. Karena itu, survei ini merekomendasikan institusi pendidikan untuk menggalakkan program bagi bagi guru madrasah dalam rangka peningkatan pengalaman kemajemukan.

Tujuan dari peningkatan pengalaman kemajemukan guru-guru madrasah tersebut adalah agar mereka lebih mengenal agama dan kelompok yang berbeda.

Dr. Mohammad Iqbal Ahnaf dari Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada mengkritik hasil dari survei tersebut, terutama dalam kaitannya dengan parameter intoleransi yang digunakan.

Ia mengatakan, keterbukaan terhadap aktivitas keagamaan di lingkungan sekitar guru yang digunakan sebagai parameter intoleransi dalam survei tersebut, misalnya, dapat diartikan secara berbeda oleh responden yang hidup dengan parameter intoleransi yang berbeda.
“Pertanyaan-pertanyaan itu selalu kontekstual,” ujar Iqbal ketika dihubungi Tirto.
Ia mencontohkan, jika seorang guru yang tinggal di lingkungan homogen ditanya apakah ia setuju dengan aktivitas keagamaan lain di lingkungannya, ia mungkin akan sulit menerimanya. 

Namun, Iqbal mengatakan bahwa secara garis besar survei ini dapat menjadi alarm bagi masyarakat Indonesia. Untuk menekan intoleransi di kalangan guru, menurut Iqbal, persoalan kebijakan rekrutmen guru di tingkat nasional perlu lebih diperhatikan, demikian pula pembangunan kapasitas guru-guru di Indonesia.
“Selama ini pembangunan kapasitas hanya menekankan aspek pedagogi,” sebut Iqbal. Dalam hal ini, ia menyepakati rekomendasi hasil survei tersebut, yakni mencanangkan program yang bisa memperkenalkan keragaman pada guru-guru di Indonesia.
“Konteksnya memperkaya praktik pengajaran,” kata Iqbal. Dalam hal ini, program sister school – program pertukaran pelajar antar sekolah agama seperti pesantren dan sekolah Kristen Katolik—menjadi hal yang menarik untuk dilakukan, jelasnya.
Ia juga menyebutkan pentingnya peran manajemen sekolah dalam memberantas intoleransi dengan pendekatan dari atas ke bawah.
“Kepala sekolah adalah kunci. Perubahan bisa didorong dari tingkat kepala sekolah,” jelasnya.
Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Windu Jusuf

Source: Tirto.Id 

Rabu, 17 Oktober 2018

Evolusi konsep pengajaran menjadi pendidikan di Indonesia

Syaikhu Usman* | Oktober 17, 2018 4.51pm WIB


Maglara/Shutterstock

Sepuluh tahun lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi dan Kejaksaan Agung membuat program Kantin Kejujuran dengan mendirikan 1.000 kantin di sekolah negeri untuk melatih pembentukan karakter dan antikorupsi di kalangan siswa. Uji coba ini berakhir sebagai kisah kegagalan.
Kantin-kantin tersebut hanya bertahan pada tahun pertama dan selanjutnya sebagian besar terancam gulung tikar.
Kantin menjual makanan, minuman, dan barang kebutuhan siswa di lingkungan sekolah, tanpa ada penjaga kantin yang melayani dan mengawasi dagangan. Para siswa mengambil sendiri barang, membayar sendiri, dan mengambil uang kembalian sendiri. Apa yang terjadi? Mayoritas kantin bangkrut karena barang dagangan habis, tapi uang tidak terkumpul. Kantin kehabisan modal.
Kejujuran bukan jenis perilaku alamiah, tapi hasil dari sistem yang harus dibangun secara sistematis dan terus menerus. Ketidakjujuran siswa adalah bagian dari sistem kecurangan yang lebih besar di masyarakat. Sistem di masyarakat, termasuk sekolah, tidak mampu menjadikan jujur sebagai kebiasaan dan kebudayaan.
Bagaimana karakter jujur seharusnya dibentuk melalui sekolah? Apa yang keliru dari sistem dan praktik belajar di sekolah selama puluhan tahun?

Pengajaran versus pendidikan

Pada mulanya, sekolah adalah wadah anak untuk mengisi waktu luang di tengah hak dasar mereka untuk bermain. Di kala senggang, dengan bimbingan orang berpengetahuan dan terampil, anak memperoleh pengajaran berupa pengetahuan literasi, numerasi, dan keterampilan hidup serta mendapat pendidikan yang terkait dengan moral, agama, dan estetika.
Di satu pihak, hasil pengajaran dapat diukur melalui jumlah tahun sekolahnya, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Di pihak lain, hasil pendidikan dinilai atas perilaku sehari-hari seseorang dalam kehidupan keluarga dan lingkungannya.
Pengelolaan sekolah di Indonesia adalah refleksi dari sejarah perkembangan departemen atau kementerian yang mengaturnya. Pada awal kemerdekaan (1945-1950) nomenklatur yang digunakan adalah Departemen Pengajaran yang menterinya adalah Ki Hadjar Dewantara. Dalam enam kabinet berikutnya nomenklatur pengajaran masih terus dipakai, tanpa menyertakan kata pendidikan. Enam kabinet sesudahnya memakai nomenklatur Departemen Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan.
Pada awal kemerdekaan, para pemimpin bersatu padu berjuang merawat negara dan bangsa. Mayoritas rakyat pun bergairah mendukung perjuangan para pemimpin nasional. Kepentingan bangsa menjadi prioritas perjuangan nasional. Oleh karena itu, dalam kaitan dengan sekolah mereka pada umumnya lebih memikirkan urusan pengajaran untuk transfer pengetahuan dan keterampilan demi mencerdaskan bangsa.
Dalam kabinet-kabinet berikutnya (1951-1966) pemerintah mulai memakai nomenklatur Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PP dan K). Selanjutnya kata pendidikan selalu ditempatkan di depan.
Di masa itu kepentingan kelompok melalui partai mulai menguat. Setiap partai berjuang berdasarkan ideologi yang cukup jelas, seperti agama, nasionalisme, sosialisme, atau komunisme. Tapi, karena setiap ideologi berbeda dengan jurang pemisah yang dalam, para pemimpin partai mulai kesulitan untuk bersatu. Mereka sibuk memperjuangkan kepentingan partai dan ideologi masing-masing. Ini menimbulkan perbantahan, perselisihan, konflik, dan persaingan.
Masyarakat mengamati kondisi ini dan kerap kali meniru. Oleh karena itu, pengambil kebijakan publik mulai memikirkan perlunya pendidikan moral (karakter) untuk menanamkan antara lain perilaku santun, saling menjaga dan merawat satu sama lain, dan menghormati keberagaman.
Sejak pemerintahan Orde Baru (1966-1998) dan juga Orde Reformasi (1998-sekarang) kata “pengajaran” dihilangkan. Buku karya Lant Pritchett, Direktur Riset Program RISE, yang berjudul “The Rebirth of Education: Schooling Ain’t Learning (2013),” bagi Indonesia mungkin terkait dengan kurangnya perhatian terhadap pengajaran.
Lembaga pemerintah yang mengurusi masalah pengajaran dan pendidikan berubah nama menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pernah juga bernama Kementerian Pendidikan Nasional. Pada era ini partai tidak lagi memegang ideologi yang mendasari kekuatan perjuangan mereka, sementara pelanggaran nilai sosial seperti penipuan, pembohongan, intoleransi, korupsi, kolusi, nepotisme terus terjadi.
Lambat laun kepentingan kelompok, keluarga bahkan individu merasuki perilaku elit pejabat, elit pengusaha, dan elit masyarakat yang kemudian sering pula ditiru oleh masyarakat.

Sekolah adalah pabrik?

Sampai sekarang, Indonesia belum menemukan kesepakatan soal model pendidikan karakter. Salah satu model yang patut dipertimbangkan adalah sistem pembelajaran karakter yang diusulkan oleh anggota tim pakar Yayasan Jati Diri Bangsa Gede Raka. Dia menekankan bahwa pendidikan karakter di sekolah memerlukan perubahan cara pandang.
Menurut Gede Raka, peneliti pendidikan karakter dan juga guru besar Institut Teknologi Bandung, kita perlu menjauhi cara pandang yang memperlakukan sekolah sebagai pabrik. Dalam pandangan ini, pabrik sekolah memproduksi lulusan yang kualitasnya diukur melalui nilai ujian nasional, mempekerjakan “mesin” bernama guru, dan menggunakan sistem produksi bernama kurikulum.
Di dalam sistem produksi, karakter bukan hal penting. Mesin, sistem produksi, dan produk adalah hal-hal pasif tanpa karakter, tanpa aspirasi, dan tanpa inisiatif. Dengan demikian, cara pandang sekolah sebagai pabrik bukan cara pandang yang sesuai untuk pendidikan karakter.
Cara pandang sekolah sebagai komunitas, terutama komunitas pembelajaran, adalah konsep yang sesuai bagi pengembangan karakter. Komunitas bukan semata-mata sekumpulan orang. Komunitas adalah sekelompok orang yang dipersatukan oleh tata nilai.
Menurut Aristoteles, tata nilai moral adalah pilar dari kekuatan karakter. Tata nilai, demikian pula karakter, tercermin melalui perilaku seseorang dalam interaksi sosialnya. Sebagai bagian dari komunitas, guru, siswa, dan orangtua adalah anggota dengan peran dan tangung jawab masing-masing. Rasa saling percaya, saling menghormati, kesediaan untuk berbagi, dan aspirasi bersama menjadi penting.
Di samping cara pandang sekolah sebagai komunitas belajar, pendidikan karakter memerlukan pandangan bahwa setiap siswa adalah tunas yang memiliki potensi berbeda. Karakter memiliki kemajemukan dimensi, seperti kreativitas, keingin-tahuan, keberanian, kegigihan, kejujuran, rasa kasih sayang, kebaikan hati, adil, kepemimpinan, dan lain-lain.
Pelbagai dimensi karakter berpadu dan disalurkan melalui berbagai bentuk. Selain kemajemukan dimensi, karakter tumbuh sejak usia dini. Contohnya, interaksi antara ibu dan bayi adalah tahap awal pengembangan karakter kasih sayang. Hubungan dengan saudara, adik atau kakak, di masa kecil dapat menempa karakter keluhuran hati. Maka, usaha mengembangkan karakter tidak dapat bertumpu pada pandangan bahwa para siswa adalah “bahan baku” seragam yang akan berharga setelah diolah.
Karena siswa adalah tunas yang berbeda, tugas utama sekolah adalah mengenali potensi setiap siswa. Guru berperan besar dalam mengidentifikasi dan mengembangkan potensi siswa. Dalam usaha mengembangkan potensi, penyeragaman proses pembelajaran yang berlebihan dapat menghalangi tumbuhnya keunggulan siswa karena potensi yang beragam kerap membutuhkan bentuk dukungan berbeda.
Guru dapat mengenali dan mengembangkan potensi siswa yang beragam dengan menggunakan cara pandang kecerdasan majemuk, yang dikembangkan oleh psikolog Harvard Howard Gardner. Siswa yang pandai matematika adalah siswa unggul; demikian pula siswa yang pandai melukis, menyanyi, atau berbahasa.
Dengan menggunakan keunggulannya masing-masing, siswa memiliki potensi untuk mandiri dan membawa manfaat bagi masyarakat ketika mereka memasuki dunia kerja.

Saling melengkapi

Dalam sejarah lain, di dunia akademis kita mengenal nama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). Kata keguruan yang bermakna pengajaran disebut terlebih dulu sebelum kata pendidikan. Setelah beberapa IKIP menjadi universitas negeri, muncul institusi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang meninggalkan kata “keguruan.”
Berdasarkan dinamika kesejarahan perkembangan penggunaan kata pengajaran dan pendidikan ini terdapat indikasi bahwa di balik kedua kata tersebut terkandung konsep yang tidak dapat disamakan, tapi juga sulit dibedakan dan tidak mungkin dipisahkan. Maka, sekolah perlu memahami dan meletakkan teori serta praktik pengajaran dan pendidikan sesuai fungsinya masing-masing. Keduanya harus ada dan saling melengkapi.
Sejarah perkembangan pengajaran dan pendidikan di Indonesia menunjukkan bahwa keduanya saling menglengkapi dan memiliki peran masing-masing. Sekolah sebagai wahana pembelajaran memerlukan cara pandang, praktik, dan kemitraan yang sesuai untuk pengajaran yang mentransfer pengetahuan dan pendidikan yang membina karakter.
Ketika merancang dan menerapkan gagasan yang berkaitan dengan pembelajaran, sekolah semestinya memperhatikan peran pengajaran dan pendidikan yang berbeda itu di dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ini agar kisah Kantin Kejujuran gulung tikar tidak berulang karena ketidakjujuran di lingkungan sekolah.
Shanti Agung, Peneliti Perkumpulan Masyarakat Pendidikan Sejati Bandung, ikut menulis artikel ini.
Syaikhu Usman, Senior Researcher, SMERU Research Institute. 
Syaikhu Usman tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.
Sumber: TheConversation 

Selasa, 16 Oktober 2018

Sebanyak 57 Persen Guru Punya Opini Intoleran

Reporter: Fikri Arigi | Editor: Juli Hantoro
Selasa, 16 Oktober 2018 18:43 WIB

Intoleransi di Sekolah

TEMPO.CO, Jakarta - Hasil penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah, menunjukan  data sebanyak 57% guru memiliki opini intoleran terhadap pemeluk agama lain. Sedangkan 37,77% keinginan untuk melakukan perbuatan intoleran atau intensi-aksi.
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat pandangan serta sikap keberagamaan guru sekolah dan madrasah di Indonesia. Guru punya posisi strategis dan punya peran penting dalam pembentukan nilai-nilai, pandangan, serta pemikiran siswa," kata Direktur Eksekutif PPIM Saiful Uman saat memaparkan hasil penelitiannya, di Hotel Le Meridien, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa 16 Oktober 2018.
Saiful Uman menuturkan penelitian ini menggunakan dua alat ukur. Pertama dengan kuisioner, alat kedua menggunakan Implicit Asosiation Test (IAT). Adapun enam pernyataan disiapkan untuk digunakan sebagai komponen pengukuran opini intoleran.

Menurut Saiful ada dua contoh pernyataan yang memiliki muatan faktor tinggi dalam mengukur opini intoleransi pada pemeluk agama lain.
"Pertama, Non-Muslim boleh mendirikan tempat ibadah di lingkungan ibu/bapak tinggal. Kedua, Tetangga berbeda agama boleh mengadakan acara keagamaan," kata Saiful.
Dari dua pernyataan itu, hasilnya sebanyak 56% tidak setuju non-muslim mendirikan tempat ibadah di sekitar tempat tinggal, dan 21% tidak setuju tetangga berbeda agama boleh mengadakan acara keagamaan.

Sedangkan pada intensi-aksi intoleran pada pemeluk agama lain diukur dengan lima pernyataan. Kedua pernyataan itu adalah 'menandatangani petisi menolak kepala dinas pendidikan yang berbeda agama', dan 'menandatangani petisi menolak pendirian sekolah berbasis agama non-Islam di sekitar tempat tingalnya'.

Hasilnya sebanyak 29% guru menyatakan kesediaannya bila ada kesempatan, untuk menandatangi petisi menolak kepala dinas pendidikan yang berbeda agama. Kemudian 34% guru menyatakan bersedia menandatangani petisi menolak pendirian sekolah berbasis agama non-Islam di sekitar tempatnya tinggal.

Penelitian ini menggunakan 2.237 guru sebagai sampel. Dengan proporsi 1.172 guru sekolah negeri dan 1065 guru sekolah swasta (dalam penelitian ini madrasah). Dilaksanakan selama satu bulan, 6 Agustus sampai 6 September 2018, penelitian ini mengambil sampel dari 34 Provinsi di Indonesia, yang dipilih secara acak menggunakan teknik probability proporsional to size (PPS).

Sumber: Tempo.Co 

Senin, 15 Oktober 2018

Budayawan Sebut Sedekah Laut Wujud ‘Hablun Minal Alam’


Senin, 15 Oktober 2018 19:45

Ilustrasi sedekah laut (via plukme)

Jakarta - Budayawan Yogyakarta M. Jadul Maula mengatakan bahwa tradisi sedekah laut yang dipraktikkan di Jawa telah berlangsung lama dan turun-temurun. Sedekah laut disebutnya sebagai praktik kosmologi, yakni hubungan antara manusia dan alam (hablun minal alam). 
“Itu terkait dengan filosofi kosmologi Mataram Islam kalau di Yogyakarta. Mungkin di Jawa dan Nusantara kan umum satu pemahaman kosmologi hubungan manusia dengan alam. Jadi upacara sedekah laut, sedekah bumi, itu bagian dari ajaran tentang hablun minal alam, bagaimana manusia menjalin hubungan secara harmonis dengan alam,” kata kata Jadul kepada NU Online, melalui sambungan telepon, Senin (15/10).
Oleh karena itu, ia mengaku heran jika ada sekelompok orang yang menyalahkan, bahkan menganggap upacara sedekah laut sebagai perbuatan syirik. Sebab, upacara tersebut berisi ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil yang diperolehnya dari laut.
“Namanya saja sedekah. Sedekah itu kan konsep Islam, itu bagian dari ungkapan syukur, di dalamnya terkandung doa keselamatan dan tolak bala. Jadi para nelayan, para pelaut mereka tiap hari memperoleh rezeki dari laut, karena itu mereka mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan itu melalui sedekah laut,” terang Jadul.
Pria yang juga Pengurus Lesbumi PBNU itu pun sempat menjelaskan makna sedekah laut. Menurutnya, sedekah laut merupakan pemberian sedekah kepada penghuni laut, seperti ikan dan plankton.
“Itu syukur kepada Tuhan, caranya adalah dengan memberi sedekah kepada makhluk hidup,” ucapnya.
Praktik upacara sedekah laut pun, kata Jadul, dapat dilihat secara empirik dan rasional. Ia menjelaskan keberadaan kepala kerbau yang menjadi salah satu suguhan dalam prosesi sedekah laut. Menurutnya, kepala kerbau itu memberi makan kepada plangton-plangton. Plangton-plangton dimakan ikan sehingga ikan di laut berkembang.
“Jadi mengungkapkan syukur dengan bahasa yang kongkrit, mengapresiasi yang tampak kepada makhluk. Melalui upacara itu terjalin hubungan harmonis antara manusia dan alam. Jadi itu sebenarnya budaya yang tinggi yang adi luhung,” ucapnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Sumber: NU.Or.Id 

Sedekah Laut dalam Pandangan Budaya dan Agama


Penulis: Aguk Irawan MN Senin, 15 Oktober 2018


Kenapa orang selalu takjub pada laut, sungai, tebing juga gunung? Antropolog Peter Berger menjawab dalam sebuah karyanya yang masyhur, The Social Reality of Religion (1969). Apa kata Berger dalam buku itu?

Menurutnya, manusia tiap zaman selalu terdorong untuk meciptakan makna dari simbol-simbol yang suci (the sacred canopy). Berger sebagai Feuerbachian menegaskan, bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk religius, maka tak aneh jika laut atau sungai dimaknai sebagai pertautan antara alam yang suci dengan kehidupan yang tak selalu suci dan bersambung seperti gelombang air.

Kesan itu pula yang didapat oleh seorang pengelana Yunani zaman purba, Herodotus (484-425 SM) ketika pertama kali mengunjungi Mesir, Babilonia, Palestina dan Syiria. Ia menceritakan pengalamannya betapa orang Mesir amat mecintai sungai Nil dan orang Babilonia selalu terkagum dengan ombak laut Macedonia.

Mereka berkumpul dan pawai untuk melarungkan sesajen ke sungai dan laut disertai dengan panjat doa dengan khusu’ untuk Litany (para Dewa). Pengalaman yang sama didapat oleh Megasathtnes (302-288 SM) saat mengunjungi jazirah Arab dan Antropolog Tacitus (55-117 SM) saat mengungjungi Asia Tengah.

Maka tak aneh, jika kajian etnografi selalu saja menarik, kerena menurut Berger, manusia tak bisa menghindar dari alam dan kekuatan adikodrati yang tak terbatas, dan dari sanalah terciptalah dunia simbol. Terlebih tentang Nusantara, dimana pulau-pulaunya berjejer dan terhubung oleh laut. Itulah kenapa Artefak yang ditinggalkan di candi-candi, terutama Borobudur, berupa relief-relief perahu cadik dan gambar garis gelombang laut.

Sebuah catatan dari Cina abad ke-15 juga menggambarkan Majapahit, yang dicatatnya adalah istana yang megah: bersih dan terawat, ornamen temboknya bergambar gelombang laut. Pasang dan surut. Atap bangunan terbuat dari sirap yang dibentuk seperti perahu cadik. Kitab Negarakartagama yang ditulis di masa itu juga menyebut ”kuwu”: unit permukiman yang dikelilingi sungai, juga terbentang sepanjang pantai.

Sebagaimana diketahui, orang Nusantara, pada zaman pra-sejarah yang beragama Kapitayan, setiap kali terjadi perubahan siklus kehidupan, mereka gemar mengadakan ritual Selametan atau Wilujengan dengan menggunakan –salah-satunya laut sebagai simbol, juga memakai aneka benda dan makanan sebagai simbol penghayatan, rasa syukur dan pengharapannya kepada Tuhan.

Ini semua adalah bahan sejarah dan pra-sejarah kita sebagai manusia Nusantara, dan setiap zaman punya cara untuk mempertahankan dan mengarifi kebudayaannya. Meskipun Nabi-nabi telah datang, petuah dan perintah pendeta juga dimaklumatkan, kemudian dicoba revolusi dan diperkenalkan penemuan teknologi —tapi tak pernah ada aksi brutal yang menantang prosesi adat, sampailah mencuatnya aksi segerombolan orang yang sengaja merusak piranti tradisi Sedekah Laut di Pantai Baru, Bantul atas dalih anti kemusyrikan (12/10/18).

Pertanyaan besar sejarah —yang sebenarnya tiap agama pernah datang silih berganti —adalah, bagaimana bisa peristiwa kebudayaan seperti itu dianggap anomali, sesuatu yang tak pantas bagi yang beragama? Dengan kata lain, bagaimana bisa pemahaman agama yang sepotong dan sepihak digunakan merusak tatanan sosial yang mengakar dengan riwayat manusia Nusantara yang telah demikian panjang? Tentu saja ada paradoks, jika kita memaknai agama, dalam teori antropologi (Eliade, 1966; Douglas 1966, Geertz 1966; dan V. Turner, 1969) sebagai sebuah pencarian makna yang terselubung dalam simbol.

Pengamatan saya dari dekat saat menyaksikan prosesi Sedekah Laut di dusun Ngentak, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Bantul, tak ada yang perlu dikhawatirkan terkait akidah atau keimanan.

Berdasarkan pengalaman tahun lalu, biasanya acara Sedekah Laut dimulai dengan pembakaran kemenyan dan doa-doa, baik berbahasa Jawa maupun arab, sesekali diselingi dengan shalawat Nabi. Doa itu dipimpin oleh Mbah Cokro sebagai Juru Kunci petilasan HB VII. Sebelum membakar kemenyan terlebih dahulu Mbah Cokro duduk bersila menghadap ke laut lalu merunduk dan pasembah.

Makna Simbolik

Tentu selain ada bahasa verbal, yaitu kalimat puja dan doa yang terkandung dalam prosesi Sedekah Laut, yang itu langsung bisa dimengerti, juga ada bahasa simbolik di dalamnya, seperti prosesi pembakaran kemenyan, ia juga berupa doa, tetapi dalam bahasa lain. Orang Islam Pesisir biasanya menyebutnya sebagai talining iman, urubing cahya kumara kukuse ngambah swarga, ingkang nambi dzat ingkang Maha Kuwaos. (Sebagai tali pengikat keimanan. Nyalanya diharapkan sebagai cahaya petunjuk, asapnya diharapkan sebagai harum bau surga, mudah-mudahan dapat diterima oleh Dzat yang Maha Kuasa).

Perahu tempel, yang nantinya dipakai untuk membawa sesaji yang akan dilabuh ke tengah laut, sebagai lambang kehidupan ini yang sementara, karena tiap yang berlabuh ada saatnya berhenti. Tampah/tambir, bentuknya bulat dari anyaman bambu untuk tempat sesaji sebagai simbol, bahwa kehidupan ini berputar, kadang di bawah, kadang di atas. Begitu juga yang terdapat dalam ubarampe, semuanya adalah bahasa simbolik.

Seperti telur sebagai simbol atau lambang dari “wiji dadi” (benih) terjadinya makhluk hidup. Bumbu Megana sebagai simbol dari embrio dan ruh-manusia. Cabe Merah sebagai lambang kebulatan tekad dan keberanian menegakkan kalimat Tauhid. Ingkung sebagai lambang manunggal, dengan njungkung, yakni bersujud dan manekung, yakni bermuhasabah dan khalwat. Kacang Panjang sebagai simbol harusnya manusia sebelum bersikap, harus berpikir panjang, sehingga bijaksana. Tomat sebagai simbol kesadaran mad-sinamadan, yaitu saing mengingatkan. Kangkung simbol dari sifat linakung, sifat pemurah atau dermawan, dan lain sebagainya.

Jika mengetahaui bahasa agama yang tersimpan dalam simbol prosesi Sedekah Laut yang begitu mulia seperti ini, masihkah ada yang menghakimi prosesi macam itu adalah anomali bagi sikap keberislaman kita? Padahal bukankah Islam, tidak melulu tentang yang halal dan haram, mubah dan bid’ah, murtad dan musyrik? Akan tetapi, juga tentang pentingnya membangun tatanan sosial, kebudayaan dan peradaban?

Disisi lain, dalam wajah Islam juga berlimpah bahasa simbolik, serta kearifan lokal, seperti adanya anjuran walimah (upacara tradisi) yang tertuang dalam pilihan hadis shahih Imam Bukhari, dalam al-Bayan nomer hadis 825, dan al-nikah nomer hadis 4756 dan lain sebagainya. Wallahu’lam bishawab.

Kasongan-Bantul, 14 Oktober 2018

Sumber: Alif.Id 

Kebebalan FPI Banyuwangi

Wahyu Eka Setiawan 
15 Oktober 2018

suarapena.com

Penolakan FPI Banyuwangi terkait sedekah laut dan acara seni Gandrung Sewu benar-benar di luar nalar. Pernyataan mereka membuat saya pribadi cukup terpelatuk untuk berkomentar: apa relasinya bencana dengan sedekah bumi serta acara seni. Ini sungguh relevan, bahkan terlalu mengada-ada.

Entah cari sensasi atau ingin eksis dengan memanfaatkan momentum terkait maraknya bencana alam, khususnya yang sedang menimpa Indonesia di periode akhir tahun ini.

Pernyataan mereka hanya berdasarkan common sense, tidak berlandaskan argumentasi faktual atau realitas yang terjadi. Ketakutan mereka terkait dengan sedekah laut dan acara seni tari Gandrung Sewu, yang dinilai akan menyebabkan bencana, merupakan argumentasi yang dhaif (lemah) karena tidak pernah dibuktikan secar empirik.

Logical fallacy semacam ini jamak kita jumpai, mengaitkan bencana dengan warisan budaya lokal yang dianggap musyrik, syirik, dan maksiat atas syariah agama. Sehingga Allah mengirimkan azab pada mereka yang dituduh melenceng. Padahal ungkapan tersebut sangat tidak signifikan, terlalu menyudutkan suatu entitas tanpa melihat realitas yang ada.

Kebebalan ini berlanjut, terus direproduksi dengan kepentingan tertentu. Seperti mengenai eksistensi kelompok, atau mencoba memanfaatkan momen untuk kepentingan politisnya. 

Penolakan FPI Banyuwangi terhadap sedekah bumi dan kesenian tari gandrung, lalu dikaitkan dengan ketakutan bencana alam, merupakan sebuah ungkapan yang menunjukan mereka tidak mafhum, terutama ihwal bencana itu sendiri. 
Mereka menggeneralisasi dengan cocokologi tanpa melihat realitas yang nyata dari ncaman seperti apa yang sebenarnya menyasar di Banyuwangi dalam konteks bencana.

Memahami dan Mengerti Perihal Bencana

Bencana ada dua bentuk, pertama bencana alam dan yang kedua merupakan bencana ekologis. Perlu kita ketahui bahwa bencana alam ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Jikalau menyasar pada gempa bumi, maka ada siklus gerak lempengan bumi yang membuat tanah bergerak dan bergeser. Seperti juga erupsi gunung berapi, dipengaruhi oleh siklus magmatik perut bumi.

Sementara untuk bencana ekologis, menurut Jared Diamonds (2005), adalah malapetaka yang bertalian dengan aktivitas manusia. Artinya, ada pengaruh aktivitas manusia yang turut menyebabkan bencana. Misal, deforestisasi dan ekspansi industri.

Pada dasarnya bencana alam sangat berbeda dengan bencana ekologis. Beda dari kedua bencana ialah faktor penyebabnya. Bencana ekologis juga berbeda dengan tragedi kehancuran suatu wilayah, seperti Hiroshima dan Nagasaki yang hancur karena bom nuklir.

Pada konteks bencana ekologis, merupakan dampak perubahan ekosistem oleh manusia, yang telah menyebabkan konsekuensi luas dan bertahan lama. Hal ini bisa termasuk kematian hewan hingga manusia dan tumbuhan, atau gangguan berat pada kehidupan manusia yang mungkin membutuhkan migrasi.

Bencana alam pun tidak tiba-tiba datang layaknya cerita kolosal, atau azab di sinetron yang umum dilihat masyarakat. Bencana alam memiliki fase dan siklus, yang mana pada titik tertentu akan terjadi. Sebenarnya sudah bisa diprediksi, walaupun tidak akurat.

Ini perihal kepekaan serta seberapa jauh budaya mitigasi di masyarakat kita. Ketidakstabilan dalam prediksi atas bencana alam, semisal gempa atau erupsi, merupakan salah satu keterbatasan manusia dalam mencoba mengendalikan alam. Ternyata alam memiliki daya yang melebihi manusia, sehingga tidak bisa diprediksi dengan mudah.

Berbeda dengan bencana ekologis yang erat kaitannya dengan keserakahan manusia, terutama mereka yang rakus tanpa melihat daya dukung alam. Secara besar-besaran mengeksploitasi sumber daya alam demi keuntungan mereka sendiri. Namun, dalam praktiknya benar-benar merugikan banyak masyarakat. 
Mencerabut, merampas, dan mengalienasi masyarakat dari ruang hidupnya.
Padahal dalam surat Ar-Rum ayat 41 dan 42 sudah diperingatkan mengenai suatu bencana yang akan dihadapi manusia. Baik alam maupun ekologis, ini juga merupakan peringatan untuk mereka yang zalim dan rakus terhadap alam ciptaanNya.

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang diridhoi Allah). 
Katakanlah (Wahai Nabi Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)." (Ar-Rum 41-42)

Allah dalam firmanNya telah mengingatkan manusia agar lebih mengerti dan peka terhadap alam, baik menjaga alam ataupun bersiap dalam menghadapi bencana. Namun, hal ini tak dipahami secara utuh, bahkan terkesan sepotong-sepotong. Sehingga dengan mudah dapat menganggap sesuatu hal sebagai penyebab bencana, padahal tidak ada relevansi antara sebuah kearifan lokal dengan bencana.

Banyuwangi Terancam Bencana Ekologis

Daripada mempersoalkan bencana karena sedekah dan seni tari Gandrung Sewu, FPI seharusnya juga garang dengan pertambangan yang mengancam wilayah Banyuwangi, tepatnya di wilayah selatan. Di wilayah itu, jikalau ditambang, akan membuat ekosistem terganggu, otomatis memunculkan bencana secara langsung. Di tahun 2016 saja, di salah satu area wisata yang dekat dengan wilayah pertambangan, dihajar oleh banjir bandang, sehingga merusak ekosistem laut dan perekonomian warga.

Mempersoalkan sedekah laut yang secara tidak langsung adalah bentuk kearifan lokal yang memiliki nilai historis dan filosofi yang dalam. Terkait relasi budaya dengan alam, ini sebagai wujud syukur serta doa kepada Allah melalui medium ciptaanNya. Merupakan bagian dari suatu nilai-nilai baik, dalam upaya melestarikan lingkungannya. Walaupun hanya secara simbolis, namun itu relevan dalam konteks relasi manusia dengan alam.

Selebihnya, jika FPI Banyuwangi memang peduli dengan bencana, maka sudah seharusnya mereka sadar diri, bagaimana lingkungan hidup kini mulai terancam keberadaannya. Justru, pertambangan dan deforestisasi adalah musuh yang harus benar-benar dilawan. Bukan kebudayaan yang belum ada relasi nyata dengan bencana, baik alam maupun ekologis.

Bahkan dalam surat Al-A'raf ayat 56, Allah berfirman: "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan."

Jangan berbuat kerusakan, apalagi ini kaitannya dengan kehidupan banyak manusia. Menghujat kebudayaan itu tidak kontekstual dan relevan, melihat maraknya kerusakan alam yang dilakukan oleh manusia.

NU secara organisasi pun pernah menularkan resolusi jihad lingkungan, dalam muktamar 29 di Cipasung Tasikmalaya. Meskipun hingga kini belum terimplementasikan, seharusnya FPI ini memiliki sikap serupa. Bahkan, harusnya mengingatkan NU juga agar berpedoman pada resolusi perlindungan lingkungan hidup.

Alangkah indahnya jika Islam yang rahmatan lil alamin benar-benar dilakukan secara linier. Tidak hanya syahwat politis semata, terutama demi eksistensi semu. Menolak dan memboikot kebudayaan, karena takut bencana, merupakan tindakan yang gegabah dan bias kepentingan.

Padahal di Banyuwangi sedang terancam bencana ekologis yang nyata. Seharusnya mereka benar-benar menghayati ayat suci secara kontekstual, bukan asal komentar namun penuh kesesatan (dholalah).

Referensi
Departemen Agama. (1985). Muqaddimah al-Quran dan Tafsirnya. Departemen Agama, Republik Indonesia.
Diamond, J. (2005). Collapse: How societies choose to fail or succeed. Penguin.

Sumber: Qureta.Com 

Dialog Habib Utsman dengan Masyarakat tentang Sedekah Laut


Penulis: Hamzah Sahal 
Senin, 15 Oktober 2018


Di Cirebon, ada seorang Habib yang alim dalam ilmu fikih dan ushul fikih. Ia tinggal di Pesantren Kempek, Palimanan, Cirebon. Syarif Utsman Yahya namanya. 
“Abah Ayip atau Kang Ayip,” begitu masyarakat mengenalnya. 
Ayip adalah bentuk “tahfif” dari “syarif”. Syarif itu sebutan Habib di Cirebon.

Suatu hari, Abah Ayip, wafat 2010, disowani beberapa orang dari masyarakat nelayan, sebagain masyarakat Cirebon memang kuat dengan tradisi Maritim.

Mereka mengadu kepada sesepuh dan orang yang dinilai alim dalam ilmu agama di Cirebon. Mereka datang ke Abah Ayip karena ada kalangan ustaz yang mengatakan tradisi “sedekah laut” dalam Islam tidak diajarkan, bahkan lebih dekat dengan kesyirikan, alias menyekutukan Tuhan.
“Siapa yang memimpin doa sedekah laut?” Tanya Abah Ayip.
“Mbah Kaum, Bah,” jawab salah satu dari mereka. 
Maksud Mbah Kaum di sini adalah kiai kampung, biasanya bertugas menjaga/imam masjid, pemimpin tahlil, mengurus jenazah, dan lain-lain.
“Lestarikan tradisi sedekah laut Sampean. Banyak baca bismillah, qulhu dan selawat. Hati-hati di laut, isi perahu sesuai dengan kekuatan. Cari perahu lagi jika tidak muat. Jangan dipaksakan,” Abah Ayip memberikan dukungan.
“Makanan yang dilarung bagaimana, Bah? Katanya mubazir dan Nabi tidak pernah melarung makanan ke laut,” tanya yang lain.
“Lanjutkan. Niatkan sedekah kepada makhluk Allah yang ada di laut. Jangan pelit jadi orang. Ambil ikan tiap hari, sepanjang tahun, masa ndak kasih makan ikan-ikan sekali pun? Itu, kalau kurang, ambil ayam saya di belakang, dilarung bersama kepala kerbau kalian.”
[]