This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 03 Februari 2009

Antara Dongeng dan Monolog, Ada Apa?

Di gedung PGRI Kebumen pada Senin, 2 Februari 2009 digelar monolog "Kaprah" oleh Sanggar Sastra Wedang Kendi, Purwokerto. Naskah tulisan Agus Salim ini dimainkan selama 1 jam 15 menit oleh Ryan Rahman, dibantu Nursalim pada set dan tata lampu di malam itu. Hanya ada selusin penonton di dalam gedung, setelah 2 orang meninggalkan ruang pada menit ke lima. Tapi ke 12 penonton laìnnya tetap bertahan hingga usai pementasan.
Naskah "Kaprah" lebih mengeksplorasi impian mayoritas warga masyarakat, masyarakat dengan segala bentuk modernitasnya. Modernitas kekinian yang menutup pintunya bagi kelas sosial terbawah. Bagi kebanyakan orang. Di sisi lain, modernitas demikian telah menjelmakan obsesi meluas. Pada wìlayah ìnilah debut eksplorasi "Kaprah" itu.

Keaktoran Ryan Rahman

Keberanian menjadi hal menonjol dalam mengusung naskah yang sebenarnya sarat dengan paparan realita sosial obyektif. Keberaniannya yang lain yalah manuver yang dibuat meloncat pada sebagian dari naskah, akan tetapi menghasilkan monolog yang monoton. Apakah itu disengaja atau lantaran belum cukupnya akumulasi 'subject-capital' sang aktor; maka nampak sama-sama kaburnya.
Di depan selusin apresian, ia lebih nampak sebagaì penutur tunggal atau pendongeng ketìmbang aktor panggung monolog yang dibawakannya.
Tetapi melakukan eksplorasi fisik dan psikis selama lebih dari 1 jam secara maraton, itu bukan hal biasa; meski bukan untuk tujuan memecah rekor.
Memang tak ada yang pecah di penonton, baik tawa maupun celoteh. Fakta ini melengkapi dataran rahasia yang membeku di sana. Ada apa? Tak ia hiraukan itu.
Jadilah, di tengah sett yang terkesan sederhana, keaktoran Ryan hanya mewakili bangunan watak personal.

Ada Apa, Apresian..

Bagian yang tak kalah menarik dari 'peristiwa' malam itu, bukan pada pentas monolog, tapi justru ditemukan di sessi dialog. Forum yang semula dimaksudkan untuk evaluasi pementasan, telah berkembang begitu egaliter. Masih dengan selusin penonton yang 'ngoyod' di lantai gedung, pendiri Sanggar Sastra Wedang Kendi itu berharap input atas pentas monolognya. Ketika seseorang memulai dengan kesan minimnya eksplor dialog, sehingga lebih terkesan 'pangudarasa' ketimbang monolog. Maka ada yang hilang, jika dirunut dari awal-awal pentas monolognya. Adegan (out-stage) seseorang yang tengah mandi sambil solilokui keras, cukup menjadi daya tarik awal yang baik hingga beberapa menit berikutnya.
Di mata Ubaidilah, salah satu penonton, melihat hilangnya kekuatan karakter tokoh dalam 'Kaprah'. Kesan lurus atas mind-set Ryan, mematìkan penokohannya.
Ada yang melihat bagaimana keringnya Ryan bikin adonan pentas monolognya. Aris Raharjo menyayangkan tak munculnya obyek eksploran, di mana dalam kemiskinan tersimpan daya kreatif. Ryan, oleh karena kurang melakukan observasi, cuma memvisualisasikan fatalisme belaka. Bahwa tak semua, dalam monolog, dibahasakan secara verbal.
Sorotan terhadap manajemen pementasan muncul dari dua penonton lain; AgusBudiono dan ArieSubowo. Agus tak melihat adanya arahan dalam pentas Ryan dan tak habis pikir bagaimana bisa -seperti diakui Ryan- kalau 50 persen lebih dihasilkan dari keaktorannya? Ari menyoroti pula nihilnya manajemen entertainment, sehingga tak jelas genre atau konsepnya: serius ataukah lawakan. Esensi 'Kaprah' menurutnya, bukan pesan kemiskinan. Tapi lebih sebagai dreamy kaum intelek yang tak punya akses. Pentas ini juga tidak memotret kapasitas pemirsa dalam menerima hal-hal melelahkan dan menjenuhkan.
"Pentas monolog Kaprah, datar-datar saja", keluhnya.
Kekecewaan pun muncul dari seorang Putut AS. Pentolan teater 'Ego' ini kecewa sejak persiapannya. Namun begitu, ia mau juga memberi masukan sampai hal-hal teknìs. Seperti vokal yang tak diolah sampai artikulasi yang tak jelas. Menurutnya, untuk menjadi aktor monolog panggung, setidaknya mesti lebih kualified ketimbang pendongeng. Pendongeng saja dituntut mampu memainkan 1 sampai 5 atau 9 karakter. Atau bahkan karakter binatang sekali pun.
Dialog pasca pementasan 'Kaprah' nyaris jadi debat kusir, kalau saja tetap disikapi dengan dalih-dalih reaksioner. Bahwa pentas 'Kaprah' tak lebih dari dataran panjang lurus tak bergunduk. Ada jenuh memarit yang bikin penonton menghindar memasukinya. Dan itu sama sekali beda dengan argumen 'kolega' Ryan; setter Nursalim yang coba mengintrodusir bagaimana pentas 'Waiting for Godot' nya Samuel Beckett. Alih-alih menguatkan argumen sang aktor, tapi ia lupa duduknya perkara. Maka sebenarnya justru nampak bahwa itu cuma bentuk lain dari pembelaan reaksioner saja. Ia lupa bahwa 'paparan jenuh' yang melahirkan Nobel bagi Samuel itu, sebuah kehormatan dunia atas 'Waiting for Godot' sebagai sebuah karya sastra. Dan bukan atas pementasannya.
Jika melihat begitu samarnya ruang abu-abu antara dongeng dan monolog 'Kaprah' malam itu, maka pantas jika ada esensi komunikasi yang terpasung. Hasilnya, seperti lansir ambigunya Pekik Sasinilo pada sessi ahir dialog. Meski seringkali sang 'pendongeng' Kaprah melucu, tak pernah pecah tawa di situ. Ini bisa jadi preseden menarik. Bahwa dongeng 'Kaprah' telah dìbawa Ryan pada penonton yang 'jahat tapi sopan'.
"Jahat, sebab yang jenaka tak menemukan tempatnya. Tapi untung, karena penontonnya sopan-sopan semua" katanya mengakhiri.

Sabtu, 17 Januari 2009

Sekolah mBayar Karep; sebuah Refleksi (3)

Mendirikan Kemauan, ternyata merupakan fase terpenting di Sekolah Rakyat MèluBaé. Catatan ini dibuat sebagai sekumpulan transkrip pelaksanaan malam syukuran Ultah ke 6, yang peringatannya dilangsungkan di Gg.Tengah 21, Kebumen; pada hari Sabtu 17 Januari 2009.
Acara yang baru dapat dimulai dari jam 21.00 wib itu, dihadiri tak kurang dari 30 orang. Berasal dari desa-desa seperti Jagasima, Tanggulangin, Kalìwungu dan Bumiharjo di Kec. Klirong. Disamping dari lingkungan dan beberapa kelurahan di wengkon Kec. Kebumen dan Kec. Alian; acara ini dihadiri oleh beberapa wakil kelompok teater dan bahkan Komunitas 'Petarung' Jalanan dari komplek terminal Purworejo.
Acara dibuka oleh fasilitator dan pegiat seni Pitra Suwita ini langsung dibacakan do'a tahlil yang dipimpin oleh 'guru tauhid' SRMB, K. Malik Hasyim alias mBah Limin.
Di sela pengantar do'a, kyai sepuh dari kawasan budaya 'urut séwu' itu berharap majlis pembelajaran MéluBaé ini dapat terus dipertahankan eksistensinya, sehingga makin memberi manfaat nyata bagi peri kehidupan bersama.
Setelah usai do'a syukur bersama, sesepuh komunitas ini memotong tumpeng dan dilanjutkan dengan makan bersama. Suasana nampak penuh rasa kekeluargaan, karena ikut pula para istri dan anak-anak.
Pekìk Sasinilo, koordinator divisi teater, memberikan pengantar pendek namun cukup menyentuh. Ia menyatakan bahwa selama 6 tahun ini telah terjadi interaksi yang panjang. Pada prinsipnya, komunitas ini bersifat terbuka bagi siapa saja. Apabila di kilas balik, dalam pasang-surut perjalanannya ditemukan sebuah kekuatan luar biasa. Luar biasa, mengingat tak ada buai impian apa-apa yang menarik dan mengikat komunitas ini. Satu-satunya ikatan dalam komunitas ini, sebagai rasa persaudaraan semata.
"Kami saling mengenali bukan hanya antar sesama teman dalam kelompok, tetapi juga berikut para istri, keluarga dan saudaranya".
Ia berharap persaudaraan "MéluBaè" dapat terus terjaga.
Dalam kesempatan yang sama, Aris Panji, mengulas sedìkit, problematika berkesenian yang ikut melatari pendirian majlis, yang sejak masa awal pasca pendiriannya disebut sebagai Sekolah Rakyat MéluBaè.

Filosofi Tumpeng
Ulang tahun ke 6 SRMB, sebagaimana dituturkan K. Malik Hasyim menjadi menarìk karena masih dalam suasana bulan Asyuraa. Spiritualis kampung pesisir ini ini memerikan wewarah kearifan tentang 'tumpeng' yang barusan dipotong. Menurutnya, 'tu' bermakna jika tiba waktu, maka harus 'peng' yang bermakna mempeng

Senin, 12 Januari 2009

Catatan Kecil dari GELAR TEATER Kebumen

Atas prakarsa Fopset (Forum Pekerja Seni Teater) Kebumen, maka pada tanggal 9-10 Januari 2009 lalu diselenggarakan sebuah parade teater yang diikuti 6 kelompok. Pementasannya difasilitasi oleh PGRI Kebumen, diselenggarakan pada malam hari dimulai jam 19.30 dan diakhiri dengan sarasehan budaya.
Keenam grup teater itu: Smenven, SMP Muh 2, sanggar Guyub Larak, Sekolah Rakyat MèluBaé, teater Anjal dan teater Ego.
Perimbangan penampil antara kelompok teater 'sekolahan' dengan kelompok 'umum' terjadi di sini. Smenven mengusung teaterikalisasi puisi dengan paduan gaya dongeng menampilkan suguhan khas ABG. Sementara SMP Muh 2 menampilkan fragmen "Story Telling", sebuah penuturan cerita yang seluruhnya disampaikan dengan bahasa Inggris; tak jauh beda. Satu lagi kelompok teater yang berasal dari institusi pendidikan adalah Teater Anjal dari AMìK PGRI Kebumen. Kelompok terakhir ini menyajikan dilema urban sebagai kaum yang gagal direpresi modernitas.
Sedangkan dari kelompok teater 'umum' yang terdiri dari 3 kelompok tampil dengan varian relatif berbeda.
Sanggar Guyub Larak menampilkan cerita klasik yang paling sering digarap. Sayangnya, di tangan grup ini lakon 'Andé-Andé Lumut' tak cukup bertenaga. Meski ada upaya untuk keluar 'pakem', namun keberanian ini tak diimbangi dengan keahlian penggarapan. Jadinya, lebih terkesan monotone dan boros durasi, ketimbang bikin ending kejutan 'aneh' saat tokoh sentral lakon klasik ini memilih kawin dengan sang antagone.
Kejenuhan penonton dalam menyimak kiprah panjang, berhasil disegarkan saat SR 'MéluBaè' menampilkan anekdot pendek berjudul "JaLeg" Meski SRMB bukanlah grup teater murni dan sajiannya hanya berdurasi 15 menit. Namun kemeriahan penonton telah menunjukkan fakta berbeda. Dagangan a-politis yang seakan menjadi sikap kelompok ini, dikemas dengan lugas sehingga tak nampak secara verbal sebagai sebuah cara melawan sistem yang telah usang.
Berbeda dengan dua penampilan di atas, adalah Teater Ego yang telah cukup baik penguasaan aspek dramaturgi, namun hanya terpusat pada dua tokoh sentral. Memaparkan relasi feodal, dimana tuan majikan yang 'menguasai' dunia. Sebuah ironi lain yang getìr dan mengabaikan nasib mayoritas 'warga' dunia. Drama ini bertutur perihal antagonisme klas dalam relasi kemanusiaan. Sekaligus mengingatkan kita pada kearifan; karena betapa pun serakah manusia yang mengakumulasi benda-benda. Pada akhirnya ia hanya membutuhkan sejengkal tanah

- bre kastari

Kamis, 08 Januari 2009

Sekolah mBayar Karep, sebuah Refleksi (2)

Interaksì sosial di kawasan budaya 'urut sewu' telah memunculkan dukungan, termasuk dari kalangan ulama lokal. KH. Abu Darin, K.M. Muttaqien, K. Abu Supyan dan K. Malik Hasyim yang lebih populer dipanggil mBah Limin. Dukungan juga datang dari kawasan tengah, seperti dari Gus Nawawi, pemimpin majlis dzikir SapuJagat. Bahkan juga dari kawasan hulu jauh, ada mBah K. Muchtar.
Dukungan ini muncul lebih disebabkan adanya interaksi pemikiran dan aktivitas spiritual Kajian tauhid dengan pendekatan nalar, acap memunculkan pula tema-tema sosial yang aktual.
Referensi ini mendekatkan ide-ide kepada realita obyektif. Lanskap Kalibuntu bermakna lanskap pemikiran 'pembelajaran' yang membebaskan. Ide wisata spirituil dan pesantren plus pun bermetamorfosa menjadi laboratorium pembelajaran yang mengenal 2acuan: alamiah dan dialektis.

Anggota Komune

Sejatinya tiada istilah 'anggota' dalam SRMB. Sejak berdiri (2003) belum pernah dilakukan pendaftaran anggota, lama maupun baru. Sifat sebagai majlis pembelajaran kolektif, sangatlah terbuka bagi siapa pun untuk masuk dan terlibat, maupun keluar tiap saat. Tak ada aturan formal, kecuali ikatan yang mendasarkan pada kesepakatan bersama. Dalam bahasa lain disebut komitmen. Jadi selama ia berkomitmen, maka selama itu pula masa keanggotaanya.
Diantara yang pernah terlibat proses kerja serta memiliki komitmen itu ada nama-nama:

1. PekikSasinilo 2. Pitra Suwita
3. Toro Mantara 4. Daryono CengKim
5. Daryanto 6. Arif Hudoyo Rbl
7. Retno Budiningsih 8. Ika Puspitasari
9. Erlin Agustine 10. Tofik Pioel
11. Suciptadi 12. Sodikin
13. gus Nur 14. Sarimun
15. Muhtadien 16. Itong Toto K
17. Catur Rante 18. Widhi Sasongko
19. Slamet Eser 20. Theo Darma
21. Yanto Comres 22. Oni Suwito
23. Dodi Dodotiro 24. Untung Wasito
25. K. Malik Hasyim 26. K. AbuSupyan
27. K. M.Muttaqien 28. K. Muchtar
29. Gus Nawawi 30. K.H. Abu Dharin Mst, alm
31. Sumanto 32. Sudarto
33. Galih 34. Mardikun
35. Bechi 36. Purnomo Jati
37. Farida Tan 38. Zein Rafsan Sani
39. Rahmatika 40. Atika
41. Septian Sukmaningrum 42. Elok Alatas
43. Hj. Komariyah 44. Puji Rekso Pamungkas
45. Hasan L. Alatas 46. Darmawan Ri
47. Arifin 48. Bibit
49. Jefri 50. Oki
51. H. Dalail 52. Sukamto
53. Muchriyanto 54. Mardiyanto
55. Nahl Firdaus 56. Nasirudin AM
57. Nashikhudin 58. Dawamudin M
59. Bambang Sucipto 60. Tobi Murdjiantoro
61. Dulqoful 62. Subiyanto
63. Alìsyahbana 64. Ridwan Ali
65. Soni Wijaya 66. Rusmiyati
67. Aris Panji 68. Imam Setianto

Rabu, 07 Januari 2009

Sekolah mBayar Karep, sebuah Refleksi (1)

Sekolah mBayar Karep; adalah bagaimana memaknai 'sekolah' yang esensinya adalah 'belajar' dengan satu syarat, yaitu kemauan.
Sederhana? Ya. Tapi tidak juga. Bahwa belajar itu butuh kemauan, menurut kami; itu fundamental. Kenapa? Karena kemauan itu amat personal dan tak bisa dicari di luar diri. Jadi kemauan memang mesti di'diri'kan pertama. Baru kemudian mencari atau mengadakan syarat-syarat lainnya.
Mendirikan kemauan, sepintas mirip dengan idiom mendirikan sholat; sederhana tapi tidak lah gampang.

Pendirian SRMB

Nah, pada hari Senin, 13 Januari 2003, sekelompok orang yang sejak lama bermunajat serta melakukan aktivitas berkesenian bersama; berkumpul setelah agak lama tak saling ketemu. Belasan orang itu bikin janji bertemu di salah satu rumah, tepatnya di Gg.Tengah No. 31, Kebumen. Dalam pertemuan mana dibìcarakan hal ihwal yang mengarah pada keberlangsungan aktivitas bersama itu. Pada akhirnya disepakati dengan mendirikan semacam wadah pembelajaran bersama dengan nama 'MeluBaè'. Ikut saja, menjadi dasar motivasi pembelajaran.
Kemudian, ide-ide ini dieksplorasi lagi pada banyak pertemuan. Tepat pada saat mana, kelompok ini tengah melakukan kegiatan 'ngamen' musik-puisi di belasan sekolah, dan bahkan pada sebuah acara pasca sidang pleno di DPRD. Ide-ide kemandirian 'Melubae' mendapat peluang disosialisasikan.
Gayung bersambut di luar itu, di kawasan budaya 'urut-sewu' pesìsir selatan Kebumen. Tiga ulama lokal dan beberapa kiai juga telah lama bermunajat. Bagaimana memanfaatkan 'warisan' mushola beserta aula di pesisir Kalibuntu, desa Jagasima, Klìrong. Pergaulan ide-ide dasar ini banyak dikaji di sana, tanpa mengganggu ngamen apresiasi di beberapa sekolah formal.
Jadilah pesisir Kabuaran di Kalibuntu itu semacam 'laboratorium alam' majlis MéluBaè. Maka kajian mengenai dasar-dasar pendirian Sekolah Rakyat dilakukan tiap akhir pekan.
http://www.blogger.com/img/blank.gif
masukkan tag cetak tebal
Interaksi Sosial

Menjalin hubungan sosial dilakukan dengan berkesenian. Musik puisi, pentas rebana alternatif, pentas teater, menyelenggarakan lomba-lomba seni. bahkan turnamen catur. Juga bermain sinetron, hasil kerjasama dengan media lokal, RatihTV, menghasilkan 7 episode guna mengisi paket Ramadhan 1826 H. Banyak orang terkejut, tapi yang paling mengejutkan adalah fakta bahwa biaya atas keseluruhan proses produksi, termasuk editing garapan BrainMultiMedia, hanya menghabiskan tak lebih dari Rp. 7 juta. Pernah menjadi bintang tamu pada Festival Seribu Rebana.
(to be continued)

Selasa, 13 Januari 2004

Paket Ngamen Musik Puisi (3)

.. sholatulloh salamulloh / 'ala thoha rosululloh / sholatulloh salamulloh / 'ala yasiin habibillah ..

sorban kyai, sorban kyai
penginan apa piwulang
direnggani rupa rupa
jajan pasar tumenggungan

wayah lingsir, wayah lingsir
simbok bakul sambi petan
tuma siji tuma loro
ginugut padoning donga

donga manjing, donga manjing
panekung wong kaniaya
kencengana talinira
imané santri utama

santritama, kerusu jati
jatingarang soto yaumi
ladi brayat ngakèh seksi
sangu ngadhep mahkamah gusti


Pendar

bila malam terlena
puisi yang terjaga
anak bangsa terhanyut
luruh ditelan kabut
bilamana terlupa
langit keruh jelaga

kemana pendar tlah pergi
siapa menghapus pantai
lampu padam di mimbar sufì
maka nyala adalah kita

bìla malam terlena
puisi yang terjaga
anak bangsa terhanyut
puisi yang terjaga
bilamana terlupa
puisi yang terjaga
pun kala pendar tiada
puisi yang terjaga


GaraGara Petan

urip kuwé sing prasaja
aja mèri karo bandhané wong liya
( sirik.. sirik )
rajabrana sandhang pangan
ora teka yén amung disawang

menungsa kudu éling
urip kuwé diatur karo rasa
(jarèné mbbh beja)
rasa irì rasa dengki
ra ngèlingi sing lanang kerjané apa
ra ngélingi sing lanang bayaré pira

gara gara golek tuma
suwé-suwé ngrasani tangga
( ee, gunané apa)
glenak-glenik kuwé mesthi
bubar pétan dadi perang brantayuda

rumah tangga berantakan
(gara-gara petan)
anak loro ra kathokan
(gara-gara pétan)
bojo minggat nang taiwan
(gara-gara pétan)
maratuwa njaluk sèdan
(maratuwa gemblung)


Sholatullahima'alaika

sholatullahima lahaat kawaakib
'alAkhmad khoirimaa rokibannajaa'ib

menatapi ketinggian
dari tempat yang rendah
kemilau ufuk gemetaran
cahya rembang berpendaran

menyalami kedatangan
dari tempat pergi seharian
tiada sekali kemulyaan lepas
selalu ada saksi di tiap hati

memulyakan persaudaraan
duhai, sekalian tamu kami
jika pun malam bakal menepi
di tengahNya hati


© didokumentasi sebagai materi yang pernah dikemas SRMB dalam ngamen apresiasi di sekolah-sekolah.

Jumat, 02 Mei 2003

Paket Ngamen Musik Puisi (1)

1. AKU
©Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hìlang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi



2. RAKYAT
© Hartoyo Andangjaya

Rakyat ialah kita
jutaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan lalang jadi ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja

Rakyat ialah kita
otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang bergerak di simpang siur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka

Rakyat ialah kita
beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tifa dì hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka

Rakyat ialah kita
puisi kaya makna di wajah semesta
di darat
hari yang berkeringat
gunung batu berwarna coklat
di laut
angin menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta

Rakyat ìalah kita
darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa



3. GERILYA 
©WS.Rendra

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki terguling di jalan

Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki terguling di jalan

Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur mayur di punggung
melihatnya pertama
Ia beri jeritan manis
dan duka daun wortel

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki terguling di jalan

Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki terguling di jalan

Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya.

(dari: Ballada Orang-Orang Tercinta, 1957)

Kamis, 24 Februari 2000

Kikail