This is default featured slide 1 title
BEBAL:"FPI"
Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnyaThis is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Selasa, 06 Maret 2012
Sitor Situmorang, Sang Penyair Soekarnois
Minggu, 27 November 2011
Menonton Festival Teater Sekolah
Sebanyak 7 kelompok peserta tampil pada acara Festival Teater SLTA se Kab. Kebumen, yang dihelat hari ini oleh Forum Pekerja Seni Teater (FoPSeT) di Aula Gedung PGRI, Jl. Kaswari Kebumen. Ke 7 peserta itu masing-masing adalah Teater Mugo (SMA Muhammadiyah Gombong), Teater Flamboyant 75 (SMK Batiksakti 1 Kebumen), Teater Ijo (SMK Ma'arif 4 Kebumen), Teater Smanja (SMU Negeri Pejagoan), Teater Tetas (SMK Muhammadiyah Sempor), Teater Kelir (SMU Negeri Klrong), Teater Kumat (SMK Negeri 1 Kebumen).
Senin, 17 Oktober 2011
DKD, Pentingkah ?
Beberapa seniman muda justru mengemukakan pemikiran yang lebih mengarah pada kemandirian. Tanpa memungkiri kebutuhan tersedianya pusat aktivitas seperti Gedung Kesenian, sehingga dapat mengurangi problem-problem berkesenian. Namun ada yang lebih substansial menyoroti pentingnya komunikasi lintas bidang dan bagaimana menumbuhkan semangat kolektivisme; sebelum berfikir untuk "re-organisasi" kelembagaan. Beberapa pegiat seni justru menguatkan fakta empiris bahwa ada atau tidak ada dukungan pemerintah, proses berkesenian tetap lah jalan.
Kamis, 29 September 2011
Menyoal "disfungsi" Kelembagaan DKD
Kamis, 22 September 2011
Minggu, 14 Agustus 2011
Multatuli dari Pulau Jawa
Judul buku “Meraba Indonesia” yang terbit pada 2011 ini nampak begitu gagah. Ia menyiratkan sebuah pembacaan ulang atas keindonesiaan. Apalagi, penulis seperti terinspirasi pada Alfred Russel Wallace yang menulis buku “The Malay Archipelago” dan Che Guevara yang berkeliling Amerika Latin dengan sepeda motor.
Yunus dan Farid memulai perjalanannya dari Jakarta untuk kemudian memasuki Sumatera dari Lampung dan seterusnya hingga Aceh. Di kawasan-kawasan itu, penulis menceritakan ihwal perjumpaannya dengan penduduk-penduduk setempat. Tapi banyak yang betul-betul hanya laporan pandangan mata belaka dan kejadian-kejadian ‘suka duka berpetualang’.
Indonesia adalah negeri yang penuh tragedi. Sebagaimana biasa penulis kala menuliskan tentang Indonesia selalu menyelipkan kejadian 1965, betapapun kejadian itu hanya terjadi di separuh Pulau Jawa, juga Bali, begitu pula penulis dalam buku ini.
Selasa, 14 Juni 2011
Tarmiihim dan Benggala Sains
Proses maju, barangkali benar tak diukur oleh kwantitas waktu. Intensitas, ketidakmenyerahan, lekat konsistensi; menjadi penggalan-penggalan yang membangun tanda. Dan membuat ukuran-ukuran yang baru karenanya. Begitulah simak perjalanan setahun terakhir Teater Ego Kebumen. Hingga pada pementasan produksi ke 2 bertajuk Tarmiihim malam itu. Rabu (8/6) memang menjadi tarikh yang memadatkan dugaan bahwa kelompok teater ini bukan sebuah konten seni peran yang suwung. Selain bahwa perjalanannya meninggalkan jejak sebagai sebuah proses maju.
Adalah Putut AS sang sutradara yang mengeksplorasi pementasan naskah Salim EmDe bersama belasan pelakon di Gedung Haji itu. Malam yang membedakannya dengan “peristiwa budaya” dalam tema yang serupa, pada tempat yang sama; di tahun sebelumnya.
Melempar (yang usang) dalam Otopsi
Luka yang tak sembuh itu karenanya muncul jadi cacat budaya, relasi dominan Kyai atas Nyai, laki-laki atas perempuan. Dan terjaga dalam referensi teks-teks yang dipiara untuk tak utuh dibedah dalam tafsir. Karena tafsir adalah sesuatu yang harus dimonopoli. Kelas sosial tertentu dianggap menjadi yang paling berhak atas pekerjaan interpretasian itu, bukan kelas yang mewakili para kebanyakan, yang “hanya” bekerja di sudut yang tersekat kubikel pelayanan. Terpuruk beku, berdiam di sana. Lalu Tarmiihim mencairkan dan membunyikannya.
Minggu, 29 Mei 2011
Tan Malaka: Sebuah Opera tentang Ketidakhadiran
Wajah kebingungan terpancar pada sebagian besar penonton yang melenggang keluar dari ruang pertunjukan Teater Salihara Oktober tahun lalu. Ragam pertanyaan sepertinya membuat beberapa hadirin kebingungan. Pertanyaan yang muncul dari keraguan dan ketidaktahuan.
“Opera apa ini? Sungguh, tak mengerti. Tidak ada ceritanya.”
“Judulnya Opera Tan Malaka, tapi dimana Tan Malaka-nya?”
“Goenawan Mohammad (GM) yang terlalu pintar atau aku yang terlalu bodoh?”
“Oh, jadi itu yang Tan Malaka itu? Dia komunis ya? Atheis dong!”
Ragam pertanyaan yang menarik—semenarik senyum GM dalam meningkahi jabatan tangan dan ucapan selamat dari beberapa rekan dan hadirin yang sepertinya juga kebingungan menyaksikan malam penutupan Festival Salihara. Apakah GM menyenangi kebingungan para penontonnya itu? Menarik. Semenarik pesta penuh alkohol sesudahnya—tanda pesta sudah usai. Mungkin seperti itu. Mungkin pula tidak—karena aku tak hadir sesudahnya, sama seperti Tan Malaka yang tak pula hadir di opera-esai itu. Aku tak hadir maka aku ada.
Sebelumnya, di penghujung 2009 terbit sebuah buku berjudul “Tan Malaka dan Dua Lakon Lain” yang ditulis oleh GM dan itulah pertemuan pertamaku dengan naskah Tan Malaka. Butuh waktu satu tahun untuk menunggu pementasannya. Cukup lama persiapannya ternyata. Tak apa, karena yang menarik bagiku saat itu adalah diskusi mengenai Tan Malaka selama tiga hari sebelum Opera Tan Malaka dimulai. Filmku “Selopanggung”, film dokumenter tentang penggalian makam Tan Malaka di Kediri juga diputar. Harry Poeze, yang juga memberi diskusi, malah ingin membandingkan hasil komponis Tony Prabowo dengan Peter Schat yang membuat satu komposisi berjudul “An Indic Requiem”(1995). Dalam sebuah wawancara, Schat mengakui bahwa tenor, orkestra dan koir ini tercipta sebagai bentuk kreasi seninya yang terinspirasi oleh kejahatan kolonialisme Belanda terhadap Indonesia dan oleh perjuangan Tan Malaka dalam melawan kolonialisasi tersebut. Menarik.
Aku pun hadir kemudian sebagai satu penonton yang sudah membaca lakon bernama Opera Tan Malaka. Aku pun datang tidak dengan kosong, karena aku mengetahui sedikit banyak tentang Tan Malaka, setidaknya itu yang kupikir. Tapi ternyata aku keluar dengan ekspresi yang sama dengan mereka yang tak membaca naskah lakon itu. Ada apa ini?
Lalu tak lama kemudian, di awal Januari 2011, rekaman pagelaran tersebut yang sedianya akan diputar di beberapa stasiun televisi lokal justru dilarang penayangannya di Malang dan Kediri. Pelarangan ini konon datang dari pihak militer yang masih alergi dengan hal-hal yang berbau komunisme. Entah benar entah tidak. Ada apa ini? Rakyat yang tak menonton dokumentasi pergelearan pun ikut-ikutan bingung. Tapi satu hal yang pasti, hal ini tak menyurutkan GM untuk melanjutkan karnaval Opera Tan Malaka.
Opera-esai tiga babak ini kembali ditayangkan 23-24 April lalu di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Konsep opera tahun sebelumnya direnovasi mengingat setting yang tak lagi sama dengan Salihara yang tak cukup besar. Opera Tan Malaka menjadi opera yang dinamis. Komposisi brilian Tony Prabowo yang di-conduct oleh Josefino Chino Toledo bersaing dengan koreografi tari apik dari Fitri Setyaningsih.
Aria dari Paduan Suara Paragita Universitas Indonesia berpadu dengan nyanyian Nyak Ina “Ubiet” Rasukie dan Binu Doddy Sukaman. Narasi Landung Simatupang dan Adi Kurdi yang berbalasan secara paralel. Banyak cara bagi GM untuk mempromosikan lakonnya kali ini. Entah karena promosi entah karena diundang, tak tanggung-tanggung, Wakil Presiden Boediono beserta istri hadir di pementasan kali ini. “Berat,” demikian katanya ketika ditanya oleh rekan-rekan wartawan mengenai opera tersebut. Nah lho?
Semakin senang GM sepertinya menyaksikan kebingungan ini.
***
Menarik pula akhirnya kemudian ketika Haluan memuat dua opini dari Indra J. Piliang (3/5/11) dan Raudal Tanjung Banua (9/5/11)—dua orang yang tak (mau) menonton Opera Tan Malaka. Mereka memberikan opini dari ketidakhadirannya. Satu opini dibuka bahwa Opera Tan Malaka adalah lakon ahistoris—Tan Malaka bukan opera. Salah arah. Satu opini kemudian bersetuju pula dengan opini sebelumnya. Melalui kacamata ekstrinsik berupa orientasi pengarang dengan lingkungan sosialita ibukota dilihat bahwa telah terjadi pencairan sosok Tan Malaka sehingga menjadi lebih instan. Opera ini dianggap tak hanya salah arah, tapi juga salah kotak.
Jika Indra J. Piliang bertanya musik apa yang disukai Tan, maka ini adalah pertanyaan menarik. Mengenai musik, Tan Malaka adalah seorang pemain biola ketika bersekolah dulu di Bukittinggi dan di Belanda. Bahkan beberapa minggu setelah proklamasi, bersama Ahmad Soebardjo dan Jo Paramitha, Tan Malaka memainkan salah satu komposisi Schubert. Jo pun menanyakan apakah Tan Malaka akan kembali bermain musik. Tidak, selama Belanda belum keluar dari pantai Indonesia, demikian jawabnya.
Mengenai sastra, pada tahun 1927, Tan Malaka mengaku sedang menulis sebuah novel mengenai penindasan yang terjadi pada bangsanya. Ia tak berhasil menyelesaikan novel itu. Satu hal yang patut diingat, rekannya Semaoen dan Mas Marco juga menulis novel pada waktu itu—namun mereka berhasil menyelesaikan karya mereka. Tan Malaka akhirnya mengirim draft novel itu ke Adinegoro dan Adinegoro menyerahkan surat-surat itu ke Hasbullah Parindurie yang kemudian dikenal dengan nama pena Matu Mona. Pada tahun 1938 terbitlah roman spionase Patjar Merah Indonesia di Medan. Roman ini menjadikan sosok Tan Malaka sebagai legenda—terutama bagi dunia pergerakan saat itu.
Mengenai lakon, sekitar tahun 1944-an, di Banten, Tan Malaka mendirikan satu klub drama (dan sepakbola) bernama Pantai Selatan. Tan Malaka tak hanya menuliskan lakonnya tapi juga menyutradarainya. Ada dua lakon yang diketahui yang pernah ia sutradarai di Banten; Hikayat Hang Tuah dan Prajurit Pekerja. Kritiknya terhadapnya kejamnya fasisme Jepang dan kondisi menyedihkan kaum romusha ia sampaikan melalui bentuk lain.
Gaya penulisan lakon Tan Malaka ini masih dipertahankan dan bisa dilihat pada karyanya yang tulis lima tahun kemudian yang terbit dalam bentuk brosur (Muslihat, Politik). Satu hal pula yang patut diingat, Roestam Effendy sebagai tokoh Murba juga adalah seorang pegiat teater. Mengenai olahraga pun, Tan Malaka menggagas pembuatan satu lapangan sepakbola di Banten bagi para pekerja romusha. Ia kerap menggelar pertandingan sepakbola waktu itu. Dalam hal ini, sepertinya Tan Malaka yang ditugasi dalam hal propaganda oleh Komintern melihat seni sebagai bagian penting dalam praktik dekolonisasi bangsanya.
Berpuluh tahun kemudian, dalam pameran “Dari Penjara ke Pigura” Agus Suwage menjadikan satu potret Tan Malaka sebagai lukisannya. Ia memberikan anasir-anasir merah berapi di pepinggir rambut Tan Malaka. Beberapa kalimat Tan Malaka dibiarkan menyatu dengan lukisan sehingga mencipta suatu dialektika antara kata dan rupa. Erik Wirawan, mahasiswa IKJ, pun membuat satu film fiksi pendek berjudul “Tan Malaka” yang diputar di berbagai festival. Keinginan untuk membuat Tan Malaka dalam versi layar lebar pun mulai menjadi wacana di kalangan filmmaker kelas atas tanah air—entah siapa yang akan lebih dulu merealisasikannya. Bahkan kelak akan ada sebentuk randai akan dipentaskan tentang Tan Malaka. Tak hanya GM yang mengapresiasi Tan Malaka—apapun bentuknya. Maka di sinilah aku ingin mengambil posisi. Aku mengapresiasi Tan Malaka dengan caraku.
Jika Althusser menyarankan untuk sedikit serius dalam memperhatikan sesuatu yang tak-hadir (absence) dalam teks bukan karena ia tak muncul di dalam teks, melainkan ada satu proses penyembunyian di dalam teks tersebut. Ia sengaja disembunyikan—oleh seseorang, oleh sesuatu, untuk suatu tujuan. Jika Tan Malaka yang tak hadir di dalam Opera Tan Malaka dianggap sebagai alegori dari ketidakhadirannya dalam konstelasi sejarah bangsa ini, semacam ada dan tiada, hadir untuk hilang, hidup untuk mati, maka dapat dilihat bahwa GM pun punya maksud tertentu kenapa ia menghilangkan Tan Malaka di dalam opera tersebut—sama seperti penguasa bangsa ini yang meniadakan Tan Malaka dalam buku sejarah resmi. GM tak menjawab, pun seperti diamnya penguasa. Tugas kitalah untuk mencari jawabannya—dengan berbagai cara.
Bagiku, Tan Malaka adalah simbol dari absensivitas itu sendiri. Kediriannya menjadi petanda semangat jaman, penanda bagi takutnya para penguasa. Ia tiada maka ia ada. Ia ada dalam ketiadaannya. Ia tiada dalam keadaannya. Ia adalah narasi. Ia hadir dalam diskursus.
Ia dimunculkan dan dihilangkan sekaligus. Ia dirayakan justru ketika ia selesai. Idealismenya malah dijadikan pijakan kapitalistis. Ia ditunggu. Ia dicaci. Ia dibunuh. Ia dikubur. Ia digali. Ia dicintai. Ia dibenci. Gagasan-gagasan besarnya dilupakan. Tan Malaka menjadi kompleksitas itu sendiri. Ambigu.
Realitas dan fiksi campur aduk. Ketika sejarah cenderung menghilangkan potensi seseorang yang dianggap lawan penguasa maka kemudian seni yang memunculkannya kembali. Ini yang aku percaya, Tan Malaka adalah wajah kita sendiri—baik sebagai individu atau sebuah bangsa. Entah dengan Anda.
Jadi masih perlukah kebingungan itu dilanjutkan?
DEVY KURNIA ALAMSYAH
(Sutradara “Selopanggung” dan NominatorFestival Film Dokumenter (FFD) 2010)
Sumber http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=4984%3Atan-malaka-sebuah-opera-tentang-ketidakhadiran&catid=11%3Aopini&Itemid=83
Sabtu, 18 Desember 2010
Karedok di Rumah Kosong

Entah karena apa, saya lebih ngeh menjuduli tulisan ini dengan Karedok di Rumah Kosong sebagai catatan apresiatif atas pementasan Teater Ego Kebumen (14/12). Malam itu, pementasan belum lagi dimulai, tetapi aula Gedung Haji, tempat pentas, telah “digelapkan” lebih dulu. Seperti ruang dapur yang sudah tak dipakai masak malam, tapi pemilik rumah amat patuh pada himbauan hemat listrik. Sama patuhnya dengan 70-an penonton yang memasuki dan duduk lesehan, diam, menanti sajian drama tiga babak yang naskahnya ditulis Humam Rimba Palangka.
Di tangan sutradara Putut AS, durasi 45 menit “Rumah Kosong” lebih terasa karedoknya ketimbang menu matengan. Bagaimana ia harus mengolah dalam -rentang 12 hari- proses yang dikerangkai peringatan visioner anti kekerasan terhadap perempuan. Begitu karedok, seperti lotek, mirip lutis. Karena memang terasa betapa bahan-bahan dalam sajian malam itu tak dimatangkan dulu. Sehingga melihat “Rumah Kosong” nampak celah spasial yang menyisakan ruang lega, tetapi mangkrak; tak tersentuh. Dan waktu telah melibasnya, berlalu.
Realitas Tergesa
Realitas yang dipanggungkan melalui “Rumah Kosong” adalah realitas sehari-hari. Humam Rimba Palangka, penulis naskah, mengerti kebebasan yang jadi haknya dalam menulis. Tetapi apakah antara kemengertian dan kebebasan itu menghasilkan situasi estetis yang bakal mampu menstimulus pelaku dan penonton pementasan naskahnya. Itulah makna realitas tergesa. Mungkin memang ini wilayah penyutradaaan. Tetapi, sekali lagi, bingkai pesan anti kekerasan juga jadi muatan yang ditimbang di sana. Penulis “Rumah Kosong” ini seakan menyorongkan kedaulatan ruang ciptanya kepada suatu sub-ordinari luaran. Yakni tema yang membekuk. Mungkin ia punya puluhan ide liar dan pilihan opsi. Puluhan dan pilihan dalam realitas “Rumah Kosong” nya, adalah realitas yang sipit. Akibatnya, situasi tematik lebih mengemuka ketimbang kebebasan mengeksplorasi aspek estetika. Dan di depan waktu, tak menyisakan kisi-kisi berekspresi.
Saat "produk" ini jatuh ke tangan sutradara, -justru melalui revisi penulisan- dan serangkaian proses serta situasi yang dikerangkai itu, terbentang pasar audiens yang seakan telah menunggu pesanannya disaji. Karedok itu. Sutradara menjadi fihak yang berwajib sekaligus berwenang. Tetapi kewajiban dan kewenangannya semata dimuarakan kepada kebutuhan yang menjamin kiriman pesan itu sampai ke alamat di jagad audiens. Sekali lagi, dalam atmosfir dan tema anti kekerasan terhadap perempuan yang dipersiapkan sosialisasinya.
Padahal, cakupan ruang karya, dikerangkai atau tidak; punya kedaulatan eksplorasi pada wilayah dan konflik-konflik yang potensial bagi syarat pemahaman tematik. Jika perteateran telah jadi sebuah disiplin empiris, semua bakal berinteraksi dengan pemahaman estetik. Perbedaan pemahaman tematik dan pemahaman estetik; sulit berjalan selaras. Dalam makna saling menguatkan. Itulah beban naskah “Rumah Kosong”, realitas tematik yang membekuk. Dan ketika proses belum membebaskan tahapan ini, makin jadilah kesan tergesa itu. Tema kekerasan yang menjadi muatan buat dipahami kadarnya, mengambang di permukaan, tak dalam. Mentah seperti karedok.
Catatan “Rumah Kosong” Lain
Catatan lain atas pementasan Teater Ego yang mengangkat naskah bertema Kekerasan Terhadap Perempuan, yakni “Rumah Kosong” nya Rimba Palangka, makin berwarna. Upaya manis mengusung serpih realitas keseharian di atas panggung, telah membikin Putut AS, seperti Koki yang bekerja tetapi tidak di dapur rumah miliknya. Betapa pun kerasnya upaya itu, tetap belum berkedalaman, bahkan terkesan terengah dikerumuni waktu yang bergulir. Juga, upaya mentransformasikan dua realitas panggung, antara panggung halaman gedung dengan panggung di depan penonton; jadi kurang punya taut yang kuat.
Eko Sajarwo melihatnya sebagai upaya visualisasi yang secara teknis, lemah di semua lini. Unsur-unsur dramaturgi yang tak optimal dieksplorasi, baik secara personal maupun dalam relasi kelompok. Ujung penglihatan kritisnya merambah hingga wilayah teknis. Dan pementasan “Rumah Kosong” disebutnya sebagai tanpa ruh, tanpa greget, lemah karakter penokohan. Para pemain masih sebagai dirinya sendiri dan belum selaku peran lakon yang mesti dimainkan.
Kalaupun pementasan itu diterima dan harus ditempatkan pada visi anti kekerasan terhadap perempuan, kata Pekik Sasinilo, dan menjadi mata dari serangkaian upaya sosialisasi; pun belum bermakna pencerahan bagi audiens. Rupanya ia menangkap keinginan yang mendalam tentang hadirnya sentuhan estetis pada pesan yang ingin disampaikan. Tema ini urung untuk sampai pada pemahaman estetis. Wilayah audiens yang tak diharu-biru.
Sedangkan Pitra Suwita menyebut “Rumah Kosong” sebagai naskah yang “berat” buat sutradara. Bukan berat untuk dipentaskan, tapi berat untuk dimainkan dalam pesan tematik yang menjadi muatan kontennya. Kedaulatan estetis telah dirampas oleh proses yang tak cukup buat mematangkan. Dan keberadaan truk sebagai properti pendukung tak banyak menolong. Secara parsial, ia menyebut pertolongan ada pada peran Kemad yang bermain cukup dialektis.
Ada Anto Batoussae yang terlibat dalam proses. Ia membaca kecenderungan dalam tradisi sastrawi. Pada perspektif ini, penonton teater lebih fokus pada aspek “kejadian” ketimbang “proses” atau konflik di kedalamannya. Dengan analogi lakon klasik “Abimanyu Kerem”, ia menjelaskan kecenderungan dominan itu. Dan pementasan naskah Rimba “Rumah Kosong” ini, lebih didekati dengan dominasi “kejadian” ketimbang proses atau aspek konflik personalnya. Tetapi sebagai sebuah keberanian sutradara dalam bekerja, ia merasa telah melaksanakannya dengan baik. Selamat.
Minggu, 14 November 2010
Kamis, 30 September 2010
Catatan Komisaris atas teater Perisai
Melihat kembali realitas yang membudaya dan diusung ke atas panggung, betapa pun puru restung kadung membenalu di tiap sendi kehidupan; terasa ada nikmah. Panggung adalah refleksi kenikmatan itu. Dan menonton pementasan "Komisaris Jendral" teater Perisai di gedung PGRI Kab. Kebumen (25/9) malam itu jadi terasa benar henyaknya di benak 50-an penonton teater Kebumen.Naskah "Inspector General" karya Nikolaj Gogol yang kemudian diadaptasi dan digarap oleh sutradara Edi Romadon menjadi sebuah pementasan panggung ini, amat runut bertutur tentang kebobrokan tata nilai dalam relasi sosial. Saking runutnya bertutur melalui serangkaian pengadegan yang didukung belasan pemeran ini, menyisakan alur cerita yang -meski tak jenuh- nyaris terkesan datar saja.
Spirit "galengan" mBanyumasan
Meski memang tak gampang mengadaptasi sebuah karya gemilang; tetapi memilih bidikan pemikiran Nikolaj Gogol dan respon sosio-kulturalnya terhadap jaman, nampak sukses direkomendasikan oleh Teter Perisai kepada penonton, bukan sebagai protes khalayak terhadap situasi tetapi panggah mewakili budaya salah-kaprah kekinian.Sang sutradara, Edi Romadon, mencoba meracik sajian komedi situasi ke dalam menu semi karikatural, meski pun harus berhadapan dengan pertanyaan mengenai konsep dan bahkan madzab berteaternya. Jika di wilayah pementasan telah lama dikenal gaya "sampakan" maka bangunan karikatural yang disajikan mirip wayang beber ini, sesungguhnya cukup menggelitik. Edi dengan ingatan kolektif masyarakat agraris di masa lalu merepresentasikan dalam gaya yang disebutnya sebagai "galengan", gaya banjaran di pematang sawah!.
Inilah jawaban jujur kesenimanannya yang pantas menjadi catatan menarik di pementasan bersama Teater Perisai dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pentas yang seperlima bagian akhir durasinya sempat diganggu padamnya listrik. Tetapi sebegitu pun bukannya terganggu dan malahan menjadi bonus alur improvisasi, meski dukungan properti panggung yang dibawanya juga tak berfungsi maksimal. Belum ada gedung kesenian di Kebumen. Dan seperti kejujuran mBanyumas-an yang blakasuta pementasan itu memberikan wewarah keprihatinan yang getir seperti komedi satire kehidupan kaprah.Sabtu, 13 Maret 2010
Dialog Seni
Bale Kelurahan Kebumen,
Sabtu 13 Maret 2010, jam 20.30 wib – 23.25 wib
Peserta: Teater Ego, Teater Ilir, Basatu, SRMB, Teater Gerak, BoeMI, indipt,
Susunan Acara:
Putut
Pembukaan:
- Salam
- Kita berkumpul untuk ngobrol, format santai, ga protokoler dg tema: sebagaimana dibicarakan pada GPT-2 yang terpotong dahulu itu.
- Bagaimana agar bisa berlanjut ngobrol, begitu alasannya, kegelisahan teman2, ada sesuatu yang selalu layak untuk diobrolkan
- Evaluasi atau Refleksi
- Mungkin telah separuh lebih yang telah datang saat ini
- Inisiator, Ego dan SRMB.
- Peserta: Basatu, non teater Boemi, Teater Ilir, dan sebagainya.
- Dipersilahkan SRMB untuk menyampaikan sajian pembuka, musik-puisi atau apa saja. Dipersilahkan.
SRMB Membawakan sajian Musik-Puisi dari Antologi “Kuputarung”
- MP: hasbunnalloh wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mannatsir
- MP: Lelaki dan Pembasmi Serangga
- MP: Doa-Doa Sang Durjana
Pitra Suwita - Berharap masukan dari sekalian yang hadir
- Dipersilahkan Putut dan Pekik untuk mengawal dialog ini.
Pekik
(20.50 wib)
- Terimakasih, selamat datang, selamat malam
- Ditawarkan, bagaimana formatnya, seperti apa?
- Silahkan, masukan dari sekalian yang hadir.
Lina Boemi - Sepakat untuk mengobrolkan persoalan.
- Mau di bawa kemana teater Kebumen, problem pemerhati dan anggaran yang terbatas
Pekik
- Refleksi itu penting untuk belajar berikutnya..
- Kepada Putut dan Syahid juga dipersilahkan
Sharing ( Aris )
- Berharap dari panitia memberikan prolog dulu, supaya jelas..
Teater Gerak - Terimakasih, bahwasanya bagaimanapun, berangkat dari masalah
- Dari awal kita seleksi dulu, kepanitiaan, teknis pelaksanaan, begitu kurang lebihnya
Putut
- Terusterang, awalnya, paska GPT 2009, ngobrol dg ArisPanji, paska acara selalu ada evaluasi.
- Tapi paska itu terlewati s.d 2010, pada awalnya, berharap akan ada sebuah event tahunan yang rutin. Tak terjadi evaluasi s.d penyelenggaraan GPT-2
- Pasca itu apa terulang lagi; membicarakan tema. Bukan sekedar membicarakan event.
- Sedikit menghantarkan, proses GPT-2, dipersiapkan selama 2,5 bulan.
- GPT-2, lepas dari kekurangannya, terpublikasi hingga merambah Kedu-Banyumas, 13 komunitas mentas di sana
- Melihat antusiasme ini, perlu tindak-lanjut, silahkan dari Ketum Syahid
Syahid elKobar
- Tak jauh beda dengan Putut, terlepas dari kekurangan kemarin, kegelisahan tentang kegiatan2 GPT yang jadi agenda FopSet yang sudah 2 kali jalan, dan direncana tahunan
- Kegelisahan pertanyaan: dilanjutkan atau tidak, bagaimana bentuknya?
Putut - Tambahan, forum ini punya 2 sessi
- Pertama, evaluasi kemarin; Kedua, follow-up apa yang akan dilakukan setelah ini, dengan keyakinan dapat dilakukan bersama
- Tawaran 2 pilihan; acara kemarin dihentikan atau dilanjutkan. Kemarin tidak berkomunikasi secara keterbukaan dengan keseluruhan pekerja teater Kbm
Kang Juki
- Yang harus dijawab sendiri, sebagaimana tadi disinggung Lina, soal keterbatasan.
- Menurut saya, pertama, mencintai dulu, kedua, optimis dapat melakukan—peluang apa, apa pula kendalanya
- Bukan bertanya: mau dibawa kemana teater Kebumen, agar terarah mesti diimpikan puncak macam apakah kehidupan terater di Kebumen
- Jika kita bisa tentukan itu maka akan jelas,
- Keinginan teater pentas di Jakarta, ada 2 tempat TIM atau di GKJ, misalnya kita punya target ke situ, bagaimana agar bisa diagendakan. Kan jelas.
- Kebumen bukan cuma gudang babu, lalu dalam hal teater, mau sekedar membuat aktivitas rutin atau mau go internasional.
- Banyak tempat/institusi, seperti Universitas Pelita Harapan, bisa untuk pengembangan teater, jangan cepat putus asa, saya yang bukan pekerja teater aja, optimis..jika saya bisa bantu, saya lakukan semampu..
Lina
- Ketua komunitas motor, sepertinya gak nyambung, tapi perlu rangsangan agar ada nafsu berkesenian, penting di reng-reng sejak sekarang, supaya tidak “babak-bundas”
- Pernah ke Komisi C, bicara tentang masa depan teater, bisa enggak, mengawal dari musren desa, menggolkan sedikit kepentingan teater.
- Ingin merangsang sejauh mana teman teater Kebumen untuk menghidupi berkeseniannya
Ikra- Ilir
- Fokus evaluasi jadi melebar kemana-mana, fokus bagaimana ke depan itu juga makin tak jelas.
- Satu hal, kita sama pecinta seni,
- Kegelisahan kreatif, tentu butuh ruang.
- Evaluasi agar tuntas dulu,
- Yg datang di sini punya komitmen untuk memajukan seni di Kebumen?
- Jika ya, terus bagaimana?
- GPT ruang yang sangat bagus, ke depan bisa diteruskan lagi, seperti kota2 lain. Punya ramuan2 yg lebih bagus, kita bisa belajar. Ada seni musik, seni rupa, di Kebumen ada semua itu, cuma tak terakomodir.
- Apa yang telah terjadi kemarin, bisa jadi pelajaran kita
- Jika tadi , kata Lina persoalan anggaran sebagai problem, maka itu dapat dilalui dengan kecintaan
- Penting ke fokus tentang evaluasi dan apa yang dilakukan ke depan
Pekik - Sepakat dengan Ikra, meski tadi telah ditanya apa mau dilanjut atau tidak, lebih bijak.. bahwa apa yang akan dilakukan nanti pada sessi ke 2 saja.
Saring - Applaus untuk panitia GPT, nyatanya teman2 bisa fasilitasi kelompok lain
- Teman2 yang selama ini ngaku senang teater, maka berani korban, jika cinta, maka berani korban dalam bentuk apa pun dan kapanpun
Putut - Mungkin ga tepat jika diserahkan dilanjut atau tidak
- Ingin saya paparkan, dari 13 kelompok yang ada, fakta respon dari luar, seperti Wonosobo, 40 orang, datang dan mentas.
- Magelang, ada even bersama, meski tak bisa datang, tapi ada ucapan selamat, Temanggung, Purworejo datang teman2 dari UMP.
- Lanjut atau tidak kami tawarkan pada semua..
- Purwokerto, 3 yang datang, 2 yang mengapreasi; itu fakta2 yang menggiurkan; maka saya menawarkan, forum itu bukan milik panitia
- Hal2 teknis seperti publikasi ga maksimal, dst..
- Ada impian saya ke depan; saat ada undangan dari seperti Purworejo, di sana ada keinginan untuk terjadi komunikasi intensif, maka jika saat ini tidak dishare, maka eman2.
Ubaidilah
- Jika mau dievaluasi seperti GPT yl, maka saya malu. Hanya begitu, saya ga bisa total, teman2 sampai “nyrememeh” begitu; merasa tak bisa memberikan yang terbaik pada event itu.
- Aku bisa apa di situ, peran apa?
- Kedua, model pengelolaan seperti apa? Sebab dari dulu hanya itu2 saja, penting dishare, bagi peran, maka seperti apa?
- Teater memang datang dari komunitas kampus. Jika di desa2 kita lihat wayang didukung oleh masyarakat, lewat event2 budaya suran, dsb. Itu contoh menarik untuk diserap.
- Kemarin ada seni lukisan, yang juga bergabung dengan yang lain, di pasar senggol juga begitu; apakah marketabel atau tidak, yang akan di lihat secara jujur. Kita penting mulai memanage sehingga tidak tersiakan.
Pekik
- Begitulah
Saring
- Nambahi sedikit, sebagai penikmat, jika ditanyya apa mau dilanjutkan ato tidak, maka dilanjutkan
- Tinggal bagaimana kemungkinan regenerasinya, shg bisa dinikmati lagi pemenatasan teater di Kebumen.
Pitra
- Jika bolej jujur, pertama menggagas Arisan Teater, sebenarnyya telah terkonsep dg baik. Dimana ada pementasan bergilir, messki Cuma hingga 4 saja; diakui memang ada kurangan dalam hal berkomunikasi.
- Belum berani tampil sebagai ujungnya.
- Dilanjutkan FopSet, dg keberanian. Jujur saja, ada ego masing2 kelompok itu. Tapi jika diminta, maka akan dengan senang hati. Sioalnya adalah minimnya komunikasi.
- Sbgmana, kata Putut, ada 9 hingga 10 kelompok teater di Kebumen
- Ini mestinya, ego masing2 kelompok akan terjembatanai dg komunikasi yg optimal.
Jukii
- Saya belum bisa melihat, gpt di luar panggung
- Di GPT, terlalu panjang, capek, terjebak nagntuk, jika ddiperpanjang hari, kendala dana mungkin; bgmn bagi awam dapat menikmati seutuhnya, missal dg adanya sinopsosis dsb.
Putut
- Mulai mengerucut, sulit mengatakannya, tdk se simple apakah GPT terus ato tidak
- Tak seperti Arisan Teater yang memang dibicarakan dan disepakati sejak awalnya; bgmn acara tu bisa berjalan sam[e selesai
- ada banyak perwakilan, mala apakah kita perlu wadah atau tidak?
- Jika diregulasikan, ada hal teknis yang bersinggungan dg agenda kelompok2, spt SRMB dg launching buku yl
- Bgmn menyikapi selanjutnya, soal komunikasi bantuan, kemarin eamng tak enak, kawartir ganggu agenda kelompok yang ada itu
- Kang Juki, bayangan saya, jika pentas digelar banyak malam, dg resiko bengkak biaya, maka ada data n fakta tentang pasar yang menjanjikan, tp tm2 tdk mampu memanagenya
- Tentang ego kelompok, amat terasa di Kbm. Perlu langkah terumus ke depan, jk GPT lanjut, maka formatnya seperti apa?
- Kre depAnnya, mungkin GPT dapat bicara lebih luas lagi.
- Malam ini sebagai evaluasi, kurasa telah jelas; persoalannya tidak sesempit itu
Ucok Ilir - Intinya, disini, dari kita siapa yg berani jadi ujung tombaknya, jk hal itu jd problem, maka knp kita ga berani tunjuk jari saja, missal siapa jadi pemimpinnnya.
- Dari sanggar Ilir yang di Jikja, mungkin hanya bisa membantu, teknisnya, akan sellau siap, missal jika dari panitia minta sekian titik lampu, dst
Lasmin Aris
- Masih terlalu bayi dlm teater, baru sekali bertemu langsung dg pegiat seni Kbm, saya lemig sering di Pwrj. Bergabung dg teater Surya Pwrejo.
- Diminta ikut GPT yl, keinginan mengenalkan diri dg masy Kbm, kebetulan jg saya mbimbing di Basatu Kbm.
- Ingin ada parade, dan berkembang jadi festival di Kbm ke depan.
Rimba
- Apakah setelah GPT aka nada lagi ato tidak, itu sudah muncul sejak GPT 1; jika kini muncul lagi, saya sepakat bukan soal dilanjutkan atio tidak; ada semacam kejenuhan jika sekedar pentas, tanpa mengetahui apa yang disampaekan kpd penonton.
- Memahami pesan apa yang akan disampaikan, pemting dibicarakan bagaimana konsepnya
- Ada semacam singkron, ada pementasan dg konsep pentas teater untuk rakyat; perlu konsep lebih luas luewes lagi, missal dg pentas out-door, fdi lapangan, di desa, dsl.
Putut
- Dlm GPT-2; ada ketidakmungkinan terkait teknis penyelengaraanya
Pekik
- Telah cukup dikritisa, termasuk .. tinggal soal kelanjutan apa yang akan dilakukan ke depan, silahkan sumbangsaran, gagasan dan wacana.
Ubaidilah - Perlu rumusan waktu setahun sekali
- Jika ke bentuk festival, masih belum mungkin, karena logika festival adalah logika tarung.
- Di 2011.. bisa di format lebih jwelas lagi..
Lina
- Hanya satu kata, cinta, sinergitas kerja, kapan ketemu lagi untuk dapat dilakukan
Agus Anyar
- Duduk melingkar, satu komitmen, sebetulnya kita sudah satu suara, bgman meneruskanaktivitas utk terus eksis
- Kaya GPT, bagi saya, Cuma wadah. Jika tahun mendatang akan seeperti ini, maka ya tetep GPT.
- Jika dalam perkembanggannya sampe saat ni, GPT tdak mengakomodir lebih luas cakupannya, maka pperlu dibahas lagi
- Beberapa komunitas, lebur jadi satu dan membawa Kebumen ke kancah luas
Tajib - Perbincangan tadi menarik, dulu Arisan Teater sejak 2003, sering konek dg teman2 yang tua.
- Dulu ada tmn2 yang aktif di lsm, berlaku nafas: jika politik menghancurkan kita, maka puisi yang menyembuhkannya.
- Kenapa dari dahulu, problemnya sama saja. Tetapi apakah nafas sekarang masih sama?? Atau berbeda, berbeda bisa rtidak baik, dan bisa lebih baik.
- Persoalan berkesenian, ada dua wilayah: ada aktivitas berkesenian, ada kepanitiaan.
Putut
- Kapan kita akan berproses bareng, ada proses berkesenian, ada managemen sajian (kepanitiaan)
- Kekuatan manajemen orang banyak itu lebih punya kekuatan, maka penting untuk dishare sebagai energy yang tak ada habisnya.
- Kapan dan Dalam event apakah kita bisa barenmg. Saya tak setuju model arisan, tapi lebih merupakan kapan kebersamaan
Pitra - Sekedar tambahan untuk meluruskan terkait pelaksanaan arisan teater
Putut -
Tajib - Kumpul, waktu itu, pengertiannya tidak harus pentas, ngobrol saja ada banyak hal bisa digagas. Missal diagendakan meet tiap bulan..
- Tadi pagi saya mengundang “Cah-Angon”, tereksplor etos kerja, dari menggembala minsul bagaimana kita menggali sumber daya.
Yayat
- Forum spt ini amat baik. Da kmntas2 d KBm, knp kita tidak bersama2.
- Beberapa saat lalu di ged PGRI, kesannya “one man show”, berharap dari ruh ini tercipta kesatuan, bukan lagi spirit/sentiment kelompok.
- Kapan sih Kebumen punya keelompok yang besar?
Putut
- Sbnrnya, kesan itu, knapa garus cape2. Maaaf, jika ga dibicarakan pun tetap berjalan. Apa yang saya lakukan akan saya fdapatkan.
- Soal ini diselesaikan dulu, seseorang tak isa menjadi sednirian. Butuh forum yang lebih besar untuk membicarakan kebudayaan yyan g cakupannya lebih luas.
- Kita belum punya kapasitas, itu pentingnya dibicarakan bersaama
- Pd dasarnya, selalu ada event bersama un tuk diilakukan bersama juga
- Saat semua ini tiidak dishare, maka itu berarti melanggar hak banyak orang
- Pembicaan semacam ini bertujuan agar semua tidak nggrambyang lagi
Eko Wahyudi - Terimakasih. Bicarakan komunitas yang inilah saja. Sudah ketemu pemikiran bhwa kita mau jalan bersama
- Kongkret, missal januaru kita melaakukan apa? Atau kapan?
- Bisa gak, banyak elemen ini disatukan jadi satu kekuatan saja? Saat bicarakan ini, kepingin terus saja.
Pekik - Pada malam ini belum ada sepakat, apa yang akan dilakukan ke depan
Tajib - Saya malah sepakat dengan melakukan uini, ada bincang2.
Pekik - Pada akhirnya kita butuh spirit kebersamaan
- Malam ini ada dukungan riil dari semua pihak yang ngumpul di sini
- Meski ada target kesepakatan, tapi sepakat ada meeting lanjut untuk share bersama dan berlanjut
- Malam ini paling tidak ada sepakat untuk berkumpil lagi dan kapan
Eko W
- Usul lagi, kapan, walau sekelumit, kita punya gagasan bersama. Tinggal kapan, ada gambaran awal sekaranmga mau apa besook, kapan, di manaa.
Syahid - Kalaupun kita mengadakan pertemuan lg, ada stu permasaalahan yang harus diselesaikan.
- Persoalan untuk adakah, penangkpan saya, dari sejarah, dari arisan teater,, kemudian fopset, maa saat akan ngomong apa pun ga enak, sebgai fopset berharap di forum ini disepakati, tapi bentuk apa, wadah apa, yang disepakati. Ini lebih baik dulu, tanpa bicar ego komu.
- nitas aatau apa tapi penting disepakati
Pekik
- Monggo, apa yang kitra2 disepakati, cukup omong2 spt ini?
Juki
- Perlu disepakati, format seperti apa ke depan
Putut
- Agak pesimis dengan agenda yang ga dijadwalkan, itu penting dilakukan hari ini
Tajib
- Seperti itu bagus untuk tetap dilakukan, seperti GPT. Fopset juga ga masalah, krn itu adalah salahsati bentuk kongkret, dimana tmn2 bisa berkoar. Itu tatap saja, kalau konteks seperti ini amat perlu, minimal, kontak rasa
- Dari forum spt ini, dapat membincang cakupan lebih luas lagi, missal jk omomng tradisi, kan cakupannya lebih luas. Spt ekbudayaan itu kan sangat luas..
- Sxaa berharap, pemkab sedang nhangat, maka kita ya ikut hangat. Ngomong apakah pemkab punya peduli kebudayaan, missal.
Pekik
- Dua sepakat, pertama, kesinambungan komunikasi
- Sebuah agenda yang konkret dan absurd. Konkretnya, aktivitas kaya GPT perlu dilanjut disertai forum2 diskusi seperti ini. Yang secara budget lebih murah. Dan diagendakan secara rutin
- Tawaran Boemi, ketempatan, boleh kita sepakati?
Peserta
- Ya, sepakat.
Tajib
- Saya menawarkan, ngomong dengan Syahid, mau ngadakan acara nonton film, sekita 20 film. Malam pertama, yuk, baca puisi, tema pluralitas, atau tahlilan, rencana sekitar April, tapi pas pilkada. Dan ketiga, pentas.
- Desain yang disiapkan, teman2 yg tterlibat kita record, dan share secara luas sebagai kerja teman2 dengan tema keberagaman
Pitra
- Dikonkretkan, tawaran yang mana dulu. Jika indipt, april; maka Boemi sendiri bagaimana?
Lina - BoeMi siap kapan saja.
Pekik - Kita sepakati tawaran Indipt diterima dan dilakukan lebih dulu.
- Kita akhiri dulu, setelah ini ada obrolan bebas, silahkan saja..
- Tertimakasih, Alhamdulillah.
Selamat Malam, salam budaya.













