This is default featured slide 1 title
BEBAL:"FPI"
Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnyaThis is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Rabu, 30 Oktober 2019
Sekolah Rakyat bagi Mereka yang Termarginalkan
Senin, 15 Oktober 2018
Dialog Habib Utsman dengan Masyarakat tentang Sedekah Laut
“Abah Ayip atau Kang Ayip,” begitu masyarakat mengenalnya.
“Siapa yang memimpin doa sedekah laut?” Tanya Abah Ayip.
“Mbah Kaum, Bah,” jawab salah satu dari mereka.
“Lestarikan tradisi sedekah laut Sampean. Banyak baca bismillah, qulhu dan selawat. Hati-hati di laut, isi perahu sesuai dengan kekuatan. Cari perahu lagi jika tidak muat. Jangan dipaksakan,” Abah Ayip memberikan dukungan.
“Makanan yang dilarung bagaimana, Bah? Katanya mubazir dan Nabi tidak pernah melarung makanan ke laut,” tanya yang lain.
“Lanjutkan. Niatkan sedekah kepada makhluk Allah yang ada di laut. Jangan pelit jadi orang. Ambil ikan tiap hari, sepanjang tahun, masa ndak kasih makan ikan-ikan sekali pun? Itu, kalau kurang, ambil ayam saya di belakang, dilarung bersama kepala kerbau kalian.”[]
Minggu, 08 Juli 2018
Festival Film Purbalingga Merambah Kebumen
“Proses pendaftaran dan pemilihan lokasi sudah berjalan sebulan sebelum pelaksanaan. Dari 8 titik lokasi yang mendaftarkan, terpilih 3 lokasi yang memenuhi syarat dimana ada panitia lokal yang siap kerjasama di lapangan, biasanya dari kelompok karang taruna desa setempat. Tapi akhirnya hanya 2 lokasi yang dipastikan siap”, demikian tutur Ridho Saputro.
“Dari tahun ke tahun tentu kami ingin terjadi penambahan lokasi titik pemutaran layar tanjleb, tapi tentu itu juga perlu perhitungan matang karena festival ini kan berjalan selama sebulan penuh. Tidak hanya layar tancap yang dilakukan, tapi juga ada lokakarya dan pemutaran film di ruang-ruang yang lebih kecil seperti program Nonton Bersama Tetangga dan pemutaran di komplek pendopo kabupaten Purbalingga yang disertai diskusi bersama para pembuatnya”, tambah Puput Juang, dedongkot Komunitas Kedung.
“Dulu awalnya kami mulai bergerak dengan menawarkan pemutaran film dan workshop produksi bagi pelajar, setelah lebih dari 10 tahun kami kewalahan karena permintaan semakin banyak hingga datang dari daerah di luar Purbalingga. Munculnya komunitas-komunitas baru dengan semangat berbagi yang sama menjadi angin segar bagi proses panjang yang telah dilalui selama ini. Apalagi kompetisi film pelajar jelas membutuhkan peningkatan mutu dari segi kualitas, bukan hanya kuantitas”, tegas Bowo Leksono selaku Direktur Festival Film Purbalingga.
“FFP tidak dikerjakan sendiri oleh CLC Purbalingga, tetapi melibatkan komunitas lain; Sangkanparan (Cilacap) serta Komunitas Kedung (Kebumen). Ini sejalan dengan semangat kolektif dan berjejaring yang menjadi kultur dan telah terbangun sejak awal”.
Sabtu, 19 Mei 2018
Kemendikbud Segera Revitalisasi Rumah Pramoedya Ananta Toer
May 19, 2018 | 12:23 PM
| Kunjungan tim dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud di rumah Pramoedya Ananta Toer guna melakukan survey dan merencanakan revitalisasi, Kamis lalu (17/5/2018). (foto: dok-ib) |
“Kemarin yang datang Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman dari Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud, Pak Dr. Harry Widianto dan beberapa tim pendamping. Beliau dan rombongan merencanakan perbaikan atau revitalisasi rumah Pram agar bisa dijadikan daya tarik wisata sastra,” ucap Drs. Kunto Aji, kemarin.
“Hanya saja, bagaimana bentuk perencanaannya, kami belum tahu. Sebab itu dilakukan oleh tim pusat. Yang jelas revitalisasi rumah masa kecil Pram dimulai bulan Agustus 2018,” ujarnya.
“Tentu saja kami mengucapkan terimakasih. Harapannya, setelah direvitalisasi, akan menjadi daya tarik bagi warga masyarakat Kabupaten Blora, Indonasia bahkan manca negara yang ingin mengetahui serta ingin nostalagia dengan karya sastra dan rumah masa kecil Pram,” tandasnya.
“Sempat diusulkan pembangunan joglo untuk kegiatan temu sastra dan olah karya sastra. Sebab anak-anak di Blora sudah ada yang punya bakat menjadi sastrawan, ” ujarnya.
Jumat, 12 Januari 2018
Gumbrengan Kendeng
Lestari...
Selasa, 26 Desember 2017
Keunikan Secangkir Kopi Klotok
26 Desember 2017
“Anak-anak baru digojrok untuk bisa meracik teh dan kopi, kalau tidak sesuai dengan takaran senior biasanya dibuang,” tutur Kacir.
“Saya ingin menyuguhkan sesuatu yang unik,” tambahnya.
“Kadar alkoholnya lebih rendah, jadi ketika perbandingannya harus 50 banding 50, kopinya kalah,” tambah Kacir.
“Pelanggan sudah familiar bahwa Kopi Klotok itu kopi yang dicampur rum, makanya ketika ada pelanggan, selalu ditanyakan mau pakai klotok atau yang biasa, akhirnya itu terjadi sendiri,” tutur kacir.
“Mau tidak mau idealisku kalah dan aku tidak bisa memungkiri itu, ketika aku berniat idealis berarti aku tidak berniat jualan,” ungkap Kacir. Hingga kini terdapat empat tingkatan penambahan rum, yaitu medium, strong, jumbo strong dan double strong yang berkisar antara 13 ribu sampai 27 ribu rupiah.
“Kalau sudah tiga gelas double strong, pesanan keempat saya suruh bawa pulang,” tegasnya. Kacir melakukan hal tersebut agar pelanggan yang terlanjur mabuk tidak menimbulkan keresahan bagi pelanggan lain.
“Ketika suasana hatiku lagi tidak enak, aku coba bikin dengan takaran yang sama, rasanya berbeda,” ungkapnya.
”Setahun sekali mereka datang rombongan dan bernostalgia,” tambah Kacir
“Anak-anak baru digojrok untuk bisa meracik teh dan kopi, kalau tidak sesuai dengan takaran senior biasanya dibuang,” tutur Kacir.
“Saya ingin menyuguhkan sesuatu yang unik,” tambahnya.
“Kadar alkoholnya lebih rendah, jadi ketika perbandingannya harus 50 banding 50, kopinya kalah,” tambah Kacir.
“Pelanggan sudah familiar bahwa Kopi Klotok itu kopi yang dicampur rum, makanya ketika ada pelanggan, selalu ditanyakan mau pakai klotok atau yang biasa, akhirnya itu terjadi sendiri,” tutur kacir.
“Mau tidak mau idealisku kalah dan aku tidak bisa memungkiri itu, ketika aku berniat idealis berarti aku tidak berniat jualan,” ungkap Kacir. Hingga kini terdapat empat tingkatan penambahan rum, yaitu medium, strong, jumbo strong dan double strong yang berkisar antara 13 ribu sampai 27 ribu rupiah.
“Kalau sudah tiga gelas double strong, pesanan keempat saya suruh bawa pulang,” tegasnya. Kacir melakukan hal tersebut agar pelanggan yang terlanjur mabuk tidak menimbulkan keresahan bagi pelanggan lain.
“Ketika suasana hatiku lagi tidak enak, aku coba bikin dengan takaran yang sama, rasanya berbeda,” ungkapnya. Dengan alasan ini pula Kacir memberi kelonggaran kepada krunya jika sedang dalam kondisi suasana hati yang buruk agar segera istirahat demi mempertahankan cita rasa kopi.
”Setahun sekali mereka datang rombongan dan bernostalgia,” tambah Kacir
“Dengar ada kopi dicampur rum seperti Kopi Klotok, langsung kami datang,” tutup mereka berdua sambil tertawa.
Editor: Abilawa Ihsan
Kamis, 31 Agustus 2017
Pengikut Diponegoro Berserakan di Matraman, Pohon Sawo Penandanya
“Waktu itu setelah kalah perang melawan penjajah Belanda, para pengikut Pangeran Diponegoro ini menyebar dan mendirikan masjid yang dijadikan sebagai tempat pendidikan dan perjuangan termasuk di masjid ini,” jelas keturunan kelima KH Abdurrahman, KH Gunawan Hanafi.
“Pohon sawo itu tanda jaringan Pangeran Diponegoro. Bila kemudian muncul perintah untuk bergerak lagi, maka tinggal dicek siapa yang memerintahkannya itu. Dan bila di depan kediamannya ada pohon sawo, maka itu menjadi tanda bahwa sang pemiliknya masih merupakan anggota jaringannya,” kata Carey.
“Pohon sawo keciknya baru saja ditebang terkena perluasan halaman pesantren. Sedangkan, pohon sawo jenis yang biasa masih tumbuh subur di samping masjid,” katanya.
“Dunia orang Jawa kan penuh perlambang atau isyarat. Di setiap pesantren di wilayah ini memang lazim di tanam pohon sawo sebagai perlambang dari perintah untuk taat ketika ada perintah: sami’na wa ato’na (saya mendengar, saya laksanakan),” kata peneliti dunia pesantren di kawasan Selatan Jawa, Ahmad Khoirul Fahmi.
“Kata Ayah saya, ingat di depan masjid kita itu ada pohon sawo. Itulah artinya: segera laksanakan ketika kamu dengar perintah!”
“Jadi wajar bila banyak pesantren tua yang ada kawasan ini banyak di tanam pohon sawo, yang ternyata itu isyarat adanya jaringan ulama,” pungkas Fahmi.
“Bagi orang Jawa, sawo kecik memiliki arti sarwa becik atau serba baik. Keraton-keraton pecahan Kerajaan Mataram, seperti Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, menanam sawo kecik. Kedudukannya sejajar dengan pohon beringin, asam, dan gayam. Pakubuwana X (memerintah 1893-1939) menanam 76 sawo kecik di lingkungan Kasunanan Surakarta. Sawo kecik juga banyak ditemukan di Kesultanan Yogyakarta,” terangnya.
“Jika suasana dianggap aman dari incaran intelijen Belanda, baru kami buru-buru masuk keraton,” kata Hardi.
Jumat, 28 Juli 2017
Siapa Sangka, 6 Negara Ini Gunakan Bahasa Jawa sebagai Bahasa Sehari-hari






















