This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 22 Oktober 2017

Geopatogen, ‘Hantu Penunggu’ si Biang Penyakit yang Dampaknya Setara dengan Radiasi Chernobyl

  • Minggu, 22 Oktober 2017 06:00 WIBA

Geopatogen | IST


Berdiam di perut bumi, "makhluk" tak kasat mata itu sering dianggap sebagai hantu penunggu.

Namun di kalangan ilmuwan, ia dikenal sebagai medan geopatogen yang bisa mengganggu kesehatan.  Biar tak mengganggu, dia perlu diberi "sesajen" garam, jeruk dan kertas koran.

Berikut ini laporan wartawan Intisari A. Hery Suyono. G. Sujayanto, I Gede Agung Yudana, dan koresponden Intisari B. Soelist., yang dirangkum oleh Al. Heru Kustara.

Diam-diam, kita punya musuh misterius yang sangat dekat dengan kita. Celakanya, lagi-lagi secara diam-diam, dia suka menyerang dan mengganggu kesehatan.

Badan rasanya tak enak padahal istirahatnya cukup, sendi-sendi tulang linu seperti menderita rematik, kejang kaki, atau susah berkonsentrasi.
Gawatnya lagi, dia pun bisa jadi biang kemandulan, menyebabkan impotensi bahkan tumor! Tidak kasat mata, biasanya dia bersembunyi di bawah tempat tidur atau di sekitar rumah.

Binatang apa pula biang penyakit itu? Ini bukan mau membawa Anda ke alam mistik-mistikan, tetapi jawabannya adalah sebuah kenyataan yang didasari ilmu pengetahuan.

Jika Anda merasakan gangguan kesehatan macam itu, jangan lalu cepat-cepat menuduh kalau ini akibat kelakuan hantu usil atau makhluk halus kurang sesajen.

Menurut dr. Jatno, kebetulan seorang kardiolog dari Surabaya, segala gangguan itu bisa disebabkan oleh pengaruh medan elektromagnetik yang telah berlangsung lama.

"Aliran air bawah tanah yang lewat persis di bawah tempat tidur kita merupakan salah satu sumber medan geopatogen yang memancarkan gelombang elektromagnetik, di samping aliran dan peralatan listrik," kata Jatno yang mendalami masalah medan geopatogen.

Kalau mau dijelaskan, geopatogen itu berasal dari kata Yunani geos (bumi) dan pathogen (penyakit).

Jadi secara sederhana bisa diartikan keadaan atau hal-hal yang berasal dari bumi, biasanya berupa radiasi gelombang elektromagnetik atau radiasi lainnya (di luar radiasi sinar-X), yang menyebabkan sakit.

Sementara H. Handoyo Lukman MSC, seorang pastor yang bertugas di Purworejo, Jawa Tengah, menuturkan, "Medan itu muncul akibat perputaran bumi pada porosnya yang membuat planet bumi menjadi zona elektrostatis. 
Belum lagi adanya tumpukan mineral tertentu di dalam bumi, menjadikan energi elektrostatis di suatu tempat semakin tinggi."

Kalau badan sudah tidak bisa menetralisasi pengaruh medan itu, orang yang selalu berada di bawah pengaruh medan ini akan mengeluh tidak enak badan, lekas lelah dsb.

Kalaupun diperiksa secara medis, tidak akan ditemukan penyebabnya. Batas kemampuan manusia menerima pengaruh medan itu tanpa merasakan gangguan kesehatan apa-apa adalah 15.000 elektrovolt.


Emas dan makhluk halus

Sebetulnya fenomena medan geopatogen bukanlah barang baru. "la sudah dikenal sejak dimulainya sejarah manusia," tutur Romo Lukman.
Bahkan nenek moyang kita pun sejak kapan-kapan sudah menangkap gejala alam yang tak kasat mata ini.

"Orang dulu itu ternyata pintar. Leluhur kita telah memperkenalkan adanya tempat-tempat  tertentu yang disebut atau dianggap wingit (angker), sangar dan entah apa lagi, namun sayangnya tanpa disertai keterangan yang jelas,” kata dr. Jatno.

Ingat musibah kebakaran Keraton Kasunanan Surakarta beberapa tahun lalu? Di reruntuhan puing sisa kebakaran ditemukan berkilo-kilo logam mulia atau emas.
Itu semua, kata dr. Jatno, dipakai untuk memantek tiang-tiang bangunan istana.

“Emas, meskipun logam, itu ‘kan berfungsi menolak (gelombang) elektromagnetik.” Makanya istana raja-raja dulu tiang-tiangnya dipanteki dengan emas.

Buat kebanyakan orang, medan geopatogen yang memancarkan gelombang elektromagnetik itu justru sering ditangkap sebagai adanya lelembut (makhluk halus) atau hantu penunggu di suatu tempat.

Sebaliknya, Romo Lukman malah menganggap hantu itu sebagai wujud simbolik dari adanya medan geopatogen.

Bukankah kenyataannya keberadaan hantu atau sebangsanya sering dikait-kaitkan dengan pohon besar? Dari sisi ini memang relevan, “Pohon besar dan berakar banyak tentu menyerap banyak air, sehingga medan geopatogen di situ tinggi,” ujar Romo Lukman.

Ketika ditemui Intisari di kediamannya, dr. Jatno memperagakan cara mendeteksi ada tidaknya medan geopatogen, seperti aliran air bawah tanah, menggunakan medium berupa antena radio dan ranting kayu berbentuk huruf Y (atau V).

Antena bekas yang dipasang pada lager (agar bebas gesekan) berputar sendiri ketika dipegang tepat di atas tanah yang di bawahnya terdapat aliran air.

“Semakin besar aliran, pusaran air atau pertemuan beberapa aliran air bawah tanah, akan semakin kencang antena itu berputar," katanya.

Berbeda dengan sistem antena, deteksi menggunakan ranting menyerupai huruf Y atau V dan juga pendulum lebih memerlukan kepekaan si pemakai.

"Namun, pendulum sebenarnya sudah tidak perlu lagi digunakan bila seseorang sudah dapat memusatkan perhatian secara penuh. Artinya, dapat menghubungkan pikiran dan sumber air secara langsung. Jadi sebenarnya pendulum itu jembatan antara pikiran dan sumber air," tutur Romo Lukman.

Di samping bakat dan minat, kata dr. Jatno menambahkan, kepekaan itu perlu latihan yang lama. Dengan memegangi kedua ujung ranting, orang berjalan mencari aliran air bawah tanah.

Ranting akan tertarik ke bawah dan pendulum akan berputar persis di suatu tempat yang mengandung aliran air bawah tanah.

"Tapi jangan melawan tarikan tersebut sebab kalau sampai ranting patah, si pemakai bisa jatuh," kata Jatno.

Selain antena, pendulum, atau ranting bercabang, masih ada beberapa medium lain untuk mendeteksi adanya aliran air bawah tanah, misalnya dengan pensil atau potongan bambu yang tumbuh di sekitar pusaran air.

"Dengan pensil justru lebih baik. Karena di dalam pensil terdapat unsur konduktor," jelas Jatno.


Kucing suka medan geopatogen

Medan geopatogen sebenarnya bisa dikenali awam cukup mudah. "Bila ada tanaman yang tumbuh condong tanpa ada alangan mengambil sinar matahari, atau tumbuh-tumbuhan yang pecah bercabang di bagian bawah tanpa direkayasa, biasanya di dekatnya ada medan geopatogen," kata dr. Jatno yang sehari-hari adalah staf laboratorium/UPF Emu Penyakit Jantung Fak. Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD dr. Soetomo Surabaya.

Selain itu ada juga tanaman yang senang hidup di sekitar medan ini, dan sebaliknya kendati sudah dirawat dengan optimal suatu tanaman terus mati.

"Sayangnya sejauh ini kami belum mendapatkan kepustakaan mengenai. masalah ini."

Dalam dunia binatang, kucing, lebah dan semut dikatakan suka pada medan elektromagnetik.

Mungkin itu sebabnya, kata dr. Jatno, kenapa anjing dan kucing tak pernah akur: kucing suka medan elektromagnetik, anjing tidak.

Kecuali aliran benda cair di dalam tanah (pada umumnya air), ada beberapa sumber medan geopatogen yang sebagian besar berupa gelombang elektromagnetik: kisi-kisi bumi, retakan geologis dan mineralogis serta timbunan mineral tertentu, kabel penyalur tegangan tinggi, radiasi layar komputer, dan Iain-lain yang bukan berupa gelombang elektromagnetik, misalnya radiasi radon (Rn).

"Yang tidak kalah penting adalah hampir semua peralatan modern menggunakan listrik, di mana listrik sendiri memancarkan gelombang elektromagnetik. Kabel penghantarnya akan membawa serta gelombang elektromagnetik yang ada di sepanjang aliran," jelas dr. Jatno.

Dan serentet sumber medan geopatogen itu, kata dr. Jatno, yang banyak mengganggu kesehatan adalah aliran air di bawah tanah dan listrik.
Manusia sebenarnya secara alamiah dapat mengenai medan geopatogen mengingat tubuhnya adalah konduktor yang baik, yang bisa meneruskan arus listrik.

Hanya tingkat kepekaan setiap orang berbeda. "Pada orang yang peka, pengaruh medan elektromagnetik ini ada yang langsung terasa, misalnya rasa dingin, kesemutan ataupun langsung timbul rasa pegal akibat spasme (kontraksi) otot. Orang yang tidak peka mungkin tidak merasakan apa-apa. 

Namun kalau proses berlangsung lama, maka akan muncul berbagai gejala seperti badan merasa tidak segar, tidur tak nikmat, kejang kaki, mudah sakit, gangguan sistem kardiovaskuler dan gangguan metabolisme, lalu gangguan pada sistem saraf pusat berupa sulit berkonsentrasi, gangguan hormonal berupa kemandulan atau impotensi, dan pada stadium akhir timbulnya tumor,” kata dr. Jatno.


Penangkalnya garam dan kertas koran

Hingga kini, kata Jatno mengakui, belum ada satu pun keterangan yang bisa menjelaskan mekanisme gejala-gejala tadi.

Akan tetapi dia lalu menghubung-hubungkan antara pengertian medan biologis dengan medan elektromagnetik.

“Adanya medan biologis, yang memang terdapat pada makhluk hidup dan pengertian tersebut sudah disepakati para biolog ini telah lama dapat ditunjukkan dengan adanya resting membrane potential pada berbagai sel. Resting membrane potential pada otot bergaris berbeda dengan otot polos, lain dengan otot jantung ataupun sel otak. Interaksi antara medan elektromagnetik dan medan biologis inilah yang mempengaruhi timbulnya keluhan pada penderita itu.

Salah satu peneliti melaporkan, medan elektromagnetik ini dapat berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh sehingga mengakibatkan orang mudah jatuh sakit.”

Selain pengaruh gelombang elektromagnetik, bisa jadi keluhan-keluhan fisik tadi disebabkan oleh energi kuantum yang mungkin terlepas.
Mengutip laporan dalam Majalah Physics Today edisi April 1989, dr. Jatno menyatakan kita tidak boleh meremehkan pengaruh interaksi antara bumi, udara, radon, dan rumah.

Keempat unsur ini merupakan sumber radiasi yang cukup besar, yang menurut pengarangnya setara dengan radiasi di Chernobyl.
Lalu bagaimana cara mengatasi musuh misterius tak kasat mata ini, jika benar ada aliran air di bawah tempat tidur atau ruang kerja?

“Salah satu caranya ya jauhi saja medan itu,” tutur Romo Lukman.

Atau, kalau tidak mungkin menjauhi atau menyingkir, bisa dinetralisasi dengan kompensator berupa kumparan tembaga yang dipasang di tempat tersebut untuk mengimbangi medan elektrostatis yang ada.

Cara yang sama juga dianjurkan oleh dr. Jatno, di samping cara lain yang sifatnya tradisional, mudah, dan murah.

“Yakni dengan menaruh garam, jeruk sitrun, kertas koran di bawah tempat tidur. Caranya, dua sendok garam ditaruh di lepek lalu jeruknya diletakkan di atasnya. Sedangkan empat lembar kertas koran digelar di bawah kasur. Setelah satu minggu, garam dan kertas korannya diganti, sedang jeruknya dapat dimakan, he…he…he…”

Pada kasus tertentu Jatno menganjurkan, di bawah tempat tidur diletakkan lempengan timbal atau timah hitam, dengan pengertian sinar-X saja tidak dapat menemus timbal, diharapkan begitu juga dengan gelombang elektromagnetik dan radiasi radon.

Soal ranjang atau tempat tidurnya sendiri memang yang terbaik dari kayu, sebab kayu tidak bersifat sebagai konduktor, tidak mengalirkan gelombang elektromagnetik.


Jika berobat, bawa denah rumah

Cara menangkal dengan garam, jeruk sitrun, dan lainnya itu mirip ubo rampe sesajen, hingga nampak berbau mistik atau klenik.

Namun menurut Jatno, cara yang dianjurkan oleh International Society of Biopathogen, dan nasihat yang katanya juga sering diberikan oleh orang-orang “pintar” di Jawa dan Bali itu rasional, meski belum jelas  benar cara kerjanya.

Jatno mencoba menjelaskan hal itu. “Garam itu misalnya, kalau terurai akan menjadi Na dan Cl. Nah, air atau H2O dan garam itu ‘kan saling meniadakan. Na dengan OH dan Cl dengan H,” jelasnya.

Sedangkan kertas koran bermanfaat untuk mengisap radiasi radon dan ion-ion lain.

Yang perlu diingat, setiap tanda kesemutan dan sebagainya itu, kata Jatno, jangan serta merta dihubungkan dengan masalah geopati.

“Kita tetap harus berpikir rasional tentan apa yang sudah dicapai ilmu kedokteran. Siapa tahu gejala kesemutan itu karena diabetes.”

Dokter ahli penyakit jantung yang kria-kira sejak tahun 1986 secara intens mendalami masalah medan geopati ini bilang, cara-cara penanggulangan tadi bukan terapi standar (standar therapy) mengingat dunia kedokteran belum menerima hal ini.

Jadi, setiap pasien yang datang ke dokter seperti dirinya, tetap harus didiagnosis dan diobati menurut standar profesi kedokteran.

“Namun bila dengan segala cara tidak berhasil, pelan-pelanlah diterangkan akan kemungkinan pengaruh medan geopatogen.”

Begitu pun Romo Lukman yang empat hari seminggu (Senin, Selasa, Jumat, dan Minggu) buka praktik penyembuhan antara lain melalui “terapi” semacam ini sejak 1974, dan terakhir sekarang berpraktik di Jl. KHA. Dahlan no. 62A, Purworejo (Jateng).

“Biasanya mereka datang ke sini, sesudah pengobatan secara medis menemui jalan buntu,” tutur Romo Lukman yang tidak mau disebut sebagai paranormal karena praktik pengobatannya itu.

Berhubungan dengan medan geopatogen ini, setiap pasien yang datang berobat ke pastor berdarah Belanda itu diminta membawa denah rumah.
Maksudnya untuk deteksi awal kalau-kalau penyakit atau keluhannya ada sangkutannya dengan medan geopatogen di sekitar rumah pasien.

Bahkan, bak seorang dokter, Romo Lukman memeriksa dengan cermat data-data laboratorium, kalau ada foto rontgen si pasien, terutama pasien baru.

Dibantu dua orang asisten dan seorang sekretaris, setiap harinya ia sangguh melayani sekitar 70 – 80 pasien, yang datang dari segenap pelosok tanah air.
Pengobatan “alternatif” seperti a.l. dilakukan dr. Jatno dan Romo Lukman memang masih belum berterima, terutama di kalangan tertentu.

Lajunya roda perkembangan dunia kedokteran diakui akhir-akhir ini  memang melesat dengan pesat.

Dunia kedokteran semata terpecah-pecah menjadi berbagai cabang ilmu pada tingkat organ, dan mungkin lama-kelamaan akan berkembang sampai ke tingkat sel, genetika, dan seterusnya.

Kendati kemajuan sudah sampai pada tingkat canggih, di mana tiap sentimeter bagian tubuh dapat diketahui bentuk anatominya, tak jarang para ahli medis dihadapkan pada kenyataan penyakit yang begitu rumit didiagnosis atau pengobatannya.

Bahkan sering di era serba komputer ini masih ditemukan kematian-kematian yang belum dapat ditentukan penyebabnya.

Siapa tahu salah satu pengobatan dengan pendekatan lain semacam ini bisa menjadi alternatif, meskipun sekarang masih serba berselimut kabut misteri.

(Seperti pernah dimuat di Majalah Intisari Februari 1992)
Sumber: Intisari.Grid 

Minggu, 08 Oktober 2017

Sastra Pembebasan : Rendra, Jose Rizal, Neruda dan Vaclav Havel

Penuli: 
Marlin Dinamikanto
8 Oktober 2017

WS. Rendra

Sebenarnya masih banyak lagi sastrawan yang berkisah tentang pembebasan manusia dari penindasan, ketidak-adilan, penghisapan dan seterusnya. Seperti misal Albert Camus, Boris Pasternak, Bertold Brech, Maxim Gorky dan masih banyak lagi.

Namun kali ini nusantara.news tampilkan dulu Rendra, penyair dan ikon teater yang melegenda di Indonesia, juga Jose Rizal, pahlawan nasional Filipina yang multi talenta, selanjutnya Pablo Neruda penyair berbahasa latin yang mahir menuliskan beragam thema kehidupan ke dalam puisi dan Vaclav Havel, penggerak Revolusi Beludru di Cekoslovakia yang membawanya menjadi Presiden.


Rendra

Potret Pembangunan dalam Puisi adalah kumpulan puisinya yang menginspirasi gerakan mahasiswa era 1970-an hingga 1990-an. “Sajak Sebatang Lisong” dan  “Sajak Orang-Orang Kepanasan” banyak dihafal dan dibacakan oleh aktivis gerakan dalam setiap demonstrasi.

Rendra yang lahir dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra di Solo, Hindia Belanda, 7 November 1935 dan wafat di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 itu menampakkan bakat kepenyairan sekaligus kepemimpinan dalam teater itu sejak SMP. Puisi-puisinya sudah dipublikasikan sejumlah media cetak seperti Siasat, Kisah, Seni, Basis dan Konfontrasi sejak 1952.

Kekayaan puisi-puisi Rendra adalah kepiawaiannya dalam meracik metafora dan kemampuannya dalam bertutur runtut sehingga enak dibawakan para pembaca sajak di atas panggung. Sejak memulai penulisan puisi dalam bentuk pamphlet, sebagaimana dikutip dari “Sejak Sebatang Lisong”, Rendra mengkritik sesama penyair yang hanya mendewakan keindahan bertutur kata

“Aku bertanya,tetapi pertanyaankumembentur jidat penyair-penyair salon,yang bersajak tentang anggur dan rembulan,sementara ketidakadilan terjadi di sampingnyadan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikantermangu-mangu di kaki dewi kesenian.”
Masih dari “Sajak Sebatang Lisong” Rendra juga mengecam dunia perguruan tinggi yang hanya menjadi kepanjangan tangan perguruan tinggi asing dan tidak pernah berdaulat atas dirinya :

“Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.Kita mesti keluar ke jalan raya,keluar ke desa-desa,mencatat sendiri semua gejala,dan menghayati persoalan yang nyata.”
Selain sajak-sajaknya, terutama dalam kumpulan puisinya yang berjudul “Potret Pembangunan dalam Puisi”, naskah-naskah teater, baik karya asli maupun karya adaptasi yang dipentaskan Bengkel Teater yang dipimpinnya senantiasa menjadi perbincangan hangat di media massa. Bahkan karena sering dianggap menelanjangi penguasa, berkali-kali pementasannya tidak berjalan mulus. 

Bahkan setelah membaca puisi pamfletnya tahun 1972, Rendra sempat merasakan dinginnya penjara.

Sejumlah pementasannya masih dikenang publik hingga sekarang ini, antara lain saat Bengkel Teater membawakan lakon “Mastodon dan Burung Kondor”“Panembahan Reso”“Kisah Perjuangan Suku Naga”“Shalawat Barzanji”, ”Sobrat”, juga naskah-naskah adaptasi dari William Shakespeare “Hamlet” dan “Macbeth”, naskah adaptasi dari Samuel Becket “Menunggu Godot”. Naskah adaptasi dari Sophokles “Oedipus Sang Raja”“Oedipus di Kolonus” dan “Antigone”.

Kendati membawakan naskah terjemahan, namun Rendra mempertemukan tradisi teater barat dengan seni pertunjukan lokal seperti memasukan unsur kethoprak dalam karyanya. Karena Rendra memang dikenal sebagai pelopor teater modern Indonesia. Karya-karyanya, baik puisi maupun teaternya banyak diulas para kritikus dunia sekaliber Profesor Harry Aveling (Australia), Profesor Rainer Carle (Jerman) dan Profesor A. Teeuw (Belanda).

Sepanjang karir kepenyairannya sudah 14 kumpulan puisi yang dilahirkannya, belum termasuk puisi-puisi baru menjelang wafatnya. Karena gaya penulisannya yang epic, bukan lyric sebagaimana umumnya cara penulisan puisi, maka oleh Prof. A. Teeuw puisi-puisi Rendra tidak digolongkan pada angkatan-angkatan baik itu 45, 50-an, Manikebu maupun Lekra. Sebab Rendra adalah penulis yang independen dan tidak terpengaruh oleh kelompok yang ada pada zamannya.

Setidaknya, Rendra pernah meraih delapan penghargaan bergengsing, masing-masing Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954), Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956), Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976), Penghargaan Adam Malik (1989), The S.E.A. Write Award (1996) dan Penghargaan Achmad Bakri (2006).


Oposan Abadi

Rendra memang dikenal kritis terhadap siapapun penguasa di negeri ini. Seperti halnya Sastrawan Mochtar Lubis, Rendra juga dikenal sebagai Oposan Abadi. Era Orde Lama Rendra tidak sejalan dengan Soekarno. Tapi saat konflik kepemimpinan Orde Lama meruncing, Rendra mengambil tawaran beasiswa dari “American Academy of Dramatical Art” yang dijalaninya antara 1964 hingga 1967. Era Soeharto dia sempat dilarang tampil di muka public dan berkali-kali dicekal, bahkan bukunya “Seni Drama untuk Remaja” meskipun ditulis dengan nama Wahyu Sulaiman tetap saja dilarang terbit.

Paska kejatuhan Soeharto pun Rendra juga belum bisa berdamai dengan penguasa. Saat Aktivis Malari Hariman Siregar mendirikan Indonesia Democracy Monitor (Indemo), Rendra termasuk tokoh yang ikut bergabung. Tokoh lainnya tercatat Profesor Sarbini Somawinata, Ali Sadikin, Muslim Abdurahman, Mulyana W Kusumah, dan Amir Husin Daulay yang kesemuanya sudah almarhum. Tokoh yang ikut membidani Indemo yang hingga kini masih hidup adalah Jusman Syafii Djamal dan Prof. Dr. Malik Fajar yang keduanya bahkan sempat menjadi menteri.

Bersama Indemo Rendra juga melibatkan diri dalam Aksi Cabut Mandat Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla pada 15 Januari 2006. Maka, begitu Rendra menghembuskan napasnya yang terakhir di Padepokan Bengkel Teater Rendra, di kawasan Citayam, Depok, pada 6 Agustus 2009 bukan saja dunia Sastra dan Teater yang kehilangan, melainkan juga berbagai kalangan termasuk aktivis gerakan.
Sebelum pada episode 2 membahas Jose Rizal, berikut ini sebait sajak Rendra yang ditulisnya pada 22 April 1984 dan masih banyak dihafal oleh berbagai kalangan hingga sekarang :

“Kesadaran adalah Matahari, Kesabaran adalah Bumi, Keberanian menjadi Cakrawala Dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”


Jose Rizal, seorang dokter yang juga Sejarahwan, Filsuf dan Sastrawan yang karyanya terkenal di Indonesia

Sebenarnya masih banyak lagi sastrawan yang berkisah tentang pembebasan manusia dari penindasan, ketidak-adilan, penghisapan dan seterusnya. Seperti misal Albert Camus, Boris Pasternak, Bertold Brech, Maxim Gorky dan masih banyak lagi.

Setelah mengulas Rendra, penyair Indonesia yang menginspirasi gerakan mahasiswa era 1970-an hingga 1990-an, kali ini mengulas Pahlawan Nasional Filipina Jose Rizal yang puisinya berjudul “Mi Ultimo Adios” menjadi sumber insprasi, bukan saja para pejuang kemerdekaan Filipina, bahkan Bung Karno sendiri pernah menyelipkan nukilan “Mi Altimo Adios” dalam pidatonya.

Jose Rizal adalah pahlawan Filipina yang dihukum mati pada 30 Desember 1896. Intelektual Filipina yang memiliki bermacam gelar akademis itu lahir di Calamba, Provinsi Laguna, Filipina, pada 19 Juni 1861. Selain berprofesi dokter, dia juga dikenal sebagai seniman, pendidik, ekonom, ahli pertanian, sejarahwan, jurnalis, pemusik, sosiolog, penyair, penulis drama dan novelis.

Jose Rizal juga menguasai 22 bahasa lokal maupun internasional,seperti Tagalog, Cebuano, Melayu, Tionghoa, Arab, Ibrani, Inggris, Jepang, Catalan, Italia, Portugis, Latin, Perancis, Jerman, Yunani, Rusia dan Sansekerta. Sebagai seorang pahlawan hari kematiannya pada 30 Desember diperingati sebagai hari libur nasional yang disebut “Rizal Day”.


Mi Ultimo Adios

“Mi Ultimo Adios” adalah karya terakhir Jose Rizal sebelum dieksekusi oleh pemerintahan Kolonial Spanyol pada 30 Desember 1896. Puisi itu berhasil diselundupkan keluar penjara dan diterjemahkan 38 bahasa, selain terjemahan ke dalam 46 bahasa daerah Filipina sendiri. Puisi itu lengkapnya terdiri dari 14 bait yang masing-masing bait terdiri dari 5 baris. Tulisan tangan Jose Rizal tentang puisi itu dapat dilihat di Project Gutenberg, Jerman.

Sebenarnya puisi itu tidak diberi judul oleh penulisnya. “Mi Ultimo Adios” yang selanjutnya dijadikan judul dikutip dari bait pertama puisinya. Kemashuran “Mi Ultimo Adios” dan José Rizal ini juga dibenarkan sastrawan Taufiq Ismail. Bahkan saat berkunjung ke Rizal Park yang tempat Rizal dieksekusi hukuman mati di Filipina pada 1996, Taufiq Ismail sempat menulis puisi tentang penyair besar itu.

Seperti halnya para perintis kemerdekaan Indonesia, Jose Rizal adalah intelektual didikan pemerintahan kolonial yang sadar atas ketertindasan bangsanya. Dia pun aktif melibatkan diri di sejumlah organisasi, terutama saat kuliah di Spanyol, Perancis dan Jerman. Kala itu lahir novel pertamanya berjudul “Noli Me Tangere” atau dalam bahasa Indonesianya “Jangan Sentuh 
Aku” yang sangat terkenal di dunia.

Novel itu dikerjakan selama 4 tahun selama dia kuliah di Madrid, Paris dan Berlin ketika usianya 26 tahun, atau 2 tahun setelah dia meraih gelar doktor Filsafat dan Sastra.  Novel keduanya, El Filibusterismo (Merajalelanya Keserakahan) merupakan kelanjutan dari novel sebelumnya.

Memang, hampir semua karya Rizal ditulis dalam bahasa Spanyol, bahasa penjajah bagi bangsa Filipina. Kedua novel Rizal ini telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia (melalui edisi bahasa Inggris) oleh Tjetje Jusuf dan diterbitkan oleh Pustaka Jaya, masing-masing pada 1975 dan 1994.

Berkebalikan dengan kalkulasi pemerintah jajahan Spanyol, eksekusi mati terhadap Rizal justru semakin meneguhkan kesyahidan (martyrdom) Rizal dan membuat novel-novel dan puisi José Rizal itu bergema lebih keras. Kematiannya justru semakin mengobarkan Revolusi Filipina untuk mencapai pemerintahan sendiri (merdeka). Apalagi di masa penindasan kolonial yang serba-sensor, puisi juga jauh lebih mudah tersebar dan dihapal serta menginspirasi setiap orang yang bergerak.

Meskipun puisi asli “Mi Ultimo Adios” terdiri dari 14 bait namun bait yang terkenal adalah satu bait pertama dan tiga bait terakhir. Terjemahan dalam bahasa Inggris saja terdiri dari 35 versi, namun terjemahan oleh Trinidad T Subido dianggap paling banyak diterjemahkan kembali ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Di Indonesia sendiri puisi itu sudah diterjemahan oleh Rosihan Anwar pada 1945.

“Mi Ultimo Adios” hasil terjemahan Rosihan Anwar ke bahasa Indonesia dianggap sangat berhasil. Atas karyanya itu, Rosihan Anwar pernah diundang untuk menerima penghargaan dari pemerintah Filipina. Berikut terjemahan “Mi Ultimo Adios” dalam bahasa Indonesia yang disebut oleh penterjemahnya sebagai karya adaptasi.

Selamat tinggal, Tanah tercinta, kesayangan mentari,Mutiara lautan Timur, Kahyangan yang hilang!Demi kau jiwa-raga kupasrahkan, dengan rela hati;Andai ‘ku lebih indah, lebih segar, lebih utuh dari ini,‘Kan kuserahkan jua, padamu ‘tuk kebahagiaanmu …Bila kau lupakan aku, apalah artinya jika‘Ku bisa susuri tiap jengkal tercinta relungmu?Jadilah seutas nada, berdenyut dan murni; sesudahnyaJadilah aroma, cahya, senandung; lagi jadilah tembang atau tandaDan melalui semua, lagukan kembali keyakinanku.Tanah pujaan, dengarkan selamat tinggalku!Filipina Cintaku, dukamu sangat laraku jua,Kutinggalkan kalian semua, yang sangat kucintai;‘Ku pergi ke sana, di mana tiada hamba tiada tiran berada,Di mana Keyakinan tiada merenggut nyawa,dan Tuhan mahakuasa beradu.Selamat tinggal segala yang dimengerti jiwakuYa sanak-saudara tanah airku yang dirampasi;Syukurilah berakhir hari-hari tertindasku;Selamat tinggal, engkau yang asing nan manis, sukacita dan sahabatku;Selamat tinggal, orang-orang yang kucintai. Mati hanyalah tetirah ini.[]

Sumber: NusantaraNews 

Sabtu, 30 September 2017

Tentang Asyura dan Kita



Hari ini adalah “Hari Asyura”. Sebuah hari peringatan setiap 10 Muharram yang merujuk pada 10 Muharram 61 Hijriah, di mana Sayyidina Husain (cucu Nabi Muhammad dari garis pernikahan Siti Fatimah dan Sayyidina Ali) bersama belasan keluarganya dan puluhan sahabatnya yang diperkirakan jumlahnya 73 orang syahid di Karbala (Irak) dalam sebuah pembantaian.
Pembantainya adalah pasukan Umar bin Sa’ad yang jumlahnya diperkirakan–dalam catatan versi paling sedikit–empat ribu di bawah perintah Yazid bin Muawiyah yang kala itu menjadi khalifah berdasarkan limpahan dari Muawiyah yang mengkhianati kesepakatan dengan Sayyidina Hasan tentang suksesi kekhalifahan yang seharusnya dibentuk semacam dewa syura.
Yazid memang dikenal sebagai penguasa yang zalim dan pribadi yang fasik, sebagaimana dicatat dalam Tarikh al-Khulafa’ karya Imam as-Suyuthi atau tarikh-nya Imam al-Thabari. Kekejamannya pada Sayyidina Husain juga bukan satu-satunya yang mengerikan di mana cucu Nabi itu dipenggal dan keluarganya diarak keliling Arab serta ditawan selama 40 hari. Sebuah peristiwa yang hingga Imam Abdullah bin Alwi Al Haddad dalam Tastbit al-Fuad menegaskan bahwa Hari Asyura adalah hari kesedihan.
Yang juga mengerikan adalah kekejaman Yazid pada sahabat Nabi dan penduduk kota Madinah yang kemudian dikenal dengan Peristiwa Harrah, juga serangan pasukannya ke kota Makkah yang hingga mengancam Ka’bah dan Masjidil Haram untuk melumpuhkan Abdullah bin Zubair. Ketika itu Abdullah dan pasukannya yang menguasai Mekkah berlindung di dua bangunan suci tersebut.
Tragedi Karbala merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Islam, konflik internal Islam paling mengerikan yang menyiratkan pesan bahwa “Islam” bisa dibajak menjadi semacam label semata untuk nafsu berkuasa. Oleh karena itu, di antara nasihat Husain pada pengikut Yazid: “Kalian adalah orang-orang yang paling besar musibahnya karena kedudukan ulama telah direbut.”
Syekh Abdul Qadir Jailani dalam Al-Ghunya memasukkan Hari Asyura sebagai salah satu “Asyirul Karomah” (Hari Keramat) bersama Nuzulul Quran, Lailatul Qadr, Maulid Nabi, Isra-Mi’raj, Hari Arafah, Idul Fitri, dan Idul Adha. Nabi pun telah jauh-jauh hari mengingatkan akan Hari Asyura tersebut kepada Ummu Salamah, misalnya dicatat dalam Fadhail ash-Shahabah karya Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal yang ditahkik oleh Washiulllah bin Muhammad Abbas, Profesor Universitas Ummul Qura, Mekkah.
Tentu, Husain tak hendak berperang. Karbala bahkan bukan tujuannya. Ia membawa anak-anak dan wanita dari keluarganya dan keluarga sahabatnya untuk berhijrah ke Kufah menemui pengikut setia ayahnya untuk merencanakan sebuah gerakan menentang kezaliman kekhalifahan Yazid.
Jumlah rombongan hijrah itu pun hanya puluhan. Ia sendiri juga menegaskan: “Aku keluar bukan untuk merusak, melainkan perbaikan bagi umat datukku. Aku ingin beramar ma’ruf dan nahi munkar.” Namun, pasukan Umar bin Sa’ad menggiringnya ke Karbala dan membantainya. Husain mencoba melawan, namun apa daya. Keadaannya dipersulit karena ia dan pasukannya diblokade dari air Sungai Eufrat.
Sebuah episode sejarah yang menampilkan romantika perjuangan, pengorbanan, kesetiaan, kesabaran, yang berhadapan dengan ketertindasan, kekejaman, kebengisan, dan seterusnya dalam sebuah upaya menegakkan nilai-nilai luhur itu kemudian. Sebagaimana memang dicita-citakan oleh Husain sendiri bahwa ia syahid untuk memenangkan sejarah tentang masa lalu: kemenangan nilai-nilai, mendobrak semua sekat yang ada: keagamaan dan kebangsaan, lalu menginspirasi semua pribadi dan komunitas antar agama dan bangsa.
Seorang pendeta dan gerejanya di Syam, ketika rombongan tawanan keluarga dan sahabat Husain melewati daerahnya, membayar pasukan Umar bin Sa’ad untuk “meminjam” dalam waktu semalam kepala Husain karena tahu akan keagungan kepalanya. Malam itu ia mencuci kepala yang dipenuhi darah itu di sebuah batu, batu itu kini terletak di Aleppo (Suriah) dan dibangunkan sebuah masjid bernama “Al-Nuqtah” untuk menghormatinya. Sejarah masjid itu dicatat oleh Sheikh Ibrahim Nasralla dalam The Traces of Ale Mohammad in Aleppo.
Hingga kini, setiap Hari Asyura, para pendeta juga ikut hadir memperingatinya di makam Husain di Irak. Antoine Bara, cendekiawan Kristen, menulis buku berjudul Imam Hussein in Christian Ideology. Dia menegaskan bahwa Husain dan tragedinya bukan hanya “milik” muslim saja, tetapi milik seluruh manusia, karena ia adalah “hati nurani agama-agama” dan “prinsip kemanusiaan”.
Mahatma Gandhi belajar dari Husain tentang bagaimana tertindas namun bangkit menjadi pemenang. Karena itu, Asyura menjadi salah satu inspirasi utama bahwa perang dalam Islam bukan soal agama (dorongan fanatisme), melainkan kemanusiaan, keadilan, dan semangat egalitarian. Termasuk jika ia ada dalam tubuh Islam itu sendiri, seperti tentang Husain dan Yazid.
Di Indonesia, “Tragedi Karbala” menjadi hikayat dan peringatan yang ada dalam berbagai tradisi lokal. Bermula dari Hikayat Soydina Usin yang ditulis sekitar abad ke-17 di Aceh, ada tradisi “Bubur Suro” di Jawa di mana dalam versi hikayat hingga diakulturasikan dengan menyamakan Yazid dan Kurawa, dalam dalam bentuk festival bernama Tabot di Bengkulu.
Adapun di tanah Sunda dan Madura, hikayat tentang Asyura digubah dengan menekankan pada kekejaman Yazid dengan versi Sunda berjudul Wawacan Yaziddan versi Madura: Caretana Yazid Calaka (Kisah Yazid Celaka).
Dalam catatan Ricklefs di A History of Modern Indonesia, abad ke-17-19 M adalah masa-masa maraknya perang anti-kolonial yang dimulai dengan Perang Ternate pada awal abad ke-17 M sampai Perang Aceh yang berlangsung begitu lama pada akhir abad ke-19 M. Dikisahkan bahwa para pemimpin peperangan itu yang sebagian besar adalah tokoh Islam, seperti Pangeran Trunojoyo pada abad ke-17 dan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa di abad ke-19, kerap menjadikan epos Islam masyhur seperti Asyura sebagai kisah yang diceritakan pada komandan perang dan pembantu dekatnya untuk membangkitkan semangat perang.
Akhirnya, di antara episode dalam Perang Karbala, salah satu komandan pasukan Yazid bernama Hur ar-Riyahi yang berkontribusi dalam menggiring Husain hingga ke Karbala, justru berbalik membela Husain di tengah perang di Karbala. Ia terdorong oleh kata-kata Husain kepadanya bahwa ia dilahirkan sebagai seorang yang merdeka, maka jangan mau diperbudak oleh siapa pun untuk sesuatu yang bertentangan dengan nuraninya. Dan Hur menjadi syahid paling beruntung, husnul khotimah.
Sebuah pelajaran sejarah agar kita tak pernah memvonis siapa pun atas keadaannya saat ini: kafir, fasik, dan lain-lain. Maupun berbangga atas apa yang menjadi keadaan kita saat ini: muslim, saleh, dan lain-lain. Karena kita tak tahu episode-episode apa yang akan terjadi dalam sejarah mereka dan kita di hari-hari esok dan bagaimana ujung dari kehidupan mereka dan kita: husnul khotimah atau su’ul khotimah.

Minggu, 24 September 2017

Kesedihan di Balik Prasasti Batutulis

Reporter: Irfan Teguh | 24 September, 2017

Prasasti Ciaruteun yang terletak di Desa Ciaruteun Ilir, Kabupaten Bogor yang diambil dari buku
Di Bogor Selatan, tepatnya di prasasti Batutulis, kesedihan datang berulang. 

Agustus 2002, belum lindap betul dari ingatan saat Said Agil Husin Al Munawar, Menteri Agama di era Presiden Megawati, menginstruksikan penggalian di lokasi situs bersejarah tersebut. Alasannya hebat nian, atas informasi dari seseorang yang namanya dirahasiakan diduga di lokasi prasasti tersebut terdapat harta karun peninggalan Prabu Siliwangi. Jika harta karun itu berhasil ditemukan, maka akan diserahkan kepada negara untuk membayar utang. Tentu saja orang Sunda, khususnya warga Bogor, meradang.

Dalam proses penggalian, alih-alih mendapatkan harta karun, yang terjadi adalah kerusakan lokasi situs yang lokasinya persis di seberang Istana Batutulis. Dalam kasus ini, kesedihan yang paling membekas bukan terutama kerusakan lokasi, tapi ihwal akal sehat yang terguncang: pejabat negara dengan pangkat mentereng Menteri Agama, meyakini ada harta karun peninggalan zaman kerajaan, dan mencoba menggalinya demi membayar utang negara.

Prasasti Batutulis dibuat Prabu Surawisesa, Raja Sunda yang berkuasa selama 14 tahun (1521-1535 M) untuk mengenang kejayaan ayahnya (Sri Baduga Maharaja/Prabu Siliwangi). Prasasti itu dibuat di tengah kepiluan karena wilayah kekuasaan warisan ayahnya tersebut mulai tanggal satu persatu, direbut hegemoni kekuatan politik baru, yaitu kerajaan Islam.

Perjanjian dengan Portugis

Terdesaknya Kerajaan Sunda yang Hindu dan beribukota di Pakuan Pajajaran, sebetulnya sudah diantisipasi oleh Sri Baduga Maharaja. Bentuk antisipasinya adalah menjalin kerjasama dengan Portugis. Bahkan Surawisesa sendiri yang dua kali diutus pergi ke Malaka menemui Portugis.

Pada 1512, dikutip Hageman dalam Geschiedenis der Sundalanden, menyebutkan ada raja Sunda bernama Samiam datang ke Malaka untuk merundingkan urusan dagang dengan Alfonso d’Albouquerque. Pada 1521, raja tersebut datang untuk yang kedua kali. Karena tertarik menjalin hubungan dagang dengan Sunda, maka Alfonso d’Albouquerque mengutus iparnya, Henrique de Leme, untuk memimpin utusan Portugis pergi ke ibukota Sunda pada 1522 (baca juga: Seabad Kejayaan Malaka dan Kejatuhannya).

Dalam teks yang ditulis orang Portugis itu, ada penumpukan informasi yang bisa mengacaukan persepsi sejarah. Saleh Danasasmita dalam Melacak Sejarah Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi menjelaskan bahwa berita Portugis tersebut ditulis dengan jarak yang cukup jauh dari kejadiannya. Mereka menuliskan nama disekaliguskan. Ratu Samiam yang datang ke Malaka pada 1512 dan 1521 disebut “Red e Zunda” (Raja Sunda).

Padahal pada tahun-tahun tersebut, Samiam atau Surawisesa, masih sebagai putera mahkota. Sedangkan pada 1522, ketika utusan Portugis melakukan kunjungan balasan, Samiam telah menggantikan ayahnya sebagai raja Sunda. 

Saleh Danasasmita menambahkan bahwa secara logika tidak mungkin seorang raja pergi berlayar mengarungi samudera yang penuh marabahaya hanya untuk misi dagang dan kerjasama. Jadi, menurutnya, yang pergi ke Malaka adalah Samiam/Surawisesa yang diutus oleh ayahnya. Saat itu, dalam analisis Saleh Danasasmita, ia belum menjadi raja.

Kedatangan utusan Portugis pada 1522 kemudian menghasilkan perjanjian kerjasama yang diabadikan dalam padrão yang tinggalannya masih bisa dilihat sampai sekarang. Perjanjian tersebut bersifat internasional. Naskah perjanjian dibuat rangkap dua (in duplo), dan masing-masing pihak memegang satu lembar.   

Van deze overeenkomst werd een geschrift opgemaakt in dubbel, waarvan elke partij een behield,” (Dari perjanjian ini dibuat tulisan rangkap dua, lalu masing-masing pihak memegang satu), tulis Hageman dari sumber Portugis yang ia kutip.

Isi perjanjian tersebut di antaranya ialah, pertama, Sunda dalam jangka waktu setahun akan memberikan 1.000 karung merica yang ditukar oleh Portugis dengan barang-barang kebutuhan pihak Sunda. Kedua, Portugis diizinkan untuk mendirikan benteng di Pelabuhan Kalapa (Sunda Kelapa). Selain itu, ada satu perjanjian yang sifatnya rahasia, yaitu Sunda dan Portugis akan bersama-sama menghadapi Demak yang mulai merangsek ke barat.

Bertempur dan Terdesak

Dalam naskah Carita Parahiyangan, Surawisesa disebutkan terlibat 15 kali peperangan dalam rangka mempertahankan wilayahnya, terutama di pesisir utara Jawa dari gempuran armada Demak dan Cirebon. Hal itu terjadi hanya dalam kurun waktu 14 tahun kepemimpinannya di Sunda. Perang melawan Demak disinggung dalam naskah tersebut dengan menyebut nama beberapa tempat, di antaranya Wahanten Girang, Ancol Kiyi, dan Kalapa.

Saleh Danasasmita dalam bukunya yang lain, Menemukan Kerajaan Sunda, menjelaskan bahwa perjanjian antara Sunda dan Portugis mencemaskan Trenggana yang waktu itu menjadi Sultan Demak III. Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Pasai sudah menguasai Selat Malaka yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara. Jika Selat Sunda sebagai pintu masuk yang lain dikuasai juga oleh Portugis akibat perjanjian tersebut, maka otomatis jalur perdagangan laut Demak terputus, padahal jalur tersebut adalah urat nadi kehidupan ekonomi.    

Untuk mengatasi ancaman ini, Trenggana segera mengirimkan armada yang dipimpin senapati Demak, Fadillah Khan. João de Barros (sejarawan Portugis) menyebutnya Faletehan. Sementara Tome Pinto (petualang Portugis) menyebutnya Tagaril yang mungkin ucapan Portugis untuk "Ki Fadil" (julukan Fadillah Khan sehari-hari).

Gabungan pasukan Demak dan Cirebon yang dipimpin Fadillah Khan berjumlah 1.967 orang. Sasaran pertamanya adalah Banten sebagai pintu masuk Selat Sunda. Setahun kemudian, bersama 1452 pasukannya, Fadillah Khan menyerang Pelabuhan Kalapa. Pemimpin yang betugas di Kalapa beserta keluarganya, serta para menteri yang bertugas di pelabuhan, ditemukan tewas. Pasukan bantuan dari Pakuan Pajajaran pun berhasil dipukul mundur.
Kesedihan di Balik Prasasti Batutulis

Portugis yang terikat perjanjian dengan Sunda mencoba mengirimkan bantuan, namun terlambat. Fransisco de Sa yang sedang bertugas membangun benteng di Kalapa diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Pasukan yang akan berangkat ke Sunda dengan enam buah kapal dipersiapkan dari Goa. Kapal yang dinaiki De Sa dan berisi peralatan untuk benteng terpaksa ditinggalkan karena diterpa badai di Teluk Benggala.

Bantuan ke Sunda kemudian dilanjutkan dengan bertolak dari Malaka. Karena Banten dikuasai pasukan Hasanudin (Sultan Banten), maka Portugis langsung menuju Pelabuhan Kalapa, yang sialnya — karena situasi telah berubah — kapalnya terlalu menepi terlalu dekat ke pantai, akhirnya langsung dihajar armada Fadillah Khan.

Di sebelah timur, pasukan Cirebon mencoba bergerak lebih jauh ke selatan, berusaha menggerogoti wilayah Sunda. Dengan bantuan Demak, Cirebon berhasil mengalahkan Galuh. Lalu dua tahun kemudian Kerajaan Talaga, benteng terakhir Kerajaan Galuh berhasil direbut. Meski sebelah timur Citarum telah dikuasi Cirebon, namun mereka masih belum bisa menembus ke barat, ke Pakuan Pajajaran.

Meski digempur habis-habisan, Surawisesa berusaha mati-matian untuk mempertahankan wilayahnya. Maka di sekujur perbatasan antara Sunda dan Cirebon diamuk peperangan yang hebat. Tahun 1531, Surawisesa dan pemimpin Cirebon, Syarif Hidayat, menyepakati perdamaian.

Dalam situasi seperti inilah kemudian Surawisesa mempunyai kesempatan untuk mengurusi masalah dalam negerinya. Beberapa pemberontakan dipadamkam, dan ia mencoba menerawang situasi diri dan kerajaannya.

Kepiluan dalam Upacara Srada

Warsa 1533, bertepatan dengan 12 tahun setelah ayahnya wafat, Surawisesa membuat sakakala berupa tanda peringatan bagi mendiang ayahnya dengan menyebutkan karya-karya sang ayah selama beliau memimpin Sunda.

“Mungkin pemasangan batu-tulis itu bertepatan dengan upacara srada yaitu ‘penyempurnaan sukma’ yang dilakukan setelah 12 tahun seorang raja wafat. Dengan upacara itu sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi,” tulis Saleh Danasasmita.

Tanda peringatan itulah yang hari ini dikenal dengan prasasti Batutulis, dengan terjemahan sebagai berikut: 

“Semoga selamat. Inilah tanda peringatan (untuk) Prabu Ratu almarhum, dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia anak Rahyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga, cucu Rahyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang di Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan gunung-gunungan, mengeraskan (jalan) dengan batu, membuat hutan samida, membuat Sanghiyang Talaga Rena Maha Wijaya. Ya dialah (yang membuat semua itu). (ditulis) Dalam tahun Saka lima-pandawa-pangasuh-bumi.” (Menemukan Kerajaan Sunda, hlm 47)

Empat setengah abad kemudian, setelah Surawisesa menuangkan kenangan dan kesedihannya, di sekitar lokasi prasasti Batutulis digali atas perintah Menteri Agama. Harta karun tak didapat, Menteri Agama hanya menabur angin dan menuai badai. 
Sumber: Tirto.Id 

Kamis, 31 Agustus 2017

Pengikut Diponegoro Berserakan di Matraman, Pohon Sawo Penandanya

Penulis: Noviyanto Aji | 31 Agustus 2017


Lukisan Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan oleh De Kock.

Mataraman – Sejak penangkapan Pangeran Diponegoro oleh De Kock dan kemudian diasingkan, pahlawan Goa Selarong ini menghembuskan nafas dalam kesunyian. Benar-benar tragis. Ia dijauhkan dari peradaban pasca perang Jawa yang terkenal itu. Ia jauh dari sanak dan pengikutnya.

Hingga akhirnya pangeran yang memiliki nama asli Ontowiryo ini wafat pada Senin 8 Januari 1855, di usia 73 tahun (versi lain usia 69 tahun). Jenazahnya dikuburkan di luar Benteng Rotterdam, di kampung Melayu sebelah utara Ujungpandang (sekarang Makasar).

Sejak perang Jawa pecah tahun 1825-1830, pamor Pangeran Diponegoro telah naik dari bangsawan Mataram menjadi messiah tanah Jawa. Betapa tidak, ia telah memimpin gerakan perlawananan sporadis alias kraman terbesar sepanjang sejarah kolonialisme Hindia Belanda di tanah Jawa.

Tidak hanya jatuh korban besar di kedua belah pihak, tetapi akibat perang tersebut telah menghabiskan pundi-pundi kerajaan Belanda. Selama perang kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden.

Perang Jawa ini setidaknya telah memakan korban di pihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa. Setelah perang berakhir, jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya dalam kurun 5 tahun peperangan.

Pasca perang, pengikut Pangeran Diponegoro banyak meninggalkan jejak. Sejak itu pula sejarah penyebaran agama Islam di abad ke-19 tidak bisa dilepaskan dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda di berbagai daerah.

Yah, para pengikut Pengeran Diponegoro kemudian melanjutkan perjuangan sambil menyebarkan agama Islam ke masyarakat yang masih kental dengan budaya dan agama Hindu Majapahit.

Tidak bisa dipungkiri, perang Jawa telah mengakibatkan banyak ulama pengikut Diponegoro mati syahid. Namun sisanya menyingkir ke pedalaman, membuka perkampungan, mendirikan masjid, mengajar ngaji para penduduk kampung. dan merintis pesantren. Sebagian besar para ulama dan santri ini mengganti nama dan identitas untuk menghindari kejaran Belanda yang terus menerus memantau pergerakan sisa-sisa laskar Diponegoro.

Raden Mas Ontowiryo atau dikenal Pangeran Diponegoro.

Sisa-sisa prajurit Diponegoro dalam taktik mengundurkan diri ini bergerak menyusuri Kali Progo melalui daerah Sentolo, Godean, Borobudur, Bandongan, Secang Temanggung, dan akhirnya Parakan, sebuah persimpangan tapal batas Karesidenan Banyumas, Kedu, Pekalongan, Semarang, Yogyakarta dan Magelang, lalu beralih ke wilayah timur atau Matraman. Dipilihnya daerah Matraman karena umurnya sudah 208 tahun sejak penyerbuan Kerajaan Mataram ke Batavia.

Langkah strategis seperti ini ditempuh untuk mengimbangi taktik benteng stelsel(mendirikan banyak benteng kecil untuk menjepit gerak langkah pasukan Diponegoro), dalam Perang Jawa, yang sebelumnya mereka alami. Mereka membuka lahan baru (mbabat alas) bersama pengikutnya maupun menempati desa-desa yang miskin nilai agamanya.

Di Matraman ini, para pengikut Diponegoro terlebih dahulu mencari tokoh-tokoh setempat yang dianggap mengetahui asal-usul Matraman dan akhirnya memperkenalkan diri kepada mereka tentang keberadaan Pangeran Mataram (tidak menyebutkan nama asli) dan menceriterakan secara umum kondisi kejadian saat itu.

Adalah Pangeran Djonet atau Raden Mas Djonet Dipomenggolo, adalah putera pertama Pangeran Diponegoro yang diterima dengan tangan terbuka dan perlindungan masyarakat Matraman. Di situlah sang pangeran beserta pengikutnya menetap di Matraman lebih kurang selama dua tahun.

Ikatan Keluarga Pangeran Diponegoro (IKPD) dalam blog-nya menyebut, Pangeran Djonet sudah sejak kecil ikut rombongan pengungsi bersama keluarga besarnya ke Goa Selarong, setelah Puri Tegalrejo digempur oleh pasukan Belanda.

Sehingga dia sudah bisa merasakan bagaimana susahnya hidup dalam pengungsian dan hanya tinggal di dalam Goa bersama ibu dan saudara-saudaranya.

Selama menetap di Matraman dalam rangka mempertahankan diri dari kejaran tentara Belanda, Pangeran Djonet membentuk pasukan (semacam pengawal Raja) dengan merekrut pemuda-pemuda yang mayoritas keturunan prajurit Kerajaan Mataram walaupun ada juga dari etnis lain yang juga bergabung dengan suka rela.


Mendirikan Masjid dan Pesantren

Dari pesantren kembali ke pesantren, demikian semangat historis pengikut sang messiah ini. Memang tidak banyak diketahui bagaimana para ulama dan kyai menjadi elemen penting pengikut Diponegoro. Padahal masa sebelumnya ulama dan keraton berbatas garis demarkasi gara-gara kedekatan keraton dengan kolonial yang dicap kafir.

Namun sejarawan asal Inggris yang menekuni penulisan sejarah Pangeran Diponegoro, Peter Carey menyebut, sebenarnya laskar Pangeran Diponegoro terdiri dari berbagai elemen. Di samping prajurit yang dilatih militer, pasukan juga terdiri dari kyai dan ulama yang notabene mempunyai kemampuan ilmu kanuragan.

Dalam naskah Jawa dan Belanda, Carey menemukan 108 kyai, 31 haji, 15 syeikh, 12 penghulu Yogyakarta dan 4 kyai guru yang turut berperang bersama Diponegoro.

Ya, setelah pengikut Diponegoro menempati wilayah Matraman, mereka lantas mendirikan masjid dan pesantren. Jejak-jejak itu dapat dilihat dengan masih berdirinya pondok pesantren tua di Jawa, terutama Jawa Timur yang banyak menyimpan kronik-kronik sejarah ini.

Sebut saja di Magetan, terdapat Pesantren Takeran yang menjadi peninggalan pengikut Diponegoro. Pesantren ini yang didirikan oleh Kyai Kasan Ngulama (Kyai Hasan Ulama), seorang guru Tarekat Syattariyah, yang juga merupakan putera Kyai Khalifah, pengikut setia Pangeran Diponegoro. Kyai Khalifah alias Pangeran Kertopati usai perang mengungsi ke arah timur Gunung Lawu, Magetan, dan membangun sebuah padepokan agama di Bogem, Sampung, Ponorogo.

Di pondok yang merupakan cikal bakal Pesantren Sabilil Muttaqin (PSM), Kyai Hasan melakukan kaderisasi para santri yang kelak juga banyak mendirikan pesantren lain di berbagai daerah. Berasal dari Bagelen, Purworejo, trio veteran Perang Jawa: Kyai Nur Qoiman, Nuriman dan Ya’qub, memutuskan mbabat alas di Desa Gondang, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek.

Di desa ini, tiga bersaudara tersebut mendirikan sebuah masjid. Keberadaan masjid sederhana ini kemudian berkembang menjadi sebuah pesantren salaf di era kepemimpinan Kyai Murdiyah alias Kyai Muhammad Asrori, yang merupakan murid Kyai Kholil Bangkalan. Di era Kyai Asrori, banyak santri yang datang berguru. Kebanyakan berasal dari wilayah Mataraman dan Jawa Tengah. Pesantren berusia tua ini sekarang menggunakan nama PP. Qomarul Hidayah.

Sezaman dengan Kyai Khalifah, tak jauh dari situ ada masjid kuno bernama masjid KH Abdurrahman. Lokasinya di Dusun Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi. Seperti namanya, masjid KH Abdurahman didirikan oleh KH Abdurrahman pada tahun 1835 Masehi.
“Waktu itu setelah kalah perang melawan penjajah Belanda, para pengikut Pangeran Diponegoro ini menyebar dan mendirikan masjid yang dijadikan sebagai tempat pendidikan dan perjuangan termasuk di masjid ini,” jelas keturunan kelima KH Abdurrahman, KH Gunawan Hanafi.

Masjid KH Abdurrahman Tegalrejo, peninggalan pengikut Pangeran Diponegoro.

Gunawan menuturkan bahwa KH Abdurrahman merupakan keturunan keluarga Kraton Padjajaran, Jawa Barat, dan hijrah ke Pacitan, Jawa Timur, yang waktu itu berada di bawah kekuasaan Kraton Solo. “Beliau itu memang berganti-ganti nama sebagai strategi perjuangan agar sulit dicari penjajah,” kata ketua ta’mir masjid setempat ini.

Demikian pula dengan Pondok Pesantren Tambakberas Jombang. Keberadaannya tak bisa lepas dari keterkaitan historis dengan perang Diponegoro. Sebab pendiri dan pembabat alas desa dan Pondok Tambakberas adalah Kyai Abdus Salam atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Soihah. Dia tak lain pengikut setia Pangeran Diponegoro.

Ketika mbabat alas, Kyai Abdus Salam bersama pengikutnya mendirikan sebuah langgar kecil dan pemondokan di sampingnya untuk 25 pengikutnya. Jumlah santrinya dibatasi 25 orang. Pondok ini dikenal dengan nama pondok selawe alias “pesantren dua puluh lima” atau disebut pondok telu karena hanya ada tiga unit bangunan.

Di kemudian hari, Bani Abdus Salam mendominasi jaringan ulama di wilayah Jombang, Kediri, dan sekitarnya. Hal ini dikarenakan mayoritas silsilah para kiai di wilayah ini mengerucut pada namanya. Salah seorang puterinya, Layyinah, dipersunting Kyai Usman yang kemudian menurunkan Kiai Asy’ari, ayah dari KH. M. Hasyim Asy’ari. Adik Layyinah yang bernama Fatimah menikah dengan Kiai Said. Pasangan ini dikaruniai putera bernama Chasbullah Said.

Nama terakhir ini adalah ayah dari KH. A. Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU. Sedangkan adik Kyai Wahab menikah dengan KH. Bisri Syansuri, ulama yang berasal dari Pati. Kyai Bisri kemudian berbesanan dengan gurunya, Kyai Hasyim Asy’ari. Di kemudian hari, pesantren ini menjadi cikal bakal pesantren besar lain di wilayah Jombang, seperti Tebuireng, Rejoso, Denanyar, Seblak, dan sebagainya.

Kyai Abdus Salam pengikut setia Pangeran Diponegoro sekaligus pendiri Pesantren Tambakberas, awalnya mendirikan sebuah langgar kecil dan pemondokan dengan jumlah santri dibatasi 25 orang.

Di Kediri, ada saudara tiri Diponegoro, Sabar Iman alias Kyai Bariman bin Hamengkubowono III. Dia menyingkir dari keratonnya dan memilih tinggal di kota ini. Dari silsilah Kiai Sabar Iman ini lahir Abdul Ghofur. Di kemudian hari salah satu putra Abdul Ghofur, Mukhtar Syafa’at, menjadi salah seorang ulama terkemuka di Banyuwangi. Pesantren yang dirintis, Darussalam, berkembang dengan ribuan santri. Saat ini, pesantren yang didirikan oleh Kyai Mukhtar Syafaat diasuh oleh putranya, KH. Ahmad Hisyam Syafaat.

Di Kediri juga terdapat Pesantren Kapurejo yang didirikan oleh Kyai Hasan Muhyi. Setelah bergerilya di lereng Gunung Lawu, Wilis, dan Kelud, Kyai Hasan Muhyi (Raden Mas Ronowidjoyo), seorang perwira tinggi dalam Detasemen Sentot Alibasah Prawirodirdjo, akhirnya mendirikan Pesantren Kapurejo, di Kecamatan Pagu. Pesantren tua ini banyak menelurkan alumni yang kemudian mendirikan pesantren di wilayah Nganjuk dan Kediri. Kyai Ahmad Sangi mendirikan Pesantren Jarak di Plosoklaten, Kyai Nawawi merintis Pesantren Ringinagung, Kyai Sirojuddin merintis pendirian Pesantren Jombangan, dan beberapa kyai lain juga mendirikan masjid di berbagai tempat tinggal masing-masing.

Selain itu, ada juga Pesantren Miftahul Ulum, Jombangan, Tertek, Pare, Kediri, yang didirikan oleh Kyai Sirojuddin, kurang lebih limabelas tahun setelah penangkapan Pangeran Diponegoro. Kyai Sirojuddin kelahiran Kudus, bergabung dengan pasukan gerilya Diponegoro beberapa saat menjelang Perang Jawa pecah. Hingga saat ini, Pesantren Miftahul Ulum dilanjutkan oleh keturunannya dan fokus pada pengembangan kajian al-Qur’an dan kitab kuning.

Di Nganjuk, terdapat Pesantren Miftahul Ula, Nglawak, Kertosono. Pendirinya adalah Kyai Abdul Fattah Djalalain. Ayahnya, Kyai Arif, adalah cucu Pangeran Diponegoro, karena Kyai Arif adalah putera Kyai Hasan Alwi, yang merupakan putera Diponegoro dari selirnya. Kyai Arif semasa hidupnya diburu serdadu Belanda dan sering berpindah tempat. Terakhir, ia menetap di desa Banyakan, Grogol, Kediri.

Di kemudian hari, Kyai Arif menikah dengan Sriyatun binti Kyai Hasan Muhyi, pengasuh Pesantren Kapurejo. Dari pasangan ini, Kyai Fattah lahir. Pada era revolusi fisik, Kyai Fattah yang juga santri Kyai Hasyim Asyari ini menjadi magnet para laskar rakyat, termasuk Hizbullah dan Sabilillah. Sebab, beliau banyak memberikan wirid, amalan keselamatan, serta kekebalan bagi para pasukan yang mau terjun ke medan perang. Kyai kelahiran 9 April 1909 ini juga menjadikan pesantren asuhannya sebagai markas Hizbullah dan Sabilillah.


Para Pengikut Menanam Pohon Sawo

Pada akhir perang, para kyai pengikut Pangeran Diponegoro memang berkumpul dan bersepakat untuk merubah arah perjuangan mereka. Dari perang fisik menjadi perjuangan di bidang pendidikan.

Mereka berpencar untuk menyebarkan pendidikan Islam di berbagai penjuru mata angin. Namun ada satu komitmen yang menarik dari pengikut Pangeran Diponegoro, yakni untuk menandakan semangat persatuan melawan kemungkaran, setiap lokasi yang mereka diami ditanami pohon sawo. Pohon sawo ini menjadi penanda jaringan Pangeran Diponegoro masih ada. Makna filosofinya, pohon sawo dilambangkan sebagai “sawwu sufufakum” yang artinya “rapatkan barisanmu”.
“Pohon sawo itu tanda jaringan Pangeran Diponegoro. Bila kemudian muncul perintah untuk bergerak lagi, maka tinggal dicek siapa yang memerintahkannya itu. Dan bila di depan kediamannya ada pohon sawo, maka itu menjadi tanda bahwa sang pemiliknya masih merupakan anggota jaringannya,” kata Carey.
Di kawasan Selatan Jawa atau wilayah Matraman, banyak sekali anak keturunan Pangeran Diponegoro yang masuk dalam jaringan ulama karena mereka kemudian menjadi ulama sera mengasuh pesantren. Karena itu di beberapa pesantren tua di wilayah tersebut biasanya dapat dijumpai pohon sawo yang usianya sangat tua.

Seperti pohon sawo yang berdiri di Pesantren Al Kahfi Somalangu, Kebumen. Di sini dapat ditemukan pohon sawo tua, baik jenis sawo kecik maupun sawo biasa.

Menurut Hidayat Aji Pambudi, pengurus Yayasan Pesantren Al Kahfi, 
“Pohon sawo keciknya baru saja ditebang terkena perluasan halaman pesantren. Sedangkan, pohon sawo jenis yang biasa masih tumbuh subur di samping masjid,” katanya.

Pohon sawo yang berdiri kokok di Pesantren Al Kahfi Somalangu, Kebumen. Di pesantren-pesantren tua pohon sawo menjadi penanda jaringan Pangeran Diponegoro.

Di tempat lain, tepatnya di Masjid Pathok Negara Ploso Kuning, Sleman, Yogyakarta, pohon sawo kecik raksasa hingga kini masih berdiri dengan kokohnya. Masjid ini menjadi salah satu tempat mengaji Pangeran Diponegoro ketika menjadi santri Kyai Mustofa. 
“Dunia orang Jawa kan penuh perlambang atau isyarat. Di setiap pesantren di wilayah ini memang lazim di tanam pohon sawo sebagai perlambang dari perintah untuk taat ketika ada perintah: sami’na wa ato’na (saya mendengar, saya laksanakan),” kata peneliti dunia pesantren di kawasan Selatan Jawa, Ahmad Khoirul Fahmi.
Fahmi mengutip kata-kata ayahnya soal kalimat sami’na wa ato’na terutama ketika menjelang dilaksanakannya shalat berjamaah di masjid. 
“Kata Ayah saya, ingat di depan masjid kita itu ada pohon sawo. Itulah artinya: segera laksanakan ketika kamu dengar perintah!”
Di antara cicit Pangeran Diponegoro atau berdarah bangsawan Keraton Yogyakara yang kemudian menjadi ulama berpengaruh di wilayah ini adalah KH Muhammad Ilyas dan KH Abdul Malik (di Sokaraja), KH Badawi (di Kesugihan Cilacap), KH Masurudi (di Baturaden Purwokerto). Fahmi menambahkan, di pesantren tua yang diasuh kyai-kyai tersebut pasti ditemukan pohon sawo. Ini memang menjadi perlambang masih kuatnya jaringan antar ulama yang notabene mantan pengikut Pangeran Diponegoro.
“Jadi wajar bila banyak pesantren tua yang ada kawasan ini banyak di tanam pohon sawo, yang ternyata itu isyarat adanya jaringan ulama,” pungkas Fahmi.
Domini BB. Hera yang kerap dipanggil Sisco, keturunan eks pasukan Diponegoro yang menyingkir ke Ngantang, perbatasan Blitar-Kediri, menceritakan di Tegalrejo (Magetan), pohon sawo menjadi representasi sang pangeran.

Bukan hanya sebagai kode rahasia, lanjut Sisco, para pengikut Diponegoro mempercayai sawo kecik akan mendatangkan kebaikan bagi penanamnya. 
“Bagi orang Jawa, sawo kecik memiliki arti sarwa becik atau serba baik. Keraton-keraton pecahan Kerajaan Mataram, seperti Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, menanam sawo kecik. Kedudukannya sejajar dengan pohon beringin, asam, dan gayam. Pakubuwana X (memerintah 1893-1939) menanam 76 sawo kecik di lingkungan Kasunanan Surakarta. Sawo kecik juga banyak ditemukan di Kesultanan Yogyakarta,” terangnya.
Pada masa revolusi kemerdekaan, pohon sawo kecik di belakang keraton Yogyakarta pernah menjadi tempat berkumpul para pejuang. Menurut Hardi, salah satu tokoh Partai Nasional Indonesia dan pernah menjabat wakil perdana menteri I, jika hendak melapor Sultan Hamengkubuwana IX di keraton, para pejuang menyamar sebagai abdi dalem dengan berpakaian Jawa, lalu berkumpul di bawah pohon sawo kecik di belakang keraton.
“Jika suasana dianggap aman dari incaran intelijen Belanda, baru kami buru-buru masuk keraton,” kata Hardi.
Hingga kini tidak terhitung ribuan santri yang menjadi alumni dan kelak menjadi penerus perjuangan Diponegoro; melawan penindasan dan kemungkaran. Karena memang begitulah semangat Pangeran Diponegoro seharusnya diwariskan.[]

Sumber: Nusantara.News