This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 04 November 2014

Sarasehan Budaya [proseding]

“Penguatan Seni Budaya Lokal Menghadapi Tantangan Global”

Tempat: Roemah Martha Tilaar - Gombong, 4 November 2014
___

Susunan Acara:

[musik pengantar pre-acara]

1.   Pembukaan        : Pengantar + Basmallah      - Pekik
2.   Sambutan          : Sekapur sirih wakil Keluarga Marta Tilaar

[musik-puisi selingan]

3.   Acara Inti           :  a. Sarasehan, Moderator: Komper Wardopo
   b. Pemateri :   - MT Arifin
                        - Basuki Hendro Prayitno 
   c. Sessi Dialog
   d. Pembacaan Ressume

    4. Penutup             : Ketua Panitia atau Moderator


Pitra

-     Pembawa acara membacakan susunan acara
-     Mempersilahkan ketua panitia membuka acara


Pekik

-     Puji syukur, berkumpul dalam forum tentang budaya
-     Sholawat dan salam
-     Menyampaikan beberapa hal:
-      Mengangkat tema: “Penguatan Seni Budaya Lokal menghadapi tantangan global”
-      Narasumber:
-      Terimakasih kepada tamu undangan
-      Terimakasih kepada ibu Martha Tilaar atas kerjasama ini
-      Dengan tema dimaksud agar terpupuk rasa nasionalisme, menyebar ke sekitar, cinta budaya sendiri;
-      Selamat bersarasehan, berharap sumbangsaran dari semua;
-      Dibuka dengan bacaan Basmallah


Pitra

-     Terimakasih
-     Mempersilahkan wakil pengelola ibu Leli Kurnia Sari untuk sampaikan sambutan


Leli

-     Puji syukur; berkumpul di rumah Martha Tilaar
-     Dihadiri Wulan Tilaar, Ketua Yayasan Warisan Budaya beserta rombongan;
-     Terimakasih kepada Bp MT Arifin, juga Ketua DKD Bp. Ki Dalang Basuki Hendro prayitno;
-     Tema menarik sekali, saya Leli Kurnia Sari; selaku pengelola Rumah Marta Tilaar, berbangga sarasehan ini bisa terselenggara di sini;
-     Sesuai dengan tema, rumah ini adalah salah satu warisan budaya juga;
-     Mengharap ibu Wulan Tilaar, agar berkenan membuka acara ini;
-     Mohon maaf karena pada malam hari ini tidak dapat menjamu dengan baik, rumah ini masih dalam proses, mohon maaf dan doanya;


Wulan Tilaar

-     Salam
-     Pada para budayawan, media dan semua undangan; menyampaikan selamat datang di rumah Martha Tilaar;
-     Putri ke3, bertanggung jawab di Martha Tilaar n Spa; sudah berkeluarga dengan 2 putri;
-     Ingin menyampaikan kenapa ada Roemah Martha Tilaar, karena ibunda asli Gombong;
-     Pada masa ini ingin berbagi kepada masyarakat Gombong dan Kebumen umumnya,
-     Ingin mencetak MarthaTilaar2 lain, tekun dan mengglobal;
-     Familiar dengan “Sari Ayu”, brand yang mengangkat kearifan lokal,
-     Beberapa tahun yl, dirinya ikut pentas wayang orang, merasa ada dorongan kuat itu kembali ke sini dan mengenali asal-usul; proses timbul ketertarikan dan kecintaan;
-     Senang kerjasama dengan SRMB, berharap dapat memetik hasil yg positif;


Pitra

-     Demikian sambutan ibu Wulan Tilaar
-     Sambutan berikut Kepala Diparbud Kab. Kebumen


Heri

-     Meski harus maraton, dapat datang di sini;
-     Pemberitahuan, akan dilaksanakan Festival permainan Anak2, 14-15 Nove


Pitra

-     Acara inti


Komper Wardopo
[Moderator]

-     Salam;
-     Yth. Ketua Yayasan Rumah Martha Tilaar, ibu Leli KS, Ir. Budi Hianto, serta segenap undangan
-     Kita akan mendapat pencerahan dr 2 tokoh,
1.  Basuki Hendro Prayitno; pelaku budaya
2.  MT. Arifin; pengamat
-     Tema yang sangat menarik, kita hidup di tengah era global, di sisi lain kita terancam kehilangan identitas, 24 jam dicekoki tergerus, dihimpit konsumsi media;
-     Kebumen bukan daerah “main-main”, kedua pemateri akan banyak menjelaskan semuanya buat kita
-     Kelestarian seni budaya sendiri jadi kewajiban bersama;


Basuki Hendro Prayitno
[Pembicara]

-     Semoga diridlai Allah SWT;
-     Mungkin saya tertua, kelahiran 1944; hanya pelaku seni pedalangan, tak ada pengalaman pendidikan formal seni, hanya turun-temurun warisan lama;
-     Kita belajar bersama,  
-     [membacakan materi]
-     Budaya, budi n daya;
-     Hasil seni, ungkapan cipta, rasa, karsa,
-     Seni gerak à tari, dll
-     Seni Suara à mentiet, janeng, dll
-     Perbuatan2 negatif yang telah membudaya juga, korupsi, tawuran, ditayangkan media dari atas hingga daerah2, sangat memprihatinkan;
-     Seni budaya mengalami pergeseran karena terpengaruh masa dan jamannya;
-     Setelah islam masuk, memberi warna budaya bagi bangsa kita;
-     Di jaman penjajahan, kemerdekaan, pembangunan hingga reformasi; semua ikut mempengaruhi budaya lokal;
-     Di lokal, ada Banaspati Jomenggolo di Urutsewu dipimpin oleh Gomowijoyo; semua masih bersifat perjuangan lokal;
-     Sumber info sejarah ini ada di sumber Babad Kolopaking dan Ani Asmoro;  
-     Pentas wayang, drama, ketoprak, banyak berisi perjuangan;
-     Semua ini pengaruh dari atas yang memberi warna pada akar rumput;
-     Terlebih di era informasi [IT] merupakan tantangan dari para pekerja seni budaya lokal; mampukah kita mempertahankan;
-     Bisa ngeli tapi jangan keli;
-     Mungkinkan bagi kita yg bermacam2 suku, agama, dll; mempertahankan jatidiri kita ?
-     Kita jawab harusnya mampu, dg adanya Menteri [Menko] Pembanguan Manusia dan Kebudayaan;

-     Mahabarata yang tayang; Drupadi bersuaminya 5; saya banyak dapat pertanyaan;
-     Mahabarata adalah produk impor yg datang di jaman animisme; karenanya ada banyak perbedaan;
-     Budaya islam yang dibawa ke Jawa mendapat sentuhan jawa; Amir menjadi Jayengrono
-     Semua disesuaikan dengan kultur bangsa Indonesia;

-     Di pesantren juga ikut menanamkan seni budaya;
-     Para ulama juga memberi ajaran pada santrinya, itu berdiri sama tinggi duduk sama rendah;
-     Khususnya di pulau Jawa penuh dengan sopan santun, perilaku yang halus;
-     Ini ikut membentuk karakter bangsa;

-     Mengetuk mereka yang punya kelebihan kepedulian 3 hal:
1. Peduli Tenaga,
2. Peduli Pikir,
3. Peduli Dana;
-   Demi bangsa, tanpa melihat ras dan agama;
-   Contoh ibu Martha Tilaar yang mendirikan Rumah Budaya di Gombong ini;
-     Juga Pondok Tingal yang ada di Magelang, tinggalan alm Bpk. Budihardjo mantan Menteri Penerangan;
-     Tiap malam Sabtu akhir bulan digelar kegiatan, sarasehan mau pun pementasan;
-     Khusus di Kebumen, terkait budaya lokal, perlu kita duduk [jawa] dan tidak mbedah,
-     Artinya pilah-pilih, mana yang perlu kita lestarikan, dan mana yang mungkin bisa kita kembangkan;

-     Masalah ini jadi tugas siapa, tanggung jawab siapa?
-     Saya bertanya: apakah tidak semestinya instansi-instansi yang membidangi seni budaya lokal?
-     Juga pelaku-pelaku seni yang punya 3 kepedulian;
-     Peduli pikir, kritik lewat media, wawancara sesepuh, kritikus seni budaya lokal;
-     Peduli tenaga, para pelatih seni, banyak di sini, Gombong, di Wero, seperti Bp. Surawan melatih karawitan dan pedalangan yang bekerja dengan ketulusan;
-     Juga di tempat R. Suman Husodo, Jatiluhur, tempat latihan seni budaya lokal;
-     Peduli dana, seperti sekarang ini, penyelenggaraan sarasehan dengan biaya yang tak sedikit;

-     Seni modern maupun klasik di Kebumen sudah menonjol:
    teater, lukis, pahat, band, rebana, mentiet, ketoprak, angguk, gobang, jemblung, wayang golek, wayang kulit, ebleg, solawatan, dll;
-     Jika ingat seni-seni tradisi produk Indonesia yang diklaim oleh Malaysia, seperti batik, reog, kuda lumping;
-     Masyarakat Indonesia dirugikan, sebab tradisi tersebut milik bangsa Indonesia;
-     Tetapi, kembalikannya, sampai dimana kepedulian dan tanggungjawab negeri kita untuk mengayomi, melindungi, melestarikan dan mengembangkan seni budaya milik sendiri;
-     Di Malaysia dikembangkan, di sini tak ada yang mau, baik pelaku seni maupun Pemerintah, tapi di sini yang punya dalam merawat mengembangkan saya tak bisa matur sampai di mana;
-     Ini kesalahan siapa, monggo diadepi bareng-bareng karena tak baik jika saling menyalahkan satu sama lain;
-     Jika mau kedamaian, kita menyalahkan diri sendiri, jika menyalahkan orang lain itu yang timbul kebencian dan permusuhan;
-     Sekian, jika ada pertanyaan silahkan.
-     [20.19 wib]


Komper Wardopo

-     Terimakasih Ki Basuki Hendro Prayitno, panjang lebar uraiannya;
-     Kapasitas sebagai pelaku seni, berpengalaman sehingga wajar beliau gundah;
-     Saya catat beberapa hal, pertanyaan pada kita yang nanti tidak saling mencari kesalahan, tapi mencari solusi dan semua peserta disini berhak memberi solusi;
-     Tentang tugas siapa untuk mempertahankan seni budaya lokal itu?
-     Sekarang kita harus mulai peduli pikir, peduli tenaga, peduli dana;
-     Ini tugas kita semua untuk terus berupaya;
-     Hal yang saya catat bahwa di Kebumen sebenarnya seni tradisi dan modern itu bisa berkembang dengan baik, bisa beriring sejalan;
-     Selain seni tradisi, disebutkan ada yang khas lokal seperti mentiet, angguk, eblek, dsb;
-     Kesempatan ke 2 MT Arifin, silahkan...


MT. Arifin

-     Pekewuh karena harus ngomong di dekat pak Basuki, sesepuh, karena saya menonton pentas ndalangnya sejak saya masih kecil sekitar tahun 60-an;
-     Seperti tadi dikatakan, bagaimana kesenian kita diambil oleh bangsa lain,  
-     Saya jadi ingat tahun 2011, Maret 2011, diminta pemerintah RI, presiden SBY waktu itu meminta Menteri Pendidikan untuk njawil saya agar mewakili pemerintah,
-     di Jawa Tengah, soal Keris, saya harus panel dengan tim utusan dari kejaraan diraja Malaysia;
-     Dengan harapan bahwa mereka tahu bagaimana keris sebagai jatidiri dari bangsa Indonesia;
-     Saya jadi mikir dan meneliti keris generasi pertama ciptaan Mpu Ramadi yang menciptakan keris pada tahun 250 Masehi;
-     Ada 2 tokoh yang pertama-tama memprakarsai pembuatan keris yaitu pertama Empu Ramadi dari Tuban satunya Empu Lang Tam Pay dari Banyumas;
-     Keduanya satu perguruan dan merupakan murid dari Ki Selo;
-     Itu saya teliti, saya bahas dari keris-keris ciptaan beliau, karena kebetulan saya menyimpan keris dari abad ke 3 Masehi itu ada 24 keris;
-     Hingga kini saya menyimpan 500 keris sampai yg muda, keris dari jaman Mataram;
-     Mengumpulkannya butuh puluhan tahun adus getih
-     Apa yang perlu ditanamkan saat berdiskusi dengan tokoh dari Malaysia, dengan target agar keris itu tidak dibajak oleh Malaysia;
-     Saya terpaksa menjelaskan dari akar persoalan dan sumber keris sampai saya mbawa 15 keris dari Jakarta;
-     Saya jelaskan keris tertentu, siapa yang membuat, jadi dengan begitu dengan adanya data-data autentik, tak bisa diaku oleh orang lain;
-     Yang jadi soal kadang-kadang seni itu tak dibahas, karena seni itu tak diopeni, tak ada penjelasan-penjelasan bagaimana keruwetan dari sebuah seni budaya di dalam masyarakat dan itu benar-benar milik kita;
-     Kapan itu dilahirkan, kita tidak tahu, ini yang jadi masalah;
-     Pencatatan dari karya seni, ngopeni seni dan tradisi itu diuri-uri, sehingga jadi bagian dari masyarakat itu tak ada;
-     Setelah diambil orang, baru ramai-ramai, itu yang terjadi di masyarakat kita;
-     Oleh karenanya maka persoalan seni tradisi itu jadi penting karena jika tidak, saya perkiraan satu generasi lagi akan habis itu;

-     Akan saya jelaskan kapan kesenian di Kebumen itu mati?
-     Matinya kesenian tradisi di Kebumen itu terjadi pada jaman Orde Baru;  
-     Pada jaman tahun 1960-an, yang namanya wayang golek, sampai ketoprak tobong di Prembun, Sidototo dan berbagai daerah, seni musik di Kutowinangun, berbagai seni semua hidup dalam masyarakat dan laku;
-     Sampai pencak silat di tingkat desa itu ditonton oleh masyarakat;
-     Artinya bahwa pada jaman itu banyak seni tradisi yang mati, karena apa?
-     Karena booming politik pembangunan yang berorientasi ke atas dan kekuatan masyarakat itu tidak berimbang;

-     Dan sekarang, pada era globalisasi, banyak tradisi yang akan mati jika tidak diopeni;
-     Karena apa? Karena ketertinggalan teknologi;
-     Adaikata seni tradisi cepetan dibiarkan dalam pakaian yg lusuh, tanpa tematik yang jelas, dan tak ada penanggapnya, akan mati dengan sendirinya;
-     Karena tak ada tradisi yang menggunakannya !
-     Begitu juga wayang, jika kekuatan ekonomi masyarakat tidak berkembang, siapa yang akan nanggap?
-     Masyarakat tidak nanggap, pemerintah tidak nanggap, perusahaan tidak nanggap, ini yang jadi persoalan;
-     Oleh karena itu, kita perlu berfikir, melihat bagaimana persoalan seni tradisi dan saya akan lihat persoalan ini dari aspek kebudayaan; dari aspek kulturalnya;

-     Saya membahas ada tiga hal: yang pertama, latar pikir kebudayaan, yang mengapa nantinya seni tradisi itu tumbuh dari pola pikir seperti itu;
-     Karena hingga sekarang kebudayaan tradisi tak pernah dikaitkan dengan konsep kebudayaan;
-     Yang ada bahwa seni tradisi baru ada pada tingkat permainan di arena;
-     Tapi mengapa di Kebumen muncul seni tradisi cepetan, mengapa wayang kulit tumbuh di daerah pesisir selatan, mengapa slawatan tumbuh di pesisir kulon, mengapa mentiet tumbuh di daerah kulon kali dan tak ada di wetan kali, mengapa?
-     Ini adalah persoalan dan bahwa itu ada konsep kulturalnya yang jadi masalah;
-     Oleh karena itu, nantinya, mestinya pembinaan terhadap aspek dan unsur-unsur seperti ini juga merupakan kebutuhan peta yang lebih jelas;
-     Misal slawatan di daerah Bonjok, itu sekarang sudah mati, di daerah wetan kali itu sudah tak ada, yang ada di daerah kulon kali;
-     Ini persoalan, artinya karena memang slawatan itu bukan pola pikir utama wetan kali;
-     Karena apa? Karena wetan kali itu tali ikatnya adalah kraton kasunanan Surakarta;
-     Oleh karena itu, wayang, yang berkembang adalah wayang, mengapa di daerah pesisir kidul, karena memang pesisir kidul adalah daerahnya Gamawijaya;
-     Di utara tak berjalan; karena di utara adalah daerahnya kolonial;
-     Kemudian, mengapa tradisi islam ada di kulon kali Lukulo, karena daerah itu adalah basis anti-struktur yang dibina oleh kelompok-kelompok pejuang Diponegoro;
-     Sedangkan yang wetan kali juga kelompok pejuang tetapi yang relasinya adalah kraton kasunanan;
-     Ini menjadi sangat berbeda corak-corak seperti itu;
-     Kebudayaan itu adalah kebudayaan anti-struktur yang sangat membedakan daerah wetan kali dan daerah kulon kali;
-     Dan ini akan memiliki latar pikir kebudayaan;

-    Bicara kebudayaan tradisional, yang berkaitan dengan perubahan-perubahan sebagaimana tema sarasehan malam ini, yang akan menghadapi globalisasi;
-    Nah, perubahan-perubahan itu yang penting [signifikan_not] adalah apakah seni tradisi mampu menciptakan local-genius atau tidak, ini masalahnya;
-    Manakala seni tradisi mampu menciptakan local-genius maka seni tradisi itu akan berkembang;
-    Seni tradisi nDolalak lebih berkembang di daerah Purworejo ketimbang Kebumen, mengapa?
-    Kemudian seni-seni yang ada di Lima Gunung di Magelang, itu akan berkembang, karena ada kekuatan-kekuatan yang mendorongnya;
-    Mereka sadar bahwa seni-seni tradisi Lima Gunung  itu hancur pada saat Orde Baru membasmi G30S, maka harus dihidupkan kembali;
-    Nah, di Kebumen hingga sekarang belum ada kesadaran yang menyeluruh tentang persoalan ini;
-    Oleh karena itu dibutuhkan local-genius yang berkemampuan untuk mendorong perkembangan seni tradisi;

-     Bagaimana seni budaya daerah dan tantangan yang ada di daerah ini; 
-     Tadi dalam konsep dasar kebudayaan yang telah disampaikan pak Basuki, dimana seni budaya itu memiliki konsep-konsep dasar;
-     Sehingga budaya itu merupakan kompleksitas pengalaman-pengalaman dari suatu masyarakat yang akan diwarisi secara lintas generasi;
-     Fungsinya adalah membangkitkan perilaku-perilaku sosial dalam kehidupan masyarakat;
-     Hal ini terjadi karena budaya itu sesungguhnya merupakan sikap prilaku manusia yang diperoleh melalui belajar dengan cara meniru, dengan cara mempelajari, dengan cara mengembangkan kemampuan-kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan hidup masyarakatnya;
-     Oleh karena itu manakala di Kebumen muncul seni-seni yang berkaitan dengan konsep tanah, konsep agraria; itu memang karena Kebumen adalah daerah dan masyarakat agraris;
-     Maka seni-seni tradisi yang kemudian berkembang itu yang berkaitan dengan budaya-budaya agraris;
-     Di dalam kebudayaan itu yang menjadi sangat penting bagi kita adalah terkandung makna-makna pengetahuan hidup yang luas di dalam bentuk simbol-simbol dan konsep-konsep;
-     Sehingga cita dan ukuran yang dimiliki secara bersama melalui unsur-unsur itu dianggap yang paling berharga oleh masyarakat;
-     Mengapa masyarakat kita kalau menonton wayang itu yang akan dilihat adalah jejeran pertama, kemudian pada saat goro-goro;
-     Karena di dalam wayang itu terkandung unsur pendidikan, unsur demokrasi, unsur ideologi sosial, informasi, dsb;
-     Faktor-faktor ideologis itu muncul pada tingkat pertengahan, karena di situ nilai-nilai kebenaran muncul;
-     Sedangkan pada saat-saat awal adalah nilai-nilai estetika yang bisa ditangkap, juga anta-wacana yang menunjukkan ketajaman seorang dalang di dalam menafsirkan lakon-lakon, dikaitkan dengan kehidupan-kehidupan sosial yang ini juga diharapkan oleh penonton;
-     Itu menunjukkan bagaimana watak kehidupan luar yang luas, yang nanti akan tercermin dalam simbol-simbol dan konsep-konsep;
-     Sehingga cita-cita dan ukuran yang dimiliki secara bersama melalui unsur-unsur ilmiah atau berharga itu kemudian bisa dipahami oleh komunitasnya;
-     Nah, kenapa kebudayaan di masyarakat kita itu seperti itu?
-     Karena kebudayaan di dalam suatu masyarakat itu dipengaruhi oleh struktur pikir yang mendorong nilai-nilai itu terbentuk;
-     Mengapa orang Jawa percaya pada wayang? Mengapa orang Jawa itu mencintai batik?
Mengapa orang Jawa mempercayai keris?
-     Itu bukan persoalan yang ada begitu saja, tetapi 3 bentuk dari karya budaya itu [wayang, batik, keris] adalah bentuk tang termasuk di dalam konsep timputent;
-     Dinyatakan bahwa ada 10 bidang dalam kehidupan masyarakat Jawa yang sudah menonjol sejak jaman sebelum ada sejarah;
-     Termasuk diantaranya adalah wayang, olah batik, olah keris;
-     Itu adalah diantara 10 kemampuan orang Jawa tetapi 3 diantaranya berkaitan dengan kebudayaan seni, nanti di dalam wayang itu termasuk gamelan dan seterusnya;
-     Itu kemenonjolan yang dimiliki oleh orang Jawa sejak sebelum jaman sejarah diantara 10 kemenonjolan lainnya;
-     Oleh karena itu maka kemudian hal-hal seperti itu bisa bertahan karena ada nilai-nilai yang terbentuk;

-     Nilai-nilai yang membentuk kebudayaan dalam masyarakat itu nilai-nilai yang bagaimana?
-     Karena di dalam masyarakat Jawa mempunyai kepercayaan adanya pertautkan dari segala sesuatu yang ada dengan sesuatu yang ada yang lain;
-     Jadi di sana cara berpikir orang Jawa itu adalah cara berpikir yang menyekutukan antara Tuhan, benda-benda ciptaanNya, peristiwa-peristiwa sosial, itu semua saling terkait tidak terpisah antara yang satu dengan yang lain;
-     Orang memahami hal itu bukan hanya dengan agama, tetapi juga melalui kebudayaan, melalui pendengaran, melalui nilai-nilai mistis, melalui keindahan kata-kata, kemudian juga melalui nada;
-     Itu seluruhnya digunakan untuk bagaimana memahami Tuhan, bagaimana memahami kehidupan;
-     Bagaimana kita ada dan akan kemana nanti kita; sangkan paraning dumadi, itu semua adalah bagian dari cara berpikir orang Jawa yang tidak memisahkan antara Tuhan, benda-benda, peristiwa dunia dalam alam manusia;
-     Oleh karena itu, setiap peristiwa yang ada akan selalu dipersoalkan, dipertanyakan dan dicari jawabannya;  
-     Dari segala kecanggihan seperti itu manusia melihat alam sebagai syarat kehidupan yang sangat pokok;
-     Dimana alam, di satu pihak memberikan unsur-unsur kehidupan namun juga alam memiliki kekuatan yang dapat menyebabkan penderitaan dan kematian;
-     Disana, manusia, orang Jawa menemukan unsur-unsur seperti bumi, langit, air, angin, api, kekonstanan fenomena alam, pola-pola kesamaannya serta keteraturan; seluruhnya merupakan konsep-konsep yang alamiah;
-     Di dalam melihat anasir-anasir seperti itu kemudian lahir konsep kosmologi;
-     Kosmologi itu apa?
-     Kosmologi adalah gambaran dari seluruh kosmos, kosmos dimaksudkan adalah langit dan bumi;
-     Langit dan bumi dianggap mewakili dimensi vertikal dan statis sebagai alam kang gumelar yang disebut dengan jagad ageng, makrokosmos, makrokosmik;
-     Kemudian kehidupan manusia dan masyarakat yang mewakili hubungan horisontal dan dinamis sebagai kenyataan batiniah yang disebut jagad alit, mikrokosmik;
-     Kemudian hubungan antar di dalam cara berpikir yang kosmologis, hubungan antara jagad ageng dengan jagad alit itu tidak bisa dipisahkan;
-     Manusia akan bertahan hidup manakala dia mampu menyesuaikan dengan lingkungannya;
-     Jagad alit harus menyesuaikan dengan jagad ageng dan orang per orang harus menyesuaikan dengan masyarakatnya, itu konsepnya;
-     Oleh karena itu nanti tradisi-tradisi kebudayaan yang ada di masyarakat termasuk kesenian itu adalah cara dari manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan alam maupun masyarakatnya;
-     Sehingga tradisi-tradisi itu yang diselenggarakan pada hari-hari tertentu, pada kesepakatan-kesepakatan tentang

-     Hub  antara jagad ageng dan jagad alit;
-     Tradisi2 kebudayaan yang ada masyarakatnya;
-     Disusunlah pandangan dunia, orientasi budaya à oang jawa gak slalu berpikir ke depan; ini pemikirian siklis
-     Orang jawa akan melihat peristiwa dg mitologis;
-     Cara sinkretis à mempertemukan kanan-kiri, atas-bawah, hitam-putih; konsep “wulung”
-     Orang jawa menhkairkan hub2 moral, diawali dg peristiwa diahiri dg dalil;
-     Simbol2 dlm wayang diakitkan dg perwatakan orang jawa;
-     Roso, merupakan kekuatan utama, seni tradisi dikaitkan dg itu;
-     Perubahan akan terjadi saat r
-     Budaya tardisi di kbm pada dasarnya budaya yg sulit berkembang krn budaya agraris, sc geografis dibatasi smudra, sulit berhubnguan  dg luar, utara dg peg
-     Riset itu dilakukan Kuntjotoningrat, struktur kuno spt glodhong
-     Standar budaya ganda, budaya banyumasan dan bagelenan;
-     Pola kulon kali adalah pola kraton kasultanan Jokja
-     Pola kidul kali adalah pola kasunanan solo
-     Pola uRutsewu itu pola anti-struktur;
-     Liwat proses2 yang lamban, berkembang namun karena pola tumpunya bersifat administratif, maka pergulatan 2 kebudayaan sangat lamban;
-     Budaya kebumenan miliki 2 tantangan; era Orba dan Globalisasi;
-     Era orba banyak kesenian rakyat yg hancur dan tak berkembang, seluruhnya tak tumbuh;
-     Pendekar2 silat Kebumen dulu bergabung dan membuat event yg ditonton masyarakat waktu itu; sekarang tak ada lagi;
-     Itu semua sebagai sebuah peristiwa sejarah dalam masyarakat lokal;
-     Ketoprak Sidototo alami kemajuan, tapi diambil oleh kepentingan politik;
-     Negara tak hadir saat budaya lokal terancam; ini masalahnya;
-     Pada arus globalisasi, dan hilangnya nilai kearifan lokal, dimana dulu masyarakat dididik melalui banyak hal, termasuk film2 Bollywood;
-     Budaya2 yang dikembangkan kelompok tradisi tertinggal, itu oleh karena vakumnya pemanfaatan teknologi;
-     Ini yang juga jadi persoalan
-     Apa yang diperlukan, kebangkitkan untuk mampu hadapi tantangan2 itu adalah:
-      Bagaimana masyarakat harus dibangunkan agar mampu manjawab tantangan ini
-      Bagaimana teknonlogi digunakan dalam pengembangan seni
-      Bagaimana kebudayaan daerah , sangat diperlukan “lokal genius” :
1.   Bagaimana kebudayaan lokal melakukan penetrasi dalam interaksi dengan budaya luar;
2. Mengakomodir kebudayaan luar yang maju;
3. Mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam;
4. Memberikan arah –orientasi- kebudayaan masyarakat;
-     Seni tradisi ditonton bukan hanya utk hiburan tapi untuk menumbuhkan rasa kebangkitan kreatif temukan idiom2 baru:
-     Seni tradisi berkembang kala seniman dan seterusnya;



Selasa, 30 September 2014

Pendidikan Seni Diminta Tidak Terdikte Pasar

30 September 2014 23:16 WIB

SEMINAR PENDIDIKAN : Dosen Universitas Sanata Darma Dr Haryatmoko (tengah) saat berbicara dalam seminar nasional “Spirit of The Future : Art for Humanizing” di ISI Yogyakarta, Sabtu (27/9).(suaramerdeka.com/Sony Wibisono)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com – Pendidikan seni diminta tidak terjebak dalam sikap pragmatis untuk pemenuhan kebutuhan pasar. Pasalnya, seni bukan semata-mata persoalan teknis saja. Oleh karena itu pendidikan seni diharapkan tidak
meninggalkan ilmu seni yang konseptual.

Salah satu wacana tidak seimbangnya antara teknik dan konseptual adalah dalam pendidikan seni musik. Banyak lembaga pendidikan yang kemudian terlalu mengejar keterampilan teknik. Persoalan teknik ini menjadi ironis, ketika keberhasilannya hanya diukur dengan seberapa banyak si pemain mengiringi penyanyi populer, atau masuk televisi.
“Memang ada sebagian orang yang memang hanya memilih bermain musik saja. Ada juga yang terus berproses dan ingin

menciptakan mazhab tertentu. Ada pula yang menjadi pemikir seni, dan ini tidak banyak,” kata dosen Universitas Sanata Darma Dr Haryatmoko. Dia memaparkan hal itu, saat seminar nasional  “Spirit of The Future : Art for Humanizing” di ISI Yogyakarta, Sabtu (27/9).

Menurut Haryatmoko, kreativitas seni akan mandeg ketika temuan-temuan baru itu melulu dikerahkan untuk meneguk keuntungan finansial atau popularitas (komodifikasi). Pragmatisme dalam pendidikan seni pun tidak terlepas dari adanya tuntutan memenuhi kebutuhan pasar. Maka pendidikan seni pun lebih menekankan teknik seni. “Pendidikan seni yang terlalu menekankan teknik akan sepi dari perdebatan intelektual. Perdebatan aliran-lairan dalam seni hanya akan muncul ketika seni tidak didikte pasar,” katanya

Prof Bambang Sugiharto mengatakan, bahwa jika mengacu pada peristilahan klasik dunia pendidikan, pendidikan calon seniman atau pemikir seni akan mencakup dimensi afektif, motorik, kognitif dan imajinatif. Hanya saja isi subtansi dapat disesuaiakan dengan zaman yang  berubah.

“Saat ini pada bagian afektif pendidikan seni kini perlu meatih ketajaman kepekaan aesthesis. Ini terkait dengan penguatan pencerapa penginderaan. Selain itu juga kepekaan synaesthesis atau keterampilan mengaitkan asosiasi sensasi imajinatif antar beragam indera,” terangnya.

Bambang melanjutkan pada bidang motorik perlu pencanggihan dan terobosan teknis. Pada bidang kognitif intelektual diperkuat dengan ketrampilan multidisiplin yang menyangkut pengalaman, teks, dan wawasan.

Sedangkan pada unsur imajinatif diperlukan terobosan morphogenetic field. “Morphogenetic field ini istilah dari Ruppet Sheldrake yang artinya medan penciptaan bentuk dan cara pandang baru atas realitas yang efeknya bisa menjadi massif dan menembus raung dan waktu.” paparnya.(Sony Wibisono/CN40)

http://berita.suaramerdeka.com/pendidikan-seni-diminta-tidak-terdikte-pasar/

Menjadi Bagian Takdir Puisi | Aris Panji Ws



Pengantar Kumpulan Puisi “Bulan Menggantung” karya Pitra Suwita

Selalu ada hal yang bisa ditulis dari apa yang dipikirkan dan dirasakan, dari apa yang dialami dan dilakoni manusia. Ihwal lakon kemanusiaan, dengan begitu, menjadi laman kandung bagi nilai-nilai etika dan estetika.
Yang pada gilirannya melahirkan ide-ide, pemikiran serta spirit kecintaan seorang penulis pada dunianya. Kecintaan seorang penyair pada jagad perpuisiannya. Interest cinta dan kemanusiaan memang menjadi sumber tema atas inspirasi yang tak kunjung mengering; sepanjang hayat penyair.

Begitu pun, saat membaca puisi-puisi Pitra Suwita dan menggelagati di kedalamannya atas adanya dua perkara; nilai dan makna atas pusinya.
Saya mengantarkan hadirnya kumpulan puisi “Bulan Menggantung” ini, bukan dalam kapasitas sebagai esais sastra. Melainkan lebih karena romantisme perkariban. Sebuah keintiman yang tak bisa diukur dan dibelenggu dengan lamanya waktu, melainkan oleh intensitas proses berkesenian yang dilandasi prinsip-prinsip kesetaraan.

Intensitas keintiman yang memungkinkan saya untuk bergaul pula dengan ide-ide serta pemikiran kepenyairannya.

Menggauli pemikiran kepenyairan, menurut hemat saya, bukan dengan meminta penyair mengurai-jelaskan proses kreatif puisi karyanya di hadapan sidang pembaca. Ihwal yang acapkali dianggap merupakan tanggungjawab moral penyair, bukan lah “benang kusut” epistimologi keterasingan jagad kepenyairan itu sendiri; yang lantas mewajibkan sang penyair membumikan imajinasi transformatifnya.

Saya lebih mengimani pendapat sebagian kritikus sastra, bahwa selepas puisi dari tangan dan ruang cipta sang penyair, maka ia –puisi itu- tengah meniti takdirnya sendiri.

Hal ini berlaku pula bagi 59 puisi karya Pitra Suwita dalam kumpulan ini. Dimana nilai dan makna menjadi taut bagian dari perjalanan takdir itu. Menilai dan memaknai puisi, adalah wilayah apresian yang tak pernah cukup memahaminya dengan melulu membaca secara tekstual saja. Memahami sebuah karya sastra mesti lah dicerna dengan membaca singkap konteksnya juga.

Beberapa puisi Pitra Suwita, disamping sebagian kuat nuansa dan idiom kejawaannya, memang memadat pada pilihan kata-kata yang sublim. Bahkan nyaris tanpa makna jika dibaca teks verbalnya semata. Pada kesempatan ini saya mesti katakan bahwa membaca –secara tekstual- saja atas puisi; tidak lah cukup sampai pada maknawiahnya. Pembaca dapat menjadi bagian riwayat atas puisi itu sendiri, di tempat dan ruang mana puisi jadi bertutur dengan bernas.  
Menjadi bagian dari riwayat tutur sastra puisi adalah ciri dasar entitas masyarakat apresian.

Kalau lah pengantar ini tak cukup halaman buat mendeskripsikan panjang lebar pergumulan saya dengan puisi dan pemikiran penyairnya, maka semata-mata karena ihwal interpretasi atas puisi-puisi dalam kumpulan ini merupakan wilayah yang dimerdekakan sepenuh-penuhnya ke haribaan pembacanya. Kemerdekaan penuh itu, tentu, meniadakan tafsir tunggal atas karya. Dimungkinkan ada ambiguitas makna atau bahkan keberagaman interpretasi, karena pembaca juga memiliki kedaulatannya sendiri.             

Senin, 13 Januari 2014

11th Milad SRMB

Tiga pertunjukan hasil proses kolektif berkesenian menjadi materi pokok pada peringatan 11th Milad SRMB. Yakni musik puisi, seni Jemblung dan Fil Indie. Peringatan Milad SRMB digelar di halaman sekretariat pada Selasa (13/1).

Ada lebih 50 apresian merubung perhelatan, disertai gerimis rembang, sebelum dan seusai helatan yang dibuka dengan tahlilan. Di antara yang hadir itu nampak Ketua DKD Kebumen, Basuki Hendroprayitno, dalam sahaja yang sumringah. Juga Ketua DKD Cilacap yang bahkan sedia menginap. Mentor sinema independent dari TBM "Sangkanparan" Cilacap, Insan Indah Pribadi dan Teguh Kusmadi beserta Yuni Etifah dengan kawan-kawannya. Ada Dalang sohor Bambang Cermomanggolo dari Jatijajar. Hadir juga Ageng Sulistyo Handoko, Akhmad Madjoeki, Habib, Putut AS; serta belasan teman sejawat yang semangatnya tak kendur karena hujan di luar tarub. 

Kamis, 02 Mei 2013

Ki Hajar dan Sekolah Liar


Allan Akbar - 02 Mei 2013
  • Ki Hajar Dewantara memperjuangkan pendidikan untuk semua kalangan bumiputera. Dia menentang ordonansi sekolah liar.

Taman Siswa di Bandung. Ki Hajar Dewantara (inset). Foto: Tropenmuseum.

TANGGAL lahir Ki Hajar Dewantara, 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 316 tanggal 16 Desember 1959. Penetapan tersebut dilandasi oleh jasa-jasanya yang telah memberikan garis-garis tegas dalam pendidikan nasional, baik konsepsi maupun praktik.
“Pada tahun 1932 beliau telah berjuang dengan menentang ordonansi sekolah liar serta berlakunya sistem pajak rumah tangga Taman Siswa dan menentang diskriminasi tunjangan anak di sekolah pemerintahan dan sekolah swasta,” tulis AB Lapian dalam Terminologi sejarah, 1945-1950 & 1950-1959.

Ki Hajar mendirikan sekolah Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta karena gelisah akan pendidikan di Hindia Belanda yang diskriminatif. Hanya anak-anak priyayi yang boleh sekolah. Dia mencoba mempeluas akses pendidikan bagi semua kalangan. Taman Siswa, dan semua sekolah partikelir (swasta) yang tidak diakui oleh lembaga resmi pemerintah manapun, dianggap sekolah liar.

Menurut Yudi Latif dalam Inteligensia Muslim dan Kuasa, sekolah liar biasanya didirikan oleh para anggota idealis dari inteligensia yang tidak ingin bekerja untuk pemerintah kolonial, dan yang didirikan sebagai jawaban terhadap kebutuhan akan pendidikan yang bergaya Barat.

Adanya kecenderungan politik di balik aktivitas lembaga-lembaga pendidikan partikelir (swasta) disadari pemerintah. Pemerintah yang khawatir melihat perkembangan sekolah-sekolah pribumi tanpa izin, berusaha menekan laju perkembangannya dengan membuat beberapa peraturan atau ordonansi.

Pada 1923, pemerintah mengeluarkan ordonansi pengawasan sekolah partikelir. Namun, dalam praktiknya tidak memenuhi harapan pemerintah dalam menuntaskan masalah sekolah liar. Menanggapi masalah itu, JWF. van der Muelen, pejabat direktur pendidikan dan agama menganjurkan kepada pemerintah untuk meninjau kembali ordonansi pengawasan 1923 dengan kemungkinan menambah satu peraturan baru menyangkut pengawasan terhadap lembaga pendidikan partikelir.

Usulan tersebut disetujui. Pada 1932 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan baru: Wildeschoolen Ordonantie (Ordonansi Sekolah Liar). Dalam ordonansi ini, seseorang atau lembaga yang bermaksud menyelenggarakan pendidikan harus  seizin pemerintah. Pemerintah dapat mencabut izin apabila terbukti melanggar ketentuan-ketentuan yang ditetapkan.

Bukan hanya bagi sekolah, ordonansi ini juga mengatur urusan guru. Para pengajar diharuskan untuk membuat laporan kepada penguasa setempat. Apabila melanggar, maka akan dikenakan hukuman penjara selama delapan hari atau denda 25 gulden. Mereka juga dapat dikenakan hukuman selama satu bulan atau denda sebesar 100 gulden apabila yang bersangkutan tetap melakukan kegiatan mengajar.

Menanggapi ordonansi tersebut, Ki Hajar mengirim telegram kepada Gubernur Jenderal De Jonge, meminta membatalkan ordonansi tersebut. Telegram ini kemudian dimuat majalahTimboel, 6 November 1932. Dengan tegas Taman Siswa mengancam akan melakukan lijdelijk verzet (pembangkangan) apabila ordonansi itu tidak dicabut.
“Excellentie! Ordonnantie jang disadjikan amat tergesa-gesa dan didjalankan dengan tjara paksaan …” tulis Ki Hajar, “Bolehlah saja memperingatkan, bahwa walaoepoen machloek jang ta’berdaja mempoenjai rasa asali berwadjib menangkis bahaja oentoek mendjaga diri dan demikianlah djoega boleh djadi kami karena terpaksa akan mengadakan perlawanan sekoeat-koeatnja dan selama-lamanja…”
Ordonansi sekolah liar tetap diberlakukan. Taman Siswa membangkang dan terus berkembang pesat ke luar Jawa Tengah. 
“Sepuluh tahun kemudian, meskipun sudah mengeluarkan peraturan Sekolah Liar pada September 1932, gerakan Taman Siswa sudah mendirikan 166 sekolah dengan sekira 11.000 murid Jawa,” tulis Frances Gouda dalam Dutch Cultures Overseas.
Sekolah-sekolah liar diminati oleh bumiputera karena keadaan ekonomi pasca Perang Dunia I dan depresi ekonomi pada 1930-an mengakibatkan pemotongan belanja (subsidi) pemerintah untuk pendidikan. 
“Hal ini membuat biaya pendidikan tinggi, memaksa orang-orang Hindia untuk bersekolah di sekolah-sekolah liar,” tulis Yudi Latif.
Laporan tahunan pemerintah tahun 1936 mengenai pendidikan mencatat sebanyak 1.663 sekolah liar yang menerima pendaftaran 114 ribu murid. Setahun kemudian, laporan tersebut mencatat jumlah keseluruhan 1.961 sekolah dengan jumlah murid 129.565, sedangkan pada 1941, jumlah murid pribumi yang menerima pendidikan dalam bahasa Belanda di sekolah liar, yang terletak di dalam dan di luar Jawa, diperkirakan mencapai jumlah 230 ribu.

Menurut Gouda, Jawa tidak sendiri dalam ekspansi sembunyi-sembunyi sekolah independen, yang secara sadar berupaya tetap di luar orbit pengawasan pemerintah. Di Minangkabau Sumatera Barat, berlangsung pula pertumbuhan lembaga pendidikan yang sama. Walaupun lembaga-lembaga tersebut secara lebih jelas kaitannya dengan ulama (guru) Islam dibanding di Jawa dan lebih banyak menghabiskan waktu dalam pengajian Alquran, sekolah-sekolah kaum muda di sana juga dengan bergairah menanamkan gagasan penalaran individu (ijtihad) dan semangat pembaruan pada murid mereka.
“Baik sekolah taman siswa maupun sekolah kaum muda merupakan lembaga yang berkembang pesat,” tulis Gouda, “kedua-duanya berhasil menanamkan rasa bangga akan budaya asli dalam diri murid-murid mereka."
Source: Historia.Id 

Rabu, 08 Agustus 2012

Membaca Utuy—Selalu Sendiri

Berto Tukan

ilustrasi: Utuy Tatang Sontani (infografis: Tirto)

Cerita Pendek
PUKUL 17.30 kira-kira, saya ke luar dari kosan yang temboknya begitu hitam, buteg, jorok dan kucel. Wajar saja. Sejak pertama kali dicat ketika dibangun enam tahun yang lalu kira-kira, sampai hari ini ia tak pernah lagi dikasih pelembab kulit. Namun, kebutekannya kiranya esok hari—yakni hari ini—niscaya hilang. Pasalnya, ketika seorang tukang yang dipekerjakan Pemilik Kost sedang mengecat kamar di sebelah kamar saya yang kira-kira, menurut pengakuan calon penghuninya, besok malam—yakni nanti malam—akan ditempatinya, saya mengutarakan maksud saya untuk mengecat pula tembok kamar kostan saya pada Pemilik Kost. Ia pun berinisiatif untuk membeli sekaleng lagi cat tembok dan mempekerjakan sang tukang satu hari lagi.
Saya naik busway menuju Matraman dan turun di Halte Matraman dan berjalan menuju Sevel Matraman. Di tempat inilah beberapa bulan lalu seorang lelaki yang tengah dimabuk cinta menulis sebuah puisi yang menurutnya romantis-melankolis:
CINTA ALETHEIA
Jakarta tua dan renta.
Mendung kelabu menebalkan kenanganku padamu;
Chairil pernah bilang, ‘mendung mempercepat kelam.’
Maka, puisi ini pun tercipta.
Pukul 06.04 petang, matahari tiada dan langit,
langit malu-malu di ketiak awan.
Entah kau terbang ke mana, ku lihat sebuah pesawat menembus kelabu.
Aku membayangkan langit terbelah dan engkau jatuh hidup-hidup
dari pesawat yang menebarkan nasib—seperti biarawati dalam Mr.Nobody.
Dan engkau jatuh hidup-hidup di hadapanku; tepat di hadapanku.
Mungkin sedikit lecet di kakimu yang memungkinkanku mengelus tungkaimu.
Atau jalanan di hadapanku memuntahkanmu dari salah satu taksi
yang terjebak macet.
Ini Jakarta dan 711 adalah persinggahan-persinggahan.
Kuharap kita akan sering singgah di ruangwaktu yang sama.
Aku tak hendak menyepakati waktutempat denganmu.
Engkau biarlah selalu adalah cinta monyetku; aku Lennier dan
kau Dellenku dalam Babylon 5.
Mungkin, kau juga boleh menjelma aletheia;
tak tersadari kapan menampakkan diri dan sedetik kemudian
menyembunyikan diri kembali.
Sesungguhnya, aku mencintaimu dengan cara yang sama sekali tak kusukai.

Tanpa nama, tanpa tanggal, tanpa tempat yang jelas, kusaksiskan puisi itu merana dan sia-sia, mati sebelum mampu merangkak di tempatnya dilahirkan.
Jalanan sedikit macet. Menghampiri Sevel Matraman sebenarnya didorong oleh kenyataan bahwa persediaan rokok di kantong menipis dan saya memang kepala batu pada segala nasihat tentang merokok yang dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin. Namun bukan hanya rokok yang tergenggam, melainkan turut juga sebuah roti, entah berjenis dan berlabel apa karena saya memang gagap dalam hal itu, yang mengingatkan pada peristiwa pencabutan gigi saya oleh seorang dokter perempuan bermuka masam di RS Carolus; terkadang seorang dokter memang menjadi lebih manis di rumah sakit dengan biaya mahal.
‘Saap!’ Keluarlah saya dari Sevel itu. Sesungguhnya tak ada efek bunyi pintu terbuka karena hampir semua Sevel, seperti banyak bangunan lainnya di Jakarta, menggunakan pintu dengan sistem sensor yang mana memungkinkan pemilik Kawan Lama menjadi orang terkaya kesepuluh di negeri Indonesia.
Jika anda pernah ke Sevel Matraman tentu anda tahu bahwa ketika berdiri di depan pintunya dan menghadap ke arah jalan raya maka anda akan menemukan parkiran di sebelah kanan anda dan kursi-kursi payung di samping kiri anda. Di depan anda jembatan penyeberangan TransJakarta beserta haltenya, di belakangnya anda akan melihat menjongkaknya Gedung Perwakilan Sumatra Selatan dan Grand Menteng, tempat biduanita Alga meninggal beberapa tahun lalu, dan kalau tak salah di antara deretan bangunan itu terdapat bangunan atau tempat bekas ‘Goethe’-nya Jerman Timur yang oleh S. Rukiah Kertapati dikatakan berbeda bentuk perjuangan kebudayaannya dengan di Indonesia kala itu karena “…dalam ‘Undang2 tentang Plan Tudjuh Tahun untuk pengembangan ekonomi nasional Republik Demokrasi Djerman dari th. 1959 hingga th.1965’ al. ditetapkan bahwa selama masa itu akan ditanamkan penanaman negara sebesar 690 djuta mark dan dibangunkan 12 rumah kebudajaan dengan kapasitet 9.000 tempat di-pusat2 industri dan 65 rumah kebudajaan dengan kapasitet 30.000 tempat di-kota2 ketjil dan daerah2 pedesaan…” (Harian Rakjat, 3 Juni 1961). Konon menurut Paman saya orang bisa kursus Bahasa Jerman dengan gratis di ‘Goethe’-nya Jerman Timur itu.
Namun, yang menjadi penting untuk cerita ini dari ke semuanya di atas ialah kursi-kursi payung di samping kiri saya. Ketika mata saya arahkan ke sana, semua kursi terisi penuh dan di atas meja-meja ada gelas-gelas kopi a la Sevel dan rerotian serta penganan lainnya. Namun tak ada satu pun orang yang tengah makan, minum, atau cuma sekadar menyalakan geretan. Orang-orang itu memandang saya keheranan, seakan menegor, “ga sopan banget sie ni orang.”
Saya tiba-tiba teringat, ini bulan puasa dan mungkin belum waktunya berbuka. Rokok yang sudah di bibir dan plastic pembungkus roti yang sudah sedikit dirobek beserta geretan hijau di tangan kanan menjelma strawberry di dalam sayur rumpu rampe; ah, sudahlah, anda pasti tak mengerti metafora itu!
Tanpa malu-malu, saya mencopot rokok dari bibir dan memasukannya ke kantong baju, roti yang masih aman dalam bungkusan plastic saya genggam sekenannya, geretan hijau tentu saja masuk dengan manis ke kantong celana sebelah kanan. Lantas saya sedikit membelalakan mata sambil sok-sokan berucap tanpa kata terlontar, ’astafiruloh’. Yah, begitulah sikap kebernasiban minoritas ‘geblek’ terpelajar di negara berkembang nan majemuk dengan pluralimse dan toleransi bertebaran hampir di semua bibir mass media. Sungguh berbeda dengan seorang lelaki tanggung asal Batak pengemudi mikrolet 35 Senen-Kampung Melayu yang dengan seenaknya menyulut sebatang Dji Sam Soe dan menenggak Mizone ketika penumpang sedang penuh-penuhnya pada pukul 12 siang hari yang sama.
Kita sampai di akir halaman A4 keempat dengan font 12 TNR berspasi double bersamaan dengan tegukan terakhir kopi saya. Itu berarti kita sudah menghabisi setengah dari jatah yang secara diam-diam diberikan mass media pada penulis cerpen. Saya tak mau pengasuh website di mana padanya saya akan mengirimkan cerpen ini akan memotong cerpen ini menjadi dua dan menaikannya secara bertahap. Karena saya sedang ingin menulis cerpen bukan cerbung, maka kejadian itu, jika benar terjadi, rasanya bagaikan boker bersamaan dengan pipis sekaligus di kloset jongkok pada lelaki. Maka, yang akan kita lakukan setelah ini adalah memampatkan cerita.
Malam harinya—tentu saja setelah roti yang saya beli di Sevel tadi sudah habis yakni semalam—saya menemukan kumpulan cerpen Utuy Tatang Sontani bertajuk Menuju Kamar Durhaka.
Keesokan harinya—yakni hari ini—peristiwa pengecatan kamar itu tak menunggu waktu lama untuk terjadi. Ketokan membahana di pintu kamar kostan membangunkan tidur tanpa mimpiku. Itu ternyata adalah Si Tukang yang juga terkadang menyambi sebagai tukang sol sepatu yang sedang berdoa agar rencana membantu bisnis kawannya membuka toko di Tangerang City sehabis Lebaran nanti terlaksana.
‘Ini barang-barang perlu dikeluarin apa gimana ni, Bang?’
‘Ga usah. Diketengahin ajah.’
Ketika memindahkan dan membereskan serakan barang-barang ke bagian tengah kamar itulah saya teringat kembali pada Menuju Kamar Durhaka yang semalam diketemukan di tengah-tengah bau kotoran kucing.
Sebagai tuan kamar yang baik tentu saja saya tidak membiarkan si tukang bekerja sendirian. Saya coba membantunya sebisanya, saya coba berbincang-bincang dengannya yang lebih mudah ketimbang membantunya sebisanya itu. Namun kegiatan mengecat yang memakan waktu hampir enam jam itu tentu tidak bisa hanya diisi dengan ngobrol-ngobrol dan membantu sekenannya. Saya sempat ke luar sebentar mencari makan dan juga berkirim sms. Salah satu sms yang paling menggoda adalah berita tentang telah terdownload secara penuhnya Session 4 Babylon 5 dari seorang kawan. Tapi saya cukup tahu diri untuk tidak membiarkan diri hanyut.
Setelah kenyang, ngobrol-ngobrol membasi, dan tak ada lagi yang bisa kubantu serta tak ada lagi sms yang menghampiri, saya pun mulai membolak-balik Menuju Kamar Durhaka. Tiba saya pada Paku dan Palu. Utuy berkisah tentang seorang tukang sol sepatu yang mengungsi ke desa di zaman revolusi fisik dan mengalami kesulitan lantaran tak ada sesiapa pun di desa yang membutuhkan jasa sol sepatunya.
Tak ada rokok ketika menulis itu sungguh menyiksa, Kawan. Ctrl + S lantas minimize!
Ah, Utuy bertemu dengan tukang sol sepatu yang kurang beruntung dari pada si abang yang tengah ngecat ini; ia masih bisa nyambi ngecat kamar kos dan ditawarkan pula membantu usaha bisnis kawannya. Namun bukan cerpen itu yang mendorong saya menulis cerpen ini.
Di dalam Mengarang, Utuy yang tengah sakit-sakitan ditawari majalah Mutiara untuk menulis tentang pengalamannya dalam hal mengarang. Utuy bahagia karena honor dari tulisan itu bisa digunakannya untuk menebus obat-obatan dari dokter. Namun, dokter menyarankannya untuk tidak bekerja keras demi kesehatannya—dan saran ini diikutinya—sehingga Utuy pun pergi menonton film Double Life di bioskop. Namun justru film itu memberinya inspirasi untuk menulis. Separoh film, ia tak lagi berkonsentrasi. Ia ingin cepat pulang ke rumah dan menulis.
Tiba di rumah, ia langsung menulis. Duduklah ia pada meja kerjanya yang berada di depan tempat tidur di mana istrinya dan anaknya yang berusia 13 bulan sedang tidur. Teguran istrinya yang mengulangi nasihat dokter tak diindahkannya. Utuy berpikir keras tentang peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya yang mengilhami penulisan naskah dramanya, Suling. Utuy mulai menulis. Namun tiba-tiba anaknya menangis. Utuy menulis demikian setelah peristiwa itu:
‘Bawa dia ke luar,’ kataku pada istriku.
Tapi kalau keinginanku itu sudah dilaksanakan istriku, tanganku tak sanggup lagi melanjutkan menulis. Pikiranku menyuruhku untuk membaca apa yang kutulis tadi.
Sekali dibaca tidak kerasa apa-apa. Dua kali dibaca terdapat kesalahan. Sementara itu istriku sudah kembali lagi membawa anak kami yang sudah berhenti menangis dan terus berbaring lagi di tempat tidur
Karena terpikir apa yang kutulis itu tak baik untuk permulaan karangan, kertasnya kulemparkan ke samping.

Hem, dengusku dalam hati. Pelajaran pertama, jangan pernah membaca sebuah tulisan fiksi sendiri yang belum jadi.
Setelah peristiwa itu, Utuy berusaha lagi menulis tapi kali ini ia memulainya dari tengah tulisan. Sedang pusing-pusingnya berpikir tentang kelanjutan dari apa yang tengah ditulisnya, anaknya itu menangis lagi. Utuy murka. Disuruhnya istrinya untuk kembali membawa ke luar anaknya, disertai pula makian pada anak itu dan juga makian pada istrinya. Ketika mereka sudah ke luar, Utuy tetap saja tak menemukan sesuatu yang berarti untuk ditulisnya. Karena ‘puyeng nan sebel’ dengan kemajuan yang tak berarti atas tulisannya dan juga bayangan honor yang bisa saja hilang diterpa angin, Utuy pun beranjak ke luar mencari inspirasi. Ia melihat istrinya sedang meninabobokan anak mereka yang sudah berhenti menangis di bangku di luar rumah. Utuy menuruni tangga, tak mengindahkan keduanya.
Udara dingin, Utuy menggigil. Ia pun beranjak masuk namun sebelumnya mampir dulu ke istri dan anaknya yang juga masih di luar. Istrinya berlinang air mata. Melihat itu, Utuy bertanya padanya:
‘Mengapa air mata itu?’ tanyaku.
‘Rela engkau menyuruh anak baru berumur 13 bulan ke luar rumah di larut malam?’ jawabnya.
‘Larut malam?’ tanyaku.
‘Ya, sekarang sudah jam satu.’
‘Tapi aku tidak menyuruh ke luar.’
‘Tidak menyuruh? Tidak ingat apa yang kau katakana? Itu tandanya engkau belum sehat, tapi engkau mencoba juga mengarang.’
‘Benar juga katanya,’ bisik suara dalam hatiku. Aku jangan mengarang dulu selama diam di rumah sempit! Tapi itu honorarium yang dijanjikan Mutiara bagaimana? Biar saja honorarium untuk ongkos-ongkos obat itu dibiarkan dulu?
Pusing dengan pertanyaan-pertanyaan itu, kupangku saja anakku, kutatap wajahnya yang tenang dalam buaian mimpi. Serasa-rasa hendak keluar airmataku, mengenang bahwa manusia yang baru berumur 13 bulan dan yang selama ini kukasihi itu barusan kusuruh ke luar rumah.
Tapi tiba-tiba aku tersenyum dan kalau aku menoleh kepada istriku, ia kulihat memandang aku dengan pandangan bertanya, ‘mengapa tersenyum?’
‘Ya,’ kataku gembira, ‘di saat tidak sehat seperti sekarang ini, akan kukarang saja yang enteng, yang mengajak aku tersenyum segar di dalam mengarangnya, biar badan terasa segar. Dan karangan ini sudah ada pula dalam kepalaku.’
‘Ya, yang enteng saja,’ jawab istriku mengiakan.
‘Tentu saja enteng,’ kataku lagi sambil tertawa geli digelikan ingatan terhadap apa yang akan kukarang, ‘sebab yang akan kukarang itu pengalaman barusan.’
‘Barusan?’ tanya istriku.

Dan saya pun mendapatkan pelajaran ke dua; janganlah menulis tentang langit bersih, lautan yang tenang, gelombang yang memecah karang jikalau di depan matamu saat ini adalah gang-gang kecil dengan selokan penuh nyamuk-nyamuk dan engkau tinggal di sebuah kamar pengap dengan tembok yang tak pernah dicat dalam jangka waktu empat tahun.
Ah, cerita tentang cerita Utuy ini akan coba kuketik ulang dan kusebarkan ke pada orang-orang. Sungguh menarik dan memang, seperti Utuy yang tersenyum geli, kita pun akan geli membacanya.
Kamar sudah selesai dicat. Setelah menunggu selama sejam untuk memastikan bahwa catnya sudah kering semua, saya pun kembali sibuk membereskan barang-barang ke tempatnya semula. Tak terpikirkan lagi niat baik untuk membagikan cerpen Utuy yang bagus ini pada orang lain. Setelah selesai dengan barang-barang ringan lainnya, tibalah pada meja komputer dan komputer. Berbeda dengan barang yang lain, untuk meja komputer dan komputer, saya merubah tata letaknya agar lebih banyak ruang kosong tersedia.
Benar saja. Setelah selesai merubahnya, kamar itu terlihat lebih lapang. Apalagi dengan dinding yang baru saja dicat sehingga putihnya bagai ‘sesuatu banget’, kamar saya terasa lebih asri dari sebelumnya. Saya pun menyalakan komputer, memencet Jet Audio Player untuk menambah semarak suasana kamar dengan musik,membuat kopi dan duduk di depan komputer. Ah, faktor letak dan suasana ruangan rupanya meremajakan umur komputerku. Dengan rokok tinggal sebatang, saya memandangnya dengan bahagia.
Tiba-tiba saya teringat pada cerpen Utuy tadi. Apa salahnya mengetik ulang cerpen itu dan mempublikasikannya entah di note-nya facebook atau di blog pribadi? Saya pun mengambil lagi buku Menuju Kamar Durhaka yang sudah saya susun rapih dengan buku-buku yang lain.
Namun mengetik ulang sebuah tulisan delapan halaman—anda harusnya setuju dengan saya—sungguhlah melelahkan dan membosankan. Maka, saya pun membuat cerita versi saya dengan cara atau teknik si Utuy tadi. Dan jadinya, inilah sebuah cerita yang saya sajikan pada anda. Tentu sebagai manusia yang tahu diri, haruslah saya katakana bahwa karya ini jauh dari kata sempurna—satu lagi sifat yang ‘ngehe banget’ sebenarnya.
Oh, ya. Membaca Utuy Tatang Sontani dan Selalu Sendiri memang bisa jadi ada hubungannya. Namun, judul di atas tidak memaksudkan hubungan seperti yang ada dalam kepala anda, kalau pun ada, karena yang dimaksud dengan Selalu Sendiri di sini adalah sebuah tembang dari Ambon yang kebetulan dapat giliran dimainkan oleh aplikasi jet audio tepat ketika saya hendak memulai tulisan ini.
Percayalah! Penjajah musik pop di wilayah Indonesia Timur adalah Ambon dan Manado.***
Rawasari, 1 Agustus 2012
Sumber: Indoprogress.Com 

Selasa, 06 Maret 2012

Sitor Situmorang, Sang Penyair Soekarnois

6 MARET 2012 | 14:22 | Hiski Darmayana*




Semangat dan konsisten dalam mempertahankan idealisme hingga usia senja. Begitulah kiranya sifat dan semangat juang dari putra Batak ini bila dideskripsikan. Ia adalah Sitor Situmorang, seorang penyair dan sastrawan yang telah melahirkan ratusan karya berbentuk puisi, sajak dan cerpen.
Beliau lahir pada tanggal 2 Oktober 1924 di Harianboho,Sumatera Utara. Ia dibesarkan hingga usia remaja dalam sebuah masyarakat dengan kultur Batak yang amat kental.
Minatnya terhadap dunia sastra berawal saat Sitor membaca buku Max Havelaar karya Multatuli. Ketika itu ia seorang remaja. Berbekal pemahaman bahasa Belanda yang cukup baik, ia pun menerjemahkan sajak Saidjah dan Adinda dari buku tersebut ke dalam bahasa Batak.
Melalu karya Multatuli ini pula kesadaran kebangsaan dan sikap anti imperialis makin meruncing dalam jiwa Sitor. Sitor sendiri merupakan anak dari Ompu Babiat Situmorang, salah satu pejuang anti kolonial Batak saat berkobarnya perang antara Sisingamangaraja XII dengan Belanda.
Soekarnois dan Tiongkok
Sebagai seorang penyair, Sitor sering digolongkan sebagai penyair atau punjangga angkatan 45, bersama dengan Chairil Anwar dan Sanusi Pane. Menurut Sitor, penyair angkatan 45 diilhami oleh semangat memberontak demi kemerdekaan.
Memasuki dekade 1950-an, Sitor banyak menciptakan karya puisi yang fenomenal, seperti yang terangkum dalam kumpulan puisi Surat Kertas Hijau (1954) dan Dalam Sajak (1955). Banyak pihak menganggap karya-karya Sitor banyak yang bernuansa nature dan diwarnai gaya sastra tradisional semacam pantun. Mengomentari hal ini, Sitor berucap : “Saya menggali tradisi lama karena saya terbentuk oleh tradisi itu. Sejak SMA yang terngiang di kepala saya adalah pantun-pantun..”.
Karya-karya sastra Sitor lainnya yang juga diterbitkan di tahun 1950-an, antara lain Wajah Tak Bernama (1955), Drama Jalan Mutiara (1954) dan cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956). Selain bergelut dalam dunia sastra, Sitor juga meniti karir sebagai wartawan. Ia pernah menjadi pewarta berita di berbagai media, seperti Harian Suara Nasional, Waspada dan Warta Dunia.
Keterlibatannya dalam dunia politik diawali ketika Sitor bergabung dalam Partai Nasional Indoenesia (PNI) dan kemudian diberi amanat untuk menjadi Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) di akhir dekade 1950-an . LKN merupakan organisasi kebudayaan yang berafiliasi pada PNI. Sejak saat itulah Sitor terlibat secara total dalam kancah perpolitikan nasional. Di masa Demokrasi Terpimpin, ia bersama LKN yang dipimpinnnya menjadi pendukung setia kebijakan Presiden Soekarno, khususnya di sektor kebudayaan.
Sikap politik yang ia ambil berpengaruh pula pada beberapa karyanya yang terbit di tahun 1960-an. Contohnya, puisi “Zaman Baru” yang ia ciptakan di tahun 1962. Puisi tersebut diciptakannya setelah ia bersama tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Rivai Apin, berkunjung ke Tiongkok. Sitor mengungkapkan kekaguman dan dukungannya bagi revolusi rakyat Tiongkok melalui “Zaman Baru”.
Dalam suatu wawancara dengan majalah Tempo pasca reformasi, Sitor mengemukakan alasan dukungannya terhadap Tiongkok ketika itu:
“Saya melihat Tiongkok sebagai bangsa yang menjunjung nasionalisme. Sebagai nasionalis aliran Soekarno saya melihat itu. Soviet tidak saya anggap sebagai proyek nasionalis karena budayanya lain dengan kita. Ada budaya Barat di sana. Sementara Tiongkok sejarahnya mirip dengan kita. Budaya mereka diinjak oleh imperialis, seperti kita.”
Perihal sikap politik pro Soekarno dan dukungannya terhadap Tiongkok yang ‘komunis’ membuat Sitor dikecam oleh sesama sastrawan dan seniman, terutama yang mengklaim diri sebagai kaum ‘humanis universal’ dan penjunjung kebebasan berkreasi. Namun, Sitor tetap pada pendirian politiknya sebagai pendukung Soekarno dan mengekspresikan sikap tersebut dalam puisi-puisinya. ”Makan Roti Komune”, ”Lagu Gadis Itali” dan ”Jalan Batu ke Danau” merupakan puisi-puisi yang ia ciptakan dalam situasi politik nasional yang semakin terpolarisasi menjelang tahun 1965. Sitor pun menerbitkan kumpulan esai politiknya, Sastra Revolusioner, di tahun 1965.
Polarisasi politik yang juga merambah lapangan budaya ketika itu turut pula melibatkan Sitor. Sebagai pimpinan LKN yang mendukung garis kebijakan Soekarno, Sitor bersama dengan kawan-kawannya di Lekra berpolemik dengan kaum sastrawan dan seniman ‘bebas’ yang kemudian menandatangani Manifes Kebudayaan (Manikebu). Sitor dan kawan-kawan menganggap Manikebu tak lebih dari tindakan politik yang disusupi anasir imperialis yang bertopengkan kebudayaan.
“Konflik tahun 1965 itu sangat dipengaruhi oleh situasi dunia akibat perang dingin Amerika Serikat dan Soviet. Amerika ingin Indonesia memilih salah satunya. Bung Karno tidak mau. Lalu karena Bung Karno didukung oleh komunis Indonesia, Bung Karno dicap komunis. Itu akal-akalan mereka saja. Padahal Bung Karno ingin berjuang dalam garis nasionalis. Dia menunggalkan perlawanan bahwa yang bukan nasionalis itu imperialis. Intelektual muda waktu itu tak setuju dengan strategi Bung Karno. Mereka dimanfaatkan untuk melawan Soekarno. Manikebu itu disusupi CIA. Kami mendukung Bung Karno karena ideologinya jelas: nasionalis. Lalu mereka bilang Bung Karno itu pengekor komunis. Kami balik menyerang, kalau begitu kalian antek-antek Amerika,” demikian penjelasan Sitor mengenai latar belakang konflik 1965 dan siapa sesungguhnya kelompok Manikebu itu.
Konsistensi Di Dalam Bui
Polemik antara LKN-Lekra dan Manikebu berujung pada pelarangan Manikebu oleh Soekarno di tahun 1964. Sitor berpendapat hal itu lebih dilatarbelakangi oleh konflik politik yang kian memanas pada masa itu dan bukan sekedar pemberangusan kebebasan berkreasi seperti yang selalu didengungkan tokoh-tokoh Manikebu. Hal ini diperkuat dengan adanya dukungan politik kelompok Angkatan Darat (AD) terhadap Manikebu.
“Saya menyayangkan peristiwa (pelarangan Manikebu) tersebut. Tapi waktu itu saya dalam situasi politik, suara saya adalah polemik politik. Saya memimpin Lembaga Kebudayaan Nasional dan anti-Manikebu. Dan bagi saya, sampai sekarang, penandatangan manifes itu isinya hanya “bunga-bunga” saja. Tapi intinya adalah perbuatan politik murni,” kata Sitor.
Klimaks konflik politik era Demokrasi Terpimpin ditandai dengan meletusnya tragedi Gerakan Satu Oktober (Gestok) 1965. Situasi pun berubah dengan cepat. Kekuatan Soekarnois dan komunis terpukul oleh kekuatan baru yang diberi label ‘Orde Baru’.
Sitor, yang menjadi bagian dari kelompok pendukung Soekarno, pun turut ‘disasar’ oleh rezim baru pimpinan Soeharto. Ia djebloskan ke penjara Gang Tengah Salemba di tahun 1967 tanpa proses peradilan. Delapan tahun lamanya ia mendekam di penjara. Selama itu pula ia tetap konsisten menjadi seorang Soekarnois tanpa ada maksud secuil pun untuk ‘cari aman’ dengan mengingkari pendiriannya.
Dia juga konsisten dalam berkarya. Selama dalam tahanan, Sitor berhasil menggubah dua karya sastra yang berjudul “Dinding Waktu” dan “Peta Perjalanan”. Pada tahun 1975, Sitor dilepaskan dari bui. Namun ia tetap dikenai status tahanan rumah hingga tahun 1976. Berbagai kesulitan hidup pun dialami oleh Sitor dan keluarga, seperti halnya mantan tahanan politik (tapol) lainnya di era Orde Baru.
Untuk menghindari tekanan politik lebih lanjut dari rezim Soeharto, Sitor memilih menetap di Paris, Perancis. Pada masa itu, negara-negara Eropa seperti Perancis dan belanda memang menjadi tempat tujuan para pelarian atau mantan tapol Indonesia masa Orde Baru, terutama yang terkait dengan peristiwa 1965. Di tahun 1981, Sitor pindah ke Belanda dan menjadi dosen di Universitas Leiden selama sepuluh tahun. Setelah itu, Sitor kembali berpindah-pindah tempat dari Perancis hingga Pakistan.
Sitor kembali ke Indonesia setelah kejatuhan Soeharto tahun 1998. Dalam berbagai forum dan interview dengan berbagai media di masa reformasi, ia tetap membenarkan sikap politik dan karya-karyanya yang menyokong kebijakan Soekarno pada tahun 1960-an. Sikap yang mengakibatkan dirinya menjadi tapol dan eksil di era Orde Baru. Seperti itulah konsistensi Sitor, sang penyair Soekarnois.
HISKI DARMAYANA, Penulis adalah kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumedang
Sumber: BerdikariOnline 

Minggu, 27 November 2011

Menonton Festival Teater Sekolah

Catatan Festival Ke-2 FoPSeT




Sebanyak 7 kelompok peserta tampil pada acara Festival Teater SLTA se Kab. Kebumen, yang dihelat hari ini oleh Forum Pekerja Seni Teater (FoPSeT) di Aula Gedung PGRI, Jl. Kaswari Kebumen. Ke 7 peserta itu masing-masing adalah Teater Mugo (SMA Muhammadiyah Gombong), Teater Flamboyant 75 (SMK Batiksakti 1 Kebumen), Teater Ijo (SMK Ma'arif 4 Kebumen), Teater Smanja (SMU Negeri Pejagoan), Teater Tetas (SMK Muhammadiyah Sempor), Teater Kelir (SMU Negeri Klrong), Teater Kumat (SMK Negeri 1 Kebumen).

Senin, 17 Oktober 2011

DKD, Pentingkah ?


Catatan Sarasehan DKD Kebumen

Tema revitalisasi fungsi Dewan Kesenian Kebumen menjadi perbincangan hangat pada Jum’at  (14/10) di aula Dinas Pariwisata. Sekitar 20-an pegiat seni daerah dari berbagai bidang seni ini berkumpul. Acara yang dihadiri pula oleh Ketua DKD (Dewan Kesenian Daerah) Kebumen, Basuki Hendro Prayitno, dibuka pada jam 14.08 wib oleh pegiat teater Pitra Suwita. Sedangkan pemandu sarasehan diampu Pekik Sat Siswonirmolo dari SRMB. Dan waktu 3 jam seperti tak cukup untuk acara sarasehan yang berubah mirip wahana curhat para seniman terutama bagi para pegiat seni tradisi yang rata-rata berusia paruh baya.

Harapan bahwa pemerintah harus memberikan perhatian pada kehidupan berkesenian di daerah ini begitu menguat kemunculannya. Sarasehan yang semula dipersiapkan untuk sharing pemikiran dan ide-ide para pegiat seni, pun jadi lebih mereview perjalanan kepengurusan DKD yang dinilai mandek. Menguatnya harapan yang lebih menyandarkan pada peran dan fungsi DKD ini bahkan membuat sang moderator tak bisa berbuat banyak. Secara struktural DKD telah dipandang semata sebagai manifestasi pemerintah yang harus memberikan perhatian lebih pada aspek “pembinaan” dan pengembangan berkesenian di Kebumen.

Perhatian yang dituntut dari para pegiat seni, terutama kalangan seniman tradisi pun jadi bermacam bentuknya. Mulai dari aspek legalitas kelembagaan DKD, support pendanaan dan sarana infrastruktur seperti Taman Budaya atau Gedung Kesenian yang memang belum dimiliki daerah ini. 

Memahami Persoalan Mengatasi Kemandekan


Beberapa seniman muda justru mengemukakan pemikiran yang lebih mengarah pada kemandirian. Tanpa memungkiri kebutuhan tersedianya pusat aktivitas seperti Gedung Kesenian, sehingga dapat mengurangi problem-problem berkesenian. Namun ada yang lebih substansial menyoroti pentingnya komunikasi lintas bidang dan bagaimana menumbuhkan semangat kolektivisme; sebelum berfikir untuk "re-organisasi" kelembagaan. Beberapa pegiat seni justru menguatkan fakta empiris bahwa ada atau tidak ada dukungan pemerintah, proses berkesenian tetap lah jalan. 

Urgensi memahami persoalan dalam kesepahaman bersama, justru lebih penting sebelum berfikir untuk membentuk kembali DKD. Karena jika tidak, maka akan terjebak kembali pada lubang yang sama.         

Kamis, 29 September 2011

Menyoal "disfungsi" Kelembagaan DKD

Rabu, 28 September 2011. Belasan pegiat seni Kebumen menginisiasi pertemuan dengan Ketua DKD Kabupaten Kebumen di Sekretariat Sekolah Rakyat MeluBae (SRMB), Jl. Pemuda, Gg. Melati 21B, Kebumen. Acara yang pada awalnya dikemas sebagai “Syawalan” dan Dialog Budaya ini, merupakan upaya lanjut pertemuan seniman teater se eks Karesidenan Kedu di Sanggar Matahari, Purworejo (25/9) lalu. Pertemuan Purworejo yang diprakarsai Komite Teater – Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Thomas Haryanto Soekiran, pada prinsipnya melahirkan komitmen bersama seniman teater di wilayah eks Karesidenan Kedu. Yakni Kebumen, Wonosobo, Temanggung, Magelang dan Purworejo sendiri. Komitmen yang dibangun, berupa kesepahaman perlunya Arisan Teater se eks Karesidenan Kedu.

Sedangkan dalam pertemuan 3,5 jam Dialog Budaya SRMB yang menghadirkan Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Kebumen,  pada akhirnya memang menjadi ajang perbincangan menyoal peran dan fungsi kelembagaan dari DKD.

“Sebagai Ketua DKD, saya minta maaf karena selama kepengurusan saya, DKD menjadi impoten”, kata Basuki Hadi Prayitno, mengawali sambutannya dengan nada prihatin dan jujur. 
Perihal “disfungsi” kelembagaan DKD Kab. Kebumen ini juga telah lama menjadi keprihatinan tersendiri bagi para pekerja kesenian daerah yang belum memiliki gedung kesenian ini.

Hadir pada malam Dialog Budaya SRMB, beberapa pengajar dan pegiat seni diantaranya Sukarjo, pegiat dan pelatih Seni Musik Tradisional dan Kerawitan. Hadir pula pegiat teater Putut AS, Syahid Elkobar, Pitra Suwita, Pekik Sasinilo. Pegiat Musik Puisi Nurokhim dan Toro Mantara, serta penyair Aris Panji Ws yang dalam bulan ini menerbitkan 2 antologi puisinya bersama Masjid Raya Publishing.

Dalam dialog ini juga disepakati perlunya tindak lanjut dengan tema Mengkonsolidasikan DKD melalui pertemuan berikutnya yang melibatkan praktisi dan pegiat seni lebih luas lagi. Semua ini, menurut pegiat SRMB, Pekik Sasinilo, akan dikonsultasikan dengan fihak Pemerintah dan Lembaga Legislatif daerah.

Kamis, 22 September 2011

episode "Hidayah"


Ratih TV - SRMB Project of BAHIL #2005