This is default featured slide 1 title
BEBAL:"FPI"
Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnyaThis is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Rabu, 08 Januari 2020
Penyair, Identitas, dan Hal-hal yang Membuatnya Kembali Diperbincangkan
Senin, 28 Oktober 2019
SRMB dan Literasi Daerah
Rabu, 23 Oktober 2019
Anak-Anak Memerlukan Cerita, Puisi, Musik, dan Kesenian
Tetapi jika Anda tidak memberi mereka kesenian dan cerita dan puisi dan musik, kerusakannya tidak begitu mudah dilihat. Tubuh mereka cukup sehat; mereka dapat berlari dan melompat dan berenang dan makan dengan lahap dan bersuara berisik, seperti lazimnya anak-anak, tetapi ada sesuatu yang hilang.
Memang benar bahwa sejumlah orang tumbuh tanpa mengenal kesenian dalam bentuk apa pun, dan mereka terlihat bahagia. Mereka menjalani kehidupan yang baik dan berharga, dan tak ada buku di rumah mereka, dan mereka tidak begitu peduli pada lukisan, dan mereka tidak tahu pentingnya musik. Tidak ada masalah. Saya tahu orang-orang yang seperti itu. Mereka tetangga-tetangga yang baik dan warga negara yang bermanfaat.
Tetapi beberapa orang lainnya, pada tahap tertentu di masa kecil atau di masa muda mereka, atau bahkan mungkin di usia tua mereka, mengalami sesuatu yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya. Bagi mereka, pengalaman itu sama asingnya dengan sisi gelap bulan. Suatu hari mereka mendengar pembacaan puisi di radio, atau melewati sebuah rumah dengan jendela terbuka dan melihat seseorang bermain piano, atau melihat poster sebuah lukisan di dinding rumah seseorang, dan pengalaman itu memberi pukulan yang mengejutkan namun lembut sehingga mereka merasa pening. Mereka tidak pernah dipersiapkan untuk mengalami hal ini.
Tiba-tiba mereka menyadari ada rasa lapar, meskipun mereka tak memikirkan hal itu semenit sebelumnya; rasa lapar akan sesuatu yang manis dan lezat sehingga hampir menghancurkan hati mereka. Mereka hampir menangis, mereka merasa sedih dan gembira dan sunyi, disambut oleh pengalaman yang benar-benar baru dan aneh ini.
Mereka ingin mendengarkan radio, mereka tercenung lama di luar jendela, dan mata mereka tidak bisa beralih dari poster lukisan. Mereka menginginkan hal ini, mereka membutuhkan semua ini seperti orang lapar membutuhkan makanan. Dan mereka tidak pernah menyadarinya selama ini. Mereka tidak pernah tahu.
Seperti itulah rasanya bagi anak-anak yang membutuhkan musik atau lukisan atau puisi. Jika tidak ada perjumpaan kebetulan seperti di atas, mereka mungkin tidak akan pernah menyadari rasa lapar mereka. Mungkin mereka akan menjalani saja seluruh hidup dalam keadaan lapar budaya tanpa menyadarinya.
Efek kelaparan budaya memang tidak dramatis dan seketika. Ia tidak mudah terlihat.
Dan sejumlah orang tidak pernah mengalami perjumpaan seperti itu; dan mereka beres-beres saja. Jika semua buku dan semua musik dan semua lukisan di dunia ini lenyap dalam semalam, mereka tidak akan merasa lebih buruk. Mereka bahkan tidak akan tahu.
Tetapi rasa lapar itu dirasakan oleh anak-anak, dan seringkali tak terpenuhi karena tidak ada yang menyadarkan mereka. Banyak anak di berbagai belahan dunia mengalami kelaparan akan sesuatu yang memberi kebugaran dan memelihara jiwa mereka, yang tidak tergantikan oleh hal-hal lain.
Kita mengatakan bahwa setiap anak memiliki hak atas makanan dan tempat tinggal, pendidikan, perawatan medis, dan sebagainya. Kita harus memahami juga bahwa setiap anak memiliki hak untuk menikmati kebudayaan. Kita harus sepenuhnya memahami bahwa tanpa cerita, puisi, lukisan, dan musik, anak-anak akan kelaparan.
• Ditulis oleh Philip Pullman pada peringatan kesepuluh Astrid Lindgren Memorial Award, 2012. Tulisan aslinya bisa diakses di Blog Astrid Lindgren Memorial Award.
Blog itu sekarang berhenti. Tulisan terakhir adalah pada 15 Januari 2019, berisi pengumuman bahwa mereka tidak akan menulis lagi untuk blog tersebut.
Dia juga telah memenangi banyak penghargaan, termasuk Medali Carnegie untuk The Golden Compass, Penghargaan Whitbread (sekarang Costa) untuk The Amber Spyglass; nominasi Booker Prize untuk The Amber Spyglass; dan Penghargaan Astrid Lindgren Memorial pada 2005.
Tanya jawab menarik tentang buku favorit, musik dan film kesukaan Philip Pullman, dalam acara BBC Five Minutes With.
Rabu, 09 Oktober 2019
Eka Kurniawan Tolak Anugerah Kebudayaan dari Kemendikbud
"Suara saya mungkin terdengar arogan, tapi percayalah, Negara ini telah bersikap jauh lebih arogan, dan cenderung meremehkan kerja-kerja kebudayaan," tulisnya.
"Kontras semacam itu seperti menampar saya dan membuat saya bertanya-tanya, Negara ini sebetulnya peduli dengan kesusastraan dan kebudayaan secara umum tidak, sih?" keluh Eka.
"Memikirkan ketiadaan perlindungan untuk dua hal itu, tiba-tiba saya sadar, Negara bahkan tak punya komitmen untuk melindungi para seniman dan penulis [bahkan siapa pun] atas hak mereka yang paling dasar: kehidupan," lanjutnya.
"Kesimpulan saya, persis seperti perasaan yang timbul pertama kali ketika diberitahu kabar mengenai Anugerah Kebudayaan, Negara ini tak mempunyai komitmen yang meyakinkan atas kerja-kerja kebudayaan," tegas Penulis novel Cantik itu Luka tersebut.
Tirto.ID
Kamis, 15 Agustus 2019
Bumi Manusia dalam Film
“Yang paling menyakitkan dari semuanya, para tokoh perempuan yang menjadi korban mendapat pencerahan dan jalan keluar dari novel Bumi Manusia,” tulis Ariel.
Senin, 12 Agustus 2019
Pramoedya Ananta Toer dan Bumi Manusia, Perlawanan dari Dalam Penjara
"Mari Pak, kita amankan!" kata tentara kepada Pram.
"Saya kira diamankan dari gerombolan pemuda ini. Enggak tahu ditahan 14 tahun," kata Pram seperti dikutip dari buku Pram Melawan (2011).
"Tahun 1970-an bentuk novel sejarah seperti Pram enggak banyak. Boleh dibilang dari segi itu Pram pelopor lah, bikin historical novel. Ini genre yang khas karena selalu berusaha menggambarkan masyarakat sebagai totalitas, bukan fragmen. Dari segi itu belum ada bandingannya," kata Fay, panggilan akrab Hilmar Farid dalam perbincangan dengan Kompas.com beberapa waktu lalu.
"Umar Kayam kan nulis Para Priyayi, Romo Mangun nulis Burung-burung Manyar, tapi yang daya jangkaunya terhadap fakta sejarah kayaknya cuma Pram," lanjut dia.
"Hanya saja bukan kritik yang hitam putih terhadap feodalisme. Malah feodalisme bisa hidup karena orang mendapat manfaat darinya. Dan itu justru yang membuatnya sulit untuk dilawan," kata Fay.
"Feodalisme dalam pemahaman Pram di karya-karyanya itu yang sebetulnya menghambat perkembangan. Karena orang tidak bisa berpikir terbuka, tidak bisa bicara apa adanya, harus selalu berpikir di dalam kerangka hierarki, bahkan mengamini hal yang tidak baik atas nama ketaatan terhadap atasan dan seterusnya," kata Fay.
"Dia kan melihat bagaimana cintanya itu berhadapan dengan tembok-tembok pemisah yang dilihatkan lewat kolonialisme. Sebagai seorang pemuda yang jatuh cinta, dia berjuang meruntuhkan tembok-tembok itu," kata Fay.
"Pertanyaannya yang kemudian tersisa, kalau begitu bagaimana cara kita berhadapan dengan sisa-sisa kolonialisme sampai hari ini? Apa yang harus dilakukan? Sampai di mana batas toleransi terhadap hal-hal negatif dari warisan feodal itu? Itu problematik yang saya kira dalam novelnya Pram melalui interaksi tokoh-tokohnya itu tergambar betul," ujar Fay.
"Pram bisa bermain-main dengan realitas yang pahit, menertawakan nasib sendri," ujar Fay.
Editor : Heru Margianto
Minggu, 11 Agustus 2019
Bukan Cuma Bambu Runcing: Narasi Bopeng di Tiap Tikungan Revolusi
Padahal seperti ditulis H.B. Jassin dalam pengantar Percikan Revolusi(1950) karya Pramoedya Ananta Toer, lapangan perhatian Angkatan 45 “seluas penghidupan, dan dari pusat soal-soal mereka melihat dunia sekelilingnya. Dalam kempaan suasana keadaan mereka menemukan dirinya dan belajar melihat sampai ke inti segala, dikuliti dari kepalsuan dan ketidakperluan”.
Angkatan ini tak selamanya memproduksi narasi kepahlawanan yang tanpa cela. Revolusi memang bukan ladang kebajikan yang menerakan lukisan hitam putih. Idrus lewat novel Surabaya memberi contoh yang brilian tentang bagaimana amuk revolusi tak lebih dari sekadar mabuk merayakan peralihan zaman.
Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya ditulis Pram) yang amat takzim kepada prosa-prosa Idrus, juga membeberkan hal serupa dalam karya-karyanya, baik novel maupun kumpulan cerpen, seperti misalnya dalam Percikan Revolusi + Subuh.
“Angkatan revolusi melihat segala dari pusat derita, mereka tidak hanya mengenal dan mengetahui, tapi juga mengalami dan merasai pada badan dan jiwa. Tidak ada jarak antara obyek dan subyek,” imbuh Jassin.Tahun 1945, seperti para pemuda yang lain, Pram keranjingan militer. Ia masuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebagai Prajurit II dan ditempatkan di Cikampek pada kesatuan Banteng Teruna. Sampai 1946 ia berada di sana dan terlibat dalam pelbagai pertempuran dengan tentara Inggris. Karir militernya sampai perwira pers dengan pangkat letnan II.
Alasan keluarnya Pram jelas tak menggambarkan kehidupan tentara pejuang yang ideal. Dalam pusarannya, seperti yang Pram rasakan, revolusi kemerdekaan memang menghadirkan narasi bopeng dalam tiap tikungannya.
Salah satu cerpen Pram yang terasa amat menggambarkan pengalamannya selama menjadi tentara adalah “Dendam”. Sebuah laporan dari seorang tentara yang awalnya merasa bangga dapat berseragam militer di zaman mabuk revolusi, namun kemudian perasaannya merasa lemah melihat pembantaian dengan mata kepalanya sendiri.
“Karena itu aku pun pergi ke stasiun. Mengapa ‘kan tidak? Selalu dan selalu manusia suka memperlihatkan kelebihannya. Apalagi kalau kenyataan yang telanjang itu diberi fantasi sedikit: aku pemuda revolusioner,” tulisnya.Lihat, kebanggaan itu begitu mudah dipanggul hanya dengan kata-kata “pemuda revolusioner”. Namun dalam kebanggaannya, tokoh aku yang menjadi narator dan mengisahkan pengalamannya senantiasa diliputi pertanyaan, kesinisan, sekaligus ketakutan atas situasi yang berlaku saat itu.
“Mengapa bersorak? Aku tak tahu. Hanya kurasai kemabokan yang membenam, menarik dan mendesak-desak. Orang lain pun demikian pula halnya. Semua bersorak. Semua mabok. Bersorak untuk bersorak. Bersorak untuk mabok-memabokkan,” ungkapnya melihat rakyat mengiringi para tentara yang hendak berangkat ke medan laga.
Jika datangnya dalam keadaan mati, dibawa di atas usungan serta tubuhnya mulai membusuk, orang-orang juga akan gampang mengatakan “pahlawan bangsa” dengan memberikan sedikit penghormatan.
Di titik ini, revolusi bukan sekadar menelanjangi para pejuang yang mabuk menelan situasi baru yang bebas dan berlaku ugal-ugalan seperti dalam Surabaya-nya Idrus, tapi juga sikap culas masyarakat yang menjadi penonton atas persabungan di garis depan.
Yang paling menggiriskan dari laporan prajurit ini adalah tentang pembantaian terhadap seorang haji, mata-mata yang membikin pasukan republik celaka: tak kurang 11 orang meregang nyawa.
Saat ia tertangkap, pelbagai pukulan, tendangan, dan rupa-rupa senjata tajam menghujaninya, namun rupanya ia mempunyai ilmu kebal. Pasukan yang kalap lalu menyeretnya dengan mobil dan tubuh mata-mata itu terpontal-pontal di aspal dan bebatuan. Namun lagi-lagi ia tidak terluka.
Seorang serdadu yang membawa pedang samurai kecil kemudian berteriak “kembali jadi tanah!” Setelah itu pedangnya mampu membobol pertahanan si mata-mata: perutnya terburai.
Ia kemudian ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Dan malam hari anjing-anjing menggonggong mengerubuti bangkai mata-mata itu. Si prajurit tak kuasa menyaksikan peristiwa mengerikan, ia pun buru-buru masuk ke tangsi.
Belum sempat ia tidur, lonceng tangsi berbunyi: perintah berangkat ke garis depan. Si prajurit menggigil.
“Sekali ini pergi jualah aku—pergi untuk dibunuh, pergi untuk membunuh. Badanku bergemam sebentar. Seperempat jam kemudian barisan berangkat. Dan pembunuhan berjalan terus,” pungkasnya.
“Tuan perlu lemari?” tanya perempuan yang terus mengikutinya.
“Betul, nyonya,” jawabnya.
“Saya bisa menunjukkan pada tuan, lemari yang bagus dan murah,” timpalnya.
Lalu perempuan itu pergi menyusuri jalan dan gang demi gang, sementara si lelaki mengikutinya. Muara perjalanan adalah sebuah rumah besar kuno yang sudah terlalu usang, buruk, lebih buruk dari kandang delman.
Perempuan itu lalu menunjukkan sebuah lemari kayu setinggi satu setengah meter dan lebar hampir tiga meter. Ukirannya burung merak dan bunga-bunga aneka macam.
“Alangkah bagus,” gumam si lelaki.
Menurut nyonya yang menawarkannya, lemari itu adalah peninggalan suaminya untuk menyimpan buku dan barang-barang kuno. Pada masa pendudukan Inggris, lemari itu turut dibawa mengungsi ke Padalarang, Plered, dan Purwakarta.
Saat perempuan itu mengatakan harga yang ia tawarkan, tangan si lalaki terlepas dari pintu lemari. Dari dalam lemari, seekor kucing tanpa kepala dan sudah dikuliti, lepas dan jatuh ke lantai.
“Tuan, anak-anak itu harus kuat dan mereka membutuhkan daging, anak-anak harus kuat tubuhnya,” ucap si nyonya.
Si tamu hanya mengiyakan, sementara lalat mulai mengerubungi bangkai kucing itu. Seorang anak si perempuan yang masih bayi menangis, lalu yang lain menangis juga, maka ramailah rumah itu oleh tangis anak-anak. Calon pembeli mengeluarkan uang untuk membeli lemari dan diberikan kepada salah satu anak yang menangis itu, lalu ia pergi.
Perang hanya menyisakan kalaparan. Lemari yang tersisa dari deru pertempuran, yang dijadikan tempat penyimpanan bangkai kucing, akhirnya tak dapat lagi menyembunyikan daging bangakai kucing, kebutuhan anak-anaknya yang kelaparan.
Lewat cerpen yang bertajuk “Lemari Antik” itu Pram kembali menyajikan sebuah kisah tentang revolusi yang bukan hamparan kepahlawanan. Perang usai, para pengkhinat dan pahlawan mati, yang tersisa hanya rakyat yang kelaparan, yang jarang terhidu narasi sejarah selain penggambaran antrean beras di sejumlah kliping surat kabar dan film.
Cerpen “Masa”, sebagaimana “Lemari Antik” yang terhimpun dalam Percikan Revolusi (1951), juga menggugat revolusi: bocah dua belas tahun keluar masuk penjara, tanpa pendidikan, tanpa bapak, perutnya kosong!
Mula-mula bocah itu bersama kawannya membawa sebuah becak yang dipenuhi lawon di Pasar Baru, Jakarta. Apa sebab? Baju mereka sendiri compang-camping, sementara terdapat bergulung-gulung kain yang tak mereka miliki.
Kesempatan kedua terjadi di Harmoni. Sebuah tas di atas mobil terbuka ia sambar, sial isinya hanya surat-surat. Ia buang tas itu dan seorang bocah lain yang bernama Maliki tengah mandi, maka ia dicokok tanpa tahu perkara. Tak lama kemudian ia pun kena tangkap dan dijebloskan bersama para pesakitan dengan rupa-rupa latar belakang.
“Dan mereka juakah yang nanti turut bertanggungjawab pada negaranya,” gumam seseorang yang lebih dewasa saat mendengarkan cerita dari mulut bocah itu.
Beberapa cerpen ini, membuat Pram sebagaimana Idrus yang melumuri taman bunga pertempuran Surabaya dengan kotoran sapi, juga tak silau dengan mabuk revolusi. Ia bahkan terus menggugat perang lewat sejumlah cerpen lain tentang para kombatan yang invalid harapannya, justru setelah kemerdekaan berada di genggaman.
Kamis, 01 Agustus 2019
Kuputarung# | Sekapur Sirih oleh Aris Panji Ws
Kamis, 25 Juli 2019
SRMB Terbitkan Buku Antologi Puisi “Kuputarung-2”
“Buku ini adalah penerbitan ketiga dari SRMB”, tutur salah satu pamong komunitas ini.
Minggu, 23 Juni 2019
Cerpen | Di Manakah Kubur yang Tepat buat Mayatku Ini?
























