This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Teater. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teater. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Mei 2018

Meneropong “Sang Bintang” dari Dataran Tiga Pengadegan [2]


SANG BINTANG: Kesima “sang bintang” Dewi Aminah yang jadi magnet penonton pementasannya [Foto: Ridho Kedung]

Entah apa yang diraih penonton seusai menyimak pertunjukan teater monolog ini. Keterhenyakannya sepanjang 31’06” durasi pementasan malam itu tak menggeser fokusnya. Nyata bahwa kesima “Sang Bintang” sukses menyita perhatian ke dalam lansekap panggung yang ditata dengan kesan semi dekoratif biasa. Namun siraman lighting mendukungnya menjadi komposisi yang cukup sarat dengan pesan situasi, meski tak semua properti menjadi bagian kekuatan dalam membangun dan menyatukan narasinya.  

Sementara Dewi Aminah mampu melampaui narasi verbal “Sang Bintang” dan mereaktualisasi ekspresi naratifnya, dari sisi panggung mengalirkan suara musik yang menutupi celah-celah agar ekspektasi pentasnya bisa terjaga. Talenta Dewi Aminah memang berhasil mengatasi kendala narasi tekstual yang panjang dan mengular. Namun pada saat yang sama dan di fase berikutnya; ia tak cukup padat membangun diksi-diksi di sepanjang durasi lakon monolognya. Sesuatu yang akan membedakan sebuah teater monolog dan menjauhkannya dari jebakan story-telling biasa.

AKTING: Sedikit properti yang bisa dimanfaatkan talent guna lebih menghidupkan panggungnya, menjadi catatan dalam proses elaborasi keaktoran selanjutnya [Foto: Ridho Kedung]
   
Itu sebabnya kenapa ada terminologi “dataran tiga pengadegan” dalam pementasan monolog “Sang Bintang” di panggung (9/5/18) malam itu.

Tentu saja, ini hanya lah sebuah catatan belaka; tanpa tendensi kritis. Satu-satunya tendensi yang mesti dibangun adalah meminimalisir celah-celah agar bangunan cerita tidak menjadi datar-datar saja. Meksi dalam konteks ini, komposisi musik dan pencahayaan dapat menolong; namun secara esensial ia menjadi bagian utuh dari kekuatan sang talent.  

Bagaimana mematangkan talenta, selain bukan perkara instan; barangkali ini masuk dalam wilayah rejim penyutradaraan. Tetapi saya ingin mengembalikan simpulan ini dengan mendekati latar proses ketimbang paparan ceritera pentasnya. Dengan begitu, jagad teater akan menempati realitas estetik yang dapat dijadikan wahana pembelajaran bersama.

Menyorot Dewi “Sang Bintang” Aminah malam itu, nampak telah memiliki bekal dasar kuat, terlebih jika mengingat ia adalah talent pemula. Mulutnya bertenaga, daya imagineirnya tak rendah; demikian pula nalar estetiknya. Tentu, dasar-dasar ini tak lepas dari proses bagaimana ia dipersiapkan Sangkanparan untuk itu...  [ap]


APRESIAN: Sejumlah penonton mengapresiasi pementasan monolog "Sang Bintang" (9/5) dalam sesi dialog yang digelar pasca pementasannya [Foto: Ridho Kedung] 

Kamis, 10 Mei 2018

Meneropong “Sang Bintang” dari Dataran Tiga Pengadegan [1]


- Catatan Pentas Monolog “Sang Bintang” Dewi Aminah




Sebagai sebuah ekspresi dan peristiwa seni, pementasan teater monolog “Sang Bintang” yang diusung komunitas pembelajar Sangkanparan dari Cilacap ke Kebumen (9/5) malam itu; menjadi momentum yang berbeda dari pentas di ruang publik biasanya. Aula Ronggowarsito di lingkungan kampus STIE Putra Bangsa menjadi saksi, saat lebih dari 150 penonton menyimak pentasnya. Jumlah audiens yang selain besar secara kuantitas, juga menjadi catatan tersendiri karena memang kegembiraan apresian umum seperti ini jarang terjadi.

Tak berlebihan untuk mengatakan bahwa pementasan monolog “Sang Bintang” malam itu terbilang sukses. Kesungguhan Dewi Aminah dalam mengeksplorasi bakat keaktorannya menghasilkan kesima kuat yang secara umum mampu membikin ratusan penonton tak beranjak pergi dari duduknya; hingga usai pertunjukan. Tentu, dalam konteks pertunjukan seutuhnya, anasir pendukung lain hasil kerja-kerja dalam proses yang membentuknya demikian; tak bisa dimenafikkan.

Catatan kecil ini tak dimaksudkan untuk menilai aspek-aspek teknis dari tetek-bengek disiplin dramaturgi yang jembar medan aktualisasinya. Saya membuatnya semata karena mengimani bahwa proses berkesenian itu sungguh suatu kenikmatan religius. Kedalaman yang hanya bisa diukur secara sense of arts dan bukan dengan melulu kerangka sains teoritik.

Selain secara faktual “Sang Bintang” memang mengharu penonton malam itu, sesungguhnya, proses simultan komunikasi kreatifnya masih terjadi, meski pentasnya sendiri telah usai.
Itulah takdir lakon “Sang Bintang” nya Whani Darmawan setelah pada 2016 ia selesai menulis dan merangkumnya Sampai Depan Pintu.    


SANG BINTANG: Keaktoran Dewi Aminah saat memainkan monolog "Sang Bintang" menjadi magnet ratusan penontonnya di aula Ronggowarsito kompleks kampus STIE Putra Bangsa Kebumen (9/5) - Foto: Ridho Kedung


Re-interpretasi teks dan konteksnya


Bagaimana talenta Dewi Aminah mengaktualisasikan kembali narasi cerita melampaui teks-teks verbal penulis lakonnya, dengan asistensi Nyak Dewi Kusumawati sebagai sutradara yang membantu membidaninya. Adalah sebuah perjalanan “Sang Bintang” yang secara tekstual telah ditakdirkan.

Secara tekstual memang lakon yang ditulis Whani Darmawan ini memuat manifestasi keinginan sebagai sebuah fenomena; akan tetapi yang tak berdiri sendiri secara konteks. Dia -manifestasi keinginan- itu tentu tak bersifat instan, melainkan dikonstruksi oleh hubungan-hubungan dialektis dalam hidup dengan tradisi -sistemik- tertentu yang membentuknya menjadi dan menemui realisme kekinian.  

Manakala perwujudan “Sang Bintang” ini hendak dibumikan (baca: dipanggungkan), maka muatan konteksnya mesti ikut dihadirkan secara jelas. Jelas di sini bermakna bukan sekedar mengganti seting pentas yang terbagi dalam tiga fase pengadegan, melainkan lebih pada tendensi karakter dan bangunan situasi pada setiap bagian narasinya, yang secara wutuh diaktualisasikan melalui kerja visual pentas monolognya.  

Transformasi teks-teks ke dalam pentas monolog memang mensyaratkan interpretasi dasar yang kuat dari sang talent. Nampak betapa tak ringannya misi milenial keaktoran “Sang Bintang” ini dalam mengusung konten dengan muatan visioner yang melihat lompatan ke depan, agar sampai ke dalam ruang kosmik penontonnya hari ini... [arp]

Sabtu, 13 Maret 2010

Dialog Seni

Obrolan Budaya
Bale Kelurahan Kebumen, 
Sabtu 13 Maret 2010, jam 20.30 wib – 23.25 wib
Peserta: Teater Ego, Teater Ilir, Basatu, SRMB, Teater Gerak, BoeMI, indipt,

Susunan Acara:

Putut
Pembukaan:
- Salam
- Kita berkumpul untuk ngobrol, format santai, ga protokoler dg tema: sebagaimana dibicarakan pada GPT-2 yang terpotong dahulu itu.
- Bagaimana agar bisa berlanjut ngobrol, begitu alasannya, kegelisahan teman2, ada sesuatu yang selalu layak untuk diobrolkan
- Evaluasi atau Refleksi
- Mungkin telah separuh lebih yang telah datang saat ini
- Inisiator, Ego dan SRMB.
- Peserta: Basatu, non teater Boemi, Teater Ilir, dan sebagainya.
- Dipersilahkan SRMB untuk menyampaikan sajian pembuka, musik-puisi atau apa saja. Dipersilahkan.

SRMB Membawakan sajian Musik-Puisi dari Antologi “Kuputarung”
- MP: hasbunnalloh wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mannatsir
- MP: Lelaki dan Pembasmi Serangga
- MP: Doa-Doa Sang Durjana

Pitra Suwita - Berharap masukan dari sekalian yang hadir
- Dipersilahkan Putut dan Pekik untuk mengawal dialog ini.

Pekik
(20.50 wib)
- Terimakasih, selamat datang, selamat malam
- Ditawarkan, bagaimana formatnya, seperti apa?
- Silahkan, masukan dari sekalian yang hadir.

Lina Boemi - Sepakat untuk mengobrolkan persoalan.
- Mau di bawa kemana teater Kebumen, problem pemerhati dan anggaran yang terbatas

Pekik
- Refleksi itu penting untuk belajar berikutnya..
- Kepada Putut dan Syahid juga dipersilahkan

Sharing ( Aris )
- Berharap dari panitia memberikan prolog dulu, supaya jelas..

Teater Gerak - Terimakasih, bahwasanya bagaimanapun, berangkat dari masalah
- Dari awal kita seleksi dulu, kepanitiaan, teknis pelaksanaan, begitu kurang lebihnya

Putut
- Terusterang, awalnya, paska GPT 2009, ngobrol dg ArisPanji, paska acara selalu ada evaluasi.
- Tapi paska itu terlewati s.d 2010, pada awalnya, berharap akan ada sebuah event tahunan yang rutin. Tak terjadi evaluasi s.d penyelenggaraan GPT-2
- Pasca itu apa terulang lagi; membicarakan tema. Bukan sekedar membicarakan event.
- Sedikit menghantarkan, proses GPT-2, dipersiapkan selama 2,5 bulan.
- GPT-2, lepas dari kekurangannya, terpublikasi hingga merambah Kedu-Banyumas, 13 komunitas mentas di sana
- Melihat antusiasme ini, perlu tindak-lanjut, silahkan dari Ketum Syahid

Syahid elKobar
- Tak jauh beda dengan Putut, terlepas dari kekurangan kemarin, kegelisahan tentang kegiatan2 GPT yang jadi agenda FopSet yang sudah 2 kali jalan, dan direncana tahunan
- Kegelisahan pertanyaan: dilanjutkan atau tidak, bagaimana bentuknya?

Putut - Tambahan, forum ini punya 2 sessi
- Pertama, evaluasi kemarin; Kedua, follow-up apa yang akan dilakukan setelah ini, dengan keyakinan dapat dilakukan bersama
- Tawaran 2 pilihan; acara kemarin dihentikan atau dilanjutkan. Kemarin tidak berkomunikasi secara keterbukaan dengan keseluruhan pekerja teater Kbm

Kang Juki
- Yang harus dijawab sendiri, sebagaimana tadi disinggung Lina, soal keterbatasan.
- Menurut saya, pertama, mencintai dulu, kedua, optimis dapat melakukan—peluang apa, apa pula kendalanya
- Bukan bertanya: mau dibawa kemana teater Kebumen, agar terarah mesti diimpikan puncak macam apakah kehidupan terater di Kebumen
- Jika kita bisa tentukan itu maka akan jelas,
- Keinginan teater pentas di Jakarta, ada 2 tempat TIM atau di GKJ, misalnya kita punya target ke situ, bagaimana agar bisa diagendakan. Kan jelas.
- Kebumen bukan cuma gudang babu, lalu dalam hal teater, mau sekedar membuat aktivitas rutin atau mau go internasional.
- Banyak tempat/institusi, seperti Universitas Pelita Harapan, bisa untuk pengembangan teater, jangan cepat putus asa, saya yang bukan pekerja teater aja, optimis..jika saya bisa bantu, saya lakukan semampu..

Lina
- Ketua komunitas motor, sepertinya gak nyambung, tapi perlu rangsangan agar ada nafsu berkesenian, penting di reng-reng sejak sekarang, supaya tidak “babak-bundas”
- Pernah ke Komisi C, bicara tentang masa depan teater, bisa enggak, mengawal dari musren desa, menggolkan sedikit kepentingan teater.
- Ingin merangsang sejauh mana teman teater Kebumen untuk menghidupi berkeseniannya

Ikra- Ilir
- Fokus evaluasi jadi melebar kemana-mana, fokus bagaimana ke depan itu juga makin tak jelas.
- Satu hal, kita sama pecinta seni,
- Kegelisahan kreatif, tentu butuh ruang.
- Evaluasi agar tuntas dulu,
- Yg datang di sini punya komitmen untuk memajukan seni di Kebumen?
- Jika ya, terus bagaimana?
- GPT ruang yang sangat bagus, ke depan bisa diteruskan lagi, seperti kota2 lain. Punya ramuan2 yg lebih bagus, kita bisa belajar. Ada seni musik, seni rupa, di Kebumen ada semua itu, cuma tak terakomodir.
- Apa yang telah terjadi kemarin, bisa jadi pelajaran kita
- Jika tadi , kata Lina persoalan anggaran sebagai problem, maka itu dapat dilalui dengan kecintaan
- Penting ke fokus tentang evaluasi dan apa yang dilakukan ke depan
Pekik - Sepakat dengan Ikra, meski tadi telah ditanya apa mau dilanjut atau tidak, lebih bijak.. bahwa apa yang akan dilakukan nanti pada sessi ke 2 saja.
Saring - Applaus untuk panitia GPT, nyatanya teman2 bisa fasilitasi kelompok lain
- Teman2 yang selama ini ngaku senang teater, maka berani korban, jika cinta, maka berani korban dalam bentuk apa pun dan kapanpun
Putut - Mungkin ga tepat jika diserahkan dilanjut atau tidak
- Ingin saya paparkan, dari 13 kelompok yang ada, fakta respon dari luar, seperti Wonosobo, 40 orang, datang dan mentas.
- Magelang, ada even bersama, meski tak bisa datang, tapi ada ucapan selamat, Temanggung, Purworejo datang teman2 dari UMP.
- Lanjut atau tidak kami tawarkan pada semua..
- Purwokerto, 3 yang datang, 2 yang mengapreasi; itu fakta2 yang menggiurkan; maka saya menawarkan, forum itu bukan milik panitia
- Hal2 teknis seperti publikasi ga maksimal, dst..
- Ada impian saya ke depan; saat ada undangan dari seperti Purworejo, di sana ada keinginan untuk terjadi komunikasi intensif, maka jika saat ini tidak dishare, maka eman2.

Ubaidilah
- Jika mau dievaluasi seperti GPT yl, maka saya malu. Hanya begitu, saya ga bisa total, teman2 sampai “nyrememeh” begitu; merasa tak bisa memberikan yang terbaik pada event itu.
- Aku bisa apa di situ, peran apa?
- Kedua, model pengelolaan seperti apa? Sebab dari dulu hanya itu2 saja, penting dishare, bagi peran, maka seperti apa?
- Teater memang datang dari komunitas kampus. Jika di desa2 kita lihat wayang didukung oleh masyarakat, lewat event2 budaya suran, dsb. Itu contoh menarik untuk diserap.
- Kemarin ada seni lukisan, yang juga bergabung dengan yang lain, di pasar senggol juga begitu; apakah marketabel atau tidak, yang akan di lihat secara jujur. Kita penting mulai memanage sehingga tidak tersiakan.

Pekik
- Begitulah

Saring
- Nambahi sedikit, sebagai penikmat, jika ditanyya apa mau dilanjutkan ato tidak, maka dilanjutkan
- Tinggal bagaimana kemungkinan regenerasinya, shg bisa dinikmati lagi pemenatasan teater di Kebumen.

Pitra
- Jika bolej jujur, pertama menggagas Arisan Teater, sebenarnyya telah terkonsep dg baik. Dimana ada pementasan bergilir, messki Cuma hingga 4 saja; diakui memang ada kurangan dalam hal berkomunikasi.
- Belum berani tampil sebagai ujungnya.
- Dilanjutkan FopSet, dg keberanian. Jujur saja, ada ego masing2 kelompok itu. Tapi jika diminta, maka akan dengan senang hati. Sioalnya adalah minimnya komunikasi.
- Sbgmana, kata Putut, ada 9 hingga 10 kelompok teater di Kebumen
- Ini mestinya, ego masing2 kelompok akan terjembatanai dg komunikasi yg optimal.

Jukii 
 - Saya belum bisa melihat, gpt di luar panggung
- Di GPT, terlalu panjang, capek, terjebak nagntuk, jika ddiperpanjang hari, kendala dana mungkin; bgmn bagi awam dapat menikmati seutuhnya, missal dg adanya sinopsosis dsb.

Putut
- Mulai mengerucut, sulit mengatakannya, tdk se simple apakah GPT terus ato tidak
- Tak seperti Arisan Teater yang memang dibicarakan dan disepakati sejak awalnya; bgmn acara tu bisa berjalan sam[e selesai
- ada banyak perwakilan, mala apakah kita perlu wadah atau tidak?
- Jika diregulasikan, ada hal teknis yang bersinggungan dg agenda kelompok2, spt SRMB dg launching buku yl
- Bgmn menyikapi selanjutnya, soal komunikasi bantuan, kemarin eamng tak enak, kawartir ganggu agenda kelompok yang ada itu
- Kang Juki, bayangan saya, jika pentas digelar banyak malam, dg resiko bengkak biaya, maka ada data n fakta tentang pasar yang menjanjikan, tp tm2 tdk mampu memanagenya
- Tentang ego kelompok, amat terasa di Kbm. Perlu langkah terumus ke depan, jk GPT lanjut, maka formatnya seperti apa?
- Kre depAnnya, mungkin GPT dapat bicara lebih luas lagi.
- Malam ini sebagai evaluasi, kurasa telah jelas; persoalannya tidak sesempit itu
Ucok Ilir - Intinya, disini, dari kita siapa yg berani jadi ujung tombaknya, jk hal itu jd problem, maka knp kita ga berani tunjuk jari saja, missal siapa jadi pemimpinnnya.
- Dari sanggar Ilir yang di Jikja, mungkin hanya bisa membantu, teknisnya, akan sellau siap, missal jika dari panitia minta sekian titik lampu, dst

Lasmin Aris
- Masih terlalu bayi dlm teater, baru sekali bertemu langsung dg pegiat seni Kbm, saya lemig sering di Pwrj. Bergabung dg teater Surya Pwrejo.
- Diminta ikut GPT yl, keinginan mengenalkan diri dg masy Kbm, kebetulan jg saya mbimbing di Basatu Kbm.
- Ingin ada parade, dan berkembang jadi festival di Kbm ke depan.

Rimba
- Apakah setelah GPT aka nada lagi ato tidak, itu sudah muncul sejak GPT 1; jika kini muncul lagi, saya sepakat bukan soal dilanjutkan atio tidak; ada semacam kejenuhan jika sekedar pentas, tanpa mengetahui apa yang disampaekan kpd penonton.
- Memahami pesan apa yang akan disampaikan, pemting dibicarakan bagaimana konsepnya
- Ada semacam singkron, ada pementasan dg konsep pentas teater untuk rakyat; perlu konsep lebih luas luewes lagi, missal dg pentas out-door, fdi lapangan, di desa, dsl.

Putut
- Dlm GPT-2; ada ketidakmungkinan terkait teknis penyelengaraanya
Pekik
- Telah cukup dikritisa, termasuk .. tinggal soal kelanjutan apa yang akan dilakukan ke depan, silahkan sumbangsaran, gagasan dan wacana.
Ubaidilah - Perlu rumusan waktu setahun sekali
- Jika ke bentuk festival, masih belum mungkin, karena logika festival adalah logika tarung.
- Di 2011.. bisa di format lebih jwelas lagi..

Lina
- Hanya satu kata, cinta, sinergitas kerja, kapan ketemu lagi untuk dapat dilakukan

Agus Anyar
- Duduk melingkar, satu komitmen, sebetulnya kita sudah satu suara, bgman meneruskanaktivitas utk terus eksis
- Kaya GPT, bagi saya, Cuma wadah. Jika tahun mendatang akan seeperti ini, maka ya tetep GPT.
- Jika dalam perkembanggannya sampe saat ni, GPT tdak mengakomodir lebih luas cakupannya, maka pperlu dibahas lagi
- Beberapa komunitas, lebur jadi satu dan membawa Kebumen ke kancah luas
Tajib - Perbincangan tadi menarik, dulu Arisan Teater sejak 2003, sering konek dg teman2 yang tua.
- Dulu ada tmn2 yang aktif di lsm, berlaku nafas: jika politik menghancurkan kita, maka puisi yang menyembuhkannya.
- Kenapa dari dahulu, problemnya sama saja. Tetapi apakah nafas sekarang masih sama?? Atau berbeda, berbeda bisa rtidak baik, dan bisa lebih baik.
- Persoalan berkesenian, ada dua wilayah: ada aktivitas berkesenian, ada kepanitiaan.

Putut
- Kapan kita akan berproses bareng, ada proses berkesenian, ada managemen sajian (kepanitiaan)
- Kekuatan manajemen orang banyak itu lebih punya kekuatan, maka penting untuk dishare sebagai energy yang tak ada habisnya.
- Kapan dan Dalam event apakah kita bisa barenmg. Saya tak setuju model arisan, tapi lebih merupakan kapan kebersamaan

Pitra - Sekedar tambahan untuk meluruskan terkait pelaksanaan arisan teater

Putut -

Tajib - Kumpul, waktu itu, pengertiannya tidak harus pentas, ngobrol saja ada banyak hal bisa digagas. Missal diagendakan meet tiap bulan..
- Tadi pagi saya mengundang “Cah-Angon”, tereksplor etos kerja, dari menggembala minsul bagaimana kita menggali sumber daya.


Yayat 
 - Forum spt ini amat baik. Da kmntas2 d KBm, knp kita tidak bersama2.
- Beberapa saat lalu di ged PGRI, kesannya “one man show”, berharap dari ruh ini tercipta kesatuan, bukan lagi spirit/sentiment kelompok.
- Kapan sih Kebumen punya keelompok yang besar?

Putut
- Sbnrnya, kesan itu, knapa garus cape2. Maaaf, jika ga dibicarakan pun tetap berjalan. Apa yang saya lakukan akan saya fdapatkan.
- Soal ini diselesaikan dulu, seseorang tak isa menjadi sednirian. Butuh forum yang lebih besar untuk membicarakan kebudayaan yyan g cakupannya lebih luas.
- Kita belum punya kapasitas, itu pentingnya dibicarakan bersaama
- Pd dasarnya, selalu ada event bersama un tuk diilakukan bersama juga
- Saat semua ini tiidak dishare, maka itu berarti melanggar hak banyak orang
- Pembicaan semacam ini bertujuan agar semua tidak nggrambyang lagi

Eko Wahyudi - Terimakasih. Bicarakan komunitas yang inilah saja. Sudah ketemu pemikiran bhwa kita mau jalan bersama
- Kongkret, missal januaru kita melaakukan apa? Atau kapan?
- Bisa gak, banyak elemen ini disatukan jadi satu kekuatan saja? Saat bicarakan ini, kepingin terus saja.

Pekik - Pada malam ini belum ada sepakat, apa yang akan dilakukan ke depan

Tajib - Saya malah sepakat dengan melakukan uini, ada bincang2.

Pekik - Pada akhirnya kita butuh spirit kebersamaan
- Malam ini ada dukungan riil dari semua pihak yang ngumpul di sini
- Meski ada target kesepakatan, tapi sepakat ada meeting lanjut untuk share bersama dan berlanjut
- Malam ini paling tidak ada sepakat untuk berkumpil lagi dan kapan

Eko W 
 - Usul lagi, kapan, walau sekelumit, kita punya gagasan bersama. Tinggal kapan, ada gambaran awal sekaranmga mau apa besook, kapan, di manaa.
Syahid - Kalaupun kita mengadakan pertemuan lg, ada stu permasaalahan yang harus diselesaikan.
- Persoalan untuk adakah, penangkpan saya, dari sejarah, dari arisan teater,, kemudian fopset, maa saat akan ngomong apa pun ga enak, sebgai fopset berharap di forum ini disepakati, tapi bentuk apa, wadah apa, yang disepakati. Ini lebih baik dulu, tanpa bicar ego komu.
- nitas aatau apa tapi penting disepakati

Pekik
- Monggo, apa yang kitra2 disepakati, cukup omong2 spt ini?

Juki
- Perlu disepakati, format seperti apa ke depan

Putut
- Agak pesimis dengan agenda yang ga dijadwalkan, itu penting dilakukan hari ini

Tajib
- Seperti itu bagus untuk tetap dilakukan, seperti GPT. Fopset juga ga masalah, krn itu adalah salahsati bentuk kongkret, dimana tmn2 bisa berkoar. Itu tatap saja, kalau konteks seperti ini amat perlu, minimal, kontak rasa
- Dari forum spt ini, dapat membincang cakupan lebih luas lagi, missal jk omomng tradisi, kan cakupannya lebih luas. Spt ekbudayaan itu kan sangat luas..
- Sxaa berharap, pemkab sedang nhangat, maka kita ya ikut hangat. Ngomong apakah pemkab punya peduli kebudayaan, missal.

Pekik
- Dua sepakat, pertama, kesinambungan komunikasi
- Sebuah agenda yang konkret dan absurd. Konkretnya, aktivitas kaya GPT perlu dilanjut disertai forum2 diskusi seperti ini. Yang secara budget lebih murah. Dan diagendakan secara rutin
- Tawaran Boemi, ketempatan, boleh kita sepakati?

Peserta
- Ya, sepakat.

Tajib
- Saya menawarkan, ngomong dengan Syahid, mau ngadakan acara nonton film, sekita 20 film. Malam pertama, yuk, baca puisi, tema pluralitas, atau tahlilan, rencana sekitar April, tapi pas pilkada. Dan ketiga, pentas.
- Desain yang disiapkan, teman2 yg tterlibat kita record, dan share secara luas sebagai kerja teman2 dengan tema keberagaman

Pitra
- Dikonkretkan, tawaran yang mana dulu. Jika indipt, april; maka Boemi sendiri bagaimana?

Lina - BoeMi siap kapan saja.

Pekik - Kita sepakati tawaran Indipt diterima dan dilakukan lebih dulu.
- Kita akhiri dulu, setelah ini ada obrolan bebas, silahkan saja..
- Tertimakasih, Alhamdulillah. 
Selamat Malam, salam budaya.