This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 29 Mei 2017

Pers Mahasiswa Menggugat Orde Baru


Pers mahasiswa menjadi alternatif informasi di tengah hegemoni Orde Baru. Kendati mengalami pergeseran fokus, kritisisme mahasiswa tetap hidup.


Suasana dalam "Diskusi dan Ngopi Bareng Historia: Dari Breidel sampai Hoax, Mengenang Masa Kelam Kebebasan Pers Era Soeharto" di Tanamera Coffee Jakarta, Rabu 24 Mei 2017. 
Foto


Pada masa Soeharto berkuasa, pemerintah menerapkan kontrol penuh terhadap pers dan tak jarang represif. Karenanya rezim Soeharto dikenal sebagai rezim pengendali pers. Pemerintahan Orde Baru kerap melakukan pengekangan terhadap lembaga pers profesional. Keadaan itu membuat mahasiswa generasi 1990-an merasakan masa suram demokrasi.

Kelompok mahasiswa idealis saat itu tidak tertarik menjadi wartawan di media yang dikendalikan pemerintah. Karenanya, mereka mimilih untuk membuat media sendiri sebagai alternatif. Mereka menyajikan informasi alternatif yang lebih kritis. Pemberedelan Majalah Tempo dan Monitor pada 1994 adalah momentum menggeliatnya pers mahasiswa yang bergerak secara underground.
“Periode 1994 hingga 1998 itu juga ditandai dengan munculnya pers-pers bawah tanah yang kemudian memberikan informasi alternatif,” kata Ignatius Haryanto ketika berbicara dalam diskusi bertajuk “Dari Breidel Sampai Hoax: Mengenang Masa Kelam Kebebasan Pers Era Soeharto”, Rabu (24/5/2017).
Media yang mereka terbitkan kerapkali memacak headline atau artikel yang kritis terhadap pemerintah. Saat itu salah satu wacana yang santer diangkat pers mahasiswa adalah soal posisi militer dalam politik. Tak jarang, pers mahasiswa mengkritisi militerisme Orde Baru melalui kartun-kartun provokatif. 
“Makanya pers mahasiswa itu laris. Dicetak 4000 sampi 5000 eksemplar lalu dijual di lapak-lapak luar kampus. Dan itu laku, bahkan hampir semua peneliti luar yang menelaah Indonesia mengoleksi itu,” ungkap Nezar Patria, anggota Dewan Pers, yang turut menjadi pembicara.
Kritisisme lembaga pers mahasiswa itu membuat mereka juga menjadi sasaran represi rezim Soeharto. Akibatnya media terbitan lembaga pers mahasiswa diputus pembiayaannya oleh pihak perguruan tinggi atas tekanan dari penguasa. 
“Tak habis akal, akhirnya media itu diproduksi dengan difotokopi. Padahal, kalau sekarang kita baca-baca lagi lebih kental propagandanya daripada beritanya,” ujar Nezar Patria.
Karena muatan propaganda itu media terbitan lembaga pers mahasiswa memiliki andil dalam Reformasi 1998. Media itu menjadi pemersatu elemen-elemen mahasiswa selama aksi Reformasi. Mulai dari awal pembentukan gerakan di kampus, aksi-aksi demonstrasi, hingga perkembangan wacana di kalangan aktivis mahasiswa semua dilakukan dengan memanfaatkan media pers mahasiswa.

Kini, seiring perkembangan zaman, pers mahasiswa juga mengalami pergeseran. 
“Soal fokus, kini pers mahasiswa lebih banyak mengangkat isu-isu internal kampus. Mungkin juga kondisi riil sekarang ini tidak membuat mereka merasa perlu turun tangan. Tapi, hal seperti itu sebenarnya kembali kepada mahasiswa sendiri yang menjadi penggerak pers kampus,” ujar Ignatius.

Andina Dwifatma, dosen komunikasi Universitas Atma Jaya, yang ikut menjadi pembicara berpendapat bahwa kritisisme tetap menjadi ciri khas pres mahasiswa. Dia mencontohkan kasus pemberedelan 

Majalah Lentera yang diterbitkan oleh mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Majalah itu diberedel lantaran mengangkat soal Tragedi 1965. 
“Jadi, kita tidak bisa menyebut mahasiswa sekarang kurang kritis,” tutur Andina.

Namun, dia menengarai ada usaha-usaha untuk menjauhkan mahasiswa dari kritisisme. Itu dilakukan dengan mengarahkan mahasiswa untuk lebih berorientasi akademis dan menghindari politik. 
“Memang ada pewacanaan bahwa mahasiswa harus netral dan sebaiknya tidak terlibat politik. Kepada mereka ditekankan bahwa tugasnya hanyalah belajar, cepat lulus, dan bekerja,” pungkasnya.

Sumber: Historia 

Sabtu, 27 Mei 2017

Kisah Klasik Catatan Perjalanan Bujangga Manik

Reporter: Irfan Teguh | 27 Mei, 2017
Ilustrasi Bujangga Manik. Tirto.id/Fuad
Kisah perjalanan seorang bangsawan yang memilih jalan sunyi menjadi rahib.

Setidaknya 450 nama tempat muncul dalam kisah Bujangga Manik dan sebagian besar bersesuaian dengan topografi Pulau Jawa.

Kesusastraan klasik kaya dengan bentuk cerita-cerita perjalanan. Salah satu yang termasyhur adalah catatan perjalanan Bujangga Manik.

Salah satu naskah sastra Sunda kuna, bahkan bisa dibilang salah satu naskah yang terpenting, adalah perjalanan Bujangga Manik menyusuri Pulau Jawa dan Bali. Naskah ini ditulis dalam larik-larik delapan suku kata—bentuk terikat dalam puisi cerita Sunda kuno, yang ditulis di atas daun palem yang tersimpan di perpustakaan Bodleian di Oxford (Inggris) sejak 1627 atau 1629.

Bujangga Manik adalah seorang bangsawan Kerajaan Sunda (Pakuan Pajajaran) yang memilih menjadi rahib Hindu-Sunda yang berkelana ke beberapa tempat suci untuk mencari tempat untuk masa akhir hidupnya. Dalam naskah (baris 663-667) yang tertuang di buku Tiga Pesona Sunda Kuna karya J. Noorduyn (Direktur KITLV yang pensiun pada 1991) dan A. Teeuw (Profesor Emeritus bidang Bahasa dan Sastera Melayu dan Indonesia di Universitas Leiden) tertulis:
“Nyiar lemah pamasaran/ nyiar tasik panghanyutan/ pigeusaneun aing paéh/ pigeusaneun nunda raga.”
“Mencari tempat untuk pekuburan/ mencari telaga untuk tenggelam/ tempat untuk kematianku/ tempat untuk meninggalkan badan.”
Bujangga Manik melakukan perjalanannya sebanyak dua kali. Yang pertama dari Pakancilan di Pakuan Pajajaran sampai ke Pamalang di Jawa bagian tengah. Ia pulang karena rindu kepada ibunya. Perjalanan kedua dilakukan dari Pakancilan melewati Jawa bagian tengah, Jawa bagian timur, sampai Bali. Lalu kembali ke Jawa bagian barat dan berhenti di Gunung Ratu, tak jauh dari kaki Gunung Patuha, dan tak pernah kembali lagi. Ia wafat di sana.

Dalam Bujangga Manik dan Studi Sunda, A. Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik berlangsung atau ditulis pada masa Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511.

Kenapa Bujangga Manik memilih menjadi rahib dan meninggalkan kehidupan istana? Dalam Suluk Abdul Jalil Volume 4 diterangkan bahwa kondisi Dayeuh Pakuan Pajajaran waktu itu ibarat surga. Kemakmuran dan kemuliaan tersuguh di ibu kota kerajaan Sunda itu. Namun, hal tersebut hanya dinikmati segelintir kalangan saja yang dekat dengan pusat kekuasaan. Sementara mayoritas masyarakat adalah para kawula dengan status budak belian yang setiap saat bisa diperjualbelikan. Hal itulah yang membuat Bujangga Manik memilih berkelana meninggalkan pusat kekuasaan.

Pada perjalanannya yang kedua, ada satu dorongan tambahan yang membuat Bujangga Manik segera meninggalkan ibunya dan kehidupan di lingkungan istana: dia dilamar seorang perempuan cantik dan ibunya menyarankan untuk menerima lamaran tersebut. Seorang kurir yang bernama Jompong Larang disuruh perempuan yang melamar Bujangga Manik untuk menyampaikan maksudnya, sembari membawa sirih-pinang yang ditata di atas baki, ditutup dengan sapu tangan, dan tersusun begitu rapi, dan rupa-rupa pemberian lainnya.

Ibunya berkata pada baris 535-545:

“Anaking, haja lancanan/ karunya ku na tohaan/ sugan sia hamo nyaho/ tohaan geulis warangan/ rampés rua rampés ruah/ teher geulis undahagi/ hapitan karawaléa/ buuk ragi hideung teuleum/ ceta hamo diajaran/ na geulis bawa ngajadi/ na éndah sabot ti pangpang/ hanteu papahianana.”   
“Ananda, layanilah dengan serius/ kasihan terhadap puteri/ barangkali ananda tidak tahu/ puteri cantik pantas diperisteri/ cantik rupa baik perilaku/ bahkan berperawakan indah semampai/ gadis pingitan juga setia/ rambut hitam bagai dicelup/ terampil tanpa harus diajari/ cantik bawaan semenjak lahir/ jelita saat masih dikandung/ tiada yang menandingi.”

Mendengar perkataan ibunya, Bujangga Manik bukannya menurut dan menerima lamaran, ia malah menyuruh untuk mengembalikan semua pemberian perempuan yang melamarnya. Ia menganggap bahwa kata-kata ibunya terlalu berlebihan, terlampau memuji, dan hal itu menurutnya adalah perbuatan terlarang. Pada baris 553-562 Bujangga manik berkata:

“Leumpang bawa pulang deui/ leumpang reujeung si Jompong/ ka dalem ka na tohaan/ seupaheun ta bawa deui/ buah reumbeuy bawa deui/ piburateun pihiaseun/ éta bawa pulang deui/ pikaéneun pisabukeun/ kalawan keris maléla/ leumpang bawa pulang deui.”
“Pergi dan bawalah kembali/ sekalian pulangkanlah bersama si Jompong/ ke istana kepada tuan puteri/ sirih-pinang itu bawa kembali/ berbagai persembahan bawa kembali/ bahan obat-obatan dan bahan perhiasan/ itu semua kembalikan lagi/ bahan pakaian dan bahan selendang/ termasuk keris baja/ bawalah pulang kembali.” 

Setelah itu Bujangga Manik mengungkapkan isi hatinya kepada sang ibu. Ia mengutarakan bahwa apa yang disarankan ibunya untuk menerima lamaran tersebut adalah jalan yang salah, jalan menuju tempat kematian, jalan ke kuburan, dan menyebarkan kejelekan. Ia merasa tak nyaman, dan ibunya dianggap telah tersesat. Kemudian ia pamit untuk yang penghabisan sebelum kembali melakukan perjalanan. Pada baris 642-650 Bujangga Manik berucap:

“Ambuing karah sumanger/ pawekas pajeueung beungeut/ ambu kita deung awaking/ sapoé ayeuna ini/ pajeueung beungeut deung aing/ mau nyorang picarék deui/ mau ma ti na pangimpian/ pajeueung beungeut di bulan/ patempuh awak di angin.”
“Karena itu, bunda selamat tinggal/ untuk yang terakhir bertatap muka/ kita, bunda bersama denganku/ hanya sehari inilah/ bertatap muka denganku/ tak kan pernah berbincang lagi/ kecuali hanya dalam mimpi/ saling tatap muka di bulan/ bersentuh tubuh di angin.” 

Setelah bertahun-tahun menjelajah daerah-daerah di Pulau Jawa dan Bali, Bujangga Manik atau Ameng Layaran kemudian menetapkan tempatnya yang terakhir, tempat untuk berpisahnya raga dan sukma. Pada baris 1396-1407 ia menulis:

“Sadiri aing ti inya/ sacunduk ka Gunung Ratu/ Sanghiang Karang Caréngcang/ éta huluna Cisokan/ landeuhan bukit Patuha/ heuleut-heuleut Lingga Payung/ nu awas ka Kreti Haji/ Momogana teka waya/ neumu lemah kabuyutan/ na lemah ngalingga manik/ teherna dek sri mangliput/ ser manggung ngalingga payung.”
"Sepergiku dari sana/ sampai ke Gunung Ratu/ Sanghiang Karang Carengcang/ itulah hulu sungai Cisokan/ di kaki Gunung Patuha/ batas antara Lingga Payung/ yang bisa memandang jelas ke Kreti Haji/ berharap semoga terbukti menemukan tanah yang suci/ tempat yang menyerupai tiang permata/ lalu akan kutudungi/ mengembang ke atas bagaikan payung bertiang.”

Lalu ia mendeskripsikan kematiannya. Hal ini yang kemudian menimbulkan pelbagai pertanyaan terhadap naskah ini yang dinilai banyak mengandung masalah kepengarangan. Di luar hal tersebut, berikut bunyi tentang kematian itu pada baris 1443-1452:

“Pati aing hanteu gering/ hilang tanpa sangkan lara/ mecat sakéng kamoksahan/ diri na aci wisésa/ mangkat na sarira ageung/ ngaloglog anggeus nu poroc/ atma mecat ti pasambung/ aci mecat ti na atma/ pahi masah kaleumpangan.”
"Kematianku tanpa sakit/ meninggal bukan karena derita/ melesat menuju kebebasan/ kepergian sang sukma/ keluar dari raga kasar/ copot sesudah yang terakhir/ sukma lepas dari ikatan/ ruh lepas dari sukma/ sama-sama lepas dan pergi.”



Yang menonjol dari naskah ini adalah banyaknya nama tempat yang disebutkan selama perjalanan. J. Noorduyn dalam Perjalanan Bujangga Manik Menyusuri Tanah Jawa: Data Topografis dari Sumber Sunda Kuno terjemahan Iskandar Wassid, menemukan sedikitnya 450 nama tempat, dan sebagian besar bersesuaian dengan topografi Pulau Jawa. Ia pun kemudian membuat peta topografi Pulau Jawa berdasarkan naskah tersebut.

“Pemaparan ini terutama ditekankan pada penyebutan nama-nama tempat, daerah, sungai, dan gunung yang terletak pada rute atau dekat rute yang disusuri,” tulis J. Noorduyn.
Selain itu, Hawe Setiawan dalam Bujangga Manik dan Studi Sunda memaparkan bahwa naskah ini mempersembahkan sebentuk ungkapan estetis berupa puisi prosais atau prosa puitis dari penghayatan dan pengalaman religius seorang asketis.
“Sebagaimana yang diteliti oleh Teeuw, dalam naskah ini kita mendapatkan idiom, metafora, dan pola persajakan yang menawan,” lanjut Hawe.
Namun demikian, naskah ini bukan berarti tanpa kekurangan. Hawe Setiawan mencatat setidaknya ada empat poin kekurangan dari kisah perjalanan Bujangga Manik tersebut: “(1) Masalah kepengarangan: apakah tokoh yang bernama Bujangga Manik alias Ameng Layaran adalah penggubah naskah ini ataukah semata-mata tokoh cerita? (2) Masalah representasi: apakah kisah dan deskripsi yang terdapat dalam naskah ini merupakan representasi pengalaman ataukah semata-mata merupakan hasil imajinasi? (3) Masalah sudut pandang: mengapa dalam naskah ini berkali-kali terjadi semacam pertukaran sudut pandang penceritaan, yakni dari sudut pandang orang pertama ke sudut pandang orang ketiga dan sebaliknya? (4) Masalah fungsi dan pretensi teks: adakah relasi yang signifikan antara deskripsi latar yang secara topografis sedemikian terperinci dan nilai-nilai spiritualitas yang terkandung dalam naskah ini?” tulis Hawe.

Sementara dalam buku Empat Sastrawan Sunda Lama karya Edi S. Ekadjati, dkk., diterangkan bahwa berdasarkan penelusurannya, sebelum abad ke-17 nama pengarang naskah Sunda hanya dikenal seorang, yaitu bernama Buyut Ini Dawit. Ia seorang pengarang perempuan dari kalangan pertapa di pertapaan Ini Teja Puru di Gunung Kumbang. Karangannya berjudul Sewaka Darma yang ditulis dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno dalam bentuk puisi.

“Dalam pada itu, Bujangga Manik menyebut dirinya sebagai penyusun cerita perjalanannya mengelilingi Pulau Jawa dan Pulau Bali dalam bentuk puisi. Dapat diperkirakan dia adalah seorang laki-laki dari kalangan keraton Sunda di Pakuan Pajajaran yang memilih kegiatan agama sebagai jalan hidupnya. Namun masih dipertanyakan, apakah Bujangga Manik itu nama dirinya atau nama julukan semata?” tulisnya.
Terkait beberapa masalah kepengarangan, Hawe Setiawan kemudian memaparkan bahwa masalah-masalah seperti itu perlu dibahas dengan tetap memperhatikan konteks historis dan sosiologis yang melingkupi naskah, setidaknya uraian mengenai masalah-masalah tersebut dapat mendorong pembaca untuk memperhatikan keadaan zaman dan masyarakat yang melahirkan naskah tersebut.
Sumber: Tirto.Id 

Selasa, 02 Mei 2017

Pendidikan Tanpa Sekolah ala Agus Salim

Reporter: Iswara N Raditya | 02 Mei, 2017

Haji Agus Salim. FOTO/Istimewa
  • Agus Salim pernah melamar beasiswa kedokteran di Belanda, tapi ditampik dengan alasan Agus inlander
  • Agus Salim menanggap pendidikan kolonial sebagai "jalan berlumpur," maka ia mendidik sendiri anak-anaknya
Agus Salim menganggap pendidikan kolonial adalah “jalan berlumpur” sehingga ia tidak mau anak-anaknya tercebur di dalamnya.

Jef Last geleng-geleng kepala usai mendengar pemuda bernama Islam Basari itu sangat lancar lagi fasih berbahasa Inggris. Keheranan jurnalis asal Belanda ini sangat beralasan. Islam tidak pernah mengenyam sekolah formal namun memiliki kecerdasan yang luar biasa. 

Melihat Jef Last terkaget-kaget dengan rasa tidak percaya, ayah Islam berujar: “Apakah Anda pernah mendengar tentang sebuah sekolah di mana kuda diajari meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum kami, dan anak-anak kuda ikut meringkik. Begitu pun saya meringkik dalam bahasa Inggris, dan Islam pun ikut meringkik juga dalam bahasa Inggris.”

Si ayah dari bocah bernama Islam ini tidak lain dan tidak bukan adalah Haji Agus Salim, bapak bangsa yang namanya bertebaran di buku-buku sejarah Indonesia itu. Dan memang, Agus Salim tidak pernah memasukkan anak-anaknya ke sekolah formal. Ia mendidik putra-putrinya sendiri di rumah, metode pengajaran yang kini dikenal dengan istilah homescholling.

Jalan Berlumpur Pendidikan Kolonial

Bukan berarti Agus Salim mengharamkan pendidikan formal, sama sekali tidak. Ia sendiri menapaki jenjang sekolah dari dasar hingga menjadi salah satu orang paling jenius yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia. 

Bahkan, Agus Salim pernah meraih prestasi yang sangat jarang mampu dilakukan oleh siswa-siswa sebangsanya, menjadi lulusan terbaik Hogere Buger School (HBS) tahun 1903 di tiga kota besar: Batavia, Semarang, dan Surabaya (Agus Salim, Pesan-Pesan Islam: Rangkaian Kuliah Musim Semi 1953 di Cornell University Amerika Serikat, 2014). 

HBS adalah sekolah menengah setara SMA milik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sekolah ini hanya menerima siswa berkebangsaan Belanda atau Eropa, serta sedikit anak lokal yang orangtuanya terpandang atau punya pangkat.

Sayangnya, titel sebagai lulusan HBS terbaik ternyata tak menjamin dirinya bisa melanjutkan studi ke luar negeri. Ia melamar untuk mendapatkan beasiswa sekolah kedokteran di Belanda yang sangat diminatinya (Haji Agus Salim 1884-1954: Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme, 2004).

Namun, harapannya kandas karena ia seorang pribumi, bukan sinyo apalagi berdarah Eropa murni. Jawaban dari pihak berwenang yang diperolehnya berbunyi: “Tak ada beasiswa untuk inlander.”

Pengalaman pahit itulah yang barangkali membuat Agus Salim merasakan trauma yang amat sangat dengan sekolah Belanda. Ia menganggap pendidikan kolonial bentukan Belanda sebagai “jalan berlumpur” sehingga ia tidak mau anak-anaknya ikut berkubang di dalamnya seperti yang dulu pernah dirasakannya. Selain itu, Agus Salim merasa sanggup mendidik anak-anaknya di rumah.

Dari ke-8 anaknya, hanya si bungsu Mansur Abdurrahman Sidik yang mengenyam sekolah formal. Itu pun lebih karena Mansur dilahirkan setelah era kolonial Belanda di Indonesia berakhir. Tidak demikian halnya dengan anak-anaknya yang lahir terlebih dulu: Violet Hanisah, Yusuf Taufik, Ahmad Syauket, Theodora Atia, Islam Basari, Siti Asiah, dan Maria Zenibiyang.

Sekolah Rumah Agus Salim

Bukan hal yang aneh jika anak-anak Agus Salim sangat lancar berbahasa Inggris. Bahasa harian di keluarga itu memang bahasa-bahasa asing. Andai saja Jef Last tahu, ia mungkin tak akan terlalu heran melihat Islam Basari cas cis cus dengan bahasa Inggris.

Agus Salim sendiri menguasai selusin bahasa bangsa lain, di antaranya adalah Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Jepang, Arab, Turki, dan lainnya. Tak hanya sekadar berbicara, ia kerap berpidato bahkan melontarkan guyonan dengan bahasa-bahasa asing itu (Herry Mohammad, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, 2006).

Metode pendidikan yang diterapkan Agus Salim di rumah sangat menyenangkan tapi tetap mendidik. Anak-anaknya sebagai “murid” tak harus duduk di dalam kelas seperti di sekolah formal. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung dibiasakan secara santai, seolah-olah seperti sedang bermain. Sedangkan nilai-nilai budi pekerti, pelajaran sejarah, dan materi ilmu sosial lainnya diberikan melalui bercerita dan obrolan sehari-hari. 

Agus Salim juga memberikan ruang kepada anak-anaknya untuk bertanya, mengkritik, bahkan membantah jika tak sependapat dengan apa yang ia sampaikan. Tampaknya ia punya cara jitu yang merangsang anak-anaknya untuk tidak hanya menerima pelajaran saja, ia ingin para “muridnya” memiliki daya kritis. Agus Salim sendiri dikenal sebagai sosok vokal dan jago debat berjuluk singa podium.

Pendidikan Tanpa Sekolah ala Agus Salim

Menjadi Cerdas Tak Harus di Kelas

Salah satu kebiasaan menyenangkan sekaligus mencerdaskan yang diterapkan Agus Salim di keluarga adalah membaca. Ia menyediakan buku-buku berbahasa asing. Hasilnya, kecerdasan anak-anak Salim berkembang pesat. Di usia, balita mereka sudah lancar baca-tulis dengan banyak bahasa.

Maka jangan heran jika anak-anak Salim sudah melahap banyak bacaan berbahasa asing di usia yang masih sangat dini. Theodora Atia alias Dolly, misalnya, pada umur 6 tahun sudah menggemari bacaan-bacaan anak remaja, semisal kisah-kisah detektif Nick Carter atau Lord Lister (100 Tahun Haji Agus Salim, 1996).

Yusuf Taufik atau Totok lain lagi. Di usia 10 tahun, ia sudah merampungkan bacaan Mahabarata yang ditulis dalam buku berbahasa Belanda. Tidak hanya membaca, Totok bahkan piawai menjelaskan makna yang terkandung dalam epos kepahlawanan India nan legendaris itu.

Belum lagi apa yang pernah dialami oleh Mohammad Roem. Tokoh pergerakan nasional yang kelak bersama-sama Agus Salim turut menegakkan kedaulatan RI ini dibikin takjub oleh Dolly dan Totok. Dua bocah itu mampu meladeninya saat berdebat tentang pengetahuan yang diajarkan di sekolah tingkat atas. Padahal, usia mereka saat itu masih awal belasan tahun.

Agus Salim memang punya alasan mendasar mengapa ia tidak memasukkan anak-anaknya ke sekolah formal, juga lantaran ia sendiri memiliki kualitas pengetahuan dan pengajaran yang mumpuni untuk mendidik putra-putrinya di rumah. 

Apa yang pernah dilakukan Agus Salim setidaknya memberi gambaran di luar keumuman di Indonesia: untuk menjadi cerdas tidak harus di dalam kelas. Bersekolah di rumah atau di tempat-tempat lainnya pun bisa, tentu jika dilaksanakan dengan cara dan guru yang tepat. 
Sumber: https://tirto.id/pendidikan-tanpa-sekolah-ala-agus-salim-cnSC

Minggu, 02 April 2017

Resensi | Anak Semua Bangsa


Judul                        : Anak Semua Bangsa
  Penulis                   : Pramoedya Ananta Toer
  Isi                            : 536 hlm
  Penerbit                  : Lentera Dipantara
  Cetakan                   : 13 September 2011
  ISBN                        : 979-97312-4-0

Annelies sudah berlayar ke Nederland. Perpisahan ini jadi titik batas dalam hidup Minke: selesai sudah masa muda. Ya, masa muda yang indah penuh harapan dan impian dan dia takkan balik berulang.
Suasana rumah Nyai Ontosoroh masih belum menyenangkan karena ia masih kesal dengan kelakuan yang dilakukan oleh Ir. Maurits Mellema terhadap keluarganya. Tak lama kemudian Minke beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya. Ia membuka lemari Annelies dan menemukan cincin juga sebelas surat dari Robert Suurhof. Minke mulai membaca surat itu satu per satu. Semakin membaca, semakin muncul pula kekesalan Minke terhadap Robert Suurhof. Setelah membaca semua surat-surat itu, Minke bergegas pergi dari rumah mencari Robert Suurhof dan bertujuan untuk mengembalikan cincin yang diberikan kepada Annelies. Saat perjalanan bersama Marjuki, Minke bertemu dengan Victor Roomers ia adalah kawan sewaktu masih sekolah di H.B.S .
Minke menyuruh Marjuki untuk meminggirkan bendinya dan Minke memanggil Victor lalu mereka singgah di kedai sambil berbincang-bincang dan membahas Robert Suurhof,  yang ternyata sudah kabur dan tidak ada seorangpun yang tahu ke mana ia pergi.
Belakangan diketahui pula ia telah melalukan kejahatan mencuri di toko Ezekiel dan cincin yang diberikan kepada Annelies itu adalah cincin hasil curiannnya. Victor juga bercerita kepada Minke tentang keluarga Robert suurhof yang melarat dan victor tak tahu tentang masalah Robert Suurhof.
Minke bergegas meninggalkan Victor di kedai dan tak lama kemudian Minke sampai di pelataran rumah Suurhof, seketika Minke terenyuh melihat keadaan keluarga Suurhof yang begitu melarat, Minke mulai berbicang-bincang dengan keluarga Suurhof namun keluarga Suurhof belum tahu apa tujuan Minke datang kerumahnya. Minke ragu dengan tujuan awalnya ingin mengembalikan cincin kepada keluarga Suurhof. Dia tidak tega menambah beban permasalahan keluarga itu.
….
Panji Darsam  dengan umurnya yang masih muda, dua tahun lebih muda dari pada Minke. Ia telah lalukan perintah Nyai Ontosoroh untuk mengawal Annelies ke Nederland, maupun ke mana saja yang dikawalnya dibawa pergi. Beberapa hari setelah keberangkatan Annelies menyusul surat dengan cap Kantor Pos Medan: “Setelah memasuki pelabuhan Singapura, Darsam baru melihat Annelies yang bergaun serba putih dan dikawal oleh seorang jururawat wanita. Annelies terlihat sangat pucat terutama nampak pada bibirnya, dan ia tak peduli pada pandang siapapun”. Darsam memberitahukan bahwa Annelies tidak sendiri dengan suara yang keras tetapi usaha itu di ketahui oleh perawat dan ia meninggalkan tempat itu.
Tak lama berselang Darsam di panggil oleh kapten kapal untuk mengurusi Annelies, sedikit demi sedikit Panji Darsam mulai menggantikan pekerjaan perawat dan menjadi perawat sepenuhnya Annelies.
Sesampainya di Nederland, Annelies telah ditunggu seorang polisi dan seorang wanita tua berpakaian serba hitam. Bersamaan dengan itu, Darsam mengirimkan telegram “Dengan sebuah kereta kuda kami menuju ke stasiun untuk membeli karcis dan Annelies masih dalam perawatanku, kami naikkan Annelies ke keretapi. Grobag kuda meninggalkan Huzain dan pergi ke rumah seorang wanita, dan wanita itu bernama Annie Ronke, Janda”. Beberapa hari Annelies berada di rumah Annie, ia sudah tidak menyadari sesuatu, hanya Tuhan yang tahu keadaanya. Telegram terakhir Panji Darsam, mengucapkan ikut berdukacita atas meninggalnya Mevrow Annelies.
Kehidupan terus berjalan tanpa Annelies, kejadian ini meninggalkan luka pada Nyai Ontosoroh dan Minke. Seketika Hindia digemparkan dengan berita bahwa kedudukan Jepang sama dengan Eropa, perang meletus antara Yunani dan Turki dan juga perang antara Amerika Serikat-Spanyol meletus dipinggiran Hindia. Protes di mana-mana, merasa terhina bangsa Eropa disamakan dengan bangsa jepang meskipun pada saat itu jepang suadah maju dalam Ilmu dan Pengetahuan serta sudah memiliki kapal perang.
Pada suatu hari Jean Marais menyarankan kepada Minke, dikarenakan Minke selalu membuat karya tentang bangsa Eropa terutama Nederland. Jean menyarankan Minke untuk belajar bahasa Melayu karena itu bahasa yang dapat dimengerti oleh orang Hindia. Jean Marais menilai Minke sangat pandai dalam menulis Belanda tapi dia tidak pandai menulis Melayu, nampaknya perkataan Jean membuat hati Minke geram dan tak lama kemudian terjadi percekcokan antar mereka, tetapi, percekcokan tersebut hanya sebentar dan dilerai oleh anak Jean yaitu May Marais. Dan merekapun saling menerima pendapat masing-masing dengan lapang dada.
….
Minke pergi ke kantor redaksi untuk membuat interfiu terhadap orang Cina, Khow Ah Soe, seorang angkatan muda Cina, yang bermangsud untuk menjual keterangan mengenai gerakannya. Dia  diwawancarai oleh pimpinan koran tempat Minke biasa mengirimkan surat kabar ke S.N v/d D, dari wawancara tersebut terlihat bahwa Khow Ah Soe adalah seorang pemuda Cina yang sedang berjuang untuk kebangkitan bangsa Tiongkok.
Kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan di Wonokromo pun terus dialami oleh Nyai Ontosoroh dan Minke, Khow Ah Soe diburu oleh kepolisian Hindia dengan alasan penyelundupan ilegal dengan beberapa temannya. Mereka semua menggunakan nama palsu sejak meninggalkan Tiongkok, dan dialah “biang keladi” pemotongan kucir di daerah perairan pelesiran di Hongkong. Tak lama kemudian Khow Ah Soe dikabarkan telah meninggal dunia di danau jembatan merah dengan beberapa tusukan.
Beberapa hari kemudian Nyai Ontosoroh dan Minke pergi ke Tulangan ke rumah keluarga Sastro Kassier, abang Nyai Ontosoroh, Perusahaan Borderij Buitenzorg tersebut sementara diawasi oleh Darsam selama Minke dan Nyai Ontosoroh pergi. Dalam sepanjang perjalanan nampak serombongan rodi sedang memperbaiki jalan kereta api dan seorang peranakan Eropa duduk di atas kuda.
….
Dalam cacatan Minke, Dia menulis tentang pengalaman Surati tentang kekejaman administratur pabrik gula yang dilakukan oleh Frits Homerus Vlekkenbaij di Tulangan Sidoarjo. Ia seorang pemabuk dan suka mengganggu wanita, pada saat melihat anak perempuan Sastro Kassier timbulah niat jahatnya.
Plikemboh nama yang akrab di lidah pribumi karena tidak biasa menyebutkan Vlekkenbaij itu membuat jebakan untuk Sastro, suatu hari uang kas pabrik hilang sebelum masa pembayaran untuk buruh pabrik gula yang merukapan tanggungan Sastro, dan Plikemboh mau memberikan hutang dengan syarat Surati anaknya diserahkan kepada dirinya.
Pertamanya Surati dan Ibunya menolak untuk diserahkan kepada Plikemboh, tapi apa daya akhirnya Surati menyetujui itu. Surati memiliki rencana lain, pada saat malam Surati meminta ijin kepada ibunya untuk pergi ke sebuah desa. Ternyata, Surati pergi ke sebuah desa yang sedang terkena wabah cacar, ia berjalan sekitar 15 kilometer untuk sampai di desa tersebut.
Surati mampu masuk kedalam desa tersebut yang dijaga ketat oleh kompeni, ia menemukan banyak warga yang sudah mati terkena penyakit cacar. Di desa tersebut Surati tinggal selama beberapa hari dan ia juga mulai terkena penyakit cacar tersebut. Akhirnya Surati keluar dari desa dan berjalan ke rumah Plikemboh sambil membawa penyakitnya, pada akhirnya Plikemboh  dan Surati mati dengan penyakit cacar yang ditularkan Surati kepada Plikemboh.
Minke juga bertemu dengan Trunodongso, seorang petani yang sedang diteror untuk memberikan tanahnya kepada pabrik gula. Tiga bahu tanahnya, sudah disewakan kepada pabrik gula dengan paksa selama delapan belas bulan, tapi, nyatanya sampai dua tahun. kecuali dia mau dikontrak lagi untuk musim berikutnya. Minke berjanji akan menulis kasus ini menjadi berita di koran.
Turun dari stasiun Minke minta ijin untuk pergi ke kantor Nijman untuk menerbitkan tulisannya dalam koran tentang pembelaan terhadap semua mereka yang bernasib sama dengan Trunodongso. Bagaimana petani Jawa terusir dari sawahnya yang subur dan irigasi air oleh pabrik gula.Tapi, Nijman menolak. Minke terpesona oleh keterangan Kommer, ia mengungkapkan bahwa Mellema datang dengan membawa tulisannya yang menggugat sikap patih Sidoarjo, yang menghalang-halangi perluasan area tebu, ia membantah bahwa gula mengurangi kemakmuran Sidoarjo. Kemudian Patih itu dipindahkan ke Bondowoso.
Sebuah koran mengabarkan sebuah pemberontakan tani yang terjadi di daerah Sidoarjo. Veldpolitie yang kewalahan terpaksa dibantu oleh Kompeni, hanya tiga hari pemberontakan dapat dipadamkan dan Kyai Sukri yang dianggap sebagai biang keladi telah ditangkap dan digelandang ke pabrik gula Tulangan.
Selang beberapa hari Minke pegi ke Betawi  untuk meneruskan sekolahnya. Ia berangkat dari pelabuhan Tanjung Perak, di atas kapal, ia bertemu dengan Ter Haar bekas redaktur S.N v/d D. Dikapal mereka berbincang tentang macam perusahaan raksasa di Hindia. Haar juga memaparkan semua kebusukan kolonial melalui pabrik gula, perkebunan, pertanian, dan pertambangan yang mengeksploitasi bangsa dan tanah jajahan demi kepentingan golongan penjajah kepada Minke.
Sementara, hidup Nyai Ontosoroh terkalahkan oleh keputusan pengadilan kulit putih Kolonial yang menyatakan bahwa Boerderij Buitenzorg beserta semua asetnya yang sekian lama ia bangun bersama dengan Tuan Herman Mellema akan jatuh ke tangan Mauritz Mellema. Putra perkawinan sah dari ayahnya Tuan Mellema dengan seorang istrinya di  Eropa.
Sesampainya kapal di pelabuhan Semarang Minke sudah di tunggu Schout Van Duijnen,  Minke diajak untuk menginap di hotel yang ada di Semarang. Selesai beristirahat Minke naik keretapi dengan tujuan Surakarta, Minke tidak tau apa sebenarnya tujuan yang dilakukan Schout Van Duijnen, sesampai di Surakarta Minke diajak mengitari kota Surakarta. Ia berasama Schout Van Duijnen menaiki bendi selang beberapa jam. Akhirnya Minke menyadari kalau ia dibawa pulang ke Wonokromo, dan sosok Schout Van Duijnen adalah suruhan dari Nyai Ontosoroh.
Setelah kejadian waktu itu, datang sebuah surat dari Robert Mellema anak laki-laki Nyai Ontosoroh sekaligus kakak Annelies memberikan berita segala yang dialami dan dilakukan terutama tentang pembunuhan ayahnya. Dalam suratnya Robert bercerita bahwa ia telah menghamili pembantunya yaitu Sanikem sehingga lahir bayi laki laki yang bernama Rono Mellema, karena keadaan semakin buruk ditambah Robert Mellema telah tiada dengan penyakitnya, maka dari itu dengan keibaan Nyai Ontosoroh mau menampung minem dan Rono Mellema.
Pada saat datang akuntan De Visch untuk mengajak Minem bertemu dengan Ramond Debree, Minem menyetujui dan dengan ringan Minem menyerahkan Rono pada Nyai Ontosoroh untuk mengasuhnya. Nyai Ontosoroh membuat perjanjian dengan Minem bahwa Rono tidak akan diambil kembali karena dia telah memutuskan pergi untuk meninggalkan Rono.
Nyai Ontosoroh dan Minke menyambut kedatangan Maurits Mellema dengan pandangan sebagai pembunuh Annelies. Sebelumnya semua warga dan si gadis kecil May Marais yang sangat dekat dengan Annelies tidak mengetahui berita meninggalnya Annelies. Setelah mengetahui hal itu, mereka sangat histeris dan marah terhadap Maurits Mellema. Semua turut berdukacita atas meninggalnya Annelies yang telah dibunuh oleh Maurits Mellema, kakak tiri Annelies. Beberapa hinaan muncul dari Kommer, Jean Marais, Minke dan Nyai Ontosoroh dan semua warga yang berada di Wonokromo.
Maurits Mellema munuding bungkusan yang berada di samping kakinya. Ia berbalik memunggungi semua yang hadir menyambutnya. Dia melangkah berat meninggalkan ruang depan dengan tangan kiri memegangi sarong pedang. Nyai Ontosoroh memberikan Rono pada salah seorang perempuan dan membuka isi bungkusan tersebut, isinya: kopor tua dari kaleng, cekung-cekung dan berkarat ia buka kopor itu dan isinya beberapa pakaian bekas Annelies. Dan kopor itu mengenangkan Nyai Ontosoroh pada masa ia terusir dan dijual dari rumah orangtuanya untuk diambil oleh Tuan Herman Mellema.
“Ya, Ma, kita sudah melawan Ma, biarpun hanya dengan mulut.” Kata Minke memburamkan ingatannya.
Menurut saya, buku “Anak Semua Bangsa” memiliki cerita yang lebih menarik. Sebab, di buku ini Minke menjadi tokoh utama. Di mana Minke mulai melakukan perlawanan terhadap orang kulit putih yang menindas bangsa pribumi. Perlawanan dia tunjukkan mulai dari persidangan walaupun pada akhirnya dia kalah. Tetapi, sosok Minke bisa menjadi panutan untuk melawan bangsa kulit putih. Semangatnya untuk membantu bangsa pribumi yang tertindas terus dilakukannya dengan berbagai cara.
Hendi Istanto, Mahasasiswa Sastra Indonesia, Univesitasa Ahmad Dahlan

Rabu, 18 Januari 2017

Retno Listyarti: Jangan Jadi Guru Penakut, Bongkar Korupsi!

Senin, 18 Januari 2016 | 07:00 WIB
Pebriansyah Ariefana


Sekjen FSGI, Retno Listyarti. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)


Sosok Retno Listyarti kembali mencuat karena menang di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta melawan Provinsi DKI Jakarta. Dia dipecat sebagai kepala sekolah SMA Negeri 3 Jakarta, tapi pemecatan itu dianggap tidak sah oleh pengadilan.
Retno, sosok langka. Seorang guru yang statusnya pegawai negeri sipil, berani mengungkap banyak kasus korupsi dan penyelewengan di sekolah yang dia ajar. Retno tidak menyangkal mayoritas guru di Indonesia ‘penakut’.
Menurut dia, ‘segudang’ penyimpangan berpotensi terjadi sekolah. Mulai dari tindakan korupsi terstruktur antara pimpinan sekolah, dinas pendidikan daerah sampai ke Kementerian Pendidikan. Penyimpangan itu lah yang harus dibasmi.
Selama belasan tahun berkarir Retno menjadi guru, dia hafal persis modus penyimpangan di sekolah. Mulai dari penyimpangan dana Bantuan Opersional Sekolah (BOS) sampai penyimpangan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP).
Retno pernah membuktikan saat dia menjadi Kepala Sekolah SMAN 76 Jakarta. Dia menemukan penyimpangan di sana. Makanya, Retno langsung mencanangkan program transparansi pengelolaan anggaran di sekolah tahun 2014 silam. Saat itu sekolah itu menjadi yang pertama berjuluk sekolah antikorupsi karena keuangannya langsung diperiksa oleh lembaga akuntan publik. Hasilnya sekolah mengembalikan sisa dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) sebesar Rp 400 Juta pada akhir 2014.
“Kalau biasanya, uang itu dipakai buat apa saja. Banyak celah korupsi,” kata Retno.
Kiprahnya yang sekalu memprotes penyimpangan dan sistem pendidikan Indonesia, membuat dirinya banyak musuh. Dia sadar, banyak pihak yang berusaha menghentikan langkahnya dan menghambat kariernya. Bahkan keluarganya pun menjadi sasaran untuk menekan dirinya.
Namun teror sudah menjadi ‘makanan’ harian. Dia pernah diancam dipenjara sampai dibunuh. Itu karena Retno tidak takut ungkap keganjilan sekolah dan pendidikan di Indonesia.
Apa yang melatarbelakangi keberanian Retno? Dan apa saja modus korupsi dan penyimpangan di sekolah?
Simak wawancara dengan Retno pekan lalu dalam perbincangan santai di kedai kopi di kawasan Senayan:
Anda menggugat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena memecat Anda sebagai Kepala Sekolah SMA 3 Jakarta. Setelah menang, apa yang akan Anda lakukan?
Niat mereka memecat saya sebagai PNS. Itu terungkap saat di Ombudsman. Ombudsman membujuk saya saat pertemuan terpisah dengan pihak Disdik Pemprov DKI, untuk tidak persoalkan surat itu agar saya selamat dari pemecatan. Saya menangkap pesan akan dipecat ketika menggugat dan terbukti di pengadilan saya salah. Itu bukan ancaman pertama.
Memecat PNS seperti saya kan sulit sekali, apalagi karena kesalahan sepele. Dalam keputusan hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta, kesalahan yang saya perbuat adalah kesalahan ringan. Hukumannya adalah teguran. Bukan dihukum berat dengan pencopotan jabatan. Maka Kepala Dinas DKI Jakarta Arie Budiman disebut melakukan pelanggaran.
Maka itu, Kepala Dinas Pendidikan diperintahkan mencabut surat keputusan itu karena batal demi hukum. Nama baik saya diperintahkan untuk dipulihkan, dan jabatan saya sebagai kepala sekolah harus dikembalikan.
Tapi kalau saya secara pribadi menggugat itu bukan untuk mencari jabatan, bahkan menjadi kepala sekolah lagi sudah saya tolak. Saya ingin melawan kewenang-wenangan saja. Saya menggugat untuk menguji di PTUN sesuai aturan atau tidak surat itu. Begitu gugatan saya diterima, maka saya otomatis jadi kepala sekolah SMA 3 lagi. Tapi tidak harus di sana, karena hakim memutuskan diserahkan ke dinas pendidikan.
Hal sepele, tapi Disdik DKI Jakarta menanggapi serius apa yang Anda perbuat…
Laporan ini saya menilai karena dilandasi kebencian. Saya membongkar korupsi di SMA 76. Saya sadar, musuh saya banyak. Saya 12 tahun melawan korupsi pendidikan. Saya pernah diancam dibunuh, dipecat dan sebagainya. Sudah biasa.
Saya membongkar skandal sekolah yang mendapatkan kursi, meja, dan lemari tiap akhir tahun. Tanpa diminta, itu dikirim semua ke sekolah. Tapi besoknya dipindahkan lagi ke sekolah lain. Jadi beli barang sedikit, rapi seolah-olah semua sekolah dapat.
Lalu uang Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) distor sekian persen ke dinas pendidikan. Ada pengelolaan yang salah di dana itu. Lalu pembayaran kurban Rp500 ribu saat Idul Adha pakai dana BOP dari Anggaran Pendapatan dan Belanda Daerah (APBD). Distor ke suku dinas dan dinas pendidikan. Ini seluruh sekolah distor. Saat saya tanya, katanya itu dikatakan sudah biasa. Itu berapa miliar terkumpul.
Pendidikan macam apa yang dibangun di negeri ini? Ketika gurunya tidak kritis, tidak berani, tidak kreatif, dan selalu takut. Karena guru yang tidak kreatif, tidak akan membuat anak didiknya kreatif.
Anda PNS dan guru, apakah Anda tidak mempunyai ketakutan tentang karier Anda akan terhambat?
Ini semua menjadi pelajaran untuk saya , sudah 11 tahun saya menjadi klien Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Termasuk saat digugat Akbar Tanjung Rp10 miliar karena tulisan saya, melawan kebijakan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), menjadi saksi di Mahkamah Konstitusi. Akhirnya saya belajar hukum, karena saya rentan dikenai hukum. Suatu saat kalau kena kasus lagi, saya ingin menjadi lawyer untuk diri sendiri.
Apa yang mendorong Anda untuk melakukan perlawanan?
Saya berpendapat untuk menumbuhkan orang untuk kritis itu harus banyak baca dan nulis. Karena untuk menuangkan isi pikiran dalam tulisan itu kan harus sistematis agar pembaca mengerti. Saya suka nulis dari kecil, tulis puisi dan cerpen dan dimuat di Majalah Bobo.
Tapi guru tidak pernah menghargai saya menulis. Sampai SMA, selalu memandang tulisan saya jelek. Mencoret-coret EYD, tidak ke substansi tulisan. Sampai saya SMA kelas II, saya mengenal Kelompok Ilmiah Remaja Jakarta Utara (Kirju). Saya belajar meneliti dan nulis. Kami menang beberapa lomba.
Tim saya di sana semua orang miskin, orang Tanjung Priok semua. Saya juga, meski tinggal di Kelapa Gading. Saya anak tentara, yang pangkat ayah saya bukan perwira tinggi. Terakhir pangkat ayah saya kapten.
Saat itu saya mencari buku-buku yang dilarang orde baru. Kenapa Karl Marx dilarang? Saat itu banyak buku-buku kiriman dari Australia. Tapi kami kami mendapat foto copinya saja. Ternyata buku-buku kiri yang dilarang itu buku yang mengasyikkan. Keberpihakan ke yang lemah dan melawan ketidakadilan. Jadi apa yang saya baca itu mempengaruhi cara saya berpikir.
Ketika itu saya ingin jadi guru karena saya ingin mempengaruhi anak-anak muda. Ayah saya nggak perbolehkan karena uangnya nggak banyak. Dia mengancam kalau kuliah guru, nggak mau biayakan. Saat itu masuk IKIP Jakarta (sekarang UNJ) bayarnya Rp106 ribu persemester. Jadi saya berpikir kayaknya bisa. Saya bayar masuk perguruan tinggi dari honor nulis opini saya di koran. Saya dua kali menulis, Rp5 ribunya saya mengutang.
Saat kuliah tingkat satu, saya ditawari menjadi periset oleh seseorang. Saya bisa keliling Indonesia, ke mana-mana. Gaji saya Rp550 ribu, tapi bayaran IKIP Jakarta Rp106 ribu persemester.
Di lingkungan guru, saya beda. Karena memang guru-guru banyak yang penakut. Jadi guru yang seperti ini, awalnya saya dijadikan tumpuan melawan kepala sekolah yang nggak benar. Saya juga mengkoordinir anak-anak OSIS untuk melawan kebijakan yang nggak benar.
Lagi pula sebagai PNS, saya harus patuh terhadap perundang-undangan. Bukan atasan. Makanya saya merasa apa yang saya lakukan, berarti bagi diri saya.
Anda menjadi Sekjen FSGI, bagaimana awal mula organiasasi itu berdiri?
Kami nggak berpikir FSGI ini pesaing PGRI atau juga PGRI Perjuangan. Saya pernah menjadi anggota PGRI, sampai satu hari saya digugat Akbar Tanjung atas buku saya. Ini buku pertama, dan didigugat pula. Itu buku pelajaran Buku PKn kelas X – XII SMA KBK. Tahun 2005, Akbar menggugat Rp10 miliar kalau saya tidak menghapus sebuah bahan diskusi atau pengayaan. Tema diskusi itu menggunakan artikel.
Saat itu Akbar dibebaskan di kasus Bulog Gate, saya tidak tertarik mengangkat Akbar dibebaskan. Saya mengangkat pendapat hakim yang berbeda, dari 5 hakim ada satu yang berpendapat berbeda, yaitu Hakim Agung, Abdurrahman Saleh. Dia menampilkan hal berbeda, berat lah saat itu. Melawan arus juga.
Saya angkat pemikiran dia, Akbar tidak pantas dibebaskan. Di buku itu saya bertanya, “apakah kasus ini memenuhi rasa keadilan?”, Siswa diminta menganalisis. Tulisan pendapat hakim itu saya ambil dari koran dan saya tempel di situ. Anak-anak diminta analisa, apakah putusan itu hakim itu adil?
Saat itu Akbar punya anak di Sekolah Santa Ursula dan menggunakan buku saya. Saat itu ketika Akbar menggugat, saya datang ke PGRI karena saya anggotanya. Tapi PGRi tidak menolong saya. Alasanya karena saya digugat sebagai penulis, bukan guru. Aneh, karena yang saya tulis buku pelajaran. Setelah itu saya putuskan keluar dari PGRI.
Saya pun dibantu YLBHI. Akhirnya Akbar justru mundur dan mengajak damai. Setelah itu 2005 saya kuliah S2 di Universitas Indonesia dan selesai tahun 2007. Selesai kuliah, saya belum masuk organisasi guru.
Tahun 2010, ada perbedaan tunjangan guru struktural daerah dengan yang di Jakarta. Saya melawan dan tunjangan itu berhasil disamakan. Saat itu saya dan teman-teman mendirikan organisasi lokal guru Jakarta, Serikat Guru Indonesia Jakarta. Tahu-tahu ada 8 daerah mengajak berkumpul dan membuat federasi, dan lahirlah FSGI di 2011.
Saya dipilih jadi Sekjen. Saya pemimpin organisasi guru satu-satunya yang perempuan. Kami kiprahnya melawan kebijakan. Membangun kebijakan yang lebih baik.
Anda lebih suka disebut guru atau aktivis?
Saya guru, dan aktivis juga. Saya aktivis guru yang memimpin organisasi profesi. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pernah menyebut FSGI ini LSM, padahal FSGI ini organisasi profesi. Ahok pernah bilang juga, “jangan jadi kepala sekolah kalau ingin pimpin organisasi guru,” itu salah.
Dalam UU Guru Dosen, Pasal 1 Butir 13 dalam UU 14/2005 menyebutkan organisasi profesi guru yang didirikan dan diurus oleh guru. Jadi bekas guru nggak boleh, yang bukan guru nggak boleh, apalagi politisi kayak PGRI. Masa yang mimpi politisi. PGRI di Jakarta dipimpin Kepala Badan Kepegawaian Daweah, itu melanggar. Makanya Pak Jokowi menyampaikan sambutan tertulis dalam ulang tahun PGRI Deember 2015 lalu yang dibacakan Puan. Dia bicara penataan organisasi profesi guru.
Kata Pak Jokowi, guru dipolitisasi. Kalau guru diurus kayak begini, nggak akan kritis guru. Banyak kepala dinas dan kepala sekolah diturunkan setelah Pilkada gara-gara incumbent nggak terpilih lagi.
Reformasi sistem pendidikan digaungkan tiap tahun, tapi sangat luas mana yang harus diubah. Menurut Anda mana yang harus lebih dulu diubah dari sistem pendidikan ini?
Permasalahan pendidikan itu dibagi dalam dua hal, kualitas dan akses. Kalau bicara sistem, maka kebijakan bermain. Kalau bicara persoalan, kualitas pendidikan Indonesia rendah. Gurunya rendah. Misal hasil penelitian world bank tahun 2012, menyatakan dari 12 negara Asia, Indonesia di posisi 12. Kualitas yan paling rendah.
Dari sisi hasil ujian kompetensi guru, guru hanya mendapatkan 4,3 dari rata-rata nilai dari paling tinggi 7. Dari sisi murid, itu menujukan rendah. Hasil kita di nomor buncit kok. Anak Indonesia hanya membaca 27 halaman buku pertahun. Padahal nggak ada buku yang dicetak di bawah 50 lembar. Jadi artinya murid membaca nol buku pertahun. Soal kualitas, Indonesia di urutan 39 dari 40 negara di 2014. Sistem itu siapa yang ciptakan, pemerintah.
Jadi untuk membenahi itu, bukan mengganti kurikulum. Tapi membangun kapasitas guru. Kalau gurunya berkualitas, muridnya akan berkualitas. FSGI pernah mensurvei tentang pelatihan untuk guru, karena pemerintah ini sangat kurang dalam memberikan pelatihan. Hasilnya 62 persen guru SD dari 29 SD di kota/kabupaten nggak pernah ikut pelatihan, bahkan menjelang pensiun. Guru itu harus di-charger, diupdate. Itu harus dibangun lewat sistem pemerintah.
Di Finlandia, SD-SMP nggak ada ujian nasional. UN ada di SMA, untuk menjaring masuk ke perguruan tinggi. Nilai kejujuran sudah ditanamkan. Di Indonesia, UN menjadi berhala. Kami setuju UN ada, tapi bukan untuk menentukan kelulusan.
Tapi sekarang dipakai untuk pemetaan. Misal ada SMA di NTT, nilai matematikanya jelek, ternyata guru matematikanya nggak ada yang benar. Gurunya harus dilatih. Ketika hasil pemetaan terpotret, maka ada reaksi yang dilakukan pemerintah.
Standar UN bisa dilakukan jika semua sekolah atau daerah sudah terpenuhi fasilitas yang sama. Jangan sampai ada murid yang mau sekolah sampai jalan 7 jam. Beda dong sama yang naik motor atau mobil.
___
Retno Listyarti, lahir di Jakarta, 24 Mei 1970. Sebagai PNS, dia berpangkat Pembina dengan golongan Iva. Retno adalah guru PPKn. Dia lulusan S2 Ilmu Politik di Uiversitas Indonesia. Ibu 3 anak itu sudah menghasilkan 10 buku dan belasan prestasi di bidang akademik, penulisan dan penelitian.
Selain menjadi guru, dia juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru indonesia (FSGI). Tahun ini masa tugasnya selesai. Retno dikenal sebagai sosok guru yang berani mengungkap korupsi di bidang pendidikan, terutama di sekolah Jakarta.
Dia pernah mengembalikan sisa dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) sebesar Rp 400 Juta pada akhir 2014. Hal itu dilakukannya saat masih menjabat sebagai Kepala SMA 76.
Sumber: Suara.Com 

Jumat, 13 Januari 2017

Musisi dan Penulis itu Bernama Jeffar Lumban Gaol

JUMAT 13 JANUARI 2017 08:11 WIB

Pernahkah anda melihat film berjudul, "Kiri Hijau, Kanan Merah". Ya film pendek yang mengisahkan perjuangan Cak Munir. Nah, saat melihat film itu, pernahkah anda mendengarkan salah satu soundtrak film itu yang berjudul "Blues untuk Munir"?
Ya, lagu "Blues untuk Munir" itu adalah ciptaan dari Bang Jeffar, begitu saya akrab memanggil Jeffar Lumban Gaol. Anehnya, Bang Jeffar baru tahu kalau lagunya digunakan untuk soundtrak film "Kiri Hijau, Kanan Merah" pada sekitar tahun 2014, setelah film itu diupload di youtube tahun 2011.
Beruntung bagi saya diberikan kesempatan untuk mengenal Bang Jeffar secara dekat. Saya mengenal Bang Jeffar, saat saya bekerja di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Bang Jeffar bukan hanya seniman musik. Ia adalah penulis sekaligus editor bagi para jurnalis masyarakat adat yang berada di seluruh penjuru nusantara.
Meski seorang aktivis, Bang Jeffar, adalah orang yang selalu taat pada kaidah jurnalistik saat menulis. "Cover Both Side dan verifikasi," kata Bang Jeffar pada suatu pelatihan menulis untuk Jurnalis Warga Masyarakat Adat yang diselenggarakan oleh AMAN di Jakarta pada akhir 2014.
Meski taat pada kaidah jurnalistik, Bang Jeffar tetap tidak bisa menyembunyikan keberpihakannya terhadap perjuangan masyarakat adat yang tertindas. Salah satu mimpinya adalah masyarakat adat di seluruh pelosok nusantara bisa menuliskan apa yang terjadi di wilayah adatnya. "Jangan tergantung pada media massa mainstream (arus utama)," katanya.
Kami sama-sama penganggum tulisannya Pramoedya Ananta Toer. Kadang di saat senggang kami berdiskusi tentang karya-karya Pram.
Suatu hari kami merencanakan menggelar pelatihan jurnalis warga masyarakat adat di Jogjakarta. Kenapa harus memilih Jogjakarta sebagai lokasinya? Ternyata bukan tanpa sebab. Bang Jeffar ingin, nantinya peserta pelatihan, para jurnalis warga masyarakat adat itu, meliput perjuangan petani Kulonprogo yang terancam proyek tambang pasir besi dan bandara internasional. "Konflik agraria di Jogjakarta menarik karena ada pihak kesultanan di sana," katanya, "Kan selama ini Sultan-sultan mengaku sebagai masyarakat hukum adat."
Wow...keren. Namun sayang rencana itu belum pernah terealisasi hingga saya pindah kerja dari AMAN pada awal 2015.
Kini, Bang Jeffar telah pergi menghadap Sang Pencipta. Ia pergi terlalu cepat dan mendadak. Padahal beberapa hari sebelum kepergiannya, ia sempat membagi link lagu "Blues untuk Munir" di akun facebooknya. Setelah kepergiannya, saya baru sadar, mungkin saat membagi link lagu "Blues untuk Munir", Bang Jeffar sedang berpamitan bahwa tak lama lagi ia akan menyusul Cak Munir ke surga. Selamat jalan Bang Jeffar...

https://indonesiana.tempo.co/read/106901/2017/01/13/firdaus_c/musisi-dan-penulis-itu-bernama-jeffar-lumban-gaol