This is default featured slide 1 title

BEBAL:"FPI"

Kebebalan FPI Banyuwangi yang membubarkan ritual tradisi Sedekah Laut di daerahnya

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 18 Desember 2010

Karedok di Rumah Kosong


Entah karena apa, saya lebih ngeh menjuduli tulisan ini dengan Karedok di Rumah Kosong sebagai catatan apresiatif atas pementasan Teater Ego Kebumen (14/12). Malam itu, pementasan belum lagi dimulai, tetapi aula Gedung Haji, tempat pentas, telah “digelapkan” lebih dulu. Seperti ruang dapur yang sudah tak dipakai masak malam, tapi pemilik rumah amat patuh pada himbauan hemat listrik. Sama patuhnya dengan 70-an penonton yang memasuki dan duduk lesehan, diam, menanti sajian drama tiga babak yang naskahnya ditulis Humam Rimba Palangka.

Di tangan sutradara Putut AS, durasi 45 menit “Rumah Kosong” lebih terasa karedoknya ketimbang menu matengan. Bagaimana ia harus mengolah dalam -rentang 12 hari- proses yang dikerangkai peringatan visioner anti kekerasan terhadap perempuan. Begitu karedok, seperti lotek, mirip lutis. Karena memang terasa betapa bahan-bahan dalam sajian malam itu tak dimatangkan dulu. Sehingga melihat “Rumah Kosong” nampak celah spasial yang menyisakan ruang lega, tetapi mangkrak; tak tersentuh. Dan waktu telah melibasnya, berlalu.

Realitas Tergesa

Realitas yang dipanggungkan melalui “Rumah Kosong” adalah realitas sehari-hari. Humam Rimba Palangka, penulis naskah, mengerti kebebasan yang jadi haknya dalam menulis. Tetapi apakah antara kemengertian dan kebebasan itu menghasilkan situasi estetis yang bakal mampu menstimulus pelaku dan penonton pementasan naskahnya. Itulah makna realitas tergesa. Mungkin memang ini wilayah penyutradaaan. Tetapi, sekali lagi, bingkai pesan anti kekerasan juga jadi muatan yang ditimbang di sana.

Penulis “Rumah Kosong” ini seakan menyorongkan kedaulatan ruang ciptanya kepada suatu sub-ordinari luaran. Yakni tema yang membekuk. Mungkin ia punya puluhan ide liar dan pilihan opsi. Puluhan dan pilihan dalam realitas “Rumah Kosong” nya, adalah realitas yang sipit. Akibatnya, situasi tematik lebih mengemuka ketimbang kebebasan mengeksplorasi aspek estetika. Dan di depan waktu, tak menyisakan kisi-kisi berekspresi.

Saat "produk" ini jatuh ke tangan sutradara, -justru melalui revisi penulisan- dan serangkaian proses serta situasi yang dikerangkai itu, terbentang pasar audiens yang seakan telah menunggu pesanannya disaji. Karedok itu. Sutradara menjadi fihak yang berwajib sekaligus berwenang. Tetapi kewajiban dan kewenangannya semata dimuarakan kepada kebutuhan yang menjamin kiriman pesan itu sampai ke alamat di jagad audiens. Sekali lagi, dalam atmosfir dan tema anti kekerasan terhadap perempuan yang dipersiapkan sosialisasinya.

Padahal, cakupan ruang karya, dikerangkai atau tidak; punya kedaulatan eksplorasi pada wilayah dan konflik-konflik yang potensial bagi syarat pemahaman tematik. Jika perteateran telah jadi sebuah disiplin empiris, semua bakal berinteraksi dengan pemahaman estetik. Perbedaan pemahaman tematik dan pemahaman estetik; sulit berjalan selaras. Dalam makna saling menguatkan. Itulah beban naskah “Rumah Kosong”, realitas tematik yang membekuk. Dan ketika proses belum membebaskan tahapan ini, makin jadilah kesan tergesa itu. Tema kekerasan yang menjadi muatan buat dipahami kadarnya, mengambang di permukaan, tak dalam. Mentah seperti karedok.

Catatan “Rumah Kosong” Lain

Catatan lain atas pementasan Teater Ego yang mengangkat naskah bertema Kekerasan Terhadap Perempuan, yakni “Rumah Kosong” nya Rimba Palangka, makin berwarna. Upaya manis mengusung serpih realitas keseharian di atas panggung, telah membikin Putut AS, seperti Koki yang bekerja tetapi tidak di dapur rumah miliknya. Betapa pun kerasnya upaya itu, tetap belum berkedalaman, bahkan terkesan terengah dikerumuni waktu yang bergulir. Juga, upaya mentransformasikan dua realitas panggung, antara panggung halaman gedung dengan panggung di depan penonton; jadi kurang punya taut yang kuat.

Eko Sajarwo melihatnya sebagai upaya visualisasi yang secara teknis, lemah di semua lini. Unsur-unsur dramaturgi yang tak optimal dieksplorasi, baik secara personal maupun dalam relasi kelompok. Ujung penglihatan kritisnya merambah hingga wilayah teknis. Dan pementasan “Rumah Kosong” disebutnya sebagai tanpa ruh, tanpa greget, lemah karakter penokohan. Para pemain masih sebagai dirinya sendiri dan belum selaku peran lakon yang mesti dimainkan.

Kalaupun pementasan itu diterima dan harus ditempatkan pada visi anti kekerasan terhadap perempuan, kata Pekik Sasinilo, dan menjadi mata dari serangkaian upaya sosialisasi; pun belum bermakna pencerahan bagi audiens. Rupanya ia menangkap keinginan yang mendalam tentang hadirnya sentuhan estetis pada pesan yang ingin disampaikan. Tema ini urung untuk sampai pada pemahaman estetis. Wilayah audiens yang tak diharu-biru.

Sedangkan Pitra Suwita menyebut “Rumah Kosong” sebagai naskah yang “berat” buat sutradara. Bukan berat untuk dipentaskan, tapi berat untuk dimainkan dalam pesan tematik yang menjadi muatan kontennya. Kedaulatan estetis telah dirampas oleh proses yang tak cukup buat mematangkan. Dan keberadaan truk sebagai properti pendukung tak banyak menolong. Secara parsial, ia menyebut pertolongan ada pada peran Kemad yang bermain cukup dialektis.

Ada Anto Batoussae yang terlibat dalam proses. Ia membaca kecenderungan dalam tradisi sastrawi. Pada perspektif ini, penonton teater lebih fokus pada aspek “kejadian” ketimbang “proses” atau konflik di kedalamannya. Dengan analogi lakon klasik “Abimanyu Kerem”, ia menjelaskan kecenderungan dominan itu. Dan pementasan naskah Rimba “Rumah Kosong” ini, lebih didekati dengan dominasi “kejadian” ketimbang proses atau aspek konflik personalnya. Tetapi sebagai sebuah keberanian sutradara dalam bekerja, ia merasa telah melaksanakannya dengan baik. Selamat.

Minggu, 14 November 2010

Belajar Jawa dari Mami Ohishi







Kamis, 30 September 2010

Catatan Komisaris atas teater Perisai

Melihat kembali realitas yang membudaya dan diusung ke atas panggung, betapa pun puru restung kadung membenalu di tiap sendi kehidupan; terasa ada nikmah. Panggung adalah refleksi kenikmatan itu. Dan menonton pementasan "Komisaris Jendral" teater Perisai di gedung PGRI Kab. Kebumen (25/9) malam itu jadi terasa benar henyaknya di benak 50-an penonton teater Kebumen.
Naskah "Inspector General" karya Nikolaj Gogol yang kemudian diadaptasi dan digarap oleh sutradara Edi Romadon menjadi sebuah pementasan panggung ini, amat runut bertutur tentang kebobrokan tata nilai dalam relasi sosial. Saking runutnya bertutur melalui serangkaian pengadegan yang didukung belasan pemeran ini, menyisakan alur cerita yang -meski tak jenuh- nyaris terkesan datar saja.

Spirit "galengan" mBanyumasan

Meski memang tak gampang mengadaptasi sebuah karya gemilang; tetapi memilih bidikan pemikiran Nikolaj Gogol dan respon sosio-kulturalnya terhadap jaman, nampak sukses direkomendasikan oleh Teter Perisai kepada penonton, bukan sebagai protes khalayak terhadap situasi tetapi panggah mewakili budaya salah-kaprah kekinian.
Sang sutradara, Edi Romadon, mencoba meracik sajian komedi situasi ke dalam menu semi karikatural, meski pun harus berhadapan dengan pertanyaan mengenai konsep dan bahkan madzab berteaternya. Jika di wilayah pementasan telah lama dikenal gaya "sampakan" maka bangunan karikatural yang disajikan mirip wayang beber ini, sesungguhnya cukup menggelitik. Edi dengan ingatan kolektif masyarakat agraris di masa lalu merepresentasikan dalam gaya yang disebutnya sebagai "galengan", gaya banjaran di pematang sawah!.
Inilah jawaban jujur kesenimanannya yang pantas menjadi catatan menarik di pementasan bersama Teater Perisai dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pentas yang seperlima bagian akhir durasinya sempat diganggu padamnya listrik. Tetapi sebegitu pun bukannya terganggu dan malahan menjadi bonus alur improvisasi, meski dukungan properti panggung yang dibawanya juga tak berfungsi maksimal. Belum ada gedung kesenian di Kebumen. Dan seperti kejujuran mBanyumas-an yang blakasuta pementasan itu memberikan wewarah keprihatinan yang getir seperti komedi satire kehidupan kaprah.

Sabtu, 13 Maret 2010

Dialog Seni

Obrolan Budaya
Bale Kelurahan Kebumen, 
Sabtu 13 Maret 2010, jam 20.30 wib – 23.25 wib
Peserta: Teater Ego, Teater Ilir, Basatu, SRMB, Teater Gerak, BoeMI, indipt,

Susunan Acara:

Putut
Pembukaan:
- Salam
- Kita berkumpul untuk ngobrol, format santai, ga protokoler dg tema: sebagaimana dibicarakan pada GPT-2 yang terpotong dahulu itu.
- Bagaimana agar bisa berlanjut ngobrol, begitu alasannya, kegelisahan teman2, ada sesuatu yang selalu layak untuk diobrolkan
- Evaluasi atau Refleksi
- Mungkin telah separuh lebih yang telah datang saat ini
- Inisiator, Ego dan SRMB.
- Peserta: Basatu, non teater Boemi, Teater Ilir, dan sebagainya.
- Dipersilahkan SRMB untuk menyampaikan sajian pembuka, musik-puisi atau apa saja. Dipersilahkan.

SRMB Membawakan sajian Musik-Puisi dari Antologi “Kuputarung”
- MP: hasbunnalloh wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mannatsir
- MP: Lelaki dan Pembasmi Serangga
- MP: Doa-Doa Sang Durjana

Pitra Suwita - Berharap masukan dari sekalian yang hadir
- Dipersilahkan Putut dan Pekik untuk mengawal dialog ini.

Pekik
(20.50 wib)
- Terimakasih, selamat datang, selamat malam
- Ditawarkan, bagaimana formatnya, seperti apa?
- Silahkan, masukan dari sekalian yang hadir.

Lina Boemi - Sepakat untuk mengobrolkan persoalan.
- Mau di bawa kemana teater Kebumen, problem pemerhati dan anggaran yang terbatas

Pekik
- Refleksi itu penting untuk belajar berikutnya..
- Kepada Putut dan Syahid juga dipersilahkan

Sharing ( Aris )
- Berharap dari panitia memberikan prolog dulu, supaya jelas..

Teater Gerak - Terimakasih, bahwasanya bagaimanapun, berangkat dari masalah
- Dari awal kita seleksi dulu, kepanitiaan, teknis pelaksanaan, begitu kurang lebihnya

Putut
- Terusterang, awalnya, paska GPT 2009, ngobrol dg ArisPanji, paska acara selalu ada evaluasi.
- Tapi paska itu terlewati s.d 2010, pada awalnya, berharap akan ada sebuah event tahunan yang rutin. Tak terjadi evaluasi s.d penyelenggaraan GPT-2
- Pasca itu apa terulang lagi; membicarakan tema. Bukan sekedar membicarakan event.
- Sedikit menghantarkan, proses GPT-2, dipersiapkan selama 2,5 bulan.
- GPT-2, lepas dari kekurangannya, terpublikasi hingga merambah Kedu-Banyumas, 13 komunitas mentas di sana
- Melihat antusiasme ini, perlu tindak-lanjut, silahkan dari Ketum Syahid

Syahid elKobar
- Tak jauh beda dengan Putut, terlepas dari kekurangan kemarin, kegelisahan tentang kegiatan2 GPT yang jadi agenda FopSet yang sudah 2 kali jalan, dan direncana tahunan
- Kegelisahan pertanyaan: dilanjutkan atau tidak, bagaimana bentuknya?

Putut - Tambahan, forum ini punya 2 sessi
- Pertama, evaluasi kemarin; Kedua, follow-up apa yang akan dilakukan setelah ini, dengan keyakinan dapat dilakukan bersama
- Tawaran 2 pilihan; acara kemarin dihentikan atau dilanjutkan. Kemarin tidak berkomunikasi secara keterbukaan dengan keseluruhan pekerja teater Kbm

Kang Juki
- Yang harus dijawab sendiri, sebagaimana tadi disinggung Lina, soal keterbatasan.
- Menurut saya, pertama, mencintai dulu, kedua, optimis dapat melakukan—peluang apa, apa pula kendalanya
- Bukan bertanya: mau dibawa kemana teater Kebumen, agar terarah mesti diimpikan puncak macam apakah kehidupan terater di Kebumen
- Jika kita bisa tentukan itu maka akan jelas,
- Keinginan teater pentas di Jakarta, ada 2 tempat TIM atau di GKJ, misalnya kita punya target ke situ, bagaimana agar bisa diagendakan. Kan jelas.
- Kebumen bukan cuma gudang babu, lalu dalam hal teater, mau sekedar membuat aktivitas rutin atau mau go internasional.
- Banyak tempat/institusi, seperti Universitas Pelita Harapan, bisa untuk pengembangan teater, jangan cepat putus asa, saya yang bukan pekerja teater aja, optimis..jika saya bisa bantu, saya lakukan semampu..

Lina
- Ketua komunitas motor, sepertinya gak nyambung, tapi perlu rangsangan agar ada nafsu berkesenian, penting di reng-reng sejak sekarang, supaya tidak “babak-bundas”
- Pernah ke Komisi C, bicara tentang masa depan teater, bisa enggak, mengawal dari musren desa, menggolkan sedikit kepentingan teater.
- Ingin merangsang sejauh mana teman teater Kebumen untuk menghidupi berkeseniannya

Ikra- Ilir
- Fokus evaluasi jadi melebar kemana-mana, fokus bagaimana ke depan itu juga makin tak jelas.
- Satu hal, kita sama pecinta seni,
- Kegelisahan kreatif, tentu butuh ruang.
- Evaluasi agar tuntas dulu,
- Yg datang di sini punya komitmen untuk memajukan seni di Kebumen?
- Jika ya, terus bagaimana?
- GPT ruang yang sangat bagus, ke depan bisa diteruskan lagi, seperti kota2 lain. Punya ramuan2 yg lebih bagus, kita bisa belajar. Ada seni musik, seni rupa, di Kebumen ada semua itu, cuma tak terakomodir.
- Apa yang telah terjadi kemarin, bisa jadi pelajaran kita
- Jika tadi , kata Lina persoalan anggaran sebagai problem, maka itu dapat dilalui dengan kecintaan
- Penting ke fokus tentang evaluasi dan apa yang dilakukan ke depan
Pekik - Sepakat dengan Ikra, meski tadi telah ditanya apa mau dilanjut atau tidak, lebih bijak.. bahwa apa yang akan dilakukan nanti pada sessi ke 2 saja.
Saring - Applaus untuk panitia GPT, nyatanya teman2 bisa fasilitasi kelompok lain
- Teman2 yang selama ini ngaku senang teater, maka berani korban, jika cinta, maka berani korban dalam bentuk apa pun dan kapanpun
Putut - Mungkin ga tepat jika diserahkan dilanjut atau tidak
- Ingin saya paparkan, dari 13 kelompok yang ada, fakta respon dari luar, seperti Wonosobo, 40 orang, datang dan mentas.
- Magelang, ada even bersama, meski tak bisa datang, tapi ada ucapan selamat, Temanggung, Purworejo datang teman2 dari UMP.
- Lanjut atau tidak kami tawarkan pada semua..
- Purwokerto, 3 yang datang, 2 yang mengapreasi; itu fakta2 yang menggiurkan; maka saya menawarkan, forum itu bukan milik panitia
- Hal2 teknis seperti publikasi ga maksimal, dst..
- Ada impian saya ke depan; saat ada undangan dari seperti Purworejo, di sana ada keinginan untuk terjadi komunikasi intensif, maka jika saat ini tidak dishare, maka eman2.

Ubaidilah
- Jika mau dievaluasi seperti GPT yl, maka saya malu. Hanya begitu, saya ga bisa total, teman2 sampai “nyrememeh” begitu; merasa tak bisa memberikan yang terbaik pada event itu.
- Aku bisa apa di situ, peran apa?
- Kedua, model pengelolaan seperti apa? Sebab dari dulu hanya itu2 saja, penting dishare, bagi peran, maka seperti apa?
- Teater memang datang dari komunitas kampus. Jika di desa2 kita lihat wayang didukung oleh masyarakat, lewat event2 budaya suran, dsb. Itu contoh menarik untuk diserap.
- Kemarin ada seni lukisan, yang juga bergabung dengan yang lain, di pasar senggol juga begitu; apakah marketabel atau tidak, yang akan di lihat secara jujur. Kita penting mulai memanage sehingga tidak tersiakan.

Pekik
- Begitulah

Saring
- Nambahi sedikit, sebagai penikmat, jika ditanyya apa mau dilanjutkan ato tidak, maka dilanjutkan
- Tinggal bagaimana kemungkinan regenerasinya, shg bisa dinikmati lagi pemenatasan teater di Kebumen.

Pitra
- Jika bolej jujur, pertama menggagas Arisan Teater, sebenarnyya telah terkonsep dg baik. Dimana ada pementasan bergilir, messki Cuma hingga 4 saja; diakui memang ada kurangan dalam hal berkomunikasi.
- Belum berani tampil sebagai ujungnya.
- Dilanjutkan FopSet, dg keberanian. Jujur saja, ada ego masing2 kelompok itu. Tapi jika diminta, maka akan dengan senang hati. Sioalnya adalah minimnya komunikasi.
- Sbgmana, kata Putut, ada 9 hingga 10 kelompok teater di Kebumen
- Ini mestinya, ego masing2 kelompok akan terjembatanai dg komunikasi yg optimal.

Jukii 
 - Saya belum bisa melihat, gpt di luar panggung
- Di GPT, terlalu panjang, capek, terjebak nagntuk, jika ddiperpanjang hari, kendala dana mungkin; bgmn bagi awam dapat menikmati seutuhnya, missal dg adanya sinopsosis dsb.

Putut
- Mulai mengerucut, sulit mengatakannya, tdk se simple apakah GPT terus ato tidak
- Tak seperti Arisan Teater yang memang dibicarakan dan disepakati sejak awalnya; bgmn acara tu bisa berjalan sam[e selesai
- ada banyak perwakilan, mala apakah kita perlu wadah atau tidak?
- Jika diregulasikan, ada hal teknis yang bersinggungan dg agenda kelompok2, spt SRMB dg launching buku yl
- Bgmn menyikapi selanjutnya, soal komunikasi bantuan, kemarin eamng tak enak, kawartir ganggu agenda kelompok yang ada itu
- Kang Juki, bayangan saya, jika pentas digelar banyak malam, dg resiko bengkak biaya, maka ada data n fakta tentang pasar yang menjanjikan, tp tm2 tdk mampu memanagenya
- Tentang ego kelompok, amat terasa di Kbm. Perlu langkah terumus ke depan, jk GPT lanjut, maka formatnya seperti apa?
- Kre depAnnya, mungkin GPT dapat bicara lebih luas lagi.
- Malam ini sebagai evaluasi, kurasa telah jelas; persoalannya tidak sesempit itu
Ucok Ilir - Intinya, disini, dari kita siapa yg berani jadi ujung tombaknya, jk hal itu jd problem, maka knp kita ga berani tunjuk jari saja, missal siapa jadi pemimpinnnya.
- Dari sanggar Ilir yang di Jikja, mungkin hanya bisa membantu, teknisnya, akan sellau siap, missal jika dari panitia minta sekian titik lampu, dst

Lasmin Aris
- Masih terlalu bayi dlm teater, baru sekali bertemu langsung dg pegiat seni Kbm, saya lemig sering di Pwrj. Bergabung dg teater Surya Pwrejo.
- Diminta ikut GPT yl, keinginan mengenalkan diri dg masy Kbm, kebetulan jg saya mbimbing di Basatu Kbm.
- Ingin ada parade, dan berkembang jadi festival di Kbm ke depan.

Rimba
- Apakah setelah GPT aka nada lagi ato tidak, itu sudah muncul sejak GPT 1; jika kini muncul lagi, saya sepakat bukan soal dilanjutkan atio tidak; ada semacam kejenuhan jika sekedar pentas, tanpa mengetahui apa yang disampaekan kpd penonton.
- Memahami pesan apa yang akan disampaikan, pemting dibicarakan bagaimana konsepnya
- Ada semacam singkron, ada pementasan dg konsep pentas teater untuk rakyat; perlu konsep lebih luas luewes lagi, missal dg pentas out-door, fdi lapangan, di desa, dsl.

Putut
- Dlm GPT-2; ada ketidakmungkinan terkait teknis penyelengaraanya
Pekik
- Telah cukup dikritisa, termasuk .. tinggal soal kelanjutan apa yang akan dilakukan ke depan, silahkan sumbangsaran, gagasan dan wacana.
Ubaidilah - Perlu rumusan waktu setahun sekali
- Jika ke bentuk festival, masih belum mungkin, karena logika festival adalah logika tarung.
- Di 2011.. bisa di format lebih jwelas lagi..

Lina
- Hanya satu kata, cinta, sinergitas kerja, kapan ketemu lagi untuk dapat dilakukan

Agus Anyar
- Duduk melingkar, satu komitmen, sebetulnya kita sudah satu suara, bgman meneruskanaktivitas utk terus eksis
- Kaya GPT, bagi saya, Cuma wadah. Jika tahun mendatang akan seeperti ini, maka ya tetep GPT.
- Jika dalam perkembanggannya sampe saat ni, GPT tdak mengakomodir lebih luas cakupannya, maka pperlu dibahas lagi
- Beberapa komunitas, lebur jadi satu dan membawa Kebumen ke kancah luas
Tajib - Perbincangan tadi menarik, dulu Arisan Teater sejak 2003, sering konek dg teman2 yang tua.
- Dulu ada tmn2 yang aktif di lsm, berlaku nafas: jika politik menghancurkan kita, maka puisi yang menyembuhkannya.
- Kenapa dari dahulu, problemnya sama saja. Tetapi apakah nafas sekarang masih sama?? Atau berbeda, berbeda bisa rtidak baik, dan bisa lebih baik.
- Persoalan berkesenian, ada dua wilayah: ada aktivitas berkesenian, ada kepanitiaan.

Putut
- Kapan kita akan berproses bareng, ada proses berkesenian, ada managemen sajian (kepanitiaan)
- Kekuatan manajemen orang banyak itu lebih punya kekuatan, maka penting untuk dishare sebagai energy yang tak ada habisnya.
- Kapan dan Dalam event apakah kita bisa barenmg. Saya tak setuju model arisan, tapi lebih merupakan kapan kebersamaan

Pitra - Sekedar tambahan untuk meluruskan terkait pelaksanaan arisan teater

Putut -

Tajib - Kumpul, waktu itu, pengertiannya tidak harus pentas, ngobrol saja ada banyak hal bisa digagas. Missal diagendakan meet tiap bulan..
- Tadi pagi saya mengundang “Cah-Angon”, tereksplor etos kerja, dari menggembala minsul bagaimana kita menggali sumber daya.


Yayat 
 - Forum spt ini amat baik. Da kmntas2 d KBm, knp kita tidak bersama2.
- Beberapa saat lalu di ged PGRI, kesannya “one man show”, berharap dari ruh ini tercipta kesatuan, bukan lagi spirit/sentiment kelompok.
- Kapan sih Kebumen punya keelompok yang besar?

Putut
- Sbnrnya, kesan itu, knapa garus cape2. Maaaf, jika ga dibicarakan pun tetap berjalan. Apa yang saya lakukan akan saya fdapatkan.
- Soal ini diselesaikan dulu, seseorang tak isa menjadi sednirian. Butuh forum yang lebih besar untuk membicarakan kebudayaan yyan g cakupannya lebih luas.
- Kita belum punya kapasitas, itu pentingnya dibicarakan bersaama
- Pd dasarnya, selalu ada event bersama un tuk diilakukan bersama juga
- Saat semua ini tiidak dishare, maka itu berarti melanggar hak banyak orang
- Pembicaan semacam ini bertujuan agar semua tidak nggrambyang lagi

Eko Wahyudi - Terimakasih. Bicarakan komunitas yang inilah saja. Sudah ketemu pemikiran bhwa kita mau jalan bersama
- Kongkret, missal januaru kita melaakukan apa? Atau kapan?
- Bisa gak, banyak elemen ini disatukan jadi satu kekuatan saja? Saat bicarakan ini, kepingin terus saja.

Pekik - Pada malam ini belum ada sepakat, apa yang akan dilakukan ke depan

Tajib - Saya malah sepakat dengan melakukan uini, ada bincang2.

Pekik - Pada akhirnya kita butuh spirit kebersamaan
- Malam ini ada dukungan riil dari semua pihak yang ngumpul di sini
- Meski ada target kesepakatan, tapi sepakat ada meeting lanjut untuk share bersama dan berlanjut
- Malam ini paling tidak ada sepakat untuk berkumpil lagi dan kapan

Eko W 
 - Usul lagi, kapan, walau sekelumit, kita punya gagasan bersama. Tinggal kapan, ada gambaran awal sekaranmga mau apa besook, kapan, di manaa.
Syahid - Kalaupun kita mengadakan pertemuan lg, ada stu permasaalahan yang harus diselesaikan.
- Persoalan untuk adakah, penangkpan saya, dari sejarah, dari arisan teater,, kemudian fopset, maa saat akan ngomong apa pun ga enak, sebgai fopset berharap di forum ini disepakati, tapi bentuk apa, wadah apa, yang disepakati. Ini lebih baik dulu, tanpa bicar ego komu.
- nitas aatau apa tapi penting disepakati

Pekik
- Monggo, apa yang kitra2 disepakati, cukup omong2 spt ini?

Juki
- Perlu disepakati, format seperti apa ke depan

Putut
- Agak pesimis dengan agenda yang ga dijadwalkan, itu penting dilakukan hari ini

Tajib
- Seperti itu bagus untuk tetap dilakukan, seperti GPT. Fopset juga ga masalah, krn itu adalah salahsati bentuk kongkret, dimana tmn2 bisa berkoar. Itu tatap saja, kalau konteks seperti ini amat perlu, minimal, kontak rasa
- Dari forum spt ini, dapat membincang cakupan lebih luas lagi, missal jk omomng tradisi, kan cakupannya lebih luas. Spt ekbudayaan itu kan sangat luas..
- Sxaa berharap, pemkab sedang nhangat, maka kita ya ikut hangat. Ngomong apakah pemkab punya peduli kebudayaan, missal.

Pekik
- Dua sepakat, pertama, kesinambungan komunikasi
- Sebuah agenda yang konkret dan absurd. Konkretnya, aktivitas kaya GPT perlu dilanjut disertai forum2 diskusi seperti ini. Yang secara budget lebih murah. Dan diagendakan secara rutin
- Tawaran Boemi, ketempatan, boleh kita sepakati?

Peserta
- Ya, sepakat.

Tajib
- Saya menawarkan, ngomong dengan Syahid, mau ngadakan acara nonton film, sekita 20 film. Malam pertama, yuk, baca puisi, tema pluralitas, atau tahlilan, rencana sekitar April, tapi pas pilkada. Dan ketiga, pentas.
- Desain yang disiapkan, teman2 yg tterlibat kita record, dan share secara luas sebagai kerja teman2 dengan tema keberagaman

Pitra
- Dikonkretkan, tawaran yang mana dulu. Jika indipt, april; maka Boemi sendiri bagaimana?

Lina - BoeMi siap kapan saja.

Pekik - Kita sepakati tawaran Indipt diterima dan dilakukan lebih dulu.
- Kita akhiri dulu, setelah ini ada obrolan bebas, silahkan saja..
- Tertimakasih, Alhamdulillah. 
Selamat Malam, salam budaya.

Obrolan Budaya 2010

Puluhan pegiat teater Kebumen, malam ini berkumpul di Bale Kelurahan Kebumen, Sabtu 13 Maret 2010, mulai jam 19.30 wib; untuk menyelenggarakan acara "Obrolan Santai". Agenda ini sekaligus merupakan upaya melanjutkan lagi aktivitas perteateran di Kebumen yang seperti kolaps paska Arisan Teater I-IV dan Gelar Pentas Teater FopSeT I-II.
Hasil Obrolan diharapkan menjadi referensi bersama para pegiat teater daerah, khususnya Kebumen, seputar kemungkinan-kemungkinan yang paling bisa dilakukan secara bersama dalam waktu-waktu yang akan datang. Sekaligus ini merupakan upaya refleksi dan mengevaluasi aktivitas teater yang telah dilakukan; secara kelompok maupun lintas kelompok selama ini.
Acara dialokasikan menjadi 2 bagian. Sessi pertama, refleksi dan evaluasi aktivitas berkesenian. Kedua, sharing gagasan dan sumbang saran untuk membuka peluang aktivitas bersama yang bereksinambungan. Di sela sessi ini juga diisi dengan penampilan musik-puisi yang disajikan oleh SRMB. Puisi-puisi yang dimusikalisasikan diambil dari Buku Antologi Puisi "Kuputarung".
Komunitas teater yang diundang untuk hadir, diantaranya: Teater Ego,Sanggar Ilir, Teater Gerak, Teater Kelir, Teater Smenven, Guyub Larak, Teater Petrasa, Komunitas Mata-Baca, juga pegiat kesenian yang ada. Acara ini difasilitasi oleh Sekolah Rakyat Melu-Bae dan FoPSet.

Sabtu, 16 Januari 2010

Catatan dari GPT-FoPSeT 2010

Menikmati pagelaran teater di Kebumen masih merupakan kesempatan yang tak sering terjadi. Terlepas dari problem klasik berkesenian, yg di pundak Forum Pekerja Seni Teater (FoPSeT) sendiri terasa makin tak ringan. Sehingga 'forum' ini dihadapkan pada situasi yg sulit yg mengikis keberlangsungan program tahunannya. Tetapi apa yg telah dilakukan, setidaknya selama 2 tahun terakhir ini telah memberikan kontribusi dalam mendorong adanya syarat2 hidup berteater di Kebumen.
Maka saat perhelatan 2 hari, Jum'at dan Sabtu, 15-16 Januari 2010 itu digelar di gedung PGRI Kebumen; menjadi sebuah gelaran yg mena
rik buat disimak. Sebanyak 13 kelompok teater menjadi partisipan di sana. Bahkan bukan hanya kelompok teater dari kebumen saja. Setidaknya terdapat 4 kelompok teater luar kota seperti dari Wonosobo, Purwokerto dan Jogjakarta ikut serta.
Berikut adalah catatan kecil atas kiprah ke 13 kelompok teater yang berpartisipasì.

Sanggar Ilir Jogjakarta

Saka Pandu Wisata Kebumen

Batik Sakti Satu

Teater 'Banyu' Wonosobo

Sanggar Mandiri Depokrejo

Rabu, 13 Januari 2010

7tahun SRMB

Menandai 7 tahun SRMB, puluhan pegiat ngumpul di sekretariat komunitas inì, dimulai jam 20.30 wib.

Sabtu, 14 November 2009

Tahlil Puisi untuk Mendiang WS. Rendra

Mengenang kepeloporan seniman besar melalui peringatan 100 hari wafatnya WS. Rendra tak harus dengan keramaian. Tahlil puisi dihelat secara sederhana tapi hikmat. Itulah yang dilakukan SRMB dengan melibatkan puluhan orang yang mendirikan keihlasan.
Malam akhir pekan yang diguyur hujan cukup deras tak mengurangi kekhidmatan pembacaan doa tahlil, meski ritual acara ini sempat tertunda hampir satu jam.
Setelah acara dibuka oleh Pitra Suwita dan diantar oleh Pekik Sasinilo, langsung dilanjutkan dengan pembacaan doa tahlil yang dipimpin oleh seorang kiai sepuh Malik Hasyim dari Jagasima.

Pentingnya Mengingat.

Dalam pengantar doanya, mBah Limin, demikian panggilan kiai sepuh ini, mengingatkan pentingnya mengingat pada semua yang telah lewat. Tak lain agar manusia jadi 'eling' dan meneladani kebaikan yang ditinggalkan oleh almarhum. Meski tak banyak menyebut nama, ia yakin, mendiang WS Rendra termasuk golongan pahlawan bagi Indonesia.

Musikalisasi Puisi 'Gerilya'

Di sela parade puisi-puisi karya WS Rendra, yang dibacakan tamu undangan; disajikan musikalisasi puisi 'Gerilya' oleh Sekolah Rakyat MèluBaé. Sajian puisi "Gerilya" karya WS. Rendra yang dikemas dalam komposisi melodius, ritmik dan deklamatis ini; merupakan komposisi musik puisi yang pernah dibawa berkeliling oleh SRMB dalam "ngamen" apresiasi sastra di belasan sekolah formal, pada beberapa tahun lalu. Acara yang pernah dilakukan ini, sesungguhnya, masih dinantikan oleh beberapa sekolah yang ada. Beberapa guru mapel Bahasa dan Sastra pernah mempertanyakan kelanjutannya.
Dalam acara "Tahlil-Puisi" untuk mengenang 100 hari wafatnya WS. Rendra malam itu, juga diparedekan pembacaan puisi-puisi WS. Rendra oleh beberapa orang tamu yang diundang.

Pekik Sat Siswonirmolo, pegiat SRMB membacakan sajak "Surat Cinta". Karya WS. Rendra ini dibacakan dengan nada rendah; sekaligus dimaksudkan untuk membuka parade sajak malam itu. Guru SMP yang "mengepalai" Sekolah mBayar Karep ini begitu syahdu penampilannya malam itu. Setelah ritual do'a dan tahlil, terasa spirit dan "ruh" sang Burung Merak merentang sayap memenuhi ruang pendopo kelurahan. Mistis, seperti tabir jagad Hyang. Meski di luar pendapa, gerimis satu-dua mulai tiba. Suasana kesumarahan namun penuh daya demikian terbangun disela lengking menyayat seruling yang ditiup Toro Mantara, pegiat SRMB lainnya. Kesyahduan yang menghadirkan dan galau hati tersingkir ke arah pergi.

Daryono Cengkim, tegugah juga ikut membawakan puisi "Gugur" karya WS Rendra lainnya. Lajang yang mulai rajin menulis puisi dan beberapa karyanya juga sempat termuat di buku antologi puisi "Kuputarung" terbitan SRMB ini, cukup punya alasan buat memilih sajak "Gugur" malam itu. Rima duka, tapi tak larut ke dalamnya, begitulah cara kelompok ini mengenang kebesaran seorang pujangga. Iringan bunyi gitar yang dipetik Dodottiro seakan mengikat suara rinai hujan di luaran dan menyatukannya dengan aura sastra di pendapa. Tak sia-sia kedua pegiat ini "mesuh budi" mengolah diri dalam kebersamaan beberapa tahun terakhir ini. Mengenang Rendra dengan mengiringkan do'a tanpa mengeringkan air mata.

Beginilah, pada gilirannya, beberapa tamu undangan terbangunkan juga. Penampilan sebagaimana gambar di sebelah ini adalah tamu dari Sanggar Sastra "Wedang Kendhi", yakni sang monolog Ryan Rahman. Ia memilih karya sang mendiang "Sajak Seonggok Jagung" ke dalam penampilannya.





Sabtu, 10 Oktober 2009

Menggalang Dana Gempa di Depan Pasaraya

Mendadak di hall depan Rita Pasar Raya Kebumen, malam itu meriah oleh pementasan musik. Pemrakarsa perhelatan amal ini adalah KM(C)2, Kebumen Music Corner Community. Pagelaran yang diabdikan untuk tujuan penggalangan dana bantuan korban gempa di Sumatera Barat ini berlangsung sekitar 2 jam. Pengunjung yang akan dan telah berbelanja di salah satu pusat belanja Kebumen ini, banyak yang terkesan dan memberikan sumbangannya.
Ada sejumlah kelompok band yang tampil malam itu, seperti: D.Jas, Rover, Red Apple, Rotasi, Male Rose, Ebiet G. Adud, juga dimeriahkan dengan tampilan Musik-Puisi dari Sekolah Rakyat MeluBae.

Meski sudah dibilang sebagai bentuk sajian yang belum populis di pentas arena, apa yang dibawakan SRMB malam itu relatif bisa diterima khalayak. Penampilannya menyeling di atara 5 group musik lokal. Beberapa komunitas lain juga mendukung usaha kemanusiaan ini. Diantaranya ada Boemi (Kebumen Motor Independent) dan didukung oleh Palang Merah Indonesia Cabang Kebumen.
Penyelenggara pentas amal ini, Edwin Darma Setiawan, memastikan bahwa keseluruhan perolehan dana amal malam itu diserahkan sepenuhnya ke PMI melalui Korps Sukarela.
Dana yang terkumpul selama dua jam itu sebanyak: Rp. 858.900,-
Menurut rencna, usaha kemnusiaan penggalangan dana ini bakal dilanjutkn keesokan harinya, di tempat-tempat berbeda.

Selasa, 18 Agustus 2009

Di Panggung Pitulasan

Manggung di pentas "pitulas-an" merupakan selingan yang cukup menghibur diri, dan mungkin juga orang-orang di sekitarnya. Filosofinya sederhana, bermanfaat bagi lingkungan dimana kita tumbuh, sebelum melanglang di tempat-tempat jauh. Dan dikenal di lingkungan terdekat, di tempat mana kita bertumbuh serta menjadi bagian dalam relasi yang setara; penting pula karenanya.
Dan memang tak ada yang menghakimi bahwa pentas di panggung pitulas-an itu dosa berkesenian. Maka jadilah, malam itu, pentas di panggung pitulas-an..

Kamis, 18 Juni 2009

Membaca Akal Bulus Scapin

Tak enak menonton pementasan teater tapi sedikit telat karena urusan menghangatkan badan, sebab ketika datang, gedung Sumardjito di kampus UnSoed tempat pementasan berlangsung masih tertutup. Selesai dengan urusan kopi, pementasan telah dimulai. Rekaman bisik-bisik dengan oknum dari pihak resmi civitas akademika di FE, didapat tahu bahwa cerita naskah yang bakal dipentaskan malam itu, impor dari imperium Perancis, masa Louis XIV. "Drama klasik !", begitu sorak dalam hati.

Menonton Akal Bulus Scapin, karya Molliere, sebuah ketakjuban baru di Kampus Purwokerto. Sejenak terlupakan sakit badan teman yang jatuh lepas magrib di jalanan. Terseok imajinasi kami diseret ke tengah panggung, mengunyah seting yang sayup beraroma anggur dan sisa gandum di gudang para borju. Namun begitu, seting ini sedikit banyak telah membantu mengecap taste Eropa. Kesayupan ini segera disundut ligthing yang intensitasnya konstan saja sepanjang durasi babak. Di sana tercatat pekerja panggung Margin, bersungguh mewujudkan yang masih sedikit itu. Beberapa properti, seperti gerobak jadi minimalis aspek fungsional ketimbang kelengkapan formal panggungnya.

Karya Molliere di tangan sutradara Bangkit Kurniawan ini masih kembali mengingatkan orang pada Margin tentang cacat sedikit pada tidak maksimalnya eksplorasi dialog. Kesan kesusu, meski tak mengganggu, seperti rentet petasan yang masih juga tersisa asapnya di sana. Padahal, sebenarnya, kendala khas pertama dalam memainkan lakon klasik semacam ini, yakni mengularnya dialog telah diatasi dengan baik oleh masing-masing pemeran.
Mungkinkah ini sebuah kekhawatiran akan durasi pentas yang dapat berekses pada kejenuhan audiens ?

Pembelajaran Akal "Scapin" Molliere

Kegemparan bisa bermula dari ruang yang tak diperhitungkan. Orang yang tidak dimanusiakan dapat menjadi bumerang di ranah humanism. Begitulah Scapin, yang berteman dengan sang idiot untuk lebih dari sekedar membedakan kecerdikan. Ia belajar dari situasi sosial yang termarjinalkan. Inikah alasan teater "Margin" memilih materi pementasan, yang cukup mewakili spirit berteaternya itu.
Scapin adalah perwujudan manusia yang mewakili kelas sosialnya, tetapi ia belajar dengan membaca fakta empiris kesehariannya. Di Latin juga ada pomeo lain, bahwa kaum budak selalu menemukan bahasanya sendiri. Ada pembelajaran di panggung "Margin" malam itu.
Penulis sekaliber Molliere tak keluar dari penjara dan kelas yang berbeda dengan inspirator Revolusi Perancis; Voltaire.

Selasa, 16 Juni 2009

Catatan Festival Drama Sekolah

Lomba Sandiwara Berbahasa Jawa. Demikian tajuk acara yang dilangsungkan di Hotel Candisari selama 2 hari itu. Diselenggarakan dalam rangkaian Pekan Seni Dikpora, 15-16 Juni 2009. Lomba ini diikuti oleh 16 peserta yang mewakili berbagai SMU dan SMK yang ada di Kab. Kebumen.
Beberapa kriteria penilaian ditetapkan panitia dan dalam implementasi penilaiannya dilakukan oleh 3 yuri, masing-masing Turyo Ragil Putra, Pekik Sat Siswonirmolo, dan Syahid.
Adapun hasil penilaian meliputi Pementasan Terbaik, Penyutradaraan dan Tata Artistik.

Festival Drama Pelajar tingkat SLTA se Kab. Kebumen ini diikuti 16 peserta yang mewakili sekolah, dan mementaskan sebuah naskah wajib 'Layung Sore' karya Tentrem Lestari, seorang pendidik di SMU N 1 Mertoyudan, Magelang.
Pementasan Terbaik direbut berurutan, masing-masing oleh: SMU N 1 Kutowinangun, SMU N 1 Kebumen, SMK N 1 Puring, SMK N 2 Kebumen, SMU N 2 Kebumen, SMK Ma'arif 4 Kebumen.

Sedangkan Sutradara Terbaik diraih: Joko Prambasto (SMU N 1 Kutowinangun)
Pemeran Terbaik: Astrid Herera M (SMU N 1 Kutowinangun), Titis Laksanawati (SMU N 1 Kutowinangun) serta Sarifah (SMK Batik Sakti 2 Kebumen)
Penata Artistik: Isman Suwabi (SMU N 1 Kutowinangun)

Keberlanjutan

Setidaknya telah lebih dari 8 tahun, acara semacam ini tak pernah diagendakan. Meskipun begitu, sebenarnya pementasan drama, walau terbatas masih pada lingkup internal sekolah, sesekali masih terselenggarakan. Penyelenggaraan Festival Drama Sekolah dalam rangkaian Pekan Seni Dikpora 2009 ini, memunculkan harapan yang lama terpendam. Minimnya aktivitas berkesenian dan apresiasi seni di kalangan muda terdidik, telah lama jadi keprihatinan.
Seorang pendidik yang tergolong baru, Elok Nur Faiqoh, yang pada event ini terlibat menggarap pementasan drama bagi murid di dua sekolah yang berbeda; berharap acara demikian dapat diagendakan rutin. Harapan ini mewakili keinginan para guru yang concern pada bidang kesenian.
Keberlanjutan menjadi penting artinya, lebih dari sekedar menyelenggarakan acara semacam Pekan Seni. Ia melihat ada peluang penguatan potensi lokal melalui bidang kesenian. Dan jika itu mau dieksplorasi dari kalangan kaum muda di lingkup pendidikan formal bermakna lebih dari sekedar pembinaan mentalitas budaya semata.

Minggu, 14 Juni 2009

Manggung di Gelar Budaya NGO

Minggu, 14 Juni 2009. Atas undangan BRaIn (Bumi Roma Institute), sebuah LSM di Kebumen, SRMB main di panggung terbuka lapangan Desa Seboro, Kec. Karangsambung. Lapangan terbuka yang posisinya persis di depan gerbang Kampus Alam Museum Geologi LIPI Karangsambung, siang itu hingar oleh kerumunan ribuan massa. Acara Gelar Budaya yang diprakarsai BRa-Institute, bekerjasama dengan KPUD Kebumen, dan didukung oleh CepDes serta Elections-MDP itu, merupakan prakarsa kalangan LSM dalam rangka sosialisasi menjelang event Pilpres 8 Juli 2009. Sosialisasi yang dikemas dalam tema "Menjadi Pemilih Cerdas" itu mendapat respons cukup antusias dari kalangan masyarakat Karangsambung dan sekitarnya. Tak ketinggalan pula para penjual jajanan dan aneka mainan anak yang ikut memanfaatkan keramaian itu.
Disamping mementaskan naskah panggung pendek "Go-Den" (Jago Gaden), SRMB juga menampilkan beberapa sajian Musik Puisi Lelaki dan Pembasmi Serangga serta Bumi Pertiwi. Gambaran realita personal yang sepintas remeh akan tetapi berakhir fatal, mengasosiasikan dalam segmen luas dapat menjadi fenomena sosial terburuk. Keputusan personalitas yang buruk ini diangkat menjadi sebuah ironi sosial ke dalam panggung dengan gaya yang ringan tapi ketus. Sehingga mengantarkan nalar orang pada tanya: Kenapa di bumi yang gemah-ripah loh-jinawi, masih harus ada kematian yang nista, kematian yang sia-sia, atau yang dalam batasan secara verbal disebut kelaparan. Ini tersirat, juga secara musikal, dalam puisi Bumi Pertiwi.
Kegelisahan sosial ini masih menjadi nafas panggung Melubae. Namun apa yang disajikan komunitas ini bagi sebagian masyarakat gunung masih kurang populis. Meski begitu, beberapa pengendara sepeda motor menghentikan laju kendaraannya atau malah berbalik dan menyempatkan mencermati tontonan yang relatif baru bagi mereka.
Sampai kemudian disusul pementasan Kuda Kepang dari pedukuhan Geyong, Desa Seboro, Kec. Sadang.

Kesenian rakyat ini memang telah mengakar dalam ingatan kolektif masyarakat. Tak terkecuali bagi Paguyuban Seni Ebeg Banyumasan "Bangkit Budoyo". Kelompok ini mengidentivikasikan dirinya sebagai kelompok seni ebeg "banyumasan" karena jika dicermati, gending-gending pengiringnya memang bergaya Banyumas-an. Ciri gending "banyumasan" lebih rancak dan dinamis. Sejak sepenggalah hari itu, gending-gending dari kelompok ini dikumandangkan untuk menarik perhatian penonton berdatangan.

Pemainnya terdiri dari dua "bregada", sepasukan laki-laki dan sebarisan perempuan yang masing-masing terdiri dari 8 penari.
Konfigurasi barisan memang menjadi ciri khas tarian ebeg atau seni kuda-kepang, dan seringkali dimainkan dalam gerak-gerak kelompok bregada yang simetris.
Dalam konteks berkesenian tradisi, kuda-kepang lebih dikonotasikan sebagai seni-tari kuda lumping. Sedangkan seni ebeg tradisional selalu diasumsikan ada capaian "in-trance" bagi pemainnya.
Jika dicermati lebih jauh ke dalam komunitas seni ebeg ini, hampir selalu dapat dipastikan terdapat jalinan spiritual yang unik. Relasi spiritual yang mempertegas hubungan saling menghargai antara manusia dan alam di sekitarnya. Makanya momentum transendental selalu dianggap sebagai momentum yang penting dalam permainan seni-tradisi ini.

Menonton penampilan kelompok perempuan dalam seni kuda-kepang ini, ada celah lebih potensial untuk mengeksplorasi gerak-gerak olah tubuh. Tema-tema puitik seputar feminisme dan dan kegagahan merupakan dua hal saling menguatkan. Meski dalam penampilan kelompok "Bangkit Budoyo" belum secara maksimal tergarap aspek performa tariannya, dan lagi pemain perempuan memang tidak dimaksudkan untuk "in-trance". Tetapi catatan termenarik dari penampilan penari perempuan ini adalah optimisme, bahwa ternyata pemainnya rata-rata berusia muda. Artinya, penampilan mereka merupakan jawaban kongkret terhadap problem regenerasi seni tradisi.
Makna lain dari semua seni kuda-lumping dengan media kuda atau "jaran" dan dimainkan dalam capaian "in-trance", atau "mendem" atau "mabuk". Yalah bahwa dalam hidup, manusia diwajibkan untuk mabuk pada ajaran tentang kearifan hidup. Manifestasi dari visi menjadi manusia pembelajar!

Rabu, 03 Juni 2009

Kelelahan Kuputarung

Peluncuran Buku Antologi Puisi "Kuputarung" itu pun, pada akhirnya berjalan, seperti hujan di luar Balai, mengalir dari atap dan jatuh ke pelimbangan. Sabtu, 30 Mei 2009, dimulai pada jam 20.15 wib dari Balai Kelurahan Kebumen yang tak seberapa luas, tetapi terang itu menjadi arena launching. Puluhan apresian terkesan bergerombol namun tebarnya merata di dalam balai joglo yang lebih banyak pilar ketimbang jembarnya.
Beberapa kelompok teater hadir sebagai tamu yang terlalu sopan. Ada Sanggar "Ilir" Kebumen, Teater "Gerak" Kebumen, Teater "Margin" Purwokerto. Tak kurang pula, dua dalang Ki Basuki dan Ki Bambang Budiono, Ketua dan Pamong Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kab. Kebumen. Utusan beberapa sekolah, kebanyakan guru bahasa juga hadir setengah formil, dengan surat, yang bikin Panitia geragapan meskipun sebelumnya telah membayangkan. Bahkan juga ada sekelompok Petani dari kawasan "Urut-Sewu" di pesisir Kebumen Selatan. Beserta isteri mereka, anak dan Pemuda dari Paguyuban Parkir Pantai Setro.
Para isteri dan anak-anak pegiat komunitas ini juga ikut berbaur, meski pada akhirnya mereka, anak-anak itu tertidur.

Musik Puisi, alternatif berkesenian.

Tak semua puisi yang berjumlah 37 judul dalam buku antologi puisi "Kuputarung" dapat disajikan. Enam diantaranya memang diolah dalam bentuk sajian musik-puisi, 8 puisi dibacakan oleh ke 4 penulisnya. Tak ada cemooh, terutama saat puisi disajikan dalam bentuk yang berbeda dari pembacaan biasa.
Secara umum, puisi-puisi dalam buku antologi "Kuputarung" ini mungkin biasa saja. Tetapi, ada pesona baru ketika puisi ini dimusikalisasi. Dan bukan sekedar menjadi beda. Ini memberikan semacam peluang akan kemunculan genre berkesenian yang baru.
Puisi terbaik dalam buku antologi "Kuputarung", menurut Irma, seorang aktivis perempuan yang juga hadir di sana, adalah Panggil Aku Tan Moei karya Pitra Suwita. Puisi ini tidak dimusikalisasikan, sementara puisi yang lain juga dapat memunculkan pesona baru saat dimusikalisasi.

-bersambung-

Minggu, 31 Mei 2009

Gelar Musik Puisi "Kuputarung"

Beginilah tata-gelaran panggung Musik Puisi yang diselenggarakan malam itu, yang sekaligus merupakan malam acara launching buku antologi puisi "Kuputarung". Antologi puisi yang memuat 37 karya dari 4 penyair yang bergiat di Sekolah Rakyat MeluBae; 6 dari 9 diantaranya dikemas dalam sajian musik puisi. Acara yang telah dua kali mengalami pengunduran jadual ini, pada akhirnya digelar seiring dengan hujan di luar joglo. Dan hujan di luar itu pun tak ada yang bisa menghentikannya, sebagaimana acara sastra yang terselenggara.


Penampilan DARYONO CENGKIM. Penyair yang usia dan kepemulaannya termuda ini menyokong 9 puisi karyanya dalam antologi puisi "Kuputarung", malam itu membacakan 3 puisi.
Satu karya lainnya, yang merupakan karya eksplorasi serta dinukil dari interpetasi tembang shalawat, bertajuk "khasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man natsyr" dimusikalisasikan pula. Meskipun menjadi beda bukan tujuan semata, tetapi intervensi musikal telah membikin capaian tafakur puitik sesaat dalam kemesyukan.
Persoalan apakah dengan cara demikian lebih memudahkan penyampaian pesan kepada audiens; sedikit banyak harapan itu terkanal.



DODOTTIRO. Penyair yang juga pengamen jalanan ini, semula nervous jika harus tampil membacakan puisi karyanya. Ia memang menulis 7 puisi dalam antologi pertama terbitan SRMB. Tetapi tokh bapak satu anak ini mampu menguasai dirinya. Gayanya tenang, seperti mantri klangsir tanah yang mengulang mantra syair hadrah di dua tempat; pesisir dan padang pasir. Di era sebelumnya, ia mewakili komunitas yang betah bermalam-malam, begadang di gang suram, yang boleh jadi bakal mencibir saat menengok orang membaca puisi di ruang tertutup. Namun ia punya catatan filosofis lawas tentang masa belianya. Dan saat ia memutuskan bergabung dengan kelompok, saat ia merasa memasuki ruang yang lama direka dalam angan mudanya.



Beginilah gaya PEKIK SASINILO, mengaduk rasa sendiri sebelum mengharu-biru emosi audiens. Penyair yang terbanyak menyokong puisi dalam antologi "Kuputarung" dengan 12 puisi tulisan antara 1982-2009 ini; begitu matang. Meskipun ia sibuk juga sebagai seorang pendidik, tetapi tak surut keinginannya untuk menjadi penulis yang baik. Kesadaran itu berjalan seiring kesadaran bahwa faktor usia bukanlah kendala. Mencintai dan menjaga silaturahmi merupakan salah satu upaya. Salah satu judul puisi karyanya memang menjadi tajuk buku antologi ini, tetapi itu bukan rengkuh capaian akhir dari proses panjang yang telah ditempuh.



..Panggil aku Tan Moei.. teriak PITRA SUWITA; dan jangan panggil aku cina. Tawaran perspektif baru dalam melihat sentimen ras primordialsm yang dalam logika lama menjadi salah-kaprah. Sebagai pamong pengampu fungsi kultural di lingkungan, ia menyerap pembelajaranan sosial dari keseharian hidupnya.
Malam itu, ada yang berbisik perlahan, bahwa puisi tulisannya itu sebagai yang terbaik. Boleh saja, tetapi jika ia tengah berteriak, mana mungkin ia dengar orang mengelukan demikian ?
Ia nampak menjadi pembangun logika baru di sana, meskipun semua tahu bahwa urusan berpuisi bukan semata urusan logika. Penyokong 9 puisi pada antologi "Kuputarung" ini rajin memfasilitasi majlis.



Tak ada murid yang paling gelap sekalipun, di SRMB, yang tiada takjim pada Kiai sepuh ini. Namanya MALIK HASYIM atau lebih populer dengan sebutan mBah Limin. Ia memang Guru Tauhid yang tak pernah menggurui murid. Jika keimanan adalah sikap, maka kesehariannya adalah keteladanannya yang paling lekat. Seorang spiritualis di kawasan pesisir "urut-sewu" ini juga disegani para ulama. Pecinta majelis yang meyakini semua kesembuhan ada di sana.
Petuah kearifan juga sering mengalir dari penuturannya yang jenaka, maka fungsi penasihat tanpa disebut, telah lama bertaut. Pamong aktivitas spiritual lapanan SRMB ini menjadi imam yang bersahaja, sebagaimana keinginannya yang menyatu sejak pendirian Sekolah Rakyat MeluBae.



Namanya AKHMAD NUROKHIM, pemilik dan pengelola studio musik "Bulles Kreteg" di Logede. Dalam gelaran musik puisi "Kuputarung" ini, perannya lebih banyak meramu nada. Sebagai komposer, ia juga bisa nyanyi banter. Kecintaannya pada pembelajaran ia wujudkan pula di rumahnya, dengan memberikan les-private, kursus olah vokal, pelatihan perkusi dan belajar gitar.
Ia menjadi motor yang mendinamisasi pembelajaran kolektif di Sekolah Rakyat MeluBae, terutama dalam mempersiapkan acara launching buku antologi puisi perdana dengan referensi bermusiknya.



TORO MANTARA ini seorang yang jeli pada musik. Makanya ia mengambil peran besar dalam kerja mengaransement musik puisi sejak SRMB berdiri. Ia pula yang mengusulkan nama "MeluBae" di sana, dengan diksi yang kental pada isi, proses dan aktivitas kelompok, ketimbang nama besar. Falsafah lain yang sering jadi acuan mengolah suara, adalah bahwa sunyi itu pada dasarnya adalah musik! Pria yang memilih tetap melajang sampai detik ini, adalah pembelajar tai-chi dan pemain catur.



Inilah Trio Vokalis SRMB yang belia. WAHYU SEPTIA KURNIASIH dan SEPTIAN SUKMANINGRUM serta HIKMAH SUBEKTI. Mereka belum lama bergabung, tetapi intensitasnya kian terpupuk saja. Pembelajaran menjadi amat penting untuk dapat menjangkau segmen muda dengan segala impiannya.



Sepintas ia cuma pemasang pamflet di jalanan. Padahal INDRIOTOMO BRIGANDONO adalah seorang disainer grafis. Tetapi juga gemar nulis, intens berteater dan bertahan untuk membujang. Disain cover untuk sampul buku antologi puisi "Kuputarung" adalah salah satu hasil karyanya.


Jumat, 01 Mei 2009

Menghargai Puisi

Saat puisi dibacakan dan mendapat cemooh audiens maka saat itulah muncul pertanyaan sederhana. Mengapa?
Ilustrasi di atas lebih bersifat kasuistik dan tak terjadi pada semua event pembacaan puisi. Saat SRMB memfasilitasi penyelenggaraan arisan teater IV tahun 2008, juga ada seorang tamu komunitas yang menyatakan risi atas cemooh pada pembacaan puisi, sementara sang tamu ingin menikmatinya dengan suasana tenang. Tetapi bagi tamu lainnya, seorang lebda suku Mandar yang juga sesepuh Teater Flamboyant dari Polewali terhenyak di tempat lesehannya. Beliau, Alisyahbana datang bersama sahabat mudanya, Ridwan Ali, yang penulis buku Orang Mandar Orang Laut lebih terkesan dengan tampilan Seni Topeng "Cepet Alas" yang diboyong dari lereng barat laut pegunungan Condongcampur.
Mengapa harus ribut dengan kegaduhan yang muncul saat orang baca puisi?
Ya. Peristiwa itu bukanlah berdiri sendiri dan tentu ada sebab musababnya, ada relasinya. Mungkin orang telah jenuh dengan sajian yang itu-itu saja. Atau mungkin puisi telah disajikan kepada segmen yang berbeda dalam hal selera, misalnya. Atau boleh jadi memang penontonnya yang tidak sopan? Dengan kata lain tidak menghargai puisi?
Apa pun sebabnya, itu merupakan fenomena yang menarik buat disimak. Hal terbaik dari semua fikiran kita harus lepas dari asumsi benar-salah untuk menilai keduanya. Kuncinya tetap di tangan pelaku berkesenian itu. Bagaimana menyiasatinya.

Jumat, 20 Maret 2009

SRMB Bikin Antologi Puisi

Penyadaran Lingkungan Melalui Puisi, demikian judul berita di koran Suara Merdeka, edisi Selasa, 28 Oktober 2008, hlm.P-Merapi.
Begitulah, pada awalnya ide penerbitan buku antologì puisi Kebumen digagas dengan pendekatan tema lingkungan. Teknisnya dirumuskan ke dalam 3 tahapan.
Pertama, penyelenggaraan lomba cipta puisì bertema lingkungan hidup;
Kedua, penerbitan buku antologi puisi Kebumen, yang dihimpun dari hasil lomba penulisan puisi;
Ketiga; bedah buku antologì puisi, yang ditindaklanjuti dengan penyelenggaraan kegìatan apresiasi puisi, pada komunitas terdidik serta masyarakat umum.

Sejak pemberitaan media tentang rencana itu, tak terjadi sebaran yang memungkinkan syarat-syarat prakarsa kolektif yang kuat. Secara internal, SRMB mengalami work-less, wuih..

Maka, setelah melewati momentum Ultah ke-6 pada 13 Januari lalu; gagasan terkait penerbitan buku antologi puisi itu menguat lagi.

Antologi Puisi 'Kuputarung' - I

Pada akhirnya inìlah yang paling dapat dìlakukan. Itu pun masih dalam segala kesederhanaannya. Buku ini berisi kumpulan 37 puisi karya 4 penyair yang bergiat di SRMB. Mereka adalah Daryono CengKim, Dodottiro, Pekik Sasinilo dan Pitra Suwita. Editing puisi dan pengantar dikerjakan Aris Panji WS. Disain cover dan cetak sampul didukung Indriotomo Brigandono.

Daryono CengKim menyertakan 9 puisi yang ditulis pada rentang tahun 2005 - 2009, sedangkan Dodottiro yang menyokong 7 puisi tulisan antara tahun 1992 - 2009. Penyair lain, Pekik Sasinilo dengan 12 puisi yang ditulis pada rentang 1982 - 2009. Dan 9 puisi lainnya ditulis Pitra Suwita antara tahun 2005 - 2009.

Pembuatan antologi puisi ini dilatari oleh keinginan, pertama, untuk mendokumentasikan karya penulis yang bergiat di komunitas ini.
Kedua, kebutuhan untuk menghidupkan lagi tradisi tulis-baca puisi yang pada gilirannya diharapkan akan dapat menopang aktivitas apresiasi seni sastra di daerah ini.

Tanpa bermuluk dalam capaian target, namun bahwa perlu ada buku yang dibuat sendiri dan diharapkan kesinambungannya.
Rencananya buku inì akan launching pada Sabtu, 25 Aril 2009 dan dikemas dalam musik puisi. Beberapa aransemen musik tengah diolah oleh Toro Mantara, Akhmad Nurokhim dan Dodottiro.

Judul antologi 'Kuputarung' dipilih dari salah satu puisi tulisan Pekik Sasinilo di tahun 1987. Pemilihan ini bukan berarti puisi 'Kuputarung' itu sebagai yang terbaik. Tetapi didasarkan pertimbangan bahwa judul puisi itu dapat mengingatkan masyarakat akan lanskap Kebumen di masalalu. Kuputarung adalah ikon, tetenger atau 'land-mark' jantung Kebumen.

:ada apa di jantung kota?
Gambaran hedonisme, marjinalisasi kelompok sosial tertentu, potret buram dari realitas sosial yang ada. Pada tahap tertentu, penyair menjadi saksi atas kondisi yang memprihatinkan; yang terkadang luput dari perhatian khalayak.
Dan secara umum, 37 puisi yang terangkum dalam antologi pertama terbitan SRMB ini akan di'musikalisasi'kan pada Sabtu, 25 April 2009. Pagelaran musik-puisi, dalam beberapa tahun terakhir menjadi cara komunitas ini mengkomunikasikan karya sastra.

Antologi puisi ini juga akan dibawa pada kegiatan-kegiatan apresiasi berikutnya di beberapa tempat, seperti sekolah dan kampus yang ada.