This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Februari 2020

Mengenal Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali


Ada baiknya kita mengenal para Imam Mazhab seperti Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali yang telah menyusun kitab Fiqih bagi kita semua.



Abu Hanifah (Imam Hanafi)

Nu’man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan at-Taymi (bahasa Arab: النعمان بن ثابت), lebih dikenal dengan nama Abū Ḥanīfah, (bahasa Arab: بو حنيفة) (lahir di Kufah, Irak pada 80 H / 699 M — meninggal di Baghdad, Irak, 148 H / 767 M) merupakan pendiri dari Madzhab Hanafi.

Abu Hanifah juga merupakan seorang Tabi’in, generasi setelah Sahabat nabi, karena dia pernah bertemu dengan salah seorang sahabat bernama Anas bin Malik, dan meriwayatkan hadis darinya serta sahabat lainnya.[3]

Imam Hanafi disebutkan sebagai tokoh yang pertama kali menyusun kitab fiqh berdasarkan kelompok-kelompok yang berawal dari kesucian (taharah), salat dan seterusnya, yang kemudian diikuti oleh ulama-ulama sesudahnya seperti Malik bin Anas, Imam Syafi’i, Abu Dawud, Bukhari, Muslim dan lainnya.

wikipedia.org



Imam Malik

Mālik ibn Anas bin Malik bin ‘Āmr al-Asbahi atau Malik bin Anas (lengkapnya: Malik bin Anas bin Malik bin `Amr, al-Imam, Abu `Abd Allah al-Humyari al-Asbahi al-Madani), (Bahasa Arab: مالك بن أنس), lahir di (Madinah pada tahun 714 (93 H), dan meninggal pada tahun 800 (179 H)). Ia adalah pakar ilmu fikih dan hadits, serta pendiri Mazhab Maliki.

Biografi: 
Abu abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amirbin Amr bin al-Haris bin Ghaiman bin Jutsail binAmr bin al-Haris Dzi Ashbah. Imama malik dilahirkan di Madinah al Munawwaroh. sedangkan mengenai masalah tahun kelahiranya terdapat perbedaaan riwayat. al-Yafii dalam kitabnya Thabaqat fuqoha meriwayatkan bahwa imam malik dilahirkan pada 94 H. ibn Khalikan dan yang lain berpendapat bahawa imam malik dilahirkan pada 95 H. sedangkan. imam al-Dzahabi meriwayatkan imam malik dilahirkan 90 H. Imam yahya bin bakir meriwayatkan bahwa ia mendengar malik berkata :”aku dilahirkan pada 93 H”. dan inilah riwayat yang paling benar (menurut al-Sam’ani dan ibn farhun)[3].

Ia menyusun kitab Al Muwaththa’, dan dalam penyusunannya ia menghabiskan waktu 40 tahun, selama waktu itu, ia menunjukan kepada 70 ahli fiqh Madinah.
Kitab tersebut menghimpun 100.000 hadits, dan yang meriwayatkan Al Muwaththa’ lebih dari seribu orang, karena itu naskahnya berbeda beda dan seluruhnya berjumlah 30 naskah, tetapi yang terkenal hanya 20 buah. Dan yang paling masyur adalah riwayat dari Yahya bin Yahyah al Laitsi al Andalusi al Mashmudi.


Sejumlah ‘Ulama berpendapat bahwa sumber sumber hadits itu ada tujuh, yaitu Al Kutub as Sittah ditambah Al Muwaththa’. Ada pula ulama yang menetapkan Sunan ad Darimi sebagai ganti Al Muwaththa’. Ketika melukiskan kitab besar ini, Ibn Hazm berkata,” Al Muwaththa’ adalah kitab tentang fiqh dan hadits, aku belum mnegetahui bandingannya.


Hadits-hadits yang terdapat dalam Al Muwaththa’ tidak semuanya Musnad, ada yang Mursal, mu’dlal dan munqathi. Sebagian ‘Ulama menghitungnya berjumlah 600 hadits musnad, 222 hadits mursal, 613 hadits mauquf, 285 perkataan tabi’in, disamping itu ada 61 hadits tanpa penyandara, hanya dikatakan telah sampai kepadaku” dan “ dari orang kepercayaan”, tetapi hadits hadits tersebut bersanad dari jalur jalur lain yang bukan jalur dari Imam Malik sendiri, karena itu Ibn Abdil Bar an Namiri menentang penyusunan kitab yang berusaha memuttashilkan hadits hadits mursal , munqathi’ dan mu’dhal yang terdapat dalam Al Muwaththa’ Malik.


Imam Malik menerima hadits dari 900 orang (guru), 300 dari golongan Tabi’in dan 600 dari tabi’in tabi’in, ia meriwayatkan hadits bersumber dari Nu’main al Mujmir, Zaib bin Aslam, Nafi’, Syarik bin Abdullah, az Zuhry, Abi az Ziyad, Sa’id al Maqburi dan Humaid ath Thawil, muridnya yang paling akhir adalah Hudzafah as Sahmi al Anshari.


Adapun yang meriwayatkan darinya adalah banyak sekali diantaranya ada yang lebih tua darinya seperti az Zuhry dan Yahya bin Sa’id. Ada yang sebaya seperti al Auza’i., Ats Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Al Laits bin Sa’ad, Ibnu Juraij dan Syu’bah bin Hajjaj. Adapula yang belajar darinya seperti Asy Safi’i, Ibnu Wahb, Ibnu Mahdi, al Qaththan dan Abi Ishaq.

Malik bin Anas menyusun kompilasi hadits dan ucapan para sahabat dalam buku yang terkenal hingga kini, Al Muwatta.


Di antara guru beliau adalah Nafi’ bin Abi Nu’aim, Nafi’ al Muqbiri, Na’imul Majmar, Az Zuhri, Amir bin Abdullah bin Az Zubair, Ibnul Munkadir, Abdullah bin Dinar, dan lain-lain.


Di antara murid beliau adalah Ibnul Mubarak, Al Qoththon, Ibnu Mahdi, Ibnu Wahb, Ibnu Qosim, Al Qo’nabi, Abdullah bin Yusuf, Sa’id bin Manshur, Yahya bin Yahya al Andalusi, Yahya bin Bakir, Qutaibah Abu Mush’ab, Al Auza’i, Sufyan Ats Tsaury, Sufyan bin Uyainah, Imam Syafi’i, Abu Hudzafah as Sahmi, Az Aubairi, dan lain-lain.

Pujian Ulama untuk Imam Malik

An Nasa’i berkata,” Tidak ada yang saya lihat orang yang pintar, mulia dan jujur, tepercaya periwayatan haditsnya melebihi Malik, kami tidak tahu dia ada meriwayatkan hadits dari rawi matruk, kecuali Abdul Karim”.


(Ket: Abdul Karim bin Abi al Mukharif al Basri yang menetap di Makkah, karena tidak senegeri dengan Malik, keadaanya tidak banyak diketahui, Malik hanya sedikit mentahrijkan haditsnya tentang keutamaan amal atau menambah pada matan).


Sedangkan Ibnu Hayyan berkata,” Malik adalah orang yang pertama menyeleksi para tokoh ahli fiqh di Madinah, dengan fiqh, agama dan keutamaan ibadah”.
Imam as-Syafi’i berkata : “Imam Malik adalah Hujjatullah atas makhluk-Nya setelah para Tabi’in “.


Yahya bin Ma’in berkata: ”Imam Malik adalah Amirul mukminin dalam (ilmu) Hadits”


Ayyub bin Suwaid berkata :”Imam Malik adalah Imam Darul Hijrah (Imam madinah) dan as-Sunnah ,seorang yang Tsiqah, seorang yang dapat dipercaya”.


Ahmad bin Hanbal berkata:” Jika engkau melihat seseorang yang membenci imam malik, maka ketahuilah bahwa orang tersebut adalah ahli bid’ah”


Seseorang bertanya kepada as-Syafi’i :” apakah anda menemukan seseorang yang (alim) seperti imam malik?” as-Syafi’i menjawab :”aku mendengar dari orang yang lebih tua dan lebih berilmu dari pada aku, mereka mengatakan kami tidak menemukan orang yang (alim) seperti Malik, maka bagaimana kami(orang sekarang) menemui yang seperti Malik?[3] ”


Kitab Al-Muwaththa
Al-Muwaththa bererti ‘yang disepakati’ atau ‘tunjang’ atau ‘panduan’ yang membahas tentang ilmu dan hukum-hukum agama Islam. Al-Muwaththa merupakan sebuah kitab yang berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Imam Malik serta pendapat para sahabat dan ulama-ulama tabiin. Kitab ini lengkap dengan berbagai problem agama yang merangkum ilmu hadits, ilmu fiqh dan sebagainya. Semua hadits yang ditulis adalah sahih kerana Imam Malik terkenal dengan sifatnya yang tegas dalam penerimaan sebuah hadits. 

Dia sangat berhati-hati ketika menapis, mengasingkan, dan membahas serta menolak riwayat yang meragukan. Dari 100.000 hadits yang dihafal beliau, hanya 10.000 saja diakui sah dan dari 10.000 hadits itu, hanya 5.000 saja yang disahkan sahih olehnya setelah diteliti dan dibandingkan dengan al-Quran. 

Menurut sebuah riwayat, Imam Malik menghabiskan 40 tahun untuk mengumpul dan menapis hadits-hadits yang diterima dari guru-gurunya. Imam Syafi pernah berkata, “Tiada sebuah kitab di muka bumi ini setelah al qur`an yang lebih banyak mengandungi kebenaran selain dari kitab Al-Muwaththa karangan Imam Malik.”
inilah karangan para ulama muaqoddimin

Wafatnya Sang Imam Darul Hijroh

Imam malik jatuh sakit pada hari ahad dan menderita sakit selama 22 hari kemudian 10 hari setelah itu ia wafat. sebagian meriwayatkan imam Malik wafat pada 14 Rabiul awwal 179 H.

sahnun meriwayatkan dari abdullah bin nafi’:” imam malik wafat pada usia 87 tahun” ibn kinanah bin abi zubair, putranya yahya dan sekretarisnya hubaib yang memandikan jenazah imam Malik. imam Malik dimakamkan di Baqi’

wikipedia.org


Imam Syafi’i

Abū ʿAbdullāh Muhammad bin Idrīs al-Shafiʿī atau Muhammad bin Idris asy-Syafi`i (bahasa Arab: محمد بن إدريس الشافعي) yang akrab dipanggil Imam Syafi’i (Gaza, Palestina, 150 H / 767 – Fusthat, Mesir 204H / 819M) adalah seorang mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi’i. Imam Syafi’i juga tergolong kerabat dari Rasulullah, ia termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad.

Saat usia 20 tahun, Imam Syafi’i pergi ke Madinah untuk berguru kepada ulama besar saat itu, Imam Malik. Dua tahun kemudian, ia juga pergi ke Irak, untuk berguru pada murid-murid Imam Hanafi di sana.

Imam Syafi`i mempunyai dua dasar berbeda untuk Mazhab Syafi’i. Yang pertama namanya Qaulun Qadim dan Qaulun Jadid.

wikipedia.org 

Tulisan di bawah terpaksa juga dihapus.

Bagaimana mungkin Imam Syafi’ie yang lahir tahun 150 H dan wafat tahun 203 H disebut menolak paham Asy’ariyyah yang memperkenalkan ajaran Sifat 20 sementara Imam Abu Hasan Al Asy’ari sendiri baru lahir tahun 260 H atau 57 tahun setelah Imam Syafi’ie meninggal?

Imam Syafi’ie adalah Imam Fiqih. Beda dengan Imam Asy’ari yang merupakan Imam masalah Tauhid. Kalau seperti itu, maka Imam Syafi’ie juga jauh dari paham Trinitas Tauhid yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahab yang lahir tahun 1115 Hijriyah:

Imam Asy-Syafi`i termasuk Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau jauh dari pemahaman Asy’ariyyah dan Maturidiyyah yang menyimpang dalam aqidah, khususnya dalam masalah aqidah yang berkaitan dengan Asma dan Shifat Allah subahanahu wa Ta’ala.

Sumber: Majalah As-Salaam
Nippontori 


Imam Hambali

Sebetulnya ingin mengambil referensi dari wikipedia.org:

Namun ada yang aneh yang menyatakan Murid Imam Hambali adalah Imam Syafi’i: Imam Asy-Syafi’i. Imam Ahmad juga pernah berguru kepadanya.

Padahal berbagai literatur yang ada menyebut bahwa guru Imam Syafi’i yang lahir tahun 150 H adalah Imam Malik (lahir tahun 93 H). Sementara Imam Hambali yang lahir tahun 164 H (14 tahun lebih muda dari Imam Syafi’i) adalah murid dari Imam Syafi’i.

Hubungan Guru dengan Murid tak akan pernah berubah meski seorang guru bertanya beberapa hal kepada muridnya. Aneh kan jika Imam Hambali berkata: “Imam Syafi’i itu dulu Guruku. Namun setelah aku lebih pintar, sekarang Imam Syafi’i jadi muridku” Insya Allah tidak begitu.

Meski Imam Hambali adalah seorang Imam yang cerdas, namun pernyataan bahwa murid Imam Hambali adalah Imam Syafi’i menunjukkan adanya perubahan seenaknya oleh kaum Salafi Wahabi dalam rangka memuja Imam Hambali yang mereka jadi panutan secara berlebihan/ghulluw.
___

Imam Hambali

Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa‘labah adz-Dzuhli asy-Syaibaniy. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada diri Nizar bin Ma‘d bin ‘Adnan. Yang berarti bertemu nasab pula dengan nabi Ibrahim.

Ketika beliau masih dalam kandungan, orang tua beliau pindah dari kota Marwa, tempat tinggal sang ayah, ke kota Baghdad. Di kota itu beliau dilahirkan, tepatnya pada bulan Rabi‘ul Awwal -menurut pendapat yang paling masyhur- tahun 164 H.
Ayah beliau, Muhammad, meninggal dalam usia muda, 30 tahun, ketika beliau baru berumur tiga tahun. Kakek beliau, Hanbal, berpindah ke wilayah Kharasan dan menjadi wali kota Sarkhas pada masa pemeritahan Bani Umawiyyah, kemudian bergabung ke dalam barisan pendukung Bani ‘Abbasiyah dan karenanya ikut merasakan penyiksaan dari Bani Umawiyyah. Disebutkan bahwa dia dahulunya adalah seorang panglima.

Masa Menuntut Ilmu

Imam Ahmad tumbuh dewasa sebagai seorang anak yatim. Ibunya, Shafiyyah binti Maimunah binti ‘Abdul Malik asy-Syaibaniy, berperan penuh dalam mendidik dan membesarkan beliau. Untungnya, sang ayah meninggalkan untuk mereka dua buah rumah di kota Baghdad. Yang sebuah mereka tempati sendiri, sedangkan yang sebuah lagi mereka sewakan dengan harga yang sangat murah. Dalam hal ini, keadaan beliau sama dengan keadaan syaikhnya, Imam Syafi‘i, yang yatim dan miskin, tetapi tetap mempunyai semangat yang tinggi. Keduanya juga memiliki ibu yang mampu mengantar mereka kepada kemajuan dan kemuliaan.


Beliau mendapatkan pendidikannya yang pertama di kota Baghdad. Saat itu, kota Bagdad telah menjadi pusat peradaban dunia Islam, yang penuh dengan manusia yang berbeda asalnya dan beragam kebudayaannya, serta penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, ahli hadits, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya.


Setamatnya menghafal Alquran dan mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di al-Kuttab saat berumur 14 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya ke ad-Diwan. Beliau terus menuntut ilmu dengan penuh azzam yang tinggi dan tidak mudah goyah. Sang ibu banyak membimbing dan memberi beliau dorongan semangat. Tidak lupa dia mengingatkan beliau agar tetap memperhatikan keadaan diri sendiri, terutama dalam masalah kesehatan. Tentang hal itu beliau pernah bercerita, “Terkadang aku ingin segera pergi pagi-pagi sekali mengambil (periwayatan) hadits, tetapi Ibu segera mengambil pakaianku dan berkata, ‘Bersabarlah dulu. Tunggu sampai adzan berkumandang atau setelah orang-orang selesai shalat subuh.’”


Perhatian beliau saat itu memang tengah tertuju kepada keinginan mengambil hadits dari para perawinya. Beliau mengatakan bahwa orang pertama yang darinya beliau mengambil hadits adalah al-Qadhi Abu Yusuf, murid/rekan Imam Abu Hanifah.


Imam Ahmad tertarik untuk menulis hadits pada tahun 179 saat berumur 16 tahun. Beliau terus berada di kota Baghdad mengambil hadits dari syaikh-syaikh hadits kota itu hingga tahun 186. Beliau melakukan mulazamah kepada syaikhnya, Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithiy hingga syaikhnya tersebut wafat tahun 183. Disebutkan oleh putra beliau bahwa beliau mengambil hadits dari Hasyim sekitar tiga ratus ribu hadits lebih.


Pada tahun 186, beliau mulai melakukan perjalanan (mencari hadits) ke Bashrah lalu ke negeri Hijaz, Yaman, dan selainnya. Tokoh yang paling menonjol yang beliau temui dan mengambil ilmu darinya selama perjalanannya ke Hijaz dan selama tinggal di sana adalah Imam Syafi‘i. Beliau banyak mengambil hadits dan faedah ilmu darinya. Imam Syafi‘i sendiri amat memuliakan diri beliau dan terkadang menjadikan beliau rujukan dalam mengenal keshahihan sebuah hadits. 

Ulama lain yang menjadi sumber beliau mengambil ilmu adalah Sufyan bin ‘Uyainah, Ismail bin ‘Ulayyah, Waki‘ bin al-Jarrah, Yahya al-Qaththan, Yazid bin Harun, dan lain-lain. Beliau berkata, “Saya tidak sempat bertemu dengan Imam Malik, tetapi Allah menggantikannya untukku dengan Sufyan bin ‘Uyainah. Dan saya tidak sempat pula bertemu dengan Hammad bin Zaid, tetapi Allah menggantikannya dengan Ismail bin ‘Ulayyah.”


Demikianlah, beliau amat menekuni pencatatan hadits, dan ketekunannya itu menyibukkannya dari hal-hal lain sampai-sampai dalam hal berumah tangga. Beliau baru menikah setelah berumur 40 tahun. Ada orang yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdillah, Anda telah mencapai semua ini. Anda telah menjadi imam kaum muslimin.” Beliau menjawab, “Bersama mahbarah (tempat tinta) hingga ke maqbarah (kubur). Aku akan tetap menuntut ilmu sampai aku masuk liang kubur.” Dan memang senantiasa seperti itulah keadaan beliau: menekuni hadits, memberi fatwa, dan kegiatan-kegiatan lain yang memberi manfaat kepada kaum muslimin. Sementara itu, murid-murid beliau berkumpul di sekitarnya, mengambil darinya (ilmu) hadits, fiqih, dan lainnya. Ada banyak ulama yang pernah mengambil ilmu dari beliau, di antaranya kedua putra beliau, Abdullah dan Shalih, Abu Zur ‘ah, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Atsram, dan lain-lain.


Beliau menyusun kitabnya yang terkenal, al-Musnad, dalam jangka waktu sekitar enam puluh tahun dan itu sudah dimulainya sejak tahun tahun 180 saat pertama kali beliau mencari hadits. Beliau juga menyusun kitab tentang tafsir, tentang an-nasikh dan al-mansukh, tentang tarikh, tentang yang muqaddam dan muakhkhar dalam Alquran, tentang jawaban-jawaban dalam Alquran. Beliau juga menyusun kitab al-manasik ash-shagir dan al-kabir, kitab az-Zuhud, kitab ar-radd ‘ala al-Jahmiyah wa az-zindiqah(Bantahan kepada Jahmiyah dan Zindiqah), kitab as-Shalah, kitab as-Sunnah, kitab al-Wara ‘ wa al-Iman, kitab al-‘Ilal wa ar-Rijal, kitab al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-Sittah, Fadha’il ash-Shahabah.


Pujian dan Penghormatan Ulama Lain Kepadanya


Imam Syafi‘i pernah mengusulkan kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, pada hari-hari akhir hidup khalifah tersebut, agar mengangkat Imam Ahmad menjadi qadhi di Yaman, tetapi Imam Ahmad menolaknya dan berkata kepada Imam Syafi‘i, “Saya datang kepada Anda untuk mengambil ilmu dari Anda, tetapi Anda malah menyuruh saya menjadi qadhi untuk mereka.” Setelah itu pada tahun 195, Imam Syafi‘i mengusulkan hal yang sama kepada Khalifah al-Amin, tetapi lagi-lagi Imam Ahmad menolaknya.

Suatu hari, Imam Syafi‘i masuk menemui Imam Ahmad dan berkata, “Engkau lebih tahu tentang hadits dan perawi-perawinya. Jika ada hadits shahih (yang engkau tahu), maka beri tahulah aku. Insya Allah, jika (perawinya) dari Kufah atau Syam, aku akan pergi mendatanginya jika memang shahih.” Ini menunjukkan kesempurnaan agama dan akal Imam Syafi‘i karena mau mengembalikan ilmu kepada ahlinya.


Imam Syafi‘i juga berkata, “Aku keluar (meninggalkan) Bagdad, sementara itu tidak aku tinggalkan di kota tersebut orang yang lebih wara’, lebih faqih, dan lebih bertakwa daripada Ahmad bin Hanbal.”


Abdul Wahhab al-Warraq berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti Ahmad bin Hanbal”. Orang-orang bertanya kepadanya, “Dalam hal apakah dari ilmu dan keutamaannya yang engkau pandang dia melebihi yang lain?” Al-Warraq menjawab, “Dia seorang yang jika ditanya tentang 60.000 masalah, dia akan menjawabnya dengan berkata, ‘Telah dikabarkan kepada kami,’ atau, “Telah disampaikan hadits kepada kami’.”Ahmad bin Syaiban berkata, “Aku tidak pernah melihat Yazid bin Harun memberi penghormatan kepada seseorang yang lebih besar daripada kepada Ahmad bin Hanbal. Dia akan mendudukkan beliau di sisinya jika menyampaikan hadits kepada kami. Dia sangat menghormati beliau, tidak mau berkelakar dengannya”. Demikianlah, padahal seperti diketahui bahwa Harun bin Yazid adalah salah seorang guru beliau dan terkenal sebagai salah seorang imam huffazh.

Keteguhan di Masa Penuh Cobaan

Telah menjadi keniscayaan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, terlebih lagi seorang alim yang berjalan di atas jejak para nabi dan rasul. Dan Imam Ahmad termasuk di antaranya. Beliau mendapatkan cobaan dari tiga orang khalifah Bani Abbasiyah selama rentang waktu 16 tahun.
Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, dengan jelas tampak kecondongan khalifah yang berkuasa menjadikan unsur-unsur asing (non-Arab) sebagai kekuatan penunjang kekuasaan mereka. Khalifah al-Makmun menjadikan orang-orang Persia sebagai kekuatan pendukungnya, sedangkan al-Mu‘tashim memilih orang-orang Turki. 

Akibatnya, justru sedikit demi sedikit kelemahan menggerogoti kekuasaan mereka. Pada masa itu dimulai penerjemahan ke dalam bahasa Arab buku-buku falsafah dari Yunani, Rumania, Persia, dan India dengan sokongan dana dari penguasa. Akibatnya, dengan cepat berbagai bentuk bid‘ah merasuk menyebar ke dalam akidah dan ibadah kaum muslimin. Berbagai macam kelompok yang sesat menyebar di tengah-tengah mereka, seperti Qadhariyah, Jahmyah, Asy‘ariyah, Rafidhah, Mu‘tashilah, dan lain-lain.


Kelompok Mu‘tashilah, secara khusus, mendapat sokongan dari penguasa, terutama dari Khalifah al-Makmun. Mereka, di bawah pimpinan Ibnu Abi Duad, mampu mempengaruhi al-Makmun untuk membenarkan dan menyebarkan pendapat-pendapat mereka, di antaranya pendapat yang mengingkari sifat-sifat Allah, termasuk sifat kalam (berbicara). Berangkat dari pengingkaran itulah, pada tahun 212, Khalifah al-Makmun kemudian memaksa kaum muslimin, khususnya ulama mereka, untuk meyakini kemakhlukan Alquran.


Sebenarnya Harun ar-Rasyid, khalifah sebelum al-Makmun, telah menindak tegas pendapat tentang kemakhlukan Alquran. Selama hidupnya, tidak ada seorang pun yang berani menyatakan pendapat itu sebagaimana dikisahkan oleh Muhammad bin Nuh, “Aku pernah mendengar Harun ar-Rasyid berkata, ‘Telah sampai berita kepadaku bahwa Bisyr al-Muraisiy mengatakan bahwa Alquran itu makhluk. 

Merupakan kewajibanku, jika Allah menguasakan orang itu kepadaku, niscaya akan aku hukum bunuh dia dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun’”. Tatkala Khalifah ar-Rasyid wafat dan kekuasaan beralih ke tangan al-Amin, kelompok Mu‘tazilah berusaha menggiring al-Amin ke dalam kelompok mereka, tetapi al-Amin menolaknya. Baru kemudian ketika kekhalifahan berpindah ke tangan al-Makmun, mereka mampu melakukannya.


Untuk memaksa kaum muslimin menerima pendapat kemakhlukan Alquran, al-Makmun sampai mengadakan ujian kepada mereka. Selama masa pengujian tersebut, tidak terhitung orang yang telah dipenjara, disiksa, dan bahkan dibunuhnya. Ujian itu sendiri telah menyibukkan pemerintah dan warganya baik yang umum maupun yang khusus. Ia telah menjadi bahan pembicaraan mereka, baik di kota-kota maupun di desa-desa di negeri Irak dan selainnya. Telah terjadi perdebatan yang sengit di kalangan ulama tentang hal itu. Tidak terhitung dari mereka yang menolak pendapat kemakhlukan Alquran, termasuk di antaranya Imam Ahmad. Beliau tetap konsisten memegang pendapat yang hak, bahwa Alquran itu kalamullah, bukan makhluk.


Al-Makmun bahkan sempat memerintahkan bawahannya agar membawa Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh ke hadapannya di kota Thursus. Kedua ulama itu pun akhirnya digiring ke Thursus dalam keadaan terbelenggu. Muhammad bin Nuh meninggal dalam perjalanan sebelum sampai ke Thursus, sedangkan Imam Ahmad dibawa kembali ke Bagdad dan dipenjara di sana karena telah sampai kabar tentang kematian al-Makmun (tahun 218). Disebutkan bahwa Imam Ahmad tetap mendoakan al-Makmun.


Sepeninggal al-Makmun, kekhalifahan berpindah ke tangan putranya, al-Mu‘tashim. Dia telah mendapat wasiat dari al-Makmun agar meneruskan pendapat kemakhlukan Alquran dan menguji orang-orang dalam hal tersebut; dan dia pun melaksanakannya. Imam Ahmad dikeluarkannya dari penjara lalu dipertemukan dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya. Mereka mendebat beliau tentang kemakhlukan Alquran, tetapi beliau mampu membantahnya dengan bantahan yang tidak dapat mereka bantah. Akhirnya beliau dicambuk sampai tidak sadarkan diri lalu dimasukkan kembali ke dalam penjara dan mendekam di sana selama sekitar 28 bulan –atau 30-an bulan menurut yang lain-. Selama itu beliau shalat dan tidur dalam keadaan kaki terbelenggu.


Selama itu pula, setiap harinya al-Mu‘tashim mengutus orang untuk mendebat beliau, tetapi jawaban beliau tetap sama, tidak berubah. Akibatnya, bertambah kemarahan al-Mu‘tashim kepada beliau. Dia mengancam dan memaki-maki beliau, dan menyuruh bawahannya mencambuk lebih keras dan menambah belenggu di kaki beliau. Semua itu, diterima Imam Ahmad dengan penuh kesabaran dan keteguhan bak gunung yang menjulang dengan kokohnya.


Sakit dan Wafatnya

Pada akhirnya, beliau dibebaskan dari penjara. Beliau dikembalikan ke rumah dalam keadaan tidak mampu berjalan. Setelah luka-lukanya sembuh dan badannya telah kuat, beliau kembali menyampaikan pelajaran-pelajarannya di masjid sampai al-Mu‘tashim wafat.


Selanjutnya, al-Watsiq diangkat menjadi khalifah. Tidak berbeda dengan ayahnya, al-Mu‘tashim, al-Watsiq pun melanjutkan ujian yang dilakukan ayah dan kakeknya. dia pun masih menjalin kedekatan dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya. Akibatnya, penduduk Bagdad merasakan cobaan yang kian keras. Al-Watsiq melarang Imam Ahmad keluar berkumpul bersama orang-orang. Akhirnya, Imam Ahmad bersembunyi di rumahnya, tidak keluar darinya bahkan untuk keluar mengajar atau menghadiri shalat jamaah. Dan itu dijalaninya selama kurang lebih lima tahun, yaitu sampai al-Watsiq meninggal tahun 232.


Sesudah al-Watsiq wafat, al-Mutawakkil naik menggantikannya. Selama dua tahun masa pemerintahannya, ujian tentang kemakhlukan Alquran masih dilangsungkan. Kemudian pada tahun 234, dia menghentikan ujian tersebut. Dia mengumumkan ke seluruh wilayah kerajaannya larangan atas pendapat tentang kemakhlukan Alquran dan ancaman hukuman mati bagi yang melibatkan diri dalam hal itu. Dia juga memerintahkan kepada para ahli hadits untuk menyampaikan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah. Maka demikianlah, orang-orang pun bergembira pun dengan adanya pengumuman itu. Mereka memuji-muji khalifah atas keputusannya itu dan melupakan kejelekan-kejelekannya. Di mana-mana terdengar doa untuknya dan namanya disebut-sebut bersama nama Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, dan Umar bin Abdul Aziz.


Menjelang wafatnya, beliau jatuh sakit selama sembilan hari. Mendengar sakitnya, orang-orang pun berdatangan ingin menjenguknya. Mereka berdesak-desakan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya, pada permulaan hari Jumat tanggal 12 Rabi‘ul Awwal tahun 241, beliau menghadap kepada rabbnya menjemput ajal yang telah dientukan kepadanya. Kaum muslimin bersedih dengan kepergian beliau. Tak sedikit mereka yang turut mengantar jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. 

Ada yang mengatakan 700 ribu orang, ada pula yang mengatakan 800 ribu orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu juta lebih orang yang menghadirinya. Semuanya menunjukkan bahwa sangat banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi menunjukkan penghormatan dan kecintaan mereka kepada beliau. Beliau pernah berkata ketika masih sehat, “Katakan kepada ahlu bid‘ah bahwa perbedaan antara kami dan kalian adalah (tampak pada) hari kematian kami”.


Demikianlah gambaran ringkas ujian yang dilalui oleh Imam Ahmad. Terlihat bagaimana sikap agung beliau yang tidak akan diambil kecuali oleh orang-orang yang penuh keteguhan lagi ikhlas. Beliau bersikap seperti itu justru ketika sebagian ulama lain berpaling dari kebenaran. Dan dengan keteguhan di atas kebenaran yang Allah berikan kepadanya itu, maka madzhab Ahlussunnah pun dinisbatkan kepada dirinya karena beliau sabar dan teguh dalam membelanya. Ali bin al-Madiniy berkata menggambarkan keteguhan Imam Ahmad, “Allah telah mengokohkan agama ini lewat dua orang laki-laki, tidak ada yang ketiganya. Yaitu, Abu Bakar as-Shiddiq pada Yaumur Riddah (saat orang-orang banyak yang murtad pada awal-awal pemerintahannya), dan Ahmad bin Hanbal pada Yaumul Mihnah”.


Infogue 



Perbedaan Antar Mazhab?

Di antara tonggak penegang ajaran Islam di muka bumi adalah muncul beberapa mazhab raksasa di tengah ratusan mazhab kecil lainnya. Keempat mazhab itu adalah Al-Hanabilah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah. Sebenarnya jumlah mazhab besar tidak hanya terbatas hanya 4 saja, namun keempat mazhab itu memang diakui eksistensi dan jati dirinya oleh umat selama 15 abad ini.

Keempatnya masih utuh tegak berdiri dan dijalankan serta dikembangkan oleh mayoritas muslimin di muka bumi. Masing-masing punya basis kekuatan syariah serta masih mampu melahirkan para ulama besar di masa sekarang ini.

Berikut sekelumit sejarah keempat mazhab ini dengan sedikit gambaran landasan manhaj mereka.

1. Mazhab Al-Hanifiyah.

Didirikan oleh An-Nu’man bin Tsabit atau lebih dikenal sebagai Imam Abu Hanifah. Beliau berasal dari Kufah dari keturunan bangsa Persia. Beliau hidup dalam dua masa, Daulah Umaiyah dan Abbasiyah. Beliau termasuk pengikut tabiin , sebagian ahli sejarah menyebutkan, ia bahkan termasuk Tabi’in.

Mazhab Al-Hanafiyah sebagaimana dipatok oleh pendirinya, sangat dikenal sebagai terdepan dalam masalah pemanfaatan akal/ logika dalam mengupas masalah fiqih. Oleh para pengamat dianalisa bahwa di antaralatar belakangnya adalah:

Karena beliau sangat berhati-hati dalam menerima sebuah hadits. Bila beliau tidak terlalu yakin atas keshahihah suatu hadits, maka beliau lebih memlih untuk tidak menggunakannnya. Dan sebagai gantinya, beliau menemukan begitu banyak formula seperti mengqiyaskan suatu masalah dengan masalah lain yang punya dalil nash syar’i.

Kurang tersedianya hadits yang sudah diseleksi keshahihannya di tempat di mana beliau tinggal. Sebaliknya, begitu banyak hadits palsu, lemah dan bermasalah yang beredar di masa beliau. Perlu diketahui bahwa beliau hidup di masa 100 tahun pertama semenjak wafat nabi SAW, jauh sebelum era imam Al-Bukhari dan imam Muslim yang terkenal sebagai ahli peneliti hadits.

Di kemudian hari, metodologi yang beliau perkenalkan memang sangat berguna buat umat Islam sedunia. Apalagi mengingat Islam mengalami perluasan yang sangat jauh ke seluruh penjuru dunia. Memasuki wilayah yang jauh dari pusat sumber syariah Islam. Metodologi mazhab ini menjadi sangat menentukan dalam dunia fiqih di berbagai negeri.

2. Mazhab Al-Malikiyah
Mazhab ini didirikan oleh Imam Malik bin Anas bin Abi Amir Al-Ashbahi .Berkembang sejak awal di kota Madinah dalam urusan fiqh.

Mazhab ini ditegakkan di atas doktrin untuk merujuk dalam segala sesuatunya kepada hadits Rasulullah SAW dan praktek penduduk Madinah. Imam Malik membangun madzhabnya dengan 20 dasar; Al-Quran, As-Sunnah , Ijma’, Qiyas, amal ahlul madinah , perkataan sahabat, istihsan, saddudzarai’, muraatul khilaf, istishab, maslahah mursalah, syar’u man qablana .

Mazhab ini adalah kebalikan dari mazhan Al-Hanafiyah. Kalau Al-Hanafiyah banyak sekali mengandalkan nalar dan logika, karena kurang tersedianya nash-nash yang valid di Kufah, mazhab Maliki justru ‘kebanjiran’ sumber-sumber syariah. Sebab mazhab ini tumbuh dan berkembang di kota Nabi SAW sendiri, di mana penduduknya adalah anak keturunan para shahabat. Imam Malik sangat meyakini bahwa praktek ibadah yang dikerjakan penduduk Madinah sepeninggal Rasulullah SAW bisa dijadikan dasar hukum, meski tanpa harus merujuk kepada hadits yang shahih para umumnya.

3. Mazhab As-Syafi’iyah
Didirikan oleh Muhammad bin Idris Asy Syafi’i . Beliau dilahirkan di Gaza Palestina tahun 150 H, tahun wafatnya Abu Hanifah dan wafat di Mesir tahun 203 H.

Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya . Kemudian beliu pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru . Di sana beliau wafat sebagai syuhadaul ‘ilm di akhir bulan Rajab 204 H.

Salah satu karangannya adalah “Ar-Risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al-Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Beliau mampu memadukan fiqh ahli ra’yi dan fiqh ahli hadits .

Dasar madzhabnya: Al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau tidak mengambil perkataan sahabat karena dianggap sebagai ijtihad yang bisa salah. Beliau juga tidak mengambil Istihsan sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah dan perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i mengatakan, ”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat.” Penduduk Baghdad mengatakan,”Imam Syafi’i adalah nashirussunnah ,”

Kitab “Al-Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al-Karabisyi dari Imam Syafi’i. Sementara kitab “Al-Umm” sebagai madzhab yang baru yang diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al-Muzani, Al-Buwaithi, Ar-Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka ia adalah madzhabku, dan buanglah perkataanku di belakang tembok,”

4. Mazhab Al-Hanabilah
Didirikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani . Dilahirkan di Baghdad dan tumbuh besar di sana hingga meninggal pada bulan Rabiul Awal. Beliau memiliki pengalaman perjalanan mencari ilmu di pusat-pusat ilmu, seperti Kufah, Bashrah, Mekah, Madinah, Yaman, Syam.

Beliau berguru kepada Imam Syafi’i ketika datang ke Baghdad sehingga menjadi mujtahid mutlak mustaqil. Gurunya sangat banyak hingga mencapai ratusan. Ia menguasai sebuah hadis dan menghafalnya sehingga menjadi ahli hadis di zamannya dengan berguru kepada Hasyim bin Basyir bin Abi Hazim Al-Bukhari .

Imam Ahmad adalah seorang pakar hadis dan fiqh. Imam Syafi’i berkata ketika melakukan perjalanan ke Mesir,”Saya keluar dari Baghdad dan tidaklah saya tinggalkan di sana orang yang paling bertakwa dan paling faqih melebihi Ibnu Hanbal ,”

Dasar madzhab Ahmad adalah Al-Quran, Sunnah, fatwah sahahabat, Ijam’, Qiyas, Istishab, Maslahah mursalah, saddudzarai’.

Imam Ahmad tidak mengarang satu kitab pun tentang fiqhnya. Namun pengikutnya yang membukukannya madzhabnya dari perkataan, perbuatan, jawaban atas pertanyaan dan lain-lain. Namun beliau mengarang sebuah kitab hadis “Al-Musnad” yang memuat 40.000 lebih hadis. Beliau memiliki kukuatan hafalan yang kuat. Imam Ahmad mengunakan hadis mursal dan hadis dlaif yang derajatnya meningkat kepada hasan bukan hadis batil atau munkar.

Di antara murid Imam Ahmad adalah Salh bin Ahmad bin Hanbal anak terbesar Imam Ahmad, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal . Shalih bin Ahmad lebih menguasai fiqh dan Abdullah bin Ahmad lebih menguasai hadis. Murid yang adalah Al-Atsram dipanggil Abu Bakr dan nama aslinya; Ahmad bin Muhammad , Abdul Malik bin Abdul Hamid bin Mihran , Abu Bakr Al-Khallal , Abul Qasim yang terakhir ini memiliki banyak karangan tentang fiqh madzhab Ahmad. Salah satu kitab fiqh madzhab Hanbali adalah “Al-Mughni” karangan Ibnu Qudamah.

Wallahu a’lam bish-shawab, wassalamu ‘alaikm warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

Mengenal Imam 

Selasa, 22 Oktober 2019

Penghayat Kepercayaan, Bagian Dari Masyarakat Yang Harus Kita Jaga Dan Hormati


Ariefiani Harahap - 22 Oktober 2019 12.57 WIB

Salah satu Penghayat Kepercayaan, Pahoman Urip Sejati asal Magelang yang sedang melakukan peribadatannya | foto: riauberita.com

Adanya berbagai kepercayaan merupakan salah satu keragaman yang menjadi ciri kemajemukan masyarakat Indonesia. Hal tersebut bisa ditemukan juga pada penghayat kepercayaan sebagai salah satu kelompok yang sering terlupakan bahkan asing bagi sebagian masyarakat.

Penghayat kepercayaan sendiri adalah mereka yang menganut aliran kepercayaan diluar enam agama dominan yang dikenal masyarakat umum di Indonesia seperti Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Buddha dan Konghucu. Adanya aliran kepercayaan tersebut merupakan warisan yang diturunkan oleh leluhur berbagai daerah yang ada di Indonesia.

Keberadaan penghayat kepercayaan di Indonesia

Sebelum masuknya agama mayoritas di Indonesia, Arkeolog Agus Widiatmoko menjelaskan pada historia.id bahwa agama atau kepercayaan terdahulu yang dipegang oleh para penghayat memiliki tiga prinsip yaitu hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa, dengan sesama manusia dan dengan tumbuhan, hewan dan lingkungan.

Beberapa contoh aliran yang cukup besar diantaranya seperti; Sunda Wiwitan dan Buhun yang dianut orang-orang Sunda, Kejawen yang dianut masyarakat Jawa, Marapu yang merupakan agama asli dari Pulau Sumba, Kaharingan dan Tolotang yang berasal dari Kalimantan, Ugamo Malim atau Parmalim dari suku Batak dan Madrais yang merupakan agama Jawa-Sunda.

Selain aliran-aliran tersebut masih banyak lagi aliran kecil di Indonesia yang juga merupakan bagian dari penghayat kepercayaan.

Walaupun belum ada jumlah pasti terkait jumlah penghayat kepercayaan, dilansir dari tirto.id beberapa data menunjukkan keberadaan mereka ditengah masyarakat Indonesia. Sensus penduduk 2010 misalnya, mencatat ada 299.617 penghayat kepercayaan atau sekitar 0,13% yang terhitung dari jumlah total penduduk Indonesia.

Selain itu ada juga perkiraan jumlah berkisar sepuluh hingga dua belas juta orang di seluruh Indonesia yang dikeluarkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Berada.

Melihat kembali kondisi penghayat kepercayaan di Indonesia

Dalam perjalanannya aliran kepercayaan sempat mengalami kondisi yang naik turun. Pada historia.id Sudarto peneliti dari Setara Institute menjelaskan bahwa jumlah penghayat kepercayaan pernah mengalami peningkatan setelah pemilu pertama yang dilakukan pada 1955 .

Saat itu ada sekitar 350 kelompok yang dikonsolidasi oleh mantan wakil perdana menteri KRT Wongsonegoro. Hal tersebut juga terakomodir lewat pasal 29 UUD 1945 yang menyebutkan
 “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk utuk memeluk agama masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaan itu”

Namun Pada 1965 juga sempat keluar UU PNPS No. 1 yang berisi tentang penodaan dan perlindungan atas agama-agama yang diakui pemerintah, dari aliran-aliran lain. Hal tersebut pun berimbas pada para penghayat kepercayaan.

Berbagai kendala seringkali muncul, mulai dari sulitnya mendapatkan hak-hak seperti pendidikan atau pekerjaan hingga penerimaan di masyarakat. Hal tersebut kerap membuat beberapa dari mereka berpindah pada agama mayoritas.

Kartu Tanda Penduduk salah seorang penghayat kepercayaan | foto: tirto.id

Setelah berbagai hal yang dilalui oleh masyarakat penghayat kepercayaan, dukungan terhadap mereka akhirnya mulai terlihat. Realisasinya dibuktikan dengan dicetaknya kolom agama penghayat kepercayaan di dalam E-ktp oleh Ditjen Dukcapil pada 2019.

Masyarakat penghayat kepercayaan yang gugatannya dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) | foto: detik.com

Hal tersebut merupakan tindak lanjut dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada November 2017 yang mengabulkan gugatan masyarakat penghayat kepercayaan terkait kewajiban negara untuk mengakui dan menulis (tidak lagi mengosongkan) kolom agama pada KTP yang dimiliki penghayat kepercayaan.

Walaupun secara identitas keberadaannya telah diakui, dibutuhkan edukasi lebih lanjut pada masyarakat luas terkait keberadaan para penghayat kepercayaan. Hal tersebut harus dilakukan untuk mendorong sikap terbuka masyarakat terhadap mereka sehingga tak ada lagi diskriminasi yang diterima oleh para penghayat.

Minggu, 11 November 2018

Sembahyang Bhuvana


Pidato Kebudayaan DKJ
TIM, 10 November 2018



Selamat malam Bapak dan Ibu yang tercinta,
Tidak ada daya muslihat pada alam. Alam adalah angan-angan terhadap yang nirmala, segala yang murni dan baik. Alam tidak saja bumi yang dipijak, tempat bernaung, tetapi juga ruang menyejarah bagi manusia.
Alam menuangkan saripatinya menyangga kehidupan, tidak terkecuali, manusia juga tergantung terhadapnya. Filsafat Timur sarat akan ajaran-ajaran yang meletakan alam sebagai sumber pengetahuan. Sumber dalam pengertian ini, tidak melingkupi sebatas dimensi empiris dari alam, melampaui itu, alam dianggap sebagai tumpuan acuan moral. Dua aliran kuno India yakni Nyaya dan Vaisesika menguraikan secara epistemologis, alam dan proses pengetahuan manusia. Dua aliran ini menurut saya, merupakan pintu masuk ke dalam sistematika klasik Filsafat India, Sad Darsana, atau enam sistem filsafat.

Para pengikut aliran pemikiran Nyaya atau yang dikenal sebagai kaum Naiyāyikamenjelaskan bahwa objek daripada pengetahuan adalah elemen-elemen alam, yakni tanah, air, cahaya, udara dan ether[1]. Alam sebagai isian dari pengetahuan manusia dapat dicapai melalui persepsi, penyimpulan, perbandingan dan kesaksian[2]. Metode-metode ini merupakan ajaran khas Nyaya, yang disebut sebagai Catur Pramana atau empat cara untuk mendapatkan pengetahuan. Adapun, teori logika dan pengetahuan aliran Nyaya tidak mereduksi secara kering pemahaman alam sebagai objek pengetahuan. Mereka menyatakan bahwa proses persepsi atau pratyaksa dapat dipecah menjadi Savikalpa dan Nirvikalpa. Savikalpaadalah pemahaman yang terukur, juga komprehensif tentang objek. Tetapi, intelektualitas maupun pencerapan indrawi acapkali gamang saat menghadapi alam.  Nirvikalpa adalah perjumpaan manusia dengan alam yang liar, yang membuatnya mustahil mengetahui secara konklusif apakah alam itu.

Sementara itu aliran Vaisesika melandaskan teori pengetahuannya pada Dharma, bahwa segala cita-cita untuk mencari pencerahan diharuskan mengarah pada Dharma. Pada pengertian ini, harapan dari pencarian pengetahuan itu perlu ditegaskan demi kepentingan yang baik dan didasari motif yang arif. Baik Nyayamaupun Vaisesika sebagai aliran pemikiran yang secara khusus membicarakan asal-usul pengetahuan, keduanya tidak pernah mengisolasi topik epistemologis dari pertanggungjawaban etis. Filsafat melalui Nyaya dan Vaisesika adalah pertautan antara epistemologi, aksiologi dan ontologi. Tertera di dalam Vaisesika Sutra dengan berpedoman pada kebaikan, perlu diketahui bahwa pengetahuan yang benar adalah pemahaman terhadap esensi. Esensi yang dimaksud oleh pengikut Vaisesika adalah alam yang dibentuk oleh atom-atom atau Paramanudalam tranformasi atau parinama yang bersifat kekal.

Filsafat bagi aliran Nyaya dan Vaisesika bukan semata-mata persoalan permenungan intelektual mengenai dunia. Seseorang yang memiliki pengetahuan terikat dengan kewajiban-kewajiban untuk bersikap adil dan menegakan Dharma[3]. Premis-premis yang disusun didalam silogisme Nyaya misalnya, bukan relevan untuk menyusun pengetahuan tentang dunia saja atau untuk memeriksa kesahihan antara yang universal dan partikular. Latihan pikiran untuk selalu konsisten dan kritis, bukan bertujuan hanya untuk menyempurnakan retorika, tetapi harus mendorong seseorang itu untuk dapat bertindak adil dan berbelas kasih. Realisme dalam pemikiran Nyaya menempatkan manusia sebagai subjek yang memiliki kebebasan untuk bertindak, dan ia selalu terikat secara etis terhadap pilihan-pilihannya.[4]

Apakah arti suatu pencarian filosofis dari perspektif Nyaya dan Vaisesika? Metode-metode filsafat ditempuh dengan seksama untuk menelusuri keheranan dan keterpukauan kepada alam. Belajar dari alam berarti melihat bahwa kehidupan terus bergulir, laju transformatif adalah keniscayaan. Itulah proses alamiah, ada kelahiran, kehidupan lalu kematian, kemudian seterusnya. Manusia tidak dapat menyangkal proses ini. Pemikir Vaisesika menyadari bahwa interaksi manusia dengan dunianya mendorongnya untuk mengkontemplasikan persoalan kebahagiaan dan kesengsaraan. Manusia ingin menjadi abadi, tetapi tubuhnya diselubungi duka, sebab segala-galanya tidak kebal dari perubahan[5].

Pengetahuan adalah harapan untuk terbebas dari kerterpasungan manusia pada duka. Tujuan utama dari pengetahuan menurut Nyaya adalah melepaskan manusia dari kesengsaraan.[6] Hidup yang sengsara adalah kehidupan yang jauh dari pengetahuan, hidup yang abai pada kehidupan yang harmonis dengan alam. Merefleksikan kedermawanan alam, kita dapat mengetahui bahwa kehidupan adalah anugerah, peristiwa istimewa yang perlu dirayakan dengan penghayatan dalam menjalani keseharian kita.

Penghancuran yang terjadi pada alam, sejatinya adalah pemusnahan pengetahuan. Dibinasakannya kebijaksanaan yang sepatutnya menjadi bagian dari jatidiri manusia, hingga yang tersisa adalah tanah-tanah yang tandus, samudera yang hening tanpa gumaman terumbu karang, serta langit yang senyap dari kicauan burung-burung. Bersamaan dengan menghilangnya hutan purba kita, lenyap pula roh harimau belang yang menjaga keselarasan. Lantas siapakah manusia ketika alamnya tergerus menuju kepunahan? Pantaskah ia dinyatakan sebagai makhluk yang berbudi, saat ia telah gagal menjaga keseimbangan yang rentan tersebut ?

Naskah Tao Te Ching yang menjadi sumber utama untuk aliran Filsafat Cina, Taoisme mengatakan bahwa langit dan bumi bertahan dan berkesinambungan dikarenakan keberadaan mereka tidak berpusat untuk dirinya sendiri. Ajaran Tao ini mengajukan suatu prinsip moral mengenai pengorbanan diri yang diserap dari permenungan terhadap alam. Sifat dari pohon adalah menjadikan tubuhnya sebagi sumber penghidupan seluruh makhluk di hutan hujan. Tubuhnya yang besar dan menjulang tinggi menjadi kanopi tempat berlindung berbagai makhluk hidup, ia menyerap air kemudian mengedarkannya. Dedaunannya menyerap cahaya matahari yang kemudian menghasilkan energi, membuat hutan hujan menyala, berdegup penuh vitalitas. Alangkah indahnya proses alamiah itu, serta betapa malangnya manusia yang gagal mempelajari gerak alam yang elegan itu.

Perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi bumi kita. Perubahan ekstrem ini diakibatkan peran manusia, meningkatnya produksi emisi yang terjadi dikarenakan tidak terkendalinya pembangunan. Dampaknya adalah pencemaran pada tanah, air dan udara dalam skala masal, hingga kepunahan spesies-spesies. Bumi tengah memanas, kutub utara kehilangan lapisan-lapisan esnya, lautnya mendidih sehingga mematikan ekosistem terumbu karang. Perubahan-perubahan ini bukanlah gerak-gerik evolutif alam yang membutuhkan rentang masa yang panjang. Ketidakseimbangan ini disebut sebagai era antroposen, suatu periode yang ditandai dengan campur tangan aktivitas manusia yang memberi dampak global terhadap ekosistem di Bumi.

Kacaubalau kondisi lingkungan hidup ini dapat dianalisis menggunakan pendekatan Nyaya dan Vaisesika. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pos-Industri sedemikian pesat, manusia membusungkan dadanya dan berbangga hati terhadap mesin, gawai dan gedung yang mereka ciptakan. Namun, kemuliaan apakah yang dapat dicapai melihat tangisan orang utan, harimau, gajah dan badak yang terbakar bersama hutannya yang dipakai manusia untuk industrinya? Inilah kekhawatiran cendikiawan Nyaya dan Vaisesika, saat keilmuan diputuskan dari konsekuensi etisnya.

Manusia terpatah dari alam, ia memisahkan dirinya dari makhluk hidup lainnya, kemudian mengukuhkan dirinya sebagai penguasa di puncak hierarki. Ia merasa dirinya superior, dan berhak mendahulukan kepentingan dirinya sendiri. Pengetahuan yang pada mulanya melingkar tertambat pada alam, perlahan-lahan sirna, tertimbun dengan angkara dan keserakahan manusia. Kerinduan terhadap pengetahuan yang sanggup menumbuhkan kembali simpul hubungan dengan alam dapat dijumpai dalam naskah Upanisad. Salah satu bagian dari teks yang bernama Chandogya Upanisad[7] bercerita tentang dialog antara dua tokoh, Uddalaka dan Svetaketu. Svetaketu putra dari Uddalaka berperilaku angkuh merasa pendidikan yang ia tempuh telah membuatnya seseorang yang paling pandai mengenai kehidupan.

Uddalaka bertanya pada putranya, “apakah yang sesungguhnya esensi dari alam semesta ini?” Svetaketu tersadar dari kesombongannya, ia tidak sanggup menjawab pertanyaan itu. Uddalaka mengajak putranya untuk melihat ke sekeliling mereka, keberadaan mereka tidak luput dari alam. Segala pepohonan, beragam makhluk hidup sesungguhnya memiliki intisari yang sama dengan manusia, yakni atman. Inti yang halus ini merupakan unsur yang memungkinkan detak kehidupan. Svetaketu kemudian mengatakan Tat Twam Asi, frasa yang menjadi fondasi etis dalam filosofi Hindu. Tat Twam Asi berarti Aku adalah Engkau, melalui ajaran Uddalaka pengertian Engkau dapat ditafsir sebagai keseimbangan relasi antara diriku dengan alam. Upanisad sungguh kaya akan argumentasi-argumentasi yang memperkuat prinsip kesatuan antara jiwa manusia dengan Hiranyagarbha atau jiwa semesta.

Menghilangnya alam liar dalam kehidupan manusia selain menimbulkan malapetaka serta kebencanaan, dari perspektif eksistensialisme, menimbulkan pula disorientasi. Di manakah dan kemanakah arah bagi manusia saat hutannya dibinasakan, gunungnya ditambang, teluknya ditimbun? Bagi masyarakat adat Bali, hidup berpusat pada Gunung Agung. Gunung Agung adalah entitas yang dijadikan titik mula segala arah. Mereka melihat kepada Gunung Agung sebagai pembimbing kehidupan, mahaguru yang melimpahi mereka dengan pengetahuan dan kesejahteraan. Arah mata angin mereka dimulai dengan Gunung Agung di utara atau kaja, lalu selatan atau kelod yang berada di bawah Gunung Agung, kemudian timur atau kangin dan barat atau kauh[8].

Hadirin yang saya hormati,
Generasi saya hidup terlilit dengan teknologi digital, kami sulit memisahkan diri dari berkembangnya industri teknologi tersebut. Keseharian masyarakat didikte dengan pengakuan yang dangkal, makna diukur dari seberapa populer gambar disukai di laman media sosial. Studi terbaru menyatakan bahwa kebahagiaan mental menurun dikarenakan citra-citra dalam sosial media yang menampilkan keindahan, kebahagiaan, dan status sosial yang tidak realistis[9].

Ini yang dikhawatirkan oleh Martin Heidegger[10] dan Jacques Ellul[11] saat mengatakan bahwa teknologi dapat terlepas dari kendali manusia, dan menjadi rantai serta borgol ketidakbebasan bagi manusia. Nampaknya paranoia mereka tidak terlalu berlebihan, teknologi robotik kini tengah mengembangkan tidak saja robot-robot dengan kecerdasan buatan, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan emotif. Tentunya, fiksi ilmiah yang menggambarkan para robot akan menduduki dunia adalah skenario yang terlampau jauh.

Persoalan yang ingin saya soroti adalah betapa motif-motif inovasi masih berkisar pada pengejaran narsistik manusia. Seperti halnya Victor Frankenstein yang tidak memahami kekuasaan yang ia miliki, dari tangannya ia tempa sains untuk memenuhi kegilaannya. Ia memompa nyawa ke dalam suatu makhluk tanpa mempertimbangkan aspek etis dari tindakannya itu. Pada akhirnya ciptaannya berbalik menjadi musibah baginya. Kita dimabukkan dengan gemilang gawai-gawai yang menjanjikan kecepatan, ketersambungan, kebahagiaan, tapi manusia modern tidak pernah merasa terpuaskan. Segala mesin-mesin ini semakin menjauhkan manusia dari rasa utuh.


Tetapi, apakah teknologi perlu begitu ditakuti? Haruskah relasi manusia dengan alat-alat buatannya begitu suram? Justru menurut saya, ketidakpahaman kita terhadap teknologi tersebut yang menyebabkan berbagai macam petaka. Dari penggunaan yang terlampau remeh, hingga penyalahgunaan yang mendorong kehancuran pada planet ini. Pengertian serta sensibilitas kita terhadap teknologi masih pada lapisan permukaan saja. Imajinasi serta hati kita belum optimal membayangkan masa depan teknologi yang dapat mendekatkan kita dengan alam.

Untuk kelas Filsafat Teknologi saya mengajak para mahasiswa mengunjungi Planetarium. Suasana di dalam Planetarium mendadak riuh tatkala menjadi gelap kemudian dipenuhi milyaran bintang-bintang. Ratusan pengunjung di dalam ruangan itu merasa sedang menjelajahi angkasa, suara tepuk tangan mengiringi saat langit-langit planetarium menunjukan berbagai macam rasi bintang; Orion, Gemini, Pisces, Hydra dsb. Saya memahami bahwa bintang-bintang di Planetarium itu bukanlah angkasa yang sejatinya. Langit-langit kubah ditembak dengan proyektor yang terletak di tengah ruangan. Simulasi itu membawa ketakjuban, untuk sejenak semua pengunjung sungguh-sungguh merasa tengah menari di alam raya.

Pada kenyataannya, malam yang cerah bertabur bintang telah berada di atas kita selama ini. Malam hari itu saya melintasi jalanan, tetapi tidak ada langit berbintang di atas saya, hanya jalan layang yang menudungi perjalanan. Hati saya teriris, polusi udara, juga polusi cahaya telah merenggut langit berbintang dari pengalaman kita. Kenangan saya melihat pagelaran besar langit berbintang semacam di Planetarium hanya terjadi setahun sekali secara nyata. Semenjak kanak-kanak, pada malam hari raya Nyepi saya akan tertidur di halaman rumah, menatap ke angkasa. Tidak ada cahaya apapun kecuali pancaran bintang-bintang yang bergumul di dalam Bima Sakti. Bali begitu senyap hingga saya merasa detak jantung ini berdegup bersama dengan gerakan Bima Sakti.

Melalui teknologi pula rahasia kemegahan alam raya ini tersibak. Menggunakan teleskop Hubble yang terletak di luar angkasa, kita dapat meneropong kehidupan bintang terjauh bernama Icarus yang berjarak miliaran tahun cahaya. Teknologi dapat mengungkapkan betap luasnya antariksa, mendekatkan kita pada ketakberhinggaan itu. Saat ini pembentukan alat-alat teknologis masih dimanfaatkan demi keuntungan cepat ekonomis. Sehingga membuat keberadaan alat-alat ini terus beradu dengan yang tersisa dari alam liar kita.

Gairah dari keberadaan teknologi masih demi kepentingan dominasi untuk menundukkan alam, juga sebagai alat subjugasi sesama manusia[12]. Tujuan yang sangat sempit nan picik, untuk melanggengkan kelas-kelas dalam masyarakat, juga memeras sumber daya yang berada pada alam. Teknologi tidak dimiliki serta dioperasikan secara demokratis, ia menjadi alat kekuasaan, berwujud sebagai bahasa, senjata juga mesin[13]. Dalam pengertian ini, teknologi berfungsi deterministik dalam sistem yang mengatur pola pikir hingga budaya manusia, ia bukan semata-mata perkakas yang bersifat netral.

Lantas, apakah yang dapat mengubah orientasi teknologi yang sekarang ada. Menimbang krisis lingkungan hidup yang mendera bumi ini, panggilan perubahan itu kini menjadi sirene yang nyaring. Perubahan menjadi suatu keharusan sebab saat ini kita tengah berpacu melawan kepunahan. Bencana iklim yang akan semakin memburuk mendorong kita untuk menggunakan sains dan teknologi secara bijaksana[14]. Unifikasi suara para ilmuwan dalam laporan IPCC (Intergovernmental Panels on Climate Change)[15] menunjukan bagaimana katastrof pemanasan yang terjadi dikarenakan karbon yang diproduki manusia. Mereka menegaskan bahwa kenaikan suhu bumi sebanyak 1.5’C akan berakibat pada kebencanaan iklim yang saat ini pun mulai kita rasakan. Jika melebihi 1.5’C kita akan kehilangan spesies-spesies seperti terumbu karang dan serangga yang krusial untuk proses penyerbukan.
Melampaui 1.5’C, 90 % dari terumbu karang akan menghilang dikarenakan pemanasan air laut yang menyebabkan asidifikasi.

Kepunahan terumbu karang akan berdampak domino terhadap kehidupan laut, sebab terumbu karang adalah penyangga ekosistem laut yakni sebagai habitat makhluk laut lainnya. Perubahan revolusioner perlu dilakukan jika kita ingin menyelamatkan bumi beserta kemanusiaan kita.
Perubahan yang radikal itu hanya dimungkingkan jika ada perombakan dalam perspektif teknologis manusia. Pola ekonomi warisan era industrialisasi harus diubah jika kita ingin menekan jejak karbon. Kegiatan ekstrasi yang menyebabkan musnahnya alam liar harus dihentikan, manusia tidak dapat lagi bersandar pada bahan bakar fosil[16]. Sistem konsumsi kita pun harus diubah, pengadaan pangan melalui pola monokultur tidak dapat lagi dipertahankan. Begitu juga keberadaan kota-kota beserta pembangunan infrastruktur, transportasi maupun manufaktur, harus mengalami pembongkaran.

Revolusi ekologis ini hanya dapat dilakukan disokong dengan teknologi yang optimal dan bertanggung jawab. Pada bidang energi misalnya, eksplorasi energi terbarukan yang memanfaatkan air, angin dan tenaga surya, tidak saja ramah terhadap lingkungan hidup, tetapi akan berdampak pula pada struktur masyarakat. Relasi ekonomi, sosial dan politik yang pada awalnya berfungsi hierarkis, sarat akan arogansi dan dominasi–manusia terhadap alam kemudian manusia terhadap manusia yang lainnya, dapat dipatahkan dengan kehadiran teknologi yang memperluas demokratisasi.

Optimisme harus mengiringi era baru sosial ekologis, harapan terhadap humanisme yang tidak terpisahkan dari alam harus dirintis sedini mungkin. Sains dan teknologi memang tidak terpisahkan dari upaya untuk membangun politik ekologi yang tidak sekadar jargon, serta impian para utopis[17]. Fakta-fakta mengenai kehancuran ekologis semestinya menempatkan energi keilmiahan menjadi sedemikian genting. Carl Sagan menyampaikan dalam karyanya Cosmos, bahwa melalui sains dan teknologi kita dapat mengungkap pengetahuan mengenai jagat raya ini, tetapi kita harus menyadari bahwa rumah dan tempat bermukim kita adalah di bumi[18]. Kita memiliki kekuasaan untuk menjaga Bumi dengan segenap kemampuan saintifik dan teknologis.

Kita harus menyongsong semangat zaman yang baru, yang meninggalkan kecenderungan manusia yang selalu destruktif terhadap alam. Jika ia mampu merobohkan, maka kita harus dapat membayangkan bahwa manusia juga sanggup merekonstruksi[19]. Mempelajari kekurangan serta keterlambatan nalarnya lalu menggunakan segenap intelektualitasnya untuk menebus kesalahan-kesalahan itu. Kecerdasan manusia selama kurang dari 200 tahun membuktikan bahwa ia berdaya menciptakan terobosan-terobosan teknologis, kini yang dibutuhkan adalah komitmen untuk mengarahkan penghayatan ilmu pengetahuan tersebut demi kepentingan yang lebih besar, yakni untuk menjaga planet kita.

Hadirin yang baik,
Perempuan sedang bergerak di seluruh penjuru bumi, mereka berada di depan, memimpin suatu revolusi ekologis. Pesan mereka adalah keadilan ekologis, dunia yang tidak lagi dikendalikan dengan sistem yang diskriminatif, yang menceraikan manusia dari alamnya. Ekofeminisme bekerja secara serempak, pada tataran pengetahuan, juga menjejakkan basisnya pada gerakan sosial. Ekofeminisme adalah kritik yang lantang terhadap bagaimana pengetahuan selama ini dibangun dengan niat untuk menjadikan alam sebagai yang inferior. Kebudayaan kita menempatkan manusia sebagai penguasa yang berjaya di atas alam. Kedudukan ini dikukuhkan oleh keunggulan akal budi manusia. Ekofeminisme hadir untuk mempersoalkan itu semua, segala asumsi-asumsi yang umat manusia terima tanpa sebersit rasa curiga maupun bersalah.
Ekofeminisme menuding bahwa kebudayaan yang berjarak dengan alam adalah bentuk pengelabuan. Mereka yang mengelabui publik memotong keindahan alam dan mengemasnya menjadi produk-produk untuk dijual. Segala darah dan daging satwa diperjualbelikan, atas nama industri, laut dihina menjadi tempat pembuangan limbah.

Ekofeminisme sebagai gerakan sosial, melihat cerdik menembus segala kiat pengelabuan itu. Para perempuan-perempuan itu pun menyimpulkan bahwa saat pengetahuan dibangun oleh para patriark, mereka mendominasi alam sebagai objek yang harus ditundukan, bersamaan dengan itu, mereka pun memasung perempuan. Solidaritas perempuan kepada bumi adalah jeritan sepenanggungan, bahwa tubuh perempuan bertubi-tubi menjadi sasaran kuasa dan hegemoni, begitu pula yang terjadi pada tubuh bumi. Kontrol terhadap tubuh bumi, demi pembangunan, demi pertumbuhan ekonomi, dan peningkatan kapital. Serupa dengan perempuan yang tubuhnya dikendalikan oleh norma kesantunan, dikriminalisasi tindak-tanduknya, dibatasi kebebasannya. Eksploitasi terhadap alam dan perempuan bersumber dari gairah untuk mendominasi.

Dalam Ekofeminisme, kebudayaan semestinya tidak antagonistik dengan alam, sebab manusia dapat berkomunikasi dengan alam dan membangun diskursus baru[20]. Segala pengetahuan seharusnya dibentuk dengan pertimbangan terhadap suara alam. Kehidupan dari perspektif para Ekofeminis, adalah penghayatan kolaboratif antara manusia dengan alam. Vandana Shiva dalam ceramahnya mengatakan bahwa;
“Threefold Happines (Tri Hita Karana) when you do good farming, with good seeds, you are of course taking care of the Universal Law….When you do good farming, you actually work with nature, built up nature. Only in farming we give back. Every other economic activities, we take from nature. Only farming we can give back to the soil.”[21]

Vandana Shiva seorang ekofeminis kelahiran India, mengkritik bagaimana kegiatan pertanian yang pada permulaannya adalah relasi keseimbangan antara, manusia, alam dan Tuhan, kemudian berubah dikarenakan pola kehidupan modern yang memperlakukan pangan terbatas sebagai komoditas. Pertanian, atau agroekologi, menggunakan perspektif ekofeminis Vandana Shiva adalah kerjasama yang organik, relasi simbiotik yang justru memperkuat alam itu sendiri. Kita dapat melihat filosofi ini bekerja dalam pertanian di Bali, melalui keberadaan Subak: sistem irigasi tradisional, juga melalui dilestarikannya benih-benih lokal.

Shiva menggugat keberadaan korporasi-korporasi yang menghancurkan tradisi pertanian yang telah berlangsung selama ribuan tahun lamanya. Kedatangan industri ini merusak tata relasi yang mengaitkan kegiatan pertanian dengan spiritualitas di India. Bagi Shiva, memperjuangkan benih lokal adalah bentuk Satyagraha, seruan politis Mahatma Gandhi untuk setia pada tanah air[22]. Ekofeminisme Shiva menempatkan air, juga benih sebagai the commons, sumber kehidupan yang dimanfaatkan secara kolektif dan bertanggung jawab. Problem utama menurut para ekofeminis adalah bagaimana alam dibajak oleh perusahaan-perusahaan yang menerapkan sistem monokultur sehingga memusnahkan kekayaan diversitas alam[23]. Selain itu, mereka merampas benih-benih dari masyarakat kemudian merekayasa secara genetik. Setelah itu benih-benih ini dipatenkan sebagai milik korporasi.

“Seeds saving is Dharma” ujar Shiva dalam balutan sari berwarna hijau. Saya memandangnya, dan merasakan bagaimana kecintaan terhadap benih sejatinya adalah kecintaan terhadap kehidupan. Benih bukanlah benda mati, asal kehidupan termuat didalamnya. Manusia menanam benih secara baik, bekerja sama dengan alam untuk merawat ekosistem sawah. Petani membisikan mantra dalam setiap benih yang ditanam, memberikan persembahan pada kuil-kuil mungil yang diperuntukan bagi Dewi Bumi.

Namun keberadaan Subak di Bali menjadi semakin rapuh, meski dengan rekognisi yang telah diberikan oleh UNESCO pada tahun 2012, bahwa Subak adalah warisan budaya dunia[24]. Subak bagi nenek moyang kita tidak saja berfungsi sebagai pengasil air dan makanan, melebihi itu, Subak adalah satuan nilai-nilai yang merekatkan tiga unsur kehidupan, Pawongan (manusia), Palemahan (alam) dan Parahyangan (Tuhan). Kini nilai-nilai itu berangsur-angsur memudar, digeser oleh industri pariwisata yang tidak berkelanjutan. Lahan sawah kian beralih fungsi, data BPS pada tahun 2010 mengatakan kurang lebih 1000 Ha setiap tahunnya sawah-sawah menghilang.[25]

Terkikisnya sawah-sawah dan pura-pura Subak berarti terpenggalnya manusia Bali dari akar spiritualitasnya. Menggunakan sudut pandang ekofeminis kita dapat menguraikan makna-makna simbolik yang begitu erat antara tanah dengan Dewi Bumi, benih dengan Dewi Sri, juga air dengan Dewi Danu. Tanah, benih dan air bukanlah objek-objek mati. Mereka adalah elemen-elemen kosmos yang menggulirkan ritme kehidupan. Subak menyimpul manusia, alam dan Hyang menjadi satu. Layaknya alur yang gerakannya saling menjaga dan menguatkan.

Saya menatap dengan hati yang lirih, pura-pura Subak yang tidak lagi memiliki ekosistem maupun pemujanya. Kematian yang sakral telah terjadi beriringan dengan menghilangnya alam. Pencemaran terhadap tanah dan air adalah bengisnya kejahatan manusia terhadap kedermawanan alam. Dalam ekofeminisme budaya, sosial dan politik harus berporos pada alam. Alam sarat dengan nilai-nilai yang penting untuk dipelajari. Air misalnya, Pura Ulun Danu yang terletak di Danau Beratan, dihormati sebagai tempat bersemayamnya Dewi Danau. Sang Hyang Danu diyakini memberikan anugerah air yang mengalir ke seluruh sawah-sawah dan pemukiman. Air itu diberikan dengan sepenuh rasa cinta dan belas kasih.

Air adalah inspirasi untuk menjadi adil. Keberadaan Subak sebagai sistem irigasi tradisional membuktikan bahwa nenek moyang kita memikirkan secara matang dan penuh kepekaan, bahwa segala pembangunan harus mempertimbangkan alam. Air bukan hanya milik manusia, air adalah pemberian alam kepada setiap makhluk hidup. Air dibagikan secara demokratis, melalui rapat-rapat subak, di mana seluruh anggota berada dalam posisi setara. Air digunakan secukupnya, dan selalu untuk kepentingan bersama. Sebelum masa penanaman bibit, hingga masa panen, tidak putus-putusnya masyarakat petani menguntai doa terima kasih kepada para dewata.

Para ekofeminis menyusun pengetahuannya berdasarkan suatu intuisi bahwa alam selalu berbicara pada kita. Menentang bagaimana selama ini bahasa patriarki meniadakan suara alam juga perempuan[26]. Menyelami alam mendorong kita untuk membentuk pengetahuan yang mengarah pada keselarasan. Kita juga dapat memahami etika secara lebih luas, tidak saja empunya manusia, tetapi juga seluruh makhluk yang berada di bumi. Etika kepedulian adalah pertimbangan etis yang muncul dari kasih sayang. Rasa kasih sayang ini menerobos tribalisme demi kelompok sendiri, tetapi kasih sayang yang transendental, terhadap seluruh isi alam.

Kepedulian dan kepercayaan menjadi pilar-pilar dalam menciptakan relasi. Alam menjanjikan perbedaan, keragaman yang saling melengkapi, hal ini sepatutnya mengilhami kita untuk membuka diri terhadap keanekaragaman perbedaan dan merayakannya sebagai suatu karunia. Segala ideologi yang mencari peperangan, konflik juga permusuhan menjadi begitu usang. Ekofeminisme mengupayakan suatu dunia yang tidak lagi sakit dengan kesenjangan, opresi dan kebencian.

Bapak dan Ibu hadirin sekalian,
Cinta sejati saya adalah Teluk Benoa. Pertemuan kami pertama kalinya terjadi pada saat saya masih kanak-kanak. Kakek dan Nenek mengajak saya melakukan Segara Kertih, persembahyangan serta napak tilas ke pura-pura yang terletak di pesisir Bali. Cinta dari perjumpaan pertama itu tidak surut oleh waktu. Meski saya berada jauh di kota untuk merampungkan studi, pikiran dan hati saya selalu bersama dia.

Ketika berita mengenai rencana pemerintah daerah bersama investor hendak membangun megaproyek pariwisata di perairan Teluk Benoa awal tahun 2013 itu, saya merasa kalut. Kekalutan itu bercampur baur dengan rasa kecewa terhadap bagaimana pemerintah semestinya dapat dipercaya oleh masyarakatnya bukan berbalik menjadi bagian dari permasalahan.
Tetapi polemik di Teluk Benoa membongkar suatu siasat buruk terkait bagaimana kekuasaan disalahgunakan. Dibalik kegundahan melihat kekuasaan berupaya merenggut Teluk Benoa, saya menyaksikan suatu titik balik pada masyarakat Bali. Fajar baru di mana masyarakat tidak lagi lumpuh oleh cengkraman kekuasaan. Kami menyadari daya yang terletak pada suara kami.

Melewati berbagai aral serta rintangan, Teluk Benoa dinyatakan oleh Pesamuhan Sabha Pandita sebagai kawasan suci[27]. Komite khusus yang beranggotakan para pendeta Hindu mengkaji, mendiskusikan serta memutuskan bahwa Teluk Benoa merupakan kawasan sakral yang harus dipertahankan. Adapun pertimbangan dari para sulinggih berpegangan pada Bhisama Kesucian Pura, yang tertera dalam Keputusan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, yang diterbitkan semenjak tahun 1994[28]. Bhisama itu mengatakan bahwa kawasan suci adalah gunung, danau, campuhan (pertemuan sungai-sungai), pantai, laut diyakini memiliki nilai-nilai kesucian[29].

Kesucian dalam konteks Teluk Benoa dapat dipahami secara kritis. Alam dipandang sebagai yang sakral, tetapi kesakralan ini datang dari suatu kesadaran bahwa alam yang seimbang dan lestari akan merawat manusia menjadi baik. Alam liar disucikan karena pada tempat-tempat itulah manusia mendapatkan pencerahannya, ia dapat menyadari peran dan tanggung jawabnya melalui pembelajaran dengan alam.

Karya Kekawin Anyang Nirartha yang digubah oleh Danghyang Nirartha memberikan ilustrasi yang indah bagaimana alam menjadi sumber pencerahan. Danghyang Nirartha[30] adalah seorang Pendeta Siwa yang melakukan perjalanan mengelilingi pulau Bali untuk menetapkan tradisi Hindu Siwa yang diwariskan hingga saat ini. Anyang Nirartha erat sekali keberadaannya dengan Teluk Benoa, sebab syair-syair yang dituliskannya merupakan keharuan serta rasa terpesona Danghyang Nirartha melihat keindahan Teluk Benoa, Nusa Dua, Pulau Pudut hingga Sakenan[31].
Syair-syairnya begitu erotis menganalogikan lekuk pantai seperti lipatan kain sang kekasih. Puisi cinta ini merupakan bentuk syair Tantra, suatu bentuk pemujaan kepada Mahadewa Siwa melalui penjelmaannya Dewa Asmara, atau Kama[32].

Saya bacakan sepenggal dari syahdunya kekawin itu;

“Dengan cepat ia bergegas pulang pada sore hari manakala air laut menyurut, berjalan menyusur pantai yang indah itu dan ia pun terpesona melihat keindahan yang terbentang…”

“Liuk garis pasir pantai yang memukau tampak bergelung-gelung seperti lipatan-lipatan kainmu”

“Ada belanak terlihat berkilat cahayanya terus berkelebat mengarah ke air laut yang dalam, tapi si burung bangau bergerak cepat, datang berdiri menundukan paruh pada riak itu dan berhasil mematuknya”

“Ada perahu kecil terlihat samar-samar di tengah laut serta layarnya terlihat seperti bunga melati yang semerbak pada sanggul-terurai, sambaran burung camar yang seakan mencium buih seperti lengkung alis.”[33]

Saya menjelajahi Teluk Benoa dengan hati yang riang bersama dengan para sahabat saya yang berasal dari desa Tanjung Benoa. Kami bermain di Teluk Benoa di kala ia surut, menatap bangau-bangau yang berkumpul mencari ikan-ikan kecil. Kami terduduk di sisi pantai menunggu matahari terbenam, kala itu terlintas di benak saya kata-kata Aldo Leopold, seorang pakar lingkungan hidup, mengenai apakah yang dianggap benar itu? Sesuatu adalah benar bila hal tersebut menjaga integritas, stabilitas dan keindahan dari keseluruhan komunitas biotik[34].

Kata-kata itu terwujud dalam Teluk Benoa, ia adalah kebenaran itu. Ia merupakan manifestasi kecerdasan alam dalam menyangga seluruh makhluk yang bergantung kepadanya. Karakter Teluk Benoa sebagai wilayah pasang surut (intertidal) vital untuk dikonservasikan, karena ia merupakan pusat dari keanekaragaman hayati di wilayah pesisir Selatan Bali[35]. Berbagai spesies flora dan fauna hidup di dalam Teluk Benoa, seperti; mangrove, terumbu karang, padang lamun, burung, ikan, penyu, dsb. Teluk Benoa merupakan habitat kritis, khususnya bagi hutan mangrove yang sebarannya terluas di Bali. Salah satu fungsi penting dari hutan mangrove di Teluk Benoa adalah wilayah asuh dan tempat berlindungnya spesies-spesies seperti; ikan, kerang dan udang yang teramat penting bagi sehatnya rantai makanan di lautan.[36] Segala pembangunan yang kini terjadi di sepanjang jalan tol atas laut, pelebaran bandara dan pelabuhan tentunya menimbulkan beban pada ekosistem hutan mangrove yang semakin terancam.

Mata saya memicing ke atas, melihat kepakan Elang Tiram yang memutari Teluk Benoa melayang dengan sentosa. Saya menyantap aneka rumput laut, Bulung Boni dan Bulung Sangu yang dicampur dengan parutan kelapa, mereka tumbuh di Teluk Benoa. Sebagian besar masyarakat yang hidup disekeliling Teluk Benoa bekerja sebagai penggiat wisata laut, selain itu mereka bekerja sebagai nelayan tradisional dan petani rumput laut yang menggantungkan kehidupan ekonominya pada Teluk Benoa. Alangkah tidak adilnya rencana megaproyek reklamasi Teluk Benoa. Proyek yang akan menimbun 700Ha wilayah perairan tersebut akan melenyapkan kesepadanan yang ada.

Kampanye menolak reklamasi Teluk Benoa di Bali adalah kerja gotong royong antara berbagai lapisan masyarakat.[37] Gerakan masyarakat sipil yang besar ini telah menjangkau publik global. Dengan pamflet ikonik karya Alit Ambara, simbol penolakan reklamasi bergema-gema menjadi genta harapan. Kampanye Bali Tolak Reklamasi adalah bukti kekuatan seni menjangkau raga dan jiwa manusia. Seni yang bergerak menggugah publik untuk lantang bersuara. Ini tercermin dari lagu mars Bali Tolak Reklamasi bergaung-gaung dalam derap pawai mereka,
“Bangun Bali, subsidi petani, kita semua makan nasi, bukannya butuh reklamasi.”


Apa yang sesungguhnya terjadi di Teluk Benoa adalah pertarungan untuk ruang demokrasi bagi masyarakat[38]. Sudah sewajibnya Teluk Benoa sebagai ekosistem dijaga bersama demi keberlangsungan. Dalam pengertian ini Teluk Benoa bukanlah properti, atau sebidang ruang yang diperjualbelikan. Keadilan ekologis menekankan pada perluasan makna hak yang tidak saja dimiliki manusia, tetapi lebih radikal lagi, dimiliki oleh lingkungan hidup. Teluk Benoa adalah subjek yang memiliki hak biotik. Salah satu rencana daripada pihak pengembang untuk pulau rekayasa hasil reklamasi adalah mengubah fungsi hidrologi Teluk Benoa. Mereka hendak menghilangkan pasang surut di Teluk Benoa demi kepentingan komersil semata. Tidakkah Teluk Benoa memiliki hak untuk mempertahankan sifat-sifatnya? Tidakkah kita memiliki kewajiban untuk selalu menjaga stabilitas dan keindahannya?

Kita harus mengartikulasikan lebih tajam kosa-kata politik dan demokrasi dengan cara melibatkan kepentingan untuk melestarikan komunitas biotik. Politik yang memiliki orientasi terhadap lingkungan hidup akan membela kebutuhan teluk untuk pasang surut, sebab pasang surut adalah daya teluk untuk memperkaya air laut segar yang memproduksi fitoplankton[39] dasar makanan pada ekosistem laut sehingga biodiversitas tetap terjaga. Pasang surut adalah cara Teluk bernafas, nafas itu semakin tersenggal-senggal dihimpit dengan pembangunan. Publik harus menggunakan kehendak politiknya, mengawasi dan mendorong pemerintah untuk menciptakan kebijakan-kebijakan yang bermotif ekologis agar nafas teluk senantiasa lestari.

Hadirin yang terkasih,
Dari pesisir Bali Selatan, saya ingin mengajak anda semua ke wilayah Timur yakni menuju Gunung Agung[40]. Tersembunyi di dalam lebatnya ayunan bambu, Dusun Geriana Kauh terletak di kaki Gunung Agung, tepatnya 8 km dari kawah gunung. Desa itu dikelilingi sawah-sawah, juga nyiur yang melambai berwarna hijau keemasan. Banjar Geriana Kauh di Kabupaten Karangasem terdiri atas 177 kepala keluarga, yang hampir keseluruhannya bekerja sebagai petani. Pada bulan oktober ini mereka menjalankan serangkaian ritual terkait dengan pemujaan pada Dewi Bumi.

Persembahan yang dipersiapkan oleh warga diletakkan di dalam pura Pusah. Persembahan yang disebut sebagai salaran, terdiri atas Panca Pala. Panca Palaatau lima jenis hasil bumi terdiri dari Pala Mula tumbuhan seperti tebu dan bambu, Pala Gantung hasil bumi yang dipetik seperti durian dan nangka, Pala Bungkah atau umbi-umbian, Palawija seperti jagung dan padi lalu yang terakhir Pala Medonberbagai dedaunan seperti sirih. Pemberian alam ini ditata sedemikian rupa, digantung ke dalam pikulan yang terbuat dari bambu. Ikatan-ikatan padi menjuntai , begitu pula wangi buah nangka dan durian yang diyakini membuat Dewa Brahmadan Wisnu tersenyum.

Tempat ini bagi saya adalah relung suaka, dari keputusasaan betapa banalnya manusia melakukan perusakan terhadap lingkungan. Krama (masyarakat adat) Geriana Kauh mengajarkan saya bahwa kita harus memiliki Sraddha (kepercayaan) bahwa perubahan dimulai dari ketulusan hati serta tekad. Masyarakat Geriana Kauh pernah mengalami masa-masa terberat kegagalan panen. Lahan menjadi begitu tandus dikarenakan peralihan sistem pertanian pada masa Revolusi Hijau. Dusun mereka terpuruk, tanah telah menjadi sakit. Tanah dipaksakan untuk terus memproduksi menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Makhluk-makhluk sawah menghilang, tidak ada lagi belut dan biawak.

Warga desa menyelenggarakan rembug untuk memecahkan persoalan perihal sekaratnya dusun mereka. Mereka memutuskan untuk membangkitkan kembali tarian Sang Hyang Dedari[41] yang berpuluh-puluh tahun telah dilupakan. Tari Sang Hyang Dedari adalah tari Pra-Hindu yang diyakini sebagai tarian sakral yang dapat mengusir musibah.
Tari ini melibatkan anak-anak yang diagungkan oleh warga sebagai penjelmaan para bidadari. Seiringan dengan dibangkitkan tari Sang Hyang Dedari, masyarakat dusun Geriana Kauh memulihkan kembali tradisi pertanian yang berkelanjutan. Dibutuhkan 10 tahun untuk dapat mencapai titik ekuilibrium. Menyembuhkan tanah supaya menjadi kembali gembur, juga melestarikan benih padi warisan nenek moyang mereka, yakni Padi Masa.



Memang terdengar seperti dongeng, tetapi inilah kenyataan. Cerita-cerita dari pedesaan yang berjaya melawan kerusakan lingkungan hidup.
Harapan masih ada, jika kita dapat belajar dari jerih payah mereka. Saya selalu terpukau saat mendengarkan penuturan masyarakat dusun Geriana Kauh, bagaimana mereka menghidupkan kembali yang Sakral juga merestorasi keseimbangan lingkungan hidupnya. Pada malam penyelenggaraan ritual Sang Hyang Dedari yang dilaksanakan sekali dalam setahun dan terjadi sekitar akhir Maret hingga awal April. Tubuh saya merasakan kegentaran itu, bersimpuh dibelakang para bidadari yang matanya khusyuk tertutup. Pura Dalem gelap gulita kecuali asap pedupaan yang mengisi kegelapan itu. Ibu-ibu juru gending mulai bernyanyi,

“Asep menyan cenana pingundang Dewa, Dewa tuun, tuun menyawat, penyawate sereg sorogan…”
“Asap kemenyan digunakan untuk mengundang Dewa, Dewa turunlah, turunlah menjelma, segeralah merasuk ke dalam tubuh.”

Ketika para bidadari turun ke bumi, mereka menari dengan sukacita. Mereka bermain-main, membagikan bunga-bunga bagi para pemujanya. Pada akhir ritual mereka memercikan air suci memberkati pikiran, perbuatan dan perkataan agar kembali dimurnikan.

Kata-kata saya terlampau kecil juga insignifikan untuk dapat menguraikan pengalaman itu. Namun, melekat di benak saya apa yang disampaikan oleh Maurice Merleau-Ponty, mengenai tubuhku dan tubuh alam[42]. Peristiwa ritual Sang Hyang Dedari melalui penghayatan fenomenologis adalah suatu upaya manusia untuk terhubung kembali dengan alam.

“Alam adalah yang primordial, ia adalah yang tidak dikonstruksikan, tidak disituasikan; maka karena itulah terdapat gagasan kekekalan alam, keutuhan alam. Alam adalah objek enigmatis, objek yang sesungguhnya bukan objek sama sekali; ia tidak terungkap gamblang begitu saja. Ia adalah tanah itu, bukan hanya yang berada di depan kita, atau di hadapan kita, tetapi ia yang meliputi kita.”[43]

Merleau-Ponty menjelaskan bahwa alam memiliki dua sisi, sisi yang nampak (visible) dan sisi yang tak nampak (invisible)[44]. Teori filsafat ini mengingatkan saya tentang ajaran Sekala dan Niskala di Bali, Sekala sebagai realitas yang muncul sebagai pengalaman empiris kita, sementara itu Niskala adalah dimensi yang misterius, tersembunyi, yang tidak mudah dimasuki oleh persepsi kita. Bagi Merleau-Ponty titik persinggungan antara yang tampak dan tak nampak dimungkinkan melalui tubuh, ia menyebutnya sebagai Chiasm[45].

Saya membayangkan bahwa tarian Sang Hyang Dedari adalah upaya tubuh manusia untuk merasakan kekuatan sihir alam yang sublim itu. Kerinduan manusia untuk menyatukan tubuhhnya bersama gelora simfoni alam. Seperti yang tertulis dalam Taittirya Upanisad, “—Aham visvam bhuvanam abhyabhavam. Suvarna jyotih.”[46] Aku adalah keseluruhan buana, bersinar terang. Saya menafsirkannya sebagai keinginan sang diri untuk melebur bersama buana.
——————————————————————————————————–
Tibalah kita di akhir permenungan ini. Apakah kesimpulan dari persembahyangan buana itu? Brhadaranyaka Upanisad[47] mengatakan bahwa pada permulaannya adalah air sebelum terbentuk suatu keteraturan. Saya terkenang masa mengarungi Laut Maluku[48]. Hari itu laut bergejolak dengan dentuman tarian gelombang yang terus membentur kapal. Saya melihat ke cakrawala dengan tubuh yang terombang-ambing, dan menyadari betapa mungilnya tubuh ini di tengah megahnya samudera.

Saya dibesarkan dalam keluarga yang taat menjalankan ibadah keagamaan. Tetapi keluarga saya kerap kewalahan menanggapi celoteh dan pertanyaan skeptis saya. Hanya ada satu tempat dimana saya selalu disergap khidmat, yakni saat saya berada di pantai Sanur dan menyelami lautannya. Saat saya masih kanak-kanak, Nenek saya selalu khawatir melihat saya berenang begitu cepat ke tengah lautan. Dengan cemas Nenek akan terus meneriakan nama saya dari sisi pantai. Tetapi Kakek saya, tanpa terlintas rasa takut akan mengatakan,
“Biarkanlah, itu persembahyangannya…”

Izinkan saya menutup pertemuan malam ini dengan sepenggal puisi saya didalam buku Kekasih Teluk, yang berjudul, Agamaku;
“Agamaku tidak diciptakan tuhan
Atau para dewata
Ia dinyanyikan oleh lumba-lumba
Yang senyumnya mengajarkanku,
Kebebasan.

Agamaku tidak disiarkan para malaikat
Tapi disampaikan melalui pancaran mata anjing-anjing
Mereka menyampaikan,
Alangkah mulia kesetiaan itu,
Meski kau dilukai, dipukuli oleh tangan yang kau cintai.
Keyakinanku tidak bertempat,
Di rumah ibadah buatan manusia
Laut adalah persemayaman yang luhur
Pegunungan adalah kesaktian semesta
Padang lamun adalah ruang suciku.

Agamaku tidak dituliskan
Dalam aksara-aksara pewahyuan
Agamaku tertera didalam guratan batang-batang pepohonan raksasa.
Ayat-ayat kehidupan terpatri
Didalam kulit mereka.
Agamaku tidak mencari sorga
Sebab, bisikan angin senja adalah firdaus
Gemersik sungai adalah keindahan tertinggi
Aku telah menghidupi sorgaku.”

————————————–Terima kasih dan selamat malam———————

[1] The Sacred Books of The Hindus, Vol. VIII, The Nyaya Sutras of Gotama, (India: Sudhindrana Vasu, 1913), hlm. 5
[2] Ibid, hlm. 2
[3] Servapalli Radhakrishnan, Indian Philosophy, Vol. II, (New Delhi: Oxford University Press, 1996), hlm. 222.
[4] Ibid. hlm. 164.
[5] The Vaisheshika Darshana, VI. 1
[6] Lihat The Sacred Book of the Hindus, The Nyaya Sutras of Gotama, I. 22, Hlm. 7
[7] Servapalli Radhakrishnan, Upanisad-Upanisad Utama, (Denpasar: Penerbit Paramita, 2008), hlm. 343-354.
[8] Fred B. Eisman, Bali Sekala & Niskala, (Hongkong: Jr, Tuttle Publishing, 1990), hlm. 3
[9] Saya sangat terbantu dalam menulis mengenai Filsafat Teknologi melalui diskusi-diskusi dengan Bapak Tommy F. Awuy, yang juga mengampu bersama saya kelas Filsafat Teknologi di Filsafat UI. Pembahasan mengenai tantangan ilmu pengetahuan pada masa kontemporer tertulis apik dalam buku Tommy F. Awuy yang berjudul Problem Filsafat Modern dan Dekonstruksi, (Depok: Lembaga Studi Filsafat, 1993), Hlm. 63
[10] Martin Heidegger, The Question Concerning Technology, dalam buku Basic Writings, (London: Routledge, 2011)
[11] Jacques Ellul, The Technological Society, (New York: Vintage Books, 1964)
[12] Theodor W. Adorno & Max Horkheimer, Dialectic of Enlightenment, (California: Stanford University Press, 2002), Hlm. 2 & 29
[13] Ibid.
[14] Andrew Feenberg, Questioning Technology, (New York: Routledge, 2001), Hlm. 48
[16] Fred Magdoff dan John Bellamy Foster, Lingkungan Hidup dan Kapitalisme, (Tangerang: Marjin Kiri, 2018), Hlm. 144-153
[17] Bruno Latour, Politics of Nature, (Massachusetts: Harvard University Press, 2004).
[18] Carl Sagan, Cosmos, (New York: Ballantine, 2013), Hlm. 106-107
[19] Murray Bookchin op.cit Hlm. 19
[20] (Ed) Dewi Candraningrum, Ekofeminisme II Narasi Iman, Mitos, Air & Tanah, (Yogyakarta: Jalasutra, 2014), Hlm. 7
[21] Ceramah Vandana Shiva di Museum Neka Art, dalam Seminar “Our Seeds Our Future” Bali, 22 Agustus 2014.
[22] Ibid.
[23] Vandana Shiva, Biopiracy, The Plunder of Nature and Knowledge, (California: North Atlantic Books, 2016)
[24] Wayan Windia, Penguatan Budaya Subak Melalui Pemberdayaan Petani. Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), [S.l.], v. 3, n. 2, oct. 2013. ISSN 2580-0698. Available at: <https://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/view/15678&gt;. Date accessed: 01 nov. 2018.
[25] Ibid. Hlm. 152
[26] (ed) Dewi Candraningrum, Body Memories, Goddesses of Nusantara, Rings of Fire and Narratives of Myth,( Jakarta: PPSG UKSW & YJP, 2014), Hlm. 63
[27] Keputusan bersama mengenai Teluk Benoa sebagai kawasan suci terjadi pada tanggal 9 April 2016. Laporan itu dapat diakses di laman ini; http://phdi.or.id/uploads/Keputusan_SABHA_PANDITA_tentang_.pdf
[28] Peneliti independen dan pakar lontar, Sugi Lanus menguraikan hal ini di dalam makalahnya yang telah diseminarkan pada tanggal 6 November 2015 di Penggak Men Mersi, Denpasar. Paper tersebut merupakan hasil riset lapangan beranggotakan juga tim mahasiswa relawan ForBALI. Turut menjadi narasumber adalah Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat, Putu Wirata Dwikora. Mereka memaparkan ditemukannya 70 titik suci di kawasan Teluk Benoa.
[29] Keputusan PHDI Pusat, Nomor: 11/Kep/I/phdip/1994 Tentang Bhisama Kesucian Pura, Ketentuan Umum nomor 1.
[30] Danghyang Nirartha (1450-1536 Masehi) merupakan penasehat Raja Dalem Waturenggong yang menjadi tokoh penting dalam sejarah Hindu di Bali.
[31] Sugi Lanus menyebutkan situs perjalanan suci Danghyang Nirartha meliputi kawasan Sakenan, Teluk Benoa kemudian berakhir di Pura Uluwatu.
[32] I Made Supartha, Tesis: Teks Bhasa Kakawin Anyang Nirartha, Suntingan Teks Dan Terjemahan Disertai Kajian Unsur-Unsur Puitik, (Depok: Universitas Indonesia, 2004), hlm. 291
[33] ibid. Hlm. 170
[34] Aldo Leopold, The Sand County Almanac, (New York Oxford: University Press, 1987), Hlm. 224-225.
[35] (Tim) Penulis: Ketut Sudiarta, I Gede Hendrawan, Ketut Sarjana Putra, I Made Iwan Dewantama, Laporan Kajian Modeling Dampak Perubahan Fungsi Teluk Benoa Untuk Sistem Pendukung Keputusan Dalam Jejaring KKP Bali, oleh Conservation International Indonesia.
[36] Ibid. Hlm. 17
[37] Perjuangan mempertahankan Teluk Benoa merupakan kerjasama berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi). Berdampingan dengan ForBALI adalah Pasubayan Desa Adat, yang terdiri dari 39 Desa Adat di seluruh Bali yang telah mendeklarasikan penolakan terhadap reklamasi. Lihat https://www.forbali.org/en/
[38] M. Hardt & Antonio Negri, Assembly, (USA: Oxford University Press, 2017), Hlm. 97
[39] Lihat Laporan Akhir Penyusunan Peta Kepekaan Lingkungan Pesisir dan Laut Teluk Benoa, Bali, oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, 2015, 5-27
[40] Nyegara Gunung, napak tilas dari Segara (laut) menuju Gunung (hutan dan gunung).
[41] Tulisan saya mengenai Sang Hyang Dedari yang bertajuk “Menjemput Sang Bidadari” telah dimuat di National Geographic Indonesia edisi Juli 2017.
[42] Saras Dewi, Ekofenomenologi, Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam, (Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2018), Hlm. 89.
[43] Maurice Merleau-Ponty, Nature, Course Notes From the College de France, (Illinois: Northwestern University Press, 1961), Hlm. 4
[44] Maurice Merleau-Ponty, The Visible and The Invisible, (USA: Northwestern University Press, 1968).
[45] Ibid. Hlm. 130-155
[46] Servapalli Radhakrishnan, The Principle Upanisads, (India: Indus, 1953), Hlm. 561
[47] Ibid. Hlm. 151
[48] Saya berkesempatan menjelajahi Maluku Utara dalam riset bersama Profesor Susanto Zuhdi, dan Dr. Tommy Christomy. Buku penting yang menginspirasikan saya untuk terus mempelajari samudera adalah buku “Nasionalisme, Laut dan Sejarah”, (Depok: Komunitas Bambu, 2014) karya Profesor Susanto Zuhdi.


Sumber: SarasDewi