This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 21 Juli 2018

Menelisik Sejarah Masjid Saka Tunggal di Kebumen

Sabtu, 21 Juli 2018 - 05:43 WIB
Abdul Malik Mubarok

Masjid Saka Tunggal di Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. FOTO/SINDOnews/ABDUL MALIK MUBAROK

Sejarah penyebaran Islam di Nusantara tak bisa dilepaskan dari keberadaan masjid-masjid kuno di sejumlah daerah di Indonesia. Salah satunya Masjid Saka Tunggal di Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Sesuai namanya Saka Tunggal, masjid ini hanya ditopang oleh satu tiang (saka) saja. Saka tunggal sebagai penopang utama bangunan ini berbentuk segi empat dengan ukuran 30 x 30 cm. Ia menjulang ke atas sekitar 4 meter tingginya. Di ujung atas soko tersebut terdapat 4 buah kayu melintang sebagai penyangga utama bangunan masjid tersebut. Sementara di tengah-tengah soko terdapat 4 buah danyang atau skur untuk membantu menyangga kayu-kayu yang ada di atasnya.

Kayu yang digunakan sebagai saka merupakan kayu jati pilihan. Karena keunikannya tersebut, Masjid Soko Tunggal kerap menjadi bahan penelitian dan riset dari instansi dan universitas di Indonesia.
Menelisik Sejarah Masjid Saka Tunggal di Kebumen

Menurut Imam Masjid Saka Tunggal Muhammad Ja'far, makna saka tunggal sebenarnya mengandung filosofi tersendiri. Saka tunggal melambangkan ke-Esaan Allah SWT sebagai Sang Pencipta tunggal alam semesta. Makna tunggal tersebut diejawantahkan dengan memaknai Masjid Saka Tunggal sebagai tempat untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Tunggal atau Esa. Sedangkan dalam kaitannya dengan sejarah perjuangan, masjid itu juga sebagai simbol satu tekad untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia.

Banyak versi mengenai sejarah berdirinya Masjid Saka Tunggal ini. Menurut Muhammad Jafar, Masjid Soko Tunggal dibangun oleh Adipati Mangkuprojo sekitar 1719 Masehi. Dia merupakan keluarga Keraton Kartasura, Solo yang gigih melawan penjajah Belanda. Karena terdesak Adipati Mangkuprojo kemudian melarikan diri dan memilih bergerilya di daerah Pekuncen. Ia pun kemudian membuat pesanggrahan yang bersifat sementara.

Selain bergerilya, Adipati Mangkuprojo juga giat melakukan syiar agama Islam. Setelah pengikutnya banyak akhirnya Adipati Mangkuprojo mendirikan masjid Saka Tunggal ini. Awalnya atap masjid menggunakan daun bambu yang dianyam dan dindingnya menggunakan tabak bambu. Dalam perkembangannya atap daun bambu tersebut diganti dengan ijuk, tetapi dindingnya masih menggunakan tabak bambu. Kurang lebih seabad kemudian ijuk tersebut diganti dengan genteng. Tahun 1922 dinding bambu diganti dengan bangunan tembok. Dan pada Juli 2005 lalu direnovasi.

Masjid Saka Tunggal Pekuncen ini memiliki kaitan dengan keluarga Soemitro Djojohadikoesoemo, begawan ekonomi Indonesia yang juga ayah dari Prabowo Subianto. Menurut cerita, nenek moyang Soemitro adalah juru kunci (kuncen) makam Adipati Mangkuprojo yang terletak tak jauh dari Masjid Saka Tunggal. Itulah mengapa desa ini disebut Desa Pekuncen.

Karena ada ikatan tersebut, renovasi Masjid Saka Tunggal dilakukan oleh keluarga Soemitro Djojohadikoesoemo. Tidak mengherankan jika setiap bulan ruwah dalam penanggalan Islam, keluarga Sumitro Djoyohadikusumo pasti datang berziarah ke makam ini.

Sejak pertama kali didirikan, setidaknya sudah 10 kiai yang menjadi imam di masjid tersebut. Yaitu Kyai Maja, Kyai Langgeng Dipura, Kyai Madanom, Kyai Abdul Hamid, Kyai Moh Salim, Kyai Moh Ngasem, Kyai M Jafat, Kyai Moh Saeri, Kyai H Abu Jamhari dan sampai saat ini imam Masjid Saka Tunggal dipegang oleh M Jafar.(amm)


Sumber: SindoNews 

Senin, 09 Juli 2018

6 Film FFP 2018 digelar di Karangsambung

  • FFP 2018 Gandeng Pokdarwis dan Karang Taruna


Ratusan penonton memadati tanah lapang pedukuhan Pesanggrahan malam itu, Senin (9/7); tak jauh dari pusat keramaian Karangsambung Kebumen. Sejak lepas isya’ hamparan terpal yang digelar panitia Festival Film Purbalingga (FFP) dipenuhi anak-anak yang tak sabar menunggu film diputar. Model layar tanjleb mengingatkan kenangan publik jaman dulu saat menonton bioskop layar lebar “misbar” di kapangan terbuka.

Putaran kedua dari 17 lokasi yang terpilih untuk tempat pemutaraan bioskop dengan sound-system menggelegar, tak hanya dipadati anak-anak. Kalangan muda hingga para orangtua serta penjual jajanan tak ketinggalan memanfaatkan keramaian ini untuk berjualan.

Pihak panitia festival yang terdiri dari Cinema Lover’s Community (CLC) Purbalingga, Sangkanparan (Cilacap) dan Komunitas Kedung (Kebumen) menggandeng Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bukit Pentulu Indah serta Karang Taruna Desa Karangsambung dalam perhelatan malam itu.
Rupanya layar tanjleb memang jadi pilihan cara menyajikan tontotan film dalam festival tahunan yang kini telah memasuki tahun ke 12 ini.
“Mendekatkan film kepada penonton terutama penduduk di desa yang memiliki hak sama dengan warga perkotaan yang biasa dimudahkan untuk mengakses tontonan di gedung bioskop”, papar Bowo Leksono tentang media pilihan dalam penyajian karya sinema yang diputar. Ia menambahkan bahwa sajian film dalam festival tahunan ini akan dijaga konsistensinya dengan pilihan layar tanjleb sebagai model.
FILM PELAJAR: Anak-anak juga antusias menonton 3 film bikinan pelajar Kebumen di FFP 2018 [Foto: Komunitas Kedung]

Ada 6 Film 

Ada 6 film diputar di lokasi yang tak jauh dari pusat LIPI Karangsambung ini. Diantaranya ada 3 karya pelajar, masing-masing: “ Di Dasar Air” (Sutradara: Intan Karunia, SMK 1 Gombong), “Batu Badar Besi” (Sutradara: Alfa Khumairoh, SMK Karanggayam) dan “Tanah Tuan Tanah” (Sutradara: Hestika Sari, SMK Karanggayam).

Selain film karya para pelajar ini, ada juga film berjudul “Oleh-Oleh (Sutradara: M. Reza Fahriansyah), “Ji Dullah” (Sutradara: Alif Septian) dan “Sekala Niskala” (Sutradara: Kamila Andini). Film terakhir ini telah memperoleh award di berbagai festival bertaraf internasional. Dan baru saja film ini disertakan dalam Asean Film Festival 2018 yang juga menyabet penghargaan tingkat Asia. Pelibatan warga setempat dalam gelaran ini pun akan selalu diupayakan ada di setiap lokasi penyajian.
"Layar tancap ini juga menjadi peluang yang baik untuk mengingatkan kembali potensi geopark LIPI Karangsambung. Para pemuda tentu selalu terbuka terhadap berbagai acara yang ditawarkan dari pihak luar sejauh itu bertujuan positif. Apalagi bagi Karangsambung yang juga mempunyai obyek wisata PI (Pentulu Indah_Red)", ungkap Sutasor dalam sambutannya di sela pemutaran film.
Selaku Ketua Sub-Karangtaruna “Gatra Karsa” yang membawahi 6 dusun sekaligus penanggung jawab keamanan perhelatan, pihaknya sangat mengapresiasi upaya pengangkatan potensi sinema Indonesia; termasuk film karya para pelajar di daerahnya.
Salah satu pengurus pengurus pokdarwis Bukit Pentulu Indah, Supriyanto menambahkan bahwa meskipun Pentulu Indah sudah populer melalui berbagai liputan stasiun televisi, “Tetapi acara seperti ini tetap diperlukan untuk menggiatkan pemuda dan meramaikan lokasi di lingkup sekitaran area wisata yang ada di desa”.
Antusiasme penonton di dusun Pesanggrahan begitu tinggi hingga akhir pemutaran film utama, Sekala Niskala besutan sutradara Kamila Andini. Masih ada satu titik lokasi lagi yang akan disambangi Layar Tanjleb FFP 2018 yaitu Perum Jatisari kecamatan Kebumen kemudian berlanjut ke Banjarnegara. [put]

Minggu, 08 Juli 2018

Festival Film Purbalingga Merambah Kebumen



Festival Film Purbalingga (FFP) sebagai satu-satunya festival film berskala nasional di provinsi Jawa Tengah yang konsisten dengan program kompetisi untuk pelajar se-Banyumas Raya kembali menyambangi Kebumen. 

Pada tahun 2018 yang merupakan gelaran ke-12, FFP berhasil menjaring 8 film dokumenter dan 5 film fiksi karya pelajar Kebumen dari puluhan film yang masuk mendaftar. Film-film tersebut akan diputar dengan format layar tancap ke 17 titik di kabupaten Purbalingga, Kebumen, Cilacap, Banyumas, dan Banjarnegara. Kabupaten Kebumen mendapat jatah 2 titik lokasi layar tancap yaitu di dusun Pesanggrahan, Karangsambung, Senin (9/07/2018) dan di Perum Jatisari Indah, Kebumen pada Selasa (10/07/2018). 

Pemutaran film dimulai pukul 19.30 hingga 22.00 di setiap titiknya. Tidak hanya memutarkan film pendek kompetisi pelajar se-Banyumas Raya dan karya sineas dari daerah lainnya, program Layar Tanjleb FFP tahun ini juga memutarkan film panjang yang telah diapresiasi di berbagai festival baik nasional maupun internasional besutan sutradara Kamila Andini berjudul Sekala Niskala.
“Proses pendaftaran dan pemilihan lokasi sudah berjalan sebulan sebelum pelaksanaan. Dari 8 titik lokasi yang mendaftarkan, terpilih 3 lokasi yang memenuhi syarat dimana ada panitia lokal yang siap kerjasama di lapangan, biasanya dari kelompok karang taruna desa setempat. Tapi akhirnya hanya 2 lokasi yang dipastikan siap”, demikian tutur Ridho Saputro.  

Diperoleh penjelasan dari fihak koordinator pelaksana FFP 2018, Puput Juang bahwa program "layar tanjleb" FFP dari tahun ke tahun bisa menjadi ajang melatih kecakapan sineas muda dan film-maker di kabupaten Kebumen dan daerah lainnya yang terkait dalam mengelola sebuah festival film berkualitas dan terbukti konsisten bertahan selama belasan tahun dimana banyak volunteer terlibat didalamnya. 
“Dari tahun ke tahun tentu kami ingin terjadi penambahan lokasi titik pemutaran layar tanjleb, tapi tentu itu juga perlu perhitungan matang karena festival ini kan berjalan selama sebulan penuh. Tidak hanya layar tancap yang dilakukan, tapi juga ada lokakarya dan pemutaran film di ruang-ruang yang lebih kecil seperti program Nonton Bersama Tetangga dan pemutaran di komplek pendopo kabupaten Purbalingga yang disertai diskusi bersama para pembuatnya”, tambah Puput Juang, dedongkot Komunitas Kedung. 

Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga sebagai komunitas yang menggagas festival ini berkomitmen untuk terus memajukan perkembangan film lokal terutama film pelajar se-Banyumas Raya. 
“Dulu awalnya kami mulai bergerak dengan menawarkan pemutaran film dan workshop produksi bagi pelajar, setelah lebih dari 10 tahun kami kewalahan karena permintaan semakin banyak hingga datang dari daerah di luar Purbalingga.  Munculnya komunitas-komunitas baru dengan semangat berbagi yang sama menjadi angin segar bagi proses panjang yang telah dilalui selama ini. Apalagi kompetisi film pelajar jelas membutuhkan peningkatan mutu dari segi kualitas, bukan hanya kuantitas”, tegas Bowo Leksono selaku Direktur Festival Film Purbalingga. 

Dimas Jayasrana mewakili Jaringan Kerja Film Banyumas Raya (JKFB) sebagai organisasi tempat bernaung komunitas film di Purbalingga, Kebumen, Cilacap, Banyumas, dan Banjarnegara menambahkan 
“FFP tidak dikerjakan sendiri oleh CLC Purbalingga, tetapi melibatkan komunitas lain; Sangkanparan (Cilacap) serta Komunitas Kedung (Kebumen). Ini sejalan dengan semangat kolektif dan berjejaring yang menjadi kultur dan telah terbangun sejak awal”

Layar tancap sebagai medium pemutaran film dengan cakupan penonton yang luas tentu ampuh meningkatkan jumlah penonton film Indonesia dan mengedukasi dengan pilihan film berkualitas yang disajikan, serta menumbuhkan geliat ekonomi masyarakat. Apalagi di berbagai daerah yang tidak mempunyai bioskop jaringan komersil, hal ini tentu mengobati kerinduan masyarakat untuk menonton film dengan format layar lebar dan audio yang menggelegar. [rid]

Benteng Van der Wijck dan Upaya Meredam Pemberontakan Diponegoro

Minggu, 8 Juli 2018 - 05:11 WIB
Abdul Malik Mubarok

Benteng Van der Wijck peninggalan Belanda di Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. FOTO/DOK.KORAN SINDO

ZAMAN pendudukan Belanda di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah tidak bisa dipisahkan dari Kecamatan Gombong. Wilayah yang terletak sekitar 20 kilometer seberat barat dari ibu kota Kebumen tersebut diyakini pernah dijadikan pusat kegiatan tentara penjajah dari negeri kincir air itu. Terbukti, di jalan Sapta Marga Gombong terdapat sebuah benteng peninggalan kolonial Belanda yang diberi nama Van der Wijck.

Berdasarkan cerita sejarah dari berbagai sumber, Benteng Van der Wijck dibangun pada awal abad 19 atau sekitar 1818 seiring meluasnya pemberontakan Pangeran Diponegoro di beberapa daerah. Pembangunan benteng ini adalah sebagai tempat pertahanan sekaligus perencanaan penyerangan di eks-Karisidenan Kedu Selatan.

Namun dalam versi lain, Benteng Van der Wijck dibangun pada 1844. Sebelum dibangun benteng, gedung ini awalnya merupakan kantor Kongsi Dagang VOC (Vereenigde Ootindische Compagnie). Lantaran kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro yang berpusat di Bagelen Selatan (sekarang kota Kebumen) cukup besar, Belanda mendatangkan tentaranya ke Gombong. Mereka kemudian ditempatkan di kantor Kongsi Dagang VOC.

Karena dijadikan pertahanan militer dalam menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro di wilayah Bagelen Selatan, pada 1844 akhirnya Belanda mulai membangun sebuah benteng di kantor Kongsi Dagang VOC tersebut. Empat tahun kemudian benteng ini baru selesai dibangun.
  
Dibandingkan dengan peninggalan Belanda lainnya, Benteng Van der Wijck mempunyai keunikan tersendiri. Bangunannya dua lantai dan berbentuk segi delapan berwarna merah bata. Ketinggian gedung 10 meter. Tebal dindingnya mencapai 1,4 meter dan tebal lantai 1,1 meter. Total luasnya bangunannya sekitar 7.170 meter persegi.

Lantai satu Benteng Van der Wijck mempunyai 4 pintu gerbang. Di dalamnya mempunyai 16 ruangan berukuran 18 x 6,5 meter, serta 27 ruang kecil dengan 72 jendela dan 63 pintu. Sedangkan di lantai dua terdapat 70 pintu penghubung dan 84 jendela.

Ruangan di lantai satu merupakan barak-barak yang dijadikan tempat istirahat bagi para tentara Belanda. Selain itu juga digunakan untuk menyimpan bahan makanan dan amunisi persenjataan. Atap benteng juga dibuat dari bata merah, sangat kuat dan kokoh dibuat menyerupai bukit-bukit kecil digunakan sebagai tempat pertahanan sekaligus untuk mengintai lawan dari atas.

Setelah penjajah Belanda diusir dari bumi pertiwi dan Republik Indonesia mendapatkan kemerdekaannya, Benteng Van Der Wijck pernah difungsikan untuk tempat melatih tentara Indonesia bentukan Jepang yakni PETA sebagai pasukan tambahan menghadapi Sekutu. Di zaman itulah, seluruh tulisan Belanda yang ada di benteng dicat hitam. Kemudian dimanfaatkan untuk tentara Indonesia. Bahkan, semasa KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger), penguasa Orde Baru, Soeharto, menjadi salah satu penghuni benteng itu.


Sejak tahun 1950 hingga tahun 1984, benteng itu digunakan untuk barak tentara. Tahun 1984 menjadi tempat tinggal anggota TNI Angkatan Darat sampai tahun 2000. Namun sejak 5 Oktober 2000, bangunan peninggalan Belanda ini dikelola oleh pihak swasta PT Indo Power Makmur Sejahtera, untuk dijadikan objek wisata sejarah. Di dalamnya dibangun beberapa sarana permainan anak-anak. Seperti perahu angsa, kincir putar dan berbagai macam permainan anak lainnya.

Tak ketinggalan juga sebuah patung dinosaurus raksasa ikut dibangun untuk meramaikan suasana dan lebih mengakrabkan dengan dunia anak-anak. Bahkan sebuah stasiun kereta api mini dibangun di bagian atas benteng tepat di atas gerbang utama, memungkinkan pengunjung untuk mengitari sisi atas benteng dengan menggunakan kereta mini.


Sumber* Wikipedia, kebumen2013.com, dan beritakebumen.info (amm)

Sumber: SindoNews 

Minggu, 10 Juni 2018

"Sekolah Sastra" Umbu Landu Paranggi, Begini Gebrakannya yang Perlu Anda Tahu


Minggu, 10 Juni 2018 20:08
Oleh: Willem B Berybe
Mantan guru, peminat sastra


Ada dua peristiwa sastra yang terjadi pada bulan Mei 2018 dalam konteks sastra Indonesia dan sastra NTT.

Pertama, pemberian Anugerah Kebudayaan 2018 kepada Umbu Landu Paranggi oleh Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia pada tanggal 3 Mei 2018. Ia meraih kategori seniman modern (m.mediaindonesia.com).

Penghargaan ini menandakan sebuah bentuk legitimasi dunia seni budaya Indonesia dalam hal ini sastra terhadap sastrawan nasional Umbu Landu Paranggi.

Pria kelahiran Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini lebih lama menetap dan tinggal di luar NTT untuk menggeluti bidang tulis-menulis dan bersastra.

Kedua, sastrawan NTT, Vincentius Jeskiel Boekan, birokrat dan penulis novel tutup usia pada tanggal 16 Mei 2018. Begitu banyak kerabat dan masyarakat sastra NTT mengirim ungkapan turut berduka cita atas kepergian beliau melalui media.

Menurut pengamat sastra NTT dan dosen senior Universitas Flores Ende, Yohanes Sehandi, beliau telah menerbitkan tiga buah novel yaitu "Loe Betawi Aku Manggarai", "Membadai Pukuafu", dan "Cinta Terakhir" semuanya terbit tahun 2011.

Buletin Nurani yang terbit awal tahun 2000-an, setahu penulis, merupakan salah satu buah karya jurnalisme beliau dengan misi pewartaan untuk kalangan umat Katolik Kota Kupang khususnya Paroki Katedral Kristus Raja Kupang.

Teori Taine

Peristiwa pemberian anugerah budaya kepada Umbu Landu Paranggi tak lepas dari geliat pengarang-pengarang asal Nusa Tenggara Timur yang mampu berbicara dan berkontribusi untuk sastra Indonesia.

Beberapa nama seperti Gerson Poyk (Rote), Dami N Toda (Manggarai), Virga Belan (Rote), Umbu Landu Paranggi (Sumba), Julius R. Sijaranamual (Sumba), Fanny Poyk (Rote) dapat dikatakan telah menjadi referensi para pekerja seni sastra di negeri ini.

Bahkan karya-karya Gerson Poyk telah dipilih untuk kajian (studi) ilmiah sastra oleh lembaga perguruan tinggi asing seperti di Jerman dan Australia.

Ada lima aspek yang dipakai untuk menilai para kandidat penerima anugerah kebudayaan 2018 yaitu komitmen, konsistensi, produktivitas, orisinalitas, dan signifikansi.

Hasil akhir memunculkan tiga orang pemenang dengan kategori seniman tradisi atas nama Iman Rahman Anggawiria Kusumah, seniman modern untuk Umbu Landu Paranggi, dan pembina seni diberikan kepada Eddie Marzuki Nalapraya.

Kalangan pemerhati dan pengamat sastra dan masyarakat awam di NTT sepantasnya mengacungkan jempol untuk Umbu. Panca pilar sebagai elemen eksistensi tumbuhnya sebuah karya besar sastra sejatinya berorientasi pada pilar-pilar tersebut.

Pertanyaan menggelitik mengusik rasa ingin tahu. Mengapa dan bagaimana orang-orang NTT ini dan lain-lain mampu menembus ruang pergumulan dan pergaulan sastra Indonesia (nasional)?

Andai saja mereka tetap berkutat dan "meringkuk" dalam periuk bumi Nusa Tenggara Timur kecil (kosong) kemungkinan bisa mencapai titik puncak seperti sekarang.

Sebaliknya, tanpa faktor ke-nusatenggaratimur-an, mustahilkah mereka mampu menggapainya? Tesis ini setidaknya menggugat maraknya wacana dan studi sastra NTT dan beredarnya karya sastra putra-putri NTT berupa puisi, cerpen, novel, parodi, sajak.

Buku "Sastra Indonesia di NTT dalam Kritik dan Esai" (2017) oleh Yohannes Sehandi adalah cerminan yang kuat bahwa sastra ada di Nusa Tenggara Timur. Dan, sastra itulah (sastra etnik) yang menjadi bagian penting dari sastra nasional (Indonesia).

Hippolyte Taine (1828-1893), seorang pemikir, kritikus, sejarawan, penganut aliran positivisme asal Prancis mengatakan ada tiga faktor utama yang mendorong munculnya sebuah karya seni yaitu ras, milieu, dan momen (waktu).

Teori ini amat penting yang memberi efek terhadap seluk beluk kehidupan dan pertumbuhan sastra yang bersifat universal.

Ras (race), kata Taine, faktor kualitas daya pikir (nalar) dan karakter seseorang yang bersifat inherited (diturunkan sejak lahir); milieu (circumstance) adalah lingkungan yang membentuk, memodifikasi ras tadi; sedangkan momen (momentum), waktu, adalah momentum tradisi-tradisi budaya masa lampau dan sekarang `momentum of past and present cultural traditions.

The literature of a culture will show the most sensitive and unguarded displays of motive and the psychology of a people' (Encyclopaedia Britanica).

Jadi, sastra dalam bingkai budaya merupakan tampilan motivasi dan psikologi seseorang yang paling sensitif dan bebas pengekangan. Teori Taine ini, dalam pandangan penulis, mengena pada sastrawan asal NTT tersebut di atas yang, suka atau tidak suka, harus keluar dari kampung NTT. 
"Yogyakarta menempa Umbu Landu Paranggi menjadi penyair" tulis Korrie Layun Rampan, sastrawan Indonesia kelahiran Samarinda, Kalimantan, dalam Majalah sastra Horison edisi XXXXI,2006, No. T3.3.

Presiden Malioboro

Di Yogya, Umbu, biasa disapa demikian, mendirikan grup "sekolah sastra". PSK (Persada Studi Klub) namanya. Beranggotakan 1.555 orang dan ia sendiri pembinanya.

Bergabung antara lain sastrawan-sastrawan yang kemudian terkenal seperti Ragil Suwarno Pragolapati, Linus Suryadi AG, Emha Ainun Nadjib, Agus Dermawan T, Korrie Layun Rampan, Yudhistira ANM Massardi, dan lain lain. Sejak dekade 1960-an hingga 80-an, Yogya mirip sebuah kota sastra yang unik.

Titik kegiatan di Jalan Malioboro. Trotoar disulap jadi panggung terbuka untuk baca puisi. Di sana setiap anggota bebas memberi komentar. Memuji ataupun menghakimi. Jadi sebuah arena belajar untuk berkemampuan berdiskusi.

Diberi ruang dan waktu untuk menyerang tetapi juga mempertahankan ide. Tujuan akhir supaya terjadi persaingan kreativitas dan dari situlah karya-karya sastra (puisi/sajak) yang bermutu tersaring untuk ditampilkan dalam mingguan Pelopor Yogya asuhan Umbu.

Sebuah "sekolah sastra" yang praktis, efektif dan produktif. Dari aktivitas di kawasan Malioboro Yogya inilah, kelompok PSK kemudian memberi gelar kepada Umbu dengan "Presiden Malioboro" (ibid; Kakilangit, 117 .10).

Jika banyak sastrawan besar Indonesia terlahir dan berproses jadi penyair terkenal dari rahim Yogya misalnya Rendra, Umar Kayam, Sapardi Djoko Damono, Danarto, Motinggo Busye, dan lain lain yang lebih suka berhijrah ke Jakarta, tidak demikian halnya dengan Umbu yang lebih memilih Denpasar.

Sebuah keputusan dengan dasar pertimbangan milieu (lingkungan) yang sangat ideal dan tepat. Karenanya, dia bersaksi dalam puisinya yang berjudul Ni Reneng (bait kedua), "....di sini, di pusaran jantung Bali/ ibu, biar bersimpuh rohku/pada kedua tapak tanganmu/... (ibid; Kakilangit, 117 .3).

Simbolisasi diksi "ibu" untuk sebuah Denpasar (Bali) menunjukkan keseluruhan pribadi dan kehidupan Umbu yang telah membumi di ibu pertiwi, pulau dewata. Di pulau "sejuta pura" ini, tak henti-hentinya Umbu menjadi guru "sekolah sastra".

Nama-nama sastrawan seperti Raudal Tanjung Banua, Oka Rusmini, Putu Fajar Arcana, Tan Lioe Ie dan lain-lain lahir dari kerja keras seorang Umbu. Sejak tahun 2013, ia menghidupkan sebuah komunitas sastra di Denpasar, Bali dengan nama Komunitas Jatijagat Kampung Puisi.

Keteladanan di bidang seni dan budaya telah melekat pada pribadi Umbu sebagai "guru sastra". Kegigihan dalam bersaing dengan sastrawan-sastrawan besar Indonesia terbukti.

Sajak-sajaknya masuk rubrik remaja majalah Mimbar Indonesia asuhan Sudjatmoko, Rosihan Anwar, Rivai Apin, H.B. Jassin (1962). Selain itu, sajak-sajak Umbu sering muncul di sejumlah media sastra budaya dan surat kabar seperti Basis, Pusara, Kompas, Sinar Harapan, Mimbar/Tribun dan lain-lain (ibid; Kakilangit, 117 .14).

Umbu sebagai sastrawan yang berhasil justru ketika berada di luar NTT. Akankah generasi muda NTT seperti penyair Mario Lawi yang puisi-puisinya lolos dalam kategori Kompas, Tempo, Sinar Harapan menelusuri jejak Umbu dan kawan-kawan? Mengapa tidak! 

Editor: Putra

Sabtu, 19 Mei 2018

Kemendikbud Segera Revitalisasi Rumah Pramoedya Ananta Toer

May 19, 2018 | 12:23 PM


Kunjungan tim dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud di rumah Pramoedya Ananta Toer guna melakukan survey dan merencanakan revitalisasi, Kamis lalu (17/5/2018). (foto: dok-ib)
Cita-cita Pemkab Blora untuk menjadikan rumah masa kecil sastrawan dunia Pramoedya Ananta Toer (Pram) sebagai daya tarik wisata sastra mendapatkan dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Setelah bulan lalu Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) melakukan kerja bakti penataan lingkungan dan mengadakan sarasehan Blora Menuju Kota Sastra di halaman rumah Pram. Kini giliran Direktorat Kebudayaan Kemendikbud, yang mendatangi rumah sederhana di Jl.Sumbawa nomor 40 Kelurahan Jetis, Kecamatan Blora itu.

Tepatnya Kamis lalu (17/5/2018), tim dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud melakukan kunjungan ke rumah Pram didampingi Kepala Dinporabudpar Blora, Drs. Kunto Aji dan Kepala Bidang Kebudayaan Wahyu Tri Mulyani, AP untuk berdialog, survey dan merencanakan revitalisasi rumah masa kecil Pram.
“Kemarin yang datang Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman dari Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud, Pak Dr. Harry Widianto dan beberapa tim pendamping. Beliau dan rombongan merencanakan perbaikan atau revitalisasi rumah Pram agar bisa dijadikan daya tarik wisata sastra,” ucap Drs. Kunto Aji, kemarin.
Dalam survey yang dilaksanakan selama tiga hari sejak Kamis (17/5/2018) itu, menurut Kunto Aji, sudah dilakukan pengukuran di beberapa titik kawasan rumah masa kecil Pram.
“Hanya saja, bagaimana bentuk perencanaannya, kami belum tahu. Sebab itu dilakukan oleh tim pusat. Yang jelas revitalisasi rumah masa kecil Pram dimulai bulan Agustus 2018,” ujarnya.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Blora, pihaknya mengucapkan terimakasih kepada tim dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud yang telah memberi perhatian dan menindaklanjuti revitalisasi rumah masa kecil Pram yang kini ditempati adik kandungnya, Soesilo Toer.
“Tentu saja kami mengucapkan terimakasih. Harapannya, setelah direvitalisasi, akan menjadi daya tarik bagi warga masyarakat Kabupaten Blora, Indonasia bahkan manca negara yang ingin mengetahui serta ingin nostalagia dengan karya sastra dan rumah masa kecil Pram,” tandasnya.
Masih menurut Kepala Dinporabudpar Blora Kunto Aji, direncanakan pula mengembangkan perpustakaan dan informasi tentang karya dan biografi Pramoedya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Wahyu Tri Mulyani, AP menambahkan kedatangan Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman ke rumah masa kecil Pram juga didampingi Kepala BPCB Jawa Tengah, perwakilan lembaga terkait dari Provinsi Jawa Tengah, staf khusus dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, tim dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Blora, dan tokoh budaya Blora.

“Sempat diusulkan pembangunan joglo untuk kegiatan temu sastra dan olah karya sastra. Sebab anak-anak di Blora sudah ada yang punya bakat menjadi sastrawan, ” ujarnya.
Rumah masa kecil Pram, kata dia, belum ditetapkan menjadi cagar budaya dan sedang dilakukan pendataan hingga pengkajian. Meski demikian, dalam revitalisasi nanti diusulkan agar bagian dan bentuk asli tidak dipugar. 

Sumber: InfoBlora 

Sabtu, 12 Mei 2018

Meneropong “Sang Bintang” dari Dataran Tiga Pengadegan [2]


SANG BINTANG: Kesima “sang bintang” Dewi Aminah yang jadi magnet penonton pementasannya [Foto: Ridho Kedung]

Entah apa yang diraih penonton seusai menyimak pertunjukan teater monolog ini. Keterhenyakannya sepanjang 31’06” durasi pementasan malam itu tak menggeser fokusnya. Nyata bahwa kesima “Sang Bintang” sukses menyita perhatian ke dalam lansekap panggung yang ditata dengan kesan semi dekoratif biasa. Namun siraman lighting mendukungnya menjadi komposisi yang cukup sarat dengan pesan situasi, meski tak semua properti menjadi bagian kekuatan dalam membangun dan menyatukan narasinya.  

Sementara Dewi Aminah mampu melampaui narasi verbal “Sang Bintang” dan mereaktualisasi ekspresi naratifnya, dari sisi panggung mengalirkan suara musik yang menutupi celah-celah agar ekspektasi pentasnya bisa terjaga. Talenta Dewi Aminah memang berhasil mengatasi kendala narasi tekstual yang panjang dan mengular. Namun pada saat yang sama dan di fase berikutnya; ia tak cukup padat membangun diksi-diksi di sepanjang durasi lakon monolognya. Sesuatu yang akan membedakan sebuah teater monolog dan menjauhkannya dari jebakan story-telling biasa.

AKTING: Sedikit properti yang bisa dimanfaatkan talent guna lebih menghidupkan panggungnya, menjadi catatan dalam proses elaborasi keaktoran selanjutnya [Foto: Ridho Kedung]
   
Itu sebabnya kenapa ada terminologi “dataran tiga pengadegan” dalam pementasan monolog “Sang Bintang” di panggung (9/5/18) malam itu.

Tentu saja, ini hanya lah sebuah catatan belaka; tanpa tendensi kritis. Satu-satunya tendensi yang mesti dibangun adalah meminimalisir celah-celah agar bangunan cerita tidak menjadi datar-datar saja. Meksi dalam konteks ini, komposisi musik dan pencahayaan dapat menolong; namun secara esensial ia menjadi bagian utuh dari kekuatan sang talent.  

Bagaimana mematangkan talenta, selain bukan perkara instan; barangkali ini masuk dalam wilayah rejim penyutradaraan. Tetapi saya ingin mengembalikan simpulan ini dengan mendekati latar proses ketimbang paparan ceritera pentasnya. Dengan begitu, jagad teater akan menempati realitas estetik yang dapat dijadikan wahana pembelajaran bersama.

Menyorot Dewi “Sang Bintang” Aminah malam itu, nampak telah memiliki bekal dasar kuat, terlebih jika mengingat ia adalah talent pemula. Mulutnya bertenaga, daya imagineirnya tak rendah; demikian pula nalar estetiknya. Tentu, dasar-dasar ini tak lepas dari proses bagaimana ia dipersiapkan Sangkanparan untuk itu...  [ap]


APRESIAN: Sejumlah penonton mengapresiasi pementasan monolog "Sang Bintang" (9/5) dalam sesi dialog yang digelar pasca pementasannya [Foto: Ridho Kedung] 

Kamis, 10 Mei 2018

Meneropong “Sang Bintang” dari Dataran Tiga Pengadegan [1]


- Catatan Pentas Monolog “Sang Bintang” Dewi Aminah




Sebagai sebuah ekspresi dan peristiwa seni, pementasan teater monolog “Sang Bintang” yang diusung komunitas pembelajar Sangkanparan dari Cilacap ke Kebumen (9/5) malam itu; menjadi momentum yang berbeda dari pentas di ruang publik biasanya. Aula Ronggowarsito di lingkungan kampus STIE Putra Bangsa menjadi saksi, saat lebih dari 150 penonton menyimak pentasnya. Jumlah audiens yang selain besar secara kuantitas, juga menjadi catatan tersendiri karena memang kegembiraan apresian umum seperti ini jarang terjadi.

Tak berlebihan untuk mengatakan bahwa pementasan monolog “Sang Bintang” malam itu terbilang sukses. Kesungguhan Dewi Aminah dalam mengeksplorasi bakat keaktorannya menghasilkan kesima kuat yang secara umum mampu membikin ratusan penonton tak beranjak pergi dari duduknya; hingga usai pertunjukan. Tentu, dalam konteks pertunjukan seutuhnya, anasir pendukung lain hasil kerja-kerja dalam proses yang membentuknya demikian; tak bisa dimenafikkan.

Catatan kecil ini tak dimaksudkan untuk menilai aspek-aspek teknis dari tetek-bengek disiplin dramaturgi yang jembar medan aktualisasinya. Saya membuatnya semata karena mengimani bahwa proses berkesenian itu sungguh suatu kenikmatan religius. Kedalaman yang hanya bisa diukur secara sense of arts dan bukan dengan melulu kerangka sains teoritik.

Selain secara faktual “Sang Bintang” memang mengharu penonton malam itu, sesungguhnya, proses simultan komunikasi kreatifnya masih terjadi, meski pentasnya sendiri telah usai.
Itulah takdir lakon “Sang Bintang” nya Whani Darmawan setelah pada 2016 ia selesai menulis dan merangkumnya Sampai Depan Pintu.    


SANG BINTANG: Keaktoran Dewi Aminah saat memainkan monolog "Sang Bintang" menjadi magnet ratusan penontonnya di aula Ronggowarsito kompleks kampus STIE Putra Bangsa Kebumen (9/5) - Foto: Ridho Kedung


Re-interpretasi teks dan konteksnya


Bagaimana talenta Dewi Aminah mengaktualisasikan kembali narasi cerita melampaui teks-teks verbal penulis lakonnya, dengan asistensi Nyak Dewi Kusumawati sebagai sutradara yang membantu membidaninya. Adalah sebuah perjalanan “Sang Bintang” yang secara tekstual telah ditakdirkan.

Secara tekstual memang lakon yang ditulis Whani Darmawan ini memuat manifestasi keinginan sebagai sebuah fenomena; akan tetapi yang tak berdiri sendiri secara konteks. Dia -manifestasi keinginan- itu tentu tak bersifat instan, melainkan dikonstruksi oleh hubungan-hubungan dialektis dalam hidup dengan tradisi -sistemik- tertentu yang membentuknya menjadi dan menemui realisme kekinian.  

Manakala perwujudan “Sang Bintang” ini hendak dibumikan (baca: dipanggungkan), maka muatan konteksnya mesti ikut dihadirkan secara jelas. Jelas di sini bermakna bukan sekedar mengganti seting pentas yang terbagi dalam tiga fase pengadegan, melainkan lebih pada tendensi karakter dan bangunan situasi pada setiap bagian narasinya, yang secara wutuh diaktualisasikan melalui kerja visual pentas monolognya.  

Transformasi teks-teks ke dalam pentas monolog memang mensyaratkan interpretasi dasar yang kuat dari sang talent. Nampak betapa tak ringannya misi milenial keaktoran “Sang Bintang” ini dalam mengusung konten dengan muatan visioner yang melihat lompatan ke depan, agar sampai ke dalam ruang kosmik penontonnya hari ini... [arp]

Rabu, 02 Mei 2018

Komnas HAM Catat 4 Kondisi Darurat Pendidikan

Penulis: Thomas Harming Suwarta - 01 May 2018, 17:53 WIB

MI/Susanto

KOMISI Nasional Hak Asasi Manusia memberikan catatan khusus tentang peringatan hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap 2 Mei. Komnas HAM mencatat setidaknya terdapat 4 kondisi darurat pendidikan di Indonesia saat ini.
"Komnas HAM mencatat ada 4 kondisi darurat pendidikan Indonesia yaitu darurat karena banyak kasus pelanggaran HAM; darurat karena ranking pendidikan Indonesia yang buruk; darurat karena banyak kasus korupsi terhadap anggaran pendidikan; dan darurat karena sistem pendidikan yang belum berjalan dengan baik,” kata Koordinator Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan Komnas HAM RI Beka Ulung Hapsara dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Selasa (1/5). 
Dia menjelaskan, pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla memiliki sembilan agenda prioritas yang disebut dengan istilah nawa cita.
Pada nawa cita nomor delapan tertulis “Melakukan revolusi karakter bangsa”, Perubahan karakter bangsa salah satunya ditempuh melalui jalur pendidikan. 
"Namun itu sebenarnya yang masih menjadi persoalan kita saat ini," ungkap Ulung. 
Empat catatan darurat tersebut kata dia adalah pelanggaran HAM, rangking pendidikan, korupsi, dan sistem pendidikan.

Untuk konteks pelanggaran HAM kata dia terlihat dalam beragam tindakan pelanggaran HAM di sekolah dan perguruan tinggi dari tahun ke tahun yang terus meningkat jumlahnya termasuk bentuk pelanggarannya, pelaku, korban dan modus operandinya.

Ia menjelaskan, Badan PBB untuk Anak (Unicef) menyebutkan, 1 dari 3 anak perempuan dan 1 dari 4 anak laki-laki di Indonesia mengalami kekerasan. 
"Data ini menunjukkan kekerasan di Indonesia lebih sering dialami anak perempuan,"jelasnya.
Hasil riset Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW) pada Maret 2015 menyatakan kata dia, mencatat bajwa 84% anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Angka tersebut lebih tinggi dari tren di kawasan Asia yakni 70%.

Menurut data Komnas HAM, kasus dugaan pelanggaran HAM terkait isu pendidikan cenderung meningkat. Pada 2017 ada 19 kasus, sedangkan 2018 sampai April 2018 sudah ada 11 kasus. Hak-hak yang dilanggar, antara lain hak atas pendidikan, hak memperoleh keadilan, hak mengembangkan diri, hak atas kesejahteraan, dan hak atas hidup.
Tempat kejadiannya ada di Sumatra, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Papua, Bali dan Nusa Tenggara.

Selain itu persoalan ranking pendidikan Indonesia, menurut Programme for Internasional Student Assessment (PISA) pada 2015, indonesia berada pada posisi 64 dari 72 negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Di ASEAN, ranking pendidikan Indonesia nomor 5 di bawah Singapura, Brunei Darusssalam, Malaysia dan Thailand.
“Harusnya ranking pendidikan Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara maju karena anggaran pendidikannya besar mencapai 20% dari APBN atau lebih dari Rp 400 triliun,” ucapnya.
Angka partisipasi pendidikan (APS) di Indonesia juga masih terjadi ketimpangan besar antara pendidikan dasar-menengah dengan pendidikan tinggi. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017 APS di pendidikan formal, sebagai berikut: APS Sekolah Dasar (7-12 tahun) mencapai 99,08%; APS Sekolah Menengah Pertama (13-15 tahun) sebanyak 94,98%; APS Sekolah Menengah Atas (16-18 tahun) ada 71,20%; APS Perguruan Tinggi (19-24 tahun) hanya 24,67%. 
“Pendidikan yang berkualitas, inklusif, adil, setara dan merata merupakan amanat yang tercantum di Sustainable Development Goals (SDGs). Pemerintah harus bisa memenuhi amanat tersebut,” ucap Beka Ulung Hapsara Komisioner Komnas HAM.
Darurat Pendidikan yang lain kata Ulung adalah persoalan korupsi.
Bidang pendidikan kata dia masih dan terus terjangkiti tikus-tikus koruptor. Anggaran untuk pendidikan pada 2016 mencapai Rp 424,7 triliun.
"Tetapi ternyata menurut catatan Indonesia Corruption Watch (ICW) pada rentang waktu 2005 – 2016 terdapat 425 kasus korupsi terkait anggaran pendidikan dengan negara Rp 1,3 triliun dan nilai suap Rp 55 miliar," kata Ulung.
Persoalan lain lagi adalah sistem pendidikan Indonesia belum berjalan optimal karena kualitas guru yang rendah, suasana pembelajaran di sekolah yang tidak kondusif, dan kurikulum pendidikan yang membebani murid dan belum mengakomodir keragaman budaya yang ada di masyarakat.


Situasi yang dihadapi misalnya Sekolah dan perguruan tinggi belum inklusif karena diskriminasi masih terjadi terhadap penyandang disabilitas dan belum mampu menyediakan fasilitas sesuai kebutuhan penyandang disabilitas. Bukan hanya itu, masih terus terjadi kasus plagiatisme untuk meraih gelar sarjana (S1), master (S2), dan doktor (S3).(X-10)

Sumber: M.MediaIndonesia 

Minggu, 29 April 2018

Saat “Jago Tengsiang” SRMB diusung ke Festival TBRS


28 April 2018

TBRS: Pementasan repertoar "Jago Tengsiang" produksi SRMB Kebumen pada Festival Pertunjukan Rakyat (28/4) di TBRS Semarang [Foto: K-04]

Semarang - Putaran akhir Festival Pertunjukan Rakyat 2018 yang difasilitasi Forum Komunikasi Media Tradisional (FK-Mitra) Jawa Tengah sukses digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu (28/4). Sebanyak 6 delegasi daerah yakni dari Semarang, Magelang, Purworejo, Kebumen, Purbalingga dan Wonosobo; sebagai peserta festival usai menyajikan pertunjukannya di hadapan ratusan penonton yang memadati gedung.

Nuansa tradisional sebagai ciri masing-masing daerah mewarnai konten pertunjukan, meskipun beberapa terkesan lebih banyak mengusung pesan-pesan promosi pemerintah sebagai warna cukup “dominan” dalam komposisi misi pertunjukannya. Beban “moral” titipan seperti ini, pada batas ekspresi tertentu, serasa menyisakan celah kosong dengan penonton sebuah festival rakyat yang menempatkan penonton pada obyek yang pasif.


PENONTON TBRS: Penonton festival di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, berbaur dengan peserta festival yang menunggu gilitan tampil [Foto: K-04]

Alih-alih menciptakan komunikasi yang intens atas pertunjukan, beberapa penonton dalam kuantitas cukup signifikan malah lebih memilih buat menyimak layar gadget yang dibawanya, ketimbang berfokus pada panggung meskipun pertunjukan tengah dan terus berjalan. Audiens seakan berkilah dari suapan pesan-pesan profan, sebuah situasi yang rasanya malah jadi menjauhkan panggung dari eksplora problem-problem keseharian rakyat yang makin kompleks.  
“Pertunjukan yang awalnya asik, tiba-tiba berubah karakternya”, komentar jengah Indriotomo dari barisan penonton festival pertunjukan rakyat pagi hingga siang itu.   
Dilihatnya antara panggung dan penonton sebagai dua dunia yang berdiri sendiri-sendiri, meski pada mulanya telah terbangun suasana yang mulai menautkan keduanya; situasi bagi terbangunnya interpretasi kreatif. Pada acara yang sekaligus menjadi ajang deklarasi anti-hoax itu, menjadikan indepensi sebuah festival pertunjukan rakyat jadi berkurang kekuatannya.


Drama “Jago Tengsiang” dan Aplaus itu

Restorasi kecil atas lakon “Jago Tengsiang” yang sebelumnya dipentaskan di Kebumen (13/4), sedikit memecahkan celah berjarak itu. Repertoar yang diusung SRMB memang mendapatkan apllaus penontonnya di TBRS Semarang. Tetapi bukan melulu itu ukurannya, jika mau berfikir seputar estetika bertutur melalui panggung pertunjukan.

Lakon ini memang bertutur soal skeptisme publik atas pemilu yang jadi bingkai tema pihak penyelenggara. Gagasan yang terumuskan dalam jargon gelaran Pemilu Becik tur Nyenengake (Pemilu yang baik dan menyenangkan_Red) itu, telah mengalami “daur ulang” pemikiran dari sisi yang lain. Dari kacamata publik pemilih, pendekatan perspektifnya berbeda.

Intervensi kalangan tertentu dalam tradisi “pesta demokrasi” yang boleh jadi menyenangkan itu, dipersonifikasikan melalui peran politik korporasi pada awal narasi dramatiknya. Dalam konteks gelaran pemilu, dimana ada penyimpangan dan bahkan kejahatan moral-etika berdemokrasi, selalu hanya bermuara dan menghasilkan rejime oligarki baru yang secara substansi tak berbeda dengan hasil-hasil politik elektoral formal sebelumnya.

Meskipun SRMB sulit lepas dari kewajiban moral yang mesti dipikul atas pesanan pihak resmi, sebagaimana 6 peserta festival lain menyuarakan; namun memang terasa bahwa “Jago Tengsiang” tak bertutur dengan gaya menggurui penontonnya... [ap]     

Sabtu, 21 April 2018

Perempuan Perkasa dari Jawa

Catatan: Rukardi Achmadi | 21 April 2018 

Ilustrasi: Jimmy ONG, "Nyi Ageng Serang at Goa Selarong".
Jauh sebelum kemunculan RA Kartini di panggung sejarah Indonesia, perempuan Jawa sesungguhnya telah memainkan peran yang cukup bermakna. Mereka memiliki kesempatan bertindak dan mengambil inisiatif pribadi yang melampaui pencapaian kaumnya pada era kemudian, yakni akhir abad ke-19. Selain menjadi penjaga nilai-nilai tradisional dan agama, perempuan masa itu bahkan telah memasuki dunia yang menjadi dominasi laki-laki seperti bisnis, politik, bahkan kemiliteran.
Tak perlu jauh-jauh mencari rujukan ke era Ratu Shima atau Suhita, sejarawan Inggris Peter Carey dan Guru Besar Sejarah dari Humboldt University Vincent Houben menunjukkan keberadaan mereka yang hidup hanya pada rentang masa dua abad sebelum kelahiran Kartini. Dalam Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX, Carey dan Houben menghadirkan sosok-sosok luar biasa yang mereka temui saat meneliti Perang Jawa (1825-1830). Ada para perempuan prajurit yang menjadi pengawal khusus raja, perempuan bangsawan yang melakukan perlawanan fisik terhadap kolonialisme, pengusaha ulet, hingga mereka yang berhasil memperjuangkan hak pribadinya dalam ranah domestik.
Perempuan prajurit pengawal raja antara lain terdapat di Surakarta dan Yogyakarta. Joseph Donatien Boutet, seorang penyewa tanah kesultanan dari Prancis yang mengunjungi Surakarta pada masa Pakubuwono V (1820-1823) mengungkapkan kekagumannya terhadap para "Srikandi pengawal" yang ia lihat. Empat puluhan perempuan prajurit itu duduk berbaris di bawah takhta sang raja dengan masing-masing membawa senjata lengkap, sebilah keris, pedang, dan sepucuk bedil.
Perempuan prajurit Jawa bukan sekadar pagar ayu, tapi benar-benar prajurit terlatih. Gubernur Pantai Timur Laut Jawa Jan Greeve yang mengunjungi Surakarta pada 31 Juli 1788 bersaksi bahwa para prajurit estri itu menyambut dirinya di loji Belanda dan Dalem Mangkunegaran dengan tembakan salvo yang teratur dan tepat. Kecakapan mereka juga terkonfirmasi dalam peristiwa penyerbuan tentara Inggris ke keraton Yogyakarta pada 20 Juni 1812. Seorang letnan Skotlandia dari pasukan resimen infanteri Inggris, Hector Maclean, tertikam oleh seorang putri keraton yang hendak ia culik sebagai pampasan perang.
Perempuan bangsawan yang melakukan perlawanan fisik terhadap kolonialisme Belanda diwakili oleh Raden Ayu Yudokusumo dan Nyai Ageng Serang. Keduanya terlibat aktif membantu Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. Raden Ayu Yudokusumo yang merupakan putri sultan pertama merupakan satu dari beberapa panglima kavaleri senior Diponegoro di wilayah mancanegara timur. Ia kemudian bergabung dengan Tumenggung Sosrodilogo dalam perlawanan terhadap Belanda di pesisir utara antara 28 November 1827 - 9 Maret 1828.
Sedangkan Nyai Ageng Serang ikut angkat senjata, membantu putranya, Pangeran Serang II yang memimpin 500 prajurit di kawasan Serang-Demak pada bulan-bulan pertama Perang Jawa. Perempuan yang lahir di Desa Serang, daerah di antara Surakarta dan Purwodadi, pada sekitar tahun 1762 itu diyakini masih keturunan Sunan Kalijaga. Ia yang gemar bertapa di gua-gua sunyi di Pantai Selatan Jawa memiliki pengaruh besar di tanah kelahirannya. Atas jasanya dalam perjuangan melawan Belanda, pada masa kemudian Nyai Ageng Serang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Adapun perempuan pebisnis pada abad ke-18 hingga ke-19 berasal dari kalangan ningrat. Ada yang berdagang emas dan berlian, meminjamkan uang dengan suku bunga tinggi, atau menyewakan tanah kepada orang-orang Eropa. Salah seorang dari mereka adalah eyang buyut Diponegoro. Ia yang penganut tarekat Shattariyah, menghabiskan masa tuanya untuk mengawasi manajemen perkebunan dan sawah di Tegalrejo serta perdagangan produknya, terutama beras, melalui abdi dalem saudagar ke Semarang dan Bima Nusa Tenggara Barat. Di sana, ia juga terlibat dalam perdagangan budak yang kelak dilarang Inggris pada 1813.
Peran penting perempuan Jawa pada abad ke-18 dan ke-19 itu berangsur-angsur memudar pasca-Perang Diponegoro. Dengan sangat hati-hati, Carey dan Houben mengajukan hipotesis bahwa proses itu sangat dipengaruhi oleh kolonialisme dan Islam. Maka pada masa akhir abad ke-19, kita menjumpai kehidupan perempuan di Jawa sebagaimana digambarkan oleh Kartini. Kehidupan perempuan yang muram, terbelenggu, dan terbelakang. Dengan kecerdasan, kesempatan, dan jejaring yang dimilikinya, Kartini mencoba mendobrak kegelapan itu. Apa yang ia lakukan berhasil menginspirasi perempuan generasi sesudahnya untuk melompat lebih jauh lagi.
Perempuan Jawa dan daerah-daerah senasib lain di Hindia Belanda pun memasuki era baru yang memberi banyak kemungkinan dan kesempatan. Meski masih sangat terbatas, mereka mulai mendapatkan pendidikan. Dari sana muncul perempuan-perempuan belia yang tidak hanya terdidik, namun juga menyebarkan kesadarannya kepada khalayak lebih luas. Mereka turut bergerak, baik melalui organisasi umum maupun perkumpulan khusus perempuan. Untuk perkumpulan jenis kedua, mula-mula berdiri Poetri Mardika di Jakarta pada 1912, lalu diikuti oleh organisasi-organisasi perempuan lain, baik di Jawa maupun pulau-pulau lain di Hindia Belanda. Di Jepara, tanah kelahiran Kartini, pada 1915 berdiri perkumpulan Wanito Hadi. Gelombang itu terus bergerak ke kota-kota lain di Jawa Tengah, antara lain Pawijatan Wanito di Magelang (1915), Poerborini di Tegal (1917), Wanito Soesilo di Pemalang (1918), dan Wanodjo Oetomo di Yogyakarta (1920).
Ketika berlangsung Kongres Pemuda I Pada 1926 dan Kongres II pada 1928, para perempuan aktivis turut terlibat di dalamnya. Berselang dua bulan setelah Kongres Pemuda II yang menghasilkan kesepakatan monumental itu, mereka menyelenggarakan Kongres Perempuan Pertama di Yogyakarta. Perhelatan yang kelak dijadikan tonggak peringatan Hari Ibu tersebut membahas dan mencari pemecahan atas masalah yang mendera perempuan masa itu, seperti pendidikan, kedudukan yang lemah dalam perkawinan, masalah perceraian, poligami, dan pernikahan anak.
Pada masa kemudian, perempuan aktivis makin memperluas spektrum gerakannya. Sebagian dari mereka bahkan memilih terjun langsung ke lapangan politik. Salah satunya adalah SK Trimurti. Perempuan yang dilahirkan di Boyolali pada 11 Mei 1912 itu meninggalkan pekerjaanya sebagai guru yang berstatus pegawai negeri dan bergabung dengan Partindo, organisasi nasionalis radikal yang dipimpin oleh Sukarno. Lewat Partindo, Trimurti ingin menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk bangsanya yang belum merdeka.
Akibat aktivitas politiknya yang radikal, Trimurti harus menjalani hukuman penjara berkali-kali. Di penjara Jurnatan Semarang, saksi mata pembacaan teks proklamasi kemerdekaan RI itu pernah dihajar tentara Jepang hingga nyaris tak sadarkan diri. Muka dan kepalanya bengkak akibat pukulan tongkat karet bertubi-tubi. Sebagai aktivis, ia kerap berpindah tempat, mulai dari Banyumas, Semarang, Yogyakarta, hingga Jakarta. Trimurti juga berkelana dari satu organisasi ke organisasi lain yang kebanyakan ia dirikan sendiri. Istri Sayuti Melik itu pernah menjadi jurnalis, aktivis buruh, hingga akhirnya diangkat oleh Presiden Sukarno sebagai Menteri Perburuhan Pertama RI.
Pasca-kekalahan Jepang, Indonesia memasuki masa revolusi. Pasukan Sekutu dan NICA yang tak mengakui kemerdekaan RI berusaha menegakkan kembali tatanan kolonial Hindia Belanda. Para pendukung republik melawan, berusaha mempertahankan kemerdekaan yang diproklamasikan Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Kaum perempuan tak tinggal diam. Mereka turut berjuang melalui kelaskaran. Beberapa dari ribuan perempuan laskar itu adalah Dartiyah Soeripto yang bertugas di front Mranggen, Salatiga, Solo, dan Yogyakarta, Harrini Anggoro di medan tempur Salatiga dan Solo Raya, serta Widayati Soertinah di front Ambarawa. Mereka ada yang berkhidmad di dapur umum, menjadi kurir, tenaga kesehatan, ada pula yang turut bertempur di garis depan.
Kiprah perempuan aktivis pergerakan dan mereka yang turut dalam perjuangan kemerdekaan pada masa revolusi itu mengingatkan kita pada perempuan-perempuan perkasa Jawa pada abad ke-18 dan ke-19. Mereka melakoni peran yang dalam tradisi klasik menjadi domain laki-laki. Lebih bermakna, para perempuan itu menanam saham dalam penghancuran kolonialisme di Indonesia. Namun satu hal yang perlu diingat, peran mereka tak mungkin terjadi tanpa kehadiran sang pendobrak, Kartini. (Rukardi)
Sumber: RukardiAchmadi 

28 Film Pendidikan Terbaik di Dunia yang Menginspirasi



“Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China”. Pepatah umum tersebut menyiratkan maksud bahwa tidak dapat dinafikan lagi kalau pendidikan memiliki peran penting yang membawa pengaruh besar pada kehidupan seseorang. Semangat yang dijunjung tinggi menjadi modal utama dalam mengarungi dunia pendidikan demi mencetak kehidupan yang lebih cerdas dan mempunyai arah.
Mengerti seberapa besarnya peran pendidikan pada jati diri serta kehidupan seseorang membuat banyak dari kalangan sineas tidak ingin ketinggalan untuk menumpahkan inspirasi ke dalam dunia pendidikan yang disalurkan melalui sejumlah film pendidikan terbaik di dunia. Berikut ini Oliswel tampilkan beberapa judul film tentang pendidikan yang menarik dan penuh dengan inspirasi untuk setiap orang yang telah menyaksikannya.

1. LEAN ON ME (1989)

Lean on Me (1989) Film Pendidikan Terbaik
Lean on Me merupakan film biopik yang mengangkat kisah nyata seorang kepala sekolah berkulit hitam bernama Joe Clark alias “Crazy Joe”. Diceritakan seorang kepala sekolah berkulit hitam yang tidak lain adalah Joe Clark (Morgan Freeman) dalam menanamkan kedisiplinan pada setiap muridnya yang terkenal susah diatur tersebut. Banyak orang yang menganggap Clark otoriter, sombong, dan egois karena suka memaksakan kehendaknya sendiri tanpa peduli dengan orang lain.
Meskipun demikian, Clark dikatakan berhasil sebagai sosok kepala sekolah yang dicintai, dihormati, sekaligus dibenci, dan ditakuti. Lean on Me memberi pesan sederhana bahwa untuk mencetak para generasi muda yang berguna di masyarakat, diperlukan sesosok manusia yang penuh dedikasi, keberanian, dan ketegasan luar biasa. Secara keseluruhan, Lean on Me menjadi film pendidikan terbaik sepanjang masa yang layak ditonton oleh siapa saja yang menyukai biopik berkualitas.

2. STAND AND DELIVER (1988)

Stand and Deliver (1988)
Berikutnya, ada Stand and Deliver besutan Ramon Menendez yang sekaligus menjadi penulis naskah ditemani oleh Tom Musca. Stand and Deliver menampilkan kisah hidup dari seorang guru komputer yang bernama Jaime Escalante. Jamie Escalante dalam film tentang pendidikan ini diperankan oleh Edward James Olmos.
Film klasik yang rilis pada 1988 ini menggambarkan pentingnya peran guru di tengah kehidupan masyarakat saat ini. Pesan yang tersirat dari Stand and Deliver adalah “seorang guru tidak pernah percaya bahwa siswa tidak dapat belajar”. Jamie yang memiliki pandangan revolusioner sebagai seorang guru menunjukkan usahanya untuk membuat muridnya lulus ujian kalkulus.

3. DANGEROUS MINDS (1995)

Dalam kegiatan pembelajaran, seorang guru harus bisa menyesuaikan sistem yang dianut dalam mengajar dengan keadaan kelas. Sekurang-kurangnya, itulah sedikit pesan yang ingin disampaikan oleh Dangerous Minds. Di mana seorang guru bernama Louanne Johnson mengalami kesulitan dan hampir frustasi dengan keadaan murid-murid di kelasnya, yang rata-rata berstatus ekonomi ke bawah dan memiliki geng.
Louanne yang dahulunya menjabat sebagai marinir mulai menunjukkan ketegasannya dalam mengajar. Secara berangsur, Louanne yang tadinya tidak diterima oleh anak muridnya mulai mendapatkan tempat dan bahkan mereka menyematkan sebutan “cahaya” baginya. Dalam proses dan metode pembelajaran yang ia lakukan, Louanne tidak hanya mendidik anaknya secara teoritis, tetapi juga secara emosional. Satu sisi yang harus diperhatikan oleh setiap guru pengajar, di mana keberhasilan murid atau peserta didiknya secara nyata bergantung pada metode pembelajaran yang diadopsi oleh seorang guru.

4. MR HOLLAND’S OPUS (1995)

Mr Holland's Opus (1995)
Film Mr Holland’s Opus mencerita perjuangan seorang guru yang mengajar musik di sebuah sekolah menengah atas selama 30 tahun. Film pendidikan bagus tahun yang rilis tahun 1995 ini berhasil membopong piala dalam nominasi Oscar dan Golden Globe untuk kategori aktor terbaik.
Mr Holland’s Opus menampilkan kisah seorang musisi dan komposer berbakat bernama Glen Holland yang menjabat sebagai seorang guru. Holland mempunyai ekspetasi bahwa seorang guru bisa membuat perubahan besar pada setiap murid didikannya. Tapi setelah belum lama mengajar, Holland didapuk oleh kenyataan bahwa menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang mudah.
Kenyataan pahit tersebut ia rasakan dengan melihat reaksi anak muridnya yang merepresentasikan kebosanan atas pelajaran yang dirinya berikan. Hingga kemudian, Holland menyadari dan mengubah cara pengajarannya sehingga berhasil melibatkan siswa untuk merasuk ke dalam jiwa musik. Keberhasilannya tersebut menjadikan Holland sebagai guru yang difavoritkan oleh kepala sekolah maupun para muridnya.

5. DEAD POETS SOCIETY (1989)

Dead Poets Society (1989)
Dead Poets Society seakan menjadi film yang mencanangkan kebebasan berpikir dalam dunia pendidikan, khususnya di dunia sastra. Cerita bermula disaat seorang guru pengganti Bahasa Inggris bernama John Keating (diperankan oleh Robin Williams) memberikan pengarahan pandangan dengan cara yang berbeda dan tidak terikat oleh pendekatan kuantitatif kepada siswanya sepada pada umumnya.
Pada awal pertemuannya, John langsung menciptakan kesan takjub dan tak terlupakan untuk ketuju siswa yang berasal dari keluarga terhormat itu. Dia meminta siswa untuk merobek halaman yang berisi metode pendekatan tersebut. Hingga suatu hari, beberapa siswa didik John membuat perkumpulan bernama Dead Poet Society.
Sejak saat itulah jiwa-jiwa “pemberontak” dari ketujuh siswa tersebut muncul sehingga membuat John disalahkan akibat perbuatannya. Kendati demikian, John tetap disegani cara berpikirnya oleh semua murid dalam akademi tersebut. Dead Poets Society berhasil menyematkan pesan berdasarkan satu kasus yang ada pada film bertema pendidikan terbaik ini, yaitu: “Petiklah, petiklah hari, buatlah hidupmu menjadi lebih berharga!”.

6. TO SIR, WITH LOVE (1967)

Film yang diproduksi pada tahun 1967 ini bercerita tentang seorang pria bernama Sidney Poitier yang terlibat hutang. Masalah yang menimpa dirinya tersebut membuat ia mengambil posisi sebagai guru pengajar di sebuah sekolah di pinggiran kota London agar bisa melunasi tagihan hutang yang jumlahnya menggunung tersebut.
Cerita yang diangkat banyak memberi inspirasi pada kita mengenai bagaimana seorang Poitier dalam perannya sebagai guru memberikan pelajaran tentang kehidupan kepada muridnya. Pelajaran tersebut Poitier rasa menjadi kebutuhan penting yang harus dimiliki oleh setiap muridnya. Dengan pelajaran tentang memahami hidup yang ia sampaikan pada kenyataannya membawa dampak yang luar biasa terhadap kehidupan pribadi para muridnya.
To Sir, With Love dengan durasi tayang 105 menit ini disutradari oleh James Clavell. Selain Sidney Poitier, ada juga nama Judy Geeson, Christian Roberts, Suzy Kendall, dan Patricia Routledge yang turut meramaikan film pendidikan yang menginspirasi ini.

7. TAARE ZAMEEN PAR (2007)

Taare Zameen Par (2007)
Film pendidikan Aamir Khan berjudul Taare Zameen Par ini menceritakan seorang anak lelaki yang menderita disleksia bernama Ihsan yang dianggap bodoh oleh ayahnya sendiri. Ihsan dianggap sebagai anak bandel karena suka berbohong, hobi bolos, dan dicap sebagai pemalasn. Ihsan tampak berbeda dengan anak seusianya. Karena itu pula Ihsan tidak mempunyai teman dan bahkan seringkali dicemooh oleh teman-teman sebayanya.
Hingga suatu hari datang seorang guru bernama Ram yang diperankan oleh Aamir Khan. Ram menyadari bahwa Ihsan adalah anak spesial yang mempunyai imajinasi luar biasa. Terbukti dari banyak gambar buatannya yang unik dan kreatif. Ram dengan segala cara membantu Ihsan untuk bisa meluapkan kecerdasan yang tidak dimiliki banyak orang tersebut, terlebih dia masih anak-anak.
Taare Zameen Par merupakan film pendidikan anak dari India tahun 2007 yang diproduksi oleh Aamir Khan dengan mengambil peran sendiri sebagai guru dalam film besutannya ini. Taare Zameen Par banyak mendapatkan tanggapan positif karena inti cerita yang menginspirasi banyak orang. Pesan yang jelas ingin disampaikan oleh Aamir Khan pada film ini tak lain ialah kita sebagai manusia, tidak berhak memperlakukan buruk orang lain yang terlihat berbeda dengan kita. Juga menyinggung setiap orang tua untuk tidak membebani anak terhadap pencapaian-pencapaian yang harus ia raih.

8. 3 IDIOTS (2009)

3 Idiots (2009)
Selain Taare Zameen Par, ada juga 3 Idiots, sebuah film pendidikan terbaik sepanjang masa yang banyak memberikan pesan moral terkait sistem pembelajaran yang dipegang oleh banyak perguruan tinggi. 3 Idiots menceritakan kehidupan tiga orang sahabat yakni Farhan Qureshi, Raju Rastogi, dan Ranchoddas Shamaldas yang dikenal dengan nama Rancho. Jika sampai saat ini Anda belum pernah menontonnya, maka disarankan untuk tidak membaca review atau resensi mengenai film ini. Sebab, salah seorang diantara mereka bertiga ternyata menyimpan rahasia besar yang tidak pernah diketahui oleh kedua sahabatnya tersebut.
Banyak pesan moral yang bisa Anda petik setelah menonton film Bollywood bertema pendidikan berjudul 3 Idiots ini, seperti salah satu kesuksesan terbesar dalam hidup adalah di saat kita berani mengejar mimpi dan cita-cita sesuai keinginan hati. Selain itu, 3 Idiots juga memberi dampratan keras terhadap dunia pendidikan yang selama ini dianut oleh banyak pihak pendidik di mana dalam proses belajar, hal yang sepantasnya dijadikan tujuan adalah pemahaman tentang ilmu pengetahuan, bukan sebatas nilai ataupun ijazah sebagai bukti kelulusan.

9. ACCEPTED (2006)

Accepted (2006)
Accepted menceritakan sekumpulan remaja yang baru saja lulus SMU. Peran utamanya adalah Bartleby Gaines yang harus melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi. Bongkah demi bongkahan usaha yang dilakukan Gaines untuk menembus ke universitas nyatanya belum berhasil. Benar, semua universitas yang Gaines lamar menolaknya. Hal ini membuat orang tua Gaines yang sedikit kolot membahas soal pendidikan kebakaran jenggot, terlebih perasaan yang dialami oleh Gaines sendiri.
Pusing memikirkan masa depan, Gaines beserta teman-temannya mempunyai ide konyol dan bahkan mengeksekusi ide gila tersebut. Gaines mendirikan sebuah universitas fiktif dengan tujuan membebaskan diri dari tekanan yang dibawa orang tuanya. Universitas fiktif buatannya diberi nama South Harmon Institute of Technology atau disingkat S.H.I.T yang menggunakan konsep pembelajaran yang lebih fleksibel dan sederhana. Berlalunya hari menjadikan S.H.I.T semakin banyak peminatnya. Tentunya, mereka yang berminat masuk juga bernasib sama dengan pendiri universitas palsu tersebut. Lalu, bagaimana kelanjutan dari universitas yang membawa revolusi baru di dunia pendidikan ini?
Accepted menjadi salah satu film Hollywood bertemakan pendidikan dengan bumbu komedi yang layak untuk Anda tonton. Dikepalai oleh seorang Steve Pink dan penulis naskah oleh Adam Cooper, Bill Collage, dan Mark Perez. Film ini menampilkan kenyataan sebenarnya mengenai dunia pendidikan yang terasa tidak adil untuk sebagian orang. “Jangan menilai orang dari luarnya saja”, itulah pesan yang disampaikan oleh film pendidikan moral Accepted. Terdengar klise? Memang. Tapi, seperti itulah realita yang berlangsung di tengah masyarakat modern seperti sekarang ini.

10. GIFTED HANDS: THE BEN CARSON STORY (2009)

Gifted Hands: The Ben Carson Story (2009)
Pendidikan tidak melulu diraih di sekolah atau universitas, karena itu ada pernyataan yang menyebutkan kalau ibu adalah sekolah terbaik bagi anak-anaknya. Itulah yang nampak pada film Gifted Hands: The Ben Carson Story ini. Ben Carson dan kakaknya yang dididik dengan cara berbeda dari kebanyakan anak.
Ibu kandung Carson dan Curtin, kakanya, selalu memberi tugas kepada mereka berdua untuk menghabiskan dua buku dalam seminggu. Buku yang telah dibaca tadi harus dibuat ringkasannya dan diterangkan mengenai isinya pada sang ibu. Pendidikan yang luar biasa dari sang ibu berhasil menjadikan Carson yang sebelumnya selalu mendapatkan nilai rendah mendapati perubahan yang menakjubkan. Nilainya beranjak naik dan pendidikannya berlanjut hingga jenjang perguruan tinggi.
Selain menampilkan pendidikan dalam keluarga, Gifted Hands: The Ben Carson Story juga memberikan pelajaran kepada kita untuk selalu percaya diri. Peran sang ibu pada film pendidikan berkarakter ini menjadi pelecut untuk setiap penonton agar menghargai kerja keras seorang ibu yang telah bekerja keras untuk membesarkan anaknya hingga berhasil dan sukses. “You can do what either can do, but only you can do better”, itulah kutipan berharga yang setidaknya harus Anda tanamkan dalam hati agar semangat dalam menggapai mimpi tak pernah redup.

11. THE MIRACLE WORKER (2000)

The Miracle Worker (2000)
The Miracle Worker mengisahkan perjuangan seorang wanita bernama Helen Keller yang pada usia ke 19 bulan mengidap penyakit yang membuatnya harus kehilangan kemampuan melihat, mendengar, dan berbicara. Helen yang tadinya liar karena frustasi akan dirinya yang tak mampu memaknai keadaan sekitar berubah menjadi seseorang yang lebih lembut dan santun setiap bertemu orang. Perubahan besar pada dirinya menjadi buah keberhasilan dari gurunya yang mengerti bagaimana seharusnya mengembangkan orang-orang seperti Helen.
The Miracle Worker merupakan film pendidikan mengharukan yang digagas oleh Nadia Tass pada tahun 2000. Dibintangi oleh Hallie Kate Eisenberg, Alison Elliot, dan David Strathairn. Pesan moral utama yang dibawa oleh The Miracle Worker ialah mengenai tindakan kita yang seharusnya memperlakukan penyandang disabilitas sebagaimana orang-orang normal. The Miracle Worker menghadirkan hikmah yang diperoleh dari sebuah perjuangan, kerja keras, dan harapan akan hal-hal yang terbilang mustahil diwujudkan.

12. RENAISSANCE MAN (1994)

Renaissance Man (1994)
Film mengenai pendidikan yang berasal dari Amerika ini pertama kali rilis pada tahun 1994. Menceritakan perjuangan seorang Bill Rago yang diperankan oleh Danny DeVito dengan akting yang mengagumkan. Dalam film ini, Bill yang merupakan seorang guru pengajar bahasa Inggris di sebuah pangkalan militer. Bill dihadapkan dengan sekelompok mahasiswa berprestasi dengan status ekonomi rendah yang menjadikan mereka tampak apatis perihal pendidikannya.
Film pendidikan akmil berjudul Renaissance Man dengan durasi tayang 128 menit ini cukup menarik untuk Anda simak bersama keluarga di hari libur. Disutradarai oleh Penny Marshall dengan mengangkat tema komedi yang mendominasi banyak adegan. Bintang lain yang turut memerankan tokoh dalam Renaissance Man antara lain Gregory Hines, James Remar, Cliff Robertson, Ed Begley, Jr., Lillo Brancato, Jt., Stacey Dash, dan masih banyak lagi.

13. FREEDOM WRITERS (2007)

Freedom Writers (2007)
Freedom Writers mengikuti seorang guru wanita bernama Erin Gruwell yang mengajar di sebuah kelas yang disesaki oleh para murid yang rasis, tak mau mendengarkan apa kata gurunya, bahkan sampai berani melawan gurunya sendiri. Meskipun demikian, Erin sangat optimis dan yakin bahwa kesabaran, perhatian, dan bentuk kasih sayang dalam mendidik murid-muridnya dapat membawa mereka ke arah kehidupan yang lebih baik.
Film Freedom Writers ini serupa namun tak sama dengan Dangerous Minds. Diangkat berdasarkan kisah nyata, tak heran bila Freedom Writers dianggap sebagai salah satu film tentang pendidikan yang betul-betul menginspirasi banyak orang, terutama guru yang mendapati murid-murid berbeda kondisi ekonomi dengan kebanyakan sekolah lain.

14. THE CHORUS (2004)

The Chorus (2004)
Merupakan film Perancis dengan judul Les Choristes. Mengambil setting pasca perang dunia kedua, tepatnya di Perancis pada tahun 1949. Dengan membawa cerita yang inspiratif mengenai seorang guru yang gagal menjadi musisi terkenal namun berhasil melahirkan musisi luar biasa menjadikan The Chorus berhasil meraih penghargaan untuk film berbahasa asing terbaik di Academy Award tahun 2005.
The Chorus mengawali cerita dengan alur mundur. Pertemuan dua orang lelaki yang dahulunya berada di satu sekolah sama bernama Fond de L’Etang yang artinya Dasar Danau. Sekolah tersebut dipimpin oleh Rachin yang tanpa rasa belas kasih memberlakukan aturan keras. Di mana ada aksi, disitu ada reaksi. Di mana ada pelanggaran, disitu ada hukuman yang harus diterima.
Hingga suatu hari datang seorang guru bernama Clement Mathieu yang membuat siswanya semakin hari merasakan kenyamanan di sekolah tersebut berkat kehadirannya. Mathieu memperkenalkan musik pada murid-muridnya yang terkenal nakal dan liar tersebut. Sampai satu waktu Mathieu membentuk paduan suara dan merangkum kisahnya sendiri, serta menepati janjinya untuk mendaftarkan seorang siswanya untuk mendapat beasiswa pada sebuah sekolah musik.

15. I NOT STUPID TOO (2006)

I Not Stupid Too (2006)
Kepribadian dan perilaku setiap anak merupakan pengaruh dari lingkungan yang melingkupinya. Begitulah kiranya potret yang ingin ditampilkan pada I Not Stupid Too. Merupakan film yang dengan jelas menampilkan konflik antara orang tua dan anak seperti yang saat ini banyak terjadi.
Film I Not Stupid Too yang diproduksi pada tahun 2006 ini cocok ditonton oleh setiap orang tua dan guru. Sebagai orang tua, memang pekerjaan seakan menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap orang tua untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tetapi jangan lupa, anak tetap memerlukan perhatian agar tidak mengalami hal serupa seperti Jerry dan Tom pada film ini.
Begitupun dengan guru, I Not Stupid Too menggambarkan realita pendidikan masa kini di mana terdapat perlakuan-perlakuan diskriminatif serta tidak adil bagi murid dengan kemampuan di bawah rata-rata. Film pendidikan terbaik yang satu ini benar-benar memberikan pemahaman kepada setiap orang tua dan guru dalam mendidik anak ataupun siswa/i nya.

16. SCHOOL OF ROCK (2003)

School of Rock (2003)
Sebuah film tentang pendidikan Amerika dengan genre komedi yang diproduksi pada tahun 2003 lalu di Amerika Serikat. Disutradarai oleh Richard Linklater, cerita ditulis oleh Mike Putih. Bintang utama dalam film ini adalah Jack Black yang memerankan sosok Dewey Finn. Film ini meraup berhasil mencetak hits dengan meraup hasil USD 131 juta dari anggaran produksi sebesar USD 35 juta.
School of Rock menceritakan kisah seorang pria bernama Dewey Finn yang mempunyai kegilaan terhadap musik rock. Cerita bermula setelah Finn dtendang dari grup band-nya hingga kemudian menyamar menjadi guru pengganti di sebuah sekolah elit guna mencari penghasilan untuk menutupi biaya sewa rumahnya yang telah menunggak.
Finn mengenalkan musik rock pada anak muridnya yang terbilang pendiam. Perjuangannya tidak selalu berjalan mulus, dia harus menjadi seorang guru yang tampak berwibawa di hadapan guru lain untuk menutupi kedoknya. Tidak disangka-sangka, salah seorang di sekolah tersebut ternyata juga mempunyai kegilaan terhadap musik rock.

17. AKEELAH AND THE BEE (2006)

Akeelah and The Bee (2006)
Akeelah and The Bee menyajikan cerita inspirasional yang juga banyak ditampilkan oleh film-film sejenis lainnya. Tetapi sang sutradara Doug Atchison berhasil membalut film pendidikan inspiratif ini dengan kisah perjuangan, persahabatan, dan dibumbui dengan elemen kekeluargaan sehingga menjadikan Akeelah and The Bee cukup menghibur dan inspirasional.
Akeelah and The Bee mengikuti kisah seorang anak perempuan keturunan Afrika-Amerika bernama Akeelah yang baru berusia 11 tahun. Akeelah sangat menyukai kegiatan mengeja. Kesukaannya dalam mengeja membawa Akeelah melenggang ke kompetisi nasional. Dalam perjalanannya, Akeelah bertemu dengan dua anak lain yang juga mempunyai tujuan sama untuk menjuarai kompetisi mengeja tingkat nasional.
Sebuah drama keluarga yang bisa Anda jadikan “hadiah” untuk memotivasi anak dalam kegiatan belajar dan membangun mimpi. Akeelah and The Bee menjadi salah satu film pendidikan terbaik di dunia yang sarat akan pesan-pesan moral, menyampaikan daya dan semangat luar biasa dengan memegang teguh sikap pantang menyerah dalam menggapai impian hidup.

18. MUSIC OF THE HEART (1999)

Music Of The Heart (1999)
Bermula dengan kisah sepasang kekasih yang mengalami keretakan hubungan. Roberta yang “ditinggal pergi” suaminya memutuskan untuk menjadi guru musik di salah satu sekolah. Semangat yang tertanam pada diri Roberta muncul berkat dorongan dari ibunda tercintanya.
Kedatangan Roberta disambut dengan sikap skeptis oleh para murid dan orang tua. Hal tersebut tidak membuat Roberta menyerah, dia tetap ingin mengeksplorasi kemampuan para muridnya dalam bermain musik. Perjuangan Roberta untuk menunjukkan kualitas dirinya mulai diakui dan disambut dengan baik. Hingga kemudian, Roberta mendapati masalah ketika hendak mengikuti sebuah lomba musik yang mengikutsertakan murid didikannya itu.
Film bergenre drama musikal ini terbit pada tahun 1999. Disutradarai oleh We Caven dan penulis skenario Pamela Gray serta Meryl Streep yang berperan sebagai Roberta dalam film pendidikan terbaik ini. Dengan durasi tayang 126 menit, Music of The Heart cukup menyuntikkan kita semangat pantang menyerah pada keadaan sulit.

19. FINDING FORRESTER (2000)

Finding Forrester (2000)
Kami sendiri belum bisa menyimpulkan apakah Finding Forrester termasuk ke dalam jajaran film barat bertema pendidikan atau tidak. Yang jelas, banyak orang yang merasa terpecut keinginan belajarnya setelah menonton film ini. Untuk itu, jangan sampai Anda lewatkan salah satu film yang mengolaborasikan unsur sastra dan penulisan dalam ceritanya ini.
Finding Forrester mengisahkan seorang remaja Afrika bernama Jamal Wallace yang mempunyai hobi bermain basket. Selain bermain basket, Jamal juga mempunyai hobi membaca dan menulis. Cerita dimulai ketika Jamal menunjukkan kecurigaan terhadap seorang pria yang tinggal di sebuah apartemen.
Kecurigaan tersebut diawali dengan tas Jamal yang berisikan coretan dan kritik yang mengoreksi tulisannya. Hingga suatu ketika, Jamal “berguru” dengan orang tersebut dan membawa akhir cerita yang luar biasa mengagumkan. Bagaimanakah hasil tulisan Jamal berikutnya? Siapa pria yang menjadi pembimbing Jamal tersebut? Anda perlu menyaksikan sendiri bagaimana film luar bertema pendidikan ini memberikan inspirasi yang luar biasa pada kehidupan Anda.

20. HALF NELSON (2006)

Half Nelson (2006)
Berbeda dengan kebanyakan film yang membahas pendidikan, Half Nelson menampilkan realita bahwa setiap manusia mempunyai dua atau lebih sisi yang berbeda tanpa memandang profesi. Begitupun dengan guru yang sudah sepantasnya menjadi panutan, bukan berarti mereka sempurna.
Pada Half Nelson memang terkesan sedikit absurd, namun jika kita mau berpikir sedikit logis, maka kesan yang dihasilkan benar-benar natural. Di mana seorang guru bernama Dan Dunne, seorang guru sejarah yang tidak manut dengan kurikulum, tetapi dengan kreatif membuat siswanya interaktif dalam mempelajari sejarah.
Tidak ada yang mengira kalau sosok Dunne juga mempunyai ‘sisi gelap’ yang bertolak belakang dengan profesinya. Di pagi hari Dunne tampak berwibawa dengan memegang jabatan sebagai guru, tapi seketika dia seperti menjungkirbalikkan dirinya sendiri saat malam tiba. Sosok guru pada film ini tidak dibuat super sempurna yang dapat membuat siswanya terharu seperti kebanyakan film luar negri bertema pendidikan. Dunne yang diperankan oleh Ryan Gosling pada film ini didesain sangat ‘manusiawi’. Berkat aktingnya yang sangat meyakinkan, namanya sempat tercatut dalam nominasi Oscar untuk kategori aktor terbaik.

21. MONALISA SMILE (2003)

Monalisa Smile (2003)
Monalisa Smile merupakan film pendidikan motivasi yang diproduksi pada tahun 2003. Disutradarai oleh Mike Newell dan ditulis oleh Lawrence Konner dan Mark Rosenthal. Bintang dalam film ini ada Julie Roberts, Kirsten Dunst, Julia Stiles, Maggie Gyllenhaal, dan banyak lagi dengan perannya masing-masing.
Film Monalisa Smile menceritakan seorang wanita bernama Katherine Watson yang memegang profesi sebagai seorang dosen sejarah di institusi pendidikan tinggi bagi perempuan yang berada di New England, Wellesley College yang diisi dengan murid-murid luar biasa cerdas.
Katherine telah lama menginginkan perubahan pada pandangan yang selama ini menyubordinasi kedudukan perempuan. Realita yang masih berlaku hingga kini di mana setinggi-tingginya pendidikan seorang wanita, pada akhirnya ia harus nurut dengan suami dan “bekerja” sebagai ibu rumah tangga. Cita-cita Katherine untuk melawan budaya yang ada pada tahun 50-an tersebut tak jarang menimbulkan polemik antar dirinya dengan murid dan bahkan pihak kampus.

22. COACH CARTER (2005)

Coach Carter (2005)
Film Coach Carter bisa ditonton untuk Anda yang masih berstatus pelajar ataupun orang tua yang mempunyai anak dengan hobi yang kerap menjadikannya malas bersekolah. Film pendidikan budi pekerti yang diangkat dari kisah nyata ini dapat menjadi motivasi untuk siapa saja yang pernah terselip niatan untuk berhenti menuntut ilmu di institusi pendidikan agar bisa lebih fokus mengejar cita-citanya.
Coach Carter merupakan seorang pelatih basket sekaligus alumni di SMA Richmond. SMA Richmond sendiri merupakan sekolah yang sering menjadi langganan juara basket tingkat SMA sehingga banyak pemainnya yang dilirik oleh klub NBA. Hal inilah yang membuat para orang tua rela berupaya agar anaknya bisa masuk tim olahraga terkenal itu.
Hal tersebut pula yang ternyata menjadi pikiran pelatih Carter. Dia tidak ingin jika setelah dewasa, anak didiknya hanya mempunyai kemampuan melempar bola. Carter ingin ketika mereka lulus, mereka menjadi orang yang bertanggung jawab untuk keluarga, masa depan, dan cita-citanya. Prinsip Carter inilah yang menjadikan ia sebagai pelatih yang menjunjung tinggi kedisiplinan. Prinsip yang dipegang Carter pula yang menjadikan film pendidikan karakter ini semakin menarik dan menginspirasi.

23. THE FIRST GRADER (2010)

The First Grader (2010)
The First Grader menjadi suguhan yang tidak biasa. Berangkat dari kisah inspirasional seorang kakek berkebangsaan Kenya, Kimani Ng’ang’a Maruge yang namanya tercatat dalam Guiness Book sebagai orang tertua (84 tahun) yang mendaftar masuk ke sekolah dasar. Film ini berada di bawah arahan sutradara Justin Chadwick yang bekerja sama dengan BBC Films untuk melakukan penggarapan.
Sosok Maruge yang diperankan oleh Oliver Litondo menawarkan cerita perjalanan hidup seorang kakek tua yang mengiris hati. Keinginan Maruge untuk menyicipi dunia pendidikan ke sekolah dasar bermuara pada alasan yang terbilang sederhana: ia hanya ingin membaca surat yang telah lama disimpannya sejak lama tanpa dibacakan orang lain. Dia tidak memilki kemampuan membaca ataupun menulis karena sepanjang hidupnya tidak sempat mencicipi manisnya pendidikan.
Film The First Grader juga menceritakan betapa kakunya sistem pemerintahan sehingga membuat para guru kesulitan untuk memberikan sarana pendidikan terbaik bagi para muridnya. Bukan hanya itu, film pendidikan dunia ini juga akan membuat siapa saja yang menyepelekan pendidikan dan mempersulit akses pendidikan tertunduk malu. Dan sudah pasti, film ini akan membuat Anda tak mampu menahan air mata melihat perjuangan Maruge, sosok kakek ringkih yang harus berjalan jauh tanpa alas kaki disokong tongkat hanya untuk sekadar belajar alfabet.

24. THE GREAT DEBATERS (2007)

The Great Debaters (2007)
Film yang bergerak atas arahan Denzel Washington ini mengisahkan perjuangan seorang pria bernama Melvin B. Tolson yang menjadi pelatih tim debat murid-murid kulit hitam. Tolson menginginkan murid-muridnya bisa ikut lomba debat yang diselenggarakan di Amerika pada 1930an. Namun sayangnya, tingkat diskriminasi di daerah bagian Texas tempat Tolson mengajar masih sangat tinggi.
Tolson harus berupaya keras untuk melatih murid-muridnya agar bisa memenangkan kompetisi debat tersebut. Dirinya juga meyakinkan murid-muridnya yang sempat pesimis akan menelan kekalahan dan tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk selalu yakin akan kemampuannya. Tolson melatih anak-anak itu dengan giat. Perjuangan ia berhasil membawa tim debatnya masuk ke final dan melawan salah satu sekolah terkenal bernama Harvard.

25. DETACHMENT (2011)

Detachment (2011)
Detachment adalah film drama asal Amerika rilisan tahun 2011 yang mengangkat tema pendidikan. Film ini disutradarai oleh Tony Kaye dan ditulis oleh Carl Lund. Bintang yang memerankan tokoh-tokoh dalam film ini antara lain Adrien Brody, Marcia GayHarden, Christina Hendricks, Batty Kaye, dan masih banyak lagi.
Film Detachment menceritakan seorang guru pengganti bernama Henry Barthes yang bermasalah dengan hubungan emosional dan mempunyai kebiasaan berpindah tempat dari satu daerah ke daerah lain untuk menghindari ikatan dengan seorang siswa ataupun guru.
Detachment menjadi film yang sangat original dan menarik untuk disimak. Film ini mengubah animasi (coretan tangan dan papan tulis) menjadi tragedi (darah dan air mata). Salah satu hal yang menjadikan Detachment menjadi film pendidikan terbaik adalah keunikan cerita dan akting sahih dari seorang Adrien Brody.

26. GOOD WILL HUNTING (1997)

Good Will Hunting (1997)
Film Good Will Hunting merupakan film yang rilis pada tahun 1997 silam. Disutradarai oleh Gus Van Sant, ditulis oleh Matt Damon dan Ben Affleck yang juga memerankan dua tokoh dalam film ini. Aktor lain yang juga memainkan tokoh penting dalam film ini adalah Robin Williams dan Stellan Skarsgard.
Good Will Hunting menawarkan kisah yang menarik untuk diikuti. Menceritakan seorang office boy dengan otak jenius yang tidak diketahui banyak orang. Suatu hari ia dipergoki oleh seorang profesor ketika dirinya tengah menyelesaikan soal matematika yang sangat sulit dan tidak bisa dikerjakan oleh satupun murid di institut tersebut.
Sang profesor yang mengetahui bahwa office boy bernama Will Hunting itu mempunyai otak jenius berupaya untuk membantunya mengeluarkan potensi-potensi lain yang terpendam dalam dirinya. Namun perjuangan sang profesor tidak berjalan mulus. Meskpun Hunting mempunyai kecerdasan di atas rata-rata, dirinya telah terbiasa dengan hidup yang serba berantakan. Mampukah sang profesor membuat William Hunting bisa memanfaatkan kecerdasan yang ia milki?

27. THE RON CLARK STORY (2006)

The Ron Clark Story (2006)
Terinspirasi dari kisah seorang guru muda yang energik dan cerdas film The Ron Clark Story dibuat. Mengulang kembali perjuangan Clark, seorang guru di sebuah sekolah di kota New York sehingga menjadikannya guru terbaik. Kelas dengan murid yang susah diatur tersebut acapkali membuat banyak guru tidak sanggup untuk mengajar di kelas tersebut.
Clark memberlakukan aturan “We are family” untuk membangkitkan rasa persaudaraan antar satu siswa dengan yang lain. Mr. Clark menjelaskan bahwa dalam sebuah keluarga terdapat sikap saling menyayangi, menghargai, dan menghormati satu sama lain. Itulah yang membedakan Clark dengan guru lain.
Hari terus berlalu. Dengan aturan yang sama, Clark berhasil membangun hubungan yang baik dengan para siswa dan orang tua mereka. Clark yang cerdas dan inovatif telah menjadikan para siswa sangat menyayanginya. Film The Ron Clark Story sangat pantas jika disebut sebagai film pendidikan terbaik. Penuh dengan inspirasi yang terus melekat di hati penontonnya akan jasa guru yang sangat sayang dan menginginkan perubahan terbaik pada setiap muridnya.

28. ENTRE LES MURS / THE CLASS (2008)

The Class (2008)
Mengadaptasi cerita dari novel Entre les murs tahun 2006 karya Francois Begaudeau yang berjalan di bawah arahan sutradara Laurent Cantet. Ini adalah film Perancis pertama dalam 21 tahun yang berhasil menyabet Palme d’Or dalam Festival Film Cannes 2008.
Entre Les Murs (atau The Class) menceritakan seorang guru bahasa Perancis bernama Francois Marin yang mencoba bertahan menghadapi murid-murid kelasnya yang berasal dari latar belakang berbeda, ras berbeda, ekonomi berbeda, suka membantah, tidak sopan, dan tidak disiplin. Kondisi yang tentu tidak mudah bagi Marin untuk bertahan di kelas tersebut.
Marin dalam film ini tidak dianugerahi dengan kesan pahlawan seperti kebanyakan film bertemakan pendidikan lain. Film ini didominasi oleh percakapan dan ruangan sekolah yang mungkin membuat Anda bosan. Namun, jika Anda memperhatikan detil cerita, banyak materi atau isi percakapan yang menyentuh banyak hal dalam skala yang luas. Perbincangan yang ada mengalir secara natural didukung dengan ekspresi para karakter yang tampil meyakinkan berhasil membuat Entre Les Murs membawa suasana kelas sebagamana mestinya dalam sebuah karya layar lebar.
Sumber: Oliswel.Com