This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Warta Kerakyatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta Kerakyatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Oktober 2019

Sekolah Rakyat bagi Mereka yang Termarginalkan


Akmal Uro - 30/10/2019


Pendidikan merupakan salah satu hal penting dalam kehidupan seseorang. Pendidikanlah yang menentukan, menuntun masa depan dan arah hidup seseorang. Dengan pendidikan, dapat menciptakan manusia-manusia yang berkualitas, berintelektual, dan jauh dari kebodohan.

Meskipun tidak semua orang berpendapat seperti itu, namun pendidikan tetaplah menjadi kebutuhan nomor wahid. Bagi Tan Malaka sendiri, pendidikan merupakan perkakas membebaskan rakyat dari keterbelakangan dan kebodohan.

Karena kemajuan suatu bangsa tak lepas dari pendidikan, maka dari itu dituangkanlah beberapa kebijakan yang memberikan peluang bagi seluruh rakyat Indonesia untuk mengenyam pendidikan, seperti pada Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat 1 yang berbunyi: “Setiap Warga Negara Berhak Mendapatkan Pendidikan”.

Selain itu, juga dituangkan dalam cita-cita bangsa ini yang terdapat pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yakni “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”.

Namun, hingga saat ini, cita-cita ‘Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” masih ‘terasa’ jauh dari kata terwujud. Pasalnya, masih banyaknya anak-anak Indonesia yang belum mengenyam pendidikan formal menjadi salah satu alasan. Berdasarkan Data UNICEF tahun 2016, sebanyak 2,5 Juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan, yakni sebanyak 600 Ribu anak usia Sekolah Dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Memang, ada beberapa faktor yang membuat anak-anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan, seperti karena faktor ekonomi yang berdampak pada tidak teraksesnya pendidikan bagi rakyat kecil, paradigma masyarakat yang menganggap pendidikan tidak penting, sarana dan prasarana, kurikulum yang diterapkan, dan beberapa faktor yang lain.

Faktor ekonomi menjadi penghambat utama untuk melanjutkan pendidikan.
 Padahal, dalam komitmen tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 di Bidang Pendidikan, setiap negara harus bisa memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam hal pendidikan.

Dari hasil survei Badan Pusat Statistik, ada sekitar 73 Persen kasus putus sekolah terjadi akibat faktor ekonomi. Hal ini sangat disayangkan, padahal pemerintah Indonesia sangat serius melaksanaan kebijakan pembangunan di sektor pendidikan yang bertujuan untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, terutama pada pengalokasian anggaran pendidikan yang mencapai 20% dari total anggaran pembangunan. 

Program yang diprioritaskan antara lain, untuk pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, perpustakaan, pengadaan buku-buku, biaya operasional, beasiswa, pendidikan gratis bagi masyarakat miskin. Tapi toh nyatanya masih banyak anak-anak Indonesia yang belum bisa mengenyam pendidikan.

Pendidikan yang tidak bisa terjangkau karena biayanya yang mahal masih sangat dirasakan bagi rakyat kecil, seperti anak-anak jalanan yang kurang beruntung untuk mendapatkan pendidikan. 

Sangat sulit bagi mereka untuk menghapus dampak pendidikan bagi mereka yang tidak didapatkannya. Karena mereka harus memikirkan bagaimana caranya untuk membayar uang iuran sekolah, untuk membeli perlengkapan-perlengkapan sekolah, sedangkan untuk makan sehari-hari saja sangat susah.

Apakah dengan nilai-nilai yang bagus semasa duduk di bangku sekolah ‘Mencerdaskan kehidupan bangsa’ akan terwujud? Ataukah lulus dengan IPK yang tinggi ‘Mencerdaskan kehidupan bangsa’ akan terwujud? Tentu itu bukanlah sebuah tolok ukur.

Bagi Sultan Ibrahim atau lebih dikenal Tan Malaka sendiri berpendapat bahwa Pendidikan bukanlah semata-mata alat untuk kecerdasaan pribadi saja, tetapi juga sebagai alat kecerdasan sosial agar mengetahui bentuk ketertindasaan di dalam masyarakat. Selain itu, ia juga berpendapat bahwa pendidikan harus bersifat transformatif sebagai alat untuk keluar dari segala jeratan praktik diskriminasi dan penindasan

Lantas, di mana nilai-nilai demokrasi yang menjamin seluruh rakyat Indonesia untuk merasakan bangku sekolah sebagaimana yang tertuang pada Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat 1? Apakah itu hanya sebuah ‘pajangan’ dalam konstitusi negara? 

Tentu, pendidikan yang merata dan bisa diakses oleh semua kalangan rakyat Indonesia adalah bentuk perwujudan nilai-nilai demokrasi dalam ranah Pendidikan.

Oleh karena itu, Sekolah Rakyat bisa menjadi alternatif pendidikan bagi ‘mereka’ yang termarginalkan. Sekolah yang bisa menjadi ‘lumbung’ ilmu bagi anak-anak bangsa yang tidak dapat mengenyam pendidikan layaknya anak sebayanya. Gudang ilmu dan tempat berkreasi bagi pemuda yang ‘terpaksa’ meninggalkan bangku sekolah karena himpitan ekonomi.

Dengan menyusun kurikulum sesuai dengan budaya, kebutuhan, dan kondisi masyarakat, Sekolah Rakyat tersebut diharapkan bisa membangkitkan kesadaran rakyat untuk peduli dan kritis terhadap segala persoalan yang terjadi dalam lingkungan mereka.

Sebut saja seperti persoalan kemiskinan maupun penindasan yang dilakukan penguasa terhadap mereka. Caranya adalah melalui sebuah pembangunan berpikir yang mampu memecahkan persoalan-persoalan yang ada dalam dirinya, yang selanjutnya dibenturkan dengan realitas pahit yang mereka alami.

Salah satu contoh dari Sekolah alternatif yang ada di Indonesia adalah Cahaya Anak Negeri, sebuah wadah kegiatan dan pendidikan untuk membantu anak jalanan meraih cta-cita. Adalah Andi Suhandi dan Nadiah Abidin, aktor di balik lahirnya sekolah jalanan tersebut. Mereka mendirikan sekolah tersebut bermula dari keprihatinan terhadap pendidikan dan masa depan anak-anak jalanan di Kota Bekasi.

Sekolah seperti Cahaya Anak Negeri ini perlu dan semestinya untuk didukung keberadaannya. Agar ke depannya, pemandangan anak-anak jalanan yang berlarian jika dikejar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) atau anak yang mengulurkan tangan untuk mengisi isi perutnya tak terlihat lagi dengan hadirnya sekolah-sekolah alternatif untuk mereka.

Jika mencerdaskan kehidupan bangsa diukur dari banyaknya sarjana, maka rakyat yang memilih Sekolah Rakyat tidak akan mampu untuk mewujudkannya. Akan tetapi, jika mencerdaskan kehidupan bangsa diukur dari kemajuan pola berpikir rakyat Indonesia, maka Sekolah Rakyat bisa dan mampu untuk mewujudkan itu.

Permasalahan pendidikan bukanlah tugas pokok pemerintah semata, akan tetapi juga pada rakyat yang sadar untuk mewujudkan nilai-nilai demokrasi dalam ranah pendidikan. Terwujudnya pendidikan yang bisa diakses oleh seluruh rakyat Indonesia, tanpa diskriminasi, pendidikan yang tak kenal golongan adalah wujud nyata realisasi konsitusi negara di bidang pendidikan seperti yang diamanatkan pada Pasal 31 Ayat 1.

Senin, 15 Oktober 2018

Dialog Habib Utsman dengan Masyarakat tentang Sedekah Laut


Penulis: Hamzah Sahal 
Senin, 15 Oktober 2018


Di Cirebon, ada seorang Habib yang alim dalam ilmu fikih dan ushul fikih. Ia tinggal di Pesantren Kempek, Palimanan, Cirebon. Syarif Utsman Yahya namanya. 
“Abah Ayip atau Kang Ayip,” begitu masyarakat mengenalnya. 
Ayip adalah bentuk “tahfif” dari “syarif”. Syarif itu sebutan Habib di Cirebon.

Suatu hari, Abah Ayip, wafat 2010, disowani beberapa orang dari masyarakat nelayan, sebagain masyarakat Cirebon memang kuat dengan tradisi Maritim.

Mereka mengadu kepada sesepuh dan orang yang dinilai alim dalam ilmu agama di Cirebon. Mereka datang ke Abah Ayip karena ada kalangan ustaz yang mengatakan tradisi “sedekah laut” dalam Islam tidak diajarkan, bahkan lebih dekat dengan kesyirikan, alias menyekutukan Tuhan.
“Siapa yang memimpin doa sedekah laut?” Tanya Abah Ayip.
“Mbah Kaum, Bah,” jawab salah satu dari mereka. 
Maksud Mbah Kaum di sini adalah kiai kampung, biasanya bertugas menjaga/imam masjid, pemimpin tahlil, mengurus jenazah, dan lain-lain.
“Lestarikan tradisi sedekah laut Sampean. Banyak baca bismillah, qulhu dan selawat. Hati-hati di laut, isi perahu sesuai dengan kekuatan. Cari perahu lagi jika tidak muat. Jangan dipaksakan,” Abah Ayip memberikan dukungan.
“Makanan yang dilarung bagaimana, Bah? Katanya mubazir dan Nabi tidak pernah melarung makanan ke laut,” tanya yang lain.
“Lanjutkan. Niatkan sedekah kepada makhluk Allah yang ada di laut. Jangan pelit jadi orang. Ambil ikan tiap hari, sepanjang tahun, masa ndak kasih makan ikan-ikan sekali pun? Itu, kalau kurang, ambil ayam saya di belakang, dilarung bersama kepala kerbau kalian.”
[]

Minggu, 08 Juli 2018

Festival Film Purbalingga Merambah Kebumen



Festival Film Purbalingga (FFP) sebagai satu-satunya festival film berskala nasional di provinsi Jawa Tengah yang konsisten dengan program kompetisi untuk pelajar se-Banyumas Raya kembali menyambangi Kebumen. 

Pada tahun 2018 yang merupakan gelaran ke-12, FFP berhasil menjaring 8 film dokumenter dan 5 film fiksi karya pelajar Kebumen dari puluhan film yang masuk mendaftar. Film-film tersebut akan diputar dengan format layar tancap ke 17 titik di kabupaten Purbalingga, Kebumen, Cilacap, Banyumas, dan Banjarnegara. Kabupaten Kebumen mendapat jatah 2 titik lokasi layar tancap yaitu di dusun Pesanggrahan, Karangsambung, Senin (9/07/2018) dan di Perum Jatisari Indah, Kebumen pada Selasa (10/07/2018). 

Pemutaran film dimulai pukul 19.30 hingga 22.00 di setiap titiknya. Tidak hanya memutarkan film pendek kompetisi pelajar se-Banyumas Raya dan karya sineas dari daerah lainnya, program Layar Tanjleb FFP tahun ini juga memutarkan film panjang yang telah diapresiasi di berbagai festival baik nasional maupun internasional besutan sutradara Kamila Andini berjudul Sekala Niskala.
“Proses pendaftaran dan pemilihan lokasi sudah berjalan sebulan sebelum pelaksanaan. Dari 8 titik lokasi yang mendaftarkan, terpilih 3 lokasi yang memenuhi syarat dimana ada panitia lokal yang siap kerjasama di lapangan, biasanya dari kelompok karang taruna desa setempat. Tapi akhirnya hanya 2 lokasi yang dipastikan siap”, demikian tutur Ridho Saputro.  

Diperoleh penjelasan dari fihak koordinator pelaksana FFP 2018, Puput Juang bahwa program "layar tanjleb" FFP dari tahun ke tahun bisa menjadi ajang melatih kecakapan sineas muda dan film-maker di kabupaten Kebumen dan daerah lainnya yang terkait dalam mengelola sebuah festival film berkualitas dan terbukti konsisten bertahan selama belasan tahun dimana banyak volunteer terlibat didalamnya. 
“Dari tahun ke tahun tentu kami ingin terjadi penambahan lokasi titik pemutaran layar tanjleb, tapi tentu itu juga perlu perhitungan matang karena festival ini kan berjalan selama sebulan penuh. Tidak hanya layar tancap yang dilakukan, tapi juga ada lokakarya dan pemutaran film di ruang-ruang yang lebih kecil seperti program Nonton Bersama Tetangga dan pemutaran di komplek pendopo kabupaten Purbalingga yang disertai diskusi bersama para pembuatnya”, tambah Puput Juang, dedongkot Komunitas Kedung. 

Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga sebagai komunitas yang menggagas festival ini berkomitmen untuk terus memajukan perkembangan film lokal terutama film pelajar se-Banyumas Raya. 
“Dulu awalnya kami mulai bergerak dengan menawarkan pemutaran film dan workshop produksi bagi pelajar, setelah lebih dari 10 tahun kami kewalahan karena permintaan semakin banyak hingga datang dari daerah di luar Purbalingga.  Munculnya komunitas-komunitas baru dengan semangat berbagi yang sama menjadi angin segar bagi proses panjang yang telah dilalui selama ini. Apalagi kompetisi film pelajar jelas membutuhkan peningkatan mutu dari segi kualitas, bukan hanya kuantitas”, tegas Bowo Leksono selaku Direktur Festival Film Purbalingga. 

Dimas Jayasrana mewakili Jaringan Kerja Film Banyumas Raya (JKFB) sebagai organisasi tempat bernaung komunitas film di Purbalingga, Kebumen, Cilacap, Banyumas, dan Banjarnegara menambahkan 
“FFP tidak dikerjakan sendiri oleh CLC Purbalingga, tetapi melibatkan komunitas lain; Sangkanparan (Cilacap) serta Komunitas Kedung (Kebumen). Ini sejalan dengan semangat kolektif dan berjejaring yang menjadi kultur dan telah terbangun sejak awal”

Layar tancap sebagai medium pemutaran film dengan cakupan penonton yang luas tentu ampuh meningkatkan jumlah penonton film Indonesia dan mengedukasi dengan pilihan film berkualitas yang disajikan, serta menumbuhkan geliat ekonomi masyarakat. Apalagi di berbagai daerah yang tidak mempunyai bioskop jaringan komersil, hal ini tentu mengobati kerinduan masyarakat untuk menonton film dengan format layar lebar dan audio yang menggelegar. [rid]

Sabtu, 19 Mei 2018

Kemendikbud Segera Revitalisasi Rumah Pramoedya Ananta Toer

May 19, 2018 | 12:23 PM


Kunjungan tim dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud di rumah Pramoedya Ananta Toer guna melakukan survey dan merencanakan revitalisasi, Kamis lalu (17/5/2018). (foto: dok-ib)
Cita-cita Pemkab Blora untuk menjadikan rumah masa kecil sastrawan dunia Pramoedya Ananta Toer (Pram) sebagai daya tarik wisata sastra mendapatkan dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Setelah bulan lalu Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) melakukan kerja bakti penataan lingkungan dan mengadakan sarasehan Blora Menuju Kota Sastra di halaman rumah Pram. Kini giliran Direktorat Kebudayaan Kemendikbud, yang mendatangi rumah sederhana di Jl.Sumbawa nomor 40 Kelurahan Jetis, Kecamatan Blora itu.

Tepatnya Kamis lalu (17/5/2018), tim dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud melakukan kunjungan ke rumah Pram didampingi Kepala Dinporabudpar Blora, Drs. Kunto Aji dan Kepala Bidang Kebudayaan Wahyu Tri Mulyani, AP untuk berdialog, survey dan merencanakan revitalisasi rumah masa kecil Pram.
“Kemarin yang datang Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman dari Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud, Pak Dr. Harry Widianto dan beberapa tim pendamping. Beliau dan rombongan merencanakan perbaikan atau revitalisasi rumah Pram agar bisa dijadikan daya tarik wisata sastra,” ucap Drs. Kunto Aji, kemarin.
Dalam survey yang dilaksanakan selama tiga hari sejak Kamis (17/5/2018) itu, menurut Kunto Aji, sudah dilakukan pengukuran di beberapa titik kawasan rumah masa kecil Pram.
“Hanya saja, bagaimana bentuk perencanaannya, kami belum tahu. Sebab itu dilakukan oleh tim pusat. Yang jelas revitalisasi rumah masa kecil Pram dimulai bulan Agustus 2018,” ujarnya.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Blora, pihaknya mengucapkan terimakasih kepada tim dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud yang telah memberi perhatian dan menindaklanjuti revitalisasi rumah masa kecil Pram yang kini ditempati adik kandungnya, Soesilo Toer.
“Tentu saja kami mengucapkan terimakasih. Harapannya, setelah direvitalisasi, akan menjadi daya tarik bagi warga masyarakat Kabupaten Blora, Indonasia bahkan manca negara yang ingin mengetahui serta ingin nostalagia dengan karya sastra dan rumah masa kecil Pram,” tandasnya.
Masih menurut Kepala Dinporabudpar Blora Kunto Aji, direncanakan pula mengembangkan perpustakaan dan informasi tentang karya dan biografi Pramoedya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Wahyu Tri Mulyani, AP menambahkan kedatangan Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman ke rumah masa kecil Pram juga didampingi Kepala BPCB Jawa Tengah, perwakilan lembaga terkait dari Provinsi Jawa Tengah, staf khusus dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, tim dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Blora, dan tokoh budaya Blora.

“Sempat diusulkan pembangunan joglo untuk kegiatan temu sastra dan olah karya sastra. Sebab anak-anak di Blora sudah ada yang punya bakat menjadi sastrawan, ” ujarnya.
Rumah masa kecil Pram, kata dia, belum ditetapkan menjadi cagar budaya dan sedang dilakukan pendataan hingga pengkajian. Meski demikian, dalam revitalisasi nanti diusulkan agar bagian dan bentuk asli tidak dipugar. 

Sumber: InfoBlora 

Jumat, 12 Januari 2018

Gumbrengan Kendeng

 Rembang, 12 Januari. 2018 | Ngatiban 


Gumbregan adalah tradisi yg setiap tahun secara rutin di lakukan di setiap selesai musim tanam di mana ternak sapi kerbau di saat musim tanam di ajak kerja keras para petani untuk mengolah lahan yg di persiapkan untuk di tanami. Di saat musim hujan tiba, aktifitas petani mesti meningkat, terutama pekerjaan sawah di masa musim tanam. Disitulah peran ternak yg membantu meringankan dalam pengolahan tanah disaat musim tanam. Maka kesehatan fisik ternak, kesehatan fisik para petani sangatlah penting untuk dipastikan. Maka di saat selesai tanam para petani melakukan Gumbregan sebagai tradisi sebagai ucap syukur atas terselesainya pekerjaan sawah, selesainya menanam dengan ternak yang selalu sehat.
Para petani memasak ketupat untuk didoakan setelah itu berikan kepada sapi dan dulur-dulur disekitarnya. Bagi para petani hewan dan ternak di desa merupakan media untuk bercocok tanam untuk membantu mengolah tanah yg mau di tanami. Ternak sapi kerbau bagi petani adalah ROJO KOYO, wujud sandang pangan. Fungsinya ternak yg bisa membantu menyelesaikan pengolahan lahan sawah atau ladang juga punya nilai besar peningkatan ekonomi dari mulai kotoran ternaknya, penggemukan dagingnya hingga anakannya.


Harmonisasi alam (ibu bumi) dan seluruh makhluk hidup di dalamnya senantiasa kami jaga. Kemajuan teknologi, tidak boleh menghancurkan kearifan lokal yang telah turun temurun diajarkan oleh leluhur kami. Bagaimanapun, cara-cara yang alami dalam menjaga ibu bumi akan menjamin kelestariannya. Begitulah kehidupan kami sebagai petani. Ibu bumi tidak hanya kita ambil hasilnya, tetapi juga kita rawat. Merawat berarti kesadaran untuk selalu mengucap syukur atas berkah yang sudah kita terima.
Seperti lesung yang selalu jumengglung ketika ditabuh, seperti itu pula semangat kami sebagai petani untuk terus menggemakan perjuangan dalam melestarikan ruang hidup dan ruang produksi pertanian dengan cara-cara yang bermartabat. Pertanian adalah hidup. Pertanian adalah kebudayaan. Selama ketidakadilan kepada rakyat (petani) terjadi, selama itu pula kami akan terus menabuh lesung sebagai tanda adanya perlawanan terhadap ketidakadilan.
Salam Kendeng...
Lestari...


Selasa, 26 Desember 2017

Keunikan Secangkir Kopi Klotok

26 Desember 2017



©Akmal Taqy/Bal

Bangunan dengan lantai keramik bermotif catur berwarna hitam-putih berdiri di pinggir jalan daerah Deresan. Orang-orang sedang duduk dan ada pula yang mengantri untuk memesan. Tampak juga beberapa orang duduk lesehan beralas tikar di atas trotoar jalan yang berada di antara bangunan dan Selokan Mataram. Para pelayan terlihat sibuk melayani pelanggan sambil menuangkan kopi ke gelas-gelas. Di sudut dinding sebelah tangga, tertempel foto bubuk kopi dan potret lawas kota Yogyakarta sebagai hiasan. Spanduk hijau besar bertuliskan Sego Macan tergantung di depan bangunan bertingkat dua tersebut.

Pada tahun 2007, Kacir bersama dua temannya menggagas usaha kuliner kopi. Ide mendirikan usaha kuliner kopi berawal dari jarangnya warung kopi yang ada pada waktu itu. Selain itu, berdirinya usaha kopi tersebut juga dipengaruhi kehidupan kuliah Kacir yang aktif di sanggar teater. Sanggar teaternya memiliki tradisi bagi anak baru untuk meracik kopi dan teh.
“Anak-anak baru digojrok untuk bisa meracik teh dan kopi, kalau tidak sesuai dengan takaran senior biasanya dibuang,” tutur Kacir.
Kacir, yang bernama asli Nasrur Rohman, mendirikan warung kopi di Deresan, Utara Fakultas Peternakan UGM. Sejak pertama kali berdiri, Kopi Klotok adalah fokus bisnisnya, bahkan awalnya Sego Macan bernama Kopi Klotok tapi berubah seiring berjalannya waktu. Kopi Klotok adalah kopi yang dibuat tidak diseduh seperti kopi pada umumnya, tetapi dimasak dengan cara direbus. Saat proses perebusan, bubuk kopi yang hampir matang akan mengeluarkan bunyi klotok, klotok sehingga dinamai Kopi Klotok. Bubuk Kopi yang dipakai Kacir dalam membuat Kopi Klotok diambil dari Blitar.

Kopi Klotok di Sego Macan menjadi unik karena adanya penambahan rum ke dalam kopi saat selesai dimasak dan siap untuk dihidangkan. Rum merupakan olahan yang didapat dari hasil fermentasi gula. Bagi Kacir, dengan adanya penambahan rum, Kopi Klotok yang tersedia di Sego Macan memiliki perbedaan dengan Kopi Klotok yang berada di daerah lain. Selain itu, Kopi Klotok di Sego Macan adalah kopi bercampur miras pertama di Yogyakarta.
“Saya ingin menyuguhkan sesuatu yang unik,” tambahnya.
Kacir memilih rum sebagai campuran karena rum adalah miras yang paling sesuai. Rum tidak seperti miras lain yang dapat dengan mudah dikenali lewat aromanya. Namun dalam perkembangannya, Kacir pernah mencoba mengganti rum dengan campuran miras lain. Anggur putih pernah dipilih sebagai campuran, tapi karena mahalnya harga dan rasa yang tidak sesuai menyebabkan anggur putih diganti kembali dengan rum.
“Kadar alkoholnya lebih rendah, jadi ketika perbandingannya harus 50 banding 50, kopinya kalah,” tambah Kacir.
Sebenarnya, pemberian nama Kopi Klotok diperuntukkan bagi kopi yang direbus, tanpa memandang apakah kopi tersebut diberi campuran rum atau tidak. Tetapi pada kenyataannya, pelanggan terbiasa dengan label bahwa Kopi Klotok adalah kopi yang dicampur dengan rum. 
“Pelanggan sudah familiar bahwa Kopi Klotok itu kopi yang dicampur rum, makanya ketika ada pelanggan, selalu ditanyakan mau pakai klotok atau yang biasa, akhirnya itu terjadi sendiri,” tutur kacir. 
Awalnya, penambahan rum di dalam Kopi Klotok hanya sebanyak seperempat sloki (gelas berukuran kecil). Namun, pelanggan mulai meminta agar takaran rum ditingkatkan. 
“Mau tidak mau idealisku kalah dan aku tidak bisa memungkiri itu, ketika aku berniat idealis berarti aku tidak berniat jualan,” ungkap Kacir. Hingga kini terdapat empat tingkatan penambahan rum, yaitu medium, strong, jumbo strong dan double strong yang berkisar antara 13 ribu sampai 27 ribu rupiah.
Pada mulanya, penambahan rum berfungsi sebagai penghangat dan penguat aroma yang bertujuan memberikan rasa rileks. Meski begitu, acapkali ada pelanggan yang datang ke Sego Macan dengan tujuan mabuk. Kacir mengantisipasi hal ini dengan memberikan batasan kepada pelanggan yang telah kelewat batas dalam memesan. 
“Kalau sudah tiga gelas double strong, pesanan keempat saya suruh bawa pulang,” tegasnya. Kacir melakukan hal tersebut agar pelanggan yang terlanjur mabuk tidak menimbulkan keresahan bagi pelanggan lain.
Berkenaan dengan kemampuan mengolah kopi, latar belakang Kacir di sanggar teater turut mempengaruhi kemampuannya dalam meracik Kopi Klotok. Salah satunya adalah soal seni olah rasa yang diterapkan dalam pembuatan kopi. Menurut Kacir, seni meracik dengan suasana hati yang tidak enak akan mempengaruhi cita rasa sebuah kopi. 
“Ketika suasana hatiku lagi tidak enak, aku coba bikin dengan takaran yang sama, rasanya berbeda,” ungkapnya.
Dengan alasan ini pula Kacir memberi kelonggaran kepada krunya jika sedang dalam kondisi suasana hati yang buruk agar segera istirahat demi mempertahankan cita rasa kopi.

Sikap menjaga suasana lingkungan kerja di Sego Macan ini bukan hanya mempengaruhi cita rasa kopi, tetapi juga atmosfer kenyamanan yang dirasakan pelanggan. Bebeh, salah seorang pelanggan, mengaku merasa nyaman dengan suasana bersahabat antara pelanggan dengan staf di Sego Macan. Hal itu dapat ia rasakan misalnya ketika Sego Macan mengabari bila memiliki menu baru. Hubungan baik antara pelanggan dan staf ini berdampak positif pada pelanggan yang akhirnya nyaman dan bertahan lama di Sego Macan bahkan melakukan kegiatan reuni untuk bernostalgia.
 ”Setahun sekali mereka datang rombongan dan bernostalgia,” tambah Kacir
Danu dan Indra, yang datang bersama ke Sego Macan, justru mengaku memesan Kopi Klotok agar dapat berhenti dari kebiasaan mereka mabuk-mabukan. Upaya untuk mengurangi kebiasaan mabuk-mabukan dilakukan oleh mereka berdua secara bertahap dengan cara berhenti meminum miras asli dan beralih ke Kopi Klotok. “Dengar ada kopi dicampur rum seperti Kopi Klotok,  langsung kami datang,” tutup mereka berdua sambil tertawa.

Bangunan dengan lantai keramik bermotif catur berwarna hitam-putih berdiri di pinggir jalan daerah Deresan. Orang-orang sedang duduk dan ada pula yang mengantri untuk memesan. Tampak juga beberapa orang duduk lesehan beralas tikar di atas trotoar jalan yang berada di antara bangunan dan Selokan Mataram. Para pelayan terlihat sibuk melayani pelanggan sambil menuangkan kopi ke gelas-gelas. Di sudut dinding sebelah tangga, tertempel foto bubuk kopi dan potret lawas kota Yogyakarta sebagai hiasan. Spanduk hijau besar bertuliskan Sego Macan tergantung di depan bangunan bertingkat dua tersebut.

Pada tahun 2007, Kacir bersama dua temannya menggagas usaha kuliner kopi. Ide mendirikan usaha kuliner kopi berawal dari jarangnya warung kopi yang ada pada waktu itu. Selain itu, berdirinya usaha kopi tersebut juga dipengaruhi kehidupan kuliah Kacir yang aktif di sanggar teater. Sanggar teaternya memiliki tradisi bagi anak baru untuk meracik kopi dan teh. 
“Anak-anak baru digojrok untuk bisa meracik teh dan kopi, kalau tidak sesuai dengan takaran senior biasanya dibuang,” tutur Kacir. 
Kacir, yang bernama asli Nasrur Rohman, mendirikan warung kopi di Deresan, Utara Fakultas Peternakan UGM. Sejak pertama kali berdiri, Kopi Klotok adalah fokus bisnisnya, bahkan awalnya Sego Macan bernama Kopi Klotok tapi berubah seiring berjalannya waktu. Kopi Klotok adalah kopi yang dibuat tidak diseduh seperti kopi pada umumnya, tetapi dimasak dengan cara direbus. Saat proses perebusan, bubuk kopi yang hampir matang akan mengeluarkan bunyi klotok, klotok sehingga dinamai Kopi Klotok. Bubuk Kopi yang dipakai Kacir dalam membuat Kopi Klotok diambil dari Blitar.

Kopi Klotok di Sego Macan menjadi unik karena adanya penambahan rum ke dalam kopi saat selesai dimasak dan siap untuk dihidangkan. Rum merupakan olahan yang didapat dari hasil fermentasi gula. Bagi Kacir, dengan adanya penambahan rum, Kopi Klotok yang tersedia di Sego Macan memiliki perbedaan dengan Kopi Klotok yang berada di daerah lain. Selain itu, Kopi Klotok di Sego Macan adalah kopi bercampur miras pertama di Yogyakarta.
 “Saya ingin menyuguhkan sesuatu yang unik,” tambahnya.
Kacir memilih rum sebagai campuran karena rum adalah miras yang paling sesuai. Rum tidak seperti miras lain yang dapat dengan mudah dikenali lewat aromanya. Namun dalam perkembangannya, Kacir pernah mencoba mengganti rum dengan campuran miras lain. Anggur putih pernah dipilih sebagai campuran, tapi karena mahalnya harga dan rasa yang tidak sesuai menyebabkan anggur putih diganti kembali dengan rum.
 “Kadar alkoholnya lebih rendah, jadi ketika perbandingannya harus 50 banding 50, kopinya kalah,” tambah Kacir. 
Sebenarnya, pemberian nama Kopi Klotok diperuntukkan bagi kopi yang direbus, tanpa memandang apakah kopi tersebut diberi campuran rum atau tidak. Tetapi pada kenyataannya, pelanggan terbiasa dengan label bahwa Kopi Klotok adalah kopi yang dicampur dengan rum. 
“Pelanggan sudah familiar bahwa Kopi Klotok itu kopi yang dicampur rum, makanya ketika ada pelanggan, selalu ditanyakan mau pakai klotok atau yang biasa, akhirnya itu terjadi sendiri,” tutur kacir.
Awalnya, penambahan rum di dalam Kopi Klotok hanya sebanyak seperempat sloki (gelas berukuran kecil). Namun, pelanggan mulai meminta agar takaran rum ditingkatkan. 
“Mau tidak mau idealisku kalah dan aku tidak bisa memungkiri itu, ketika aku berniat idealis berarti aku tidak berniat jualan,” ungkap Kacir. Hingga kini terdapat empat tingkatan penambahan rum, yaitu medium, strong, jumbo strong dan double strong yang berkisar antara 13 ribu sampai 27 ribu rupiah.
Pada mulanya, penambahan rum berfungsi sebagai penghangat dan penguat aroma yang bertujuan memberikan rasa rileks. Meski begitu, acapkali ada pelanggan yang datang ke Sego Macan dengan tujuan mabuk. Kacir mengantisipasi hal ini dengan memberikan batasan kepada pelanggan yang telah kelewat batas dalam memesan.
“Kalau sudah tiga gelas double strong, pesanan keempat saya suruh bawa pulang,” tegasnya. Kacir melakukan hal tersebut agar pelanggan yang terlanjur mabuk tidak menimbulkan keresahan bagi pelanggan lain.
Berkenaan dengan kemampuan mengolah kopi, latar belakang Kacir di sanggar teater turut mempengaruhi kemampuannya dalam meracik Kopi Klotok. Salah satunya adalah soal seni olah rasa yang diterapkan dalam pembuatan kopi. Menurut Kacir, seni meracik dengan suasana hati yang tidak enak akan mempengaruhi cita rasa sebuah kopi. 
“Ketika suasana hatiku lagi tidak enak, aku coba bikin dengan takaran yang sama, rasanya berbeda,” ungkapnya. Dengan alasan ini pula Kacir memberi kelonggaran kepada krunya jika sedang dalam kondisi suasana hati yang buruk agar segera istirahat demi mempertahankan cita rasa kopi.
Sikap menjaga suasana lingkungan kerja di Sego Macan ini bukan hanya mempengaruhi cita rasa kopi, tetapi juga atmosfer kenyamanan yang dirasakan pelanggan. Bebeh, salah seorang pelanggan, mengaku merasa nyaman dengan suasana bersahabat antara pelanggan dengan staf di Sego Macan. Hal itu dapat ia rasakan misalnya ketika Sego Macan mengabari bila memiliki menu baru. Hubungan baik antara pelanggan dan staf ini berdampak positif pada pelanggan yang akhirnya nyaman dan bertahan lama di Sego Macan bahkan melakukan kegiatan reuni untuk bernostalgia.
”Setahun sekali mereka datang rombongan dan bernostalgia,” tambah Kacir
Danu dan Indra, yang datang bersama ke Sego Macan, justru mengaku memesan Kopi Klotok agar dapat berhenti dari kebiasaan mereka mabuk-mabukan. Upaya untuk mengurangi kebiasaan mabuk-mabukan dilakukan oleh mereka berdua secara bertahap dengan cara berhenti meminum miras asli dan beralih ke Kopi Klotok. 
“Dengar ada kopi dicampur rum seperti Kopi Klotok, langsung kami datang,” tutup mereka berdua sambil tertawa.

Penulis: Harits Arrazie, Vania Christabel, Wafi Faiz (magang)
Editor: Abilawa Ihsan

Sumber: BalairungPress

Kamis, 31 Agustus 2017

Pengikut Diponegoro Berserakan di Matraman, Pohon Sawo Penandanya

Penulis: Noviyanto Aji | 31 Agustus 2017


Lukisan Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan oleh De Kock.

Mataraman – Sejak penangkapan Pangeran Diponegoro oleh De Kock dan kemudian diasingkan, pahlawan Goa Selarong ini menghembuskan nafas dalam kesunyian. Benar-benar tragis. Ia dijauhkan dari peradaban pasca perang Jawa yang terkenal itu. Ia jauh dari sanak dan pengikutnya.

Hingga akhirnya pangeran yang memiliki nama asli Ontowiryo ini wafat pada Senin 8 Januari 1855, di usia 73 tahun (versi lain usia 69 tahun). Jenazahnya dikuburkan di luar Benteng Rotterdam, di kampung Melayu sebelah utara Ujungpandang (sekarang Makasar).

Sejak perang Jawa pecah tahun 1825-1830, pamor Pangeran Diponegoro telah naik dari bangsawan Mataram menjadi messiah tanah Jawa. Betapa tidak, ia telah memimpin gerakan perlawananan sporadis alias kraman terbesar sepanjang sejarah kolonialisme Hindia Belanda di tanah Jawa.

Tidak hanya jatuh korban besar di kedua belah pihak, tetapi akibat perang tersebut telah menghabiskan pundi-pundi kerajaan Belanda. Selama perang kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden.

Perang Jawa ini setidaknya telah memakan korban di pihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa. Setelah perang berakhir, jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya dalam kurun 5 tahun peperangan.

Pasca perang, pengikut Pangeran Diponegoro banyak meninggalkan jejak. Sejak itu pula sejarah penyebaran agama Islam di abad ke-19 tidak bisa dilepaskan dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda di berbagai daerah.

Yah, para pengikut Pengeran Diponegoro kemudian melanjutkan perjuangan sambil menyebarkan agama Islam ke masyarakat yang masih kental dengan budaya dan agama Hindu Majapahit.

Tidak bisa dipungkiri, perang Jawa telah mengakibatkan banyak ulama pengikut Diponegoro mati syahid. Namun sisanya menyingkir ke pedalaman, membuka perkampungan, mendirikan masjid, mengajar ngaji para penduduk kampung. dan merintis pesantren. Sebagian besar para ulama dan santri ini mengganti nama dan identitas untuk menghindari kejaran Belanda yang terus menerus memantau pergerakan sisa-sisa laskar Diponegoro.

Raden Mas Ontowiryo atau dikenal Pangeran Diponegoro.

Sisa-sisa prajurit Diponegoro dalam taktik mengundurkan diri ini bergerak menyusuri Kali Progo melalui daerah Sentolo, Godean, Borobudur, Bandongan, Secang Temanggung, dan akhirnya Parakan, sebuah persimpangan tapal batas Karesidenan Banyumas, Kedu, Pekalongan, Semarang, Yogyakarta dan Magelang, lalu beralih ke wilayah timur atau Matraman. Dipilihnya daerah Matraman karena umurnya sudah 208 tahun sejak penyerbuan Kerajaan Mataram ke Batavia.

Langkah strategis seperti ini ditempuh untuk mengimbangi taktik benteng stelsel(mendirikan banyak benteng kecil untuk menjepit gerak langkah pasukan Diponegoro), dalam Perang Jawa, yang sebelumnya mereka alami. Mereka membuka lahan baru (mbabat alas) bersama pengikutnya maupun menempati desa-desa yang miskin nilai agamanya.

Di Matraman ini, para pengikut Diponegoro terlebih dahulu mencari tokoh-tokoh setempat yang dianggap mengetahui asal-usul Matraman dan akhirnya memperkenalkan diri kepada mereka tentang keberadaan Pangeran Mataram (tidak menyebutkan nama asli) dan menceriterakan secara umum kondisi kejadian saat itu.

Adalah Pangeran Djonet atau Raden Mas Djonet Dipomenggolo, adalah putera pertama Pangeran Diponegoro yang diterima dengan tangan terbuka dan perlindungan masyarakat Matraman. Di situlah sang pangeran beserta pengikutnya menetap di Matraman lebih kurang selama dua tahun.

Ikatan Keluarga Pangeran Diponegoro (IKPD) dalam blog-nya menyebut, Pangeran Djonet sudah sejak kecil ikut rombongan pengungsi bersama keluarga besarnya ke Goa Selarong, setelah Puri Tegalrejo digempur oleh pasukan Belanda.

Sehingga dia sudah bisa merasakan bagaimana susahnya hidup dalam pengungsian dan hanya tinggal di dalam Goa bersama ibu dan saudara-saudaranya.

Selama menetap di Matraman dalam rangka mempertahankan diri dari kejaran tentara Belanda, Pangeran Djonet membentuk pasukan (semacam pengawal Raja) dengan merekrut pemuda-pemuda yang mayoritas keturunan prajurit Kerajaan Mataram walaupun ada juga dari etnis lain yang juga bergabung dengan suka rela.


Mendirikan Masjid dan Pesantren

Dari pesantren kembali ke pesantren, demikian semangat historis pengikut sang messiah ini. Memang tidak banyak diketahui bagaimana para ulama dan kyai menjadi elemen penting pengikut Diponegoro. Padahal masa sebelumnya ulama dan keraton berbatas garis demarkasi gara-gara kedekatan keraton dengan kolonial yang dicap kafir.

Namun sejarawan asal Inggris yang menekuni penulisan sejarah Pangeran Diponegoro, Peter Carey menyebut, sebenarnya laskar Pangeran Diponegoro terdiri dari berbagai elemen. Di samping prajurit yang dilatih militer, pasukan juga terdiri dari kyai dan ulama yang notabene mempunyai kemampuan ilmu kanuragan.

Dalam naskah Jawa dan Belanda, Carey menemukan 108 kyai, 31 haji, 15 syeikh, 12 penghulu Yogyakarta dan 4 kyai guru yang turut berperang bersama Diponegoro.

Ya, setelah pengikut Diponegoro menempati wilayah Matraman, mereka lantas mendirikan masjid dan pesantren. Jejak-jejak itu dapat dilihat dengan masih berdirinya pondok pesantren tua di Jawa, terutama Jawa Timur yang banyak menyimpan kronik-kronik sejarah ini.

Sebut saja di Magetan, terdapat Pesantren Takeran yang menjadi peninggalan pengikut Diponegoro. Pesantren ini yang didirikan oleh Kyai Kasan Ngulama (Kyai Hasan Ulama), seorang guru Tarekat Syattariyah, yang juga merupakan putera Kyai Khalifah, pengikut setia Pangeran Diponegoro. Kyai Khalifah alias Pangeran Kertopati usai perang mengungsi ke arah timur Gunung Lawu, Magetan, dan membangun sebuah padepokan agama di Bogem, Sampung, Ponorogo.

Di pondok yang merupakan cikal bakal Pesantren Sabilil Muttaqin (PSM), Kyai Hasan melakukan kaderisasi para santri yang kelak juga banyak mendirikan pesantren lain di berbagai daerah. Berasal dari Bagelen, Purworejo, trio veteran Perang Jawa: Kyai Nur Qoiman, Nuriman dan Ya’qub, memutuskan mbabat alas di Desa Gondang, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek.

Di desa ini, tiga bersaudara tersebut mendirikan sebuah masjid. Keberadaan masjid sederhana ini kemudian berkembang menjadi sebuah pesantren salaf di era kepemimpinan Kyai Murdiyah alias Kyai Muhammad Asrori, yang merupakan murid Kyai Kholil Bangkalan. Di era Kyai Asrori, banyak santri yang datang berguru. Kebanyakan berasal dari wilayah Mataraman dan Jawa Tengah. Pesantren berusia tua ini sekarang menggunakan nama PP. Qomarul Hidayah.

Sezaman dengan Kyai Khalifah, tak jauh dari situ ada masjid kuno bernama masjid KH Abdurrahman. Lokasinya di Dusun Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi. Seperti namanya, masjid KH Abdurahman didirikan oleh KH Abdurrahman pada tahun 1835 Masehi.
“Waktu itu setelah kalah perang melawan penjajah Belanda, para pengikut Pangeran Diponegoro ini menyebar dan mendirikan masjid yang dijadikan sebagai tempat pendidikan dan perjuangan termasuk di masjid ini,” jelas keturunan kelima KH Abdurrahman, KH Gunawan Hanafi.

Masjid KH Abdurrahman Tegalrejo, peninggalan pengikut Pangeran Diponegoro.

Gunawan menuturkan bahwa KH Abdurrahman merupakan keturunan keluarga Kraton Padjajaran, Jawa Barat, dan hijrah ke Pacitan, Jawa Timur, yang waktu itu berada di bawah kekuasaan Kraton Solo. “Beliau itu memang berganti-ganti nama sebagai strategi perjuangan agar sulit dicari penjajah,” kata ketua ta’mir masjid setempat ini.

Demikian pula dengan Pondok Pesantren Tambakberas Jombang. Keberadaannya tak bisa lepas dari keterkaitan historis dengan perang Diponegoro. Sebab pendiri dan pembabat alas desa dan Pondok Tambakberas adalah Kyai Abdus Salam atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Soihah. Dia tak lain pengikut setia Pangeran Diponegoro.

Ketika mbabat alas, Kyai Abdus Salam bersama pengikutnya mendirikan sebuah langgar kecil dan pemondokan di sampingnya untuk 25 pengikutnya. Jumlah santrinya dibatasi 25 orang. Pondok ini dikenal dengan nama pondok selawe alias “pesantren dua puluh lima” atau disebut pondok telu karena hanya ada tiga unit bangunan.

Di kemudian hari, Bani Abdus Salam mendominasi jaringan ulama di wilayah Jombang, Kediri, dan sekitarnya. Hal ini dikarenakan mayoritas silsilah para kiai di wilayah ini mengerucut pada namanya. Salah seorang puterinya, Layyinah, dipersunting Kyai Usman yang kemudian menurunkan Kiai Asy’ari, ayah dari KH. M. Hasyim Asy’ari. Adik Layyinah yang bernama Fatimah menikah dengan Kiai Said. Pasangan ini dikaruniai putera bernama Chasbullah Said.

Nama terakhir ini adalah ayah dari KH. A. Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU. Sedangkan adik Kyai Wahab menikah dengan KH. Bisri Syansuri, ulama yang berasal dari Pati. Kyai Bisri kemudian berbesanan dengan gurunya, Kyai Hasyim Asy’ari. Di kemudian hari, pesantren ini menjadi cikal bakal pesantren besar lain di wilayah Jombang, seperti Tebuireng, Rejoso, Denanyar, Seblak, dan sebagainya.

Kyai Abdus Salam pengikut setia Pangeran Diponegoro sekaligus pendiri Pesantren Tambakberas, awalnya mendirikan sebuah langgar kecil dan pemondokan dengan jumlah santri dibatasi 25 orang.

Di Kediri, ada saudara tiri Diponegoro, Sabar Iman alias Kyai Bariman bin Hamengkubowono III. Dia menyingkir dari keratonnya dan memilih tinggal di kota ini. Dari silsilah Kiai Sabar Iman ini lahir Abdul Ghofur. Di kemudian hari salah satu putra Abdul Ghofur, Mukhtar Syafa’at, menjadi salah seorang ulama terkemuka di Banyuwangi. Pesantren yang dirintis, Darussalam, berkembang dengan ribuan santri. Saat ini, pesantren yang didirikan oleh Kyai Mukhtar Syafaat diasuh oleh putranya, KH. Ahmad Hisyam Syafaat.

Di Kediri juga terdapat Pesantren Kapurejo yang didirikan oleh Kyai Hasan Muhyi. Setelah bergerilya di lereng Gunung Lawu, Wilis, dan Kelud, Kyai Hasan Muhyi (Raden Mas Ronowidjoyo), seorang perwira tinggi dalam Detasemen Sentot Alibasah Prawirodirdjo, akhirnya mendirikan Pesantren Kapurejo, di Kecamatan Pagu. Pesantren tua ini banyak menelurkan alumni yang kemudian mendirikan pesantren di wilayah Nganjuk dan Kediri. Kyai Ahmad Sangi mendirikan Pesantren Jarak di Plosoklaten, Kyai Nawawi merintis Pesantren Ringinagung, Kyai Sirojuddin merintis pendirian Pesantren Jombangan, dan beberapa kyai lain juga mendirikan masjid di berbagai tempat tinggal masing-masing.

Selain itu, ada juga Pesantren Miftahul Ulum, Jombangan, Tertek, Pare, Kediri, yang didirikan oleh Kyai Sirojuddin, kurang lebih limabelas tahun setelah penangkapan Pangeran Diponegoro. Kyai Sirojuddin kelahiran Kudus, bergabung dengan pasukan gerilya Diponegoro beberapa saat menjelang Perang Jawa pecah. Hingga saat ini, Pesantren Miftahul Ulum dilanjutkan oleh keturunannya dan fokus pada pengembangan kajian al-Qur’an dan kitab kuning.

Di Nganjuk, terdapat Pesantren Miftahul Ula, Nglawak, Kertosono. Pendirinya adalah Kyai Abdul Fattah Djalalain. Ayahnya, Kyai Arif, adalah cucu Pangeran Diponegoro, karena Kyai Arif adalah putera Kyai Hasan Alwi, yang merupakan putera Diponegoro dari selirnya. Kyai Arif semasa hidupnya diburu serdadu Belanda dan sering berpindah tempat. Terakhir, ia menetap di desa Banyakan, Grogol, Kediri.

Di kemudian hari, Kyai Arif menikah dengan Sriyatun binti Kyai Hasan Muhyi, pengasuh Pesantren Kapurejo. Dari pasangan ini, Kyai Fattah lahir. Pada era revolusi fisik, Kyai Fattah yang juga santri Kyai Hasyim Asyari ini menjadi magnet para laskar rakyat, termasuk Hizbullah dan Sabilillah. Sebab, beliau banyak memberikan wirid, amalan keselamatan, serta kekebalan bagi para pasukan yang mau terjun ke medan perang. Kyai kelahiran 9 April 1909 ini juga menjadikan pesantren asuhannya sebagai markas Hizbullah dan Sabilillah.


Para Pengikut Menanam Pohon Sawo

Pada akhir perang, para kyai pengikut Pangeran Diponegoro memang berkumpul dan bersepakat untuk merubah arah perjuangan mereka. Dari perang fisik menjadi perjuangan di bidang pendidikan.

Mereka berpencar untuk menyebarkan pendidikan Islam di berbagai penjuru mata angin. Namun ada satu komitmen yang menarik dari pengikut Pangeran Diponegoro, yakni untuk menandakan semangat persatuan melawan kemungkaran, setiap lokasi yang mereka diami ditanami pohon sawo. Pohon sawo ini menjadi penanda jaringan Pangeran Diponegoro masih ada. Makna filosofinya, pohon sawo dilambangkan sebagai “sawwu sufufakum” yang artinya “rapatkan barisanmu”.
“Pohon sawo itu tanda jaringan Pangeran Diponegoro. Bila kemudian muncul perintah untuk bergerak lagi, maka tinggal dicek siapa yang memerintahkannya itu. Dan bila di depan kediamannya ada pohon sawo, maka itu menjadi tanda bahwa sang pemiliknya masih merupakan anggota jaringannya,” kata Carey.
Di kawasan Selatan Jawa atau wilayah Matraman, banyak sekali anak keturunan Pangeran Diponegoro yang masuk dalam jaringan ulama karena mereka kemudian menjadi ulama sera mengasuh pesantren. Karena itu di beberapa pesantren tua di wilayah tersebut biasanya dapat dijumpai pohon sawo yang usianya sangat tua.

Seperti pohon sawo yang berdiri di Pesantren Al Kahfi Somalangu, Kebumen. Di sini dapat ditemukan pohon sawo tua, baik jenis sawo kecik maupun sawo biasa.

Menurut Hidayat Aji Pambudi, pengurus Yayasan Pesantren Al Kahfi, 
“Pohon sawo keciknya baru saja ditebang terkena perluasan halaman pesantren. Sedangkan, pohon sawo jenis yang biasa masih tumbuh subur di samping masjid,” katanya.

Pohon sawo yang berdiri kokok di Pesantren Al Kahfi Somalangu, Kebumen. Di pesantren-pesantren tua pohon sawo menjadi penanda jaringan Pangeran Diponegoro.

Di tempat lain, tepatnya di Masjid Pathok Negara Ploso Kuning, Sleman, Yogyakarta, pohon sawo kecik raksasa hingga kini masih berdiri dengan kokohnya. Masjid ini menjadi salah satu tempat mengaji Pangeran Diponegoro ketika menjadi santri Kyai Mustofa. 
“Dunia orang Jawa kan penuh perlambang atau isyarat. Di setiap pesantren di wilayah ini memang lazim di tanam pohon sawo sebagai perlambang dari perintah untuk taat ketika ada perintah: sami’na wa ato’na (saya mendengar, saya laksanakan),” kata peneliti dunia pesantren di kawasan Selatan Jawa, Ahmad Khoirul Fahmi.
Fahmi mengutip kata-kata ayahnya soal kalimat sami’na wa ato’na terutama ketika menjelang dilaksanakannya shalat berjamaah di masjid. 
“Kata Ayah saya, ingat di depan masjid kita itu ada pohon sawo. Itulah artinya: segera laksanakan ketika kamu dengar perintah!”
Di antara cicit Pangeran Diponegoro atau berdarah bangsawan Keraton Yogyakara yang kemudian menjadi ulama berpengaruh di wilayah ini adalah KH Muhammad Ilyas dan KH Abdul Malik (di Sokaraja), KH Badawi (di Kesugihan Cilacap), KH Masurudi (di Baturaden Purwokerto). Fahmi menambahkan, di pesantren tua yang diasuh kyai-kyai tersebut pasti ditemukan pohon sawo. Ini memang menjadi perlambang masih kuatnya jaringan antar ulama yang notabene mantan pengikut Pangeran Diponegoro.
“Jadi wajar bila banyak pesantren tua yang ada kawasan ini banyak di tanam pohon sawo, yang ternyata itu isyarat adanya jaringan ulama,” pungkas Fahmi.
Domini BB. Hera yang kerap dipanggil Sisco, keturunan eks pasukan Diponegoro yang menyingkir ke Ngantang, perbatasan Blitar-Kediri, menceritakan di Tegalrejo (Magetan), pohon sawo menjadi representasi sang pangeran.

Bukan hanya sebagai kode rahasia, lanjut Sisco, para pengikut Diponegoro mempercayai sawo kecik akan mendatangkan kebaikan bagi penanamnya. 
“Bagi orang Jawa, sawo kecik memiliki arti sarwa becik atau serba baik. Keraton-keraton pecahan Kerajaan Mataram, seperti Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, menanam sawo kecik. Kedudukannya sejajar dengan pohon beringin, asam, dan gayam. Pakubuwana X (memerintah 1893-1939) menanam 76 sawo kecik di lingkungan Kasunanan Surakarta. Sawo kecik juga banyak ditemukan di Kesultanan Yogyakarta,” terangnya.
Pada masa revolusi kemerdekaan, pohon sawo kecik di belakang keraton Yogyakarta pernah menjadi tempat berkumpul para pejuang. Menurut Hardi, salah satu tokoh Partai Nasional Indonesia dan pernah menjabat wakil perdana menteri I, jika hendak melapor Sultan Hamengkubuwana IX di keraton, para pejuang menyamar sebagai abdi dalem dengan berpakaian Jawa, lalu berkumpul di bawah pohon sawo kecik di belakang keraton.
“Jika suasana dianggap aman dari incaran intelijen Belanda, baru kami buru-buru masuk keraton,” kata Hardi.
Hingga kini tidak terhitung ribuan santri yang menjadi alumni dan kelak menjadi penerus perjuangan Diponegoro; melawan penindasan dan kemungkaran. Karena memang begitulah semangat Pangeran Diponegoro seharusnya diwariskan.[]

Sumber: Nusantara.News 

Jumat, 28 Juli 2017

Siapa Sangka, 6 Negara Ini Gunakan Bahasa Jawa sebagai Bahasa Sehari-hari


28 Juli 2017 00:00 WIB -  Asrari Puadi

Beberapa WNA memainkan Gamelan © istimewa

Ketika kita menyebut bahasa Jawa maka akan langsung terbayang dengan Indonesia. Hal ini dikarenakan bahasa Jawa memang banyak digunakan di Indonesia, khususnya suku Jawa, bahkan di beberapa daerah pengucapan bahasa Jawa pun banyak ragamnya. Misal saja untuk pengucapan kata "makan" saja ada "mangan, madang, dahar."

Tapi apakah kamu tahu bahwa bahasa Jawa ternyata tidak hanya digunakan di Indonesia?. Ternyata ada beberapa negara di dunia yang menggunakan bahasa ini juga.

Berikut adalah 6 negara yang menggunakan bahasa Jawa sebagai salah satu bahasa kesehariannya.

Malaysia

Warga suku Jawa di Malaysia menempati jumlah yang sangat signifikan. Bahkan, di negara bagian Selangor dan Johor, warga suku Jawa berjumlah hampir 20% dari total populasi. Masyarakat Jawa di Malaysia saat ini merupakan generasi ke empat atau lebih. Beberapa wilayah di Johor bahkan bernama Parit Jawa, di mana suasana bahasa Jawa di sana sangat kental.

 Beberapa warga Melayu etnis Jawa juga menduduki posisi strategis di negeri kerajaan ini, mulai dari birokrat hingga para menteri.

Singapura

Negara ini dulunya merupakan salah satu bagian Malaysia, yang kemudian memisahkan diri pada tahun 1963. Sejumlah orang Jawa didatangkan ke Singapura sejak 1825. Seperti halnya di Malaysia, kedatangan orang jawa ke Singapora diperkirakan bersamaan dengan kedatangan mereka ke Malaysia.

Kampong Jawa, di tepi sungai Rochor, adalah tempat pemukiman pertama orang Jawa di Singapura. Selain Kampong Jawa, Kallang Airport Estate dikenal sebagai tempat pemukiman orang Jawa juga. Di Kallang, mereka hidup berdampingan dengan orang Melayu dan Cina.

Suriname

Suriname merupakan sebuah Negara Republik yang terletak di Benua Amerika, lebih tepatnya di bagian Timur Laut Amerika Selatan. Pada mulanya, Suriname memiliki nama Guyana Belanda karena merupakan negara bekas jajahan Belanda. Namun pada 25 November 1975, negara ini memproklamasikan kemerdekaannya dari Belanda berganti nama menjadi Suriname.

Banyaknya orang Indonesia, terutama orang Jawa menjadikan mayoritas warga di Suriname adalah orang Jawa. Hingga saat ini bahasa Jawa masih dipergunakan, Namun yang menjadi bahasa nasional di Suriname bukanlah bahasa Jawa, melainkan bahasa Belanda.

Belanda

Belanda menjadi gudang dari orang atau pakar yang punya minat khusus terhadap keberadaan bahasa Jawa. Universiteit Leiden, universitas tertua di Belanda yang didirikan 1575 merupakan salah satu gudangnya. Di universitas yang didirikan Pangeran Willem van Oranje, tempat dari sekitar 17 ribu mahasiswa menimba ilmu, kita bisa melihat naskah-naskah kuno berhuruf Jawa atau sastra Jawa kontemporer yang masih terawat.

Kaledonia Baru

Kaledonia Baru adalah sebuah negeri seberang laut milik persemakmuran Perancis yang terletak di Samudra Pasifik bagian selatan dengan ibu kotanya yang bernama Noumea. Penduduk asli pulau ini adalah suku Kanak dari ras Melanesia. Migrasi orang jawa ke Kaledonia juga sama dengan kepindahan orang jawa ke Suriname. Migrasi pertama orang Jawa ke Kaledonia Baru terjadi pada tahun 1896, yaitu ketika 170 keluarga Jawa yang diperkerjakan dan mendarat di pelabuhan kota Noumea.

Diperkirakan, saat ini sekitar 7000 hingga 11.000 orang keturunan berbagai etnis Indonesia tinggal di Kaledonia baru. Walhasil, orang Jawa di Kaledonia tetap menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari hingga sekarang.

Kepulauan Cocos

Kepulauan Cocos (Keling) adalah kepulauan yang terdiri dari dataran rendah berkarang koral. Kepulauan ini sekarang merupakan wilayah teritorial Australia. Mayoritas penduduk pulau ini adalah orang Melayu, yang mana mereka sehari-hari berbicara dalam bahasa Melayu. Di dalam logo kepulauan tersebut terdapat tulisan berbahasa Melayu: “Maju Pulau Kita”.

Dari keseluruhan orang melayu ini, tak sedikit dari mereka yang berasal dari etnis Jawa. Konon para keturunan dari Jawa ini masih memegang budaya Jawa, bahkan pada golongan tuanya masih banyak yang menggunakan bahasa jawa pada kehidupan sehari-hari. Karena itu, tidak heran Australia pernah menjadikan gambar wayang kulit sebagai gambar di perangko nasional Australia.

Banyak juga wayang-wayang di Pulau Cocos ini dibuat dengan menggunakan bahan kulit ikan hiu yang sudah di keringkan. Saat ini kepulauan Cocos menjadi destinasi wisata yang diminati di Australia den gan khas suasana islami yang amat kental.

Memang agak sedikit terkejut dan tentu saja kagum bahwa bahasa Jawa dipakai di negara lain selain di Indonesia. Dan tugas kita lah melestarikannya, termasuk beragam bahasa daerah lainnya.


Source: Aneh-di-Dunia