This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 02 Mei 2017

Pendidikan Tanpa Sekolah ala Agus Salim

Reporter: Iswara N Raditya | 02 Mei, 2017

Haji Agus Salim. FOTO/Istimewa
  • Agus Salim pernah melamar beasiswa kedokteran di Belanda, tapi ditampik dengan alasan Agus inlander
  • Agus Salim menanggap pendidikan kolonial sebagai "jalan berlumpur," maka ia mendidik sendiri anak-anaknya
Agus Salim menganggap pendidikan kolonial adalah “jalan berlumpur” sehingga ia tidak mau anak-anaknya tercebur di dalamnya.

Jef Last geleng-geleng kepala usai mendengar pemuda bernama Islam Basari itu sangat lancar lagi fasih berbahasa Inggris. Keheranan jurnalis asal Belanda ini sangat beralasan. Islam tidak pernah mengenyam sekolah formal namun memiliki kecerdasan yang luar biasa. 

Melihat Jef Last terkaget-kaget dengan rasa tidak percaya, ayah Islam berujar: “Apakah Anda pernah mendengar tentang sebuah sekolah di mana kuda diajari meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum kami, dan anak-anak kuda ikut meringkik. Begitu pun saya meringkik dalam bahasa Inggris, dan Islam pun ikut meringkik juga dalam bahasa Inggris.”

Si ayah dari bocah bernama Islam ini tidak lain dan tidak bukan adalah Haji Agus Salim, bapak bangsa yang namanya bertebaran di buku-buku sejarah Indonesia itu. Dan memang, Agus Salim tidak pernah memasukkan anak-anaknya ke sekolah formal. Ia mendidik putra-putrinya sendiri di rumah, metode pengajaran yang kini dikenal dengan istilah homescholling.

Jalan Berlumpur Pendidikan Kolonial

Bukan berarti Agus Salim mengharamkan pendidikan formal, sama sekali tidak. Ia sendiri menapaki jenjang sekolah dari dasar hingga menjadi salah satu orang paling jenius yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia. 

Bahkan, Agus Salim pernah meraih prestasi yang sangat jarang mampu dilakukan oleh siswa-siswa sebangsanya, menjadi lulusan terbaik Hogere Buger School (HBS) tahun 1903 di tiga kota besar: Batavia, Semarang, dan Surabaya (Agus Salim, Pesan-Pesan Islam: Rangkaian Kuliah Musim Semi 1953 di Cornell University Amerika Serikat, 2014). 

HBS adalah sekolah menengah setara SMA milik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sekolah ini hanya menerima siswa berkebangsaan Belanda atau Eropa, serta sedikit anak lokal yang orangtuanya terpandang atau punya pangkat.

Sayangnya, titel sebagai lulusan HBS terbaik ternyata tak menjamin dirinya bisa melanjutkan studi ke luar negeri. Ia melamar untuk mendapatkan beasiswa sekolah kedokteran di Belanda yang sangat diminatinya (Haji Agus Salim 1884-1954: Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme, 2004).

Namun, harapannya kandas karena ia seorang pribumi, bukan sinyo apalagi berdarah Eropa murni. Jawaban dari pihak berwenang yang diperolehnya berbunyi: “Tak ada beasiswa untuk inlander.”

Pengalaman pahit itulah yang barangkali membuat Agus Salim merasakan trauma yang amat sangat dengan sekolah Belanda. Ia menganggap pendidikan kolonial bentukan Belanda sebagai “jalan berlumpur” sehingga ia tidak mau anak-anaknya ikut berkubang di dalamnya seperti yang dulu pernah dirasakannya. Selain itu, Agus Salim merasa sanggup mendidik anak-anaknya di rumah.

Dari ke-8 anaknya, hanya si bungsu Mansur Abdurrahman Sidik yang mengenyam sekolah formal. Itu pun lebih karena Mansur dilahirkan setelah era kolonial Belanda di Indonesia berakhir. Tidak demikian halnya dengan anak-anaknya yang lahir terlebih dulu: Violet Hanisah, Yusuf Taufik, Ahmad Syauket, Theodora Atia, Islam Basari, Siti Asiah, dan Maria Zenibiyang.

Sekolah Rumah Agus Salim

Bukan hal yang aneh jika anak-anak Agus Salim sangat lancar berbahasa Inggris. Bahasa harian di keluarga itu memang bahasa-bahasa asing. Andai saja Jef Last tahu, ia mungkin tak akan terlalu heran melihat Islam Basari cas cis cus dengan bahasa Inggris.

Agus Salim sendiri menguasai selusin bahasa bangsa lain, di antaranya adalah Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Jepang, Arab, Turki, dan lainnya. Tak hanya sekadar berbicara, ia kerap berpidato bahkan melontarkan guyonan dengan bahasa-bahasa asing itu (Herry Mohammad, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, 2006).

Metode pendidikan yang diterapkan Agus Salim di rumah sangat menyenangkan tapi tetap mendidik. Anak-anaknya sebagai “murid” tak harus duduk di dalam kelas seperti di sekolah formal. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung dibiasakan secara santai, seolah-olah seperti sedang bermain. Sedangkan nilai-nilai budi pekerti, pelajaran sejarah, dan materi ilmu sosial lainnya diberikan melalui bercerita dan obrolan sehari-hari. 

Agus Salim juga memberikan ruang kepada anak-anaknya untuk bertanya, mengkritik, bahkan membantah jika tak sependapat dengan apa yang ia sampaikan. Tampaknya ia punya cara jitu yang merangsang anak-anaknya untuk tidak hanya menerima pelajaran saja, ia ingin para “muridnya” memiliki daya kritis. Agus Salim sendiri dikenal sebagai sosok vokal dan jago debat berjuluk singa podium.

Pendidikan Tanpa Sekolah ala Agus Salim

Menjadi Cerdas Tak Harus di Kelas

Salah satu kebiasaan menyenangkan sekaligus mencerdaskan yang diterapkan Agus Salim di keluarga adalah membaca. Ia menyediakan buku-buku berbahasa asing. Hasilnya, kecerdasan anak-anak Salim berkembang pesat. Di usia, balita mereka sudah lancar baca-tulis dengan banyak bahasa.

Maka jangan heran jika anak-anak Salim sudah melahap banyak bacaan berbahasa asing di usia yang masih sangat dini. Theodora Atia alias Dolly, misalnya, pada umur 6 tahun sudah menggemari bacaan-bacaan anak remaja, semisal kisah-kisah detektif Nick Carter atau Lord Lister (100 Tahun Haji Agus Salim, 1996).

Yusuf Taufik atau Totok lain lagi. Di usia 10 tahun, ia sudah merampungkan bacaan Mahabarata yang ditulis dalam buku berbahasa Belanda. Tidak hanya membaca, Totok bahkan piawai menjelaskan makna yang terkandung dalam epos kepahlawanan India nan legendaris itu.

Belum lagi apa yang pernah dialami oleh Mohammad Roem. Tokoh pergerakan nasional yang kelak bersama-sama Agus Salim turut menegakkan kedaulatan RI ini dibikin takjub oleh Dolly dan Totok. Dua bocah itu mampu meladeninya saat berdebat tentang pengetahuan yang diajarkan di sekolah tingkat atas. Padahal, usia mereka saat itu masih awal belasan tahun.

Agus Salim memang punya alasan mendasar mengapa ia tidak memasukkan anak-anaknya ke sekolah formal, juga lantaran ia sendiri memiliki kualitas pengetahuan dan pengajaran yang mumpuni untuk mendidik putra-putrinya di rumah. 

Apa yang pernah dilakukan Agus Salim setidaknya memberi gambaran di luar keumuman di Indonesia: untuk menjadi cerdas tidak harus di dalam kelas. Bersekolah di rumah atau di tempat-tempat lainnya pun bisa, tentu jika dilaksanakan dengan cara dan guru yang tepat. 
Sumber: https://tirto.id/pendidikan-tanpa-sekolah-ala-agus-salim-cnSC

Minggu, 02 April 2017

Resensi | Anak Semua Bangsa


Judul                        : Anak Semua Bangsa
  Penulis                   : Pramoedya Ananta Toer
  Isi                            : 536 hlm
  Penerbit                  : Lentera Dipantara
  Cetakan                   : 13 September 2011
  ISBN                        : 979-97312-4-0

Annelies sudah berlayar ke Nederland. Perpisahan ini jadi titik batas dalam hidup Minke: selesai sudah masa muda. Ya, masa muda yang indah penuh harapan dan impian dan dia takkan balik berulang.
Suasana rumah Nyai Ontosoroh masih belum menyenangkan karena ia masih kesal dengan kelakuan yang dilakukan oleh Ir. Maurits Mellema terhadap keluarganya. Tak lama kemudian Minke beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya. Ia membuka lemari Annelies dan menemukan cincin juga sebelas surat dari Robert Suurhof. Minke mulai membaca surat itu satu per satu. Semakin membaca, semakin muncul pula kekesalan Minke terhadap Robert Suurhof. Setelah membaca semua surat-surat itu, Minke bergegas pergi dari rumah mencari Robert Suurhof dan bertujuan untuk mengembalikan cincin yang diberikan kepada Annelies. Saat perjalanan bersama Marjuki, Minke bertemu dengan Victor Roomers ia adalah kawan sewaktu masih sekolah di H.B.S .
Minke menyuruh Marjuki untuk meminggirkan bendinya dan Minke memanggil Victor lalu mereka singgah di kedai sambil berbincang-bincang dan membahas Robert Suurhof,  yang ternyata sudah kabur dan tidak ada seorangpun yang tahu ke mana ia pergi.
Belakangan diketahui pula ia telah melalukan kejahatan mencuri di toko Ezekiel dan cincin yang diberikan kepada Annelies itu adalah cincin hasil curiannnya. Victor juga bercerita kepada Minke tentang keluarga Robert suurhof yang melarat dan victor tak tahu tentang masalah Robert Suurhof.
Minke bergegas meninggalkan Victor di kedai dan tak lama kemudian Minke sampai di pelataran rumah Suurhof, seketika Minke terenyuh melihat keadaan keluarga Suurhof yang begitu melarat, Minke mulai berbicang-bincang dengan keluarga Suurhof namun keluarga Suurhof belum tahu apa tujuan Minke datang kerumahnya. Minke ragu dengan tujuan awalnya ingin mengembalikan cincin kepada keluarga Suurhof. Dia tidak tega menambah beban permasalahan keluarga itu.
….
Panji Darsam  dengan umurnya yang masih muda, dua tahun lebih muda dari pada Minke. Ia telah lalukan perintah Nyai Ontosoroh untuk mengawal Annelies ke Nederland, maupun ke mana saja yang dikawalnya dibawa pergi. Beberapa hari setelah keberangkatan Annelies menyusul surat dengan cap Kantor Pos Medan: “Setelah memasuki pelabuhan Singapura, Darsam baru melihat Annelies yang bergaun serba putih dan dikawal oleh seorang jururawat wanita. Annelies terlihat sangat pucat terutama nampak pada bibirnya, dan ia tak peduli pada pandang siapapun”. Darsam memberitahukan bahwa Annelies tidak sendiri dengan suara yang keras tetapi usaha itu di ketahui oleh perawat dan ia meninggalkan tempat itu.
Tak lama berselang Darsam di panggil oleh kapten kapal untuk mengurusi Annelies, sedikit demi sedikit Panji Darsam mulai menggantikan pekerjaan perawat dan menjadi perawat sepenuhnya Annelies.
Sesampainya di Nederland, Annelies telah ditunggu seorang polisi dan seorang wanita tua berpakaian serba hitam. Bersamaan dengan itu, Darsam mengirimkan telegram “Dengan sebuah kereta kuda kami menuju ke stasiun untuk membeli karcis dan Annelies masih dalam perawatanku, kami naikkan Annelies ke keretapi. Grobag kuda meninggalkan Huzain dan pergi ke rumah seorang wanita, dan wanita itu bernama Annie Ronke, Janda”. Beberapa hari Annelies berada di rumah Annie, ia sudah tidak menyadari sesuatu, hanya Tuhan yang tahu keadaanya. Telegram terakhir Panji Darsam, mengucapkan ikut berdukacita atas meninggalnya Mevrow Annelies.
Kehidupan terus berjalan tanpa Annelies, kejadian ini meninggalkan luka pada Nyai Ontosoroh dan Minke. Seketika Hindia digemparkan dengan berita bahwa kedudukan Jepang sama dengan Eropa, perang meletus antara Yunani dan Turki dan juga perang antara Amerika Serikat-Spanyol meletus dipinggiran Hindia. Protes di mana-mana, merasa terhina bangsa Eropa disamakan dengan bangsa jepang meskipun pada saat itu jepang suadah maju dalam Ilmu dan Pengetahuan serta sudah memiliki kapal perang.
Pada suatu hari Jean Marais menyarankan kepada Minke, dikarenakan Minke selalu membuat karya tentang bangsa Eropa terutama Nederland. Jean menyarankan Minke untuk belajar bahasa Melayu karena itu bahasa yang dapat dimengerti oleh orang Hindia. Jean Marais menilai Minke sangat pandai dalam menulis Belanda tapi dia tidak pandai menulis Melayu, nampaknya perkataan Jean membuat hati Minke geram dan tak lama kemudian terjadi percekcokan antar mereka, tetapi, percekcokan tersebut hanya sebentar dan dilerai oleh anak Jean yaitu May Marais. Dan merekapun saling menerima pendapat masing-masing dengan lapang dada.
….
Minke pergi ke kantor redaksi untuk membuat interfiu terhadap orang Cina, Khow Ah Soe, seorang angkatan muda Cina, yang bermangsud untuk menjual keterangan mengenai gerakannya. Dia  diwawancarai oleh pimpinan koran tempat Minke biasa mengirimkan surat kabar ke S.N v/d D, dari wawancara tersebut terlihat bahwa Khow Ah Soe adalah seorang pemuda Cina yang sedang berjuang untuk kebangkitan bangsa Tiongkok.
Kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan di Wonokromo pun terus dialami oleh Nyai Ontosoroh dan Minke, Khow Ah Soe diburu oleh kepolisian Hindia dengan alasan penyelundupan ilegal dengan beberapa temannya. Mereka semua menggunakan nama palsu sejak meninggalkan Tiongkok, dan dialah “biang keladi” pemotongan kucir di daerah perairan pelesiran di Hongkong. Tak lama kemudian Khow Ah Soe dikabarkan telah meninggal dunia di danau jembatan merah dengan beberapa tusukan.
Beberapa hari kemudian Nyai Ontosoroh dan Minke pergi ke Tulangan ke rumah keluarga Sastro Kassier, abang Nyai Ontosoroh, Perusahaan Borderij Buitenzorg tersebut sementara diawasi oleh Darsam selama Minke dan Nyai Ontosoroh pergi. Dalam sepanjang perjalanan nampak serombongan rodi sedang memperbaiki jalan kereta api dan seorang peranakan Eropa duduk di atas kuda.
….
Dalam cacatan Minke, Dia menulis tentang pengalaman Surati tentang kekejaman administratur pabrik gula yang dilakukan oleh Frits Homerus Vlekkenbaij di Tulangan Sidoarjo. Ia seorang pemabuk dan suka mengganggu wanita, pada saat melihat anak perempuan Sastro Kassier timbulah niat jahatnya.
Plikemboh nama yang akrab di lidah pribumi karena tidak biasa menyebutkan Vlekkenbaij itu membuat jebakan untuk Sastro, suatu hari uang kas pabrik hilang sebelum masa pembayaran untuk buruh pabrik gula yang merukapan tanggungan Sastro, dan Plikemboh mau memberikan hutang dengan syarat Surati anaknya diserahkan kepada dirinya.
Pertamanya Surati dan Ibunya menolak untuk diserahkan kepada Plikemboh, tapi apa daya akhirnya Surati menyetujui itu. Surati memiliki rencana lain, pada saat malam Surati meminta ijin kepada ibunya untuk pergi ke sebuah desa. Ternyata, Surati pergi ke sebuah desa yang sedang terkena wabah cacar, ia berjalan sekitar 15 kilometer untuk sampai di desa tersebut.
Surati mampu masuk kedalam desa tersebut yang dijaga ketat oleh kompeni, ia menemukan banyak warga yang sudah mati terkena penyakit cacar. Di desa tersebut Surati tinggal selama beberapa hari dan ia juga mulai terkena penyakit cacar tersebut. Akhirnya Surati keluar dari desa dan berjalan ke rumah Plikemboh sambil membawa penyakitnya, pada akhirnya Plikemboh  dan Surati mati dengan penyakit cacar yang ditularkan Surati kepada Plikemboh.
Minke juga bertemu dengan Trunodongso, seorang petani yang sedang diteror untuk memberikan tanahnya kepada pabrik gula. Tiga bahu tanahnya, sudah disewakan kepada pabrik gula dengan paksa selama delapan belas bulan, tapi, nyatanya sampai dua tahun. kecuali dia mau dikontrak lagi untuk musim berikutnya. Minke berjanji akan menulis kasus ini menjadi berita di koran.
Turun dari stasiun Minke minta ijin untuk pergi ke kantor Nijman untuk menerbitkan tulisannya dalam koran tentang pembelaan terhadap semua mereka yang bernasib sama dengan Trunodongso. Bagaimana petani Jawa terusir dari sawahnya yang subur dan irigasi air oleh pabrik gula.Tapi, Nijman menolak. Minke terpesona oleh keterangan Kommer, ia mengungkapkan bahwa Mellema datang dengan membawa tulisannya yang menggugat sikap patih Sidoarjo, yang menghalang-halangi perluasan area tebu, ia membantah bahwa gula mengurangi kemakmuran Sidoarjo. Kemudian Patih itu dipindahkan ke Bondowoso.
Sebuah koran mengabarkan sebuah pemberontakan tani yang terjadi di daerah Sidoarjo. Veldpolitie yang kewalahan terpaksa dibantu oleh Kompeni, hanya tiga hari pemberontakan dapat dipadamkan dan Kyai Sukri yang dianggap sebagai biang keladi telah ditangkap dan digelandang ke pabrik gula Tulangan.
Selang beberapa hari Minke pegi ke Betawi  untuk meneruskan sekolahnya. Ia berangkat dari pelabuhan Tanjung Perak, di atas kapal, ia bertemu dengan Ter Haar bekas redaktur S.N v/d D. Dikapal mereka berbincang tentang macam perusahaan raksasa di Hindia. Haar juga memaparkan semua kebusukan kolonial melalui pabrik gula, perkebunan, pertanian, dan pertambangan yang mengeksploitasi bangsa dan tanah jajahan demi kepentingan golongan penjajah kepada Minke.
Sementara, hidup Nyai Ontosoroh terkalahkan oleh keputusan pengadilan kulit putih Kolonial yang menyatakan bahwa Boerderij Buitenzorg beserta semua asetnya yang sekian lama ia bangun bersama dengan Tuan Herman Mellema akan jatuh ke tangan Mauritz Mellema. Putra perkawinan sah dari ayahnya Tuan Mellema dengan seorang istrinya di  Eropa.
Sesampainya kapal di pelabuhan Semarang Minke sudah di tunggu Schout Van Duijnen,  Minke diajak untuk menginap di hotel yang ada di Semarang. Selesai beristirahat Minke naik keretapi dengan tujuan Surakarta, Minke tidak tau apa sebenarnya tujuan yang dilakukan Schout Van Duijnen, sesampai di Surakarta Minke diajak mengitari kota Surakarta. Ia berasama Schout Van Duijnen menaiki bendi selang beberapa jam. Akhirnya Minke menyadari kalau ia dibawa pulang ke Wonokromo, dan sosok Schout Van Duijnen adalah suruhan dari Nyai Ontosoroh.
Setelah kejadian waktu itu, datang sebuah surat dari Robert Mellema anak laki-laki Nyai Ontosoroh sekaligus kakak Annelies memberikan berita segala yang dialami dan dilakukan terutama tentang pembunuhan ayahnya. Dalam suratnya Robert bercerita bahwa ia telah menghamili pembantunya yaitu Sanikem sehingga lahir bayi laki laki yang bernama Rono Mellema, karena keadaan semakin buruk ditambah Robert Mellema telah tiada dengan penyakitnya, maka dari itu dengan keibaan Nyai Ontosoroh mau menampung minem dan Rono Mellema.
Pada saat datang akuntan De Visch untuk mengajak Minem bertemu dengan Ramond Debree, Minem menyetujui dan dengan ringan Minem menyerahkan Rono pada Nyai Ontosoroh untuk mengasuhnya. Nyai Ontosoroh membuat perjanjian dengan Minem bahwa Rono tidak akan diambil kembali karena dia telah memutuskan pergi untuk meninggalkan Rono.
Nyai Ontosoroh dan Minke menyambut kedatangan Maurits Mellema dengan pandangan sebagai pembunuh Annelies. Sebelumnya semua warga dan si gadis kecil May Marais yang sangat dekat dengan Annelies tidak mengetahui berita meninggalnya Annelies. Setelah mengetahui hal itu, mereka sangat histeris dan marah terhadap Maurits Mellema. Semua turut berdukacita atas meninggalnya Annelies yang telah dibunuh oleh Maurits Mellema, kakak tiri Annelies. Beberapa hinaan muncul dari Kommer, Jean Marais, Minke dan Nyai Ontosoroh dan semua warga yang berada di Wonokromo.
Maurits Mellema munuding bungkusan yang berada di samping kakinya. Ia berbalik memunggungi semua yang hadir menyambutnya. Dia melangkah berat meninggalkan ruang depan dengan tangan kiri memegangi sarong pedang. Nyai Ontosoroh memberikan Rono pada salah seorang perempuan dan membuka isi bungkusan tersebut, isinya: kopor tua dari kaleng, cekung-cekung dan berkarat ia buka kopor itu dan isinya beberapa pakaian bekas Annelies. Dan kopor itu mengenangkan Nyai Ontosoroh pada masa ia terusir dan dijual dari rumah orangtuanya untuk diambil oleh Tuan Herman Mellema.
“Ya, Ma, kita sudah melawan Ma, biarpun hanya dengan mulut.” Kata Minke memburamkan ingatannya.
Menurut saya, buku “Anak Semua Bangsa” memiliki cerita yang lebih menarik. Sebab, di buku ini Minke menjadi tokoh utama. Di mana Minke mulai melakukan perlawanan terhadap orang kulit putih yang menindas bangsa pribumi. Perlawanan dia tunjukkan mulai dari persidangan walaupun pada akhirnya dia kalah. Tetapi, sosok Minke bisa menjadi panutan untuk melawan bangsa kulit putih. Semangatnya untuk membantu bangsa pribumi yang tertindas terus dilakukannya dengan berbagai cara.
Hendi Istanto, Mahasasiswa Sastra Indonesia, Univesitasa Ahmad Dahlan

Rabu, 18 Januari 2017

Retno Listyarti: Jangan Jadi Guru Penakut, Bongkar Korupsi!

Senin, 18 Januari 2016 | 07:00 WIB
Pebriansyah Ariefana


Sekjen FSGI, Retno Listyarti. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)


Sosok Retno Listyarti kembali mencuat karena menang di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta melawan Provinsi DKI Jakarta. Dia dipecat sebagai kepala sekolah SMA Negeri 3 Jakarta, tapi pemecatan itu dianggap tidak sah oleh pengadilan.
Retno, sosok langka. Seorang guru yang statusnya pegawai negeri sipil, berani mengungkap banyak kasus korupsi dan penyelewengan di sekolah yang dia ajar. Retno tidak menyangkal mayoritas guru di Indonesia ‘penakut’.
Menurut dia, ‘segudang’ penyimpangan berpotensi terjadi sekolah. Mulai dari tindakan korupsi terstruktur antara pimpinan sekolah, dinas pendidikan daerah sampai ke Kementerian Pendidikan. Penyimpangan itu lah yang harus dibasmi.
Selama belasan tahun berkarir Retno menjadi guru, dia hafal persis modus penyimpangan di sekolah. Mulai dari penyimpangan dana Bantuan Opersional Sekolah (BOS) sampai penyimpangan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP).
Retno pernah membuktikan saat dia menjadi Kepala Sekolah SMAN 76 Jakarta. Dia menemukan penyimpangan di sana. Makanya, Retno langsung mencanangkan program transparansi pengelolaan anggaran di sekolah tahun 2014 silam. Saat itu sekolah itu menjadi yang pertama berjuluk sekolah antikorupsi karena keuangannya langsung diperiksa oleh lembaga akuntan publik. Hasilnya sekolah mengembalikan sisa dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) sebesar Rp 400 Juta pada akhir 2014.
“Kalau biasanya, uang itu dipakai buat apa saja. Banyak celah korupsi,” kata Retno.
Kiprahnya yang sekalu memprotes penyimpangan dan sistem pendidikan Indonesia, membuat dirinya banyak musuh. Dia sadar, banyak pihak yang berusaha menghentikan langkahnya dan menghambat kariernya. Bahkan keluarganya pun menjadi sasaran untuk menekan dirinya.
Namun teror sudah menjadi ‘makanan’ harian. Dia pernah diancam dipenjara sampai dibunuh. Itu karena Retno tidak takut ungkap keganjilan sekolah dan pendidikan di Indonesia.
Apa yang melatarbelakangi keberanian Retno? Dan apa saja modus korupsi dan penyimpangan di sekolah?
Simak wawancara dengan Retno pekan lalu dalam perbincangan santai di kedai kopi di kawasan Senayan:
Anda menggugat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena memecat Anda sebagai Kepala Sekolah SMA 3 Jakarta. Setelah menang, apa yang akan Anda lakukan?
Niat mereka memecat saya sebagai PNS. Itu terungkap saat di Ombudsman. Ombudsman membujuk saya saat pertemuan terpisah dengan pihak Disdik Pemprov DKI, untuk tidak persoalkan surat itu agar saya selamat dari pemecatan. Saya menangkap pesan akan dipecat ketika menggugat dan terbukti di pengadilan saya salah. Itu bukan ancaman pertama.
Memecat PNS seperti saya kan sulit sekali, apalagi karena kesalahan sepele. Dalam keputusan hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta, kesalahan yang saya perbuat adalah kesalahan ringan. Hukumannya adalah teguran. Bukan dihukum berat dengan pencopotan jabatan. Maka Kepala Dinas DKI Jakarta Arie Budiman disebut melakukan pelanggaran.
Maka itu, Kepala Dinas Pendidikan diperintahkan mencabut surat keputusan itu karena batal demi hukum. Nama baik saya diperintahkan untuk dipulihkan, dan jabatan saya sebagai kepala sekolah harus dikembalikan.
Tapi kalau saya secara pribadi menggugat itu bukan untuk mencari jabatan, bahkan menjadi kepala sekolah lagi sudah saya tolak. Saya ingin melawan kewenang-wenangan saja. Saya menggugat untuk menguji di PTUN sesuai aturan atau tidak surat itu. Begitu gugatan saya diterima, maka saya otomatis jadi kepala sekolah SMA 3 lagi. Tapi tidak harus di sana, karena hakim memutuskan diserahkan ke dinas pendidikan.
Hal sepele, tapi Disdik DKI Jakarta menanggapi serius apa yang Anda perbuat…
Laporan ini saya menilai karena dilandasi kebencian. Saya membongkar korupsi di SMA 76. Saya sadar, musuh saya banyak. Saya 12 tahun melawan korupsi pendidikan. Saya pernah diancam dibunuh, dipecat dan sebagainya. Sudah biasa.
Saya membongkar skandal sekolah yang mendapatkan kursi, meja, dan lemari tiap akhir tahun. Tanpa diminta, itu dikirim semua ke sekolah. Tapi besoknya dipindahkan lagi ke sekolah lain. Jadi beli barang sedikit, rapi seolah-olah semua sekolah dapat.
Lalu uang Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) distor sekian persen ke dinas pendidikan. Ada pengelolaan yang salah di dana itu. Lalu pembayaran kurban Rp500 ribu saat Idul Adha pakai dana BOP dari Anggaran Pendapatan dan Belanda Daerah (APBD). Distor ke suku dinas dan dinas pendidikan. Ini seluruh sekolah distor. Saat saya tanya, katanya itu dikatakan sudah biasa. Itu berapa miliar terkumpul.
Pendidikan macam apa yang dibangun di negeri ini? Ketika gurunya tidak kritis, tidak berani, tidak kreatif, dan selalu takut. Karena guru yang tidak kreatif, tidak akan membuat anak didiknya kreatif.
Anda PNS dan guru, apakah Anda tidak mempunyai ketakutan tentang karier Anda akan terhambat?
Ini semua menjadi pelajaran untuk saya , sudah 11 tahun saya menjadi klien Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Termasuk saat digugat Akbar Tanjung Rp10 miliar karena tulisan saya, melawan kebijakan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), menjadi saksi di Mahkamah Konstitusi. Akhirnya saya belajar hukum, karena saya rentan dikenai hukum. Suatu saat kalau kena kasus lagi, saya ingin menjadi lawyer untuk diri sendiri.
Apa yang mendorong Anda untuk melakukan perlawanan?
Saya berpendapat untuk menumbuhkan orang untuk kritis itu harus banyak baca dan nulis. Karena untuk menuangkan isi pikiran dalam tulisan itu kan harus sistematis agar pembaca mengerti. Saya suka nulis dari kecil, tulis puisi dan cerpen dan dimuat di Majalah Bobo.
Tapi guru tidak pernah menghargai saya menulis. Sampai SMA, selalu memandang tulisan saya jelek. Mencoret-coret EYD, tidak ke substansi tulisan. Sampai saya SMA kelas II, saya mengenal Kelompok Ilmiah Remaja Jakarta Utara (Kirju). Saya belajar meneliti dan nulis. Kami menang beberapa lomba.
Tim saya di sana semua orang miskin, orang Tanjung Priok semua. Saya juga, meski tinggal di Kelapa Gading. Saya anak tentara, yang pangkat ayah saya bukan perwira tinggi. Terakhir pangkat ayah saya kapten.
Saat itu saya mencari buku-buku yang dilarang orde baru. Kenapa Karl Marx dilarang? Saat itu banyak buku-buku kiriman dari Australia. Tapi kami kami mendapat foto copinya saja. Ternyata buku-buku kiri yang dilarang itu buku yang mengasyikkan. Keberpihakan ke yang lemah dan melawan ketidakadilan. Jadi apa yang saya baca itu mempengaruhi cara saya berpikir.
Ketika itu saya ingin jadi guru karena saya ingin mempengaruhi anak-anak muda. Ayah saya nggak perbolehkan karena uangnya nggak banyak. Dia mengancam kalau kuliah guru, nggak mau biayakan. Saat itu masuk IKIP Jakarta (sekarang UNJ) bayarnya Rp106 ribu persemester. Jadi saya berpikir kayaknya bisa. Saya bayar masuk perguruan tinggi dari honor nulis opini saya di koran. Saya dua kali menulis, Rp5 ribunya saya mengutang.
Saat kuliah tingkat satu, saya ditawari menjadi periset oleh seseorang. Saya bisa keliling Indonesia, ke mana-mana. Gaji saya Rp550 ribu, tapi bayaran IKIP Jakarta Rp106 ribu persemester.
Di lingkungan guru, saya beda. Karena memang guru-guru banyak yang penakut. Jadi guru yang seperti ini, awalnya saya dijadikan tumpuan melawan kepala sekolah yang nggak benar. Saya juga mengkoordinir anak-anak OSIS untuk melawan kebijakan yang nggak benar.
Lagi pula sebagai PNS, saya harus patuh terhadap perundang-undangan. Bukan atasan. Makanya saya merasa apa yang saya lakukan, berarti bagi diri saya.
Anda menjadi Sekjen FSGI, bagaimana awal mula organiasasi itu berdiri?
Kami nggak berpikir FSGI ini pesaing PGRI atau juga PGRI Perjuangan. Saya pernah menjadi anggota PGRI, sampai satu hari saya digugat Akbar Tanjung atas buku saya. Ini buku pertama, dan didigugat pula. Itu buku pelajaran Buku PKn kelas X – XII SMA KBK. Tahun 2005, Akbar menggugat Rp10 miliar kalau saya tidak menghapus sebuah bahan diskusi atau pengayaan. Tema diskusi itu menggunakan artikel.
Saat itu Akbar dibebaskan di kasus Bulog Gate, saya tidak tertarik mengangkat Akbar dibebaskan. Saya mengangkat pendapat hakim yang berbeda, dari 5 hakim ada satu yang berpendapat berbeda, yaitu Hakim Agung, Abdurrahman Saleh. Dia menampilkan hal berbeda, berat lah saat itu. Melawan arus juga.
Saya angkat pemikiran dia, Akbar tidak pantas dibebaskan. Di buku itu saya bertanya, “apakah kasus ini memenuhi rasa keadilan?”, Siswa diminta menganalisis. Tulisan pendapat hakim itu saya ambil dari koran dan saya tempel di situ. Anak-anak diminta analisa, apakah putusan itu hakim itu adil?
Saat itu Akbar punya anak di Sekolah Santa Ursula dan menggunakan buku saya. Saat itu ketika Akbar menggugat, saya datang ke PGRI karena saya anggotanya. Tapi PGRi tidak menolong saya. Alasanya karena saya digugat sebagai penulis, bukan guru. Aneh, karena yang saya tulis buku pelajaran. Setelah itu saya putuskan keluar dari PGRI.
Saya pun dibantu YLBHI. Akhirnya Akbar justru mundur dan mengajak damai. Setelah itu 2005 saya kuliah S2 di Universitas Indonesia dan selesai tahun 2007. Selesai kuliah, saya belum masuk organisasi guru.
Tahun 2010, ada perbedaan tunjangan guru struktural daerah dengan yang di Jakarta. Saya melawan dan tunjangan itu berhasil disamakan. Saat itu saya dan teman-teman mendirikan organisasi lokal guru Jakarta, Serikat Guru Indonesia Jakarta. Tahu-tahu ada 8 daerah mengajak berkumpul dan membuat federasi, dan lahirlah FSGI di 2011.
Saya dipilih jadi Sekjen. Saya pemimpin organisasi guru satu-satunya yang perempuan. Kami kiprahnya melawan kebijakan. Membangun kebijakan yang lebih baik.
Anda lebih suka disebut guru atau aktivis?
Saya guru, dan aktivis juga. Saya aktivis guru yang memimpin organisasi profesi. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pernah menyebut FSGI ini LSM, padahal FSGI ini organisasi profesi. Ahok pernah bilang juga, “jangan jadi kepala sekolah kalau ingin pimpin organisasi guru,” itu salah.
Dalam UU Guru Dosen, Pasal 1 Butir 13 dalam UU 14/2005 menyebutkan organisasi profesi guru yang didirikan dan diurus oleh guru. Jadi bekas guru nggak boleh, yang bukan guru nggak boleh, apalagi politisi kayak PGRI. Masa yang mimpi politisi. PGRI di Jakarta dipimpin Kepala Badan Kepegawaian Daweah, itu melanggar. Makanya Pak Jokowi menyampaikan sambutan tertulis dalam ulang tahun PGRI Deember 2015 lalu yang dibacakan Puan. Dia bicara penataan organisasi profesi guru.
Kata Pak Jokowi, guru dipolitisasi. Kalau guru diurus kayak begini, nggak akan kritis guru. Banyak kepala dinas dan kepala sekolah diturunkan setelah Pilkada gara-gara incumbent nggak terpilih lagi.
Reformasi sistem pendidikan digaungkan tiap tahun, tapi sangat luas mana yang harus diubah. Menurut Anda mana yang harus lebih dulu diubah dari sistem pendidikan ini?
Permasalahan pendidikan itu dibagi dalam dua hal, kualitas dan akses. Kalau bicara sistem, maka kebijakan bermain. Kalau bicara persoalan, kualitas pendidikan Indonesia rendah. Gurunya rendah. Misal hasil penelitian world bank tahun 2012, menyatakan dari 12 negara Asia, Indonesia di posisi 12. Kualitas yan paling rendah.
Dari sisi hasil ujian kompetensi guru, guru hanya mendapatkan 4,3 dari rata-rata nilai dari paling tinggi 7. Dari sisi murid, itu menujukan rendah. Hasil kita di nomor buncit kok. Anak Indonesia hanya membaca 27 halaman buku pertahun. Padahal nggak ada buku yang dicetak di bawah 50 lembar. Jadi artinya murid membaca nol buku pertahun. Soal kualitas, Indonesia di urutan 39 dari 40 negara di 2014. Sistem itu siapa yang ciptakan, pemerintah.
Jadi untuk membenahi itu, bukan mengganti kurikulum. Tapi membangun kapasitas guru. Kalau gurunya berkualitas, muridnya akan berkualitas. FSGI pernah mensurvei tentang pelatihan untuk guru, karena pemerintah ini sangat kurang dalam memberikan pelatihan. Hasilnya 62 persen guru SD dari 29 SD di kota/kabupaten nggak pernah ikut pelatihan, bahkan menjelang pensiun. Guru itu harus di-charger, diupdate. Itu harus dibangun lewat sistem pemerintah.
Di Finlandia, SD-SMP nggak ada ujian nasional. UN ada di SMA, untuk menjaring masuk ke perguruan tinggi. Nilai kejujuran sudah ditanamkan. Di Indonesia, UN menjadi berhala. Kami setuju UN ada, tapi bukan untuk menentukan kelulusan.
Tapi sekarang dipakai untuk pemetaan. Misal ada SMA di NTT, nilai matematikanya jelek, ternyata guru matematikanya nggak ada yang benar. Gurunya harus dilatih. Ketika hasil pemetaan terpotret, maka ada reaksi yang dilakukan pemerintah.
Standar UN bisa dilakukan jika semua sekolah atau daerah sudah terpenuhi fasilitas yang sama. Jangan sampai ada murid yang mau sekolah sampai jalan 7 jam. Beda dong sama yang naik motor atau mobil.
___
Retno Listyarti, lahir di Jakarta, 24 Mei 1970. Sebagai PNS, dia berpangkat Pembina dengan golongan Iva. Retno adalah guru PPKn. Dia lulusan S2 Ilmu Politik di Uiversitas Indonesia. Ibu 3 anak itu sudah menghasilkan 10 buku dan belasan prestasi di bidang akademik, penulisan dan penelitian.
Selain menjadi guru, dia juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru indonesia (FSGI). Tahun ini masa tugasnya selesai. Retno dikenal sebagai sosok guru yang berani mengungkap korupsi di bidang pendidikan, terutama di sekolah Jakarta.
Dia pernah mengembalikan sisa dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) sebesar Rp 400 Juta pada akhir 2014. Hal itu dilakukannya saat masih menjabat sebagai Kepala SMA 76.
Sumber: Suara.Com 

Jumat, 13 Januari 2017

Musisi dan Penulis itu Bernama Jeffar Lumban Gaol

JUMAT 13 JANUARI 2017 08:11 WIB

Pernahkah anda melihat film berjudul, "Kiri Hijau, Kanan Merah". Ya film pendek yang mengisahkan perjuangan Cak Munir. Nah, saat melihat film itu, pernahkah anda mendengarkan salah satu soundtrak film itu yang berjudul "Blues untuk Munir"?
Ya, lagu "Blues untuk Munir" itu adalah ciptaan dari Bang Jeffar, begitu saya akrab memanggil Jeffar Lumban Gaol. Anehnya, Bang Jeffar baru tahu kalau lagunya digunakan untuk soundtrak film "Kiri Hijau, Kanan Merah" pada sekitar tahun 2014, setelah film itu diupload di youtube tahun 2011.
Beruntung bagi saya diberikan kesempatan untuk mengenal Bang Jeffar secara dekat. Saya mengenal Bang Jeffar, saat saya bekerja di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Bang Jeffar bukan hanya seniman musik. Ia adalah penulis sekaligus editor bagi para jurnalis masyarakat adat yang berada di seluruh penjuru nusantara.
Meski seorang aktivis, Bang Jeffar, adalah orang yang selalu taat pada kaidah jurnalistik saat menulis. "Cover Both Side dan verifikasi," kata Bang Jeffar pada suatu pelatihan menulis untuk Jurnalis Warga Masyarakat Adat yang diselenggarakan oleh AMAN di Jakarta pada akhir 2014.
Meski taat pada kaidah jurnalistik, Bang Jeffar tetap tidak bisa menyembunyikan keberpihakannya terhadap perjuangan masyarakat adat yang tertindas. Salah satu mimpinya adalah masyarakat adat di seluruh pelosok nusantara bisa menuliskan apa yang terjadi di wilayah adatnya. "Jangan tergantung pada media massa mainstream (arus utama)," katanya.
Kami sama-sama penganggum tulisannya Pramoedya Ananta Toer. Kadang di saat senggang kami berdiskusi tentang karya-karya Pram.
Suatu hari kami merencanakan menggelar pelatihan jurnalis warga masyarakat adat di Jogjakarta. Kenapa harus memilih Jogjakarta sebagai lokasinya? Ternyata bukan tanpa sebab. Bang Jeffar ingin, nantinya peserta pelatihan, para jurnalis warga masyarakat adat itu, meliput perjuangan petani Kulonprogo yang terancam proyek tambang pasir besi dan bandara internasional. "Konflik agraria di Jogjakarta menarik karena ada pihak kesultanan di sana," katanya, "Kan selama ini Sultan-sultan mengaku sebagai masyarakat hukum adat."
Wow...keren. Namun sayang rencana itu belum pernah terealisasi hingga saya pindah kerja dari AMAN pada awal 2015.
Kini, Bang Jeffar telah pergi menghadap Sang Pencipta. Ia pergi terlalu cepat dan mendadak. Padahal beberapa hari sebelum kepergiannya, ia sempat membagi link lagu "Blues untuk Munir" di akun facebooknya. Setelah kepergiannya, saya baru sadar, mungkin saat membagi link lagu "Blues untuk Munir", Bang Jeffar sedang berpamitan bahwa tak lama lagi ia akan menyusul Cak Munir ke surga. Selamat jalan Bang Jeffar...

https://indonesiana.tempo.co/read/106901/2017/01/13/firdaus_c/musisi-dan-penulis-itu-bernama-jeffar-lumban-gaol

Senin, 31 Oktober 2016

Menurut Ilmuwan dan Penulis Penerima Pulitzer Ini, Indonesia Salah Satu Negara yang Sebentar Lagi Punah

31 October 2016

Jared Diamond
Jared Diamond, ilmuwan asal Amerika Serikat yang juga peraih penghargaan bergengsi Pulitzer 1997, dalam sebuah pidatonya pernah mengatakan bahwa negara seperti, Indonesia, Columbia dan Philipina, adalah contoh termasuk peradaban yang sebentar lagi akan punah.
Berikut pernyataan lengkapnya:




Ketika bangsa Cina ingin hidup tenang, mereka membangun tembok Cina yang sangat besar.
Mereka berkeyakinan tidak akan ada orang yang sanggup menerobosnya karena tinggi sekali.
Akan tetapi 100 tahun pertama setelah tembok selesai dibangun, Cina terlibat tiga kali perperangan besar.
Pada setiap kali perperangan itu, pasukan musuh tidak menghancurkan tembok atau memanjatnya, tapi cukup dengan menyogok penjaga pintu gerbang.
Cina di zaman itu terlalu sibuk dengan pembangunan tembok, tapi mereka lupa membangun manusia.
Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.
Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:
1. Hancurkan tatanan keluarga
2. Hancurkan pendidikan
3. Hancurkan keteladanan dari para tokoh dan rohaniawan (ulama, ustadz, habaib, pendeta dsb)
Untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan ibu-ibu agar sibuk dengan dunia luar, menyerahkan urusan rumah tangga kepada pembantu.
Para ibu akan lebih bangga menjadi wanita karir ketimbang ibu rumah tangga dengan dalih hak asasi dan emansipasi.
Kedua, pendidikan bisa dihancurkan dengan cara mengabaikan peran guru. Kurangi penghargaan terhadap mereka, alihkan perhatian mereka sebagai pendidik dengan berbagai macam kewajiban administratif, dengan tujuan materi semata, hingga mereka abai terhadap fungsi utama sebagai pendidik, sehingga semua siswa meremehkannya.
Ketiga, untuk menghancurkan keteladanan para tokoh masyarakat dan ulama atau rohaniawan adalah dengan cara melibatkan mereka kedalam politik praktis yang berorientasi materi dan jabatan semata, hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai. Tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi meneladani perbuatannya.
Apabila ibu rumah tangga sudah hilang, para guru yang ikhlas lenyap dan para rohaniawan dan tokoh panutan sudah sirna, maka siapa lagi yang akan mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur?
Itulah awal kehancuran yang sesungguhnya. Saat itulah kehancuran bangsa akan terjadi, sekalipun tubuhnya dibungkus oleh pakaian mewah, bangunan fisik yang megah, dan dibawa dengan kendaraan yang mewah.
Semuanya tak akan berarti apa apa, rapuh dan lemah tanpa jiwa yang tangguh.
Tentang Jared:
Nama lengkap Jared Mason Diamond, lahir 10 September 1937. Ia adalah ilmuwan berkebangsaan Amerika Serikat dan penulis buku-buku ilmiah terkemuka. Bukunya yang berjudul Guns, Germs, and Steel yang terbit tahun 1997 meraih penghargaan Pulitzer.
Meskipun berlatar belakang Fisiologi, Jared juga terkenal pada bidang Antropologi, Ekologi, Geografi dan Biologi cabang evolusi.
Tahun 2005 ia masuk dalam daftar Top 100 intelektual terkemuka dunia.
Sumber: JurnalIndonesia 

Senin, 03 Oktober 2016

Orang Terpelajar dan Homeschooling

Reporter: Petrik Matanasi | 03 Oktober, 2016

Ilustrasi Homeschooling [Foto/Shutterstock]
  • Meski banyak menerapkan homeschooling kurang mendapat perhatian pemerintah
  • Agus Salim adalah pesohor penting Indonesia yang sukses dengan homeschooling
  • Tokoh nasional hasil homeschooling adalah, kakak Sutan Syahrir, Rohana Kudus
  • Penyanyi pop Imaniar termasuk produk homeschooling Said Kelana

Homeschooling telah menghasilkan orang-orang berguna, beberapa di antaranya bahkan secerdas ilmuwan. Dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia, Agus Salim merupakan contoh penting. Sementara di dunia musik pop ada Said Kelana.

Homeschooling atau belajar di rumah mulai menjadi tren di Indonesia. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2015, terdapat 11 ribu anak usia sekolah yang homeschooling. 

Dirjen Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Hamid Muhammad, menyebut konsep dasar homeschooling adalah anak-anak belajar mandiri di rumah, dibimbing orangtua atau guru yang datang ke rumah. Ada tiga macam homeschooling, yakni yang hanya dilaksanakan satu keluarga atau homeschooling tunggal, yang dilaksanakan beberapa keluarga atau homeschooling majemuk, dan homeschooling yang dilakukan dalam komunitas dalam penyusunan kurikulum dan perangkat lainnya. 

Di Indonesia, homeschooling masih jauh dari ideal dan kurang diakui ijazahnya dibanding sistem sekolah konvensional. Pendidikan di Indonesia hanya masih sebatas sekolah. Meski demikian, homeschooling sudah melahirkan sejumlah tokoh terkemuka. Tokoh pendidikan anak, Seto Mulyadi, dalam buku Homeschooling Keluarga Kak Seto (2007) menyebutkan, cukup banyak yang menjadi tokoh pergerakan nasional, di antaranya adalah Ki Hadjar Dewantara dan Buya Hamka. 

Banyak para kiai, buya, dan tuan guru secara khusus mendidik anak-anaknya di rumah, juga di pesantren orang tua mereka. Tentu saja diantara anak-anak pemuka agama itu di waktu yang lain belajar juga di pesantren yang jauh dari rumahnya. Anak-anak bangsawan pun sejak dulu juga menerapkan homeschooling, ketika sekolah belum dikenal masyarakat Indonesia. 

Pendidikan nyaris selalu diartikan sebagai sekolah dan orang tak bersekolah sama saja dengan orang tak berpendidikan. Hingga orang-orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya ke sekolah terbaik, agar anak mereka jadi yang terbaik. Orang-orang tampaknya lupa, Thomas Alva Edison bukan hasil sebuah sekolah. Sekolah bahkan menilai Edison adalah anak bodoh. Beruntungnya, Nancy Matthews Elliott, sang ibu jauh lebih mengerti Thomas Alva Edison kecil ketimbang lembaga pendidikan bernama sekolah. Setelah tak bersekolah, dia justru cemerlang. Dia pernah membuat surat kabar pada usia belasan tahun dan dunia mengenalnya sebagai penemu dengan banyak hak paten.

Pendidikan di rumah atau sekolah di rumah bukan barang baru dalam dunia pendidikan. Meski tidak disebut homeschooling, manusia di zaman purba belajar di lingkungan keluarganya. Meski tak tinggal dalam lingkungan yang disebut rumah. Mereka hidup di goa. Orang tua mengajarkan mereka bagaimana mereka bertahan hidup. Begitu pun setelah zaman berburu dan pindah-pindah berlalu. Keluarga adalah pendidik terpenting jauh sebelum zaman modern dimana sekolah menjadi candu.

Orang Terpelajar dan Homeschooling

Di zaman modern ini pun rupanya tak semua orang tua percaya pada lembaga bernama sekolah, dengan berbagai alasan. Setiap anak didik punya keistimewaan masing-masing. Sekolah sebagai lembaga pendidikan seringkali memberi formula atau kurikulum yang sama dalam mendidik siswa. Ketidakpercayaan orang tua pada sekolah seringkali agar anaknya tidak menjadi apa yang dimaui lembaga sekolah, yang biasanya dimiliki atau dikontrol sebuah yayasan atau pemerintahan. Orang tua ini juga punya cara dan persepsi sendiri tentang bagaimana mendidik anak. Haji Agus Salim termasuk orang tua golongan ini. 

Haji Agus Salim tergolong unik. Meski dia adalah lulusan terbaik HBS KW III Jakarta, Salim justru tak suka menyekolahkan anak-anaknya. Dia mendidik anak-anaknya bersama istrinya di rumah. Tentu saja mereka diajarkan baca tulis. Karena bahasa Belanda adalah bahasa pergaulan di masa kolonial, meski dia tokoh Islam, Agus Salim, tetap membiasakan anak-anaknya berbahasa Belanda sejak kecil. Di rumah kontrakannya yang bocor di kala hujan, Salim kadang mengajak anaknya bermain kapal-kapalan. Saat itulah anak-anaknya belajar sambil bermain. 
Dari rumah keluarga Agus Salim itu nasionalisme dan semangat kemerdekaan digelorakan Agus Salim. Menurut Sutrisno Kuntoyo dkk dalam buku H. Agus Salim: Riwayat Hidup dan Perjuangannya (2001), “bibit kebangsaan perlu ditanamkan kepada anak-anak di samping pelajaran lainnya.... Agus Salim mempunyai cara yang unik atau lain daripada yang lain dalam mendidik putra-putrinya.”
Anak-anak Agus Salim memang terbiasa dengan pergerakan nasional. Theodora Atia yang disapa Dolly, turut serta dalam Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928, yang melahirkan Sumpah Pemuda. Rosihan Anwar, dalam Sejarah Kecil La Petite Histoire Indonesia Jilid 3 (2004), menyebut Dolly ikut bernyanyi memperkenalkan lagu Indonesia Raya yang diciptakan Wage Rudolf Supratman. Dalam revolusi fisik, setidaknya dua anak laki-lakinya jadi tentara juga. Achmad Syauket Salim bahkan gugur dalam Peristiwa Lengkong pada 25 Januari 1945. Islam Basari Salim sampai berpangkat Kolonel, dia satu angkatan dengan Kemal Idris, Daan Mogot di PETA.

Agus Salim, melalui homeschooling juga mengajari anak-anaknya untuk kuat sebagai manusia bagian dari pergerakan nasional yang merupakan musuh pemerintah kolonial. Salah seorang putrinya, Violet Hanisah, adalah istri dari tokoh pergerakan bawah tanah yang anti Belanda dan anti Jepang, Johan Sjahruzah. Sang suami merupakan keponakan dari Sutan Syahrir, bahkan ikut serta dalam partai Syahrir, Partai Sosialis Indonesia (PSI). 

Jika Pahlawan Nasional Haji Agus Salim berlaku sebagai guru dalam homeschooling, maka Rohana Kudus adalah siswanya. Rohana yang anak dari Mohammad Rasad, seorang Jaksa asal Kotogadang, yang juga ayah dari Sutan Syahrir. Hanya beda ibu saja. Rohana memang tak pernah sekolah, tak seperti Syahrir dan anak laki-laki ayahnya yang lain. 
“Pada usia enam tahun sudah belajar membaca dan menulis pada seorang isteri Jaksa di Alahan Panjang,” tulis Fitriyanti dalam Rohana Kudus: Wartawan Perempuan Pertama Indonesia (2005). Di usia delapan tahun, Rohana membiasakan diri membacakan koran ke ayahnya hingga dia makin lancar membaca. Ayahnya pun sering membawakan bacaan-bacaan untuknya. Lama-kelamaan dia bisa menulis juga, selain keterampilan menjahit dan merajut. Rohana termasuk tokoh pers dan pendidikan perempuan. 
Di kalangan pemusik, soal homeschooling, Said Kelana pun menjadi guru musik bagi anak-anaknya. Menurut Denny Sakrie dalam 100 Tahun Musik Indonesia(2015), Idham Noorsaid, Iromy Noorsaid, Lydia Noorsaid, dan Imaniar Noorsaid belajar jadi musisi sejak kecil. Keluarga ini punya band The Kids, yang merupakan band bocah awal-awal dalam sejarah musik pop Indonesia. Dari anak-anak Said Kelana, di dekade silam Imaniar yang paling dikenal. 
Sumber: Tirto.Id