This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 23 Juni 2019

Cerpen | Di Manakah Kubur yang Tepat buat Mayatku Ini?


Oleh: Bonari Nabonenar
23 Juni 2019, 15:48:53 WIB

Ilustrasi: Budiono/Jawa Pos

MENJADI guru sekolah dasar adalah cita-cita Sutragi sejak ia masih duduk di bangku kelas rendah. Sekolah dasar. Sebab, hanya itu profesi paling terhormat yang ia lihat. Sutragi kecil tidak pernah bertemu pegawai bank, dokter, pegawai kecamatan, dan lain-lain. Di Desa Jumawut, tempat Sutragi lahir dan menamatkan sekolah dasarnya, ada tiga orang pegawai negeri yang bukan guru. Mereka masing-masing bekerja sebagai: kuli ratan, mandor ratan, dan seorang lagi mandor kawat. Tetapi, guru tetaplah profesi dambaan Sutragi. Ia lahir dari rahim perempuan yang kemudian menjadi guru.

Orang tua biasanya menginginkan anak-anaknya menjadi orang dengan capaian-capaian lebih dari yang mereka dapatkan. Tetapi, tidak demikian orang tua Sutragi.

Ibu Sutragi seorang guru sekolah dasar, yang hanya mengidamkan anaknya menjadi guru. Guru yang mendapatkan posisinya dengan terlebih dulu membuktikan lulus dari sekolah pendidikan guru. Bukan seperti dirinya, yang menjadi guru karena keberuntungan. Sebagai salah seorang siswi yang menonjol di kelasnya, pak kepala sekolah menganjurkannya segera mengikuti kelompok belajar paket agar mendapatkan ijazah setara SMP. Lalu meneruskan kursus pendidikan guru sambil menjadi guru sukarelawati.

Ibu Sutragi memang diuntungkan situasi yang baru saja merenggut nyawa suaminya. Dalam situasi yang merenggut nyawa suaminya itu, negara kehilangan banyak tenaga guru. Maka, dibutuhkan guru-guru baru sebagai pengganti mereka. Kebutuhan itu tidak akan segera dapat dipenuhi jika harus menunggu mereka yang secara reguler lulus dari sekolah pendidikan guru.

Sejak mampu memahami persoalan di sekitarnya, Sutragi menyaksikan betapa profesi guru sedemikian dihormati di desanya. Beberapa guru baru datang dari kota atau dari desa lain. Ada yang baru berstatus sukarelawan. Ada pula yang sudah mengantongi SK sebagai pegawai negeri. Melalui rerasan para orang tua, Sutragi tahu betapa banyak yang berharap menjadi mertua guru-guru baru. Yang masih lajang itu. Tak peduli sudah berstatus pegawai negeri atau masih sukarelawan.

Sejak sekolah dasar, dari tahun ke tahun Sutragi selalu tercatat sebagai anak paling pintar. Di kelasnya ia selalu juara. Kepintarannya tidak hanya dicatat di dalam buku rapor, tapi juga menjadi pembicaraan di kalangan guru. Lalu sampai pula ke telinga orang tua Sutragi. Mereka bangga. Orang tuanya semakin berharap kelak Sutragi bisa menjadi guru.

Lulus sekolah dasar dengan nilai terbaik, Sutragi tidak dapat melanjutkan studi ke sekolah negeri. SMP negeri hanya ada di kota kabupaten. Jarak dari desanya hampir 50 kilometer dan tidak ada angkutan umum setiap hari. Andai waktu itu sudah ada pun, pasti akan terlalu mahal. Akhirnya, sebagai lulusan terbaik sekolahnya, Sutragi hanya bisa masuk SMP swasta. Itu pun jaraknya belasan kilometer dari desanya. Tidak ada pula angkutan umum untuk menjangkaunya. Tetapi, ada kerabat jauh yang mau menampung Sutragi. Selain dibebaskan dari kewajiban membayar uang kos, Sutragi masih bisa menumpang makan pula. Syaratnya, di luar jam belajarnya Sutragi harus membantu bekerja di rumah, di toko, kadang juga di sawah atau di ladang. Cukup berat untuk seorang anak lulusan sekolah dasar, tetapi Sutragi melakukan semuanya dengan senang hati. Demi cita-citanya.

Lagi-lagi, Sutragi lulus dari SMP swasta itu dengan nilai gemilang. Tetapi ternyata masih belum cukup untuk menembus SPG negeri. Sepertinya sebagian besar warga kabupaten bercita-cita menjadi guru. Seperti Sutragi. Sekolah pendidikan guru negeri hanya ada satu di kabupaten. Kelas paralelnya bisa sampai delapan atau sembilan. Hitung saja, kalau satu kelas sekurangnya dihuni 40 orang siswa, berapa kalau dikalikan delapan atau sembilan? Itu belum yang swasta. Ada empat SPG swasta di kabupaten. Saking kuatnya cita-cita untuk menjadi guru, banyak lulusan SMP yang potensial menembus SMA negeri malah lebih memilih masuk SPG swasta. Salah satu contohnya: Sutragi. Ia masuk salah satu di antara SPG swasta itu.

Lagi-lagi, Sutragi keluar sebagai lulusan terbaik. Tetapi, itu bukan sepenuhnya kabar baik. Sebab, atas nama peningkatan mutu pendidikan, pemerintah merasa lulusan SPG tidak lagi kapabel untuk menjadi tenaga guru di sekolah dasar. Maka, didirikanlah wadah baru untuk mendidik para calon guru sekolah dasar. Namanya PGSD (pendidikan guru sekolah dasar), ditempelkan di institut keguruan dan ilmu pendidikan.

Ilustrasi: Budiono/Jawa Pos

Agar dapat menjadi guru sekolah dasar, para lulusan SPG harus menempuh jenjang pendidikan lanjutan, sekurang-kurangnya PGSD. Atau boleh langsung menempuh program sarjana. Tetapi, tidak ada keistimewaan bagi para lulusan SPG itu. Untuk dapat masuk PGSD, mereka harus mengikuti ujian, bersaing dengan para lulusan SMA, SMEA, dan yang sederajat. Banyak lulusan SPG yang memilih berhenti. Lalu memasuki dunia kerja seadanya. Mereka pada umumnya berasal dari keluarga kurang mampu.

Sutragi masih tergolong lumayan. Ibunya masih mendapatkan gaji setiap bulan. Walau bukan lagi seorang guru. Bersama sekian banyak guru lainnya di seluruh kabupaten, ibu Sutragi dipindahkan ke bagian administrasi di kantor dinas yang ada di kota kecamatan masing-masing. Beberapa item tunjangan pendapatannya sebagai guru pun hilang. Lagi pula, setiap hari harus pergi-pulang dengan menumpang kendaraan umum. Itu berarti gajinya yang tidak seberapa mesti dipotong ongkos transportasi. Tetapi, ada tambahan penghasilan lumayan signifikan. Pohon-pohon cengkih di pekarangan mulai berbunga. Itulah yang kemudian sangat menolong Sutragi untuk berangkat mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi yang mencetak calon guru.

Lulus tes saringan, Sutragi diterima sebagai mahasiswa baru. Ia senang bukan main. Ibunya menangis seharian. Sedih dan gembira. Sedih karena membayangkan ongkosnya. Walaupun perguruan tinggi negeri jauh lebih murah dibanding swasta. Itu akan tetap berat baginya. Tetapi, siapa yang tidak merasa bangga? Kelak Sutragi akan menjadi orang pertama yang lulus sebagai sarjana di desanya. Dari perguruan tinggi negeri pula. Sutragi tidak akan menjadi guru SD atau SMP. Tetapi guru SMA. Atau SPG.

Tanaman cengkih yang mulai berbuah pada musimnya sangat menolong. Ditambah hubungan sosial orang tuanya yang bagus dengan para kerabat dan tetangga, Sutragi tidak pernah mendapatkan penolakan ketika berkirim surat untuk dikirimi tambahan uang. Orang tuanya harus pula jungkir balik gali lubang tutup lubang. Mungkin itu harga yang layak untuk sebuah cita-cita dan kebanggaan.

Setelah menyelesaikan KKN dan praktik mengajar, Sutragi menyempatkan pulang kampung. Menikmati musim liburan. Sekaligus menengok orang tuanya. Ia merasa akan membawa kabar baik bagi seluruh keluarganya. Kuliahnya akan kelar sebentar lagi dan gelar sarjana pun akan disandangnya. Tetapi, begitu sampai di rumah, ia mendapati suasana yang aneh. Wajah orang tuanya tidak berbinar-binar seperti sebelumnya setiap kali ia datang dari kota.

Setelah makan, malam itu ibu Sutragi membuka pembicaraan. Dengan suara pelan, ”Jangan kaget, ya Nak? Ini kabar buruk buat kita.”
Sudah diminta untuk tidak terkejut, Sutragi tetap saja terkejut.
”Ada apa, Bu?”
”Ibu sekarang sudah pensiun.”
”Oh, bukankah seharusnya masa kerja Ibu masih sepuluhan tahun lagi?”
”Orang menyebutnya pensiun dini, Nak. Tepatnya dipensiunkan dini. Ada peraturan baru. Harus begitu. Ya, kita tinggal terima saja.”
”Memang kenapa, Bu?”
”Sudahlah, Nak. Ibu kan sudah tua. Sudah lelah. Tetapi, kamu …?”
”Ada apa denganku, Bu?”
”Kabarnya, negara juga telah mencatat namamu, beserta ribuan orang lain sebayamu, sebagai orang-orang yang tidak akan diterima menjadi pegawai negeri.”
”Oh! Lalu dasarnya apa, Bu?”
”Dasarnya ya peraturan itu. Peraturan pemerintah atau undang-undang, persisnya ibu tidak tahu.”
”Loh?”
”Ini berkaitan dengan almarhum ayahmu.”

Sutragi kini mulai paham. Ia lalu terdiam. Membongkar ingatan. Memunguti angan-angan. Yang berserakan. Tak keruan. Dilihatnya berjuta-juta anak dilahirkan serentak. Dari rahim kemarahan. Yang tampil kemudian di permukaan ingatannya ialah sosok gelandangan nyaris sarjana. Yang ia pergoki di salah satu sudut alun-alun kota. Sedang bermain-main dengan kunang-kunang. Bersama seorang gadis yang manja. ”Jangan-jangan aku telah bertemu dengan diriku sendiri. Di waktu yang telah lewat itu!”
Lalu tahun demi tahun lewat. Sebagai malam gelap. Di sanalah sesosok gelap yang lebih pekat daripada malam kadang berjalan tegap. Kadang lunglai. Atau menggelepar di sudut alun-alun kota. Lalu bangkit menggendong mayatnya sendiri. Dan mengatakan kepada semua orang, ”Aku sudah mati!” Kalau ia ditanya, jawabnya hampir selalu, ”Aku sudah mati!”

Sesekali justru berupa pertanyaan balik, ”Di manakah kubur yang tepat buat mayatku ini?” Tak peduli, tentang apa pun pertanyaannya. Hanya dua kalimat itu yang dapat diucapkannya untuk keperluan apa saja. Di warung nasi kadang ia mengangsurkan dirinya dan berkata, ”Aku sudah mati!” Lalu ia dapatkan sebungkus nasi. Kalimat itu pula yang ia kemukakan untuk mendapatkan sebatang rokok. Ia bahkan sudah lupa bahwa ia punya nama: Sutragi. (*)

Trenggalek, 2019
BONARI NABONENAR, Menulis cerita pendek dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Dua buku cerpennya yang telah terbit: Cinta Merah Jambu (2005) dan Semar Super (2006).

Editor : Dhimas Ginanjar

Sabtu, 01 Juni 2019

Repertoar Lintas Generasi


1 Juni 2019 - 23:58 - ap


Meski tak keseluruhannya bisa hadir, namun para pendiri, pegiat serta pendukung komunitas SRMB (Sekolah Rakyat MeluBae) berkumpul pada Sabtu (1/6) di tempat dimana komunitas pembelajar ini didirikan 16 tahun silam. Komunitas pegiat seni, sastra dan teater yang semula ‘hanya’ berupa majelis pembelajaran bersama, sebelum akhirnya bernama SRMB ini; menggelar acara buka puasa bersama untuk yang kedua kalinya.

Gelaran sore hingga malam itu, juga gelaran serupa sebelumnya, menjadi momen yang menarik. Karena diikuti pula oleh “angkatan muda” komunitas ini, yang juga memiliki latar aktivitas berkesenian sendiri; terutama pada bidang tari. Rupanya ketertarikan anak milenial yang nampak antusias mengikuti diskusi informal yang difasilitasi dalam rangka buka puasa bersama, lebih didorong oleh kesadaran kolektif pentingnya saling belajar dalam kebersamaan.

Persepsi kebersamaan demikian ini terbentuk karena beberapa diantara anak milenial ini memang telah terlibat dalam proses sebelumnya bahkan kemudian merintis kelompok pembelajaran seni tersendiri. Sedangkan kelompok “angkatan lama” yang absen dari gelaran sore itu adalah kelompok seni pernafasan yang pernah intens pada separuh perjalanan yang usai terlampaui.

Di tengah pasang surut tradisi berkeseniannya pun, SRMB telah kehilangan salah satu mata rantai kegiatannya, yakni tarekat spiritual yang dijalankan di wilayah pesisir desa Jagasima; berdekatan dengan bedhahan muara sungai Lukulo. Suatu lokasi yang dijadikan ‘laboratorium alam’ komunitas ini, dimana selama 4 tahun terakhir orang-orang menanam investasi untuk usaha tambak udang yang bertebaran petak-petaknya.

Dianggap mati suri

Jargon “Sekolah mBayar Karep” yang menjadi pomeo dasar pendirian SRMB memang selalu berhadapan dengan tantangan pada dimensi waktu sepanjang perjalanannya. Tak terkecuali bagi ‘tuan rumah’ Pitra Suwita yang menilai kemunculan greget berkesenian kalangan milenia sebagai jawaban terhadap problem regenerasi pelaku seni.
“Saya senang bergabungnya milenia di tengah persiapan repertoar dangsak yang tengah direncanakan”, sambut Pitra.
Dangsak (cepet alas, tongbreng) adalah salah satu cabang seni topeng tradisi yang dianggap sebagai icon seni khas kebumenan, pernah menjadi obyek riset dan pengembangan di kalangan para pegiat relawan Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen. Dalam upaya ini, DKD telah melakukan kajian dan bahkan pengembangan naratif dengan metode kolaborasi yang menggabungkan ketoprak dengan dangsak.

Pekik Sat Siswonirmolo, Ketua Umum DKD yang juga terbilang sebagai pendiri SRMB bersama 13 perintis lainnya, merespons bergabungnya milenia dalam proyek repertoar dangsak sebagai bagian dari opsi pembaharuan. Pekik yang menulis lakon Reksa Mustika Bumi berharap SRMB tak dianggap telah menemui ajalnya. Faktanya, secara personal para pamong dan pegiat SRMB tetap istiqamah berkesenian, diantaranya dengan membuka kelas musik, pantomim, baca puisi; terutama bagi kalangan anak-anak.

Di sisi lainnya, dinamika pasang-surut berkesenian, selain merupakan resiko dalam berkomunitas, juga merupakan tantangan bagi keberkelanjutannya.
“Saya berharap ide repertoar dangsak tak berhenti sebatas gagasan”, kata Daryono Cengkim, yang dalam proyek ini ketiban sampur sebagai ‘kepala sekolah’, didampingi pecarikan Dodi “Dodotiro” Suryo Handaru.

Sebuah Repertoar

Sebuah repertoar yang menempatkan tradisi cepetan atau dangsak sebagai basis eksploran memang tengah dipersiapkan. Ini menjadi perekat baru dalam proses produksi pertunjukan berikutnya. Keterlibatan angkatan muda milenia bakal menjadi rona tersendiri, selain dukungan baru dari Jatmiko Krisna Jati dan Bambang Indrajeet. Keduanya memang telah memberikan sokongan partisipasinya dalam proses kolektif sejak sebelumnya, terutama pada pentas drama anekdot “Jago Tengsiang”, proyek pembelajaran batu akik serta penerbitan buku antologi puisi.

Menurut keduanya, masuknya 9-10 milenia: Wiwied, Arum, Afdol, Selsa, Mita, Shelvi, Anjun, Valen, Randy dan Ivan; dalam proyek repertoar berikutnya bakal menjadi momentum pertunjukan lintas generasi SRMB. Proyeksi tentang repertoar ini juga didukung Darmawan “Dalwan” Riyadi, Toro Mantara, Oni Suwita, Sugeng Jon Carlo, Rusmiati, Ary Susanto, Farida Tan, Badiyo Sriyono, Sutardjo, Dono Suwarso, Darto Badarbesi, Soni Wijaya, Ahmad Nurohim, BY Handoko, Indriotomo Brigandono, Aris Panji dan lainnya.

Sehingga kelahiran pertunjukan bersama lintas generasi ini memang layak ditunggu.. [ap]

Kamis, 02 Mei 2019

Soewardi

  • Cuplikan dari ‘Bahan Ajar Pembaharuan Pendidikan Sejarah, Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) dan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI)

Foto: Soewardi berpakaian penjara berdiri di tengah, sekeluarnya dari penjara, 1920. (koleksi: Taman Siswa)
"Keluar dari penjara, aku butuh waktu sejenak untuk memulihkan penyakit eksimku. Tidak banyak kegiatan yang aku lakukan, selain kembali membantu kangmasku mengurus sekolah Adhi Dharma sambil tak henti-hentinya aku memikirkan cara-cara yang lebih jitu untuk membebaskan bangsaku dari kekuasaan kolonial. Aku pikir lebih sulit berjuang sendirian membebaskan bangsaku dari penindasan kolonial. Akan lebih cepat mengusir kaum kolonial dari negeri Hindia ini kalau bangsaku sendiri terbuka pemikirannya untuk bersama-sama berjuang. Bangsa ini harus dibangunkan kesadarannya terlebih dahulu.
Pikiran-pikiranku tentang perjuangan bangsa ini sering aku sampaikan dalam pertemuan pakempalan (perkumpulan) Seloso Kliwon. Perkumpulan ini dibentuk atas gagasan para priyayi kerabat keraton, terutama Pangeran Soeryomentaram. Putra Sri Sultan Hamengkubuwono VII itu sekaligus menjadi ketua Perkumpulan. Raden Mas Soetatmo Soerjokoesoemo, dari pengurus besar Boedi Oetomo yang mewakili organisasi di Volksrad, adalah anggota yang aktif Perkumpulan Seloso Kliwon, di samping kangmasku Soeryopranoto dan beberapa priyayi lain, termasuk aku.
Perkumpulan Seloso Kliwon awalnya dibentuk untuk membahas pergerakan Ngelmu Bejo (Ilmu Bahagia) yang digagas kedua tokoh religius Raden Mas Soetatmo atau lebih sering kami sapa Ki Ageng Soetatmo dan Pangeran Soeryomentaram. Aku kenal Ki Ageng Soetatmo sebagai seorang religius kejawen yang budistis. Sedangkan Pangeran Soeryomenataram, seperti ayahku, adalah seorang religius yang menekuni ajaran hinduisme dan Islam kejawen. Ajaran utama dari Ngelmu Bejo (Ilmu Bahagia) adalah mangayu-ayu saliro, mangayu-ayu bangso, mangayu-ayu manungso (membahagiakan diri, membahagiakan bangsa, membahagiakan sesama). Tak sedikit orang menganggap perkumpulan Seloso Kliwon adalah kelompok theosofis. Tidak sedikit pula orang menilai perkumpulan Seloso Kliwon merupakan gerakan kaum abangan.
Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Ajaran Ngelmu Bejo bagiku adalah spiritualitas, terang cahaya yang dipakai untuk melihat, merefleksikan keadaan nyata diri sendiri dan keadaan bangsa ini. Karena itu topik pembahasan tidak hanya persoalan yang berkaitan dengan moral, spiritual. Tetapi Seloso Kliwon juga membahas soal keadilan, kesejahteraan bangsa pribumi, soal sosial politik. Pembahasan soal politik pun tidak hanya pada batas kekuasaan pemerintah kolonial. Lebih luas dan lebih mendalam Seloso Kliwon juga membahas keadaan sosial politik, ekonomi dunia setelah selesai Perang Dunia pertama.
...
Menurutku ajaran Seloso Kliwon yang sering dibahas Pangeran Soeryomentaram maupun Ki Ageng Soetatmo merupakan dasar pendidikan yang sangat kokoh, sama kokohnya dengan prinsip-prinsip dan gagasan para tokoh pendidikan Eropa dan negara-negara lain yang pernah aku baca dan aku pelajari semasa aku di pembuangan. Dari pengetahuan yang kudapat dan pengalamanku menjadi jelas bahwa pendidikan sudah semestinya berazaskan kerakyatan dan peradaban manusia sebagai pusat semesta. Karena itu pemikiran dari segala usaha pendidikan harus didasarkan pada kesadaran demokrasi dan sikap kepemimpinan.
Mengenai sikap kepemimpinan menurutku sudah jelas seperti cita-cita Seloso Kliwon yang ingin mendorong setiap orang berusaha mencapai kebahagiaan. Demikian juga halnya pendidikan Taman Siswa diselenggarakan supaya setiap putra bangsa, setiap anggota bangsa secara merdeka menumbuhkan kecakapannya memimpin dirinya sendiri, memimpin bangsa dan memimpin sesamanya."
source: Alit Ambara 

Selasa, 30 April 2019

Hegemoni Teks Dan Arogansi Ilmiah Lewat Buku-Buku


IQBAL AJI DARYONO - Selasa, 30 April 2019


Literasi itu sikap mental. Itulah yang kemudian saya percaya. Sikap literate bukan sesederhana sikap mau membaca teks, apalagi sekadar mau membaca buku. Literasi adalah sikap rakus akan pengetahuan, sekaligus sikap berusaha memahami pengetahuan dengan holistik dan komprehensif, dari beragam sudut pandang, dan proses pemahaman itu dijalankan dengan kritis bahkan skeptis.

Sadarkah Anda bahwa kita ini terlalu mengagung-agungkan buku? Saya tiba-tiba memunculkan praduga itu justru ketika kemarin ingin merayakan Hari Buku Sedunia 23 April. Ini kutukan yang sungguh tidak mengenakkan.

Suatu ketika, saya dikontak oleh seorang kawan, sebut saja namanya Mawar. Mawar yang sedang kuliah pascasarjana itu menanyakan beberapa hal kecil terkait kubu konservatif dan kubu liberal di Muhammadiyah.
Setelah obrolan sana-sini, saya malah menyadari bahwa dia belum cukup bisa membedakan antara gerakan Tarbiyah (yang mewujud secara politik di Indonesia menjadi Partai Keadilan Sejahtera), Salafi, dan Hizbut Tahrir.

Jadi, ada sebuah kalimatnya yang kira-kira menyatakan bahwa kelompok PKS dengan dukungan dana dari Arab Saudi berjuang mendirikan khilafah.
Para mantan anak rohis pasti paham, ada masalah dalam pernyataan tersebut. PKS termasuk jaringan transnasional Ikhwanul Muslimin. Mereka bukan underbouw Arab Saudi. Yang ngegrup dengan Saudi itu kelompok Salafi, dan kelompok itu sangat tidak suka dengan Ikhwanul Muslimin.
 Belum lagi soal khilafah. Kampanye khilafah yang selalu kita dengar secara terang-terangan itu dijalankan oleh Hizbut Tahrir, bukan PKS. Begitu gambaran simpelnya, meski peta turunannya bisa lebih rumit lagi.
“Lho, tapi di buku berjudul Anu, disebutkan begitu, Mas. Ada buku yang mendukung pernyataan Mas Iqbal tidak? Apa judulnya?” sambar Mawar.
Saya menjawab tidak. Saya belum pernah membaca buku yang sesuai dengan pandangan saya itu. Tapi, saya tahu bahwa buku yang dibaca Mawar itu salah. Basis bantahan saya atas buku bacaan Mawar itu adalah pengalaman dan pergaulan.

Saya sendiri mantan anak Tarbiyah, dan dari pandangan resmi para murobbi (guru) saya di Tarbiyah, saya tahu bahwa mereka juga memendam rivalitas tertentu dengan salafi dan HTI. Selain itu, saya pun punya beberapa teman salafi dan HTI. Dari segenap pernyataan mereka, saya tahu pasti bahwa kalimat dalam buku yang dibaca Mawar itu ngawur.
 Pendek kata, ketiga kelompok itu bukan entitas tunggal sebagaimana sekilas digambarkan dalam buku yang dibaca Mawar.
“Oh, kalau tidak ada sumber tertulisnya, aku tidak bisa menggunakan argumen Mas Iqbal untuk membantah buku yang aku baca itu, Mas”, sambung Mawar.
Saya tercenung.

***

Jadi, urusannya hanya soal buku dan bukan buku? Di titik ini, saya disodori realitas politik kebudayaan yang absurd: bahwa batas antara benar dan salah ditetapkan semata-mata oleh tulisan. Sebuah pernyataan yang saya yakin itu benar dan berbasis pengalaman konkret dianggap tidak punya kekuatan apa-apa hanya karena ia tidak tertulis dan tidak dibukukan. Adapun pernyataan yang amat sembrono serta merta diposisikan ilmiah hanya karena ia diketik lalu dijilid sehingga berbentuk buku.

Imajinasi saya pun menjadi liar. Sekarang, bagaimana kalau saya mengatakan bahwa Republik Indonesia didirikan oleh pasukan alien dari Planet Blubblubblub, lalu pernyataan itu saya ketik, saya print, kemudian saya jilid? Apakah serta-merta ia menjadi berkualifikasi ilmiah? Bukankah perbedaan antara buku dan bukan buku hanyalah di soal format fisik belaka?
Jika ya, apakah saya bisa mengatakan:
 “Heh, jangan asal mencela teori saya atas alien Planet Blubblubblub! Kalau mau membantah, bantahlah dengan buku! Buku dibalas buku! Tulisan dibalas tulisan!” Apakah akan semulia itu klaim historis saya atas Indonesia, hanya karena ia saya cetak dan saya jilid?
“Sembarangan! Perbedaan buku dan bukan buku ya bukan cuma di soal jilidan, lah! Ada cover, ada nama penulis yang jelas, ada nomor ISBN! ISBN itu diberikan oleh Perpustakaan Nasional, Bung! Jadi buku yang punya ISBN jelas diakui oleh lembaga sekelas Perpustakaan Nasional!”
Hehehe. Saya mantan pekerja buku, dan pernah bertahun-tahun menjalankan usaha mencari nafkah dengan menerbitkan dan menjual buku-buku. Saya pernah menerbitkan buku mulai yang bertema serius, sampai sekadar kumpulan humor. Saya juga punya banyak teman seprofesi yang waktu itu menerbitkan buku kumpulan SMS lucu, kumpulan kisah-kisah misteri yang tidak jelas sumbernya, yang kalau di zaman internet ini Anda temukan pasti Anda tak akan sudi membacanya.

Apakah Anda kira buku-buku sampah semacam itu tidak punya ISBN? Ya jelas punyaaaa! Cari ISBN itu perkara gampang, dan pihak Perpustakaan Nasional tidak berurusan sama sekali dengan isinya.

Lantas, apa yang terjadi sehingga sekarang ini semangat literasi melulu cuma dilekatkan pada buku-buku? Bagaimana nasib sumber-sumber pengetahuan selain buku, yang seakan-akan langsung ambruk martabatnya di hadapan buku-buku?

***

Ada cerita yang lain lagi. Dalam satu diskusi tentang literasi, kami berbincang tentang betapa tingginya marwah teks. Dengan teks, dengan catatan-catatan tertulis, setiap produk pengetahuan bisa senantiasa kita periksa, kita uji akurasinya, kita benturkan dan kita verifikasi bersama dalam sebuah skema dialektika, dan dari situlah teks menemukan kejayaannya.

Seorang anak muda mendebatnya.
 “Mohon maaf, saya ini dari suku Bajo. Kami orang laut, tradisi kami tidak akrab dengan aksara. Tapi kami punya sistem pengetahuan yang sangat kompleks, diwariskan turun-temurun, diuji validitasnya dalam pengalaman-pengalaman nyata di kehidupan kami, dihapalkan oleh para orangtua dan diteruskan kepada anak-anak mereka. Apakah artinya kami ini orang-orang yang buta literasi?”
Tentu saja para pembela teks kelabakan mendengarnya. Betul juga, pikir saya. Memang ada adagium Latin kuno berbunyi “Verba Volant Scripta Manent”. Apa yang terkatakan akan segera lenyap, apa yang tertulis akan abadi. Dengan teks, produk-produk pengetahuan memang akan bertahan berabad-abad. Namun, bukankah apa yang disebutkan oleh peribahasa tersebut tak lebih dari perkara teknis konservasi pengetahuan?

Sekarang, ketika pilihan instrumen konservasi informasi sudah semakin luas dan tak cuma berhenti pada kekuatan teks, apakah ayat suci literasi tersebut masih relevan? Apakah tidak mungkin kita mengabadikan pengetahuan dengan rekaman suara, dan lebih-lebih lagi dengan citra audio-visual?

Itu pertanyaan dari level paling lugu. Yang lebih jauh, kita bisa melompat sekian milenium ke belakang. Apakah dengan arogan kita akan menyebut tradisi lisan masyarakat-masyarakat klasik sebagai tradisi yang nir-literasi, lalu secara otomatis karakter tersebut kita maknai sebagai keterbelakangan? Tak peduli masyarakat-masyarakat kuno tersebut mampu membangun peradaban yang sophisticated, tapi karena tidak cukup banyak produk pengetahuan tertulis warisan mereka yang dapat kita akses, artinya mereka bodoh dan terbelakang! Oh, begitukah?

Jika literasi kita maknai sebatas kemampuan teknis untuk memahami informasi dan pengetahuan dari deretan aksara, maka benarlah bahwa orang Bajo nir-literasi. Akan tetapi, rasanya telah muncul pergeseran makna literasi saat ini, sehingga menjadi semacam cara pandang yang penuh penghakiman: “Literasi dibangun dari buku-buku, kalau mau pintar bacalah buku, yang tidak baca buku sudah pasti tak akan pernah pintar.” Dengan pergeseran semacam itu, perlu kita bongkar lagi makna literasi, sekaligus klaim-klaim yang menyertainya.

Literasi itu sikap mental. Itulah yang kemudian saya percaya. Sikap literate bukan sesederhana sikap mau membaca teks, apalagi sekadar mau membaca buku. Literasi adalah sikap rakus akan pengetahuan, sekaligus sikap berusaha memahami pengetahuan dengan holistik dan komprehensif, dari beragam sudut pandang, dan proses pemahaman itu dijalankan dengan kritis bahkan skeptis. Tanpa sikap semacam itu, mau kita membaca sejuta buku pun, kita tidak akan pernah sampai ke titik kualitas literate yang sejati.

Kalau tidak percaya, coba periksa berbagai berita, apakah Anda kira para teroris penghancur kemanusiaan itu tidak membaca buku-buku? Hoho, jangan salah. Mereka membaca. Bedanya, mereka hanya membaca hanya dari satu perspektif saja. Sekarang bayangkan Anda membaca seribu buku, tapi semua buku tersebut hanya menyajikan satu sisi sudut pandang.
Apakah Anda akan tega mendaku diri sebagai pendekar literasi?

Bahkan bukan cuma teroris, sebab ekstremisme bisa menimpa siapa saja. Saya sering menjumpai orang-orang yang sangat banyak membaca buku tapi rasa-rasanya jauh dari kualitas literate. Mereka kadung meyakini satu teori sosial, misalnya, atau satu teori sejarah tentang sesuatu. Kemudian mereka membaca ratusan buku dari sudut pandang yang sama belaka, yang menetapkan pendapat yang mereka pegang itu sebagai kebenaran tunggal yang tak terbantahkan.

Walhasil, ketika mereka mendengar ada orang lain yang menyodorkan pandangan berbeda, yang tidak cocok dengan teori yang sudah mereka pegang erat-erat tadi, mereka berkata, “Haesss, kamu itu kurang baca buku!”

Sikap genit semacam itu tumbuh karena ukuran “banyak membaca buku” ditetapkan hanya dari jumlah bukunya, bukan jumlah dan variasi sudut pandangnya. Di situlah akar masalahnya. Saya pribadi tidak ikhlas jika para ekstremis-akademis semacam itu dianggap layak sebagai wakil jagat literasi. Tapi itu cuma pendapat saya. Nggak tahu kalau pendapat Mbak Hanum dan Mbak Tsamara.

***


Yang jelas, telah terjadi glorifikasi masif dan sistematis atas buku-buku. Pengalaman nyata yang tak tertulis dikalahkan martabatnya oleh buku-buku. Masyarakat berkebudayaan dan berpengetahuan tinggi dianggap terbelakang hanya karena mereka tidak menyentuh dan memproduksi buku-buku. Para ekstremis akademis yang membaca seribu buku dari sudut pandang yang sama merasa lebih intelektuil dibanding orang yang membaca sedikit judul tapi banyak perspektifnya.

Hasilnya adalah hegemoni teks, bahkan arogansi ilmiah lewat buku-buku. Literasi ditegakkan hanya dalam makna wadahnya, bukan spirit yang membangunnya.

Jika ini terus dibiarkan, semangat kita dalam merayakan buku-buku akan terperosok dalam absurditas penetapan 23 April sebagai Hari Buku Sedunia. Konon, tanggal ini awalnya dipilih sesuai dengan tanggal kematian Miguel de Cervantes, pengarang novel Don Quixote. Dengan latar seperti itu, pantas saja jika kadangkala para pembaca buku tumbuh jadi jenis-jenis manusia halu yang—seperti halnya Don Quixote de La Mancha—merasa sedang menyerbu raksasa, padahal hanya ada kincir angin di hadapannya.
Hahaha.

Mari tetap membaca buku. Tapi ingatlah bahwa kebenaran dan hakikat semesta raya tidak akan bisa kita pahami cuma dari buku-buku.

Senin, 18 Maret 2019

Membongkar Pasung Ronggeng “Kunes”


TRIBUTE TO KUNES: Repertoar Ronggeng Kunes digelar oleh komunitas "Titik Kumpul" di Roemah Martha Tilaar Gombong (16/3) mengingatkan pada tragedi politik 1965 yang memicu gelombang "genosida" dan merambah wilayah budaya di Banyumas [Foto: Ar]

Keberanian mbarang lengger komunitas “Titik Kumpul” di Roemah Martha Tilaar, pantas mendapatkan apresiasi luas. Pilihan mengangkat repertoar berbingkai Tribute to Kunes yang dipersiapkan bagi panggung Asia di Taiwan April-Mei mendatang; membuat penonton terpengarah (16/3/2019) malam itu. Namun sedikit dari yang terpengarah itu memahami kesima “Kunes” dalam konteks sejarah dan lokalitasnya. Penari tradisi bumi Banyumas selatan yang lahir seabad lalu, sedikit diketahui, pada zaman berikutnya telah menjadi bagian langsung dari sejarah kelam kejahatan atas kemanusiaan (crimes against humanity) pada medio dekade 60-an. 

Dalam perspektif genosida dimana pembasmian meluas atas sekelompok tertentu manusia di sebuah negara, maka tragedi yang dalam idiom lokal disebut Geger Gestok 65, telah merambah masuk pula ke dalam wilayah budaya sebagai obyek penghancurannya. Perjalanan penari Ronggeng Kunes yang berhilir tragis; memang jadi linier dengan apa yang pernah ditulis novelis Ahmad Tohari pada novel triloginya Ronggeng Dukuh Paruk (berikut 2 novel lainnya, Lintang Kemukus Dinihari, Jentera Bianglala) yang usai melampaui batas bahasa di beberapa negara itu.

Pada kasus booming novel karya sastranya Ahmad Tohari mengakui realitas masih lekatnya communisto-phobia, yang pada gilirannya telah cukup membuat repot penulisnya. Bahwa masa itu telah lewat, ya. Tetapi sejarah memiliki cara tutur dan jalan takdirnya sendiri, termasuk dalam berhadapan dengan segala phobia; yang mungkin hari ini pun masih ada karena memang dipelihara. Tak terkecuali perjalanan tragik Ronggeng Kunes yang sepintas nampak sebagai kisah personal yang literer dengan segala romantismenya.  

Namun Ronggeng Kunes dalam dimensi sejarah memiliki alur dan memori kolektif yang lebih dari sekedar magnet ingatan akan segala kisahnya. Karena “karir dan marwah” Kunes sebagai penari tradisi tidak lah berdiri sendiri. Meskipun -boleh jadi- komunitas “Titik Kumpul” tak bertendensi lebih jauh, tetap saja kisah tragis Ronggeng Kunes yang dipanggungkan, lepas dari apakah kisi-kisi kelam ini tersingkap; repertoar ini akan menemukan pijak dan kekuatan konteksnya yang menyejarah itu.

Kedaulatan Panggung


Pemahaman atas Tribute to Ronggeng Kunes boleh datang kemudian dalam berbagai interpretasinya. Demikian ini bukan hanya berlaku bagi siapa pun yang menonton repertoar ini, namun juga bagi komunitas “titik kumpul” dalam proses kreatifnya. Proses yang telah menghasilkan perform seputar kebiasaan-kebiasaan ronggeng seperti gilir sampur hingga kedaulatannya dalam menghidupkan gairah panggung.

Ronggeng Kunes yang dinarasikan tak terpisah dengan fenomena indang seperti tersirat melalui properti ambeng yang dibawa keluar penarinya telah cukup menjelaskan kekuatan magis tradisionalnya. Kebanyakan seni tradisi memang senantiasa lekat dengan aspek itu. Kesinambungannya terjaga melalui ritual-ritual sebagai manifestasi nilai-nilai yang berlaku di masyarakat kebudayaanya.

Repertoar Ronggeng Kunes mengangkat relasi di lapangan kebudayaan itu dari timbulnya ketimpangan yang menjadi bidikannya. Bagaimana Ronggeng membangun kedaulatan gender dengan mengeksplorasi tata nilai menjadi bias hegemoni dalam relasi sosialnya ke atas panggung. Pentas tribute ini menampilkan Ronggeng Kunes yang tengah mencapai puncak emasnya, saat sang ronggeng menjadi kiblat puja.

Tapi makin tinggi pohon tumbuh, makin besar tiupan angin menerpanya; begitu pepatah berkata. Realitas sejarah tak pernah bisa sepenuhnya lepas dari intervensi berbagai kepentingan, termasuk kepentingan politik. Nah, pandangan pragmatis akan bisa menjerumuskan perjalanannya. Bias ini dialami Ronggeng Kunes dalam masa yang menenggelamkannya dan menjadi tonggak yang menandai genosida budaya pasca 1965, khususnya di daerah Banyumas.

Ronggeng Kunes terbelenggu bukan oleh lintasan balok yang memasung kakinya, melainkan oleh badai politik yang memicu gelombang genosida budaya yang mengiringi Geger Gestok pada masa itu. [ap]

Jumat, 08 Maret 2019

Rosa Dahlia, Berani Berkarya & Mendedikasikan Diri di Pedalaman Papua


Pinka Wima | 08 Maret 2019



#AkuPerempuan "Perempuan harus punya mimpi dan keberanian untuk mewujudkan mimpi itu!"


IDN Times berkesempatan mewawancarai salah satu perempuan tangguh yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda. Masih berusia 30 tahun, Rosa Dahlia sudah mendedikasikan dirinya untuk menjadi guru SD di pedalaman Papua. Meninggalkan zona nyaman di pulau Jawa dan memilih tinggal jauh dari keluarga yang berada di Magelang adalah pilihan berani yang diambilnya.
Lantas seperti apa cerita inspiratif perempuan tangguh ini? Yuk, simak penuturannya di artikel ini!

1. Rosa Dahlia sudah mendedikasikan diri hampir 5 tahun lamanya


Perempuan berambut ikal ini sudah mendedikasikan diri di Papua sejak 2013 dan berada di Asmat sejak 2016. Ketika hampir semua perempuan seusianya berlomba-lomba bekerja di perusahaan bonafit atau membangun keluarga, maka berbeda dengan Rosa. Dia dengan berani pilih untuk mengejar mimpinya. 
"Awalnya karena mimpi. Aku pengen banget bisa ngajar di pedalaman Papua."
Selain menjadi guru SD di pedalaman, Rosa juga sudah mendirikan tiga komunitas yang membantu menaikkan taraf pendidikan anak-anak pendalaman, antara lain 1 Buku (2011) komunitas yang bergerak untuk mengumpulkan dan mendistribusikan buku untuk rumah baca di pelosok Indonesia. Sekarang sudah tersebar di berbagai daerah seperti Maluku, Poso, Tambora, NTT, Jogja, Wonosobo, Cirebon, Papua, dan banyak lainnya.

Kemudian ada komunitas Honai Pintar (2015), komunitas rumah baca. Lalu yang terakhir ada komunitas Elege Inone (2017), komunitas yang membantu murid di Poga untuk melanjutkan sekolahnya. Hingga kini sudah ada tiga murid yang dikirim ke Jogja untuk menimba ilmu.

Ada sederet perempuan kuat yang menjadi salah satu sumber inspirasinya. Butet Manurung, Jane Goodall, Bunda Teresa, dan Tafira Oktiani. Alasannya sederhana, karena mereka berbeda dari perempuan pada umumnya. "Mereka berani, tangguh, mandiri, dan gak sibuk dengan dunianya sendiri." ujar almamater Sanata Dharma jurusan Sastra Inggris ini.

2. Tantangan dari keluarga gak menyurutkan langkahnya untuk menjadi guru SD di pulau timur Indonesia


Restu dari keluarga, terutama orangtua tak serta merta langsung dikantonginya. Keluarga menentang, bahkan mendiang sang ayah sempat tidak berbicara sepatah katapun hingga tahun keduanya di Papua.
"Awalnya ditentang. Satu-satunya orang yang berbesar hati memberi izin cuma kakekku. Alm. Bapak malah ketika dulu aku pamiti ga mau ngomong apapun sampai tahun kedua aku di Papua. Bapak berat hati kalau aku berkarya di Papua. Selain karena aku perempuan dan bungsu, bapak berfikir bahwa aku sudah disekolahkan tinggi sampai sarjana. Kenapa "hanya" jadi guru SD di pedalaman."
Meski demikian kegigihannya berbuah manis juga. "Lambat laun keluarga menerima pilihanku ini. Mereka mendukung apa yang aku lakukan di Papua. Bentuknya? Dengan "membiarkan" aku tetap berkarya di tanah impianku ini."

3. Banyak pengalaman berharga yang membuka matanya selama berada di tanah Papua


Hidup jauh dari gemerlap kota dan keluarga tentu bukan pilihan mudah. Ada banyak tantangan yang dihadapinya setiap hari, apalagi ketika harus hidup di hutan. Rosa harus berjuang memberikan pendidikan yang layak di tengah keterbatasan dan perbedaan bahasa dan budaya.
"Mulai kondisi geografisnya yang semua aktifitas di atas papan, ga ada jalan darat, mempelajari karakter masyarakatnya, harus belajar budaya dan bahasa baru karena suku Lani dan Asmat jauh berbeda, daaaan harus pinter-pinter jaga diri supaya ga kena malaria. Hahaha" ujar wanita berkulit sawo matang ini.

Selain itu, hidup lama di Papua membuatnya panen pengalaman yang benar-benar membekas di memorinya.
"Kalau di Asmat, dulu awal tinggal di Asmat aku ketemu sama anak yang mengalami gizi buruk. Umur 3 tahun tangannya hanya sebesar ibu jariku. Waktu itu ketemunya di hutan waktu aku dan teman-teman patroli. Badannya tinggal kulit dan tulang. Kepalanya penuh dengan luka. Trus pas nemuin dia telanjang dan cuma dibalut pake sarung lusuh terus digletakin di sebelah tungku. Gak berdaya sama sekali."
"Kalau selama ini aku sering lihat anak dengan kondisi begitu itu cuma di TV, foto, atau film, sekarang aku lihat langsung, pegang langsung. Pertama kali aku pegang aku bingung harus bersikap. Kalau aku nangis kok malu sama keluarganya, kalau aku tahan tangisan kok berat banget rasanya saking sedihnya waktu itu."
"Trus akhirnya aku dan temen-temen minta orang tuanya untuk bawa anak itu ke kampung untuk diobati. Singkat kata Amelia Tombes, anak itu, kami berikan makanan tambahan di rumah. Setiap pagi, siang dan malam dia datang ke rumah dan kami gantian ngurus dia. Sampai akhinya dia diminta untuk bawa ke kota supaya diperiksa."
"Ternyata selain gizi buruk, dia TBC juga. Beberapa waktu melakukan pengobatan, berat badannya naik. Dia juga lebih ceria. Tapi sayang orang tuanya gak telaten ngurus, akhirnya pengobatan untuk TBC ga tuntas. 15 September 2016 lalu, Tombes meninggal. Dan itu pukulan besar buat aku."

4. Terus belajar adalah caranya tetap bisa survive menghadapi tantangan hidup


Meski sudah pernah mendapatkan penghargaan Pahlawan Untuk Indonesia 2016 dalam kategori pendidikan, namun Rosa tak merasa sombong dan berpuas diri. Justru dia merasa harus selalu belajar dan belajar supaya bisa terus survive.
"Rendah hati dan membuka diri untuk terus mau belajar dari masyarakat. Sering-sering main ke rumah warga, ikut mereka ke hutan, belajar anyam, belajar dayung perahu kayu, belajar bahasa asmat, belajar budayanya, belajar goyang, pokoknya belajar dan belajar."
5. Banyak yang mencibir pilihan hidupnya satu ini, namun Rosa tetap bertekad dan cuek saja dengan apa kata orang lain


Tak seperti perempuan kebanyakan yang sudah menikah dan memiliki anak atau berkarir di perusahaan prestige di usianya yang sekarang, membuatnya sering mendapat cibiran dan dipandang sebelah mata. 
"Sering pakai banget, tapi untung sa su telinga babi sih, jadi kalau dorang omong begitu sa kasih tinggal. Cuekin aja. Hahaha. (Untung saya punya telinga babi, jadi kalau ada orang ngomong begitu saya tinggal saja)."
Rosa meyakini bahwa yang penting itu perempuan harus berani mencintai diri sendiri, punya jiwa tangguh (bukan hanya tangguh secara penampilannya saja), dan mandiri.
Prinsip inilah yang selalu diyakini dan dipegang teguh olehnya hingga kini.

6. Pesan Rosa untuk para perempuan Indonesia


"Setiap manusia, perempuan khususnya, itu harus punya mimpi dan keberanian untuk mewujudkan mimpi itu. Selain itu perempuan juga harus mencintai setiap jengkal tubuhnya tanpa kecuali, harus bekerja dan berkarya karna dua hal itu tempat kita untuk mengaktualisasikan diri, tahan banting, berwawasan luas, dan jangan sibuk dengan diri sendiri." ujar perempuan berusia 30 tahun ini.
Perjuangan luar biasa Rosa tentu menginspirasi para perempuan Indonesia untuk berani bermimpi dan berkarya. Intinya, jangan mencemaskan apa kata orang dan jadilah seseorang yang bisa berguna untuk lingkungan. Semoga akan ada banyak Rosa Dahlia lainnya yang bisa memberikan kontribusi positif untuk kehidupan orang-orang di sekitarnya..

Rabu, 06 Maret 2019

Sastra Indonesia tidak perlu makelar-makelar kulit putih


oleh Theodora Sarah Abigail | March 6, 2019
diterjemahkan oleh Mikael Johani

Penulis Indonesia sudah lama diwakili makelar-makelar kulit putih di panggung internasional. Masalahnya, apakah sebenarnya kita perlu mereka?

Banyak orang asing menyimpan gambaran di dalam kepala tentang Indonesia yang primitif, penuh kampung kumuh, sungai-sungai kotor dan gunungan sampah. Jikapun mereka punya bayangan baik tentang Indonesia, paling terbatas gubuk bambu, sawah hijau, dan gambaran khas pedesaan yang lain. Indonesia yang telah difilter, kemudian dipresentasikan oleh penerjemah asing dan organisasi-organisasi internasional penuh welas asih ini, mengamini bayangan sebuah negeri yang sepi dan damai, harum rempah-rempah dan bunga melati.

Tapi penulis-penulis Indonesia sendiri bercerita tentang sebuah negeri yang jauh berbeda. Dalam buku-buku mereka, Indonesia penuh dengan kota yang hiruk-pikuk dan meriah, bandara bertembok kaca, museum penuh karya-karya seni. Kota-kota ini dijejali becak dan kopaja dan bis dan kereta; pesawat terbang tinggal landas hampir tiap menit. Penduduknya jatuh cinta di mal-mal raksasa, bersujud di masjid-masjid; mereka putus cinta di kedai kopi. Keluarga-keluarga berdansa hingga malam tiba, dan orang-orangnya ternyata tak banyak berbeda dari anda maupun saya.

Sastra Indonesia sekarang berjaya. Penerbit-penerbit independen merilis buku-buku baru yang mencampur aduk genre dan bahasa; dengan tambahan divisi-divisi baru khusus sastra, bahkan Gramedia, penerbit terbesar di negara ini, mulai jadi lebih berani. Di seluruh penjuru negeri, penulis-penulis menerbitkan buku dalam bahasa Indonesia dan Inggris (atau malah campuran keduanya), dan laris. Topik buku-buku ini sangat beragam: kehidupan kota di Jakarta, perempuan yang mencari rumahnya, cerita horor yang disulap jadi modern.

Jadi kenapa sampai sekarang kita masih juga menjumpai tulisan-tulisan yang menyayangkan betapa tidak populernya sastra Indonesia?
Bukan salah gue, bukan salah temen-temen gue

Ada memang orang yang bilang bahwa buku-buku Indonesia terlalu serius, terlalu disesaki masalah sejarah dan politik, dan terlalu peduli dengan masalah “identitas Indonesia”. Buku-buku yang terlalu menakutkan dan rumit buat pembaca awam. Namun, untuk mengerti benar-benar sebuah buku memang diperlukan—diharuskan—untuk mengerti konteks sosial-budayanya.

Selama berpuluh-puluh tahun, sastra Inggris dan Amerika telah diekspor ke seluruh penjuru dunia tanpa perlu diubah. Pembaca menerima saja bahwa untuk mengerti secara dalam karya sastra dalam bahasa Inggris, mereka harus bisa menganalisanya dengan benar—bahkan anak-anak SMA di Amerika Serikat yang diberi tugas membaca The Great Gatsby atau Tom Sawyer atau To Kill a Mockingbird akan diajari buku itu diterbitkan di era apa, lingkungan sekelilingnya seperti apa, dan apa arti motif-motif di dalamnya menurut budaya waktu itu. Bisa mengerti karya-karya klasik ini jadi sesuatu yang dianggap terhormat dan membanggakan.

Karena ini, sepertinya tidak adil dan munafik jika konsumen dan penerbit menganaktirikan sastra Indonesia dengan alasan “terlalu rumit”. Memang lebih gampang menyalahkan penulis Indonesia karena mereka mengarang karya-karya yang terlalu menakutkan, tapi apakah benar buku-buku mereka, dan terjemahannya, benar-benar tidak bisa dimengerti, atau sebenarnya pembaca yang hanya bisa berbahasa Inggris terlalu manja?

Menghapus ke-Indonesia-an

Saat mencari pembuktian (dan penerbit) di luar negeri, banyak penulis Indonesia diberi tekanan untuk memperindah Indonesia yang ada dalam diri mereka, membuatnya lebih gampang dicerna. Terlalu banyak materi sejarah dan politik bisa menakutkan buat pembaca Barat yang miris; terlalu sedikit nanti dia bosan. Hmmm, mungkin pembaca Barat tetap lebih memilih membaca cerita yang mempertebal keyakinannya bahwa negeri-negeri asing memang aneh dan berbeda, tapi juga harus selalu indah dan manis.

Modifikasi dan penghapusan seperti ini terjadi di mana-mana. Masakan Cina, misalnya, sering diadaptasi (aka, dibikin hambar) supaya lebih sesuai dengan lidah barat. Proses ini telah berlangsung beratus tahun dan hasilnya adalah masakan Cina cepat saji yang rasanya kadang mengerikan. Hanya karena kita begitu putus asa untuk menemukan pengakuan dan popularitas di dunia berbahasa Inggris, apakah pantas mengorbankan sastra Indonesia dengan mengubahnya jadi seperti masakan Cina cepat saji yang palsu dan dimanis-maniskan?

Suara asli penulis Indonesia bisa jadi tidak terdengar seperti yang diharapkan dunia barat. Dan ini sudah semestinya, karena ini berarti ide-ide yang tidak akurat dan terlanjur dibentuk tentang Indonesia bisa mulai dibongkar. Bukan kewajiban penulis Indonesia untuk mengais-ngais posisi yang lebih mendunia dan nyaman. Justru, kita harus menyemangati pembaca agar mereka mau menerima perspektif dan pengalaman yang berbeda dari yang dialami sendiri—berusaha sendiri seperti orang lain untuk membentuk kanon sastra mereka.

Penerjemahan sebagai aksi politik

Penerjemahan, seperti juga menulis, adalah sebuah aksi politik—sebuah hal yang bisa mempunyai konsekuensi panjang, membentuk perspektif mendunia tentang sebuah bahasa atau negara yang bisa bertahan beratus tahun. Penerjemah adalah duta besar; ia juga senjata.

Anggapan bahwa sastra Indonesia tidak populer di luar negeri karena tidak ada cukup penerjemah bertaraf “sastra” (yang sering diartikan sebagai seorang “native speaker”) seharusnya jadi alasan tepat untuk mendukung bukan cuma penerjemah asli Indonesia, tapi juga siapa saja yang berniat mempelajari seni menerjemah. Pada akhirnya, ini adalah sebuah perdebatan tentang siapa yang menguasai naratif dan mengolah persepsi pembaca internasional tentang Indonesia; kita harus melangkah hati-hati.

(Jika orang khawatir dengan standar terjemahan sastra dari Indonesia ke Inggris, mungkin solusinya adalah mulai melatih penerjemah Inggris dan Indonesia untuk bekerja sama dengan adil dan supaya bisa menghasilkan terjemahan yang otentik.)

Jadi penting untuk mempermasalahkan siapa sebenarnya para penerjemah ini—sejarah mereka, latar belakang mereka, teknik yang mereka pakai, cara mereka berkomunikasi dan hubungan mereka dengan pengarang aslinya, apakah mereka mengerti arti di balik bagian atau kalimat ini dan itu, ideologi mereka. Faktor-faktor ini memberi warna kepada hasil terjemahan mereka; hasilnya belum tentu selalu indah.  

Penerjemah yang dipuji-puji, diakui secara resmi, dan terkenal belum tentu akurat atau bagus; dalam beberapa kasus, pengarang aslinya malah mengeluh betapa karya mereka jadi begitu lain setelah dipegang oleh seorang penerjemah “berkualitas internasional”. Situasi tidak mengenakkan ini bisa terjadi bahkan dalam festival sastra internasional—dan sekali sebuah terjemahan yang asal-asalan terbit, bakal susah untuk ditarik kembali.

Yang penting, marilah kita hormati keinginan penulis Indonesia untuk diterjemahkan dengan cermat dan penuh rasa hormat pada karya aslinya, dan bukannya malah memanfaatkan mereka untuk kepentingan reputasi atau popularitas organisasi kita sendiri. Pada akhirnya, mana yang lebih penting? Portfolio seorang penerjemah, atau kebenaran dan kualitas yang terkandung dalam karya mereka? Terjemahan sastra sama berharganya dengan buku aslinya—mereka tidak seharusnya dianggap sebagai produk yang dikeluarkan hanya untuk memikat pembaca baru.

Sudut pandang makelar kulit putih

Jangan pernah lupa bahwa walaupun esai-esai yang diterbitkan National Centre for Writing fokusnya adalah sastra Indonesia, yang menulis tiga-tiganya adalah orang asing berkulit putih. Apakah penulis Indonesia tidak bisa dipercaya untuk bercerita sendiri dengan akurat tentang sastra Indonesia, sehingga kita memerlukan juru bicara kulit putih?

Banyak orang Indonesia yang sudah menginternalisasi anggapan bahwa yang kita sendiri hasilkan tidak akan dianggap bagus jika belum dipuji dan diakui oleh barat—oleh hadirin berbahasa Inggris, oleh penerbit internasional, oleh, sebutlah, “penjajah”. Setiap kali diberi remah-remah perhatian, kita berteriak bahagia dan saling mengingatkan, “Kita harus bersyukur!”

Tulisan-tulisan ini mengamini anggapan bahwa sastra Indonesia memang inferior karena penulis Indonesia tidak terlihat batang hidungnya di panggung internasional, tidak dicintai. Para penulis esai ini sepertinya tidak peduli jika sebuah buku sudah menjadi sebuah fenomena budaya di Indonesia atau memenangkan penghargaan nasional; asal sebuah karya tidak memenuhi ekspektasi barat, tidak bisa menarik perhatian pembaca barat, maka karya itu pasti jelek.

Kanon sastra Indonesia dipenuhi kehangatan dan sejarah, perang, perjuangan, dan perasaan-perasaan halus; fokus utama setiap kali menerbitkan atau menerjemahkan karya-karya ini di dunia internasional seharusnya adalah memastikan bagaimana cerita-cerita ini dinarasikan kembali dengan akurat dan penuh hormat kepada versi aslinya. Tapi yang sering terjadi, kita malah kerepotan memikirkan apakah mereka akan laris atau tidak; apakah mereka bisa diterima; apakah mereka terlalu eksotis; apakah mereka cukup eksotis, apakah mereka mencukupi nilai-nilai ideal barat yang terlanjur mendarah daging dalam diri kita sendiri.

Makelar gagal

John McGlynn, seorang penerjemah dan salah satu orang paling berkuasa dalam dunia sastra Indonesia, yang menguasai narasi tentang industri ini, menulis dalam esainya bahwa selama bertahun-tahun ia sudah mencoba, dan gagal, untuk membangkitkan minat penerbit berbahasa Inggris kepada sastra Indonesia. Akhirnya, di akhir 1980an, ia mendirikan Lontar, tadinya sebagai solusi fenomena “single fighters” (penerjemah bekerja sendiri di dalam sebuah ruang vakum, terisolasi dari yang lain). Sejak itu, katanya, Lontar “berdedikasi mempromosikan dan memproduksi terjemahan sastra Indonesia, mengambil peran penerbit komersil untuk menciptakan kanon sastra Indonesia dalam bahasa Inggris”.

Organisasi ini sekarang sudah menerbitkan ratusan judul; bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk menciptakan badan pendanaan seperti LitRI yang memberikan bantuan penerjemahan sastra Indonesia ke dalam bahasa asing. John McGlynn sendiri menggenggam kekuasaan yang besar: menurut ceritanya, ia telah bertemu dengan wakil-wakil badan pendanaan terjemahan nasional dari negara seperti Korea Selatan, Polandia, dan Belanda, “dan itu baru sebagian”. Ia juga menjadi pengawas program-program Pendanaan Penerjemahan Sastra Komite Buku Nasional. Intinya, ia punya banyak suara dalam menentukan ke mana bantuan dana akan dialirkan dan siapa yang akan menerimanya.

Bukankah seharusnya sekarang ia bisa menjalankan visi-visinya dengan lancar? Bukankah seharusnya ia sudah mampu menarik perhatian komunitas internasional, membuat sastra Indonesia makin terjangkau?
Tapi kelihatannya tidak, karena meskipun katanya Lontar sekarang begitu berkuasa, kita masih saja menjumpai tulisan-tulisan yang menyayangkan tidak hadirnya sastra Indonesia di panggung dunia.

Tidak dicintai dan tidak kemana-mana? Masa?

Tapi jangan berpikir terlalu jauh dulu. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah mempertanyakan apakah asumsi bahwa sastra Indonesia tidak dicintai dan tidak ada yang peduli benar atau tidak. Mari kita melihat dunia di luar Lontar dan organisasi asing lain.

Di tahun 2015, novel Eka Kurniawan “Cantik Itu Luka” diterjemahkan menjadi “Beauty Is a Wound” oleh Annie Tucker dan dirilis oleh penerbit bereputasi sastrawi di Amerika Serikat, New Directions. Buku ini sekarang telah diterjemahkan ke dalam 33 bahasa. Novel Eka yang kedua, “Man Tiger”, diterbitkan oleh Verso Books dan masuk dalam daftar panjang Man Booker Prize tahun 2016.

Kumpulan puisi Norman Erikson Pasaribu, “Sergius Mencari Bacchus”, menjadi juara pertama lomba manuskrip puisi Dewan Kesenian Jakarta tahun 2015. Setelah diterjemahkan oleh Tiffany Tsao menjadi “Sergius Seeks Bacchus”, buku Noman memenangkan penghargaan PEN Translates; buku ini akan diterbitkan oleh Tilted Axis Press di Inggris pada tahun 2019.

Cerpen-cerpen Intan Paramaditha telah diterjemahkan oleh Stephen J. Epstein dan dikumpulkan dalam kumcer “Apple and Knife”. Di Inggris, buku ini diterbitkan oleh Penguin/Harvill Secker; di Australia diterbitkan oleh Brow Books.

Penulis Indonesia sebenarnya sudah menoreh sukses di dunia internasional sejak era ‘90an. Saut Situmorang memenangkan penghargaan puisi dari Universitas Victoria di Wellington (1992) dan Universitas Auckland (1997) di Selandia Baru. Haikunya yang berbahasa Inggris, “such boredom”, menang juara satu dalam 1992 International Poetry Competition yang diselenggarakan New Zealand Poetry Society; puisi ini kemudian dikoleksi oleh Museum Haiku di Kyoto, Jepang.

Ada banyak lagi penulis Indonesia yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan di luar negeri; ditambah lagi yang lain yang sering mendapatkan pujian di media online, baik nasional maupun internasional.

Tanpa harus disorot (atau tidak disorot sama sekali), gerakan-gerakan sastra akar rumput dan luar arus di seluruh penjuru Indonesia ramai merayakan sastra. Di manakah para penulis Indonesia? Mereka dari dulu di sini. Paviliun Puisi misalnya, yang digawangi Mikael Johani, Gratiagusti Chananya Rompas, Kezia Alaia, Mikhael Ray, dan Rendy Satrya, selalu penuh sesak. Energi kolektif yang kuat selalu terasa di bar jamu Paviliun 28 di Kebayoran Baru yang dipakai untuk acara ini. Komunitas seperti Lakoat Kujawas, yang berbasis di Mollo, Timor Tengah Selatan, dan didirikan oleh pengarang Indonesia Dicky Senda, membawa film dan sastra Indonesia supaya bisa dinikmati penduduk setempat.

Dan seterusnya: alihkode dan inovasi Saut diwarisi dan diperluas oleh penyair/penerjemah muda seperti Rara Rizal, Syarafina Vidyadhana, Eliza Vitri Handayani, dan Dwiputri Pertiwi. Penulis muda lain seperti Madina Malahayati Chumaera dan Ray Shabir mahir dalam menceritakan kisah-kisah urban dengan perspektif yang khas Indonesia. Kanon sastra Indonesia mungkin masih muda dalam soal umur, tapi kualitasnya menakjubkan dan tumbuh makin besar hampir tiap hari. Semua ini tidak menjadi kurang berharga atau bermanfaat hanya karena dunia barat tidak memperhatikan.

Jadi sekali lagi—kenapa kita masih juga menjumpai tulisan-tulisan pesimis yang giat menghapus cerita-cerita asli Indonesia beserta penulisnya sekaligus?? Kenapa makelar-makelar sastra kulit putih dan organisasi asing terus-menerus mempromosikan kepercayaan usang bahwa barat pasti benar, dan mempengaruhi pengarang untuk mendambakan popularitas internasional dengan mengorbankan otentisitas mereka? Kenapa organisasi seperti National Centre for Writing membantu akademisi kulit putih mempertahankan kuasa mereka atas Indonesia untuk mempromosikan narasi yang jauh dari lengkap? Bagaimana dengan perjuangan untuk kebhinekaan dan representasi yang lebih adil?

Apakah penerbit-penerbit dan organisasi-organisasi ini sadar bahwa ada sebuah negeri yang penuh cinta akan sastra; bahwa ada dunia lain di luar organisasi dan lingkaran elit mereka? Atau, apakah mereka dengan sengaja menyingkirkan kisah sukses orang lain demi mempromosikan kelompok mereka sendiri?

Esai-esai ini dipelajari di sekolah dan universitas di luar negeri; ada risiko mereka akan membuat generasi turun-temurun percaya ide usang bahwa Indonesia adalah negeri terbelakang yang sudah untung dihadiahi segelintir penerjemah kulit putih murah hati dan bahwa lebih sedikit lagi orang Indonesia yang peduli akan masalah ini. Penerbitan internasional seharusnya tidak lagi membiarkan orang asing bercerita tentang Indonesia, seakan-akan jadi wakil orang Indonesia sendiri. (Argumen bahwa publikasi internasional memerlukan tulisan dalam bahasa Inggris yang baik dan benar tidak lagi berlaku. Sekarang sudah begitu banyak penulis Indonesia yang berbahasa Inggris; banyak editor hebat; dan penerjemah selalu bisa dicari).

Sudah waktunya penulis Indonesia percaya dengan kekuatan mereka sendiri daripada membiarkan dunia menginterpretasi karya mereka. Mereka telah menuliskan kanon satra mereka sendiri—biarkan mereka sendiri yang membicarakannya, menyanyikannya, meneriakkannya.

Theodora Sarah Abigail adalah pengarang “Warchild” (2016), kumpulan puisi yang ia terbitkan sendiri, dan “In the Hands of a Mischievous God” (2017), sebuah kumpulan esai. Ia tinggal di Cikupa, Tangerang.

Sumber: Mikael Johani