This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 11 Agustus 2019

Bukan Cuma Bambu Runcing: Narasi Bopeng di Tiap Tikungan Revolusi


Oleh: Irfan Teguh - 11 Agustus 2019

Sebagaimana novel Surabaya karya Idrus yang 'memberaki' gambaran heroik revolusi, sejumlah cerpen Pramoedya Ananta Toer juga menghamparkan kisah yang kurang lebih sama.

Ilustrasi Pramoedya Ananta Toer. tirto.id/Sabit

Istilah “Angkatan 45” mula-mula dicetuskan oleh Rosihan Anwar dalam tulisannya di majalah Siasat edisi 9 Januari 1949. Angkatan ini, oleh sebagian kalangan, kerap diejek sebagai generasi pembuat kisah-kisah bambu runcing alias cerita perang kepahlawanan, oleh karena itu Idrus—penulis novel Surabaya dan kumpulan cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma—menolak penamaan “Angkatan 45”.

Padahal seperti ditulis H.B. Jassin dalam pengantar Percikan Revolusi(1950) karya Pramoedya Ananta Toer, lapangan perhatian Angkatan 45 “seluas penghidupan, dan dari pusat soal-soal mereka melihat dunia sekelilingnya. Dalam kempaan suasana keadaan mereka menemukan dirinya dan belajar melihat sampai ke inti segala, dikuliti dari kepalsuan dan ketidakperluan”.

Angkatan ini tak selamanya memproduksi narasi kepahlawanan yang tanpa cela. Revolusi memang bukan ladang kebajikan yang menerakan lukisan hitam putih. Idrus lewat novel Surabaya memberi contoh yang brilian tentang bagaimana amuk revolusi tak lebih dari sekadar mabuk merayakan peralihan zaman.

Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya ditulis Pram) yang amat takzim kepada prosa-prosa Idrus, juga membeberkan hal serupa dalam karya-karyanya, baik novel maupun kumpulan cerpen, seperti misalnya dalam Percikan Revolusi + Subuh.
“Angkatan revolusi melihat segala dari pusat derita, mereka tidak hanya mengenal dan mengetahui, tapi juga mengalami dan merasai pada badan dan jiwa. Tidak ada jarak antara obyek dan subyek,” imbuh Jassin.
Tahun 1945, seperti para pemuda yang lain, Pram keranjingan militer. Ia masuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebagai Prajurit II dan ditempatkan di Cikampek pada kesatuan Banteng Teruna. Sampai 1946 ia berada di sana dan terlibat dalam pelbagai pertempuran dengan tentara Inggris. Karir militernya sampai perwira pers dengan pangkat letnan II.


Menurut Andries “Hans” Teeuw—pakar sastra dan budaya Indonesia asal Belanda—Pram tak betah di militer dan memilih berhenti dari dinas ketentaraan. Pram merasa kecewa yang pangkalnya adalah “karena tidak tahan melihat pertentangan-pertentangan di dalam tentara dan korupsi yang merajalela”.

Alasan keluarnya Pram jelas tak menggambarkan kehidupan tentara pejuang yang ideal. Dalam pusarannya, seperti yang Pram rasakan, revolusi kemerdekaan memang menghadirkan narasi bopeng dalam tiap tikungannya.

Salah satu cerpen Pram yang terasa amat menggambarkan pengalamannya selama menjadi tentara adalah “Dendam”. Sebuah laporan dari seorang tentara yang awalnya merasa bangga dapat berseragam militer di zaman mabuk revolusi, namun kemudian perasaannya merasa lemah melihat pembantaian dengan mata kepalanya sendiri.
“Karena itu aku pun pergi ke stasiun. Mengapa ‘kan tidak? Selalu dan selalu manusia suka memperlihatkan kelebihannya. Apalagi kalau kenyataan yang telanjang itu diberi fantasi sedikit: aku pemuda revolusioner,” tulisnya.
Lihat, kebanggaan itu begitu mudah dipanggul hanya dengan kata-kata “pemuda revolusioner”. Namun dalam kebanggaannya, tokoh aku yang menjadi narator dan mengisahkan pengalamannya senantiasa diliputi pertanyaan, kesinisan, sekaligus ketakutan atas situasi yang berlaku saat itu.
“Mengapa bersorak? Aku tak tahu. Hanya kurasai kemabokan yang membenam, menarik dan mendesak-desak. Orang lain pun demikian pula halnya. Semua bersorak. Semua mabok. Bersorak untuk bersorak. Bersorak untuk mabok-memabokkan,” ungkapnya melihat rakyat mengiringi para tentara yang hendak berangkat ke medan laga.

Sedetik kemudian pertanyaan-pertanyaan itu berubah menjadi iba dan kesinisan. Menurutnya, para prajurit yang dengan rela menyabung nyawa di garis depan itu, kelak jika mereka pulang dengan kekalahan dan luka atau invalid di sekujur tubuhnya, orang-orang akan dengan mudah menyebutnya sebagai “prajurit peuyeum” alias serdadu lembek.

Jika datangnya dalam keadaan mati, dibawa di atas usungan serta tubuhnya mulai membusuk, orang-orang juga akan gampang mengatakan “pahlawan bangsa” dengan memberikan sedikit penghormatan.

Di titik ini, revolusi bukan sekadar menelanjangi para pejuang yang mabuk menelan situasi baru yang bebas dan berlaku ugal-ugalan seperti dalam Surabaya-nya Idrus, tapi juga sikap culas masyarakat yang menjadi penonton atas persabungan di garis depan.

Yang paling menggiriskan dari laporan prajurit ini adalah tentang pembantaian terhadap seorang haji, mata-mata yang membikin pasukan republik celaka: tak kurang 11 orang meregang nyawa.

Saat ia tertangkap, pelbagai pukulan, tendangan, dan rupa-rupa senjata tajam menghujaninya, namun rupanya ia mempunyai ilmu kebal. Pasukan yang kalap lalu menyeretnya dengan mobil dan tubuh mata-mata itu terpontal-pontal di aspal dan bebatuan. Namun lagi-lagi ia tidak terluka.

Seorang serdadu yang membawa pedang samurai kecil kemudian berteriak “kembali jadi tanah!” Setelah itu pedangnya mampu membobol pertahanan si mata-mata: perutnya terburai.

Ia kemudian ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Dan malam hari anjing-anjing menggonggong mengerubuti bangkai mata-mata itu. Si prajurit tak kuasa menyaksikan peristiwa mengerikan, ia pun buru-buru masuk ke tangsi.

Belum sempat ia tidur, lonceng tangsi berbunyi: perintah berangkat ke garis depan. Si prajurit menggigil.

“Sekali ini pergi jualah aku—pergi untuk dibunuh, pergi untuk membunuh. Badanku bergemam sebentar. Seperempat jam kemudian barisan berangkat. Dan pembunuhan berjalan terus,” pungkasnya.



Cerita Bermula dari Lapar

Sekali waktu di pengujung masa revolusi, dalam sebuah pencarian lemari buku, seorang lelaki diikuti seorang perempuan. Sudah lima toko ia datangi, tapi harganya tak ada yang cocok alias kemahalan.

“Tuan perlu lemari?” tanya perempuan yang terus mengikutinya.

“Betul, nyonya,” jawabnya.

“Saya bisa menunjukkan pada tuan, lemari yang bagus dan murah,” timpalnya.

Lalu perempuan itu pergi menyusuri jalan dan gang demi gang, sementara si lelaki mengikutinya. Muara perjalanan adalah sebuah rumah besar kuno yang sudah terlalu usang, buruk, lebih buruk dari kandang delman.

Perempuan itu lalu menunjukkan sebuah lemari kayu setinggi satu setengah meter dan lebar hampir tiga meter. Ukirannya burung merak dan bunga-bunga aneka macam.

“Alangkah bagus,” gumam si lelaki.

Menurut nyonya yang menawarkannya, lemari itu adalah peninggalan suaminya untuk menyimpan buku dan barang-barang kuno. Pada masa pendudukan Inggris, lemari itu turut dibawa mengungsi ke Padalarang, Plered, dan Purwakarta.

Saat perempuan itu mengatakan harga yang ia tawarkan, tangan si lalaki terlepas dari pintu lemari. Dari dalam lemari, seekor kucing tanpa kepala dan sudah dikuliti, lepas dan jatuh ke lantai.

“Tuan, anak-anak itu harus kuat dan mereka membutuhkan daging, anak-anak harus kuat tubuhnya,” ucap si nyonya.

Si tamu hanya mengiyakan, sementara lalat mulai mengerubungi bangkai kucing itu. Seorang anak si perempuan yang masih bayi menangis, lalu yang lain menangis juga, maka ramailah rumah itu oleh tangis anak-anak. Calon pembeli mengeluarkan uang untuk membeli lemari dan diberikan kepada salah satu anak yang menangis itu, lalu ia pergi.

Perang hanya menyisakan kalaparan. Lemari yang tersisa dari deru pertempuran, yang dijadikan tempat penyimpanan bangkai kucing, akhirnya tak dapat lagi menyembunyikan daging bangakai kucing, kebutuhan anak-anaknya yang kelaparan.

Lewat cerpen yang bertajuk “Lemari Antik” itu Pram kembali menyajikan sebuah kisah tentang revolusi yang bukan hamparan kepahlawanan. Perang usai, para pengkhinat dan pahlawan mati, yang tersisa hanya rakyat yang kelaparan, yang jarang terhidu narasi sejarah selain penggambaran antrean beras di sejumlah kliping surat kabar dan film.

Cerpen “Masa”, sebagaimana “Lemari Antik” yang terhimpun dalam Percikan Revolusi (1951), juga menggugat revolusi: bocah dua belas tahun keluar masuk penjara, tanpa pendidikan, tanpa bapak, perutnya kosong!

Mula-mula bocah itu bersama kawannya membawa sebuah becak yang dipenuhi lawon di Pasar Baru, Jakarta. Apa sebab? Baju mereka sendiri compang-camping, sementara terdapat bergulung-gulung kain yang tak mereka miliki.

Kesempatan kedua terjadi di Harmoni. Sebuah tas di atas mobil terbuka ia sambar, sial isinya hanya surat-surat. Ia buang tas itu dan seorang bocah lain yang bernama Maliki tengah mandi, maka ia dicokok tanpa tahu perkara. Tak lama kemudian ia pun kena tangkap dan dijebloskan bersama para pesakitan dengan rupa-rupa latar belakang.

“Dan mereka juakah yang nanti turut bertanggungjawab pada negaranya,” gumam seseorang yang lebih dewasa saat mendengarkan cerita dari mulut bocah itu.

Beberapa cerpen ini, membuat Pram sebagaimana Idrus yang melumuri taman bunga pertempuran Surabaya dengan kotoran sapi, juga tak silau dengan mabuk revolusi. Ia bahkan terus menggugat perang lewat sejumlah cerpen lain tentang para kombatan yang invalid harapannya, justru setelah kemerdekaan berada di genggaman.

Kamis, 01 Agustus 2019

Kuputarung# | Sekapur Sirih oleh Aris Panji Ws



SEKAPUR SIRIH

Pada akhirnya penerbitan 82 puisi yang dihimpun dari 13 penyair Kebumen ini terlaksana, di tengah keinginan tak pernah pupus guna melakukan kerja-kerja dokumentasi sastra di daerah. Upaya ini menjadi bagian yang dinilai penting, meskipun lebih didorong pada pendekatan kuantitas agar sebanyak mungkin para penyair daerah tergerak dengan cara mempublish karyanya.

Penerbitan buku antologi puisi Kuputarung 2 ini merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan terdahulu, yang rintisannya berdiri pada landasan kemandirian penyair sesudah ia menekuni ruang ciptanya. Selain itu, pada proses kreatif kepenyairan, setiap kelahiran karya dapat lah dianalogikan sebagai orok buah pergulatan batin penyairnya.

Pada awalnya, puisi adalah bagian utuh dari sosok penyair yang memuat asa dan kemenyerahan, cinta dan kegelisahan, sunyi dan kesejatian. Atau juga muatan-muatan lain yang dipungut dari kejadian sehari-hari, remah-remah peristiwa hari ini, kenangan yang mengendap-endap; bahkan hal-hal yang bagi khalayak dianggap biasa saja.

Setiap penyair memperlakukan apa yang diinderakannya memasuki tabir intuisi, sehingga setiap teks yang ditorehnya memiliki konteks kesastraan.

Begitu lah karya. Bahwa apakah ia -karya itu- menemukan kekuatannya untuk tumbuh dan memiliki kesanggupan buat menemui serta mewarnai ragam jagad pembacanya. Bahkan dalam perjalannya yang seiring dan bakal melampaui lintasan berdimensi waktu. Maka takdir itu, sesungguhnya, telah terbawa semenjak kapan, pada intensitas dan kedalaman seperti apa; puisi itu terlahir.

Beberapa puisi dalam buku antologi kali ini kental dengan aura romantisme masa muda, boleh jadi karena itu memang cara penyair mengaktualisasi diri di tengah konteks masa dan usianya. Itu yang kemudian memunculkan idiom puisi remaja di ranah publik pembaca. Tetapi kerja penyelia puisi-puisi ini bukan diproyeksikan bagi pembedaan dikotomis tua-muda.

Satu-satunya perekat kepenyairan yang mewadahi kiprah, karya cipta dan menyetarakan persepsi mereka adalah spirit komunitas. Itu sebabnya ada Komunitas Penyair Kebumen (KPK), yang menjadi ruang menghimpun karya serta mengkomunikasikan pemikirannya.

Hasilnya mendapati 13 penyair diantaranya: Daryono Cengkim, Dodottiro, Dwi Agus Setiawan, Eko Sajarwo, Fajar Muzaki, Masindro, Nasikhatun Sulfiyani, Teguh Hindarto, Pekik Sat Siswonirmolo, Kata Hankena, Pitra Suwita, Naomi dan Bambang Indrajeet.

Ada nuansa beragam, karena memang antologi ini dihadirkan bukan dalam kerangka (baca: kerangkeng) tematik. Namun kegelisahan para penyair yang melahirkan puisi-puisi, bukan berarti telah menihilkan tema atas karyanya. Dari keberagaman yang toleran, cinta dan pengingkaran, kesucian yang hasut, kerinduan yang tragik, kematian yang melangit, hingga akidah teologi yang dibumikan.

Membaca puisi-puisi dalam buku antologi ini, pada derajat tertentu, serasa menemukan kembali nilai kemanusiaan yang tiap hari seakan makin terkikis fitrahnya. Dan saya ikut mengantarkannya bukan dalam kapasitas sebagai sastrawan apalagi kritikus yang memiliki kelaikan menilai atau mengulitinya. Biarlah itu menjadi wilayah kedaulatan sidang pembaca beserta para ahli sastra.        

Buku antologi puisi “Kuputarung 2” ini, sedikit banyak, bakal memfasilitasi post kelahiran puisi itu. Dengan beragam latar belakang penyairnya. Ada banyak warna berpendaran, seperti pelangi yang tetap dipercaya sebagaimana falsafah kebhinekaan kita. Semua dapat diraih, dipetik dan direaktualisasi dalam keseharian kita sebagai manusia dan warga bangsa.

Salam Sastra.

·      Aris Panji Ws
arispanji@gmail.com

Kamis, 25 Juli 2019

SRMB Terbitkan Buku Antologi Puisi “Kuputarung-2”


Sukses menggelar “Repertoar Dangsak” pada Sabtu (20/7) kini Sekolah Rakyat MeluBae (SRMB) menggeber prepair perhelatan berikutnya, yakni launching buku antologi puisi “Kuputarung-2”. Buku yang memuat kumpulan 77 puisi karya 13 penyair Kebumen ini tengah diregistrasi dan menunggu proses validasi guna mendapatkan International Standard Book Number (ISBN) serta Katalog Dalam Terbitan (KDT) pada perpustakaan nasional lengkap dengan kodefikasi barcode.

Cover Buku "Kuputarung-2", Masindro

Keseluruhan proses penerbitannya ditangani SRMB yang resminya telah memiliki divisi penerbitan buku.
“Buku ini adalah penerbitan ketiga dari SRMB”, tutur salah satu pamong komunitas ini.
Buku antologi puisi pertama yang diterbitkan SRMB adalah “Kuputarung-1” antologi bersama (2009), kemudian “Bulan Menggantung”, Pitra Suwita (2014) dan “Kuputarung-2” antologi bersama (2019).

Ke 13 penyair yang karyanya masuk dalam antologi ini diantaranya: Daryono Cengkim, Dodottiro, Dwi Agus Setiawan, Eko Sajarwo, Fajar Muzaki, Masindro, Nasikhatun Sulfiyani, Teguh Hindarto, Pekik Sat Siswonirmolo, Kata Hankena, Pitra Suwita, Naomi dan Bambang Indrajeet.


Tradisi perbukuan

Penerbitan buku, terutama buku puisi dan karya sastra lainnya, diupayakan menjadi agenda rutin dan dilakukan secara berkelanjutan. Upaya ini dinilai paralel dengan tradisi komunitas pembelajar yang berdiri pada Januari 2003, dimana mayoritas pegiatnya memiliki latar belakang aktivitas seni sastra, selain musik dan teater.

Selain itu, ada keinginan untuk melakukan upaya-upaya pemajuan kegiatan seni pada kalangan yang lebih luas, termasuk di kalangan muda terdidik di sekolah; pelajar, mahasiswa serta kalangan umum.

Terbitan ketiga, antologi puisi “Kuputarung-2” sendiri menjadi bagian lanjut penerbitan buku, yang akan launching pada Sabtu, 3 Agustus 2019 mendatang.

Penyeliaan materi puisi dilakukan melalui Komunitas Penyair Kebumen (KPK) yang diproyeksikan menjadi “bank naskah” dan akan bekerja menghimpun karya-karya penulisan di Kebumen.

Untuk waktu yang akan datang, akumulasi karya sastra dimungkinkan dengan pendekatan tematik, atau dihimpun melalui lomba penulisan sastra selain lomba baca puisi yang memang sudah dilakukan berkali-kali. [ap]

Senin, 22 Juli 2019

Kebudayaan Keturunan Wangsa Bonokeling yang Masih Kental

22 Juli 2019 16.23 WIB - Kevin Naufal

Keturunan Wangsa Bonokeling © commons

Suatu wangsa penganut kepercayaan Jawa kuno yang sangat menjunjung tinggi terhadap leluhurnya, sering menggelar ritual unggahan atau berziarah ke pusara makam keramat leluhurnya.

Wangsa itu sendiri berarti kelanjutan atau keturunan dari suatu kekuasaan pemerintahan yang dipegang oleh satu garis keturunan kerajaan itu sendiri. Bonokeling, yang diambil dari nama seorang Kyai yang konon mempunyai penghormatan tertinggi yang dianggap leluhur pada masanya di sebuah Desa di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Konon, Kyai Bonokeling yang dipercaya berasal dari daerah Pasirluhur, mempunyai pengaruh yang kuat terhadap warga sekitar. Karena hal tersebut, nama Bonokeling menjadi identitas warga sekitar.

Hal ini juga ditegaskan ketua pengikut Bonokeling, yakni barang siapa yang ingin mengetahui sosok Kyai Bonokeling secara jelas, maka dia harus mutlak menjadi pengikut setiannya.

Wangsa ini mempunnyai tradisi yang hampir serupa dengan tradisi nyadran atau unggahan unggahan yang sama-sama berkunjung ke makam leluhur yang biasa dilakukan umat muslim setempat saat menjelang bulan Ramadan tiba.

Perbedaan mencolok pada tradisi nyadran dan unggahan yakni prosesi ritus adat dari unggahan yang masih menjunjung tinggi kebudaayan lokal yang menjadikan masyarakat Bonokeling tetap melestarikan turun menurun ini.

Tradisi ini biasa di gelar di Desa Cagar Budaya Pekuncen, Kabupaten Banyumas yang ditemput sekitar 1 jam perjalanan dari pusat kota Purwokerto, Jawa Tegah.

Sumber: Mongabay

Hal mencolok yang terlihat dari budaya adiluhung Bonokeling ini masih terwujudnya tanah agraris dan wujud kebudayaan Jawa kuno.

Ritual unggahan ini masih dilaksanakan rutin oleh anak cucu dari Kyai Bonokeling setiap tahun di hari Jumat yang bertepatan sebelum bulan Ramadan tiba. Ritual ini melibatkan hingga seribu penganut kepercayaan Bonokeling dari berbagai desa di Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas.

Dimulai dari Desa Adiraja, sebuah desa kecil yang terletak di Kabupaten Cilacap yang masyarakatnya masih banyak menganut ajaran wangsa Bonokeling. Ritual ini biasanya dilakukan pada pagi hari saat matahari baru muncul, dengan memulai dengan melakukan caos bekti atau yang berarti salam penghormatan pada para tokoh pemangku yang paling dihormati dalam rumah adat pasemuan.

Pada prosesi caos bekti, para penganut Bonokeling dari yang muda hingga yang tua, semua akan berjalan kaki puluhan kilometer menuju Desa Pekuncen yang ada di wilayah Kabupaten Banyumas.

Berjalan kaki menyimbolkan napak tilas dari perjalanan leluhur dari wangsa ini, yakni Kyai Bonokeling saat menyebarkann ajarannya.
Sembari berjalan, beberapa warga akan terlihat memanggul wadah yang berisi sesaji dan uba rampe yang berisi hasil panen dari ladang dan ternak mereka sebagai persembahan dan rasa syukur.

Selama prosesi tersebut, para kelompok itu akan dipimpin oleh ketua adat selama beberapa hari ke depan. Makam keramat Kyai Bonokeling, mendadak ramai dan diserbu oleh ribuan wangsanya. Semua desa akan ramai dan meriah sebuah hajatan agung tapi tetap sakral.

Saat pertengahan malam hingga pagi tiba, suasana desa akan dipenuhi nyanyian tembang-tembang Jawa, yang berisi pujian-pujian atau perkataan baik yang dipanjatkan kepada Kyai Bonokeling.

Sumber: The Jakarta Post

Menjelang siang, para pria dari wangsa ini akan berbondong-bondong menyembelih hewan ternak hasil mereka sebagai wujud persembahan yang dibawa dari Desa Adiraja, Kabupaten Cilacap. Hasil bumi itu akan dipersembahkan kepada sesama penganut Bonokeling dan memasaknya bersama-sama secara masal untuk dimakan bersama di sekitar area makam Kyai Bonokeling.

Ratusan perempuan dengan berbalut kemban putih akan memasuki makam Kyai Bonokeling satu per satu dengan khitmad. Para perempuan akan membasuh anggota badannya satu per satu, mulai dari kaki, tangan, wajah sambil mengucap doa atau mantra yang dipercaya akan membawa keberkahan.

Kemudian mereka akan duduk sambil mengatupkan kedua telapak tangan yang diangkat tinggi oleh mereka. Hal itu bertujuan menghaturkan kehormatan di depan makan keramat.

Sumber: media cagak budaya

Dalam kepercayaan Bonokeling, perempuan mempunyai kedudukan yang lebih dihormati daripada pria, sedangkan saat sore hari, kaum pria akan menyusul sambil membawa hasil masakan mereka kedalam pusara makam.

Minggu, 21 Juli 2019

Catatan Penyerta Repertoar Dangsak [2]


Tradisi Tutur dan Gugon-tuhon

REPERTOAR DANGSAK: Repertoar Dangsak yang disajikan Sekolah Rakyat MeluBae (SRMB) di Pendopo Bupati Kebumen (20/7/2019) melibatkan tak kurang dari 70-an talent, penabuh dan crew; juga melibatkan kelompok seni tradisi dari desa Watulawang dan kelompok penari Victory Dance Crew dalam suatu kolaborasi panggung. [Photo Credit: Sigit Asmodiwongso)

Kisah Cepet Alas era fasisme Jepang yang diacu satu-dua seniman tradisi memang menempatkan “cepet” pada konotasi negatif, dalam arti bahwa ia tak lebih golongan mahluk pengganggu manusia yang acap menyesatkan anak-anak. Mitos tentang cepet yang diasumsikan demikian ini muncul melalui dongeng ninabobo dengan segala stigma negatif yang melekat dan terpiara distorsinya.

Tanpa maksud memuja -ataupun sebaliknya- narasumber pelaku tradisi, lantas mengabaikan referensi lainnya, penelusuran lebih mengarah pada abu sejarah yang lebih tua, tak berhenti pada kisah pageblug, paceklik panjang dan kemiskinan parah era fasisme Jepun; sebagaimana dituturkan mBah Lamidjan tentang solusi ekstensifikasi lahan dengan cara “bubah kawah” hutan untuk lahan dan hunian baru.

Kisah ini lalu diacu sebagai babad kemunculan Cepet Alas. Implikasi penuturan mana seakan telah menyudutkan Cepet Alas semata sebagai kebenaran semu; kesahihan gugon-tuhon tentang mahluk halus pengganggu yang menentang bubah-kawah itu.

Atau yang dalam versi lanjutannya, Cepetan dikonotasikan sebagai ekspresi resistensi penganut kepercayaan adat pada masuknya -ajaran- agama baru. Agama baru dimaksud dalam konteks ini adalah islam Persiy sebagaimana dikisahkan pada hikayat Syech Subachir sebagai duta pembawa ajaran kasultanan Roem. (Asma, 2004).

Jika kisah Cepetan Alas Martaredja, manten lurah Karangtengah, yang juga pelopor tradisi Cepetan Alas ini memiliki tuturan yang berbeda. Maka itu makin membuat beragam warna tradisionalnya.

Repetoar Dangsak

Photo-Credit: Imam Muthoha

Repertoar Dangsak ini tak bicara dan tak pula menggiring audiens pada wilayah penghakiman benar-salah; baik ada maupun tanpa referensinya. Referensi yang paling dapat ditemukan pun, barangkali hanya mampu menjelaskan kejumbuhan situasi umum masa seputar kolonial hingga fasisme era pendudukan Dai-Nipon itu. Tentang pageblug, soal paceklik; yang tanpa membaca teks buku pun banyak orang merasakan, mengalami dan melakoninya.

Dalam konteks tradisi Cepetan Alas Martaredja, Roeslan dan Asma; adalah pengecualian. Selain sebagai pewaris dan pelaku tradisi, ketiganya memeras dan meremas kearifan yang diwarisi lengkap dengan tuturan sejarahnya.
“Upami wonten pemanggih benten, lha nggih nyumanggaaken”, jelas mBah Roeslan dari Kajoran 2004.
 “Niki omongan kula kenging direkam, ditulis..”, tandas mBah Asma dari Kalipancur, desa hulu lainnya.

Keduanya memang berbeda, namun ada perekat pengalaman empiris yang menyatukannya; yakni bahwa tradisi Cepetan Alas telah ada sejak era kolonialisme Hindia-Belanda. Tengara yang ditangkap kedua tetua adat ini dan diamini Martaredja perintis Cepetan dari tradisi menjadi pertunjukan seni; mengarah pada masa culture-stelsel pasca Perang Jawa (1825-1830).

Repertoar Dangsak membidik ini sebagai bentangan sejarah tradisi tanpa bermaksud mengabaikan sejarah tutur lain yang jadi temuan sebelumnya. Itu sebabnya adegan membakar kemenyan lengkap dengan japa-mantra menjadi bagian utuh narasi panggung di permulaan pentas. Sementara ritual nyekar, jabelan dan kirab ‘wulu-wetu’ menyusul di pengadegan lainnya.

Dua aspek, sejarah yang ada dan tradisi yang membentuk serta melihara, menjadi aras repertoar yang dipersepsikan untuk kemudian dibawah tata penyutradaraan para talent re-interpretasi serta memvisualisasikannya.

Kesedaran Semesta

Proses serupa ini terasa benar pendalaman dan kebersamaannya. Dan mendapatkan respons penonton sekaligus pelaku pertunjukan sastra yang banyak melanglangi simpul-simpul komunitas seni.
 “Anak-anak panggung dan semua yang terlibat di repertoar ini, menurut pandangan saya, telah lulus menjadi murid alam langsung dan menjadi bagian seutuhnya dari semesta”, komentar Bambang Eka Prasetya.
Sepintas, komentar ini lebih terkesan berlebihan. Tetapi pembelajar di studi budaya "Nittramaya" dari lembah Tidar ini tak meralat ucapannya sejak awal ia menyampaikan review pendek atas repertoar yang digelar.

Kesedaran semesta, barangkali, bisa ditafsiri sebagai capaian laku batin -dan fisik- dari orang yang melakoni sebuah atau beberapa peran. Para pelaku tradisi, meski mungkin tak pintar berbicara secara teori; adalah laut yang tak butuh garam buat rasa asin pada airnya.

Itu sebabnya, Dawintana dan Ali Pawira tak jua mau bicara di panggung repertoar dangsaknya; panggung yang barusan dipenuhi kiprah anak-anak asuhnya.. [ap]

ORKESTRA: Dalam pertunjukannya "Repertoar Dangsak" berkolaborasi dengan anak-anak yang memainkan biola dan tergabung dalam Kebumen Violin Orchestra [Photo-Credit: Sigit Asmodiwongso)

Catatan Penyerta Repertoar Dangsak [1]


DANGSAK: Repertoar Dangsak yang digelar SRMB mengangkat aspek lain berupa ritual tradisi yang menyertainya. Dangsak atau Cepetan Alas dan disebut juga dengan "Tongbreng" dipercaya bukan sekedar sebuah tarian, tapi memiliki kaitan tradisi yang memelihara keberadaannya [Foto: Imam Muthoha] 

Setelah dihadang masalah opsi panggung pementasan yang semula akan menggunakan panggung terbuka Diskominfo di kompleks Ratih TV; akhirnya pada Sabtu (20/7) helatan “Repertoar Dangsak” digelar di Pendopo Bupati Kebumen. Penyelenggara pementasan ini, Sekolah Rakyat MeluBae (SRMB) memadukan seni topeng tradisi ini dengan musik puisi dan orkestra biola.  

Tak kurang dari 70 an partisipan terdiri dari talent dan crew terlibat aktif memanggungkan repertoar dangsak, menebalkan apa yang pernah dilakukan Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen beberapa tahun silam yang mengkolaborasikan “Ketoprak Dangsak”, sebuah dekomposisi seni tradisi ini dengan ketoprak sebagai seni tradisi lainnya.   

Keduanya memperoleh sambutan hangat audiens sebagai sebuah karya panggung yang membukakan kisi-kisi pembaharu. Lepas dari bagaimana proses menarasikan masih menyisakan celah-celah yang luput dari ekplorasi garapan; namun sajian repertoar dangsak telah bisa diterima kehadirannya.

Narasi

Kredit Foto: BY Handoko

Pentas “Repertoar Dangsak” ini minus narasi. Dalam perbincangan yang digelar pasca pementasan, ihwal ini mengemuka, setidaknya melalui 2 penanggap yang mengkritiknya; yakni Sigit Asmodiwongso (Gombong) dan Tofik Suseno (Cilacap). 
“Tak ada teks yang mengantar pemahaman awal buat audiens”, kritik Sigit. Prolog yang dapat menjembatani penonton “meniti jalan” cerita memang tak ada. Pernyataan senada ditajamkan oleh Tofik Suseno.
“Saya bahkan tak melihat dimana konflik jadi bagian konstruksi repertoar”, ungkap pamong musik Tabuh Singmoni; sebuah kelompok musik kontempo yang mewadahi anak-anak jalanan, punk dan pemuda masjid.
Narasi memang masih menjadi prasyarat awal konsepsi pementasan. Sayangnya, kegilaan kolektif di SRMB tengah berkecamuk pasca tundanya Monolog Kampungasu yang sejak lama terencana. Ihwal ini diakui penulis abstraksi repertoar dangsak yang lebih mengimani kemerdekaan proses re-interpretasi para talent ketimbang belenggu “naskah” layaknya drama.

Repertoar Dangsak juga bukan pentas tari Cepetan Alas yang di kawasan tumbuhnya ada disebut dengan Tongbreng. Repertoar ini memuat aspek-aspek religiusitas yang mistis, mulai dari ritual tradisi, pundhen; hingga aspek sejarah awal kemunculannya. Dalam konteks ini, penulisan tak bisa percaya pada tuturan pihak yang paling merasa dirinya benar.

Tak ada jejak literasi dalam bentuk teksbook yang bisa didapat langsung dari sumbernya, namun penuturan para tetua adat tentu tak elok buat diabaikan begitu saja; karena tradisi tutur turun-temurun itu lah manifest literasinya. Itu sebabnya repertoar menyertakan pewaris kearifan dan perekat tradisi seperti Dawintana beserta Ali Pawira dari Watulawang. Tentu saja, masih ada beberapa local-genius pelaku tradisi lainnya.

Jauh sebelum era keduanya, Kalipancur-Karanggayam, Karangtengah, Kajoran, Silampeng, Gunungsari, Karangjoho-Karangmaja, Kalireja, Peniron dan belasan desa-desa bertahan merawat tradisi Cepetan Alas ini menjadi bagian kehidupan budaya agraris kita.   

Resistensi

 Kredit Foto: Sigit Asmodiwongso
“Uwis Kaang.. Mandheg gole seneng-seneng. Kahanan lagi kontrang-kantringan malah dhewek kaya ora eling..”, seru talent pasutri terengah meluncur ke area panggung. Talent pasutri malam itu diperankan Wiwid Bigmom dan Pekik Sat; yang berimprovisasi menarasikan situasinya.  
Pengadegan kedua repertoar ini menjadi bagian yang membuka lembar sejarah kemunculannya menurut temuan penelitian tradisi. Penutur bernama mBah Ruslan dari Kajoran dan mBah Asma dari tlatah Kalipancur menukil kisah Cepetan Alas yang diperoleh dari waris leluhur cepetnya di Kalipancur dan Karangtengah.

Dari versi ini didapat periwayatan dalam konteks masa yang menyejarah, yang bisa saja menjadi berbeda di daerah atau pedukuhan lainnya. Pegiat SRMB yang juga aktif jadi relawan dewan kesenian daerah merangkai simpul bahwa pada masa awal kemunculannya, Cepetan Alas adalah manifestasi dari perlawanan kultural masyarakat terhadap ekspansi perkebunan onderneming kala itu; yang merangsek hingga pedesaan hulu. (Roeslan, 2004)

Rupanya, Repertoar Dangsak ingin bertutur soal resistensi kultural pada pengadegan ini. Tetapi celah masanya kelewat lebar. Sang narsum bahkan menyeretnya hingga jauh ke mitologi awang-uwung Jawa. (Asma, 2004).

Sampai pada batas ini tak ada lagi referensi selain Babad Tanah Jawi dan dongeng tutur kasultanan Roem. Sedangkan dari angkatan pewaris tradisi hanya mampu membaca jejak hingga masa pendudukan Jepang yang menyebabkan bencana kelaparan karena kelangkaan pangan lokal..  [ap]

Bersambung  

Sabtu, 20 Juli 2019

Repertoar Dangsak SRMB Diminta Pentas di Kampung Jawa Kebumen


Saturday, July 20, 2019

Pergelaran kolosal yang melibatkan puluhan seniman itu merupakan kolaborasi antara seni tradisional cepetan, musikalisasi puisi dan kelompok musik Kebumen Violine Orchestra  (KVO). Mulai dari musisi, penyair dan para penari cepetan dari Desa Watulawang Kecamatan Pejgoan.

Penari cepetan

KEBUMEN - Pementasan kolaborasi yang diselenggarakan oleh Sekolah Rakyat Melu Bae (SRMB) Kebumen di Pendopo Rumdin Bupati Kebumen, Jumat malam, 20 Juli 2019 berlangsung meriah. Acara bertajuk “Repertoar Dangsak” ini memukau ratusan penonton yang memadati tempat tersebut.

Selain dihadiri oleh para seniman dan budayawan, pergelaran itu juga disaksikan oleh sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Kebumen. Yakni Asisten I Sekda Hery Setyanto, Kepala Dinas Pendidikan Moh Amirudin, Kepala Dispermades P3A Frans Haidar hingga Kepala Kesbangpol Kebumen Nurtaqwa Setyabudi.

Pergelaran kolosal yang melibatkan puluhan seniman itu merupakan kolaborasi antara seni tradisional cepetan, musikalisasi puisi dan kelompok musik Kebumen Violine Orchestra  (KVO). Mulai dari musisi, penyair dan para penari cepetan dari Desa Watulawang Kecamatan Pejgoan.

"Pentas berdurasi sekitar dua jam itu melibatkan puluhan seniman," ujar salah satu Pamong SRMB Kebumen Bambang Indrajeet.

Bambang menjelaskan pementasan Repertoar Dangsak ini bermula dari diskusi ringan. Bahwa selama 16 tahun bergerak di bidang seni dan budaya, muncul gagasan bagaimana mengemas kesenian tradisional agar disukai oleh generasi milenial.

"Munculah ide dengan melakukan kolaborasi antara kesenian tradisional cepetan dengan musikalisasi puisi dan violine orchestra," kata dia.

Meski dikemas dengan lebih modern, tetapi kesenian tradisional khas Kebumen itu tidak hilang keasliannya. Kearifan lokal yang ada dalam kesenian tersebut masih tetap terjaga.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen, Moh Amirudin, menyampaikan apresiasinya atas pementasan tersebut. Menurutnya, pementasan tersebut harus diberi tempat di Kabupaten Kebumen.

 "Harapan kami ini dapat dipentaskan di Kampung Jawa, yang selama ini setiap 35 hari ada wayangan, ini kita harap bisa tampil disana (Kampung Jawa)," kata Amirudin. (*)

Sumber: Ini Kebumen 

Minggu, 23 Juni 2019

Cerpen | Di Manakah Kubur yang Tepat buat Mayatku Ini?


Oleh: Bonari Nabonenar
23 Juni 2019, 15:48:53 WIB

Ilustrasi: Budiono/Jawa Pos

MENJADI guru sekolah dasar adalah cita-cita Sutragi sejak ia masih duduk di bangku kelas rendah. Sekolah dasar. Sebab, hanya itu profesi paling terhormat yang ia lihat. Sutragi kecil tidak pernah bertemu pegawai bank, dokter, pegawai kecamatan, dan lain-lain. Di Desa Jumawut, tempat Sutragi lahir dan menamatkan sekolah dasarnya, ada tiga orang pegawai negeri yang bukan guru. Mereka masing-masing bekerja sebagai: kuli ratan, mandor ratan, dan seorang lagi mandor kawat. Tetapi, guru tetaplah profesi dambaan Sutragi. Ia lahir dari rahim perempuan yang kemudian menjadi guru.

Orang tua biasanya menginginkan anak-anaknya menjadi orang dengan capaian-capaian lebih dari yang mereka dapatkan. Tetapi, tidak demikian orang tua Sutragi.

Ibu Sutragi seorang guru sekolah dasar, yang hanya mengidamkan anaknya menjadi guru. Guru yang mendapatkan posisinya dengan terlebih dulu membuktikan lulus dari sekolah pendidikan guru. Bukan seperti dirinya, yang menjadi guru karena keberuntungan. Sebagai salah seorang siswi yang menonjol di kelasnya, pak kepala sekolah menganjurkannya segera mengikuti kelompok belajar paket agar mendapatkan ijazah setara SMP. Lalu meneruskan kursus pendidikan guru sambil menjadi guru sukarelawati.

Ibu Sutragi memang diuntungkan situasi yang baru saja merenggut nyawa suaminya. Dalam situasi yang merenggut nyawa suaminya itu, negara kehilangan banyak tenaga guru. Maka, dibutuhkan guru-guru baru sebagai pengganti mereka. Kebutuhan itu tidak akan segera dapat dipenuhi jika harus menunggu mereka yang secara reguler lulus dari sekolah pendidikan guru.

Sejak mampu memahami persoalan di sekitarnya, Sutragi menyaksikan betapa profesi guru sedemikian dihormati di desanya. Beberapa guru baru datang dari kota atau dari desa lain. Ada yang baru berstatus sukarelawan. Ada pula yang sudah mengantongi SK sebagai pegawai negeri. Melalui rerasan para orang tua, Sutragi tahu betapa banyak yang berharap menjadi mertua guru-guru baru. Yang masih lajang itu. Tak peduli sudah berstatus pegawai negeri atau masih sukarelawan.

Sejak sekolah dasar, dari tahun ke tahun Sutragi selalu tercatat sebagai anak paling pintar. Di kelasnya ia selalu juara. Kepintarannya tidak hanya dicatat di dalam buku rapor, tapi juga menjadi pembicaraan di kalangan guru. Lalu sampai pula ke telinga orang tua Sutragi. Mereka bangga. Orang tuanya semakin berharap kelak Sutragi bisa menjadi guru.

Lulus sekolah dasar dengan nilai terbaik, Sutragi tidak dapat melanjutkan studi ke sekolah negeri. SMP negeri hanya ada di kota kabupaten. Jarak dari desanya hampir 50 kilometer dan tidak ada angkutan umum setiap hari. Andai waktu itu sudah ada pun, pasti akan terlalu mahal. Akhirnya, sebagai lulusan terbaik sekolahnya, Sutragi hanya bisa masuk SMP swasta. Itu pun jaraknya belasan kilometer dari desanya. Tidak ada pula angkutan umum untuk menjangkaunya. Tetapi, ada kerabat jauh yang mau menampung Sutragi. Selain dibebaskan dari kewajiban membayar uang kos, Sutragi masih bisa menumpang makan pula. Syaratnya, di luar jam belajarnya Sutragi harus membantu bekerja di rumah, di toko, kadang juga di sawah atau di ladang. Cukup berat untuk seorang anak lulusan sekolah dasar, tetapi Sutragi melakukan semuanya dengan senang hati. Demi cita-citanya.

Lagi-lagi, Sutragi lulus dari SMP swasta itu dengan nilai gemilang. Tetapi ternyata masih belum cukup untuk menembus SPG negeri. Sepertinya sebagian besar warga kabupaten bercita-cita menjadi guru. Seperti Sutragi. Sekolah pendidikan guru negeri hanya ada satu di kabupaten. Kelas paralelnya bisa sampai delapan atau sembilan. Hitung saja, kalau satu kelas sekurangnya dihuni 40 orang siswa, berapa kalau dikalikan delapan atau sembilan? Itu belum yang swasta. Ada empat SPG swasta di kabupaten. Saking kuatnya cita-cita untuk menjadi guru, banyak lulusan SMP yang potensial menembus SMA negeri malah lebih memilih masuk SPG swasta. Salah satu contohnya: Sutragi. Ia masuk salah satu di antara SPG swasta itu.

Lagi-lagi, Sutragi keluar sebagai lulusan terbaik. Tetapi, itu bukan sepenuhnya kabar baik. Sebab, atas nama peningkatan mutu pendidikan, pemerintah merasa lulusan SPG tidak lagi kapabel untuk menjadi tenaga guru di sekolah dasar. Maka, didirikanlah wadah baru untuk mendidik para calon guru sekolah dasar. Namanya PGSD (pendidikan guru sekolah dasar), ditempelkan di institut keguruan dan ilmu pendidikan.

Ilustrasi: Budiono/Jawa Pos

Agar dapat menjadi guru sekolah dasar, para lulusan SPG harus menempuh jenjang pendidikan lanjutan, sekurang-kurangnya PGSD. Atau boleh langsung menempuh program sarjana. Tetapi, tidak ada keistimewaan bagi para lulusan SPG itu. Untuk dapat masuk PGSD, mereka harus mengikuti ujian, bersaing dengan para lulusan SMA, SMEA, dan yang sederajat. Banyak lulusan SPG yang memilih berhenti. Lalu memasuki dunia kerja seadanya. Mereka pada umumnya berasal dari keluarga kurang mampu.

Sutragi masih tergolong lumayan. Ibunya masih mendapatkan gaji setiap bulan. Walau bukan lagi seorang guru. Bersama sekian banyak guru lainnya di seluruh kabupaten, ibu Sutragi dipindahkan ke bagian administrasi di kantor dinas yang ada di kota kecamatan masing-masing. Beberapa item tunjangan pendapatannya sebagai guru pun hilang. Lagi pula, setiap hari harus pergi-pulang dengan menumpang kendaraan umum. Itu berarti gajinya yang tidak seberapa mesti dipotong ongkos transportasi. Tetapi, ada tambahan penghasilan lumayan signifikan. Pohon-pohon cengkih di pekarangan mulai berbunga. Itulah yang kemudian sangat menolong Sutragi untuk berangkat mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi yang mencetak calon guru.

Lulus tes saringan, Sutragi diterima sebagai mahasiswa baru. Ia senang bukan main. Ibunya menangis seharian. Sedih dan gembira. Sedih karena membayangkan ongkosnya. Walaupun perguruan tinggi negeri jauh lebih murah dibanding swasta. Itu akan tetap berat baginya. Tetapi, siapa yang tidak merasa bangga? Kelak Sutragi akan menjadi orang pertama yang lulus sebagai sarjana di desanya. Dari perguruan tinggi negeri pula. Sutragi tidak akan menjadi guru SD atau SMP. Tetapi guru SMA. Atau SPG.

Tanaman cengkih yang mulai berbuah pada musimnya sangat menolong. Ditambah hubungan sosial orang tuanya yang bagus dengan para kerabat dan tetangga, Sutragi tidak pernah mendapatkan penolakan ketika berkirim surat untuk dikirimi tambahan uang. Orang tuanya harus pula jungkir balik gali lubang tutup lubang. Mungkin itu harga yang layak untuk sebuah cita-cita dan kebanggaan.

Setelah menyelesaikan KKN dan praktik mengajar, Sutragi menyempatkan pulang kampung. Menikmati musim liburan. Sekaligus menengok orang tuanya. Ia merasa akan membawa kabar baik bagi seluruh keluarganya. Kuliahnya akan kelar sebentar lagi dan gelar sarjana pun akan disandangnya. Tetapi, begitu sampai di rumah, ia mendapati suasana yang aneh. Wajah orang tuanya tidak berbinar-binar seperti sebelumnya setiap kali ia datang dari kota.

Setelah makan, malam itu ibu Sutragi membuka pembicaraan. Dengan suara pelan, ”Jangan kaget, ya Nak? Ini kabar buruk buat kita.”
Sudah diminta untuk tidak terkejut, Sutragi tetap saja terkejut.
”Ada apa, Bu?”
”Ibu sekarang sudah pensiun.”
”Oh, bukankah seharusnya masa kerja Ibu masih sepuluhan tahun lagi?”
”Orang menyebutnya pensiun dini, Nak. Tepatnya dipensiunkan dini. Ada peraturan baru. Harus begitu. Ya, kita tinggal terima saja.”
”Memang kenapa, Bu?”
”Sudahlah, Nak. Ibu kan sudah tua. Sudah lelah. Tetapi, kamu …?”
”Ada apa denganku, Bu?”
”Kabarnya, negara juga telah mencatat namamu, beserta ribuan orang lain sebayamu, sebagai orang-orang yang tidak akan diterima menjadi pegawai negeri.”
”Oh! Lalu dasarnya apa, Bu?”
”Dasarnya ya peraturan itu. Peraturan pemerintah atau undang-undang, persisnya ibu tidak tahu.”
”Loh?”
”Ini berkaitan dengan almarhum ayahmu.”

Sutragi kini mulai paham. Ia lalu terdiam. Membongkar ingatan. Memunguti angan-angan. Yang berserakan. Tak keruan. Dilihatnya berjuta-juta anak dilahirkan serentak. Dari rahim kemarahan. Yang tampil kemudian di permukaan ingatannya ialah sosok gelandangan nyaris sarjana. Yang ia pergoki di salah satu sudut alun-alun kota. Sedang bermain-main dengan kunang-kunang. Bersama seorang gadis yang manja. ”Jangan-jangan aku telah bertemu dengan diriku sendiri. Di waktu yang telah lewat itu!”
Lalu tahun demi tahun lewat. Sebagai malam gelap. Di sanalah sesosok gelap yang lebih pekat daripada malam kadang berjalan tegap. Kadang lunglai. Atau menggelepar di sudut alun-alun kota. Lalu bangkit menggendong mayatnya sendiri. Dan mengatakan kepada semua orang, ”Aku sudah mati!” Kalau ia ditanya, jawabnya hampir selalu, ”Aku sudah mati!”

Sesekali justru berupa pertanyaan balik, ”Di manakah kubur yang tepat buat mayatku ini?” Tak peduli, tentang apa pun pertanyaannya. Hanya dua kalimat itu yang dapat diucapkannya untuk keperluan apa saja. Di warung nasi kadang ia mengangsurkan dirinya dan berkata, ”Aku sudah mati!” Lalu ia dapatkan sebungkus nasi. Kalimat itu pula yang ia kemukakan untuk mendapatkan sebatang rokok. Ia bahkan sudah lupa bahwa ia punya nama: Sutragi. (*)

Trenggalek, 2019
BONARI NABONENAR, Menulis cerita pendek dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Dua buku cerpennya yang telah terbit: Cinta Merah Jambu (2005) dan Semar Super (2006).

Editor : Dhimas Ginanjar

Sabtu, 01 Juni 2019

Repertoar Lintas Generasi


1 Juni 2019 - 23:58 - ap


Meski tak keseluruhannya bisa hadir, namun para pendiri, pegiat serta pendukung komunitas SRMB (Sekolah Rakyat MeluBae) berkumpul pada Sabtu (1/6) di tempat dimana komunitas pembelajar ini didirikan 16 tahun silam. Komunitas pegiat seni, sastra dan teater yang semula ‘hanya’ berupa majelis pembelajaran bersama, sebelum akhirnya bernama SRMB ini; menggelar acara buka puasa bersama untuk yang kedua kalinya.

Gelaran sore hingga malam itu, juga gelaran serupa sebelumnya, menjadi momen yang menarik. Karena diikuti pula oleh “angkatan muda” komunitas ini, yang juga memiliki latar aktivitas berkesenian sendiri; terutama pada bidang tari. Rupanya ketertarikan anak milenial yang nampak antusias mengikuti diskusi informal yang difasilitasi dalam rangka buka puasa bersama, lebih didorong oleh kesadaran kolektif pentingnya saling belajar dalam kebersamaan.

Persepsi kebersamaan demikian ini terbentuk karena beberapa diantara anak milenial ini memang telah terlibat dalam proses sebelumnya bahkan kemudian merintis kelompok pembelajaran seni tersendiri. Sedangkan kelompok “angkatan lama” yang absen dari gelaran sore itu adalah kelompok seni pernafasan yang pernah intens pada separuh perjalanan yang usai terlampaui.

Di tengah pasang surut tradisi berkeseniannya pun, SRMB telah kehilangan salah satu mata rantai kegiatannya, yakni tarekat spiritual yang dijalankan di wilayah pesisir desa Jagasima; berdekatan dengan bedhahan muara sungai Lukulo. Suatu lokasi yang dijadikan ‘laboratorium alam’ komunitas ini, dimana selama 4 tahun terakhir orang-orang menanam investasi untuk usaha tambak udang yang bertebaran petak-petaknya.

Dianggap mati suri

Jargon “Sekolah mBayar Karep” yang menjadi pomeo dasar pendirian SRMB memang selalu berhadapan dengan tantangan pada dimensi waktu sepanjang perjalanannya. Tak terkecuali bagi ‘tuan rumah’ Pitra Suwita yang menilai kemunculan greget berkesenian kalangan milenia sebagai jawaban terhadap problem regenerasi pelaku seni.
“Saya senang bergabungnya milenia di tengah persiapan repertoar dangsak yang tengah direncanakan”, sambut Pitra.
Dangsak (cepet alas, tongbreng) adalah salah satu cabang seni topeng tradisi yang dianggap sebagai icon seni khas kebumenan, pernah menjadi obyek riset dan pengembangan di kalangan para pegiat relawan Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen. Dalam upaya ini, DKD telah melakukan kajian dan bahkan pengembangan naratif dengan metode kolaborasi yang menggabungkan ketoprak dengan dangsak.

Pekik Sat Siswonirmolo, Ketua Umum DKD yang juga terbilang sebagai pendiri SRMB bersama 13 perintis lainnya, merespons bergabungnya milenia dalam proyek repertoar dangsak sebagai bagian dari opsi pembaharuan. Pekik yang menulis lakon Reksa Mustika Bumi berharap SRMB tak dianggap telah menemui ajalnya. Faktanya, secara personal para pamong dan pegiat SRMB tetap istiqamah berkesenian, diantaranya dengan membuka kelas musik, pantomim, baca puisi; terutama bagi kalangan anak-anak.

Di sisi lainnya, dinamika pasang-surut berkesenian, selain merupakan resiko dalam berkomunitas, juga merupakan tantangan bagi keberkelanjutannya.
“Saya berharap ide repertoar dangsak tak berhenti sebatas gagasan”, kata Daryono Cengkim, yang dalam proyek ini ketiban sampur sebagai ‘kepala sekolah’, didampingi pecarikan Dodi “Dodotiro” Suryo Handaru.

Sebuah Repertoar

Sebuah repertoar yang menempatkan tradisi cepetan atau dangsak sebagai basis eksploran memang tengah dipersiapkan. Ini menjadi perekat baru dalam proses produksi pertunjukan berikutnya. Keterlibatan angkatan muda milenia bakal menjadi rona tersendiri, selain dukungan baru dari Jatmiko Krisna Jati dan Bambang Indrajeet. Keduanya memang telah memberikan sokongan partisipasinya dalam proses kolektif sejak sebelumnya, terutama pada pentas drama anekdot “Jago Tengsiang”, proyek pembelajaran batu akik serta penerbitan buku antologi puisi.

Menurut keduanya, masuknya 9-10 milenia: Wiwied, Arum, Afdol, Selsa, Mita, Shelvi, Anjun, Valen, Randy dan Ivan; dalam proyek repertoar berikutnya bakal menjadi momentum pertunjukan lintas generasi SRMB. Proyeksi tentang repertoar ini juga didukung Darmawan “Dalwan” Riyadi, Toro Mantara, Oni Suwita, Sugeng Jon Carlo, Rusmiati, Ary Susanto, Farida Tan, Badiyo Sriyono, Sutardjo, Dono Suwarso, Darto Badarbesi, Soni Wijaya, Ahmad Nurohim, BY Handoko, Indriotomo Brigandono, Aris Panji dan lainnya.

Sehingga kelahiran pertunjukan bersama lintas generasi ini memang layak ditunggu.. [ap]

Kamis, 02 Mei 2019

Soewardi

  • Cuplikan dari ‘Bahan Ajar Pembaharuan Pendidikan Sejarah, Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) dan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI)

Foto: Soewardi berpakaian penjara berdiri di tengah, sekeluarnya dari penjara, 1920. (koleksi: Taman Siswa)
"Keluar dari penjara, aku butuh waktu sejenak untuk memulihkan penyakit eksimku. Tidak banyak kegiatan yang aku lakukan, selain kembali membantu kangmasku mengurus sekolah Adhi Dharma sambil tak henti-hentinya aku memikirkan cara-cara yang lebih jitu untuk membebaskan bangsaku dari kekuasaan kolonial. Aku pikir lebih sulit berjuang sendirian membebaskan bangsaku dari penindasan kolonial. Akan lebih cepat mengusir kaum kolonial dari negeri Hindia ini kalau bangsaku sendiri terbuka pemikirannya untuk bersama-sama berjuang. Bangsa ini harus dibangunkan kesadarannya terlebih dahulu.
Pikiran-pikiranku tentang perjuangan bangsa ini sering aku sampaikan dalam pertemuan pakempalan (perkumpulan) Seloso Kliwon. Perkumpulan ini dibentuk atas gagasan para priyayi kerabat keraton, terutama Pangeran Soeryomentaram. Putra Sri Sultan Hamengkubuwono VII itu sekaligus menjadi ketua Perkumpulan. Raden Mas Soetatmo Soerjokoesoemo, dari pengurus besar Boedi Oetomo yang mewakili organisasi di Volksrad, adalah anggota yang aktif Perkumpulan Seloso Kliwon, di samping kangmasku Soeryopranoto dan beberapa priyayi lain, termasuk aku.
Perkumpulan Seloso Kliwon awalnya dibentuk untuk membahas pergerakan Ngelmu Bejo (Ilmu Bahagia) yang digagas kedua tokoh religius Raden Mas Soetatmo atau lebih sering kami sapa Ki Ageng Soetatmo dan Pangeran Soeryomentaram. Aku kenal Ki Ageng Soetatmo sebagai seorang religius kejawen yang budistis. Sedangkan Pangeran Soeryomenataram, seperti ayahku, adalah seorang religius yang menekuni ajaran hinduisme dan Islam kejawen. Ajaran utama dari Ngelmu Bejo (Ilmu Bahagia) adalah mangayu-ayu saliro, mangayu-ayu bangso, mangayu-ayu manungso (membahagiakan diri, membahagiakan bangsa, membahagiakan sesama). Tak sedikit orang menganggap perkumpulan Seloso Kliwon adalah kelompok theosofis. Tidak sedikit pula orang menilai perkumpulan Seloso Kliwon merupakan gerakan kaum abangan.
Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Ajaran Ngelmu Bejo bagiku adalah spiritualitas, terang cahaya yang dipakai untuk melihat, merefleksikan keadaan nyata diri sendiri dan keadaan bangsa ini. Karena itu topik pembahasan tidak hanya persoalan yang berkaitan dengan moral, spiritual. Tetapi Seloso Kliwon juga membahas soal keadilan, kesejahteraan bangsa pribumi, soal sosial politik. Pembahasan soal politik pun tidak hanya pada batas kekuasaan pemerintah kolonial. Lebih luas dan lebih mendalam Seloso Kliwon juga membahas keadaan sosial politik, ekonomi dunia setelah selesai Perang Dunia pertama.
...
Menurutku ajaran Seloso Kliwon yang sering dibahas Pangeran Soeryomentaram maupun Ki Ageng Soetatmo merupakan dasar pendidikan yang sangat kokoh, sama kokohnya dengan prinsip-prinsip dan gagasan para tokoh pendidikan Eropa dan negara-negara lain yang pernah aku baca dan aku pelajari semasa aku di pembuangan. Dari pengetahuan yang kudapat dan pengalamanku menjadi jelas bahwa pendidikan sudah semestinya berazaskan kerakyatan dan peradaban manusia sebagai pusat semesta. Karena itu pemikiran dari segala usaha pendidikan harus didasarkan pada kesadaran demokrasi dan sikap kepemimpinan.
Mengenai sikap kepemimpinan menurutku sudah jelas seperti cita-cita Seloso Kliwon yang ingin mendorong setiap orang berusaha mencapai kebahagiaan. Demikian juga halnya pendidikan Taman Siswa diselenggarakan supaya setiap putra bangsa, setiap anggota bangsa secara merdeka menumbuhkan kecakapannya memimpin dirinya sendiri, memimpin bangsa dan memimpin sesamanya."
source: Alit Ambara