This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 18 Januari 2017

Retno Listyarti: Jangan Jadi Guru Penakut, Bongkar Korupsi!

Senin, 18 Januari 2016 | 07:00 WIB
Pebriansyah Ariefana


Sekjen FSGI, Retno Listyarti. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)


Sosok Retno Listyarti kembali mencuat karena menang di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta melawan Provinsi DKI Jakarta. Dia dipecat sebagai kepala sekolah SMA Negeri 3 Jakarta, tapi pemecatan itu dianggap tidak sah oleh pengadilan.
Retno, sosok langka. Seorang guru yang statusnya pegawai negeri sipil, berani mengungkap banyak kasus korupsi dan penyelewengan di sekolah yang dia ajar. Retno tidak menyangkal mayoritas guru di Indonesia ‘penakut’.
Menurut dia, ‘segudang’ penyimpangan berpotensi terjadi sekolah. Mulai dari tindakan korupsi terstruktur antara pimpinan sekolah, dinas pendidikan daerah sampai ke Kementerian Pendidikan. Penyimpangan itu lah yang harus dibasmi.
Selama belasan tahun berkarir Retno menjadi guru, dia hafal persis modus penyimpangan di sekolah. Mulai dari penyimpangan dana Bantuan Opersional Sekolah (BOS) sampai penyimpangan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP).
Retno pernah membuktikan saat dia menjadi Kepala Sekolah SMAN 76 Jakarta. Dia menemukan penyimpangan di sana. Makanya, Retno langsung mencanangkan program transparansi pengelolaan anggaran di sekolah tahun 2014 silam. Saat itu sekolah itu menjadi yang pertama berjuluk sekolah antikorupsi karena keuangannya langsung diperiksa oleh lembaga akuntan publik. Hasilnya sekolah mengembalikan sisa dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) sebesar Rp 400 Juta pada akhir 2014.
“Kalau biasanya, uang itu dipakai buat apa saja. Banyak celah korupsi,” kata Retno.
Kiprahnya yang sekalu memprotes penyimpangan dan sistem pendidikan Indonesia, membuat dirinya banyak musuh. Dia sadar, banyak pihak yang berusaha menghentikan langkahnya dan menghambat kariernya. Bahkan keluarganya pun menjadi sasaran untuk menekan dirinya.
Namun teror sudah menjadi ‘makanan’ harian. Dia pernah diancam dipenjara sampai dibunuh. Itu karena Retno tidak takut ungkap keganjilan sekolah dan pendidikan di Indonesia.
Apa yang melatarbelakangi keberanian Retno? Dan apa saja modus korupsi dan penyimpangan di sekolah?
Simak wawancara dengan Retno pekan lalu dalam perbincangan santai di kedai kopi di kawasan Senayan:
Anda menggugat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena memecat Anda sebagai Kepala Sekolah SMA 3 Jakarta. Setelah menang, apa yang akan Anda lakukan?
Niat mereka memecat saya sebagai PNS. Itu terungkap saat di Ombudsman. Ombudsman membujuk saya saat pertemuan terpisah dengan pihak Disdik Pemprov DKI, untuk tidak persoalkan surat itu agar saya selamat dari pemecatan. Saya menangkap pesan akan dipecat ketika menggugat dan terbukti di pengadilan saya salah. Itu bukan ancaman pertama.
Memecat PNS seperti saya kan sulit sekali, apalagi karena kesalahan sepele. Dalam keputusan hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta, kesalahan yang saya perbuat adalah kesalahan ringan. Hukumannya adalah teguran. Bukan dihukum berat dengan pencopotan jabatan. Maka Kepala Dinas DKI Jakarta Arie Budiman disebut melakukan pelanggaran.
Maka itu, Kepala Dinas Pendidikan diperintahkan mencabut surat keputusan itu karena batal demi hukum. Nama baik saya diperintahkan untuk dipulihkan, dan jabatan saya sebagai kepala sekolah harus dikembalikan.
Tapi kalau saya secara pribadi menggugat itu bukan untuk mencari jabatan, bahkan menjadi kepala sekolah lagi sudah saya tolak. Saya ingin melawan kewenang-wenangan saja. Saya menggugat untuk menguji di PTUN sesuai aturan atau tidak surat itu. Begitu gugatan saya diterima, maka saya otomatis jadi kepala sekolah SMA 3 lagi. Tapi tidak harus di sana, karena hakim memutuskan diserahkan ke dinas pendidikan.
Hal sepele, tapi Disdik DKI Jakarta menanggapi serius apa yang Anda perbuat…
Laporan ini saya menilai karena dilandasi kebencian. Saya membongkar korupsi di SMA 76. Saya sadar, musuh saya banyak. Saya 12 tahun melawan korupsi pendidikan. Saya pernah diancam dibunuh, dipecat dan sebagainya. Sudah biasa.
Saya membongkar skandal sekolah yang mendapatkan kursi, meja, dan lemari tiap akhir tahun. Tanpa diminta, itu dikirim semua ke sekolah. Tapi besoknya dipindahkan lagi ke sekolah lain. Jadi beli barang sedikit, rapi seolah-olah semua sekolah dapat.
Lalu uang Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) distor sekian persen ke dinas pendidikan. Ada pengelolaan yang salah di dana itu. Lalu pembayaran kurban Rp500 ribu saat Idul Adha pakai dana BOP dari Anggaran Pendapatan dan Belanda Daerah (APBD). Distor ke suku dinas dan dinas pendidikan. Ini seluruh sekolah distor. Saat saya tanya, katanya itu dikatakan sudah biasa. Itu berapa miliar terkumpul.
Pendidikan macam apa yang dibangun di negeri ini? Ketika gurunya tidak kritis, tidak berani, tidak kreatif, dan selalu takut. Karena guru yang tidak kreatif, tidak akan membuat anak didiknya kreatif.
Anda PNS dan guru, apakah Anda tidak mempunyai ketakutan tentang karier Anda akan terhambat?
Ini semua menjadi pelajaran untuk saya , sudah 11 tahun saya menjadi klien Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Termasuk saat digugat Akbar Tanjung Rp10 miliar karena tulisan saya, melawan kebijakan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), menjadi saksi di Mahkamah Konstitusi. Akhirnya saya belajar hukum, karena saya rentan dikenai hukum. Suatu saat kalau kena kasus lagi, saya ingin menjadi lawyer untuk diri sendiri.
Apa yang mendorong Anda untuk melakukan perlawanan?
Saya berpendapat untuk menumbuhkan orang untuk kritis itu harus banyak baca dan nulis. Karena untuk menuangkan isi pikiran dalam tulisan itu kan harus sistematis agar pembaca mengerti. Saya suka nulis dari kecil, tulis puisi dan cerpen dan dimuat di Majalah Bobo.
Tapi guru tidak pernah menghargai saya menulis. Sampai SMA, selalu memandang tulisan saya jelek. Mencoret-coret EYD, tidak ke substansi tulisan. Sampai saya SMA kelas II, saya mengenal Kelompok Ilmiah Remaja Jakarta Utara (Kirju). Saya belajar meneliti dan nulis. Kami menang beberapa lomba.
Tim saya di sana semua orang miskin, orang Tanjung Priok semua. Saya juga, meski tinggal di Kelapa Gading. Saya anak tentara, yang pangkat ayah saya bukan perwira tinggi. Terakhir pangkat ayah saya kapten.
Saat itu saya mencari buku-buku yang dilarang orde baru. Kenapa Karl Marx dilarang? Saat itu banyak buku-buku kiriman dari Australia. Tapi kami kami mendapat foto copinya saja. Ternyata buku-buku kiri yang dilarang itu buku yang mengasyikkan. Keberpihakan ke yang lemah dan melawan ketidakadilan. Jadi apa yang saya baca itu mempengaruhi cara saya berpikir.
Ketika itu saya ingin jadi guru karena saya ingin mempengaruhi anak-anak muda. Ayah saya nggak perbolehkan karena uangnya nggak banyak. Dia mengancam kalau kuliah guru, nggak mau biayakan. Saat itu masuk IKIP Jakarta (sekarang UNJ) bayarnya Rp106 ribu persemester. Jadi saya berpikir kayaknya bisa. Saya bayar masuk perguruan tinggi dari honor nulis opini saya di koran. Saya dua kali menulis, Rp5 ribunya saya mengutang.
Saat kuliah tingkat satu, saya ditawari menjadi periset oleh seseorang. Saya bisa keliling Indonesia, ke mana-mana. Gaji saya Rp550 ribu, tapi bayaran IKIP Jakarta Rp106 ribu persemester.
Di lingkungan guru, saya beda. Karena memang guru-guru banyak yang penakut. Jadi guru yang seperti ini, awalnya saya dijadikan tumpuan melawan kepala sekolah yang nggak benar. Saya juga mengkoordinir anak-anak OSIS untuk melawan kebijakan yang nggak benar.
Lagi pula sebagai PNS, saya harus patuh terhadap perundang-undangan. Bukan atasan. Makanya saya merasa apa yang saya lakukan, berarti bagi diri saya.
Anda menjadi Sekjen FSGI, bagaimana awal mula organiasasi itu berdiri?
Kami nggak berpikir FSGI ini pesaing PGRI atau juga PGRI Perjuangan. Saya pernah menjadi anggota PGRI, sampai satu hari saya digugat Akbar Tanjung atas buku saya. Ini buku pertama, dan didigugat pula. Itu buku pelajaran Buku PKn kelas X – XII SMA KBK. Tahun 2005, Akbar menggugat Rp10 miliar kalau saya tidak menghapus sebuah bahan diskusi atau pengayaan. Tema diskusi itu menggunakan artikel.
Saat itu Akbar dibebaskan di kasus Bulog Gate, saya tidak tertarik mengangkat Akbar dibebaskan. Saya mengangkat pendapat hakim yang berbeda, dari 5 hakim ada satu yang berpendapat berbeda, yaitu Hakim Agung, Abdurrahman Saleh. Dia menampilkan hal berbeda, berat lah saat itu. Melawan arus juga.
Saya angkat pemikiran dia, Akbar tidak pantas dibebaskan. Di buku itu saya bertanya, “apakah kasus ini memenuhi rasa keadilan?”, Siswa diminta menganalisis. Tulisan pendapat hakim itu saya ambil dari koran dan saya tempel di situ. Anak-anak diminta analisa, apakah putusan itu hakim itu adil?
Saat itu Akbar punya anak di Sekolah Santa Ursula dan menggunakan buku saya. Saat itu ketika Akbar menggugat, saya datang ke PGRI karena saya anggotanya. Tapi PGRi tidak menolong saya. Alasanya karena saya digugat sebagai penulis, bukan guru. Aneh, karena yang saya tulis buku pelajaran. Setelah itu saya putuskan keluar dari PGRI.
Saya pun dibantu YLBHI. Akhirnya Akbar justru mundur dan mengajak damai. Setelah itu 2005 saya kuliah S2 di Universitas Indonesia dan selesai tahun 2007. Selesai kuliah, saya belum masuk organisasi guru.
Tahun 2010, ada perbedaan tunjangan guru struktural daerah dengan yang di Jakarta. Saya melawan dan tunjangan itu berhasil disamakan. Saat itu saya dan teman-teman mendirikan organisasi lokal guru Jakarta, Serikat Guru Indonesia Jakarta. Tahu-tahu ada 8 daerah mengajak berkumpul dan membuat federasi, dan lahirlah FSGI di 2011.
Saya dipilih jadi Sekjen. Saya pemimpin organisasi guru satu-satunya yang perempuan. Kami kiprahnya melawan kebijakan. Membangun kebijakan yang lebih baik.
Anda lebih suka disebut guru atau aktivis?
Saya guru, dan aktivis juga. Saya aktivis guru yang memimpin organisasi profesi. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pernah menyebut FSGI ini LSM, padahal FSGI ini organisasi profesi. Ahok pernah bilang juga, “jangan jadi kepala sekolah kalau ingin pimpin organisasi guru,” itu salah.
Dalam UU Guru Dosen, Pasal 1 Butir 13 dalam UU 14/2005 menyebutkan organisasi profesi guru yang didirikan dan diurus oleh guru. Jadi bekas guru nggak boleh, yang bukan guru nggak boleh, apalagi politisi kayak PGRI. Masa yang mimpi politisi. PGRI di Jakarta dipimpin Kepala Badan Kepegawaian Daweah, itu melanggar. Makanya Pak Jokowi menyampaikan sambutan tertulis dalam ulang tahun PGRI Deember 2015 lalu yang dibacakan Puan. Dia bicara penataan organisasi profesi guru.
Kata Pak Jokowi, guru dipolitisasi. Kalau guru diurus kayak begini, nggak akan kritis guru. Banyak kepala dinas dan kepala sekolah diturunkan setelah Pilkada gara-gara incumbent nggak terpilih lagi.
Reformasi sistem pendidikan digaungkan tiap tahun, tapi sangat luas mana yang harus diubah. Menurut Anda mana yang harus lebih dulu diubah dari sistem pendidikan ini?
Permasalahan pendidikan itu dibagi dalam dua hal, kualitas dan akses. Kalau bicara sistem, maka kebijakan bermain. Kalau bicara persoalan, kualitas pendidikan Indonesia rendah. Gurunya rendah. Misal hasil penelitian world bank tahun 2012, menyatakan dari 12 negara Asia, Indonesia di posisi 12. Kualitas yan paling rendah.
Dari sisi hasil ujian kompetensi guru, guru hanya mendapatkan 4,3 dari rata-rata nilai dari paling tinggi 7. Dari sisi murid, itu menujukan rendah. Hasil kita di nomor buncit kok. Anak Indonesia hanya membaca 27 halaman buku pertahun. Padahal nggak ada buku yang dicetak di bawah 50 lembar. Jadi artinya murid membaca nol buku pertahun. Soal kualitas, Indonesia di urutan 39 dari 40 negara di 2014. Sistem itu siapa yang ciptakan, pemerintah.
Jadi untuk membenahi itu, bukan mengganti kurikulum. Tapi membangun kapasitas guru. Kalau gurunya berkualitas, muridnya akan berkualitas. FSGI pernah mensurvei tentang pelatihan untuk guru, karena pemerintah ini sangat kurang dalam memberikan pelatihan. Hasilnya 62 persen guru SD dari 29 SD di kota/kabupaten nggak pernah ikut pelatihan, bahkan menjelang pensiun. Guru itu harus di-charger, diupdate. Itu harus dibangun lewat sistem pemerintah.
Di Finlandia, SD-SMP nggak ada ujian nasional. UN ada di SMA, untuk menjaring masuk ke perguruan tinggi. Nilai kejujuran sudah ditanamkan. Di Indonesia, UN menjadi berhala. Kami setuju UN ada, tapi bukan untuk menentukan kelulusan.
Tapi sekarang dipakai untuk pemetaan. Misal ada SMA di NTT, nilai matematikanya jelek, ternyata guru matematikanya nggak ada yang benar. Gurunya harus dilatih. Ketika hasil pemetaan terpotret, maka ada reaksi yang dilakukan pemerintah.
Standar UN bisa dilakukan jika semua sekolah atau daerah sudah terpenuhi fasilitas yang sama. Jangan sampai ada murid yang mau sekolah sampai jalan 7 jam. Beda dong sama yang naik motor atau mobil.
___
Retno Listyarti, lahir di Jakarta, 24 Mei 1970. Sebagai PNS, dia berpangkat Pembina dengan golongan Iva. Retno adalah guru PPKn. Dia lulusan S2 Ilmu Politik di Uiversitas Indonesia. Ibu 3 anak itu sudah menghasilkan 10 buku dan belasan prestasi di bidang akademik, penulisan dan penelitian.
Selain menjadi guru, dia juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru indonesia (FSGI). Tahun ini masa tugasnya selesai. Retno dikenal sebagai sosok guru yang berani mengungkap korupsi di bidang pendidikan, terutama di sekolah Jakarta.
Dia pernah mengembalikan sisa dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) sebesar Rp 400 Juta pada akhir 2014. Hal itu dilakukannya saat masih menjabat sebagai Kepala SMA 76.
Sumber: Suara.Com 

Jumat, 13 Januari 2017

Musisi dan Penulis itu Bernama Jeffar Lumban Gaol

JUMAT 13 JANUARI 2017 08:11 WIB

Pernahkah anda melihat film berjudul, "Kiri Hijau, Kanan Merah". Ya film pendek yang mengisahkan perjuangan Cak Munir. Nah, saat melihat film itu, pernahkah anda mendengarkan salah satu soundtrak film itu yang berjudul "Blues untuk Munir"?
Ya, lagu "Blues untuk Munir" itu adalah ciptaan dari Bang Jeffar, begitu saya akrab memanggil Jeffar Lumban Gaol. Anehnya, Bang Jeffar baru tahu kalau lagunya digunakan untuk soundtrak film "Kiri Hijau, Kanan Merah" pada sekitar tahun 2014, setelah film itu diupload di youtube tahun 2011.
Beruntung bagi saya diberikan kesempatan untuk mengenal Bang Jeffar secara dekat. Saya mengenal Bang Jeffar, saat saya bekerja di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Bang Jeffar bukan hanya seniman musik. Ia adalah penulis sekaligus editor bagi para jurnalis masyarakat adat yang berada di seluruh penjuru nusantara.
Meski seorang aktivis, Bang Jeffar, adalah orang yang selalu taat pada kaidah jurnalistik saat menulis. "Cover Both Side dan verifikasi," kata Bang Jeffar pada suatu pelatihan menulis untuk Jurnalis Warga Masyarakat Adat yang diselenggarakan oleh AMAN di Jakarta pada akhir 2014.
Meski taat pada kaidah jurnalistik, Bang Jeffar tetap tidak bisa menyembunyikan keberpihakannya terhadap perjuangan masyarakat adat yang tertindas. Salah satu mimpinya adalah masyarakat adat di seluruh pelosok nusantara bisa menuliskan apa yang terjadi di wilayah adatnya. "Jangan tergantung pada media massa mainstream (arus utama)," katanya.
Kami sama-sama penganggum tulisannya Pramoedya Ananta Toer. Kadang di saat senggang kami berdiskusi tentang karya-karya Pram.
Suatu hari kami merencanakan menggelar pelatihan jurnalis warga masyarakat adat di Jogjakarta. Kenapa harus memilih Jogjakarta sebagai lokasinya? Ternyata bukan tanpa sebab. Bang Jeffar ingin, nantinya peserta pelatihan, para jurnalis warga masyarakat adat itu, meliput perjuangan petani Kulonprogo yang terancam proyek tambang pasir besi dan bandara internasional. "Konflik agraria di Jogjakarta menarik karena ada pihak kesultanan di sana," katanya, "Kan selama ini Sultan-sultan mengaku sebagai masyarakat hukum adat."
Wow...keren. Namun sayang rencana itu belum pernah terealisasi hingga saya pindah kerja dari AMAN pada awal 2015.
Kini, Bang Jeffar telah pergi menghadap Sang Pencipta. Ia pergi terlalu cepat dan mendadak. Padahal beberapa hari sebelum kepergiannya, ia sempat membagi link lagu "Blues untuk Munir" di akun facebooknya. Setelah kepergiannya, saya baru sadar, mungkin saat membagi link lagu "Blues untuk Munir", Bang Jeffar sedang berpamitan bahwa tak lama lagi ia akan menyusul Cak Munir ke surga. Selamat jalan Bang Jeffar...

https://indonesiana.tempo.co/read/106901/2017/01/13/firdaus_c/musisi-dan-penulis-itu-bernama-jeffar-lumban-gaol

Senin, 31 Oktober 2016

Menurut Ilmuwan dan Penulis Penerima Pulitzer Ini, Indonesia Salah Satu Negara yang Sebentar Lagi Punah

31 October 2016

Jared Diamond
Jared Diamond, ilmuwan asal Amerika Serikat yang juga peraih penghargaan bergengsi Pulitzer 1997, dalam sebuah pidatonya pernah mengatakan bahwa negara seperti, Indonesia, Columbia dan Philipina, adalah contoh termasuk peradaban yang sebentar lagi akan punah.
Berikut pernyataan lengkapnya:




Ketika bangsa Cina ingin hidup tenang, mereka membangun tembok Cina yang sangat besar.
Mereka berkeyakinan tidak akan ada orang yang sanggup menerobosnya karena tinggi sekali.
Akan tetapi 100 tahun pertama setelah tembok selesai dibangun, Cina terlibat tiga kali perperangan besar.
Pada setiap kali perperangan itu, pasukan musuh tidak menghancurkan tembok atau memanjatnya, tapi cukup dengan menyogok penjaga pintu gerbang.
Cina di zaman itu terlalu sibuk dengan pembangunan tembok, tapi mereka lupa membangun manusia.
Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.
Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:
1. Hancurkan tatanan keluarga
2. Hancurkan pendidikan
3. Hancurkan keteladanan dari para tokoh dan rohaniawan (ulama, ustadz, habaib, pendeta dsb)
Untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan ibu-ibu agar sibuk dengan dunia luar, menyerahkan urusan rumah tangga kepada pembantu.
Para ibu akan lebih bangga menjadi wanita karir ketimbang ibu rumah tangga dengan dalih hak asasi dan emansipasi.
Kedua, pendidikan bisa dihancurkan dengan cara mengabaikan peran guru. Kurangi penghargaan terhadap mereka, alihkan perhatian mereka sebagai pendidik dengan berbagai macam kewajiban administratif, dengan tujuan materi semata, hingga mereka abai terhadap fungsi utama sebagai pendidik, sehingga semua siswa meremehkannya.
Ketiga, untuk menghancurkan keteladanan para tokoh masyarakat dan ulama atau rohaniawan adalah dengan cara melibatkan mereka kedalam politik praktis yang berorientasi materi dan jabatan semata, hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai. Tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi meneladani perbuatannya.
Apabila ibu rumah tangga sudah hilang, para guru yang ikhlas lenyap dan para rohaniawan dan tokoh panutan sudah sirna, maka siapa lagi yang akan mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur?
Itulah awal kehancuran yang sesungguhnya. Saat itulah kehancuran bangsa akan terjadi, sekalipun tubuhnya dibungkus oleh pakaian mewah, bangunan fisik yang megah, dan dibawa dengan kendaraan yang mewah.
Semuanya tak akan berarti apa apa, rapuh dan lemah tanpa jiwa yang tangguh.
Tentang Jared:
Nama lengkap Jared Mason Diamond, lahir 10 September 1937. Ia adalah ilmuwan berkebangsaan Amerika Serikat dan penulis buku-buku ilmiah terkemuka. Bukunya yang berjudul Guns, Germs, and Steel yang terbit tahun 1997 meraih penghargaan Pulitzer.
Meskipun berlatar belakang Fisiologi, Jared juga terkenal pada bidang Antropologi, Ekologi, Geografi dan Biologi cabang evolusi.
Tahun 2005 ia masuk dalam daftar Top 100 intelektual terkemuka dunia.
Sumber: JurnalIndonesia 

Senin, 03 Oktober 2016

Orang Terpelajar dan Homeschooling

Reporter: Petrik Matanasi | 03 Oktober, 2016

Ilustrasi Homeschooling [Foto/Shutterstock]
  • Meski banyak menerapkan homeschooling kurang mendapat perhatian pemerintah
  • Agus Salim adalah pesohor penting Indonesia yang sukses dengan homeschooling
  • Tokoh nasional hasil homeschooling adalah, kakak Sutan Syahrir, Rohana Kudus
  • Penyanyi pop Imaniar termasuk produk homeschooling Said Kelana

Homeschooling telah menghasilkan orang-orang berguna, beberapa di antaranya bahkan secerdas ilmuwan. Dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia, Agus Salim merupakan contoh penting. Sementara di dunia musik pop ada Said Kelana.

Homeschooling atau belajar di rumah mulai menjadi tren di Indonesia. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2015, terdapat 11 ribu anak usia sekolah yang homeschooling. 

Dirjen Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Hamid Muhammad, menyebut konsep dasar homeschooling adalah anak-anak belajar mandiri di rumah, dibimbing orangtua atau guru yang datang ke rumah. Ada tiga macam homeschooling, yakni yang hanya dilaksanakan satu keluarga atau homeschooling tunggal, yang dilaksanakan beberapa keluarga atau homeschooling majemuk, dan homeschooling yang dilakukan dalam komunitas dalam penyusunan kurikulum dan perangkat lainnya. 

Di Indonesia, homeschooling masih jauh dari ideal dan kurang diakui ijazahnya dibanding sistem sekolah konvensional. Pendidikan di Indonesia hanya masih sebatas sekolah. Meski demikian, homeschooling sudah melahirkan sejumlah tokoh terkemuka. Tokoh pendidikan anak, Seto Mulyadi, dalam buku Homeschooling Keluarga Kak Seto (2007) menyebutkan, cukup banyak yang menjadi tokoh pergerakan nasional, di antaranya adalah Ki Hadjar Dewantara dan Buya Hamka. 

Banyak para kiai, buya, dan tuan guru secara khusus mendidik anak-anaknya di rumah, juga di pesantren orang tua mereka. Tentu saja diantara anak-anak pemuka agama itu di waktu yang lain belajar juga di pesantren yang jauh dari rumahnya. Anak-anak bangsawan pun sejak dulu juga menerapkan homeschooling, ketika sekolah belum dikenal masyarakat Indonesia. 

Pendidikan nyaris selalu diartikan sebagai sekolah dan orang tak bersekolah sama saja dengan orang tak berpendidikan. Hingga orang-orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya ke sekolah terbaik, agar anak mereka jadi yang terbaik. Orang-orang tampaknya lupa, Thomas Alva Edison bukan hasil sebuah sekolah. Sekolah bahkan menilai Edison adalah anak bodoh. Beruntungnya, Nancy Matthews Elliott, sang ibu jauh lebih mengerti Thomas Alva Edison kecil ketimbang lembaga pendidikan bernama sekolah. Setelah tak bersekolah, dia justru cemerlang. Dia pernah membuat surat kabar pada usia belasan tahun dan dunia mengenalnya sebagai penemu dengan banyak hak paten.

Pendidikan di rumah atau sekolah di rumah bukan barang baru dalam dunia pendidikan. Meski tidak disebut homeschooling, manusia di zaman purba belajar di lingkungan keluarganya. Meski tak tinggal dalam lingkungan yang disebut rumah. Mereka hidup di goa. Orang tua mengajarkan mereka bagaimana mereka bertahan hidup. Begitu pun setelah zaman berburu dan pindah-pindah berlalu. Keluarga adalah pendidik terpenting jauh sebelum zaman modern dimana sekolah menjadi candu.

Orang Terpelajar dan Homeschooling

Di zaman modern ini pun rupanya tak semua orang tua percaya pada lembaga bernama sekolah, dengan berbagai alasan. Setiap anak didik punya keistimewaan masing-masing. Sekolah sebagai lembaga pendidikan seringkali memberi formula atau kurikulum yang sama dalam mendidik siswa. Ketidakpercayaan orang tua pada sekolah seringkali agar anaknya tidak menjadi apa yang dimaui lembaga sekolah, yang biasanya dimiliki atau dikontrol sebuah yayasan atau pemerintahan. Orang tua ini juga punya cara dan persepsi sendiri tentang bagaimana mendidik anak. Haji Agus Salim termasuk orang tua golongan ini. 

Haji Agus Salim tergolong unik. Meski dia adalah lulusan terbaik HBS KW III Jakarta, Salim justru tak suka menyekolahkan anak-anaknya. Dia mendidik anak-anaknya bersama istrinya di rumah. Tentu saja mereka diajarkan baca tulis. Karena bahasa Belanda adalah bahasa pergaulan di masa kolonial, meski dia tokoh Islam, Agus Salim, tetap membiasakan anak-anaknya berbahasa Belanda sejak kecil. Di rumah kontrakannya yang bocor di kala hujan, Salim kadang mengajak anaknya bermain kapal-kapalan. Saat itulah anak-anaknya belajar sambil bermain. 
Dari rumah keluarga Agus Salim itu nasionalisme dan semangat kemerdekaan digelorakan Agus Salim. Menurut Sutrisno Kuntoyo dkk dalam buku H. Agus Salim: Riwayat Hidup dan Perjuangannya (2001), “bibit kebangsaan perlu ditanamkan kepada anak-anak di samping pelajaran lainnya.... Agus Salim mempunyai cara yang unik atau lain daripada yang lain dalam mendidik putra-putrinya.”
Anak-anak Agus Salim memang terbiasa dengan pergerakan nasional. Theodora Atia yang disapa Dolly, turut serta dalam Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928, yang melahirkan Sumpah Pemuda. Rosihan Anwar, dalam Sejarah Kecil La Petite Histoire Indonesia Jilid 3 (2004), menyebut Dolly ikut bernyanyi memperkenalkan lagu Indonesia Raya yang diciptakan Wage Rudolf Supratman. Dalam revolusi fisik, setidaknya dua anak laki-lakinya jadi tentara juga. Achmad Syauket Salim bahkan gugur dalam Peristiwa Lengkong pada 25 Januari 1945. Islam Basari Salim sampai berpangkat Kolonel, dia satu angkatan dengan Kemal Idris, Daan Mogot di PETA.

Agus Salim, melalui homeschooling juga mengajari anak-anaknya untuk kuat sebagai manusia bagian dari pergerakan nasional yang merupakan musuh pemerintah kolonial. Salah seorang putrinya, Violet Hanisah, adalah istri dari tokoh pergerakan bawah tanah yang anti Belanda dan anti Jepang, Johan Sjahruzah. Sang suami merupakan keponakan dari Sutan Syahrir, bahkan ikut serta dalam partai Syahrir, Partai Sosialis Indonesia (PSI). 

Jika Pahlawan Nasional Haji Agus Salim berlaku sebagai guru dalam homeschooling, maka Rohana Kudus adalah siswanya. Rohana yang anak dari Mohammad Rasad, seorang Jaksa asal Kotogadang, yang juga ayah dari Sutan Syahrir. Hanya beda ibu saja. Rohana memang tak pernah sekolah, tak seperti Syahrir dan anak laki-laki ayahnya yang lain. 
“Pada usia enam tahun sudah belajar membaca dan menulis pada seorang isteri Jaksa di Alahan Panjang,” tulis Fitriyanti dalam Rohana Kudus: Wartawan Perempuan Pertama Indonesia (2005). Di usia delapan tahun, Rohana membiasakan diri membacakan koran ke ayahnya hingga dia makin lancar membaca. Ayahnya pun sering membawakan bacaan-bacaan untuknya. Lama-kelamaan dia bisa menulis juga, selain keterampilan menjahit dan merajut. Rohana termasuk tokoh pers dan pendidikan perempuan. 
Di kalangan pemusik, soal homeschooling, Said Kelana pun menjadi guru musik bagi anak-anaknya. Menurut Denny Sakrie dalam 100 Tahun Musik Indonesia(2015), Idham Noorsaid, Iromy Noorsaid, Lydia Noorsaid, dan Imaniar Noorsaid belajar jadi musisi sejak kecil. Keluarga ini punya band The Kids, yang merupakan band bocah awal-awal dalam sejarah musik pop Indonesia. Dari anak-anak Said Kelana, di dekade silam Imaniar yang paling dikenal. 
Sumber: Tirto.Id 

Minggu, 11 September 2016

Soekarno, Ahli Indonesia dari Rusia dan Makam Utuy Tatang Sontani di Moskwa

Minggu, 11 Sep 2016 - 10:12 | Alex Supartono*



MOSKWA-Di pinggir jalan yang sunyi, sebelum memasuki pemakaman muslim di daerah Moskow, Rusia. Ludmila Demidyuk, yang berjaket hitam dan bertas merah tua, masih sempat membeli beberapa kumtum kembang berwarna kuning, merah dan ungu.
Langkah setengah gontai. Wajahnya sedikit gemas, sebab bertandang ke pemakaman muslim itu, sama saja ia berjalan menuju kenangan sepanjang bersama sastrawaan ternama Indonesia, Utuy Tatang Sontany.
Di pemakaman itu, pada 1979, Utuy dikubur dan Ludmila ikut berdiri di sana menyampaikan pidato terakhirnya.
Utuy dimakamkan di pemakaman muslim, namun cara-cara pemakamannya dilakukan ala Rusia, jelas Ludmila dalam bahasa Indonesia yang fasih.
Ludmila yang kini masih aktif mengajar sastra Indonesia di Universitas Moskow itu, memang punya kenangan tersendiri terhadap Utuy.
Saat pertama Utuy datang ke Moskow, Ludmila sebenarnya sudah menjadi dosen. Namun karena cara mengajar Utuy begitu memesona, Ludmila pun kerap hadir di kelas Utuy mengajar.
Kesaksian Ludmila ini tampak hadir mengalir dalam film dokumenter Gerimis Kenangan dari Sahabat Terlupakan karya Seno Joko Suyono yang dipuar dalam rangkaian Netpac Asian Film Festival di Yogyakarta, kemarin.
Film yang baru dibuat Maret lalu itu memang cukup menakjubkan dilihat dari gagasan yang diusungnya. Film itu merangkum sejumlah pandangan dan kenangan para ahli Indonesia di Rusia, yang ternyata jumlahnya sangat banyak, namun selama ini tersisihkan dari sejarah kebudayaan Indonesia.
Bayangkan, film ini berhasil menggali pandangan dan kenangan orang-orang seperti Vladilen Tsyganov, Yuri Sholmov, Vladilen Vasilievich Sigaev, Vladimir Losyagin, Lev Dyomin, Natalia Alieva, Vilen Sikorsky, Larissa Efimova, Lyudmila Pakhomova, Aleksey Drugov (di Moskow), Aleksander Oglobin, Aleksndra Ksatkina, Elena Revunenkova, dan Irina Katkova (di St. Petersburg)
“Mereka semua ahli Indonesia, bahkan di antara mereka adalah ahli di bidang yang sudah jarang dikuasai oleh orang Indonesia, seperti Alek-sandra Ksatkina yang ahli bahasa Jawa Kuno dan Elena Revunen-kova yang ahli kosmologi dan agama Batak,” jelas Seno.
Di sisi lain, di antara mereka pun ada yang terlibat secara intens dalam sejarah kemerdekaan RI dulu. Seperti Sigaev yang cukup dekat dengan Soekarno, karena ketika presiden pertama RI berkunjung ke Rusia pada 1956, Sigaev pula yang bertindak sebagai penerjemah Soekarno, sekaligus orang yang menemaninya berpidato di sejumlah stadion besar yang dihadiri ratusan ribu warga Rusia, dan saat menerima doctor honoris causa dari Universitas Moskow.
Begitu juga dengan Yuri Sholmov yang membantu Jenderal AH Nasution saat melobi pemerintahan Rusia untuk menyubsidi senjata dalam konteks merebuit Irian Barat (sekarang Papua).
“Selama ini khazanah politik dan kebudayaan kita selalu bersumber dari versi Amerika, Belanda dan Australia, sementara versi Rusia sangat jarang. Padahal Rusia pada masa kemerdekaan berpengaruh besar terhadap nasib republik ini,” jelas Mudji Sutrisno yang menjadi produser film ini bersama Taufik Rahzen
Nasi Goreng dan Orang Rusia
Kenikmatan nasi goreng khas Indonesia juga tak bisa disangkal Mikhail Kouritsyn. Setiap mampir ke Indonesia, orang Rusia ini takkan lupa menyantapnya.
“Saya suka nasi goreng, mi goreng, juga nasi putih dan sayur-sayuran Indonesia,” ujar Mikhail saat berjumpa di gedung BPK Rusia di Moskow, pertengahan Mei lalu.
Indonesia tak terpisahkan dari Mikhail. Bahasa Indonesianya lancar, jelas, jernih, dengan struktur sempurna dan kaya kosa kata. Tidak ada logat-logat unik khas orang asing yang biasa ditemukan saat dia bicara dengan bahasa selain bahasa ibunya.
Tak ayal, Dubes Indonesia untuk Federasi Rusia dan Belarusia, Djauhari Oratmangun, mencandai Mikhail sebagai “orang Indonesia hanya saja kulitnya putih dan suka sambal.”
Mendengar joke itu, Mikhail menjawab,”Saya sering ke Jakarta jadi tidak putih lagi.”
Mikhail adalah Direktur Eksekutif Masyarakat Persahabatan Rusia-Indonesia. Dia juga Direktur Eksekutif Dewan Bisnis Rusia-Indonesia, selain Chairman dan CEO Geo Spectrum Group. “Saya belajar bahasa Indonesia sepanjang hidup saya,” ujarnya saat ditanya berapa lama dia belajar bahasa Indonesia sehingga bisa sefasih itu.
Namun yang pasti, kehandalan bahasa Indonesianya bermula saat dia berdinas sebagai staf senior di Kantor Konselor Ekonomi Kedubes Rusia di Jakarta pada masa Uni Soviet tahun 1985-1990.
“Kalau saya ke Indonesia, saya tidak suka masakan Eropa,” tambah pria tinggi besar kelahiran 1957 ini.
 Anak-istri Mikhail juga cinta masakan Indonesia. “Keluarga saya pernah di Indonesia, mereka juga suka masakan Indonesia,” cerita Mikhail yang melihat banyak perubahan di Indonesia ini.

Setelah kembali ke Rusia, cita rasa masakan Indonesia masih tetap lekat di lidah keluarga Mikhail. “Kami bahkan membawa rempah-rempah Indonesia.”
Setelah perjumpaan di Moskow tersebut, Mikhail menemani ahli konstitusi yang juga Sekjen BPK Rusia Sergey M Shahray terbang ke Jakarta untuk bertemu dengan mitranya. Jangan lupa menikmati nasi goreng. Sedaap!
Sahabat Indonesia yang setia. Itu gelar yang diberikan orang-orang yang mengenal Prof. Dr. Vladilen Tsygnov. Sejarawan dan penstudi Indonesia dari Rusia itu meninggal dunia di Moskow, hari Senin lalu (7/2) dalam usia 78 akibat pendarahan di otak.
Tsygnov memimpin Bagian Penerangan Kedutaan Besar Uni Soviet (Bapus) di era 1970an yang saat itu berada di di Jalan Waringin, Jakarta. Selama di Jakarta, kebanyakan waktunya digunakan untuk mempelajari kronik sejarah perjuangan Indonesia.
Selain itu, ia juga mendedikasikan waktunya pada Lembaga Persahabatan dan Kerjasama Rusia-Indonesia. Di lembaga itu ia pernah menjadi wakil presiden. Pada HUT ke-65 Republik Indonesia, tahun 2010 lalu, bersama sejumlah peneliti dan pencinta Indonesia, Tsygnov mendapatkan bintang kehormatan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Moskow. Tsygnov dan teman-temannya dianggap memainkan pranan penting dalam mendekatkan hubungan kedua negara, di masa lalu juga masa kini.
Dr. Tsyganov mengajar sejarah Indonesia di Institut Negeri-negeri Asia dan Afrika (ISAA) yang berada di bawah Universitas Moskow sejak tahun 1965, sampai, boleh dikatakan, detik terakhir hidupnya. Saat sakit di bulan Januari lalu ia masih menyempatkan diri mendatangi tempat kerjanya. Dr. Tsyganov juga telah dianugerahi gelar Profesor Berjasa Universitas Negara Moskow pada tahun 2010.
Selain ratusan artikel, Tsyganov juga mengarang sejumlah karya fundamental mengenai sejarah Indonesia yang ditulisnya dalam dua jilid. Sebuah buku mengenai partai-partai nasional revolusioner di Indonesia pun pernah ditulisnya. Bersama Prof. Tyurin, ia sempat menulis buku sejarah Malaysia.
Vladilen Tsyganov adalah alumni Institut Ketimuran yang berada di bawah Universitas Moskow. Ia merupakan salah seorang murid sejarawan kaliber dunia yang juga pendiri sekolah penelitian ilmiah tentang Indonesia dan Pilipina, Prof. Dr. Alexander Guber yang hidup antara 1902 hingga 1971. Prof. Tsyganov menjadi salah seorang pengarang dan penyusun sebuah buku mengenai kehidupan dan kegiatan Prof. Guber.
Dr. Tsyganov menghargai amat tinggi proklamator dan pemimpin tersohor Republik Indonesia yang juga salah seorang pendiri Gerakan Non-Blok, Bung Karno . Ia pernah menulis sebuah artikel ilmiah berjudul “Sukarno, Pencipta dan Romantikus Ideologi Kesatuan” dalam buku besar “Bung Karno Politikus dan Personaliti” yang diterbitkan di Moskow. Sebagai tanda kehormatan terhadap pendiri Indonesia, Dr. Tsyganov selalu memakai lencana logam keperak-perakan kecil berwajah Bung Karno di kelamat jasnya.
Rekan-rekan Dr. Tsyganov mencatat jasa besarnya dalam mendidik banyak kader ahli dan aspiran jurusan Indonesia dan Malaysia di Institut Negeri-Negeri Asia dan Afrika Universitas Negara Moskow.
Prof. Tsyganov telah pergi. Tetapi rasa cintanya akan Indonesia diwariskan kepada seorang anak laki-lakinya, Mikhail Tsyganov, yang pernah cukup lama mewakili Kantor Berita RIA-Novosti di Jakarta
Kisah Sebuah Koper di Moskow
Seorang pemuda menyeret sebuah koper hampir sepanjang hayatnya. Pemuda itu adalah seorang mahasiswa Solo bernama Martinus Sugiharto. Isi koper itu adalah setumpuk tulisan asli sastrawan Utuy Tatang Sontani. Lalu kenapa Martinus rela membawa koper itu ke sana-kemari di Moskow, ke mana pun dia pergi, sebegitu berharganya bagi jiwanya sendiri?
Mahasiswa itu tengah menempuh pendidikan metalurgi di Kiev, kemudian pindah ke Moskow Uni Soviet itu, dan menganggap koper itu sebagai harta karun sastra Indonesia. Ia mengenal dan tahu siapa dan apa artinya seorang Utuy Tatang Sontani bagi sastra Indonesia. Ia nekat masuk ke bekas apartemen Utuy yang disegel. Dia mengumpulkan apa pun yang berbentuk kertas dan barang-barang pribadi Utuy dalam koper. Dia membawa koper itu ke mana dia pergi, pun ketika dia diasingkan selama belasan tahun ke Dushanbe, Tajikistan, karena menolak ber-koordinasi dengan perwakilan PKI di luar negeri. Kembali ke Moskow awal 1990-an, Martinus tetap menyimpan koper besar itu tanpa tahu harus menghubungi siapa.
Nama Utuy Tatang Sontani tidak bisa lepas dari barisan sastra eksil Indonesia, yaitu golongan sastra yang lahir dari mereka yang harus pergi dari tanah kelahirannya karena berbagai alasan, mulai dari pandangan politik yang berbeda sampai orientasi seksual yang belum bisa diterima masyarakatnya. Untuk Indonesia setelah periode Rustam Efendy di Belanda; kemudian Tan Malaka, Darsono, Musso, dan Semaun yang menerbitkan karyanya di Moskow dalam bahasa Rusia tahun 1920-an, jumlah penulis eksil Indonesia secara fenomenal menanjak sejak tragedi 1965.
Ketika tragedi itu terjadi, banyak penulis yang sedang berada di luar negeri kemudian menjadi penulis selama eksil. Karya-karyanya secara terbatas akhirnya sampai juga di Tanah Air sejak berkembangnya teknologi surat elektronik akhir abad lalu dan metode titip kawan yang kebetulan berkunjung ke luar negeri. Perlahan fenomena sastra eksil mulai menyembul dalam perbincangan sastra di Indonesia, dan pencarian lebih jauh tentangnya menjadi keharusan. Ketika penelitian “Sastra Eksil Indonesia” ini mulai dirancang, karya-karya Utuy yang dia tulis di Tiongkok (1965-1973) dan Moskow (1973-1979) menjadi salah satu target utama. Padahal informasi tentang Utuy sangat minim, selain berita kematiannya di Moskow. Sedangkan para eksil Indonesia yang masih bersisa di Moskow yang dihubungi lewat e-mail ternyata tidak banyak membantu. Di tanah eksil, Utuy menjadi semakin tertutup. Harapan lalu tumpah pada Kuslan Budiman, eksil Indonesia yang sekarang tinggal di Amsterdam. Kuslan yang juga pernah tinggal di Tiongkok adalah sahabat dan perawat Utuy sampai pemakamannya.
Dalam laporannya, Kuslan menulis: karena tidak ada wasiat dan ahli waris yang tertulis di dalamnya, apartemen Utuy dan seluruh isinya disegel polisi. Namun sebelum itu Vilen Sikorskii, akademisi Rusia ahli sastra Indonesia kontemporer yang selalu menjadi penerjemah Utuy, sempat datang mengambil naskah-naskah Utuy. Menghilang selama hampir 15 tahun dari dunia tulis-menulis Indonesia, nama Utuy Tatang Sontani muncul di harian pagi Kompas akhir September 1979, yang menulis berita kematiannya. Satyagraha Hoerip kemudian menulis in memoriam tentang dirinya di harian Sinar Harapan. Pemenang hadiah sastra BMKN untuk dramanya Sayang Ada Orang Lain ini menyisakan kejayaan sebagai sastrawan besar Indonesia ketika disemayamkan di aula utama Universitas Negara Moskow sebagai penghormatan terakhir pada salah satu guru besarnya. Sedangkan putra pertama Utuy hanya mendapatkan makam basah bapaknya, yang adalah nisan pertama yang tertancap di pemakaman Islam pertama di Moskow.
Padahal keluarga sudah berencana mengunjunginya tahun berikutnya, karena acara besar Olimpiade Moskow 1980 dapat dipakai untuk mengelabui fobi komunis Orde Baru. Proses pencarian kami tentang data penelitian sastra eksil Indonesia sampai ke perjalanan terakhirnya: Moskow. Kami bertemu dengan Vilen Sikorskii. Namun pertemuan dengan Sikorsii tak menggembirakan. Dia ingin menyerahkan sendiri naskah-naskah Utuy ke tangan orang yang akan dia pilih di Indonesia. Jadi, kalau ada keinginan agar naskah itu kembali ke Indonesia, harus disediakan tiket dan tentu uang saku untuknya. Bahkan kami tak diizinkan membuat fotokopi karyanya.
Salah satu malam sepulang dari perpustakaan bahasa asing Moskow, datanglah seorang tamu Indonesia. Setelah perkenalan singkat, dengan kecurigaan yang sangat berlebih tamu tersebut bertanya dengan sangat detail tujuan kami ke Moskow. Awal yang sedikit menjengkelkan ini ternyata berakhir dengan hebat. Sebab, tamu itu adalah Martinus Sugiharto, yang dalam dua jam pembicaraan telah memutuskan untuk menyerahkan koper itu untuk dibawa pulang ke Indonesia. Koper tersebut ternyata mendokumentasikan hampir seluruh kehidupan Utuy selama periode eksil: naskah-naskah gagal, proses editing, surat-surat, naskah yang sudah jadi, paspor, surat tugas dari Lekra, kacamata, jam tangan, peralatan melukis dan menulis, dan berlembar-lembar repro foto istrinya yang cantik. Rupanya inilah cara Utuy melawan rindu pada istri: dengan mencetak ulang satu-satunya foto yang dia miliki. Individualis yang terpesona dengan kolektivitas ini meninggal dalam kesendirian dan kekecewaannya yang sangat, namun tidak menghilangkan keyakinannya.
*Alex Supartono, Redaksi Media Kerja Budaya yang sedang menyusun antologi prosa eksil Indonesia
Sumber: Konfrontasi.Com 

Rabu, 31 Agustus 2016

Sekolah? Di Rumah Saja!

Reporter: Dea Anugrah | 31 Agustus, 2016

Ilustrasi Guru datang ke rumah, salah satu konsep dasar homeschooling. [Foto/Shuuterstock]
Homeschool atau sekolahrumah patut dipertimbangkan sebagai alternatif jika Anda tak menganggap sekolah konvensional cocok untuk Anda atau anak Anda. Lupakan anggapan bahwa anak sekolahrumah tak mampu bersosialisasi. Itu hanya stereotipe belaka.

“Aku tidak punya pilihan. Anak itu tingginya 6 kaki 4 inci (193 cm) dan dalam 6 bulan aku tahu ia bakal berkata 'persetanlah, pokoknya aku mau berhenti sekolah, kau mau apa?'”

Itu adalah perkataan David Gilmour, seorang mantan kritikus film dan novelis asal Kanada, dalam sebuah wawancara tentang memoar yang ia terbitkan pada 2008, The Film Club. Buku itu mengisahkan pengalaman David dan putranya, Jesse, ketika Jesse berusia 16 tahun dan memutuskan untuk berhenti sekolah.

Sekolah adalah mimpi buruk bagi Jesse. Ia hampir selalu mendapat nilai satu digit (dalam skala 100), dan sebabnya bukanlah ketaksanggupan mencerna pelajaran atau mengerjakan soal-soal dalam tes, melainkan daftar hadir yang bolong di sana-sini.
“Ketika anakmu tidak mau sekolah, kau menipu dirimu sendiri kalau kau pikir bisa memaksa mereka. Paksaan hanya akan mengubah anakmu jadi pembohong,” ujar David.
David lantas mengambil keputusan yang tak lazim. Ia mengizinkan Jesse berhenti sekolah dan tetap tinggal di rumahnya tanpa remaja itu perlu menanggung biaya hidupnya sendiri dengan satu syarat: setiap pekan selama tiga tahun, mereka harus menonton tiga buah film yang dipilih David dan membahasnya bersama. 

Jesse setuju, maka hari-harinya bersekolah di ruang menonton pun bergulir, dengan lanskap sinematik yang terbentang luas sebagai bahan pelajaran, dan para sineas hebat, mulai dari Akira Kurosawa hingga Stanley Kubrick, Francois Truffaut hingga Elia Kazan, sebagai guru-gurunya.

Jalan yang ditempuh David dan Jesse Gilmour itu menggarisbawahi satu hal yang kerap terlupakan: meski pendidikan wajib, sekolah formal tidak. Sekolah cuma salah satu, bukan satu-satunya, cara memperoleh pendidikan. Dan sebagai cara, tentu ia hanya patut dipilih jika ia sesuai dengan keadaan (bakat, minat, dan sebagainya) serta kehendak subjek. Mudahnya, tidak semua orang di dunia ini cocok bersekolah sebagaimana tidak semua orang cocok menjadi atlet pingpong atau pemain suling atau tukang aduk semen.

Berdasarkan keyakinan itu pula banyak orangtua memilih homeschool atau sekolahrumah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak mereka. Menurut survei US National Household Education, sekitar 3 persen anak di Amerika Serikat menjalani sekolahrumah pada tahun pelajaran 2011/12. Dan pada 2016, terdapat sekitar 2,3 juta peserta didik sekolahrumah di negara tersebut.
“Meski sekolah-sekolah formal berupaya merancang pelajaran yang sesuai bagi setiap muridnya, para guru kerap kali tetap hanya melayani 'mereka yang berada di tengah-tengah,'” tulis Chris Weller di Bussiness Insider, 20 Agustus lalu. “Terlalu banyak murid dengan kecepatan belajar yang berbeda untuk dipenuhi kebutuhannya. Sementara itu, sekolahrumah sejak awal didesain khusus bagi tiap-tiap pesertanya.”
Ken Robinson dalam buku Creative School menekankan bahwa para murid belajar secara maksimum dalam kecepatan dan cara yang berlainan. “Setiap murid adalah individu unik dengan harapan, bakat, kecemasan, gairah, dan aspirasi masing-masing,” tulisnya. “Menghadapi mereka sebagai individu adalah kunci peningkatan pencapaian".
Sebelumnya, Weller telah menulis artikel berjudul “America Hates its Gifted Kids” di Newsweek. “Sudah bukan rahasia,” tulisnya dalam artikel itu, “buat urusan pendidikan, nilai kita cuma D minus.” Ia menunjuk kecenderungan lembaga-lembaga formal untuk menyamaratakan murid sebagai salah satu sebab utama hal tersebut.

Weller mengutip temuan Program for International Student Assessment (PISA) 2012: dalam skala 1.000, nilai Amerika Serikat cuma 481 dalam matematika, 497 dalam sains, dan 498 dalam kemampuan membaca. Padahal, rata-rata internasional adalah 494 untuk matematika, 501 untuk sains, dan 496 untuk kemampuan membaca.

Indonesia juga tercantum dalam daftar tersebut, dan angkanya, sebagaimana biasa, sedap sekali: matematika 375, sains 382, dan membaca 396. Dalam matematika dan sains, Indonesia menghuni peringkat dua dari belakang, sedangkan dalam kemampuan membaca cuma enam tingkat dari kerak klasemen.

Andai benar sebab hasil buruk itu ialah penyamarataan, perbaikan tentu jauh panggang dari api. Anda ingat Samhudi, guru olahraga sebuah SMP di Sidoarjo yang diperkarakan secara hukum setelah mencubit siswanya itu, bukan? Anda tahu mengapa ia bertindak demikian? Ya, si murid menolak perintahnya menjalankan salat dhuha. Dengan memaksakan nilai yang ia percaya kepada murid, Samhudi telah menyalahgunakan kekuasaannya, dan untuk itu saja sudah sepatutnya ia dikurung di balik terali.

Keyakinan Weller dan Robinson bahwa personalisasi adalah kunci perbaikan mutu pendidikan disokong oleh data. Pada 2009, sebuah laporan tentang pencapaian akademik sekolahrumah yang meliputi data hampir 12 ribu siswa dari 50 negara bagian yang menempuh California Achievement Test, Iowa Tests of Basic Skills, dan Stanford Achievement Test pada tahun akademik 2007/08 dirilis. Nilai persentil rata-rata dalam mata pelajaran membaca, bahasa, matematika, sains, dan ilmu-ilmu sosial murid sekolah-sekolah umum adalah 50, sedangkan murid sekolahrumah jauh lebih baik, dengan rentang skor 84 hingga 89.

Penelitian Michael Cogan dari University of St. Thomas di tahun yang sama menyatakan bahwa siswa-siswi sekolahrumah cenderung lebih mudah masuk serta lebih berhasil di universitas dibandingkan lulusan sekolah umum.

Tapi, stereotipe terbesar tentang sekolahrumah memang bukan soal kompetensi akademik, melainkan bahwa ia membuat para pesertanya tak dapat memenuhi kebutuhan sosial mereka. Stereotipe, walaupun selalu tak adil, kadang mengandung kebenaran. Tapi, yang satu ini jelas ngawur belaka. Sejak kapan ada larangan bagi siswa-siswi sekolahrumah untuk bergaul dengan orang lain, lebih-lebih yang sebaya dengan mereka?

Sebuah riset dari Pew menyatakan bahwa 55 persen remaja menghabiskan waktu dengan teman-teman mereka dalam jaringan internet atau media sosial, sedangkan 45 persen mengaku bertemu teman-teman baru lewat kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga dan hobi.

Sekolah? Di Rumah Saja!

Peserta sekolahrumah tentu punya lebih banyak waktu untuk hobi ketimbang murid sekolah formal. Dan soal pertemanan, dengan tak berada di gedung sekolah bersama ratusan murid lain saban hari, siswa-siswi sekolahrumah cenderung terhindar dari “geng-gengan” dan peer pressure untuk melakukan tawuran, balap liar, dan lain-lain.

Di Indonesia, penyelenggaraan sekolahrumah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) no. 129 tahun 2014. Peraturan itu menyatakan bahwa sekolahrumah mesti mengacu kepada kurikulum nasional dan para pesertanya berhak mendapatkan ijazah resmi serta melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, termasuk lembaga-lembaga pendidikan formal, setelah lulus dari ujian kesetaraan yang distandarisasi oleh negara (Paket A setara SD, B setara SMP, dan C setara SMA).

Di atas kertas, tak perlu ada kekhawatiran siswa-siswi sekolahrumah akan kesulitan di masa depan mereka (untuk kuliah, kerja, dan sebagainya). Tapi, di sisi lain, keharusan mengikuti standar tunggal berupa kurikulum nasional dan ujian kesetaraan itu belum benar-benar sejalan dengan esensi sekolahrumah, yaitu personalisasi. Pasal 7 dalam peraturan itu juga mewajibkan sekolahrumah mengajarkan pendidikan agama. Bagaimana dengan orangtua dan anak yang memilih pedoman hidup serta standar moral selain yang diajarkan agama-agama, misalnya? Bukankah Undang-Undang Dasar 1945 membebaskan, bukan mewajibkan, setiap orang untuk memeluk agama serta menjalankan ibadatnya?

Namun, sembari menanti perbaikan dan dukungan yang lebih besar dari pemerintah, tak ada salahnya mencoba sekolahrumah sebagai jalur pendidikan alternatif. Meski belum ideal, sudah ada segi-segi positif dari sekolahrumah yang bisa didapat, antara lain metode pembelajaran yang lebih sesuai dengan para siswa, penjelajahan bahan pelajaran ke arah yang berbeda dari tawaran sekolah-sekolah formal, serta keamanan siswa—terutama dari ekses-ekses buruk pergaulan yang tak kunjung hilang dari sekolah formal.

Maya Lestari Gf, seorang praktisi sekolahrumah di Sumatera Barat, mengunggah contoh materi dan jadwal yang ia terapkan untuk mendidik anak-anaknya di blog pribadinya. Dalam rentang 30 November hingga 6 Desember 2015, Ayesha, putri Maya yang berumur 9,5 tahun, mengerjakan sebuah ensiklopedi budaya Indonesia dengan subjek Papua. Materinya antara lain bacaan berupa buku Dari Lembah Baliem, video Daily Life of Papua, dan peta. Kemudian, hasil belajar itu ia sampaikan kembali lewat tulisan, gambar, dan kerajinan tangan.

Apakah ada sekolah dasar yang menerapkan pelajaran semacam itu? Mungkin ada, tapi yang jelas, pendampingan serta perhatian guru kepada 20—apalagi 40—orang siswa dalam satu kelas muskil menyamai Maya kepada Ayesha. Padahal, penjelajahan yang memadai atas topik-topik semacam itu memerlukan pendampingan yang intens.

Dengan pelajaran dan cara belajar demikian, Ayesha kecil akan memiliki pemahaman yang cukup tentang Papua. Dan pemahaman yang cukup, kita tahu, senantiasa menjauhkan orang dari kepicikan. 
Sumber: Tirto.Id