This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Bonokeling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bonokeling. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2019

Bonokeling, Kearifan Lokal Jawa Kuno

TRADISI unggah-unggahan menjadi warisan budaya adiluhung Tanah Banyumas yang berbasis agraris. Pengikut adat Bonokeling meluruhkan nafsu sebagai manusia agar kembali fitri.

Inilah bagian dari kearifan masyarakat adat Jawa kuno yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk modernitas.

Ratusan perempuan berbalut kemban dengan selendang putih melingkari pundak duduk bersimpuh di bawah terik surya. Dalam keheningan, satu per satu membasuh tangan, kaki, dan wajah mereka sambil mengucap mantra.

Mereka bersiap menjalankan ritual unggah-unggahan, mendoakan leluhur, membersihkan batin sebelum Ramadhan, tiga pekan lalu. Mereka berjajar rapi, di kompleks makam Bonokeling, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah.

Sosok Bonokeling, menurut Tetua Komunitas Adat Bonokeling, Sumitro, konon adalah tokoh spiritual dari Kadipaten Pasir Luhur (sekarang wilayah Karanglewas, Banyumas). Wilayah ini dulu merupakan bagian dari Kerajaan Padjadjaran. Kedatangan Bonokeling ke Pekuncen dalam rangka pembukaan wilayah pertanian.

Oleh karena itu, nuansa agraris menjadi ciri utama tradisi Bonokeling. Tradisi unggah-unggahan awalnya diadakan menjelang musim panen padi. Acara berlangsung lima hari, mulai dari penyambutan tamu, berdoa bersama, ziarah, selamatan, dan pengiringan tamu pulang.

Saat Islam masuk pada abad ke-16, prosesi ini disamakan dengan ritual sadran, tradisi menengok dan membersihkan makam leluhur sebelum bulan puasa.

Dalam prosesi ini, para peziarah adalah pengikut Bonokeling dari beberapa desa di Kabupaten Cilacap. Mereka berjalan tanpa alas kaki dari rumah masing-masing sejauh 30 kilometer-40 kilometer sambil membawa hasil bumi yang akan dimakan bersama seusai ziarah kubur. Ritual jalan kaki atau laku mlampah ini dimaknai sebagai olah rasa, prihatin sebelum memanjatkan doa esok harinya.

Menurut Miswan (60), pengikut komunitas adat Bonokeling asal Desa Kalikudi, Kecamatan Adiraja, Cilacap, hasil bumi dibawa sebagai lambang bakti kepada leluhur. 
”Sebelum bulan puasa, sudah semestinya mohon restu orangtua untuk menjalani bulan yang suci ini. Itulah yang kami lakukan dengan sowan kepada sesepuh dan leluhur, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal,” tuturnya.
Olah batin menjadi penyangga utama arah keyakinan kaum Bonokeling. Mereka meyakini, batin yang bersih merupakan kunci utama mendapatkan kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat.

Pada malam-malam tertentu, di rumah adat di Desa Pekuncen yang berdinding anyaman bambu dan beralas tanah, mereka sering menggelar kegiatan muji (semacam zikir). Mereka menembangkan lagu-lagu berbahasa Jawa kuno sebagai medium permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hal lain yang unik dalam tradisi Bonokeling, mereka hanya mengucapkan syahadat, puasa, dan zakat. Namun, mereka tidak mempertentangkan tata cara Islam yang sebenarnya. Mereka lebih memandang, beribadah bukan terletak pada cara menjalankannya, melainkan tujuannya, yakni Yang Mahahakiki.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka mengharamkan mo limo, yaitu madat, maling (mencuri), madon (main perempuan), mabuk, dan main (judi). Mereka dianjurkan senantiasa menggali pengetahuan untuk hidup di akhirat. Mengamalkan pepatah Jawa kuno urip kui mung mampir ngombe yang mengandung makna bahwa hidup itu hanya sesaat, yang abadi adalah hidup akhirat.

Warga (40), penganut Bonokeling dari Dusun Daunlumbung, Cilacap Selatan, yang bekerja sebagai pegawai swasta, misalnya, selalu berusaha jujur dalam setiap pekerjaan sekecil apa pun. 
”Saya tidak akan mengambil yang bukan hak saya. Uang lebih kalau disuruh fotokopi ya saya kembalikan. Itu bukan hak saya,” tuturnya.
Selain itu, dalam setiap kesempatan ronda di kampungnya, dia juga selalu menghindar jika ada tetangga yang mengajak main kartu dengan taruhan. Bagi dia, sekecil apa pun taruhannya, itu sudah melanggar keyakinannya.

Dalam berpuasa, komunitas adat ini, mendasarkan pada penanggalan Jawa versi Alif Rebo Wage (Aboge). Tidak seperti penentuan awal puasa pemerintah yang didasarkan pada rukyat atau melihat hilal (bulan sabit). Penghitungan ini, kata Sumitro, sudah dikenalkan pada abad ke-14 oleh Raden Rasid Sayid Kuning dari Kerajaan Pajang.

Keteguhan kaum adat Bonokeling mempertahankan kearifan-kearifan lokal bukan tanpa halangan. Gelombang modernisasi berupa hiburan dan tontonan sedikit menggerus beberapa nilai-nilai hidup mereka.

Sumitro mencontohkan, jika dulu warga Desa Pekuncen dan sekitarnya, tidak diperbolehkan nanggap wayang dan lengger dengan maksud menjauhkan diri dari maksiat. Namun, kini larangan seperti itu sudah sering dilanggar. Arus informasi dari televisi yang menyuguhkan ingar-bingar dunia serba instan juga menggoda nilai kehidupan generasi muda Bonokeling.

Oleh karena itu, menurut juru kunci Bonokeling, Kiai Kartasari, untuk menjadi pengikut Bonokeling, seseorang harus melewati berbagai ujian. Calon pengikut harus mematuhi beberapa syarat utama untuk menjadi anggota.
”Yang ingin menjadi pengikut harus melewati ujian selama tiga tahun digembleng dengan mengikuti kebiasaan adat Bonokeling. Tradisi ngelaku ini dilakukan untuk ’ngisi balung merti’ atau mendalami nilai-nilai Bonokeling hingga ke sumsum tulang. Kalau tidak kuat, ya keluar,” ujar Kartasari.
Sujito (24), salah satu generasi muda Bonokeling, mengakui, gemblengan terberat dalam mengikuti komunitas adat tersebut adalah wajib mengikuti setiap pelaksanan ritual selama periode waktu tertentu. 
”Kalaupun itu hari kerja, harus mengajukan libur. Tapi, itu risiko. Berbeda dengan pergaulan di luar, di sini batin saya tenteram,” tutur pemuda yang mengikuti komunitas adat itu sejak SMA.
Ia mengikuti jejak ayahnya. Namun, hal itu tidak pernah dipaksakan kepada anggota keluarga lain. Adik perempuan dan ibunya tetap menganut keyakinan Islam berkiblat ke Baitullah.

Dalam buku, Islam Kejawen (2008), peneliti Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto, Dr Ridwan, MAg, menyebutkan, komunitas adat Bonokeling dalam praktiknya masih memandang adanya simbol sebagai kosmologi dan mitologis yang terkait dengan dunia material dan dunia pikir sebagai fenomena menakjubkan. Hal tersebut menuntut kedewasaan orang luar dalam mengurai bahasa simbol yang sangat bergantung pada sudut pandang penilaiannya.

Namun, budayawan Ahmad Tohari menilai, terlepas dari jalur keyakinan yang dianut, tradisi Bonokeling merupakan kekayaan budaya Jawa kuno yang sangat langka. Ia malah mengkhawatirkan keberlangsungan tradisi tersebut. Pasalnya, hampir 80 persen pengikutnya berusia lanjut sehingga butuh transformasi nilai budaya bagi keturunan selanjutnya.

Bagi Tohari, akulturasi budaya lokal dan Islam yang terjadi pada kaum adat Bonokeling melahirkan kearifan lokal yang unik. Kekerabatan yang begitu kuat di antara kaum Bonokeling akan menjadi kunci kelanggengan kearifan khas Jawa kuno itu. (Gregorius Magnus Finesso)

Editor : I Made Asdhiana
Sumber : Kompas Cetak,

Gregorius Magnus Finesso 

Senin, 22 Juli 2019

Kebudayaan Keturunan Wangsa Bonokeling yang Masih Kental

22 Juli 2019 16.23 WIB - Kevin Naufal

Keturunan Wangsa Bonokeling © commons

Suatu wangsa penganut kepercayaan Jawa kuno yang sangat menjunjung tinggi terhadap leluhurnya, sering menggelar ritual unggahan atau berziarah ke pusara makam keramat leluhurnya.

Wangsa itu sendiri berarti kelanjutan atau keturunan dari suatu kekuasaan pemerintahan yang dipegang oleh satu garis keturunan kerajaan itu sendiri. Bonokeling, yang diambil dari nama seorang Kyai yang konon mempunyai penghormatan tertinggi yang dianggap leluhur pada masanya di sebuah Desa di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Konon, Kyai Bonokeling yang dipercaya berasal dari daerah Pasirluhur, mempunyai pengaruh yang kuat terhadap warga sekitar. Karena hal tersebut, nama Bonokeling menjadi identitas warga sekitar.

Hal ini juga ditegaskan ketua pengikut Bonokeling, yakni barang siapa yang ingin mengetahui sosok Kyai Bonokeling secara jelas, maka dia harus mutlak menjadi pengikut setiannya.

Wangsa ini mempunnyai tradisi yang hampir serupa dengan tradisi nyadran atau unggahan unggahan yang sama-sama berkunjung ke makam leluhur yang biasa dilakukan umat muslim setempat saat menjelang bulan Ramadan tiba.

Perbedaan mencolok pada tradisi nyadran dan unggahan yakni prosesi ritus adat dari unggahan yang masih menjunjung tinggi kebudaayan lokal yang menjadikan masyarakat Bonokeling tetap melestarikan turun menurun ini.

Tradisi ini biasa di gelar di Desa Cagar Budaya Pekuncen, Kabupaten Banyumas yang ditemput sekitar 1 jam perjalanan dari pusat kota Purwokerto, Jawa Tegah.

Sumber: Mongabay

Hal mencolok yang terlihat dari budaya adiluhung Bonokeling ini masih terwujudnya tanah agraris dan wujud kebudayaan Jawa kuno.

Ritual unggahan ini masih dilaksanakan rutin oleh anak cucu dari Kyai Bonokeling setiap tahun di hari Jumat yang bertepatan sebelum bulan Ramadan tiba. Ritual ini melibatkan hingga seribu penganut kepercayaan Bonokeling dari berbagai desa di Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas.

Dimulai dari Desa Adiraja, sebuah desa kecil yang terletak di Kabupaten Cilacap yang masyarakatnya masih banyak menganut ajaran wangsa Bonokeling. Ritual ini biasanya dilakukan pada pagi hari saat matahari baru muncul, dengan memulai dengan melakukan caos bekti atau yang berarti salam penghormatan pada para tokoh pemangku yang paling dihormati dalam rumah adat pasemuan.

Pada prosesi caos bekti, para penganut Bonokeling dari yang muda hingga yang tua, semua akan berjalan kaki puluhan kilometer menuju Desa Pekuncen yang ada di wilayah Kabupaten Banyumas.

Berjalan kaki menyimbolkan napak tilas dari perjalanan leluhur dari wangsa ini, yakni Kyai Bonokeling saat menyebarkann ajarannya.
Sembari berjalan, beberapa warga akan terlihat memanggul wadah yang berisi sesaji dan uba rampe yang berisi hasil panen dari ladang dan ternak mereka sebagai persembahan dan rasa syukur.

Selama prosesi tersebut, para kelompok itu akan dipimpin oleh ketua adat selama beberapa hari ke depan. Makam keramat Kyai Bonokeling, mendadak ramai dan diserbu oleh ribuan wangsanya. Semua desa akan ramai dan meriah sebuah hajatan agung tapi tetap sakral.

Saat pertengahan malam hingga pagi tiba, suasana desa akan dipenuhi nyanyian tembang-tembang Jawa, yang berisi pujian-pujian atau perkataan baik yang dipanjatkan kepada Kyai Bonokeling.

Sumber: The Jakarta Post

Menjelang siang, para pria dari wangsa ini akan berbondong-bondong menyembelih hewan ternak hasil mereka sebagai wujud persembahan yang dibawa dari Desa Adiraja, Kabupaten Cilacap. Hasil bumi itu akan dipersembahkan kepada sesama penganut Bonokeling dan memasaknya bersama-sama secara masal untuk dimakan bersama di sekitar area makam Kyai Bonokeling.

Ratusan perempuan dengan berbalut kemban putih akan memasuki makam Kyai Bonokeling satu per satu dengan khitmad. Para perempuan akan membasuh anggota badannya satu per satu, mulai dari kaki, tangan, wajah sambil mengucap doa atau mantra yang dipercaya akan membawa keberkahan.

Kemudian mereka akan duduk sambil mengatupkan kedua telapak tangan yang diangkat tinggi oleh mereka. Hal itu bertujuan menghaturkan kehormatan di depan makan keramat.

Sumber: media cagak budaya

Dalam kepercayaan Bonokeling, perempuan mempunyai kedudukan yang lebih dihormati daripada pria, sedangkan saat sore hari, kaum pria akan menyusul sambil membawa hasil masakan mereka kedalam pusara makam.