oleh Theodora Sarah Abigail | March 6, 2019
diterjemahkan oleh Mikael Johani
Penulis Indonesia sudah lama diwakili makelar-makelar
kulit putih di panggung internasional. Masalahnya, apakah sebenarnya kita perlu
mereka?
Banyak orang asing menyimpan gambaran di dalam kepala
tentang Indonesia yang primitif, penuh kampung kumuh, sungai-sungai kotor dan
gunungan sampah. Jikapun mereka punya bayangan baik tentang Indonesia, paling
terbatas gubuk bambu, sawah hijau, dan gambaran khas pedesaan yang lain.
Indonesia yang telah difilter, kemudian dipresentasikan oleh penerjemah asing
dan organisasi-organisasi internasional penuh welas asih ini, mengamini
bayangan sebuah negeri yang sepi dan damai, harum rempah-rempah dan bunga
melati.
Tapi penulis-penulis Indonesia sendiri bercerita tentang
sebuah negeri yang jauh berbeda. Dalam buku-buku mereka, Indonesia penuh dengan
kota yang hiruk-pikuk dan meriah, bandara bertembok kaca, museum penuh
karya-karya seni. Kota-kota ini dijejali becak dan kopaja dan bis dan kereta;
pesawat terbang tinggal landas hampir tiap menit. Penduduknya jatuh cinta di
mal-mal raksasa, bersujud di masjid-masjid; mereka putus cinta di kedai kopi.
Keluarga-keluarga berdansa hingga malam tiba, dan orang-orangnya ternyata tak
banyak berbeda dari anda maupun saya.
Sastra Indonesia sekarang berjaya. Penerbit-penerbit
independen merilis buku-buku baru yang mencampur aduk genre dan bahasa;
dengan tambahan divisi-divisi baru khusus sastra, bahkan Gramedia, penerbit
terbesar di negara ini, mulai jadi lebih berani. Di seluruh penjuru negeri,
penulis-penulis menerbitkan buku dalam bahasa Indonesia dan Inggris (atau malah
campuran keduanya), dan laris. Topik buku-buku ini sangat beragam: kehidupan
kota di Jakarta, perempuan yang mencari rumahnya, cerita horor yang disulap
jadi modern.
Jadi kenapa sampai sekarang kita masih juga
menjumpai tulisan-tulisan
yang menyayangkan betapa tidak populernya sastra Indonesia?
Bukan salah gue, bukan salah temen-temen gue
Ada memang orang yang bilang bahwa buku-buku Indonesia
terlalu serius, terlalu disesaki masalah sejarah dan politik, dan terlalu
peduli dengan masalah “identitas Indonesia”. Buku-buku yang terlalu menakutkan
dan rumit buat pembaca awam. Namun, untuk mengerti benar-benar sebuah buku
memang diperlukan—diharuskan—untuk mengerti konteks sosial-budayanya.
Selama berpuluh-puluh tahun, sastra Inggris dan Amerika
telah diekspor ke seluruh penjuru dunia tanpa perlu diubah. Pembaca menerima
saja bahwa untuk mengerti secara dalam karya sastra dalam bahasa Inggris,
mereka harus bisa menganalisanya dengan benar—bahkan anak-anak SMA di Amerika
Serikat yang diberi tugas membaca The Great Gatsby atau Tom Sawyer atau To Kill
a Mockingbird akan diajari buku itu diterbitkan di era apa, lingkungan
sekelilingnya seperti apa, dan apa arti motif-motif di dalamnya menurut budaya
waktu itu. Bisa mengerti karya-karya klasik ini jadi sesuatu yang dianggap
terhormat dan membanggakan.
Karena ini, sepertinya tidak adil dan munafik jika konsumen
dan penerbit menganaktirikan sastra Indonesia dengan alasan “terlalu rumit”.
Memang lebih gampang menyalahkan penulis Indonesia karena mereka mengarang
karya-karya yang terlalu menakutkan, tapi apakah benar buku-buku mereka, dan
terjemahannya, benar-benar tidak bisa dimengerti, atau sebenarnya pembaca yang
hanya bisa berbahasa Inggris terlalu manja?
Menghapus
ke-Indonesia-an
Saat mencari pembuktian (dan penerbit) di luar negeri,
banyak penulis Indonesia diberi tekanan untuk memperindah Indonesia yang ada
dalam diri mereka, membuatnya lebih gampang dicerna. Terlalu banyak materi
sejarah dan politik bisa menakutkan buat pembaca Barat yang miris; terlalu
sedikit nanti dia bosan. Hmmm, mungkin pembaca Barat tetap lebih memilih
membaca cerita yang mempertebal keyakinannya bahwa negeri-negeri asing memang
aneh dan berbeda, tapi juga harus selalu indah dan manis.
Modifikasi dan penghapusan seperti ini terjadi di
mana-mana. Masakan Cina, misalnya, sering diadaptasi (aka, dibikin hambar)
supaya lebih sesuai dengan lidah barat. Proses ini telah berlangsung beratus
tahun dan hasilnya adalah masakan Cina cepat saji yang rasanya kadang
mengerikan. Hanya karena kita begitu putus asa untuk menemukan pengakuan dan
popularitas di dunia berbahasa Inggris, apakah pantas mengorbankan sastra
Indonesia dengan mengubahnya jadi seperti masakan Cina cepat saji yang palsu
dan dimanis-maniskan?
Suara asli penulis Indonesia bisa jadi tidak terdengar
seperti yang diharapkan dunia barat. Dan ini sudah semestinya, karena ini
berarti ide-ide yang tidak akurat dan terlanjur dibentuk tentang Indonesia bisa
mulai dibongkar. Bukan kewajiban penulis Indonesia untuk mengais-ngais posisi
yang lebih mendunia dan nyaman. Justru, kita harus menyemangati pembaca agar
mereka mau menerima perspektif dan pengalaman yang berbeda dari yang dialami
sendiri—berusaha sendiri seperti orang lain untuk membentuk kanon sastra
mereka.
Penerjemahan
sebagai aksi politik
Penerjemahan, seperti juga menulis, adalah sebuah aksi
politik—sebuah hal yang bisa mempunyai konsekuensi panjang, membentuk
perspektif mendunia tentang sebuah bahasa atau negara yang bisa bertahan
beratus tahun. Penerjemah adalah duta besar; ia juga senjata.
Anggapan bahwa sastra Indonesia tidak populer di luar
negeri karena tidak ada cukup penerjemah bertaraf “sastra” (yang sering
diartikan sebagai seorang “native speaker”) seharusnya jadi alasan tepat untuk
mendukung bukan cuma penerjemah asli Indonesia, tapi juga siapa saja yang
berniat mempelajari seni menerjemah. Pada akhirnya, ini adalah sebuah
perdebatan tentang siapa yang menguasai naratif dan mengolah persepsi pembaca
internasional tentang Indonesia; kita harus melangkah hati-hati.
(Jika orang khawatir dengan standar terjemahan sastra
dari Indonesia ke Inggris, mungkin solusinya adalah mulai melatih penerjemah
Inggris dan Indonesia untuk bekerja sama dengan adil dan supaya bisa
menghasilkan terjemahan yang otentik.)
Jadi penting untuk mempermasalahkan siapa sebenarnya para
penerjemah ini—sejarah mereka, latar belakang mereka, teknik yang mereka pakai,
cara mereka berkomunikasi dan hubungan mereka dengan pengarang aslinya, apakah
mereka mengerti arti di balik bagian atau kalimat ini dan itu, ideologi mereka.
Faktor-faktor ini memberi warna kepada hasil terjemahan mereka; hasilnya belum
tentu selalu indah.
Penerjemah yang dipuji-puji, diakui secara resmi, dan
terkenal belum tentu akurat atau bagus; dalam beberapa kasus, pengarang aslinya
malah mengeluh betapa karya mereka jadi begitu lain setelah dipegang oleh
seorang penerjemah “berkualitas internasional”. Situasi tidak mengenakkan ini
bisa terjadi bahkan dalam festival sastra internasional—dan sekali sebuah
terjemahan yang asal-asalan terbit, bakal susah untuk ditarik kembali.
Yang penting, marilah kita hormati keinginan penulis
Indonesia untuk diterjemahkan dengan cermat dan penuh rasa hormat pada karya
aslinya, dan bukannya malah memanfaatkan mereka untuk kepentingan reputasi atau
popularitas organisasi kita sendiri. Pada akhirnya, mana yang lebih penting?
Portfolio seorang penerjemah, atau kebenaran dan kualitas yang terkandung dalam
karya mereka? Terjemahan sastra sama berharganya dengan buku aslinya—mereka
tidak seharusnya dianggap sebagai produk yang dikeluarkan hanya untuk memikat
pembaca baru.
Sudut pandang
makelar kulit putih
Jangan pernah lupa bahwa walaupun esai-esai yang
diterbitkan National Centre for Writing fokusnya adalah sastra Indonesia, yang
menulis tiga-tiganya adalah orang asing berkulit putih. Apakah penulis
Indonesia tidak bisa dipercaya untuk bercerita sendiri dengan akurat tentang
sastra Indonesia, sehingga kita memerlukan juru bicara kulit putih?
Banyak orang Indonesia yang sudah menginternalisasi
anggapan bahwa yang kita sendiri hasilkan tidak akan dianggap bagus jika belum
dipuji dan diakui oleh barat—oleh hadirin berbahasa Inggris, oleh penerbit
internasional, oleh, sebutlah, “penjajah”. Setiap kali diberi remah-remah
perhatian, kita berteriak bahagia dan saling mengingatkan, “Kita harus
bersyukur!”
Tulisan-tulisan ini mengamini anggapan bahwa sastra
Indonesia memang inferior karena penulis Indonesia tidak terlihat batang
hidungnya di panggung internasional, tidak dicintai. Para penulis esai ini
sepertinya tidak peduli jika sebuah buku sudah menjadi sebuah fenomena budaya
di Indonesia atau memenangkan penghargaan nasional; asal sebuah karya tidak
memenuhi ekspektasi barat, tidak bisa menarik perhatian pembaca barat, maka
karya itu pasti jelek.
Kanon sastra Indonesia dipenuhi kehangatan dan sejarah,
perang, perjuangan, dan perasaan-perasaan halus; fokus utama setiap kali
menerbitkan atau menerjemahkan karya-karya ini di dunia internasional
seharusnya adalah memastikan bagaimana cerita-cerita ini dinarasikan kembali
dengan akurat dan penuh hormat kepada versi aslinya. Tapi yang sering terjadi,
kita malah kerepotan memikirkan apakah mereka akan laris atau tidak; apakah
mereka bisa diterima; apakah mereka terlalu eksotis; apakah mereka cukup
eksotis, apakah mereka mencukupi nilai-nilai ideal barat yang terlanjur
mendarah daging dalam diri kita sendiri.
Makelar gagal
John McGlynn, seorang penerjemah dan salah satu orang
paling berkuasa dalam dunia sastra Indonesia, yang menguasai narasi tentang
industri ini, menulis dalam esainya bahwa selama bertahun-tahun ia sudah
mencoba, dan gagal, untuk membangkitkan minat penerbit berbahasa Inggris kepada
sastra Indonesia. Akhirnya, di akhir 1980an, ia mendirikan Lontar, tadinya
sebagai solusi fenomena “single fighters” (penerjemah bekerja sendiri di dalam
sebuah ruang vakum, terisolasi dari yang lain). Sejak itu, katanya, Lontar
“berdedikasi mempromosikan dan memproduksi terjemahan sastra Indonesia,
mengambil peran penerbit komersil untuk menciptakan kanon sastra Indonesia
dalam bahasa Inggris”.
Organisasi ini sekarang sudah menerbitkan ratusan judul;
bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk menciptakan badan pendanaan
seperti LitRI yang memberikan bantuan penerjemahan sastra Indonesia ke dalam
bahasa asing. John McGlynn sendiri menggenggam kekuasaan yang besar: menurut
ceritanya, ia telah bertemu dengan wakil-wakil badan pendanaan terjemahan
nasional dari negara seperti Korea Selatan, Polandia, dan Belanda, “dan itu
baru sebagian”. Ia juga menjadi pengawas program-program Pendanaan Penerjemahan
Sastra Komite Buku Nasional. Intinya, ia punya banyak suara dalam menentukan ke
mana bantuan dana akan dialirkan dan siapa yang akan menerimanya.
Bukankah seharusnya sekarang ia bisa menjalankan
visi-visinya dengan lancar? Bukankah seharusnya ia sudah mampu menarik
perhatian komunitas internasional, membuat sastra Indonesia makin terjangkau?
Tapi kelihatannya tidak, karena meskipun katanya Lontar
sekarang begitu berkuasa, kita masih saja menjumpai tulisan-tulisan yang
menyayangkan tidak hadirnya sastra Indonesia di panggung dunia.
Tidak dicintai dan tidak kemana-mana? Masa?
Tapi jangan berpikir terlalu jauh dulu. Hal pertama yang
harus kita lakukan adalah mempertanyakan apakah asumsi bahwa sastra Indonesia
tidak dicintai dan tidak ada yang peduli benar atau tidak. Mari kita melihat
dunia di luar Lontar dan organisasi asing lain.
Di tahun 2015, novel Eka Kurniawan “Cantik Itu Luka”
diterjemahkan menjadi “Beauty Is a Wound” oleh Annie Tucker dan dirilis oleh
penerbit bereputasi sastrawi di Amerika Serikat, New Directions. Buku ini
sekarang telah diterjemahkan ke dalam 33 bahasa. Novel Eka yang kedua, “Man
Tiger”, diterbitkan oleh Verso Books dan masuk dalam daftar panjang Man Booker
Prize tahun 2016.
Kumpulan puisi Norman Erikson Pasaribu, “Sergius Mencari
Bacchus”, menjadi juara pertama lomba manuskrip puisi Dewan Kesenian Jakarta
tahun 2015. Setelah diterjemahkan oleh Tiffany Tsao menjadi “Sergius Seeks
Bacchus”, buku Noman memenangkan penghargaan PEN Translates; buku ini akan
diterbitkan oleh Tilted Axis Press di Inggris pada tahun 2019.
Cerpen-cerpen Intan Paramaditha telah diterjemahkan oleh
Stephen J. Epstein dan dikumpulkan dalam kumcer “Apple and Knife”. Di Inggris,
buku ini diterbitkan oleh Penguin/Harvill Secker; di Australia diterbitkan oleh
Brow Books.
Penulis Indonesia sebenarnya sudah menoreh sukses di
dunia internasional sejak era ‘90an. Saut Situmorang memenangkan penghargaan
puisi dari Universitas Victoria di Wellington (1992) dan Universitas Auckland (1997)
di Selandia Baru. Haikunya yang berbahasa Inggris, “such boredom”, menang juara
satu dalam 1992 International Poetry Competition yang diselenggarakan New
Zealand Poetry Society; puisi ini kemudian dikoleksi oleh Museum Haiku di
Kyoto, Jepang.
Ada banyak lagi penulis Indonesia yang sudah
diterjemahkan dan diterbitkan di luar negeri; ditambah lagi yang lain yang
sering mendapatkan pujian di media online, baik nasional maupun internasional.
Tanpa harus disorot (atau tidak disorot sama sekali),
gerakan-gerakan sastra akar rumput dan luar arus di seluruh penjuru Indonesia
ramai merayakan sastra. Di manakah para penulis Indonesia? Mereka dari dulu di
sini. Paviliun Puisi misalnya, yang digawangi Mikael Johani, Gratiagusti
Chananya Rompas, Kezia Alaia, Mikhael Ray, dan Rendy Satrya, selalu penuh
sesak. Energi kolektif yang kuat selalu terasa di bar jamu Paviliun 28 di
Kebayoran Baru yang dipakai untuk acara ini. Komunitas seperti Lakoat Kujawas,
yang berbasis di Mollo, Timor Tengah Selatan, dan didirikan oleh pengarang
Indonesia Dicky Senda, membawa film dan sastra Indonesia supaya bisa dinikmati
penduduk setempat.
Dan seterusnya: alihkode dan inovasi Saut diwarisi dan
diperluas oleh penyair/penerjemah muda seperti Rara Rizal, Syarafina
Vidyadhana, Eliza Vitri Handayani, dan Dwiputri Pertiwi. Penulis muda lain
seperti Madina Malahayati Chumaera dan Ray Shabir mahir dalam menceritakan
kisah-kisah urban dengan perspektif yang khas Indonesia. Kanon sastra Indonesia
mungkin masih muda dalam soal umur, tapi kualitasnya menakjubkan dan tumbuh
makin besar hampir tiap hari. Semua ini tidak menjadi kurang berharga atau
bermanfaat hanya karena dunia barat tidak memperhatikan.
Jadi sekali lagi—kenapa kita masih juga menjumpai
tulisan-tulisan pesimis yang giat menghapus cerita-cerita asli Indonesia
beserta penulisnya sekaligus?? Kenapa makelar-makelar sastra kulit putih dan
organisasi asing terus-menerus mempromosikan kepercayaan usang bahwa barat
pasti benar, dan mempengaruhi pengarang untuk mendambakan popularitas
internasional dengan mengorbankan otentisitas mereka? Kenapa organisasi seperti
National Centre for Writing membantu akademisi kulit putih mempertahankan kuasa
mereka atas Indonesia untuk mempromosikan narasi yang jauh dari lengkap?
Bagaimana dengan perjuangan untuk kebhinekaan dan representasi yang lebih adil?
Apakah penerbit-penerbit dan organisasi-organisasi ini
sadar bahwa ada sebuah negeri yang penuh cinta akan sastra; bahwa ada dunia
lain di luar organisasi dan lingkaran elit mereka? Atau, apakah mereka dengan
sengaja menyingkirkan kisah sukses orang lain demi mempromosikan kelompok
mereka sendiri?
Esai-esai ini dipelajari di sekolah dan universitas di
luar negeri; ada risiko mereka akan membuat generasi turun-temurun percaya ide
usang bahwa Indonesia adalah negeri terbelakang yang sudah untung dihadiahi
segelintir penerjemah kulit putih murah hati dan bahwa lebih sedikit lagi orang
Indonesia yang peduli akan masalah ini. Penerbitan internasional seharusnya
tidak lagi membiarkan orang asing bercerita tentang Indonesia, seakan-akan jadi
wakil orang Indonesia sendiri. (Argumen bahwa publikasi internasional
memerlukan tulisan dalam bahasa Inggris yang baik dan benar tidak lagi berlaku.
Sekarang sudah begitu banyak penulis Indonesia yang berbahasa Inggris; banyak
editor hebat; dan penerjemah selalu bisa dicari).
Sudah waktunya penulis Indonesia percaya dengan kekuatan
mereka sendiri daripada membiarkan dunia menginterpretasi karya mereka. Mereka
telah menuliskan kanon satra mereka sendiri—biarkan mereka sendiri yang
membicarakannya, menyanyikannya, meneriakkannya.
Theodora Sarah Abigail adalah
pengarang “Warchild” (2016), kumpulan puisi yang ia terbitkan sendiri, dan “In
the Hands of a Mischievous God” (2017), sebuah kumpulan esai. Ia tinggal di
Cikupa, Tangerang.
Sumber: Mikael Johani
0 komentar:
Posting Komentar