This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 14 Agustus 2011

Multatuli dari Pulau Jawa


August 14, 2011

Buku "Meraba Indonesia" (2011) karya Ahmad Yunus. Foto: www.serambi.co.id.

Buku “Meraba Indonesia” karya Ahmad Yunus ini membuat kepala saya sakit. Salah satunya karena foto anak perempuan di Pulau Sebatik, Kalimantan Timur. Ia berseragam putih biru, khas anak Sekolah Menengah Pertama. Di atas sakunya tertempel bendera merah putih.

Seketika rontok pemahaman-pemahaman kita mengenai apa itu pendidikan, apa itu sekolah. Filosofi pendidikan tak menemui muaranya pada seragam yang ditempeli bendera itu. Ia lebih memberi tanda akan pembentukan suatu barisan ketimbang mengedepankan suatu sistem pikiran yang membebaskan.

Jika pun dikatakan bendera di seragam sekolah itu untuk menumbuhkan kecintaan kepada negara Indonesia, atau penguat identitas negara, maka pertanyaannya adalah, kenapa di sekolah-sekolah lain, di tempat lain, hal serupa tak diberlakukan? Karena Sebatik adalah perbatasankah? Lalu kenapa dengan perbatasan?

“Mungkin ingin menampilkan identitas bahwa mereka bagian dari Indonesia. Namun tak ada bukti nyata antara nasionalisme Indonesia dengan kehidupan di Sebatik. Kehidupan di Sebatik masih tetap seperti etalase yang muram dan miskin,” tulis Yunus (halaman 185).

Terlalu banyak pertanyaan dari satu foto anak remaja putri itu. Dan itu bukan hal terakhir yang disajikan penulis secara menggemaskan.
Di Selat Malaka, misalnya, dalam perjalanan dari Dumai (Riau) menuju Batam (Kepulauan Riau), kapal pengangkut sayur dan buah yang ia naiki dicegat sebanyak empat kali. Dan akhirnya ia paham kenapa kawasan itu disebut rawan. Pun siapa sebetulnya yang disebut sebagai bajak laut (halaman 95-98).

Cegatan pertama dilakukan oleh marinir angkatan laut Indonesia. Pada tentara-tentara itu, awak kapal sayur memberikan setoran sebanyak empat lembar uang lima puluh ribu rupiah. Cegatan kedua masih datang dari angkatan laut Indonesia. Kapten kapal lalu memberikan 150 ribu rupiah. Yang ketiga adalah polisi laut Indonesia, ketika kapal sayurnya dekat dengan pelabuhan Singapura. Setorannya sebesar dua ratus ribu rupiah. Dan cegatan yang keempat juga dari polisi laut Indonesia. Di sini setorannya 150 ribu rupiah.

Kapal sayur itu mengalami semua ‘cegatan kotor’ justru ketika mata-mata memandang kapal-kapal besar mengantri memasuki perairan Malaysia dan Singapura.

“Ketika di atas kapal sayur,” tulis Yunus (halaman 98), “saya melihat begitu padatnya jalur di wilayah internasional. Banyak kapal berukuran raksasa mengangkut kontainer. Sementara di wilayah laut Indonesia hanya diisi lalu lintas kapal sayur dan kapal jet transportasi laut.”

Kisah-kisah tak baik semacam ini, yang bertebaran di hampir tiap halaman, merupakan catatan penulis dalam perjalanannya mengelilingi bumi Indonesia yang disebut “Zamrud Khatulistiwa”. Tapi Yunus tak sendiri. Dengan dua buah sepeda motor, ia menjalani petualangan ini dengan Farid Gaban. Keduanya adalah wartawan dari Pulau Jawa. Yunus seorang Sunda dan Farid seorang Jawa, dengan rentang generasi yang berbeda.

Selama hampir setahun, 2009-2010, keduanya memotret, dengan kata dan gambar, tentang wajah fisik di sejumlah tempat di Indonesia. Entah itu kemiskinan, kesulitan hidup, kehancuran infrastruktur di seluruh lini, pendidikan, lingkungan, atau terpojoknya masyarakat (adat). Dan penulis nampak geram dengan itu semua. Dalam tulisannya, penulis bagai seorang nasionalis yang membawa sekian harapan dan gagasan keindonesiaan dari Pulau Jawa namun berselisih dengan apa yang terpandang dan terasakan. Ia laksana sedang menguji nasionalisme Indonesia. Dan dengan serius ia melemah.

“… nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme khayalan. Dan khayalan bisa saja kabur dan kemudian menghilang dengan khayalan lain. Seperti sayup-sayup dan kemudian senyap ditelan angin dari tepi Samudera Pasifik yang bergemuruh,” tulis Yunus (halaman 276).

Persoalan Meraba Indonesia

Judul buku “Meraba Indonesia” yang terbit pada 2011 ini nampak begitu gagah. Ia menyiratkan sebuah pembacaan ulang atas keindonesiaan. Apalagi, penulis seperti terinspirasi pada Alfred Russel Wallace yang menulis buku “The Malay Archipelago” dan Che Guevara yang berkeliling Amerika Latin dengan sepeda motor.

Akan tetapi, nuansa intelektual pada judul itu agak teranulir dengan adanya subjudul “Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara.” Judul yang sudah memikat itu, dalam perspektif saya, roboh dengan subjudul yang amat bercitarasa ‘remaja’ itu.

Jika Wallace yang mengeliling kepulauan yang kini disebut Indonesia itu menghasilkan gagasan, pun Che Guevara, nampak bahwa penulis tak mengarah ke sana. Ibarat tamu, penulis seperti sekedar melihat rumah-rumah yang ia lewati. Ia tak masuk ke dalam dan menulis berbasis perspektif empu rumah. Dan karenanya, tulisan kecil di depan sampul bukunya, yakni “Mengenal lebih dekat, lebih rekat…” menjadi tak mewujud.
Yang menarik, pada saat yang sama, penulis tak banyak menceritakan ihwal Jawa dan bagian-bagiannya. Dan itu yang menjadi pertanyaan mula-mula, pada siapakah buku ini ditujukan? Pada orang Jakartakah?

Penggunaan istilah ‘nusantara’ yang digunakan berganti-ganti dengan nama ‘Indonesia’ juga cukup mengherankan buat saya. Seolah keduanya adalah identik dan dapat saling menggantikan. Tapi agaknya ini wajar. Referensi penulis adalah buku Alfred Russel Wallace yang diterjemahkan oleh dua penerbit di Jawa sebagai “Kepulauan Nusantara”.

Penulis rupanya tak tergelitik untuk mencari tahu, kenapa dua penerbit di Jawa itu mengganti judul “The Malay Archipelago” menjadi “Kepulauan Nusantara”? Padahal, dalam buku aslinya, tak sebiji pun tertulis istilah ‘nusantara’. Menjadi pertanyaan buat kita semua, apakah “The Malay Archipelago” tak memiliki padanan dalam bahasa Indonesia? Apakah Melayu identik dengan nusantara? Atau ada politik bahasa di sana, yang dimakan bulat-bulat oleh penulis, betapapun ia sudah ke lapangan dan punya kesempatan untuk menguji istilah ‘nusantara’?

Akan tetapi, tak hanya penerbit Jawa yang mengganti buku Wallace. Penerbit di Belanda pun sama. “The Malay Archipelago” diganti menjadi “Insulinde: het land van den orang-oetan en den paradijsvogel”. Belanda tetap seperti dahulu, menganggap orang-orang kulit coklat ini adalah insulinde, the islands of the Indies, orang-orang Indian.

Nama ‘Indonesia’ pun terasa tak maksimal dielaborasi oleh penulis. Meski menyebut George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan dengan argumentasi etnografi dan geografi masing-masing, penulis alpa pada pengertian Indonesia itu sendiri. Penulis tak mengatakan bahwa nama ‘Indonesia’ merupakan pemendekan dari Indian Archipelago‘yang ditambah ‘nesia’ dari usulan Earl, yang teringat pada “Polinesia”, yang berasal dari bahasa Yunani.

Nampaknya, penulis memang tak membaca dari sumber asli mengenai nama ‘Indonesia’. Ia keliru ketika menyebut 1847 sebagai tahun penerbitan “Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia” yang berisi perdebatan nama “Indonesia”. Padahal, yang benar adalah 1850, yakni edisi keempat dari jurnal itu. 1847 adalah tahun jurnal itu diterbitkan pertama kali. Sebagai jurnal, ia terbit per tahun.

Persoalan lain yang terbentang di buku ini adalah penggunaan istilah pulau ‘terluar’ pada kawasan-kawasan perbatasan Indonesia. ‘Terluar’, tentu saja, mengindikasikan suatu ruang yang ada di luar, terdekat dari luar, bukan di dalam. Sebetulnya, penggunaan istilah ‘pulau terluar’ sudah diganti banyak orang dengan ‘pulau terdepan’.

Terkadang, gaya berpikir penulis untuk menunjukkan ruang juga terlihat ganjil. Selain berulang-ulang menyebut ‘pulau terluar Indonesia’, ia juga kerap menyebut nama mata angin terlebih dahulu baru nama ruang. Ia, misalnya, mengatakan ‘selatan Sulawesi’ pada Selayar dan Takabonerate. Istilah ‘selatan Sulawesi’ tentu mengindikasikan Selayar dan Takabonerate bukanlah Sulawesi. Ini serupa ketika orang salah kaprah menyebut Timur Indonesia, dari yang semestinya Indonesia Timur.

Melewatkan Masyarakat

Yunus dan Farid memulai perjalanannya dari Jakarta untuk kemudian memasuki Sumatera dari Lampung dan seterusnya hingga Aceh. Di kawasan-kawasan itu, penulis menceritakan ihwal perjumpaannya dengan penduduk-penduduk setempat. Tapi banyak yang betul-betul hanya laporan pandangan mata belaka dan kejadian-kejadian ‘suka duka berpetualang’.
Membaca lembar demi lembar buku ini, sebetulnya tak semua kawasan dikunjungi oleh penulis. Banyak yang dilewatkan begitu saja. Namun, untuk persoalan cakupan pembahasan, penulis sebetulnya sudah mengakui akan keterbatasan yang ia miliki. Menurutnya, waktunya terlalu sebentar untuk dapat menjelajahi Indonesia yang, seperti ditulisnya, luasnya sebanding dengan luas Eropa dari ujung Barat sampai Asia Tengah. Untuk hal ini, memang ada anekdot bahwa siapapun yang ingin menjelajahi Indonesia, yang dimulai dari usia 25 tahun, maka di pulau terakhir ia sudah meninggal di sekitar usia 80 tahun.

Akan tetapi, sebetulnya keterbatasan waktu yang penulis miliki bisa disiasati dengan menciptakan kategori. Tanpa itu, pembaca akan bertanya kenapa daerah tertentu dibahas secara detail dan yang lain tidak; termasuk tujuan pendetailan pada suatu masyarakat tertentu. Tanpa kategori, pembaca tak dapat meraba arah dari buku ini selain menyaksikan kisah sensasional backpacker bermotor.

Penulis, dengan sepeda motornya, terus bergerak dari Lampung, Bengkulu, dan Enggano tanpa menuliskan siapa dan bagaimana karakteristik penduduk di kawasan-kawasan tersebut. Bahkan, alih-alih berpihak pada perspektif penduduk setempat, penulis justru memihak pada cara pandang asing kala mengatakan Enggano ‘ditemukan Portugis’. Diksi ‘ditemukan’ tentu bukan perspektif penduduk.

Akan tetapi, berbeda dengan kawasan-kawasan sebelumnya, penulis bercerita banyak hal mengenai masyarakat Mentawai, Sumatera Barat. Tak hanya manusianya, tetapi juga secara kultural. Entah apa pertimbangan yang membuat penulis merasa Mentawai lebih menarik ketimbang yang lain.
Selain ketiadaan kategori, buku ini juga tidak selamanya berpihak pada perspektif masyarakat. Saat memasuki Bukittinggi, misalnya, pola pengisahannya berubah. Jika di Mentawai penulis bercerita mengenai masyarakat, kini ia bercerita ihwal elit Indonesia. Penulis terkagum-kagum dengan Hatta, Tan Malaka, Sjarir, Natsir, dan seterusnya, dengan segala artefak yang ada, termasuk kantor Pemerintahan Darurat Republik Indonesia.

Meski sosok-sosok itu memang pantas dikagumi, tetapi penulis sama sekali tak menceritakan ihwal penduduk dan kultur Minang. Karena amat terkagum-kagum dengan Hatta dan kawan-kawannya itu, ia silap dari konstelasi politik-kultural antara Minangkabau dengan Riau dan Jambi kala berada di Provinsi Sumatera Tengah, yang bertalian dengan praktik pecah belah oleh pemerintah pusat.

Bahkan, perang antara Sumatera (juga Sulawesi) dengan Jakarta tak diulas sama sekali. Padahal, Bukittinggi adalah motor dari perlawanan itu, yang sebetulnya sedari dulu sudah sering melawan pemerintah pusat. Penulis sama sekali tak menceritakan dampak dari perang itu, yang berakhir dengan kekalahan Sumatera, seperti adanya penggantian nama secara besar-besaran oleh penduduk Minang menjadi nama-nama Jawa atau nama lainnya.

Gara-gara terbelalak dengan Tan Malaka, barangkali, tak sedikitpun diulas tentang goyangnya identitas Minang akibat pemerintahan militer di masa lampau. Terlalu asyik pada tokoh-tokoh yang pernah bermain di Jakarta membuat penulis tak mengelaborasi kenapa kawasan yang melawan ini kemudian justru menjadi lumbung Golkar di masa Orde Baru. Atau bagaimana salah satu kerbau di tambo Minang itu berubah-ubah identitasnya.

Ketiadaan kategori membuat pembaca juga tak mengerti mengapa ia melewatkan Sumatera Utara/Timur. Bisa jadi, penulis abai atau tak tahu bahwa kawasan itu adalah salah satu tempat terjadinya revolusi sosial yang paling berdarah, yang menghantam negara-negara lama. Jika orang kulit coklat tertarik pada revolusi Perancis, maka mengherankan jika ada yang tak mengetahui revolusi sosial di Sumatera Timur – meski kedua revolusi itu berbeda pada pelaku.

Di sana jugalah terjadi penyerbuan yang dilakukan laskar-laskar republik beserta ekstremis komunis yang dibantu buruh-buruh perkebunan asal luar Sumatera yang menyerang penduduk asli dan pendatang seperti China. Bahkan, di Belanda, sebagaimana diceritakan oleh Tengku Mansoer Adil Mansoer di LenteraTimur.com (2/5), ada foto yang terkenal di seluruh dunia yang membandingkan serangan laskar-laskar dan ekstremis itu dengan kekejaman Nazi di Berger-Belsen. Bagaimana kemudian mereka bisa ‘menyesuaikan’ diri dengan Indonesia, terlewatkan oleh penulis.

Yang juga mengherankan adalah ketika penulis menyebutkan negerinya Raja Ali Haji sebagai Kesultanan Melayu. Mungkin penulis lupa bertanya siapa penduduk dan peradaban di kawasan yang ia kunjungi. Sebab, tak ada yang namanya Kesultanan Melayu tanpa nama negeri. Yang dimaksud penulis di kawasan itu tentu saja Kesultanan Melayu Riau Lingga.

Seperti sebelumnya, penulis juga mengabaikan kehidupan masyarakat di Kalimantan. Ada yang tak terbaca dari apa yang sekedar terlihat. Tak dielaborasi siapa dan bagaimana penduduk Pontianak (Kalimantan Barat), Banjar (Kalimantan Selatan), Balikpapan dan Samarinda (Kalimantan Timur), atau dinamika masyarakat Dayak secara politis dan kultural, baik di internal maupun dalam perjumpaannya dengan entitas keindonesiaan.

Pun, ihwal bahasa Melayu yang disinyalir berasal dari kawasan Sambas di Kalimantan Barat luput dari perhatian. Juga bagaimana penduduk Pontianak, misalnya, memandang keindonesiaan setelah negeri lama mereka dibantai secara amat sadis oleh Jepang, yang dikenal dengan istilah Tragedi Mandor, dimana Jepang sendiri merupakan kawan baik dari Republik Indonesia.
Jepang yang fasis, yang disebut oleh sekutunya sebagai saudara tua, adalah yang membentuk Badan penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Junbi Cosakai).

Tak terbahaskan pula mengenai bagaimana sebetulnya narasi perbatasan di Kalimantan Barat, juga Kalimantan Timur, dari perspektif masyarakat. Bagaimana sebetulnya wilayah-wilayah yang bersifat regional bahkan global selama ratusan tahun itu kemudian mengalami keambrukan. Bahkan, tak juga diceritakan mengenai adanya eksodus warga negara Indonesia ke Malaysia di Kalimantan Barat, khususnya Entikong di Kalimantan Barat atau Nunukan di Kalimantan Timur.

Demikian juga di Sulawesi. Penulis menyusuri kawasan demi kawasan dengan mengabaikan kisah dan karakteristik masyarakat masing-masing. Memang, Bugis (Sulawesi Selatan) banyak diceritakan, utamanya soal kapal legendaris yang masih hidup dan terpelihara itu, Pinisi. Akan tetapi, sebagaimana di Sumatera dan Kalimantan, tak ada bahasan (perjumpaan) karakter kultural Bugis dengan Makassar dalam kekinian, termasuk Toraja.

Penulis terus melaju ke Takabonerate (Sulawesi Selatan), Buton (Sulawesi Tenggara), Banggai (Sulawesi Tengah), Gorontalo, dan Miangas (Sulawesi Utara) dengan konsekuensi ketidakdekatan, ketidarekatan, dan ketidakutuhan penggambaran mengenai Indonesia. Penulis, selain nampak memandang dari luar hingga sulit mengelakkan diri dari tafsir ‘biasa-biasanya’ suatu entitas, juga tak menjangkau bagaimana entitas-entitas yang disebut lokal atau bagian Indonesia itu melakukan transformasi sosial dan memodernkan dirinya dengan caranya sendiri.

Meski demikian, ada yang menarik ketika penulis tersenyum menanggapi pertanyaan seorang kakek di Banggai, Sulawesi Tengah. Kakek itu bertanya, apakah betul Presiden Amerika Serikat Barack Obama datang ke Indonesia.
 Seketika, senyum penulis menghadirkan kenyataan bahwa Indonesia terbangun secara berlapis-lapis, bukan merata. Ada lapis atas, yang dihuni penulis di Jawa, dan lapis bawah, yang dihuni sang kakek di Banggai.
Senyum penulis menyiratkan dirinya lebih tahu ketimbang sang kakek. Dan kosmologi sang kakek yang ‘berada di bawah’ membutuhkan jawaban dari yang ‘paling dekat dengan Obama’.

Akan tetapi, berbeda dengan Kalimantan atau Sumatera, penulis selintas menangkap kompleksitas perbatasan di Miangas, Sulawesi Utara. Ia membidik kesulitan yang didera Miangas dari perspektif isu terorisme yang dianggap masuk dari Filipina – meski sebelum itu kompleksitas Miangas sebagai regional bahkan global sudah menyurut ketika tiba-tiba terposisikan sebagai kawasan pinggiran karena berdirinya Indonesia sebagai negara lanjutan dari Belanda di kepulauan itu.

“Isu ini membuat lumpuh perdagangan antara warga Miangas dan Filipina. Sejak 2004 hingga sekarang perdagangan mati. Pedagang Filipina tidak lagi membeli hasil tangkapan nelayan Miangas; orang Miangas kesulitan mendapatkan barang kelontongan. Sebenarnya, kedua pihak mengalami kerugian,” tulis Yunus (halaman 272).

Usai dari Sulawesi, tanpa menyinggahi Poso di Sulawesi Tengah yang memiliki banyak sekali patung-patung megalitikum yang mencengangkan, penulis bergerak ke Maluku Utara. Dan, lagi-lagi, ia seakan mengabaikan kawasan beridentitas penting. Ia hanya mampir di negeri para raja itu, yang masyarakatnya memiliki karakteristik kuat dengan dinamika antara masyarakat kerajaan/adat dengan pemerintahan ‘baru’. Ia, seperti pada Mentawai, lebih memilih menjelajah ke Banda (Maluku), Papua, Papua Barat, serta Flores (Nusa Tenggara Timur), dan menceritakan masing-masingnya lebih banyak ketimbang yang lain. Fokus penulis pada kawasan-kawasan tersebut menghasilkan wacana yang relatif lebih utuh dan informatif.

Tragedi

Indonesia adalah negeri yang penuh tragedi. Sebagaimana biasa penulis kala menuliskan tentang Indonesia selalu menyelipkan kejadian 1965, betapapun kejadian itu hanya terjadi di separuh Pulau Jawa, juga Bali, begitu pula penulis dalam buku ini.

Tragedi kemanusiaan pada 1965 itu muncul juga di buku ini, tidak di Pulau Jawa, tetapi di Maumere, Nusa Tenggara Timur. Pada 14 November 1965, penulis menceritakan bahwa ada serangan dari militer Indonesia terkait isu komunisme terhadap penduduk asli.

“Tentara mengumpulkan 10 anak muda sebagai algojo. Tentara memberikan petunjuk memotong kepala dengan parang, cara mengikat, dan mengikuti kode-kode penyerbuan. Mereka akan menjadi korban yang sama jika para calon korban berhasil melepaskan diri. Tentara akan mengambil lima orang korban tambahan sebagai penggantinya,” tulis Yunus (halaman 337).

Akan tetapi, kekejian itu tak diulas utuh. Penulis tak menceritakan tentara itu berasal darimana. Apakah itu tentara dari Nusa Tenggara Timur sendiri atau kiriman dari Jawa, sebagaimana pernah terjadi pada Sumatera, Kalimantan, atau Sulawesi pada periode 1940-an akhir atau 1950-an.

Sebagaimana ketiadaan kategori yang membingungkan, penyajian kisah terkait kejadian 1965 juga mengundang pertanyaan. Apa mekanisme yang digunakan penulis dalam menyeleksi peristiwa? Mengapa laskar-laskar yang melakukan penyerbuan di banyak tempat, yang sebetulnya mengingatkan kita pada upaya ekspansi Jerman pada Eropa dahulu, tak tertulis? Mengapa kejadian-kejadian lain di periode 1940-an akhir dan 1950-an tak ‘diindonesiakan’ sebagaimana kejadian 1965? Mengapa proyek transmigrasi yang dianggap menjadi pemicu konflik horizontal di banyak kawasan tak terulas?

Saking menautkan diri dengan apa yang diyakini sebagai sentral Indonesia kini, sebagaimana terbaca pada bagian Sumatera Barat, Papua, atau Banda, yang dalam dugaan saya menjadi paradigma penulis dalam menentukan kawasan yang dikunjungi, menjelang akhir bukunya penulis bahkan menyebutkan bahwa setelah Sukarno, presiden kedua Indonesia adalah Sjafrudin Prawiranegara, dan yang ketiga adalah Suharto (halaman 340). Periode kabinet darurat Sjafrudin adalah 22 Desember 1948 takat 13 Juli 1949.

Pendapat penulis tentu saja mengherankan. Di masa itu, Negara Republik Indonesia adalah salah satu negara yang ada di Indonesia. Jika benar Sjafrudin presiden kedua Indonesia, lantas bagaimana penulis menempatkan Negara Indonesia Timur (1946), Negara Sumatera Timur (1947), Negara Madura (1948), Negara Pasundan (1948), Negara Sumatera Selatan (1948), Negara Jawa Timur (1948), dan sebelas daerah otonom lain dalam keindonesiaan?

Di bagian lain buku ini, penulis menyebutkan ihwal Eduard Douwes Dekker, seorang Belanda yang lebih dikenal dengan nama Multatuli (halaman 245). Eduard Douwes Dekker menuliskan novel yang berisi kritik pedas terhadap pemerintah Belanda atas negeri jajahan. Sejurus, saya memandang sosok Eduard Douwes Dekker mewujud pada penulis. Penulis datang dari Pulau Jawa, pulau yang diutamakan dalam proyek keindonesiaan sepanjang masa, yang menjadi subjek dari objek abstrak bernama ‘luar Jawa’, dan kemudian menuliskan kritik keras melalui bukunya ini kepada, sebagaimana pertanyaan kepada siapa buku ini ditujukan, Jakarta.

Meski demikian, buku ini cukup menarik untuk dibaca. Penulis telah mencoba menyuarakan mereka yang tak tersuarakan. Sebab, pada kenyataannya, memang tak banyak orang yang dapat membayangkan betapa luasnya Indonesia, sekaligus kehancuran yang sudah atau sedang dialaminya. Tak banyak orang mengetahui bahwa di banyak tempat keadaan tetap tak berubah sejak zaman pemerintahan Sukarno hingga pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono kini.

Pada saat yang sama, Ahmad Yunus telah mengantarkan kita pada pertanyaan tajam ihwal mengapa negara ini ada. Juga pertanyaan apakah alasan adanya negara ini hanya ada di belakang, di masa lalu, dan tidak di masa depan.

Selasa, 14 Juni 2011

Tarmiihim dan Benggala Sains

1. Catatan Kebumen atas Pentas Teater Ego



Proses maju, barangkali benar tak diukur oleh kwantitas waktu. Intensitas, ketidakmenyerahan, lekat konsistensi; menjadi penggalan-penggalan yang membangun tanda. Dan membuat ukuran-ukuran yang baru karenanya. Begitulah simak perjalanan setahun terakhir Teater Ego Kebumen. Hingga pada pementasan produksi ke 2 bertajuk Tarmiihim malam itu. Rabu (8/6) memang menjadi tarikh yang memadatkan dugaan bahwa kelompok teater ini bukan sebuah konten seni peran yang suwung. Selain bahwa perjalanannya meninggalkan jejak sebagai sebuah proses maju.

Adalah Putut AS sang sutradara yang mengeksplorasi pementasan naskah Salim EmDe bersama belasan pelakon di Gedung Haji itu. Malam yang membedakannya dengan “peristiwa budaya” dalam tema yang serupa, pada tempat yang sama; di tahun sebelumnya.

Melempar (yang usang) dalam Otopsi

Bagaimana Pengarusutamaan Gender menjadi eksploran yang wajar tapi menohok, menjadi tema besar yang memungkinkan menyibak kisi-kisi dalam relasi personal dan sosial. Menonton Tarmiihim seperti nyaris membongkar praksis patrialkal yang barangkali hingga hari ini masih menjadi realisme yang tak terjawab. Kasunyatan yang terkungkung dalam cacat budaya yang tak sembuh, terbungkus dalam balutan luka di pondok-pondok. Tarmiihim menguak balutan kumuh itu dan Teater Ego memaparkan dalam pentas keduanya.

Luka yang tak sembuh itu karenanya muncul jadi cacat budaya, relasi dominan Kyai atas Nyai, laki-laki atas perempuan. Dan terjaga dalam referensi teks-teks yang dipiara untuk tak utuh dibedah dalam tafsir. Karena tafsir adalah sesuatu yang harus dimonopoli. Kelas sosial tertentu dianggap menjadi yang paling berhak atas pekerjaan interpretasian itu, bukan kelas yang mewakili para kebanyakan, yang “hanya” bekerja di sudut yang tersekat kubikel pelayanan. Terpuruk beku, berdiam di sana. Lalu Tarmiihim mencairkan dan membunyikannya.

Minggu, 29 Mei 2011

Tan Malaka: Sebuah Opera tentang Ketidakhadiran

Senin, 23 May 2011 02:33

Wajah kebingungan terpancar pada sebagian besar penonton yang melenggang keluar dari ruang pertunjukan Teater Salihara Oktober tahun lalu. Ragam pertanyaan sepertinya membuat beberapa hadirin kebingungan. Pertanyaan yang muncul dari keraguan dan ketidaktahuan.

“Opera apa ini? Sungguh, tak me­ngerti. Tidak ada ceritanya.”
“Judulnya Opera Tan Malaka, tapi dimana Tan Malaka-nya?”
“Goenawan Mohammad (GM) yang terlalu pintar atau aku yang terlalu bodoh?”
“Oh, jadi itu yang Tan Malaka itu? Dia komunis ya? Atheis dong!”

Ragam pertanyaan yang menarik—semenarik senyum GM dalam me­ningkahi jabatan tangan dan ucapan se­lamat dari beberapa rekan dan hadirin yang sepertinya juga kebingungan menyaksikan malam penutupan Festival Salihara. Apakah GM menyenangi kebingungan para penontonnya itu? Menarik. Semenarik pesta penuh alkohol sesudahnya—tanda pesta sudah usai. Mungkin seperti itu. Mungkin pula tidak—karena aku tak hadir sesudahnya, sama seperti Tan Malaka yang tak pula hadir di opera-esai itu. Aku tak hadir maka aku ada.

Sebelumnya, di penghujung 2009 terbit sebuah buku berjudul “Tan Malaka dan Dua Lakon Lain” yang ditulis oleh GM dan itulah pertemuan pertamaku dengan naskah Tan Malaka. Butuh waktu satu tahun untuk menunggu pemen­ta­sannya. Cukup lama persiapannya ternyata. Tak apa, karena yang menarik bagiku saat itu adalah diskusi mengenai Tan Malaka selama tiga hari sebelum Opera Tan Malaka dimulai. Filmku “Selopa­nggung”, film dokumenter tentang penggalian makam Tan Malaka di Kediri juga diputar. Harry Poeze, yang juga memberi diskusi, malah ingin mem­bandingkan hasil komponis Tony Prabowo dengan Peter Schat yang membuat satu komposisi berjudul “An Indic Re­quiem”(1995). Dalam sebuah wawancara, Schat mengakui bahwa tenor, orkestra dan koir ini tercipta sebagai bentuk kreasi seninya yang terinspirasi oleh kejahatan kolonialisme Belanda terhadap Indonesia dan oleh perjuangan Tan Malaka dalam melawan kolonialisasi tersebut. Menarik.

Aku pun hadir kemudian sebagai satu penonton yang sudah membaca lakon bernama Opera Tan Malaka. Aku pun datang tidak dengan kosong, karena aku mengetahui sedikit banyak tentang Tan Malaka, setidaknya itu yang kupikir. Tapi ternyata aku keluar dengan ekspresi yang sama dengan mereka yang tak membaca naskah lakon itu. Ada apa ini?

Lalu tak lama kemudian, di awal Januari 2011, rekaman pagelaran tersebut yang sedianya akan diputar di beberapa stasiun televisi lokal justru dilarang penayangannya di Malang dan Kediri. Pelarangan ini konon datang dari pihak militer yang masih alergi dengan hal-hal yang berbau komunisme. Entah benar entah tidak. Ada apa ini? Rakyat yang tak menonton dokumentasi pergelearan pun ikut-ikutan bingung. Tapi satu hal yang pasti, hal ini tak menyurutkan GM untuk melanjutkan karnaval Opera Tan Malaka.

Opera-esai tiga babak ini kembali ditayangkan 23-24 April lalu di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Konsep opera tahun sebelumnya direnovasi mengingat setting yang tak lagi sama dengan Salihara yang tak cukup besar. Opera Tan Malaka menjadi opera yang dinamis. Komposisi brilian Tony Prabowo yang di-conduct oleh Josefino Chino Toledo bersaing dengan koreografi tari apik dari Fitri Setyaningsih.

Aria dari Paduan Suara Paragita Universitas Indonesia berpadu dengan nyanyian Nyak Ina “Ubiet” Rasukie dan Binu Doddy Sukaman. Narasi Landung Simatupang dan Adi Kurdi yang berbalasan secara paralel. Banyak cara bagi GM untuk mempromosikan lakon­nya kali ini. Entah karena promosi entah karena diundang, tak tanggung-tanggung, Wakil Presiden Boediono beserta istri hadir di pementasan kali ini. “Berat,” demikian katanya ketika ditanya oleh rekan-rekan wartawan mengenai opera tersebut. Nah lho?

Semakin senang GM sepertinya menyaksikan kebingungan ini.

***

Menarik pula akhirnya kemudian ketika Haluan memuat dua opini dari Indra J. Piliang (3/5/11) dan Raudal Tanjung Banua (9/5/11)—dua orang yang tak (mau) menonton Opera Tan Malaka. Mereka memberikan opini dari keti­dakhadirannya. Satu opini dibuka bahwa Opera Tan Malaka adalah lakon ahis­toris—Tan Malaka bukan opera. Salah arah. Satu opini kemudian bersetuju pula dengan opini sebelumnya. Melalui kacamata ekstrinsik berupa orientasi pengarang dengan lingkungan sosialita ibukota dilihat bahwa telah terjadi pencairan sosok Tan Malaka sehingga menjadi lebih instan. Opera ini dianggap tak hanya salah arah, tapi juga salah kotak.

Jika Indra J. Piliang bertanya musik apa yang disukai Tan, maka ini adalah pertanyaan menarik. Mengenai musik, Tan Malaka adalah seorang pemain biola ketika bersekolah dulu di Bukittinggi dan di Belanda. Bahkan beberapa minggu setelah proklamasi, bersama Ahmad Soebardjo dan Jo Paramitha, Tan Malaka memainkan salah satu komposisi Schu­bert. Jo pun menanyakan apakah Tan Malaka akan kembali bermain musik. Tidak, selama Belanda belum keluar dari pantai Indonesia, demikian jawabnya.

Mengenai sastra, pada tahun 1927, Tan Malaka mengaku sedang menulis sebuah novel mengenai penindasan yang terjadi pada bangsanya. Ia tak berhasil menyelesaikan novel itu. Satu hal yang patut diingat, rekannya Semaoen dan Mas Marco juga menulis novel pada waktu itu—namun mereka berhasil menyele­sai­kan karya mereka. Tan Malaka akhirnya mengirim draft novel itu ke Adinegoro dan Adinegoro menyerahkan surat-surat itu ke Hasbullah Parindurie yang kemudian dikenal dengan nama pena Matu Mona. Pada tahun 1938 terbitlah roman spionase Patjar Merah Indonesia di Medan. Roman ini menja­dikan sosok Tan Malaka sebagai legen­da—terutama bagi dunia pergerakan saat itu.

Mengenai lakon, sekitar tahun 1944-an, di Banten, Tan Malaka mendirikan satu klub drama (dan sepakbola) bernama Pantai Selatan. Tan Malaka tak hanya menuliskan lakonnya tapi juga me­nyutradarainya. Ada dua lakon yang diketahui yang pernah ia sutradarai di Banten; Hikayat Hang Tuah dan Prajurit Pekerja. Kritiknya terhadapnya kejamnya fasisme Jepang dan kondisi menyedihkan kaum romusha ia sampaikan melalui bentuk lain.

Gaya penulisan lakon Tan Malaka ini masih dipertahankan dan bisa dilihat pada karyanya yang tulis lima tahun kemudian yang terbit dalam bentuk brosur (Muslihat, Politik). Satu hal pula yang patut diingat, Roestam Effendy sebagai tokoh Murba juga adalah seorang pegiat teater. Mengenai olahraga pun, Tan Malaka menggagas pembuatan satu lapangan sepakbola di Banten bagi para pekerja romusha. Ia kerap menggelar pertandingan sepakbola waktu itu. Dalam hal ini, sepertinya Tan Malaka yang ditugasi dalam hal propaganda oleh Komintern melihat seni sebagai bagian penting dalam praktik dekolonisasi bangsanya.

Berpuluh tahun kemudian, dalam pameran “Dari Penjara ke Pigura” Agus Suwage menjadikan satu potret Tan Malaka sebagai lukisannya. Ia mem­berikan anasir-anasir merah berapi di pepinggir rambut Tan Malaka. Beberapa kalimat Tan Malaka dibiarkan menyatu dengan lukisan sehingga mencipta suatu dialektika antara kata dan rupa. Erik Wirawan, mahasiswa IKJ, pun membuat satu film fiksi pendek berjudul “Tan Malaka” yang diputar di berbagai festival. Keinginan untuk membuat Tan Malaka dalam versi layar lebar pun mulai menjadi wacana di kalangan filmmaker kelas atas tanah air—entah siapa yang akan lebih dulu merealisasikannya. Bahkan kelak akan ada sebentuk randai akan dipen­taskan tentang Tan Malaka. Tak hanya GM yang mengapresiasi Tan Malaka—apapun bentuknya. Maka di sinilah aku ingin mengambil posisi. Aku meng­apresiasi Tan Malaka dengan caraku.

Jika Althusser menyarankan untuk sedikit serius dalam memperhatikan sesuatu yang tak-hadir (absence) dalam teks bukan karena ia tak muncul di dalam teks, melainkan ada satu proses penyem­bunyian di dalam teks tersebut. Ia sengaja disembunyikan—oleh seseorang, oleh sesuatu, untuk suatu tujuan. Jika Tan Malaka yang tak hadir di dalam Opera Tan Malaka dianggap sebagai alegori dari ketidakhadirannya dalam konstelasi sejarah bangsa ini, semacam ada dan tiada, hadir untuk hilang, hidup untuk mati, maka dapat dilihat bahwa GM pun punya maksud tertentu kenapa ia menghilangkan Tan Malaka di dalam opera tersebut—sama seperti penguasa bangsa ini yang meniadakan Tan Malaka dalam buku sejarah resmi. GM tak menjawab, pun seperti diamnya penguasa. Tugas kitalah untuk mencari jawabannya—dengan berbagai cara.

Bagiku, Tan Malaka adalah simbol dari absensivitas itu sendiri. Kediriannya menjadi petanda semangat jaman, penanda bagi takutnya para penguasa. Ia tiada maka ia ada. Ia ada dalam ketiadaannya. Ia tiada dalam keadaannya. Ia adalah narasi. Ia hadir dalam diskursus.

Ia dimunculkan dan dihilangkan sekaligus. Ia dirayakan justru ketika ia selesai. Idealismenya malah dijadikan pijakan kapitalistis. Ia ditunggu. Ia dicaci. Ia dibunuh. Ia dikubur. Ia digali. Ia dicintai. Ia dibenci. Gagasan-gagasan besarnya dilupakan. Tan Malaka menjadi kompleksitas itu sendiri. Ambigu.

Realitas dan fiksi campur aduk. Ketika sejarah cenderung menghilangkan potensi seseorang yang dianggap lawan penguasa maka kemudian seni yang memun­culkannya kembali. Ini yang aku percaya, Tan Malaka adalah wajah kita sendiri—baik sebagai individu atau sebuah bangsa. Entah dengan Anda.

Jadi masih perlukah kebingungan itu dilanjutkan?

DEVY KURNIA ALAMSYAH
(Sutradara “Selopanggung” dan NominatorFestival Film Dokumenter (FFD) 2010)
Sumber http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=4984%3Atan-malaka-sebuah-opera-tentang-ketidakhadiran&catid=11%3Aopini&Itemid=83

Sabtu, 18 Desember 2010

Karedok di Rumah Kosong


Entah karena apa, saya lebih ngeh menjuduli tulisan ini dengan Karedok di Rumah Kosong sebagai catatan apresiatif atas pementasan Teater Ego Kebumen (14/12). Malam itu, pementasan belum lagi dimulai, tetapi aula Gedung Haji, tempat pentas, telah “digelapkan” lebih dulu. Seperti ruang dapur yang sudah tak dipakai masak malam, tapi pemilik rumah amat patuh pada himbauan hemat listrik. Sama patuhnya dengan 70-an penonton yang memasuki dan duduk lesehan, diam, menanti sajian drama tiga babak yang naskahnya ditulis Humam Rimba Palangka.

Di tangan sutradara Putut AS, durasi 45 menit “Rumah Kosong” lebih terasa karedoknya ketimbang menu matengan. Bagaimana ia harus mengolah dalam -rentang 12 hari- proses yang dikerangkai peringatan visioner anti kekerasan terhadap perempuan. Begitu karedok, seperti lotek, mirip lutis. Karena memang terasa betapa bahan-bahan dalam sajian malam itu tak dimatangkan dulu. Sehingga melihat “Rumah Kosong” nampak celah spasial yang menyisakan ruang lega, tetapi mangkrak; tak tersentuh. Dan waktu telah melibasnya, berlalu.

Realitas Tergesa

Realitas yang dipanggungkan melalui “Rumah Kosong” adalah realitas sehari-hari. Humam Rimba Palangka, penulis naskah, mengerti kebebasan yang jadi haknya dalam menulis. Tetapi apakah antara kemengertian dan kebebasan itu menghasilkan situasi estetis yang bakal mampu menstimulus pelaku dan penonton pementasan naskahnya. Itulah makna realitas tergesa. Mungkin memang ini wilayah penyutradaaan. Tetapi, sekali lagi, bingkai pesan anti kekerasan juga jadi muatan yang ditimbang di sana.

Penulis “Rumah Kosong” ini seakan menyorongkan kedaulatan ruang ciptanya kepada suatu sub-ordinari luaran. Yakni tema yang membekuk. Mungkin ia punya puluhan ide liar dan pilihan opsi. Puluhan dan pilihan dalam realitas “Rumah Kosong” nya, adalah realitas yang sipit. Akibatnya, situasi tematik lebih mengemuka ketimbang kebebasan mengeksplorasi aspek estetika. Dan di depan waktu, tak menyisakan kisi-kisi berekspresi.

Saat "produk" ini jatuh ke tangan sutradara, -justru melalui revisi penulisan- dan serangkaian proses serta situasi yang dikerangkai itu, terbentang pasar audiens yang seakan telah menunggu pesanannya disaji. Karedok itu. Sutradara menjadi fihak yang berwajib sekaligus berwenang. Tetapi kewajiban dan kewenangannya semata dimuarakan kepada kebutuhan yang menjamin kiriman pesan itu sampai ke alamat di jagad audiens. Sekali lagi, dalam atmosfir dan tema anti kekerasan terhadap perempuan yang dipersiapkan sosialisasinya.

Padahal, cakupan ruang karya, dikerangkai atau tidak; punya kedaulatan eksplorasi pada wilayah dan konflik-konflik yang potensial bagi syarat pemahaman tematik. Jika perteateran telah jadi sebuah disiplin empiris, semua bakal berinteraksi dengan pemahaman estetik. Perbedaan pemahaman tematik dan pemahaman estetik; sulit berjalan selaras. Dalam makna saling menguatkan. Itulah beban naskah “Rumah Kosong”, realitas tematik yang membekuk. Dan ketika proses belum membebaskan tahapan ini, makin jadilah kesan tergesa itu. Tema kekerasan yang menjadi muatan buat dipahami kadarnya, mengambang di permukaan, tak dalam. Mentah seperti karedok.

Catatan “Rumah Kosong” Lain

Catatan lain atas pementasan Teater Ego yang mengangkat naskah bertema Kekerasan Terhadap Perempuan, yakni “Rumah Kosong” nya Rimba Palangka, makin berwarna. Upaya manis mengusung serpih realitas keseharian di atas panggung, telah membikin Putut AS, seperti Koki yang bekerja tetapi tidak di dapur rumah miliknya. Betapa pun kerasnya upaya itu, tetap belum berkedalaman, bahkan terkesan terengah dikerumuni waktu yang bergulir. Juga, upaya mentransformasikan dua realitas panggung, antara panggung halaman gedung dengan panggung di depan penonton; jadi kurang punya taut yang kuat.

Eko Sajarwo melihatnya sebagai upaya visualisasi yang secara teknis, lemah di semua lini. Unsur-unsur dramaturgi yang tak optimal dieksplorasi, baik secara personal maupun dalam relasi kelompok. Ujung penglihatan kritisnya merambah hingga wilayah teknis. Dan pementasan “Rumah Kosong” disebutnya sebagai tanpa ruh, tanpa greget, lemah karakter penokohan. Para pemain masih sebagai dirinya sendiri dan belum selaku peran lakon yang mesti dimainkan.

Kalaupun pementasan itu diterima dan harus ditempatkan pada visi anti kekerasan terhadap perempuan, kata Pekik Sasinilo, dan menjadi mata dari serangkaian upaya sosialisasi; pun belum bermakna pencerahan bagi audiens. Rupanya ia menangkap keinginan yang mendalam tentang hadirnya sentuhan estetis pada pesan yang ingin disampaikan. Tema ini urung untuk sampai pada pemahaman estetis. Wilayah audiens yang tak diharu-biru.

Sedangkan Pitra Suwita menyebut “Rumah Kosong” sebagai naskah yang “berat” buat sutradara. Bukan berat untuk dipentaskan, tapi berat untuk dimainkan dalam pesan tematik yang menjadi muatan kontennya. Kedaulatan estetis telah dirampas oleh proses yang tak cukup buat mematangkan. Dan keberadaan truk sebagai properti pendukung tak banyak menolong. Secara parsial, ia menyebut pertolongan ada pada peran Kemad yang bermain cukup dialektis.

Ada Anto Batoussae yang terlibat dalam proses. Ia membaca kecenderungan dalam tradisi sastrawi. Pada perspektif ini, penonton teater lebih fokus pada aspek “kejadian” ketimbang “proses” atau konflik di kedalamannya. Dengan analogi lakon klasik “Abimanyu Kerem”, ia menjelaskan kecenderungan dominan itu. Dan pementasan naskah Rimba “Rumah Kosong” ini, lebih didekati dengan dominasi “kejadian” ketimbang proses atau aspek konflik personalnya. Tetapi sebagai sebuah keberanian sutradara dalam bekerja, ia merasa telah melaksanakannya dengan baik. Selamat.

Minggu, 14 November 2010

Belajar Jawa dari Mami Ohishi







Kamis, 30 September 2010

Catatan Komisaris atas teater Perisai

Melihat kembali realitas yang membudaya dan diusung ke atas panggung, betapa pun puru restung kadung membenalu di tiap sendi kehidupan; terasa ada nikmah. Panggung adalah refleksi kenikmatan itu. Dan menonton pementasan "Komisaris Jendral" teater Perisai di gedung PGRI Kab. Kebumen (25/9) malam itu jadi terasa benar henyaknya di benak 50-an penonton teater Kebumen.
Naskah "Inspector General" karya Nikolaj Gogol yang kemudian diadaptasi dan digarap oleh sutradara Edi Romadon menjadi sebuah pementasan panggung ini, amat runut bertutur tentang kebobrokan tata nilai dalam relasi sosial. Saking runutnya bertutur melalui serangkaian pengadegan yang didukung belasan pemeran ini, menyisakan alur cerita yang -meski tak jenuh- nyaris terkesan datar saja.

Spirit "galengan" mBanyumasan

Meski memang tak gampang mengadaptasi sebuah karya gemilang; tetapi memilih bidikan pemikiran Nikolaj Gogol dan respon sosio-kulturalnya terhadap jaman, nampak sukses direkomendasikan oleh Teter Perisai kepada penonton, bukan sebagai protes khalayak terhadap situasi tetapi panggah mewakili budaya salah-kaprah kekinian.
Sang sutradara, Edi Romadon, mencoba meracik sajian komedi situasi ke dalam menu semi karikatural, meski pun harus berhadapan dengan pertanyaan mengenai konsep dan bahkan madzab berteaternya. Jika di wilayah pementasan telah lama dikenal gaya "sampakan" maka bangunan karikatural yang disajikan mirip wayang beber ini, sesungguhnya cukup menggelitik. Edi dengan ingatan kolektif masyarakat agraris di masa lalu merepresentasikan dalam gaya yang disebutnya sebagai "galengan", gaya banjaran di pematang sawah!.
Inilah jawaban jujur kesenimanannya yang pantas menjadi catatan menarik di pementasan bersama Teater Perisai dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pentas yang seperlima bagian akhir durasinya sempat diganggu padamnya listrik. Tetapi sebegitu pun bukannya terganggu dan malahan menjadi bonus alur improvisasi, meski dukungan properti panggung yang dibawanya juga tak berfungsi maksimal. Belum ada gedung kesenian di Kebumen. Dan seperti kejujuran mBanyumas-an yang blakasuta pementasan itu memberikan wewarah keprihatinan yang getir seperti komedi satire kehidupan kaprah.

Sabtu, 13 Maret 2010

Dialog Seni

Obrolan Budaya
Bale Kelurahan Kebumen, 
Sabtu 13 Maret 2010, jam 20.30 wib – 23.25 wib
Peserta: Teater Ego, Teater Ilir, Basatu, SRMB, Teater Gerak, BoeMI, indipt,

Susunan Acara:

Putut
Pembukaan:
- Salam
- Kita berkumpul untuk ngobrol, format santai, ga protokoler dg tema: sebagaimana dibicarakan pada GPT-2 yang terpotong dahulu itu.
- Bagaimana agar bisa berlanjut ngobrol, begitu alasannya, kegelisahan teman2, ada sesuatu yang selalu layak untuk diobrolkan
- Evaluasi atau Refleksi
- Mungkin telah separuh lebih yang telah datang saat ini
- Inisiator, Ego dan SRMB.
- Peserta: Basatu, non teater Boemi, Teater Ilir, dan sebagainya.
- Dipersilahkan SRMB untuk menyampaikan sajian pembuka, musik-puisi atau apa saja. Dipersilahkan.

SRMB Membawakan sajian Musik-Puisi dari Antologi “Kuputarung”
- MP: hasbunnalloh wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mannatsir
- MP: Lelaki dan Pembasmi Serangga
- MP: Doa-Doa Sang Durjana

Pitra Suwita - Berharap masukan dari sekalian yang hadir
- Dipersilahkan Putut dan Pekik untuk mengawal dialog ini.

Pekik
(20.50 wib)
- Terimakasih, selamat datang, selamat malam
- Ditawarkan, bagaimana formatnya, seperti apa?
- Silahkan, masukan dari sekalian yang hadir.

Lina Boemi - Sepakat untuk mengobrolkan persoalan.
- Mau di bawa kemana teater Kebumen, problem pemerhati dan anggaran yang terbatas

Pekik
- Refleksi itu penting untuk belajar berikutnya..
- Kepada Putut dan Syahid juga dipersilahkan

Sharing ( Aris )
- Berharap dari panitia memberikan prolog dulu, supaya jelas..

Teater Gerak - Terimakasih, bahwasanya bagaimanapun, berangkat dari masalah
- Dari awal kita seleksi dulu, kepanitiaan, teknis pelaksanaan, begitu kurang lebihnya

Putut
- Terusterang, awalnya, paska GPT 2009, ngobrol dg ArisPanji, paska acara selalu ada evaluasi.
- Tapi paska itu terlewati s.d 2010, pada awalnya, berharap akan ada sebuah event tahunan yang rutin. Tak terjadi evaluasi s.d penyelenggaraan GPT-2
- Pasca itu apa terulang lagi; membicarakan tema. Bukan sekedar membicarakan event.
- Sedikit menghantarkan, proses GPT-2, dipersiapkan selama 2,5 bulan.
- GPT-2, lepas dari kekurangannya, terpublikasi hingga merambah Kedu-Banyumas, 13 komunitas mentas di sana
- Melihat antusiasme ini, perlu tindak-lanjut, silahkan dari Ketum Syahid

Syahid elKobar
- Tak jauh beda dengan Putut, terlepas dari kekurangan kemarin, kegelisahan tentang kegiatan2 GPT yang jadi agenda FopSet yang sudah 2 kali jalan, dan direncana tahunan
- Kegelisahan pertanyaan: dilanjutkan atau tidak, bagaimana bentuknya?

Putut - Tambahan, forum ini punya 2 sessi
- Pertama, evaluasi kemarin; Kedua, follow-up apa yang akan dilakukan setelah ini, dengan keyakinan dapat dilakukan bersama
- Tawaran 2 pilihan; acara kemarin dihentikan atau dilanjutkan. Kemarin tidak berkomunikasi secara keterbukaan dengan keseluruhan pekerja teater Kbm

Kang Juki
- Yang harus dijawab sendiri, sebagaimana tadi disinggung Lina, soal keterbatasan.
- Menurut saya, pertama, mencintai dulu, kedua, optimis dapat melakukan—peluang apa, apa pula kendalanya
- Bukan bertanya: mau dibawa kemana teater Kebumen, agar terarah mesti diimpikan puncak macam apakah kehidupan terater di Kebumen
- Jika kita bisa tentukan itu maka akan jelas,
- Keinginan teater pentas di Jakarta, ada 2 tempat TIM atau di GKJ, misalnya kita punya target ke situ, bagaimana agar bisa diagendakan. Kan jelas.
- Kebumen bukan cuma gudang babu, lalu dalam hal teater, mau sekedar membuat aktivitas rutin atau mau go internasional.
- Banyak tempat/institusi, seperti Universitas Pelita Harapan, bisa untuk pengembangan teater, jangan cepat putus asa, saya yang bukan pekerja teater aja, optimis..jika saya bisa bantu, saya lakukan semampu..

Lina
- Ketua komunitas motor, sepertinya gak nyambung, tapi perlu rangsangan agar ada nafsu berkesenian, penting di reng-reng sejak sekarang, supaya tidak “babak-bundas”
- Pernah ke Komisi C, bicara tentang masa depan teater, bisa enggak, mengawal dari musren desa, menggolkan sedikit kepentingan teater.
- Ingin merangsang sejauh mana teman teater Kebumen untuk menghidupi berkeseniannya

Ikra- Ilir
- Fokus evaluasi jadi melebar kemana-mana, fokus bagaimana ke depan itu juga makin tak jelas.
- Satu hal, kita sama pecinta seni,
- Kegelisahan kreatif, tentu butuh ruang.
- Evaluasi agar tuntas dulu,
- Yg datang di sini punya komitmen untuk memajukan seni di Kebumen?
- Jika ya, terus bagaimana?
- GPT ruang yang sangat bagus, ke depan bisa diteruskan lagi, seperti kota2 lain. Punya ramuan2 yg lebih bagus, kita bisa belajar. Ada seni musik, seni rupa, di Kebumen ada semua itu, cuma tak terakomodir.
- Apa yang telah terjadi kemarin, bisa jadi pelajaran kita
- Jika tadi , kata Lina persoalan anggaran sebagai problem, maka itu dapat dilalui dengan kecintaan
- Penting ke fokus tentang evaluasi dan apa yang dilakukan ke depan
Pekik - Sepakat dengan Ikra, meski tadi telah ditanya apa mau dilanjut atau tidak, lebih bijak.. bahwa apa yang akan dilakukan nanti pada sessi ke 2 saja.
Saring - Applaus untuk panitia GPT, nyatanya teman2 bisa fasilitasi kelompok lain
- Teman2 yang selama ini ngaku senang teater, maka berani korban, jika cinta, maka berani korban dalam bentuk apa pun dan kapanpun
Putut - Mungkin ga tepat jika diserahkan dilanjut atau tidak
- Ingin saya paparkan, dari 13 kelompok yang ada, fakta respon dari luar, seperti Wonosobo, 40 orang, datang dan mentas.
- Magelang, ada even bersama, meski tak bisa datang, tapi ada ucapan selamat, Temanggung, Purworejo datang teman2 dari UMP.
- Lanjut atau tidak kami tawarkan pada semua..
- Purwokerto, 3 yang datang, 2 yang mengapreasi; itu fakta2 yang menggiurkan; maka saya menawarkan, forum itu bukan milik panitia
- Hal2 teknis seperti publikasi ga maksimal, dst..
- Ada impian saya ke depan; saat ada undangan dari seperti Purworejo, di sana ada keinginan untuk terjadi komunikasi intensif, maka jika saat ini tidak dishare, maka eman2.

Ubaidilah
- Jika mau dievaluasi seperti GPT yl, maka saya malu. Hanya begitu, saya ga bisa total, teman2 sampai “nyrememeh” begitu; merasa tak bisa memberikan yang terbaik pada event itu.
- Aku bisa apa di situ, peran apa?
- Kedua, model pengelolaan seperti apa? Sebab dari dulu hanya itu2 saja, penting dishare, bagi peran, maka seperti apa?
- Teater memang datang dari komunitas kampus. Jika di desa2 kita lihat wayang didukung oleh masyarakat, lewat event2 budaya suran, dsb. Itu contoh menarik untuk diserap.
- Kemarin ada seni lukisan, yang juga bergabung dengan yang lain, di pasar senggol juga begitu; apakah marketabel atau tidak, yang akan di lihat secara jujur. Kita penting mulai memanage sehingga tidak tersiakan.

Pekik
- Begitulah

Saring
- Nambahi sedikit, sebagai penikmat, jika ditanyya apa mau dilanjutkan ato tidak, maka dilanjutkan
- Tinggal bagaimana kemungkinan regenerasinya, shg bisa dinikmati lagi pemenatasan teater di Kebumen.

Pitra
- Jika bolej jujur, pertama menggagas Arisan Teater, sebenarnyya telah terkonsep dg baik. Dimana ada pementasan bergilir, messki Cuma hingga 4 saja; diakui memang ada kurangan dalam hal berkomunikasi.
- Belum berani tampil sebagai ujungnya.
- Dilanjutkan FopSet, dg keberanian. Jujur saja, ada ego masing2 kelompok itu. Tapi jika diminta, maka akan dengan senang hati. Sioalnya adalah minimnya komunikasi.
- Sbgmana, kata Putut, ada 9 hingga 10 kelompok teater di Kebumen
- Ini mestinya, ego masing2 kelompok akan terjembatanai dg komunikasi yg optimal.

Jukii 
 - Saya belum bisa melihat, gpt di luar panggung
- Di GPT, terlalu panjang, capek, terjebak nagntuk, jika ddiperpanjang hari, kendala dana mungkin; bgmn bagi awam dapat menikmati seutuhnya, missal dg adanya sinopsosis dsb.

Putut
- Mulai mengerucut, sulit mengatakannya, tdk se simple apakah GPT terus ato tidak
- Tak seperti Arisan Teater yang memang dibicarakan dan disepakati sejak awalnya; bgmn acara tu bisa berjalan sam[e selesai
- ada banyak perwakilan, mala apakah kita perlu wadah atau tidak?
- Jika diregulasikan, ada hal teknis yang bersinggungan dg agenda kelompok2, spt SRMB dg launching buku yl
- Bgmn menyikapi selanjutnya, soal komunikasi bantuan, kemarin eamng tak enak, kawartir ganggu agenda kelompok yang ada itu
- Kang Juki, bayangan saya, jika pentas digelar banyak malam, dg resiko bengkak biaya, maka ada data n fakta tentang pasar yang menjanjikan, tp tm2 tdk mampu memanagenya
- Tentang ego kelompok, amat terasa di Kbm. Perlu langkah terumus ke depan, jk GPT lanjut, maka formatnya seperti apa?
- Kre depAnnya, mungkin GPT dapat bicara lebih luas lagi.
- Malam ini sebagai evaluasi, kurasa telah jelas; persoalannya tidak sesempit itu
Ucok Ilir - Intinya, disini, dari kita siapa yg berani jadi ujung tombaknya, jk hal itu jd problem, maka knp kita ga berani tunjuk jari saja, missal siapa jadi pemimpinnnya.
- Dari sanggar Ilir yang di Jikja, mungkin hanya bisa membantu, teknisnya, akan sellau siap, missal jika dari panitia minta sekian titik lampu, dst

Lasmin Aris
- Masih terlalu bayi dlm teater, baru sekali bertemu langsung dg pegiat seni Kbm, saya lemig sering di Pwrj. Bergabung dg teater Surya Pwrejo.
- Diminta ikut GPT yl, keinginan mengenalkan diri dg masy Kbm, kebetulan jg saya mbimbing di Basatu Kbm.
- Ingin ada parade, dan berkembang jadi festival di Kbm ke depan.

Rimba
- Apakah setelah GPT aka nada lagi ato tidak, itu sudah muncul sejak GPT 1; jika kini muncul lagi, saya sepakat bukan soal dilanjutkan atio tidak; ada semacam kejenuhan jika sekedar pentas, tanpa mengetahui apa yang disampaekan kpd penonton.
- Memahami pesan apa yang akan disampaikan, pemting dibicarakan bagaimana konsepnya
- Ada semacam singkron, ada pementasan dg konsep pentas teater untuk rakyat; perlu konsep lebih luas luewes lagi, missal dg pentas out-door, fdi lapangan, di desa, dsl.

Putut
- Dlm GPT-2; ada ketidakmungkinan terkait teknis penyelengaraanya
Pekik
- Telah cukup dikritisa, termasuk .. tinggal soal kelanjutan apa yang akan dilakukan ke depan, silahkan sumbangsaran, gagasan dan wacana.
Ubaidilah - Perlu rumusan waktu setahun sekali
- Jika ke bentuk festival, masih belum mungkin, karena logika festival adalah logika tarung.
- Di 2011.. bisa di format lebih jwelas lagi..

Lina
- Hanya satu kata, cinta, sinergitas kerja, kapan ketemu lagi untuk dapat dilakukan

Agus Anyar
- Duduk melingkar, satu komitmen, sebetulnya kita sudah satu suara, bgman meneruskanaktivitas utk terus eksis
- Kaya GPT, bagi saya, Cuma wadah. Jika tahun mendatang akan seeperti ini, maka ya tetep GPT.
- Jika dalam perkembanggannya sampe saat ni, GPT tdak mengakomodir lebih luas cakupannya, maka pperlu dibahas lagi
- Beberapa komunitas, lebur jadi satu dan membawa Kebumen ke kancah luas
Tajib - Perbincangan tadi menarik, dulu Arisan Teater sejak 2003, sering konek dg teman2 yang tua.
- Dulu ada tmn2 yang aktif di lsm, berlaku nafas: jika politik menghancurkan kita, maka puisi yang menyembuhkannya.
- Kenapa dari dahulu, problemnya sama saja. Tetapi apakah nafas sekarang masih sama?? Atau berbeda, berbeda bisa rtidak baik, dan bisa lebih baik.
- Persoalan berkesenian, ada dua wilayah: ada aktivitas berkesenian, ada kepanitiaan.

Putut
- Kapan kita akan berproses bareng, ada proses berkesenian, ada managemen sajian (kepanitiaan)
- Kekuatan manajemen orang banyak itu lebih punya kekuatan, maka penting untuk dishare sebagai energy yang tak ada habisnya.
- Kapan dan Dalam event apakah kita bisa barenmg. Saya tak setuju model arisan, tapi lebih merupakan kapan kebersamaan

Pitra - Sekedar tambahan untuk meluruskan terkait pelaksanaan arisan teater

Putut -

Tajib - Kumpul, waktu itu, pengertiannya tidak harus pentas, ngobrol saja ada banyak hal bisa digagas. Missal diagendakan meet tiap bulan..
- Tadi pagi saya mengundang “Cah-Angon”, tereksplor etos kerja, dari menggembala minsul bagaimana kita menggali sumber daya.


Yayat 
 - Forum spt ini amat baik. Da kmntas2 d KBm, knp kita tidak bersama2.
- Beberapa saat lalu di ged PGRI, kesannya “one man show”, berharap dari ruh ini tercipta kesatuan, bukan lagi spirit/sentiment kelompok.
- Kapan sih Kebumen punya keelompok yang besar?

Putut
- Sbnrnya, kesan itu, knapa garus cape2. Maaaf, jika ga dibicarakan pun tetap berjalan. Apa yang saya lakukan akan saya fdapatkan.
- Soal ini diselesaikan dulu, seseorang tak isa menjadi sednirian. Butuh forum yang lebih besar untuk membicarakan kebudayaan yyan g cakupannya lebih luas.
- Kita belum punya kapasitas, itu pentingnya dibicarakan bersaama
- Pd dasarnya, selalu ada event bersama un tuk diilakukan bersama juga
- Saat semua ini tiidak dishare, maka itu berarti melanggar hak banyak orang
- Pembicaan semacam ini bertujuan agar semua tidak nggrambyang lagi

Eko Wahyudi - Terimakasih. Bicarakan komunitas yang inilah saja. Sudah ketemu pemikiran bhwa kita mau jalan bersama
- Kongkret, missal januaru kita melaakukan apa? Atau kapan?
- Bisa gak, banyak elemen ini disatukan jadi satu kekuatan saja? Saat bicarakan ini, kepingin terus saja.

Pekik - Pada malam ini belum ada sepakat, apa yang akan dilakukan ke depan

Tajib - Saya malah sepakat dengan melakukan uini, ada bincang2.

Pekik - Pada akhirnya kita butuh spirit kebersamaan
- Malam ini ada dukungan riil dari semua pihak yang ngumpul di sini
- Meski ada target kesepakatan, tapi sepakat ada meeting lanjut untuk share bersama dan berlanjut
- Malam ini paling tidak ada sepakat untuk berkumpil lagi dan kapan

Eko W 
 - Usul lagi, kapan, walau sekelumit, kita punya gagasan bersama. Tinggal kapan, ada gambaran awal sekaranmga mau apa besook, kapan, di manaa.
Syahid - Kalaupun kita mengadakan pertemuan lg, ada stu permasaalahan yang harus diselesaikan.
- Persoalan untuk adakah, penangkpan saya, dari sejarah, dari arisan teater,, kemudian fopset, maa saat akan ngomong apa pun ga enak, sebgai fopset berharap di forum ini disepakati, tapi bentuk apa, wadah apa, yang disepakati. Ini lebih baik dulu, tanpa bicar ego komu.
- nitas aatau apa tapi penting disepakati

Pekik
- Monggo, apa yang kitra2 disepakati, cukup omong2 spt ini?

Juki
- Perlu disepakati, format seperti apa ke depan

Putut
- Agak pesimis dengan agenda yang ga dijadwalkan, itu penting dilakukan hari ini

Tajib
- Seperti itu bagus untuk tetap dilakukan, seperti GPT. Fopset juga ga masalah, krn itu adalah salahsati bentuk kongkret, dimana tmn2 bisa berkoar. Itu tatap saja, kalau konteks seperti ini amat perlu, minimal, kontak rasa
- Dari forum spt ini, dapat membincang cakupan lebih luas lagi, missal jk omomng tradisi, kan cakupannya lebih luas. Spt ekbudayaan itu kan sangat luas..
- Sxaa berharap, pemkab sedang nhangat, maka kita ya ikut hangat. Ngomong apakah pemkab punya peduli kebudayaan, missal.

Pekik
- Dua sepakat, pertama, kesinambungan komunikasi
- Sebuah agenda yang konkret dan absurd. Konkretnya, aktivitas kaya GPT perlu dilanjut disertai forum2 diskusi seperti ini. Yang secara budget lebih murah. Dan diagendakan secara rutin
- Tawaran Boemi, ketempatan, boleh kita sepakati?

Peserta
- Ya, sepakat.

Tajib
- Saya menawarkan, ngomong dengan Syahid, mau ngadakan acara nonton film, sekita 20 film. Malam pertama, yuk, baca puisi, tema pluralitas, atau tahlilan, rencana sekitar April, tapi pas pilkada. Dan ketiga, pentas.
- Desain yang disiapkan, teman2 yg tterlibat kita record, dan share secara luas sebagai kerja teman2 dengan tema keberagaman

Pitra
- Dikonkretkan, tawaran yang mana dulu. Jika indipt, april; maka Boemi sendiri bagaimana?

Lina - BoeMi siap kapan saja.

Pekik - Kita sepakati tawaran Indipt diterima dan dilakukan lebih dulu.
- Kita akhiri dulu, setelah ini ada obrolan bebas, silahkan saja..
- Tertimakasih, Alhamdulillah. 
Selamat Malam, salam budaya.

Obrolan Budaya 2010

Puluhan pegiat teater Kebumen, malam ini berkumpul di Bale Kelurahan Kebumen, Sabtu 13 Maret 2010, mulai jam 19.30 wib; untuk menyelenggarakan acara "Obrolan Santai". Agenda ini sekaligus merupakan upaya melanjutkan lagi aktivitas perteateran di Kebumen yang seperti kolaps paska Arisan Teater I-IV dan Gelar Pentas Teater FopSeT I-II.
Hasil Obrolan diharapkan menjadi referensi bersama para pegiat teater daerah, khususnya Kebumen, seputar kemungkinan-kemungkinan yang paling bisa dilakukan secara bersama dalam waktu-waktu yang akan datang. Sekaligus ini merupakan upaya refleksi dan mengevaluasi aktivitas teater yang telah dilakukan; secara kelompok maupun lintas kelompok selama ini.
Acara dialokasikan menjadi 2 bagian. Sessi pertama, refleksi dan evaluasi aktivitas berkesenian. Kedua, sharing gagasan dan sumbang saran untuk membuka peluang aktivitas bersama yang bereksinambungan. Di sela sessi ini juga diisi dengan penampilan musik-puisi yang disajikan oleh SRMB. Puisi-puisi yang dimusikalisasikan diambil dari Buku Antologi Puisi "Kuputarung".
Komunitas teater yang diundang untuk hadir, diantaranya: Teater Ego,Sanggar Ilir, Teater Gerak, Teater Kelir, Teater Smenven, Guyub Larak, Teater Petrasa, Komunitas Mata-Baca, juga pegiat kesenian yang ada. Acara ini difasilitasi oleh Sekolah Rakyat Melu-Bae dan FoPSet.

Sabtu, 16 Januari 2010

Catatan dari GPT-FoPSeT 2010

Menikmati pagelaran teater di Kebumen masih merupakan kesempatan yang tak sering terjadi. Terlepas dari problem klasik berkesenian, yg di pundak Forum Pekerja Seni Teater (FoPSeT) sendiri terasa makin tak ringan. Sehingga 'forum' ini dihadapkan pada situasi yg sulit yg mengikis keberlangsungan program tahunannya. Tetapi apa yg telah dilakukan, setidaknya selama 2 tahun terakhir ini telah memberikan kontribusi dalam mendorong adanya syarat2 hidup berteater di Kebumen.
Maka saat perhelatan 2 hari, Jum'at dan Sabtu, 15-16 Januari 2010 itu digelar di gedung PGRI Kebumen; menjadi sebuah gelaran yg mena
rik buat disimak. Sebanyak 13 kelompok teater menjadi partisipan di sana. Bahkan bukan hanya kelompok teater dari kebumen saja. Setidaknya terdapat 4 kelompok teater luar kota seperti dari Wonosobo, Purwokerto dan Jogjakarta ikut serta.
Berikut adalah catatan kecil atas kiprah ke 13 kelompok teater yang berpartisipasì.

Sanggar Ilir Jogjakarta

Saka Pandu Wisata Kebumen

Batik Sakti Satu

Teater 'Banyu' Wonosobo

Sanggar Mandiri Depokrejo

Rabu, 13 Januari 2010

7tahun SRMB

Menandai 7 tahun SRMB, puluhan pegiat ngumpul di sekretariat komunitas inì, dimulai jam 20.30 wib.

Sabtu, 14 November 2009

Tahlil Puisi untuk Mendiang WS. Rendra

Mengenang kepeloporan seniman besar melalui peringatan 100 hari wafatnya WS. Rendra tak harus dengan keramaian. Tahlil puisi dihelat secara sederhana tapi hikmat. Itulah yang dilakukan SRMB dengan melibatkan puluhan orang yang mendirikan keihlasan.
Malam akhir pekan yang diguyur hujan cukup deras tak mengurangi kekhidmatan pembacaan doa tahlil, meski ritual acara ini sempat tertunda hampir satu jam.
Setelah acara dibuka oleh Pitra Suwita dan diantar oleh Pekik Sasinilo, langsung dilanjutkan dengan pembacaan doa tahlil yang dipimpin oleh seorang kiai sepuh Malik Hasyim dari Jagasima.

Pentingnya Mengingat.

Dalam pengantar doanya, mBah Limin, demikian panggilan kiai sepuh ini, mengingatkan pentingnya mengingat pada semua yang telah lewat. Tak lain agar manusia jadi 'eling' dan meneladani kebaikan yang ditinggalkan oleh almarhum. Meski tak banyak menyebut nama, ia yakin, mendiang WS Rendra termasuk golongan pahlawan bagi Indonesia.

Musikalisasi Puisi 'Gerilya'

Di sela parade puisi-puisi karya WS Rendra, yang dibacakan tamu undangan; disajikan musikalisasi puisi 'Gerilya' oleh Sekolah Rakyat MèluBaé. Sajian puisi "Gerilya" karya WS. Rendra yang dikemas dalam komposisi melodius, ritmik dan deklamatis ini; merupakan komposisi musik puisi yang pernah dibawa berkeliling oleh SRMB dalam "ngamen" apresiasi sastra di belasan sekolah formal, pada beberapa tahun lalu. Acara yang pernah dilakukan ini, sesungguhnya, masih dinantikan oleh beberapa sekolah yang ada. Beberapa guru mapel Bahasa dan Sastra pernah mempertanyakan kelanjutannya.
Dalam acara "Tahlil-Puisi" untuk mengenang 100 hari wafatnya WS. Rendra malam itu, juga diparedekan pembacaan puisi-puisi WS. Rendra oleh beberapa orang tamu yang diundang.

Pekik Sat Siswonirmolo, pegiat SRMB membacakan sajak "Surat Cinta". Karya WS. Rendra ini dibacakan dengan nada rendah; sekaligus dimaksudkan untuk membuka parade sajak malam itu. Guru SMP yang "mengepalai" Sekolah mBayar Karep ini begitu syahdu penampilannya malam itu. Setelah ritual do'a dan tahlil, terasa spirit dan "ruh" sang Burung Merak merentang sayap memenuhi ruang pendopo kelurahan. Mistis, seperti tabir jagad Hyang. Meski di luar pendapa, gerimis satu-dua mulai tiba. Suasana kesumarahan namun penuh daya demikian terbangun disela lengking menyayat seruling yang ditiup Toro Mantara, pegiat SRMB lainnya. Kesyahduan yang menghadirkan dan galau hati tersingkir ke arah pergi.

Daryono Cengkim, tegugah juga ikut membawakan puisi "Gugur" karya WS Rendra lainnya. Lajang yang mulai rajin menulis puisi dan beberapa karyanya juga sempat termuat di buku antologi puisi "Kuputarung" terbitan SRMB ini, cukup punya alasan buat memilih sajak "Gugur" malam itu. Rima duka, tapi tak larut ke dalamnya, begitulah cara kelompok ini mengenang kebesaran seorang pujangga. Iringan bunyi gitar yang dipetik Dodottiro seakan mengikat suara rinai hujan di luaran dan menyatukannya dengan aura sastra di pendapa. Tak sia-sia kedua pegiat ini "mesuh budi" mengolah diri dalam kebersamaan beberapa tahun terakhir ini. Mengenang Rendra dengan mengiringkan do'a tanpa mengeringkan air mata.

Beginilah, pada gilirannya, beberapa tamu undangan terbangunkan juga. Penampilan sebagaimana gambar di sebelah ini adalah tamu dari Sanggar Sastra "Wedang Kendhi", yakni sang monolog Ryan Rahman. Ia memilih karya sang mendiang "Sajak Seonggok Jagung" ke dalam penampilannya.





Sabtu, 10 Oktober 2009

Menggalang Dana Gempa di Depan Pasaraya

Mendadak di hall depan Rita Pasar Raya Kebumen, malam itu meriah oleh pementasan musik. Pemrakarsa perhelatan amal ini adalah KM(C)2, Kebumen Music Corner Community. Pagelaran yang diabdikan untuk tujuan penggalangan dana bantuan korban gempa di Sumatera Barat ini berlangsung sekitar 2 jam. Pengunjung yang akan dan telah berbelanja di salah satu pusat belanja Kebumen ini, banyak yang terkesan dan memberikan sumbangannya.
Ada sejumlah kelompok band yang tampil malam itu, seperti: D.Jas, Rover, Red Apple, Rotasi, Male Rose, Ebiet G. Adud, juga dimeriahkan dengan tampilan Musik-Puisi dari Sekolah Rakyat MeluBae.

Meski sudah dibilang sebagai bentuk sajian yang belum populis di pentas arena, apa yang dibawakan SRMB malam itu relatif bisa diterima khalayak. Penampilannya menyeling di atara 5 group musik lokal. Beberapa komunitas lain juga mendukung usaha kemanusiaan ini. Diantaranya ada Boemi (Kebumen Motor Independent) dan didukung oleh Palang Merah Indonesia Cabang Kebumen.
Penyelenggara pentas amal ini, Edwin Darma Setiawan, memastikan bahwa keseluruhan perolehan dana amal malam itu diserahkan sepenuhnya ke PMI melalui Korps Sukarela.
Dana yang terkumpul selama dua jam itu sebanyak: Rp. 858.900,-
Menurut rencna, usaha kemnusiaan penggalangan dana ini bakal dilanjutkn keesokan harinya, di tempat-tempat berbeda.