This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 14 Februari 2018

Umbu Landu Paranggi Sang “Maramba Ngilu”

14 Feb 2018 | Latief S. Nugraha

Menyebut peran individu dalam masyarakat sastra sentra Yogyakarta dan Bali adalah menyebut nama Umbu Landu Paranggi. Tokoh yang juga disebut sebagai "bidan dua angkatan sastra Indonesia modern" oleh Korrie Layun Rampan.
Dan cakrawala di atas itu kembali menggoda, bahkan menyiksa batin kita. Terlambat lagi, tapi tak mengapalah. Karena memang senantiasa kita ketinggalan dengan waktu, ruang, dan peristiwa demi peristiwa. Sayang sekali, tapi dengan berkeluh kesah begini, dengan cegatan begitu, dengan gempar, terperanjat, dan keterasingan yang demikian itu kiranya masih ada kemungkinan terbuka, ribut-ribut dan bertemu kembali satu dialog satu tatapan. Di bawah cakrawala, dan betapa kita rindukan semuanya itu tempat yang terbuka, telanjang, dan lenggang. Barangkali inilah padang yang kita impikan sejak mula pertama, barangkali engkau akan bertanya-tanya dan aku pun pasti bertanya-tanya, memandang engkau sebagai engkau, memandang aku sebagai aku, dan akhirnya memandang kita sebagai kita: Manusia…
(“Merangkum Kembali Elan Kesenimanan Kita”, Pelopor Yogya)

BEGITULAH bunyi sepenggal Catatan Budaya dari Umbu Landu Paranggi di rubrik “Sabana” Mingguan Pelopor Yogya. Sepenggal. Hanya sepenggal. “...karena sesuatu hal catatan ini dilanjutkan minggu mendatang...” demikian tulisnya pada baris terakhir. Namun entah, setelah satu minggu kemudian terbit kelanjutannya atau tidak. Meskipun demikian, dari kutipan di atas kita dapat mengambil nilai, bahwa yang telah, tengah, dan akan dikerjakan oleh Umbu adalah menerang-jelaskan hakikat manusia.
Syahdan, siapa sesungguhnya sosok yang disebut-sebut oleh Emha Ainun Nadjib, “makhluk zuhud yang dihadirkan Tuhan dalam wujud manusia dan bertugas membuat manusia memahami tugasnya sebagai manusia” itu? Siapa sesungguhnya sosok yang oleh keluarganya dijuluki “Batu Diam” itu? Siapa sesungguhnya sosok yang dilantik oleh banyak kalangan menjadi “Presiden Malioboro” itu? Yang jelas, tidak akan pernah ada Persada Studi Klub (PSK) jika tidak ada Umbu Landu Paranggi di Yogyakarta. Artinya, tidak akan pernah ada Iman Budhi Santosa, Ragil Suwarna Pragolapati, Teguh Ranusastra Asmara, Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi Ag., Korrie Layun Rampan, dan seterusnya, dan selenjutnya. Tidak akan pernah ada puisi di Malioboro.
Sungguhpun Umbu Landu Paranggi yang dilahirkan di Waikabubak, Sumba Barat, 10 Agustus 1943 itu, pada tahun 1975 telah meninggalkan Yogyakarta sebagai tanah tumpah darah kelahiran kedua dan tahun 1978 datang ke Bali menjadikannya sebagai tanah tumpah darah kelahiran ketiga tanpa pernah kembali lagi ke Yogyakarta —maupun ke kampung halamannya, Sumba.
Meskipun demikian, ruh Umbu seakan tetap berdiam di sini. Sepanjang jalan Malioboro, atau jalan-jalan raya pusat kota, atau lorong-lorong kampung belakang pertokoan, setiap kali dilalui seperti bercerita, “pada suatu hari Umbu Landu Paranggi pernah lewat sini. ‘Kuda Sumba’ itu hampir setiap malam pasti berjalan kaki melalui jalan ini. Orang-orang Malioboro sering menghabiskan malam di sini....” Dan berbagai kesaksian lainnya yang selalu disampaikan jalan-jalan bersejarah itu pada suatu malam sunyi kepada setiap orang (sebagian kecil dari meraka adalah penyair) yang berlalu. Umbu senantiasa hadir dalam kisah-kisah masa silam sebagai mitos legenda, bayang-bayang yang senantiasa mengikuti ke mana pun murid-muridnya berada.

Kesiur
Majalah Sastra Sabana edisi ke VI, Februari 2015, secara khusus menghadirkan ulasan dan kesaksian-kesaksian para murid serta sahabat Umbu Landu Paranggi sebagai perwujudan rasa terima kasih atas pendidikan, persahabatan, dan kekeluargaan yang terjalin. Dalam kata pengantar, Iman Budhi Santosa menyatakan bahwa Umbu telah berhasil memotivasi, mendorong, membimbing, mendukung, dan mengarahkan ratusan—bahkan ribuan anak muda sehingga berhasil membentuk pribadi yang tangguh, kreatif, berwawasan, serta menjadi sastrawan, penulis, seniman, yang berprestasi pada zamannya. Maka, tanpa rikuh prekewuh dan ragu-ragu lagi masyarakat sastra Indonesia di Yogyakarta dan Bali menyebut Umbu Landu Paranggi “Sang Guru”.
Edisi tersebut seakan menjadi usaha kecil tindak lanjut Emha Ainun Nadjib Cs. atas terbitnya buku Orang-orang Malioboro: Refleksi dan Pemaknaan Kiprah Persada Studi Klub 1969-1977 di Yogyakarta pada tahun 2007. Orang-orang Malioboro menjadi satu identitas khas bagi penyebutan para sastrawan eks anggota Persada Studi Klub (PSK) yang notabene adalah murid Umbu Landu Paranggi. Orang-orang Malioboro adalah (mengutip pengantar buku tersebut) orang-orang hasil pendidikan jiwa karakter spartan, yang tak mengenal waktu dan tempat. Orang-orang yang ide dan penghayatan hidupnya mendidih dan makin dididihkan sebagai manusia kreatif yang matang, tidak gumunan, dan kaya strategi untuk survive di masa depan.  
Walhasil, jarak ruang dan waktu yang panjang membentang dari masa lalu itu dapat hadir bagai tanpa batas penghalang di zaman postmodern ini. Catatan-catatan peristiwa yang terjadi puluhan tahun silam, dikisahkan seperti baru saja dialami kemarin malam. Mereka begitu dekat satu sama lain, serasa tengah duduk bersama di atas tikar pandan, beradu lutut, dan masing-masing mata menatap arah yang sama. Segala perasaan, penilaian, sanjung puji membubung ke cakrawala. Maka, “terbukalah medan laga sekaligus kubu” sosok misterius Umbu.
Yogya dan Bali adalah “rimba rahasia” yang membuat Umbu “terus mengembara”. Dan pengembaraan itu tidak pernah selesai. Puisi-puisinya tidak pernah selesai. Umbu tidak pernah selesai.
Jika di Yogyakarta ia membina para (calon) penyair melalui Mingguan Pelopor Yogya, di Bali ia melanjutkan pola yang sama melalui Bali Post. Dalam catatan Ragil Suwarna Pragolapati, Persada Studi Klub memiliki anggota yang luar biasa banyaknya mencapai angka 1.555. Mereka layaknya siswa-siswi pada sebuah sekolahan, datang pergi, tambal sulam, silih ganti sejak periode Iman Budhi Santosa hingga Boedi Ismanto S.A. Di Bali, Umbu membina Sanggar Minum Kopi (SMK) yang kemudian melahirkan Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana, Putu Fajar Arcana, Wayan Jengki Sunarta, dan masih banyak lagi. Setelah SMK bubar Umbu menemukan Nuryana Asmaudi S.A., Riki Dhamparan Putra, Raudal Tanjung Banua di Inspirasi Tendangan Sudut Bedahulu (InTenSBeh). Dengan tekun ia semai bibit-bibit penyair hingga tumbuh berbuah ruah puisi. Tidak keliru jika Putu Fajar Arcana menyatakan bahwa Umbu merupakan tokoh penting yang berada di balik layar kemunculan para sastrawan Indonesia sejak generasi 1960-an sampai 2000-an. Senada dengan itu, Korrie Layun Rampan menahbiskan Umbu sebagai bidan dua angkatan sastra Indonesia modern.
Lebih terperinci mengenai lintasan demi lintasan Umbu di arena sastra Indonesia, terutama di Yogyakarta dan Bali itu telah hadir dalam kajian sastra dari meja akademis Universitas Gadjah Mada. Kajian tersebut adalah tesis dengan judul “Persada Studi Klub: Disposisi dan Pencapaiannya dalam Arena Sastra Nasional” oleh Asef Saeful Anwar dan “Pergulatan Umbu Landu Paranggi dalam Arena Sastra di Bali: Tinjauan Sosiologi Pierre Bourdieu” oleh I Made Astika. Penelitian yang dikerjakan Asef Saeful Anwar membahas posisi PSK sebagai komunitas sastra yang dibentuk oleh Umbu dengan semboyan “Arena Kreasi dan Persahabatan Remaja Indonesia” yang telah melahirkan para penyair kenamaan Indonesia. Penelitian yang dilakukan bergerak pada aktivitas anggota, peran sentralnya membesarkan nama PSK dan sejumlah anggota di dalamnya, hingga prestasinya dalam arena sastra nasional. Sementara penelitian yang dikerjakan  I Made Astika mendeskripsikan posisi Umbu dalam arena sastra nasional, pergulatan Umbu dalam arena sastra di Bali, dan strategi-strategi yang dilakukan oleh Umbu dalam menghadapi arena sastranya. Di Bali, Umbu juga berhasil membina sejumlah calon penulis yang kemudian dikenal sebagai sastrawan di tingkat nasional.
Umbu Landu Paranggi, berhasil menyatukan para pemuda dan pemudi dari generasi ke generasi tanpa jarak pandangan, identitas, agama, suku bangsa, golongan, adat, pendidikan, dan usia. Dari ribuan murid Umbu di zaman (meminjam istilah Emha Ainun Nadjib) ketika orang masih mengerti bagaimana menghormati keindahan, di kurun waktu tatkala manusia masih punya perhatian yang jujur kepada rohani, masih menjunjung kebaikan, dan masih percaya kepada kebenaran itu, banyak murid Umbu yang membumi bahkan tidak sedikit yang melangit.
Bahkan, sampai hari ini Umbu masih membina dan memotivasi para penyair dan calon penyair di Bali dan di seluruh penjuru Indonesia melalui rubrik sastra di Bali Post. Itulah fenomena Umbu sebagai guru. Setiap yang mengenal dan tahu sosoknya akan berkata satu suara; Umbu adalah guru kehidupan puisi, Umbu adalah guru kehidupan hakiki.
Begitulah persona dan pesona Umbu yang hingga kini diliputi mitos-mitos misterius, sehingga kisah-kisah mengenainya tidak pernah jelas dan tuntas. Dan secara tegas Iman Budhi Santosa meneguhkan bahwa; sejarah sastra Indonesia harus mencatat dan mengakui Umbu Landu Paranggi sebagai ‘Guru Besar Sastra Indonesia’, khususnya untuk sentra sastra di Yogyakarta dan Bali.

Desau
Satu kisah menarik diceritakan langsung oleh Umbu Wulang Tanaamahu, putra  kandung lelaki bernama lengkap Umbu Wulang Landu Paranggi itu. Konon, saat upacara pemakaman sang istri tercinta di Sumba, Umbu tidak pulang. Ia tidak berdaya untuk pulang. Namun, beberapa orang yang ada dalam upacara pemakaman itu, melihat Umbu. Suatu peristiwa yang ganjil tapi tidak mengherankan bagi masyarakat setempat. Karena mereka tahu gelar kebangsawanan Umbu Landu Paranggi adalah “Maramba Ngilu” atau “Pangeran Angin”.  
Bayang-bayang. Ya, bayang-bayang Umbu sering kali berkelebat bahkan melekat di balik sejumlah peristiwa dan juga sejumlah nama. Umbu hadir dari masa lalu, sebagaimana masa lalunya hadir dalam setiap puisi yang diciptakannya. Di dalam “Sajak Kecil” misalnya, ia berkata:
hidup takkan pernah aman
kapan dan di mana pun
selamanya terancam bahaya
dan kebenaran sunyi itu
penawar duka bersahaja
selalu risau mengembara
mustahil seperti misteri
bayang-bayang rahasia
bayang-bayang bersilangan
bayang lintas bayang
pelintasanku
Dan puisi-puisi Umbu, tidak hanya berwujud teks puisi semata. Puisi-puisi Umbu mewujud dalam diri setiap penyair yang dibesarkannya. Demikianlah esensi dari bayang-bayang yang oleh masyarakat disebut wayang.
Menariknya, wujud bayang-bayang Umbu—diakuinya dalam wawancara dengan I Made Astika—semasa di Yogyakarta tercermin pada tiga sosok, yakni Iman Budhi Santosa, Darwis Khudori, dan Emha Ainun Nadjib. Entah tiga nama itu yang tiba-tiba saja terbersit atau memang demikian adanya. Namun, Ragil Suwarna Pragolapati mengakui bahwa paling khas, unik, otentik sebagai citra PSK, nyaris tipikal cetakan Umbu ada pada diri Iman Budhi Santosa. Menurutnya, hanya Iman Budhi Santosa yang paling total berpuisi dan memuisi, paling otentik sosok kepenyairannya, paling unik dan paling berbobot.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Emha Ainun Nadjib, Iman Budhi Santosa adalah puisi. Darah daging, urat syaraf, dan getaran batinnya adalah puisi. Sebagaimana kehidupan Umbu menurut Emha. Umbu adalah “manusia puisi”. Kehidupan Umbu adalah kehidupan puisi. Hidup Umbu adalah kehidupan rohani. Ia tidak terikat pada harta benda, konstelasi apa pun, esksistensi, popularitas, dan sejenisnya. Umbu bebas dari ikatan-ikatan dan segala hal seperti anggapan dan penilaian umum.
Sementara, Emha adalah manusia esai. Kehidupannya adalah kehidupan esai. Esai yang harus ilmiah tapi tidak digolongkan karya ilmiah, esai yang harus puitis tapi tidak digolongkan puisi, esai yang prosais tapi tidak masuk golongan prosa. Emha tidak masuk golongan mana pun, walau dirinya menulis dan berada di semua bidang.
Mungkin memang benar jika bayang-bayang Umbu paling pekat hanya ada pada satu dua nama saja. Namun, ratusan bahkan ribuan nama lainnya tentu saja tidak luput diliputi bayang-bayang sang guru. Umbu telah menitis dalam hasil proses kreatif yang berada satu jalur dengan model karakternya.
Dari arsip dokumentasi berupa majalah, koran, kliping, naskah-naskah hasil tulisan tangan, ketikan, dan stensilan warisan Ragil Suwarna Pragolapati terekam jelas bukti ketulusan Umbu selaku kakak pengasuh kepada setiap adik-adik didikannya. Meski kertas-kertas itu telah usang dimakan usia dan rayap, namun berkas-berkas yang masih selamat benar-benar telah mengembalikan lagi waktu, ruang, dan peristiwa masa lalu itu. Setiap Minggu dengan tekun ditulis pesan singkat dan pengumuman kepada para penulis asuhannya di Pos Persada Studi Klub. Suatu bentuk perhatian yang total bagi setiap muridnya tanpa pandang bulu, memberi kesan mendalam, dan terus membayang dalam ingatan.
Terkait dengan itu, satu hal yang rasa-rasanya tidak boleh terlewat adalah peranan Umbu yang berhasil menciptakan poros baru sastra Indonesia di Yogyakarta dan Bali agar tidak melulu berpusat di Jakarta. Rubrik “Sabana” di Pelopor Yogya adalah wadah kompetisi yang drajat gengsinya sama dengan Majalah  Sastra Horison. Sementara di Bali, Umbu membuat rubrik “Posbud” atau “Pos Budaya” di Bali Post yang derajat gengsinya juga sama dengan Majalah SastraHorison.
Majalah Sastra Horison memang memiliki nilai legitimasi yang cukup besar bagi sastrawan Indonesia bertahun-tahun lamanya. Sejarahnya yang panjang dan hegemoni kekuasaan di Jakarta membuatnya berada di menara gading. Namun, menariknya ketika memutuskan untuk berhenti cetak1 pada usia 50 tahun, tepatnya tanggal 26 Juli 2016, Majalah Sastra Horison mengundang Emha Ainun Nadjib untuk berorasi budaya. Apa alasan panitia memilih murid kinasih Umbu Landu Paranggi itu untuk menjadi narasumber utama? Rasa-rasanya kini jarum jam telah berbalik arah, Emha Ainun Nadjib, apalagi Umbu Landu Paranggi telah menjadi padang sabana yang luas terbuka merangkum siapa dan apa saja.

Embus

Terakhir, melalui tulisan ini, izinkan saya mendaku Umbu sebagai guru. Selain karena banyak belajar kepada para murid —titisan Umbu Landu Paranggi di Yogyakarta, secara pribadi ada garis penghubung yang entah bagaimana awal mulanya bisa terjadi. Bersama Fitri Merawati dan Afrizal Oktaputra, kami seperti mendapat pekerjaan rumah tatkala Umbu mengirimkan sepucuk surat dititipkan Ririen Pranabuwani Khudi Iswari (putri Ragil Suwarna Pragolapati) yang tengah berkunjung ke Bali. Isi surat itu adalah sebuah nama berupa tulisan tangan Umbu dengan cat berwarna hijau berbunyi NanKiNun. Entah apa artinya. Tapi maknanya jelas, sebuah pekerjaan rumah yang ditugaskan guru kepada muridnya.
Seperti Ekalawya berguru kepada patung Drona, kepada bayang-bayang Umbu saya berguru. Dan dengan takzim beriring doa saya kirimkan buku Menoreh Rumah Terpendam berisi puisi-puisi saya ke Bali. Dari situlah terbit satu kisah yang bagi saya menakjubkan. Tidak seperti Drona yang meminta persembahan ibu jari Ekalawya setelah tahu ada seseorang yang memberhalakannya, tanpa disangka-sangka, pada tanggal 25 April 2017 malam hari, dering telepon gengam saya menyala dan setelah saya angkat langsung terdengar pertanyaan dengan suara berat “Bagaimana Bukit Menoreh?” Saya diam saja dan bertanya-tanya. “Ini saya, dari Denpasar!” Betapa kaget mendengar pernyataan itu. Tidak salah lagi, Umbu!
Kami pun berbincang. Ia banyak bertanya mengenai kondisi saya dan Bukit Menoreh, serta dinamika sastra di Yogyakarta. Terakhir Umbu meminta saya menulis prosa, percik permenungan, dan esai mengenai 90 tahun Sumpah Pemuda untuk dikirimkan ke Bali Post. Lagi-lagi sebuah pekerjaan rumah. Entah kesialan atau keberuntungan. Bayang-bayang Umbu, juga pekerjaan rumah itu pun “kembali menggoda, bahkan menyiksa batin kita.”
Catatan Kaki:
1 Mulai tahun 2018 Majalah Sastra Horison terbit lagi dengan format triwulan, atau tiga bulan sekali.
__

Latief S. Nugraha, Carik di Studio Pertunjukan Sastra dan Balai Bahasa DIY. Buku kumpulan puisinya "Menoreh Rumah Terpendam" (Interlude, 2016).

Sumber: Pocer.Co 

Selasa, 13 Februari 2018

Robot meluncurkan album, akankah musisi manusia terancam?

Alex Marshall | 13 Februari 2018



Hello World adalah album pertama di dunia yang dibuat oleh robot. Album yang memuat lagu-lagu, mulai dari yang bergenre tekno hingga Europop ini disebut kritikus BBC Culture, Alex Marshall, akan mengubah cara pandang kita soal kreativitas dan kecerdasan buatan.


    Benoît Carré adalah penulis lagu yang telah menggubah berbagai lirik dan musik untuk penyanyi-penyanyi besar Prancis, misalnya Johnny Halliday, Elvis-nya Prancis, dan Françoise Hardy. Dan bulan ini, musisi 47 tahun itu meluncurkan album hasil kolaborasinya dengan musisi yang mungkin siapapun tidak akan pernah duga.
    Musisi ini bukanlah penyanyi, bukan juga rapper, bahkan bukan manusia. Carré bekerja sama dengan Flow Machines, kecerdasan buatan paling canggih yang dapat menggubah musik.
    Jika melihat sedikit ke belakang, kecerdasan buatan memang sudah menancapkan taringnya di dunia musik. Bisa saja dalam waktu dekat, lagu-lagu yang kita sukai adalah buatan berbagai aplikasi dan teknologi komputer.
    Sejauh ini perusahaan start-up seperti Jukedeck, Amper Music dan Melodrive telah membuat kecerdasan buatan yang membuat penggunanya bisa memilih irama yang disuka seperti synth pop, musik elektronik dan sebagainya, lalu merangkainya, hanya dengan memijit tombol telepon pintar.
    Benoit Carre
    Image captionCarré telah menulis lagu untuk musisi terkenal Prancis, misalnya Johnny Halliday dan Françoise Hardy.
    Meskipun begitu, hasil ciptaan musik sejumlah start-up di atas tersebut, bisa dibilang tidak akan membuat para musisi khawatir. Pasalnya musik yang dibuat cenderung terkesan generik, membosankan dan tidak menginspirasi. Sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan musik yang digarap Bob Dylan, misalnya.
    Namun, album Carré, Hello World, berbeda. Musik yang dihadirkan amat ciamik. Dengan kecerdasan buatan yang dinamai SKYGGE (dalam bahasa Denmark berarti bayangan), muncullah lagu-lagu balada, pop, tekno hingga Europop. Jika Anda mendengarkannya di radio, pasti tidak akan terpikir kalau lagu tersebut tidaklah dibuat oleh manusia.
    Tak ayal, berbagai komentar bernada miring pun bermunculan. Misalnya, ada berita yang memasang judul 'Komputer bisa membuat lagu Europop, buat apa lagi gunanya musisi manusia?'. Namun, Carré menegaskan cara pandang itu salah. "Filosofi proyek ini adalah untuk membuat alat yang bisa membantu kreativitas musisi. Namun, ternyata orang tak peduli," ungkap Carré. "Mereka lebih tertarik mendengarkan pernyataan kalau musisi akan tergantikan".
    Flow Machine
    Image captionFlow Machines memang bisa membuat melodi, tetapi tetap manusia yang merangkainya menjadi lagu utuh.
    Tanpa bantuan manusia, lagu buatan robot ini akan terdengar murahan. "Banyak campur tangan orang di sini," ungkap Carré sambil mencontohkan produser musik asal Belgia, Stromae dan bintang pop Kanada, Kiesza, yang ikut membantu pembuatan Hello World.
    "Mereka menyerahkan jiwa dan semangat mereka untuk album ini. Dan itulah elemen paling penting dari sebuah album, sesuatu yang berasal hanya dari manusia."

    Lantunan lagu yang mengalir

    Penggunaan kecerdasan buatan untuk membuat musik, bukanlah hal baru, ungkap komposer dan pemain cello, Margaret Schedel, yang juga dosen musik di Universitas Stony Brook, New York.
    Orang-orang sudah menggunakan komputer untuk membuat musik klasik sejak tahun 1950an. Bahkan, komputer dinilai lebih bagus dalam menggubah musik dibandingkan manusia. Pada tahun 1980an, seorang profesor Prancis, Xavier Rodet, membuat kompternya 'menyanyikan' The Magic Flute karya Mozart. Hasilnya dinilai lebih bagus dari kebanyakan penyanyi opera baru.
    Stromae
    Image captionProduser asal Belgia, Paul Van Haver, aka Stromae, adalah salah satu musisi yang terlibat dalam proyek SKYGGE.
    Riset penggunaan robot untuk membuat musik kini terus berkembang. Robot bekerja sudah menyerupai otak manusia-belajar dari pengalaman.
    Lalu bagaimana caranya robot-robot ini menciptakan musik? Di Flow Machines pengguna harus memasukkan puluhan musik ke dalam sistem. Kecerdasan buatan akan menganalisa musik tersebut satu-satu, melihat polannya, lalu kemudian mengeluarkan respon berupa musik-musik pendek.
    Sambil tertawa Schedel menyebut "sekitar 99% musik pendek yang diciptakan robot, lebih bagus dibandingkan musik yang ditulis mahasiswanya."
    Schedel
    Image captionMargaret Schedel adalah musisi dan pemain cello, yang turut mengajar di Universitas Stony Brook, New York.
    Namun, ketika kita beralih ke musik yang lebih kompleks, seperti lagu pop, robot mengalami kesulitan. "Musik itu kompleks. Banyak sekali dimensinya. Alhasil, jika ada satu bagian yang salah, orang akan tahu," kata Schedel. "Lebih gampang menipu mata daripada telinga."
    Keuntungan menggunakan robot seperti Flow Machines, jelas dirasakan mereka yang telah menggunakannya. "Ini seperti punya musisi baru yang bermain alat musik di sudut studio," ungkap Michael Lovett dari band elektronik NZCA Lines, yang turut memproduksi Hello World.
    "Yang keluar biasanya adalah musik-musik yang terkesan murahan, sampah. Namun, kadang tiba-tiba muncul lantunan musik yang unik, menarik, 'Wah, enak sekali', saat itulah saya biasanya langsung mengambil potongan musik itu dan menjadikannya lagu."

    Musik Cyborg

    Lovett membuat lagu berjudul Multi Mega Fortune di album Hello World. Lagu futuristik ini punya melodi reff bernada tinggi, sangat membuat candu. Untuk membuatnya, Lovett memasukkan berbagai lagu R&B favoritnya ke sistem Flow Machines. Kecerdasan buatan lalu menganalisa musik tersebut dan membuat delapan hingga 10 melodi pendek secara terus menerus. Lovett terus mendengar sampai dia menemukan melodi yang menarik hatinya.
    Dia lalu menyambung melodi-melodi yang ada, menyuntingnya, dan menambah berbagai efek supaya terdengar lebih enak. Semuanya itu dilakukan dalam proses yang tidak sebentar. "Namun, jelas ini jauh lebih cepat, dan sangat menyenangkan ketika mendengar melodi-melodi yang tercipta, sampai akhirnya mendapatkan satu yang memikat."
    "Jujur, saya tidak tahu apakah robot ini memang punya kemampuan atau cuma beruntung saja mereka membuat melodi yang ternyata saya suka."
    Meskipun terkesan bahagia, Lovett sebenarnya agak takut, suatu hari kecerdasan buatan akan mengambil alih dunia musik, profesinya. Perusahaan rekaman mungkin suatu hari tinggal bicara, 'Kami ingin lagu rock baru a la lagu-lagu U2'. Mereka kemudian tinggal memencet tombol keyboard dan muncullah puluhan lagu utuh seperti yang diharapkan.
    robot
    Image captionAkankah robot menginvasi dunia musik?
    Schedel, yang juga seorang akademisi sepakat bahwa kekhawatiran Lovett beralasan. "Mengapa kita harus membayar seorang musisi jutaan rupiah, jika bisa membayar kecerdasan buatan dengan harga ratusan bahkan puluhan ribu saja?"
    Namun, dia menambahkah, "Jika memang robot membuat musik yang lebih enak didengar dibandingkan 95% musik buatan musisi jalanan, memangnya itu salah?" Menurutnya, orang-orang seharusnya lebih semangat, daripada khawatir, karena musik buatan robot ini akan mendorong manusia menghasilkan sesuatu yang lebih baru lagi.
    "Yang saya tidak sabar menunggu adalah untuk mendengarkan musik cyborg: musik kombinasi buatan manusia dan robot," ungkapnya. "Saya sangat yakin kalau kita bisa menggunakan robot untuk mendongkrak kreativitas kita: menciptakan melodi yang tidak bisa dibuat hanya oleh manusia atau robot."
    musik
    Image captionSalah satu alasan bahwa robot mungkin tidak akan mengambil alih dunia musik adalah karena musik merupakan aktivitas sosial-komunal.
    Dia juga menambahkan bahwa robot belum akan mengambil alih manusia dalam membuat musik, karena musik adalah aktivitas sosial-bersama: kita suka menonton pertunjukan langsung.
    Lalu kapan kira-kira musik gubahan kecerdasan buatan akan semakin ramai? Tidak ada yang tahu. Bahkan kita sendiri tidak tahu bagaimana masa depan Flow Machine. Yang jelas, pengembang utama Flow Machine, François Pachet, kini merupakan salah satu direktur di Spotify.
    Jadi, jika suatu saat playlist Spotify Anda memperdengarkan lagu-lagu yang terdengar janggal, Anda boleh curiga kalau lagu tersebut mungkin bukanlah buatan manusia.

    Sumber: BBC Indonesia 

    Rabu, 31 Januari 2018

    Sekolah Tanpa Seragam, Tanpa Guru, dan Tanpa Mata Pelajaran di Yogya


    Oleh: Titah AW | foto oleh: Umar Wicaksono

    Sanggar Anak Alam (SALAM) di Yogyakarta punya kurikulum berbasis riset, mendekatkan lagi sekolah ke kehidupan, dan memerdekakan siswanya.



    Angin sepoi dari sawah menyusup lewat rongga dinding bambu menuju ruang kelas di Sanggar Anak Alam (SALAM). Tak ada bangku-bangku berjejer kaku, di ruangan itu hanya ada satu meja kayu panjang yang dipakai bersama layaknya meja makan di rumah. Nane, salah satu siswa kelas 7 sedang duduk tepekur membaca buku soal tanaman obat herbal. Semester ini ia memilih riset soal obat herbal,
    “Semester lalu aku riset soal tanaman, baru semester ini aku kembangkan riset soal tanaman herbal. Nanti pengin bikin obat batuk sendiri.”
    Buku yang ia pegang berhias lipatan di ujung-ujung halamannya. 

    Duduk di sampingnya, Jeno tengah meriset soal Tari Salsa. Ia sedang membuat sketsa seorang penari berkostum warna-warni. Ada juga Ellena yang belajar soal shampo organik, Nil yang meneliti kopi, dan teman-teman lain yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tak ada komando dari guru untuk membuka buku di halaman tertentu atau ujian kelas tiap minggu, begitulah rutinitas sehari-hari sekolah di SALAM.

    Lalu pelajarannya apa? Gurunya ngapain? Tugas-tugasnya mana?

    Jawaban dari semua pertanyaan itu singkat saja. Tidak ada.

    Sekolah yang didirikan di tengah area persawahan di daerah Nitiprayan , Yogyakarta, ini membalik tatanan pendidikan yang selama ini kita tahu. Sri Wahyaningsih (akrab disapa Wahya), pendiri SALAM memulai sekolah ini pada tahun 2000 lalu dengan kurikulum yang berbeda, yaitu berbasis riset. Jika di sekolah formal, tiap semester anak-anak wajib mengikuti 8-10 mata pelajaran yang sudah ditentukan oleh sekolah, di SALAM mereka memilih sendiri topik riset mereka, baru mengembangkan risetnya ke pengetahuan lain.

    Nane misalnya, dari riset soal obat herbal, ia jadi harus belajar juga soal jenis tanaman herbal, cara bertanam, sakit-penyakit, metode pengobatan, industri obat-obatan, bahkan soal roda ekonomi yang bergulir di isu soal obat. Dari satu topik, pengetahuan meluas meliputi berbagai macam hal. Dengan metode seperti ini, pengetahuan yang muncul adalah pengetahuan yang benar-benar dibutuhkan oleh siswa. 
    Tak akan ada pertanyaan galau macam “Kemaren itu susah-susah belajar fisika gunanya buat apa ya?” atau “Ujian matematika disuruh ngitung ribet banget, padahal tiap hari yang kepakai gini doang?”

    Suasana kelas di SALAM

    Menurut Wahya, dengan riset, anak-anak jadi punya pemikiran kritis dan punya solusi. Karena mereka memilih sendiri topiknya, jadi tidak ada pengetahuan yang dipaksakan. Bahkan banyak dari mereka yang sudah punya penghasilan sendiri, karena tak jarang produk hasil riset mereka bisa langsung dijual. SALAM juga punya kegiatan bernama Pasar Legi dan Pasar Ekspresi di mana siswa-siswanya boleh menjual produk hasil buatan mereka sendiri.

    Di SALAM, mata pelajaran di sekolah formal justru dianggap seperti kotak yang membatasi insting eksplorasi siswa. Tak cukup dengan diberi batas, siswa dipaksa memenuhi beban nilai yang sangat berat. Menelan ilmu-ilmu yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. 
    “Di sekolah formal saya melihat mereka banyak belajar sesuatu yang belum pas di usianya. Misalnya anak SD belajar tugas MPR-DPR, prosedur cari KTP, Pemilu, itu ngapain? Untuk apa? Harusnya kan mereka belajar soal diri sendiri, potensi diri, apa yang dia lakukan, dan kebutuhan dasar mereka,” ujar Wahya.
    Kesadaran Wahya soal model pendidikan yang tidak efektif pertama kali muncul saat ia mengikuti kegiatan Romo Mangun (YB Mangunwijaya) di bantaran Kali Code, Yogyakarta. Namun, embrio SALAM justru ia bentuk di daerah Lawen, Banjarnegara.
    Saat itu ia yang baru menikah memutuskan pindah ke sana. Di Lawen yang saat itu masih merupakan desa terpencil, ia melihat banyak anak putus sekolah, menikah dini, dan tingkat kemiskinan yang tinggi. Akhirnya, pada 1988 terbentuklah SALAM yang pertama dengan format kelompok belajar.

    Menurutnya, orang di desa tidak termotivasi untuk menyekolahkan anak mereka, karena biasanya ketika anak sudah jadi siswa sekolah, mereka tidak mau lagi membantu keluarga di sawah. 
    “Kita itu negara agraris, tapi pemerintah malah bikin program cuci tangan dengan sabun, kesannya tanah itu jadi kotor dan tidak higienis. Anak jadi jauh dengan sawah. Di Papua juga, dulu kaki-kaki mereka nggak apa-apa kena duri di hutan, tapi sejak ada sekolah lalu mereka wajib pakai sepatu kaki jadi manja, malah nggak biasa masuk hutan lagi. Padahal itu lingkungan mereka. Menurut saya, sekolah justru mencabut mereka dari akarnya, menjauhkan mereka dari lingkungan dan kehidupan yang sesungguhnya,” ujar Wahya.

    Sekolah SALAM tampak dari samping

    Berdirinya SALAM di Yogya pun bertahap dan terus berkembang secara organik. Pada tahun pertamanya, SALAM baru membuka kelas pendampingan remaja tiap sore. Baru pada 2004, didirikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), dan Taman Anak tahun 2006. Jenjang Sekolah Dasar (SD) juga baru ada tahun 2008. Diikuti SMP tahun 2011.

    Bertahan agak lama, baru pada 2017 orang tua murid meminta Wahya untuk mendirikan SMA. Saat ini status hukum SALAM masuk kategori Pendampingan Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) sebagai sekolah non-formal. Kategori ini masih di bawah Dinas Pendidikan Nasional.

    Tapi demi urusan legalitas dan birokrasi, siswa SALAM masih mengikuti ujian kejar paket penyetaraan dari pemerintah. Jadi ketika mereka di kelas 6 SD, 3 SMP, dan 3 SMA yang mereka lakukan untuk persiapan ujian adalah riset soal Ujian Nasional. Tapi alih-alih menjawab soal, mereka justru mengevaluasi soal Ujian Nasional itu.
    “Anak-anak itu nemu banyak soal UN yang salah, jawabannya salah, juga banyak yang sebenernya nggak perlu ditanyakan, malah mengevaluasi soal pemerintah,” cerita Wahya tertawa. Dengan evaluasi soal UN ini, mereka ingin siswanya tidak terjebak pada metode hafalan.
    Alih-alih guru, tiap kelas di SALAM diampu oleh 3 fasilitator. Tugas mereka hanya mendampingi riset yang dilakukan oleh siswa. Mereka bahkan tak berhak mengatur jalannya kelas. Karena kelas berjalan sesuai dengan kesepakatan yang dibuat oleh siswanya sendiri. Pelajaran agama tak diberikan di sekolah karena menurut Wahya itu jadi tanggung jawab orang tua. Selama risetnya, anak-anak dibatasi menggunakan gadget. 

    Buku dan narasumber dijadikan rujukan pertama, baru jika sudah benar-benar kesulitan siswa boleh menggunakan gawai berinternet. Di akhir semester, hasil riset dipresentasikan dalam berbagai bentuk seperti pameran atau pertunjukan. Dengan metode seperti ini, anak-anak dilatih untuk memerdekakan diri mereka. Belajar apa yang mereka sukai, menemukan pengetahuannya sendiri.

    Satu-satunya batas yang diberikan ke anak adalah pemilihan topik riset, yaitu harus apa yang sehari-hari mereka lihat atau pegang. 
    “Masak iya di sini mau belajar roket, padahal kita enggak pernah lihat roket beneran, itu enggak akan ngaruh ke masa depan mereka. Kami nggak minta riset yang gede kok, supaya tidak terlalu berjarak dengan lingkungan,” cerita Erika, fasilitator relawan yang mendampingi kelas 7.
    “Di sini aku jadi menghargai proses anak-anak, ada yang cepet, ada yang lambat. Di titik itu aku mengerti anak-anak berkembang dengan cara sendiri-sendiri,” ujar Erika.
    Andy Hermawan, fasilitator kelas 5 SD juga bercerita soal siswa-siswanya.
    “Kami sedang riset soal kangkung dan kemangi lewat dua media tanam, tanah dan aquaponik. Nah dari situ, kita belajar bahwa kangkung dan kemangi banyak tumbuh di Asia Selatan. Jadi belajar geografi juga, negara di Asia Selatan apa aja, ibu kotanya apa aja, mata uangnya apa. Jadi meluas gitu,” ujarnya sumringah.
    Dalam evaluasi siswa, mereka menghindari menghakimi menggunakan angka. Semua laporan berbentuk naratif dan menyoroti perkembangan siswa, bukan kecakapan siswa dalam sebuah topik tertentu. Dengan begini, siswa tak merasa rendah diri, dan terhindar dari sifat kompetitif dengan temannya.

    Meski pengetahuan yang ada di SALAM terlihat sangat sporadis, sebenarnya Wahya dan para fasilitator merancang empat pilar pengetahuan pokok yang wajib ada: pangan, kesehatan, lingkungan, dan sosial budaya. Empat pilar ini adalah hal yang menopang dan berhubungan langsung dengan kehidupan keseharian kita.

    Wahyaningsih dan cucunya

    SALAM percaya bahwa cara belajar dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh tiap anak itu berbeda. Penyeragaman pendidikan justru akan mematikan potensi dan kepribadian anak itu sendiri. Maka kalau anak terjebak pada sistem pendidikan tersebut, bukan tak mungkin ia hanya akan jadi sekrup-sekrup di pabrik yang kapan saja bisa diganti dengan mudahnya. Pendidikan kita yang praktikal dan generik mengarahkan kita jadi produk-produk industri, seperti yang diilustrasikan Pink Floyd di lagu “Another Brick in The Wall”. Seolah antara ‘terpelajar’ dan ‘berijazah’ adalah dua hal yang sama sekali berbeda.
    “Pemerintah kita nggak mendesain pendidikan sesuai dengan Bhineka Tunggal Ika. Penyeragaman itu kan sebenarnya menodai slogan itu sendiri. Pendidikan di sini sama di Papua kan harusnya beda, tapi sekarang disamakan. Kalau standarnya dibuat satu, jadinya memarjinalkan. Itu luar biasa bahaya,” ujar Wahya berapi-api.
    Menurutnya, harusnya pemerintah cukup menentukan capaian atau kompetensi dasar untuk pendidikan, “Cukup blueprint-nya aja, prakteknya harusnya diserahkan pada institusi pendidikan. Nah tiap sekolah harusnya punya visi misi sendiri, jadi yang daftar juga berarti sepakat dengan visi institusi itu.”

    Ada yang bermain, ada yang baca buku

    Saat ini, mulai muncul banyak sekolah alternatif baru di berbagai daerah. Di Yogyakarta saja, selain SALAM ada Sekolah Akar Rumput, Sekolah Tumbuh, dan lainnya. Belum lagi sekolah-sekolah yang muncul di daerah lain di Indonesia. Oktober 2016 lalu, beberapa pegiat sekolah alternatif se-Indonesia berkumpul di SALAM untuk membentuk Jaringan Pendidikan Alternatif dan kegiatan Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif untuk menularkan semangat ini ke publik yang lebih luas. 
    “Sekolah itu harus kritis, kalau enggak nanti kayak sekolah gajah. Gajah dulu kan ngamuk pas hutan mereka di rusak, eh setelah dididik, sekarang mau disuruh ngangkutin gelondongan kayu atau main sirkus. Kalau nggak kritis, kita cuma akan jadi buruh-buruh aja. Enggak punya inisiatif, enggak punya ketrampilan, enggak punya ciri khas masing-masing. Kami sangat menghindari penyeragaman dalam bentuk apapun.”
    Vice 

    Selasa, 16 Januari 2018

    Ketika Puisi Menjadi Senjata Petani

    Oleh Siti Maemunah

    Puisi selalu dihubungkan dengan seni, perasaan yang diungkapkan dengan narasi yang simbolis dan indah. Dalam buku ini, penulis menggambarkan perjuangan petani yang keras sebagai perlawanan politik seindah puisi, puitik. Puisi bisa menjadi senjata perlawanan petani.
    Mohamad Sobary, atau biasa disapa Kang Sobary, memperkenalkan perlawanan petani dalam berbagai penanda kejadian, ruang, waktu, dan pengalaman ketubuhan yang puitik dari para petani tembakau Temanggung. Salah satu penanda itu, kembang beraneka warna dan dupa menyala pada saat para petani, rohaniwan, kepala adat, pejabat desa hingga kecamatan yang kecewa dan marah terhadap kebijakan pemerintah, datang bersama ke Tuk Budoyo, salah satu ritus tradisi tempat mereka berdoa. Mereka hendak mengadukan pemerintah sebagai penguasa bumi yang abai dan tidak bertanggung jawab kepada penguasa langit, Tuhan Yang Maha Kuasa. Penulis memaknai penanda tersebut sebagai simbol perlawanan politik yang puitik. Inilah kekuatan narasi buku ini.
    Metode yang digunakan untuk mendapat makna puitik perlawanan, kekuatan lain buku ini. Penulis membandingkan laku dan semangat perlawanan petani tembakau dengan makna puisi, kidung, tarian karya seni yang lahir jauh sebelumnya pada perjuangan yang berbeda zaman. Lewat kidung tradisi lisan sebelum masa kemerdekaan, karya-karya Chairil Anwar di masa perjuangan kemerdekaan, juga puisi Taufiq Ismail dan Wiji Thukul pada perlawanan masa Orde Baru.
    Kembang beraneka warna dimaknai sebagai keberanian dan kesucian, sebanding dengan kembang dalam puisi Sia-Sia milik Chairil Anwar. Sementara dupa menyala dengan asapnya yang menari di udara, sebanding keindahan sebuah kidung lisan tradisi pedesaan di Jawa yang memaknai wangi kembang dan asap dupa, penghubung bumi dan langit. Keduanya mewakili keberanian dan niat suci para petani dan pendukungnya, yang menumpahkan perasaan dan berharap pengaduan mereka didengar penguasa langit.
    Membutuhkan imajinasi budayawan seperti Sobary untuk menangkap makna puitik perlawanan politik lewat kehadiran kembang dan dupa, tumpeng tulak dan ingkung putih mulus, ataupun kepulan asap dari 10.0000 petani yang mengisap kretek bersamaan di suatu pagi di lereng Gunung Sumbing, sebagai bentuk protes kepada pemerintah.
    Buku ini memaparkan perlawanan politik petani Temanggung menolak peraturan pemerintah (PP) yang membatasi produk tembakau. Perlawanan yang berlangsung sepanjang empat periode kepresidenan. Tepatnya sejak keluar Keppres Nomor 81 Tahun 1999 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan di masa Presiden Habibie. Namun, pelaksanaan aturan itu ditunda Presiden Abdurrahman Wahid, bahkan dicabut di masa Presiden Megawati Soekarnoputri. Akan tetapi, pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono justru dihidupkan lagi melalui UU No 36/2009 tentang Kesehatan, yang berlanjut dengan keluarnya PP No 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. PP tak hanya membatasi peredaran rokok, tetapi juga produksi, cara mengemas, dan mengonsumsinya. Tindakan yang menurut para petani akan memukul industri rokok, dan merugikan petani tembakau di dalamnya.
    Selain kerugian, buku ini juga menyuarakan protes petani terhadap campur tangan asing saat keluarnya PP tersebut, termasuk dukungan donor asing pada kampanye global anti tembakau. Mereka menuduh pemerintah mengambil mentah-mentah pasal-pasal FCTC atau Kerangka Kerja Konvensi Kontrol terhadap Tembakau yang dibuat pada 1999. Empat tahun kemudian, kerangka kerja ini menjadi konvensi PBB. Meski menjadi penggagas FCTC, Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia yang belum meratifikasi konvensi ini.
    Jejak kolonial
    Namun, buku ini menyisakan pertanyaan, apakah politik produksi-konsumsi tembakau adalah medan yang tepat untuk memeriksa relasi opresif antara petani dan negara. Narasi perlawanan politik dalam buku ini menyederhanakan kerumitan politik pertembakauan, menjadikannya seolah hanya dua pelaku tunggal yang berhadapan, pemerintah dan petani tembakau yang pertama regulator, yang kedua pekerja. Di mana kapital tembakau dan produk olahannya? Padahal, skala bisnis mereka meraksasa, 2 dari 10 besar korporasi yang terdaftar di Bursa Saham Indonesia (IDX) adalah perusahaan rokok. Pada 2014, konsumsi rokok Indonesia mencapai 344 miliar batang, sekitar dua kali lipat konsumsi pada 2005.
    Pemerintah juga punya banyak wajah dan kepentingan, pun petani tembakau. Ada petani bertanah dan tak bertanah, ada petani laki-laki dan perempuan. Belum lagi hubungan keduanya dengan korporasi besar macam Djarum, Philip Morris, dan lainnya. Juga tekanan publik yang menuntut dibatasinya peredaran tembakau. Semua itu menunjukkan rumitnya kontestasi dalam politik pertembakauan. Serumit jejak kolonial, yang membawa masuk komoditas global ini, membuat Indonesia menjadi salah satu produsen dan konsumen rokok terbesar dunia.
    Dalam artikelnya, ”From Betel-Chewing to Tobacco-Smoking in Indonesia,” Anthony Reid (1985) memaparkan bagaimana Belanda memperkenalkan tembakau tanaman asal Meksiko pada para penguasa Hindia Belanda di pertengahan abad ke-15 saat budaya sirih pinang mendominasi bangsa kepulauan Asia Pasifik, juga Indonesia. Budaya menyirih pinang kerap dipakai Belanda menunjukkan superioritas bangsa penjajah. Mereka menyebut orang yang menyirih pinang lebih mirip kelakuan monyet dibandingkan manusia. Pada akhir abad ke-18, tembakau berhasil menjadi pelengkap sirih pinang. Belanda berhasil membuat merokok yang semula gaya hidup orang Eropa diadopsi para raja dan kelas menengah kota, terus menjalar ke kampung-kampung.
    Pendidikan dan gaya hidup menjadi faktor utama budaya sirih pinang ditinggalkan. Pengguna tembakau yang dicitrakan sebagai lebih modern menjadi cara efektif menggusur budaya sirih pinang. Budaya patriarki di Jawa yang mengutamakan laki-laki mendapatkan pendidikan dan informasi, membuat mereka lebih cepat meninggalkan budaya sirih pinang berpaling ke rokok. Inilah wajah maskulinitas rokok.
    Maskulinitas begitu terasa dalam buku yang sepi dari pandangan dan pengalaman perempuan Temanggung. Meski narasi yang dibahas mengutip pemikiran Kartini tentang puisi, bahkan menyebut feminisme sebagai salah satu teori yang dirujuk, tetapi karya ini tidak memberikan pelaku perempuan bersuara.
    Ayolah Kang, masa peran yang ditampilkan oleh perempuan tidak terlihat? Suara perempuan juga puitik lho.
    Resensi tersebut telah diterbitkan oleh Kompas 14 Januari 2017, halaman 24. Versi PDF nya bisa di unduh DI SINI.

    Jumat, 12 Januari 2018

    Gumbrengan Kendeng

     Rembang, 12 Januari. 2018 | Ngatiban 


    Gumbregan adalah tradisi yg setiap tahun secara rutin di lakukan di setiap selesai musim tanam di mana ternak sapi kerbau di saat musim tanam di ajak kerja keras para petani untuk mengolah lahan yg di persiapkan untuk di tanami. Di saat musim hujan tiba, aktifitas petani mesti meningkat, terutama pekerjaan sawah di masa musim tanam. Disitulah peran ternak yg membantu meringankan dalam pengolahan tanah disaat musim tanam. Maka kesehatan fisik ternak, kesehatan fisik para petani sangatlah penting untuk dipastikan. Maka di saat selesai tanam para petani melakukan Gumbregan sebagai tradisi sebagai ucap syukur atas terselesainya pekerjaan sawah, selesainya menanam dengan ternak yang selalu sehat.
    Para petani memasak ketupat untuk didoakan setelah itu berikan kepada sapi dan dulur-dulur disekitarnya. Bagi para petani hewan dan ternak di desa merupakan media untuk bercocok tanam untuk membantu mengolah tanah yg mau di tanami. Ternak sapi kerbau bagi petani adalah ROJO KOYO, wujud sandang pangan. Fungsinya ternak yg bisa membantu menyelesaikan pengolahan lahan sawah atau ladang juga punya nilai besar peningkatan ekonomi dari mulai kotoran ternaknya, penggemukan dagingnya hingga anakannya.


    Harmonisasi alam (ibu bumi) dan seluruh makhluk hidup di dalamnya senantiasa kami jaga. Kemajuan teknologi, tidak boleh menghancurkan kearifan lokal yang telah turun temurun diajarkan oleh leluhur kami. Bagaimanapun, cara-cara yang alami dalam menjaga ibu bumi akan menjamin kelestariannya. Begitulah kehidupan kami sebagai petani. Ibu bumi tidak hanya kita ambil hasilnya, tetapi juga kita rawat. Merawat berarti kesadaran untuk selalu mengucap syukur atas berkah yang sudah kita terima.
    Seperti lesung yang selalu jumengglung ketika ditabuh, seperti itu pula semangat kami sebagai petani untuk terus menggemakan perjuangan dalam melestarikan ruang hidup dan ruang produksi pertanian dengan cara-cara yang bermartabat. Pertanian adalah hidup. Pertanian adalah kebudayaan. Selama ketidakadilan kepada rakyat (petani) terjadi, selama itu pula kami akan terus menabuh lesung sebagai tanda adanya perlawanan terhadap ketidakadilan.
    Salam Kendeng...
    Lestari...